Categories
Gagasan

Dampak MBG di Batam: Bikin Harga Ayam Naik, Susu Langka, Sampah Tidak Terkelola

Oleh Muhammad Ishlahuddin, Project Multatuli
August 11, 2026

Jam dinding menunjukkan pukul 22.27 ketika Marlinda masih bertahan di balik meja kasir toko kelontongnya, Jumat, 10 Juli 2026. Di rak-rak kayu, minyak goreng, gula, dan mi instan tersusun rapi. Namun, malam itu pembeli datang bergantian dalam jeda yang panjang. Sebagian hanya membeli satu atau dua kebutuhan pokok, lalu bergegas pulang.

Perempuan 48 tahun yang akrab disapa Uni Lin itu telah belasan tahun mengelola toko kelontongnya di Kota Batam. Dari balik meja kasir, ia mengaku hafal betul naik-turunnya harga bahan pangan. Sejak ada proyek Makan Bergizi Gratis (MBG), kata Uni Lin, harga sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Harga beras bahkan kenaikannya pernah mencapai Rp20 ribu per karung.

Kondisi itu memukul usahanya. Ketika harga naik, banyak pelanggan mengurangi jumlah belanja atau menunda membeli kebutuhan yang dianggap tidak mendesak. Akibatnya, omzet tokonya ikut menyusut.

“Iya, harga tinggi, orang pun belinya susah,” keluh Uni Lin.

Belakangan, harga beberapa komoditas mulai sedikit turun setelah pelaksanaan MBG dihentikan sementara. Namun, penurunan harga belum mampu mengembalikan keramaian toko. Daya beli masyarakat, menurut Uni Lin, masih lesu.

Ia menilai kondisi itu juga dipengaruhi musim libur sekolah. Pengeluaran rumah tangga bergeser. Banyak orang tua lebih memprioritaskan biaya liburan, pulang kampung, atau menyiapkan kebutuhan anak untuk memasuki tahun ajaran baru.

“Ada juga yang daftar anak masuk sekolah,” kata Uni Lin berbagi keluh kesahnya dalam berjualan.

Baginya, perubahan pola belanja itu terasa jelas. Jika biasanya pelanggan rutin membeli sayur dan kebutuhan dapur dalam jumlah lebih banyak, kini mereka datang dengan daftar belanja yang lebih pendek dan pengeluaran yang lebih hemat.

***

Keluhan Uni Lin bukan suara tunggal. Partinik, seorang pedagang makanan di kawasan Bida Ayu, Mangsang, Sei Beduk, Batam, merasakan hal serupa. Hampir setiap hari ia berbelanja bahan baku di Pasar TPID 3 Sei Beduk. Rutinitas itu membuatnya hafal perubahan harga dari waktu ke waktu.

“Sejak MBG itu, beras, minyak, telur, ayam itu yang paling terasa,” katanya usai berbelanja pagi itu, Rabu, 15 Juli 2026.

Bagi Partinik, ayam menjadi komoditas yang paling sulit kembali ke harga lama. Ia masih mengingat ketika daging ayam pernah dijual di kisaran Rp28 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram. Kini, menurutnya, harga serendah itu nyaris tak pernah ditemui lagi. Harga paling rendah berkisar Rp38 ribu per kilogram dan kerap melonjak hingga Rp42 ribu.

“Memang benar, pengaruh betul harga sama MBG ini,” ujarnya.

Keluhan yang sama juga datang dari Kasiyanto. Pekerja swasta 31 tahun itu rutin berbelanja kebutuhan pokok untuk keluarganya. 

“Aku masih ingat, sebelum program MBG itu harga minyak memang sudah naik, tapi masih mentok di kisaran Rp28 ribu sampai Rp29 ribu per dua liter. Sekarang kami akhirnya pakai Minyakita. Kalau mau bertahan pakai Fortune atau Bimoli, mana tahan,” ujarnya mengeluhkan biaya kebutuhan yang semakin mahal.

Beban paling terasa bagi bapak dua anak itu ketika membeli kebutuhan bulanan, seperti minyak goreng, beras, ayam, dan susu yang rata-rata mengalami kenaikan. Harga bahan pokok yang paling terasa baginya bukan beras, melainkan ayam dan minyak goreng yang melonjak signifikan. 

