Categories
Gagasan

Saatnya Membangun Ulang Kesadaran Kolektif

Saat menghadiri acara komunitas Indonesia di Amerika Serikat, saya sempat tergelitik melihat bagaimana “kekhasan” masyarakat kita tampak begitu nyata dalam menyelenggarakan acara tersebut. Kekhasan tersebut sangat kontras dengan budaya Amerika yang menjunjung tinggi ketepatan waktu (punctuality). Meskipun hal itu bukan persoalan hidup dan mati, kita sebenarnya tahu bahwa kebiasaan tersebut bukanlah kebiasaan yang baik. Namun, tanpa sadar kita sudah terbiasa memakluminya, sehingga kebiasaan tersebut berubah menjadi kesadaran kolektif yang dianggap wajar. Itu baru satu contoh kebiasaan, tentu masih banyak kebiasaan lain yang tidak sehat tetapi sudah terlanjur kita anggap lumrah, sehingga mengakar menjadi sebuah kesadaran kolektif.

Boleh jadi para pejabat adalah miniatur masyarakat Indonesia saat ditempatkan di pucuk kekuasaan, dengan privilege dan beragam kenyamanannya. Dengan kesadaran kolektif yang telah mengakar, mereka pun saling berinteraksi dan secara otomatis membentuk sistem yang saling mendukung kenyamanan satu sama lain. Sialnya kesadaran kolektif yang negatif pun turut mereka bawa dan pelihara. Sehingga sistem pemerintahan pun menjadi cerminan dari akumulasi kesadaran kolektif yang negatif tersebut. Meskipun mereka menyadari keburukannya, mereka tetap membiarkan keburukan tersebut terjadi karena tidak ingin kenyamanan yang telah terbentuk secara komunal terusik. Tidak heran meskipun rezim telah berganti berkali-kali, masalah yang dihadapi bangsa ini tetap saja sama.

Pejabat yang tidak kompeten memang sepantasnya diberhentikan, karena merekalah yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Merekalah yang bertanggung jawab memantik amarah rakyat, berujung demonstrasi besar-besaran yang menyebabkan tragedi memilukan. Rakyat marah, rakyat menuntut keadilan.

Sayangnya, persoalan tersebut tidak seketika berhenti ketika para penyeleweng jabatan akhirnya lengser. Setelah mereka lengser, siapa yang kemudian akan menggantikan? Jika penggantinya masih membawa kesadaran kolektif yang sama dengan mereka, besar kemungkinan sistem yang sudah ada ini hanya akan menghilang sekejap kemudian kembali seperti semula.

Pengganti yang ideal harus memiliki kompetensi sekaligus idealisme untuk mereformasi kesadaran kolektif yang negatif tersebut. Memang, upaya ini akan memicu resistensi dari pihak-pihak yang tidak mau kenyamanannya terusik dan bertahan dengan kesadaran lama. Namun, perubahan sejati hanya mungkin terjadi bila kesadaran baru yang lebih konstruktif mampu tumbuh dominan dan mengikis kesadaran lama, hingga kemudian menggantinya.

Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri

Layaknya pohon yang menjulang tinggi, akarnya pun tentu harus kuat agar dapat menopang pohon tersebut. Sama halnya dengan kekuatan perubahan, perubahan yang kuat dan bertahan lama ditentukan oleh akarnya. Apabila kita sungguh-sungguh menginginkan transformasi berkelanjutan, maka kita perlu berbenah bersama: mengevaluasi diri, memperbaiki kebiasaan, dan membentuk kesadaran baru, dimulai dari diri kita sendiri sebagai akar rumput. Memang masalah di Indonesia tidak seketika menghilang begitu saja, tetapi setidaknya akan mengarah ke arah yang lebih konstruktif.

Di sinilah pendidikan kembali memainkan peran kunci. Bukan sekadar pendidikan berbasis hafalan, melainkan pendidikan yang menumbuhkan pemahaman konteks, kemampuan analisis, berpikir kritis, dan sikap humanis. Menjadi pembelajar seumur hidup memang tidak mudah, apalagi di tengah problematika kehidupan sehari-hari. Namun, justru di situlah tantangannya. Jika kita gagal melewatinya, bukan tidak mungkin sejarah yang sama akan terus berulang.

