IMG_9222
Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp

Apa Benar Kita Harus Selalu Memberi?

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima.

Amanda Palmer, vokalis dan penulis lagu band cabaret punk The Dresden Dolls, mengatakan dalam bukunya, The Art of Asking, “Our first job in life is to recognize the gifts we’ve already got, take the donuts that show up while we cultivate and use those gifts, and then turn around and share those giftssometimes in the form of money, sometimes time, sometimes loveback into the puzzle of the world. Our second job is to accept where we are in the puzzle at each moment. That can be harder.” Seketika kata-kata tersebut menyentak kesadaran saya.

Sebagai seorang yang terdidik dengan peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kutipan Amanda Palmer benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang arti memberi dan menerima. Peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah meyakinkan saya bahwa memberi adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan menerima. Sebaliknya, menerima dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu, apa pun kondisinya, kalau bisa, selalu beri, beri, dan beri.

Keyakinan tersebut secara tidak sadar menuntun tindakan saya untuk selalu memberi tanpa mau menerima. Saya menempatkan perbuatan memberi di kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan tindakan menerima. Namun ternyata, apa yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam saat mentraktir teman untuk kesekian kalinya. Padahal di saat yang sama, dia ingin mentraktir saya. Saya tetap mentraktirnya karena keyakinan saya yang berlebihan akan tindakan memberi. Seketika dia malah menunjukkan raut muka yang masam, tanda bahwa tindakan saya membuatnya kurang berkenan. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada saatnya memberi, ada saatnya pula menerima.

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima. Bisa jadi konstruksi sosial yang ada di masyarakat (lingkungan) menganggap bahwa tindakan menerima sebagai buah dari ketidakmampuan sedangkan tindakan memberi dianggap sebagai buah dari kemampuan. Keyakinan berlebihan dari konstruksi sosial tersebut secara tidak sadar mengekspose secara gamblang status sosial si pemberi dan si penerima. Apalagi jika sesuatu yang diberikan/diterima berhubungan dengan materi, status sosial tersebut akan terasa dan terlihat dengan sangat jelas. Meminjam kata-kata Henry Miller, “It’s only because giving is so much associated with material things that receiving looks bad.” Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan seperti itu.

Padahal tindakan memberi dan menerima tidak harus selalu dikaitkan dengan status sosial. Hal seperti tenaga, waktu, pemikiran, dan bahkan perhatian (#eh) pada dasarnya bersifat netral dan tidak berhubungan sama sekali dengan status sosial dari si pemberi dan si penerima. Jangan sampai karena ‘termakan’ konstruksi sosial, kita menjadi berat sebelah dalam memaknai tindakan memberi dan menerima. Dalam jangka panjang, keyakinan seperti itu akan menyabotase diri kita sendiri dalam bertindak.

Tidak ada yang salah dengan tindakan memberi, pun tidak ada yang salah dengan tindakan menerima, asalkan keduanya dilakukan sesuai porsinya. Tindakan memberi memberikan perasaan lega dan terpenuhi secara sosial, mental, emosional, dan spiritual bagi si pemberi. Di sisi lain, tindakan menerima berarti menyatakan secara sadar dan berani bahwa si penerima butuh pertolongan orang lain. Tindakan tersebut membuka kesempatan bagi si pemberi untuk membantu si penerima. “By receiving from others, by letting them help you, you really aid them to become bigger, more generous, more magnanimous. You do them a service,” kata Henry Miller. Memberikan kesempatan bagi si pemberi untuk merasa lega dan terpenuhi ternyata secara tidak langsung juga mampu memberikan perasaan lega dan terpenuhi kepada si penerima. Hal yang tentunya juga baik. 

Biasanya masalah terjadi ketika kita terlalu berlebihan dalam memberi maupun menerima dan tidak bersedia melakukan keduanya. Terlalu banyak memberi tanpa mau menerima membuat kita merasa selalu ‘di atas angin’, sedangkan terlalu banyak menerima tanpa keinginan untuk memberi membuat kita menjadi orang yang merepotkan dan menjengkelkan. Solidaritas merupakan tindakan dua arah, bukan tindakan searah. Untuk menciptakan kesinambungan tersebut dibutuhkan dua komponen yang harus saling terjaga: memberi dan menerima. Maria Popova berhasil megungkapkan kesinambungan tersebut dengan bagus, ”The art of giving and the art of receiving are compatriots in the kingdom of creative culture, absolutely vital to each other’s survival.

Joli Jolan, komunitas gerakan solidaritas yang baru berdiri satu tahun ini, menjadi gerakan pengingat akan pentingnya siklus tersebut. Gerakan ini tidak hanya mengetuk hati orang-orang baik untuk mendonasikan barangnya, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial untuk menerima barang tersebut, untuk belajar menjadi si penerima. Semua orang dapat berdonasi, semua orang dapat mengambil barang yang telah didonasikan. It’s not about charity, it’s about solidarity.