“Dari harga Rp28 ribu sekilo (harga ayam) ke Rp38 ribu sekilo, menurutku itu signifikan,” katanya.

Kesulitan tidak hanya datang dari kenaikan harga. Untuk susu, ia mengaku lebih sering menemui rak yang kosong. Ketika satu merek yang biasa mereka konsumsi habis, merek alternatif pun ikut sulit ditemukan.

Kasiyanto mencatat tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga beberapa jenis sayuran justru sempat turun. Tomat yang pernah menyentuh Rp25 ribu per kilogram kini lebih murah, begitu pula wortel yang sempat berada di kisaran Rp14 ribu per kilogram lalu turun menjadi sekitar Rp9 ribu.

Namun, harga sayuran yang mulai turun belum banyak membantu. Bahan pangan yang paling sering masuk dapur, seperti ayam, minyak goreng, dan beras, tetap lebih mahal dibanding sebelumnya.

Perubahan itu juga terasa dari suasana di pasar tradisional. Menurutnya, pasar memang tidak sampai sepi, tetapi keramaiannya berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Dulu kalau ke pasar sering desak-desakan. Sekarang masih ada pembeli, tapi terasa lebih longgar, lebih lengang,” katanya.

Bagi Kasiyanto, perubahan itu menjadi gambaran bahwa banyak keluarga mulai lebih berhati-hati mengatur pengeluaran di tengah harga kebutuhan pokok yang belum sepenuhnya kembali normal.

Pedagang juga Rasakan Sepi

Keluhan mengenai mahalnya harga bahan pangan juga terdengar dari lorong-lorong Pasar. Namun, ketika ditanya penyebabnya, jawaban para pedagang tidak selalu sama. Ada yang meyakini kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan untuk program MBG, ada pula yang mengaitkannya dengan pelemahan ekonomi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hampir semua sepakat pada satu hal: daya beli masyarakat sedang melemah.

Sabar, pedagang sayur di pasar TOS 3000 Jodoh, Batu Ampar, Batam yang setiap hari menerima pasokan dari Medan, mengaku sempat menghadapi situasi yang berat. Harga kulakan naik, sementara pembeli justru berkurang.

“Kemarin modal saya tinggi, tapi daya beli melemah. Setelah dolar turun, baru mulai agak normal lagi,” ujar Sabar saat ditemui di sela-sela menjajakan dagangannya, Senin, 15 Juni 2026.

Pembeli yang semakin jarang datang membuat Sabar tak bisa begitu saja menaikkan harga jual. Jika dipaksakan, dagangannya justru berisiko tak laku.

Tidak semua pedagang melihat persoalannya sama. Sari, yang sudah lebih dari dua dekade berjualan sayur, justru menunjuk MBG sebagai salah satu penyebab harga melonjak.

“Tomat masih Rp25 ribu karena barang enggak masuk. Menurut saya banyak yang masuk ke MBG, jadi yang ke pasar sedikit,” kata perempuan kelahiran Sumatra Utara, 49 tahun silam, 11 Juli 2026.

Ia menduga distributor lebih dahulu memenuhi permintaan dalam jumlah besar untuk MBG sehingga pasokan ke pasar tradisional berkurang. Akibatnya, harga beberapa komoditas naik.

“Yang bagus-bagus mungkin dipilih buat MBG, jadi stok di pasar berkurang. Makanya harga melambung,” ujarnya sembari melayani pembeli.

Bagi Sari, kenaikan harga juga tidak terjadi merata. Wortel relatif stabil dan kini berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp25 ribu. Namun, komoditas lain seperti tomat, sawi putih, kol, dan brokoli lebih sering berfluktuasi.

Harga kol, misalnya, naik dari sekitar Rp8 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Brokoli bahkan pernah melonjak dari Rp38 ribu menjadi Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

“Kalau brokoli itu jadi bingung, sering naik,” katanya.