Saya pun melihat inisiatif-inisiatif seperti yang dilakukan oleh Ferry Irwandi melalui Malaka Project atau Fahruddin Faiz dengan Ngaji Filsafat menjadi sangat relevan dan penting di era sekarang. Langkah-langkah gerilya semacam ini mampu memantik kesadaran masyarakat akar rumput, terutama anak-anak muda. Kesadaran itulah yang nantinya menjadi fondasi bagaimana mereka berpikir secara benar, sehingga jalan menuju kesadaran kolektif yang lebih konstruktif pun terbuka lebar.

Kejadian kesewenangan hukum dan kebrutalan aparat yang terjadi pada penghujung bulan Agustus 2025 memang menorehkan luka mendalam bagi masyarakat. Sebuah peristiwa yang bakal tertulis abadi dalam sejarah kelam bangsa Indonesia dalam menghadapi kesenjangan sosial dan melawan ketidakadilan.

Namun, sebagai makhluk yang diberi kemampuan belajar bahkan dari pengalaman pahit sekalipun, peristiwa ini menjadi pemantik kesadaran kita bersama. Tidak hanya sekadar milestone gegap gempita melengserkan (dan membalas dendam) para pejabat yang tidak kompeten di zaman digital, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berefleksi. Kesempatan untuk mempersiapkan diri dan mendidik generasi selanjutnya agar memiliki kesadaran kolektif yang lebih konstruktif. Dengan demikian, kesadaran kolektif dapat diterapkan secara massal hingga mampu merombak sistem yang selama ini telah rusak.

Categories
Gaya Hidup

Thrift Store Berbasis Komunitas Di Tampa

Beberapa hari setelah kedatangan saya di Tampa, saya diajak berbelanja perlengkapan esensial untuk kebutuhan sehari-hari saya selama tinggal di sini. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah thrift store, sebuah “department store” yang menjual barang-barang bekas layak pakai atau sering disebut pre-owned dengan harga yang terjangkau. Dua thrift store yang kami kunjungi saat itu adalah Community Thrift Store dan The Salvation Army yang yang berada di Nebraska Ave.

Meskipun menjual barang-barang bekas layak pakai atau pre-owned, thrift store dikonsep dengan matang dan tidak asal-asalan. Barang-barangnya pun ter-display dengan rapi dan terawat, meski tetap terlihat bukan barang baru. Barang yang dijual juga beragam dan terkurasi dengan baik, mulai dari perabotan rumah, pakaian, sepatu, mainan anak, sepeda, perkakas dapur, hingga barang koleksi.

Thrift store pada umumnya dikelola secara profesional oleh komunitas, organisasi keagamaan, maupun organisasi nirlaba. Walau tidak semewah department store atau retailer besar pada umumnya, thrift store tetap memberikan fasilitas kenyamanan, mulai dari AC, kebersihan tempat, musik latar yang terus memainkan hits populer era 90-an, dan juga troli belanja. Pengalaman berbelanja menjadi semakin nyaman, mudah, dan tentu saja terkesan profesional.

Selain itu, thrift store juga memiliki program marketing yang benar-benar dipersiapkan dengan sangat terstruktur, seperti diskon pembelian barang-barang tertentu bagi para membernya pada minggu tertentu. Ini menunjukkan bagaimana thrift store benar-benar dikelola secara matang dan terarah. Kombinasi hal-hal seperti itulah yang pada akhirnya menjadikan thrift store berhasil tumbuh di tengah-tengah masyarakat Amerika. Thrift store tidak hanya memperpanjang usia barang-barang layak pakai yang ada di sana, tetapi turut berkontribusi membuka lapangan kerja baru dan menjaga standar pelayanan komunitas.