Meski demikian, Sari mengakui harga sejumlah komoditas mulai turun selama masa libur sekolah ketika kebutuhan bahan baku untuk MBG berkurang. Baginya, perubahan itu memperkuat keyakinannya bahwa permintaan dalam jumlah besar ikut memengaruhi dinamika pasokan di pasar, meski ia mengaku tidak memiliki data untuk memastikan hal tersebut.

Setiap hari, Sari membuka lapaknya sejak pukul lima pagi hingga dua siang. Selama lebih dari dua dekade berjualan, ia telah melewati berbagai gejolak harga. Namun, menurutnya, kali ini yang paling terasa bukan hanya harga yang naik, melainkan juga pembeli yang semakin berhitung sebelum mengambil sayur dari lapaknya.

Inflasi dan Dinamika Pasar 

Cerita para pedagang dan konsumen itu memiliki irisan dengan data inflasi yang tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam. Kepala BPS Kota Batam, Eko Budi Prasetyo, mengatakan inflasi Batam pada Juni 2026 tercatat sekitar 0,6 persen secara bulanan (month-to-month), sementara inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 4,75 persen.

Menurut Eko, pendorong utama inflasi pada Juni berasal dari kelompok transportasi setelah adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan biaya transportasi kemudian merambat ke biaya distribusi berbagai komoditas, termasuk bahan pangan.

“Efek kenaikan bahan bakar itu akan berpengaruh ke beberapa sektor, terutama transportasi. Transportasi memiliki peran penting dalam distribusi barang. Dengan adanya penyesuaian di sektor transportasi, otomatis biaya distribusi ikut naik, yang pada akhirnya harga kebutuhan masyarakat Kota Batam juga mengalami penyesuaian,” ujar Eko melalui sambungan telepon.

BPS mencatat sejumlah komoditas pangan ikut memberikan andil terhadap inflasi. Meski demikian, Eko mengatakan lembaganya tidak mempublikasikan harga masing-masing komoditas dalam rilis inflasi, melainkan besaran kontribusi setiap komoditas terhadap kenaikan maupun penurunan inflasi.

“Di rilis BPS kami tampilkan sepuluh komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap inflasi maupun deflasi,” katanya.

Eko tidak buru-buru menarik kesimpulan bahwa MBG menjadi penyebab inflasi. Ia menjelaskan bahwa secara ekonomi, harga akan bergerak mengikuti keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

“Kami melihatnya dari sisi supply dan demand. Kalau memang ada tambahan permintaan barang yang melebihi penawaran yang tersedia di pasar, otomatis dengan ketersediaan yang terbatas harga akan meningkat,” jelasnya.

Bagi Eko, mekanisme itu tidak hanya berlaku pada MBG. Setiap kali permintaan melonjak sementara pasokan terbatas, harga cenderung ikut bergerak naik.

“Mau MBG maupun faktor musiman seperti hari raya, kalau permintaannya meningkat sementara pasokannya tidak seimbang, maka akan terjadi penyesuaian harga,” katanya mengakhiri panggilan telepon.

Korelasi SPPG dan Harga Pangan

Dugaan yang berkembang di kalangan pedagang dan konsumen juga muncul dalam kajian Center of Economic and Law Studies (Celios). Dalam Policy Note yang dipublikasi pada 30 Mei 2026, lembaga itu meneliti hubungan antara ekspansi program MBG, pelemahan nilai tukar rupiah, dan dinamika harga pangan, di 418 kabupaten dan kota di Indonesia selama Februari 2025 hingga April 2026.

Menggunakan model statistik panel fixed effect, Celios menemukan adanya korelasi kenaikan harga pangan rata-rata 0,08 persen setiap penambahan 10 unit SPPG. Pada komoditas yang umum digunakan dalam program MBG seperti beras, telur, ayam, ikan, minyak goreng, gula, bawang dan cabai mengalami kenaikan sekitar 0,12 hingga 0,13 persen.

Celios juga menemukan keterkaitan antara pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga pangan. Namun, pengaruh tersebut melemah setelah faktor-faktor lain seperti musim panen, inflasi, distribusi pangan dan kondisi pasar nasional ikut diperhitungkan dalam analisis. Di tingkat rumah tangga, terutama di pedesaan, pelemahan rupiah tetap dirasakan melalui meningkatnya biaya produksi, harga pupuk, pakan ternak, hingga biaya dalam rantai pasok pangan.

Direktur Eksekutif sekaligus pendiri Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, wilayah yang bergantung pada pasokan pangan dari luar lebih rentan mengalami tekanan harga ketika permintaan meningkat.

“Karena dia bukan basis pangan. Sehingga hadirnya MBG akan jadi kompetitor bagi ritel, rumah tangga. Harga-harga pangan jadi naik,” kata Bhima lewat sambungan telepon, Kamis, 16 Juli 2026.

Bhima menilai kenaikan harga pangan yang dipicu peningkatan permintaan tidak serta-merta akan kembali normal ketika kebutuhan MBG berkurang.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama ketika pelemahan rupiah dan daya beli masyarakat juga sedang tertekan. Ia berpendapat pemerintah perlu mengevaluasi keberlanjutan program MBG apabila dampaknya terhadap inflasi pangan dinilai lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan.

“Pemerintah akan berada pada pilihan, apakah menjaga inflasi pangan tetap stabil di tengah pelemahan rupiah dan daya beli yang sedang melemah, atau tetap memaksakan MBG yang akhirnya memicu tekanan terhadap harga pangan,” ujarnya.

Bhima mengingatkan, kenaikan inflasi pangan berisiko memperbesar jumlah penduduk miskin maupun mendorong sebagian kelas menengah turun kelas. Karena itu, Bhima berpendapat penghentian MBG menjadi solusi menjaga stabilitas harga pangan.

“Solusi terbaiknya memang hentikan MBG,” katanya mengakhir pembicaraan.

Sisa Makanan yang Berakhir ke Peternak

Kenaikan harga pangan hanya satu bab dari perjalanan MBG di Batam. Dalam pelaksanaannya, program ini juga menghadapi berbagai persoalan lain, mulai dari dugaan keracunan massal, temuan beling pada makanan siswa, hingga pengelolaan limbah makanan oleh SPPG yang memunculkan pertanyaan baru. 

Wawancara dengan Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi, Kepala SPPG di kawasan Sei Beduk, Fandi, serta seorang pemilik SPPG di Batam menunjukkan praktik yang serupa dalam menangani sisa makanan. Ketiganya menyampaikan keterangan yang sama. Sisa makanan dari program MBG dikumpulkan, lalu dijual kepada peternak sebagai pakan ternak babi atau entok. 

Fandi menyebut sisa makanan dalam program MBG tidak bisa dihindari. Dari ribuan porsi yang disiapkan setiap hari, rata-rata sekitar 50 kilogram sisa makanan terkumpul dalam sehari.

“Tidak ada kami olah. Kami hanya memilah di plastik,” ujar Fandi saat ditemui di SPPG Kawasan Sei Beduk.

Sisa makanan itu kemudian diambil oleh peternak. Menurut Fandi, tidak ada tarif khusus yang ditetapkan. Peternak hanya memberikan uang secara sukarela. Meski demikian, setiap makanan yang keluar dari dapur tetap dicatat sebagai bagian dari administrasi SPPG.

Praktik serupa juga ditemukan di SPPG lain. Seorang pemilik dapur MBG di Batam yang enggan disebutkan namanya mengatakan sisa makanan dari dapurnya rutin diambil oleh peternak babi.

“Ditimbang, terus diangkut. Sampah-sampah kami juga mereka yang angkut,” ujarnya.

Ia tidak menjelaskan apakah ada nilai transaksi dalam penyerahan sisa makanan tersebut, termasuk biaya yang berkaitan dengan pengangkutan limbah makanan.

***

Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi membenarkan pengelolaan sisa makanan di setiap SPPG di Batam. Menurutnya, seluruh SPPG diwajibkan memisahkan food waste atau sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi dengan food loss, yakni bahan pangan yang rusak selama proses produksi.

Kedua jenis limbah tersebut kemudian ditimbang dan dicatat berdasarkan jenisnya, mulai dari karbohidrat, protein hewani, hingga sayuran. Pada SPPG yang melayani sekitar 3.000 penerima manfaat, total food waste dan food loss dapat mencapai 50 hingga 100 kilogram per hari, atau sekitar 7–10 persen dari total makanan yang diproduksi.