Perkembangan thrift store di Tampa, Florida, pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakatnya menerima thrift store itu sendiri. Mulai dari anak muda hingga orang tua, semua datang untuk mencari kebutuhan mereka masing-masing. Lupakan gengsi dan perasaan minder, mereka tidak risih atau ragu berbelanja di sana asalkan barang yang ditawarkan memang murah dan layak pakai. Membeli di thrift store bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak trendi, melainkan kebiasaan yang memang dilakukan karena kebutuhan.

Relevankah Mengadaptasi Konsep Thrift Store?

Pengalaman di thrift store pun mengingatkan saya kembali dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan. Keduanya memiliki kesamaan terkait upaya perpanjangan usia barang layak pakai, meski berbeda metode. Kemudian muncul pertanyaan dalam hati, apakah Joli Jolan nantinya dapat bertransformasi menjadi thrift store? Apakah konsep thrift store dengan pengelolaan profesionalnya relevan untuk komunitas tersebut? Mengingat akan adanya biaya-biaya tambahan serta strategi progresif yang bakal menyertainya.

Asalkan konsep thrift store masih selaras dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Joli Jolan, yakni ruang solidaritas berbagi barang secara gratis, maka mengadopsi konsep thrift store bukanlah hal yang tidak mungkin, tentunya dengan beberapa penyesuaian. Butuh waktu, persiapan, dan strategi yang tepat agar Joli Jolan dapat berkembang menjadi sebuah ruang profesional layaknya thrift store. Ketika hal itu tercapai, semua pihak tentunya perlu untuk beradaptasi kembali dengan langkah yang diambil Joli Jolan. Sebab, Joli Jolan tidak lagi sekadar memberikan manfaat gratis kepada masyarakat, tetapi berorientasi pada profit demi keberlanjutan usahanya.

Categories
Komunitas

Menjaga Kelestarian Lingkungan dari Kerajinan Sederhana

Sebagai salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan dalam mewujudkan ruang edukasi, Joli Jolan sekali lagi mengadakan workshop kreatif bertema Menyulap Kaus Bekas dan Plastik Menjadi Produk Estetik. Workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 30 Maret 2024 ini dimentori langsung oleh pegiat crafting dari Bandung dan pengelola @lovya.handmade, Kak Meilisa. Melalui workshop yang berlangsung dari pukul 16.00-17.30 ini, para peserta diperkenalkan teknik sederhana mengolah plastik dan kain sisa baju untuk menghasilkan produk yang bermanfaat, seperti tatakan ataupun tempat pensil.

Diketahui kaus bekas dan plastik merupakan bahan-bahan yang seringkali menjadi penyumbang terbesar sampah di lingkungan. Dalam workshop ini, peserta diajak untuk melihat nilai manfaat yang bisa didapatkan dari kaus bekas dan plastik yang tidak lagi terpakai. Dengan kreativitas dan ketelatenan, kedua bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna.

Pertama-tama, kaus yang telah dipotong panjang dan tipis digunakan untuk melilit kantong plastik yang telah diulir panjang layaknya tali. Plastik yang telah terlilit kain tersebut kemudian diikat menggunakan benang wol dengan teknik pengikatan khusus. Hasil ikatan tersebut menjadi fondasi bertekstur estetik dan menarik yang dapat dibentuk sebagai tatakan meja, tempat pensil, atau produk lain sesuai kreativitas.

Para peserta antusias mempraktikkan langkah demi langkah membuat hasil ikatan yang rapi sembari menanti berbuka puasa. Untuk semakin menyemarakkan suasana, Joli Jolan telah menyediakan beragam sajian buka puasa seperti kolak, pizza, dan nugget bagi para peserta workshop.

Membangun Ekosistem yang Saling Mendukung dan Peduli Lingkungan

Kegiatan kolaboratif Joli Jolan bersama pegiat kreatif dan masyarakat umum seperti ini menjadi pemantik inspirasi bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Ekosistem yang saling mendukung dalam pemberdayaan masyarakat serta kepedulian terhadap lingkungan diharapkan semakin terbentuk. Setiap peserta yang mengikuti kegiatan pun tidak sekadar pulang dengan membawa hasil karya, tetapi juga perasaan positif karena mendapatkan pengetahuan baru dalam berkontribusi menjaga lingkungan dengan cara yang kreatif.