Batam kini memiliki 147 SPPG. Jika menggunakan angka 50 kilogram sebagai asumsi rata-rata food waste dan food lossyang dihasilkan setiap SPPG per hari, totalnya diperkirakan mencapai sekitar 7,35 ton per hari.

“Sebagian besar SPPG di Batam bekerja sama dengan peternak untuk memanfaatkan sisa makanan tersebut sebagai pakan ternak,” kata Defri melalui sambungan telepon.

Peternak babi menjadi pihak yang paling banyak mengambil sisa makanan, disusul peternak bebek dan ayam dalam jumlah lebih kecil. Adapun limbah yang tidak dapat dimanfaatkan, seperti plastik dan kardus, diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Defri mengatakan, mekanisme kerja sama antara SPPG dan peternak berbeda-beda. Ada yang memberikan nilai ekonomis atas sisa makanan, ada pula yang hanya membantu mengangkut sampah dan menjaga kebersihan area SPPG. 

Hingga kini, lanjut Defri, belum ada SPPG di Batam yang mengolah sisa makanan menjadi kompos atau produk lain. Pengelolaan limbah makanan masih terbatas pada pemilahan, penimbangan, dan penyerahan kepada peternak atau pembuangan ke TPS.

Potensi Korupsi Jual Beli Limbah Makanan

Persoalan limbah makanan ternyata tidak berhenti pada urusan sampah. Presidium Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Herdiansyah Hamzah, menilai terdapat persoalan tata kelola yang perlu dikaji lebih jauh ketika limbah makanan dari program yang dibiayai APBN memiliki nilai ekonomi dan berpindah ke pihak lain.

Menurut pria yang akrab disapa Bung Castro tersebut, tanggung jawab SPPG tidak berhenti setelah makanan dibagikan kepada penerima manfaat. SPPG juga bertanggung jawab mengelola limbah dan sampah yang dihasilkan selama proses penyelenggaraan program.

“Menjual atau membisniskan sisa makanan itu bertentangan dengan aturan yang dibuat BGN sendiri. Dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, SPPG bukan hanya ditugaskan mengelola makanan, tetapi juga mengelola limbah dan sampah,” kata Castro melalui pesan singkat.

Bagi dosen hukum Universitas Mulawarman itu, pengelolaan limbah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan MBG. Ketika limbah justru menjadi objek transaksi, menurutnya, persoalan tersebut bergeser dari sekadar pengelolaan sampah menjadi persoalan kepatuhan terhadap tata kelola program.

“Ini sebenarnya aset negara. Kalau aset negara itu dijual dan keuntungannya masuk ke kantong pribadi, itu bisa dikualifikasikan sebagai kerugian negara dan tindak pidana korupsi,” katanya.

Meski demikian, Herdiansyah membedakan antara pemanfaatan limbah dengan transaksi atas limbah. Menurutnya, pelibatan pihak ketiga tetap dimungkinkan sepanjang bertujuan mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti kompos atau bentuk pengolahan lainnya, bukan untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Baginya, alasan bahwa peternak hanya memberikan uang “seikhlasnya” tidak mengubah substansi praktik tersebut apabila tetap terdapat imbalan yang diberikan kepada pengelola.

“Kalau dibilang cuma-cuma tetapi kemudian diberi uang seikhlasnya, menurut saya itu tetap menunjukkan adanya transaksi. Itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tersebut memperlihatkan lemahnya perencanaan program sejak awal. Menurutnya, sebelum SPPG mulai beroperasi, pemerintah semestinya memastikan seluruh rantai penyelenggaraan telah siap, mulai dari pengadaan bahan pangan, distribusi, hingga pengelolaan limbah.

“Dalam hukum administrasi, urusan SPPG itu harus disiapkan dari hulu sampai hilir. Bukan hanya bagaimana makanan diproduksi dan dibagikan, tetapi juga bagaimana limbahnya dikelola. Itu seharusnya sudah dipastikan sebelum SPPG beroperasi,” katanya.