Workshop semacam ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi sarana edukasi dalam menghasilkan ide karya-karya sirkular, tetapi mengajak peserta untuk menyadari dan mengapresiasi kontribusi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pola pikir yang tepat dan praktik kreatif dalam megelola sampah, peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitar mereka masing-masing.

Categories
Gagasan

Jajan sebagai Upaya Redistribusi Kekayaan

Saya termasuk orang yang gemar sekali jajan makanan, baik langsung dari pelapak atau layanan online. Alasannya karena makanan yang dijual di luar rumah jauh lebih beragam. Apalagi racikan bumbunya biasanya lebih banyak dan berani. Rasa yang dihasilkan pun menjadi jauh lebih terasa dibandingkan makanan rumahan. Itu menurut pendapat saya pribadi.

Karena kebiasaan jajan tersebut, saya terkesan menjadi orang yang boros dan ‘ceroboh’ dalam membelanjakan uang, meskipun tidak sampai level overspender kronis. Saya menyadari hal tersebut, bahkan sesekali ada perasaan menyesal saat mengetahui bahwa uang yang saya dapatkan hanya habis untuk jajan.

Jika dilihat dari sudut pandang penghematan uang, kebiasaan saya bisa dikatakan boros. Namun, lain halnya ketika sudut pandang yang dipakai untuk mengukur kebiasaan saya adalah kesempatan dalam mendistribusikan kekayaan. Jajan bisa jadi upaya dalam membagikan kekayaan yang dimiliki untuk orang lain. Pembagiannya tidak dilakukan secara cuma-cuma, tetapi dengan membayar barang dagangan atau jasanya. Dengan kata lain, melarisi dagangan orang lain berarti memberikan sedikit kekayaan yang kita miliki untuk orang lain.

Ada dua hal yang berubah setelah saya memilih menggunakan sudut pandang kedua dalam melihat kegemaran jajan saya. Yang pertama, niat saya yang semula hanya terfokus pada memenuhi hasrat pribadi bergeser pada keinginan untuk membantu orang lain. Pola pikir tersebut membuat saya tidak terbebani saat hendak membelanjakan uang. Saya melihatnya sebagai upaya dalam membantu perekonomian orang lain. Kedua, saya pun merasa ada saja rezeki yang tak terduga yang saya dapatkan. Mungkin itulah cara Sang Pemberi rezeki menitipkan rezeki orang lain melalui saya sebagai perantaranya.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, saya merasa bahwa jajan adalah hal yang bermanfaat. Saat perekonomian rontok dan banyak usaha yang kritis, sebuah keistimewaan untuk masih memiliki penghasilan. Kesempatan tersebut tentu dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain, kesempatan untuk menggerakan perputaran roda ekonomi.

Mungkin apa yang saya lakukan tidak berdampak signifikan pada perputaran ekonomi negara, tetapi setidaknya berdampak pada perputaran ekonomi keluarga yang barang dagangannya saya beli. Pada akhirnya jajan tidak hanya sekadar memuaskan hasrat pribadi, tetapi menjadi sarana untuk saling berbagi. Selagi masih ada waktu untuk berbuat baik, kenapa tidak?

Categories
Gagasan

Apa Benar Kita Harus Selalu Memberi?

Amanda Palmer, vokalis dan penulis lagu band cabaret punk The Dresden Dolls, mengatakan dalam bukunya, The Art of Asking, “Our first job in life is to recognize the gifts we’ve already got, take the donuts that show up while we cultivate and use those gifts, and then turn around and share those giftssometimes in the form of money, sometimes time, sometimes loveback into the puzzle of the world. Our second job is to accept where we are in the puzzle at each moment. That can be harder.” Seketika kata-kata tersebut menyentak kesadaran saya.

Sebagai seorang yang terdidik dengan peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kutipan Amanda Palmer benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang arti memberi dan menerima. Peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah meyakinkan saya bahwa memberi adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan menerima. Sebaliknya, menerima dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu, apa pun kondisinya, kalau bisa, selalu beri, beri, dan beri.

Keyakinan tersebut secara tidak sadar menuntun tindakan saya untuk selalu memberi tanpa mau menerima. Saya menempatkan perbuatan memberi di kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan tindakan menerima. Namun ternyata, apa yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam saat mentraktir teman untuk kesekian kalinya. Padahal di saat yang sama, dia ingin mentraktir saya. Saya tetap mentraktirnya karena keyakinan saya yang berlebihan akan tindakan memberi. Seketika dia malah menunjukkan raut muka yang masam, tanda bahwa tindakan saya membuatnya kurang berkenan. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada saatnya memberi, ada saatnya pula menerima.

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima. Bisa jadi konstruksi sosial yang ada di masyarakat (lingkungan) menganggap bahwa tindakan menerima sebagai buah dari ketidakmampuan sedangkan tindakan memberi dianggap sebagai buah dari kemampuan. Keyakinan berlebihan dari konstruksi sosial tersebut secara tidak sadar mengekspose secara gamblang status sosial si pemberi dan si penerima. Apalagi jika sesuatu yang diberikan/diterima berhubungan dengan materi, status sosial tersebut akan terasa dan terlihat dengan sangat jelas. Meminjam kata-kata Henry Miller, “It’s only because giving is so much associated with material things that receiving looks bad.” Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan seperti itu.

Padahal tindakan memberi dan menerima tidak harus selalu dikaitkan dengan status sosial. Hal seperti tenaga, waktu, pemikiran, dan bahkan perhatian (#eh) pada dasarnya bersifat netral dan tidak berhubungan sama sekali dengan status sosial dari si pemberi dan si penerima. Jangan sampai karena ‘termakan’ konstruksi sosial, kita menjadi berat sebelah dalam memaknai tindakan memberi dan menerima. Dalam jangka panjang, keyakinan seperti itu akan menyabotase diri kita sendiri dalam bertindak.

Tidak ada yang salah dengan tindakan memberi, pun tidak ada yang salah dengan tindakan menerima, asalkan keduanya dilakukan sesuai porsinya. Tindakan memberi memberikan perasaan lega dan terpenuhi secara sosial, mental, emosional, dan spiritual bagi si pemberi. Di sisi lain, tindakan menerima berarti menyatakan secara sadar dan berani bahwa si penerima butuh pertolongan orang lain. Tindakan tersebut membuka kesempatan bagi si pemberi untuk membantu si penerima. “By receiving from others, by letting them help you, you really aid them to become bigger, more generous, more magnanimous. You do them a service,” kata Henry Miller. Memberikan kesempatan bagi si pemberi untuk merasa lega dan terpenuhi ternyata secara tidak langsung juga mampu memberikan perasaan lega dan terpenuhi kepada si penerima. Hal yang tentunya juga baik. 

Biasanya masalah terjadi ketika kita terlalu berlebihan dalam memberi maupun menerima dan tidak bersedia melakukan keduanya. Terlalu banyak memberi tanpa mau menerima membuat kita merasa selalu ‘di atas angin’, sedangkan terlalu banyak menerima tanpa keinginan untuk memberi membuat kita menjadi orang yang merepotkan dan menjengkelkan. Solidaritas merupakan tindakan dua arah, bukan tindakan searah. Untuk menciptakan kesinambungan tersebut dibutuhkan dua komponen yang harus saling terjaga: memberi dan menerima. Maria Popova berhasil megungkapkan kesinambungan tersebut dengan bagus, ”The art of giving and the art of receiving are compatriots in the kingdom of creative culture, absolutely vital to each other’s survival.

Joli Jolan, komunitas gerakan solidaritas yang baru berdiri satu tahun ini, menjadi gerakan pengingat akan pentingnya siklus tersebut. Gerakan ini tidak hanya mengetuk hati orang-orang baik untuk mendonasikan barangnya, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial untuk menerima barang tersebut, untuk belajar menjadi si penerima. Semua orang dapat berdonasi, semua orang dapat mengambil barang yang telah didonasikan. It’s not about charity, it’s about solidarity.