Bhima melihat persoalan itu dari sudut yang hampir sama. Ia menilai praktik pemanfaatan sisa makanan tersebut perlu dievaluasi. Menurutnya, jika pengelolaan limbah tidak diatur dalam skema penyelenggaraan SPPG, tetapi kemudian menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pihak tertentu, persoalan yang muncul bukan hanya menyangkut tata kelola program.

“Kalau itu memang tidak ada dalam kontrak SPPG, berarti ada persoalan. Ada potensi kerugian negara, kerugian perekonomian, bahkan bisa mengarah pada korupsi,” katanya.

Bhima melihat persoalan itu berawal dari banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi penerima manfaat. Ketika makanan yang dibiayai APBN berakhir sebagai limbah, kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, menurutnya pemerintah perlu mengevaluasi efektivitas program secara menyeluruh.

“Kalau lingkaran setan itu enggak diputus, MBG akhirnya sama saja menjadi subsidi pakan ternak yang sebenarnya boros,” ujarnya.

Kritik atas Fondasi Program 

“MBG itu produk gagal yang sudah salah sejak dalam pikirannya. Itu lahir sebagai janji politik,” kata Akademisi Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah. 

Persoalan muncul ketika sebuah janji politik dijalankan tanpa diiringi perencanaan teknokratis yang memadai. Akibatnya, berbagai aspek pelaksanaan, mulai dari tata kelola, pengawasan, hingga pengelolaan anggaran, berjalan tanpa fondasi yang cukup kuat.

“Kalau yang dikedepankan hanya nafsu politik, program seperti ini tidak akan berjalan baik,” ujarnya.

Ia membandingkan MBG dengan program makan sekolah di sejumlah negara lain. Menurutnya, negara-negara tersebut tetap menjadikan kompetensi kelembagaan, kapasitas pelaksana, dan sistem pengawasan sebagai fondasi utama, meski programnya juga lahir dari keputusan politik.

“Di negara lain, program seperti ini tetap mengombinasikan keputusan politik dengan pendekatan teknokratis. Basisnya kompetensi. Di kita, menurut saya, itu yang belum terlihat sehingga akhirnya muncul banyak persoalan,” katanya.

Herdiansyah menilai pemerintah seharusnya lebih dahulu memastikan kesiapan kelembagaan, sumber daya manusia, rantai pasok pangan, hingga mekanisme pengawasan sebelum memperluas implementasi MBG secara nasional.

***

Alih-alih melihat MBG sebagai sekadar program makan gratis, Uni Lin justru lebih sering mendengar cerita tentang makanan yang tidak habis dimakan. Keluhan itu datang dari pelanggan hingga orang tua murid yang singgah ke tokonya. 

“Kadang anak itu makanannya enggak disentuh. Kalau enggak dimakan kan mubazir, buang-buang duit saja,” katanya malam itu sambil menjaga tokonya.

Ia memahami pemerintah memiliki tujuan baik meningkatkan gizi anak. Namun, menurutnya, kebutuhan setiap anak tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, ada pula yang tidak menyukai menu yang disajikan. Dalam kondisi seperti itu, Uni Lin menilai orang tua jauh lebih memahami kebutuhan makan anak mereka dibandingkan pemerintah.

“Masalah makan anak itu macam-macam. Ada yang alergi, ada yang enggak bisa makan sosis atau makanan tertentu. Orang tua lebih tahu makanan anaknya,” ujarnya.

Karena itu, Uni Lin berharap pemerintah mempertimbangkan kembali prioritas penggunaan anggaran. Menurutnya, jika diminta memilih, ia lebih setuju dana MBG dialihkan untuk membantu biaya pendidikan anak atau kebutuhan lain yang langsung dirasakan masyarakat.

“Kalau menurut saya, lebih baik uangnya dipakai untuk sekolah digratiskan. Kalau takut dipakai orang tua, langsung kasih saja ke sekolah. Pemerintah harus bijak. Kalau keuangan negara lagi enggak bagus, manfaatkan untuk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Artikel ini diterbitkan oleh Project Multatuli.

Categories
Gagasan

Perkara Makan di Perantauan

Hari ini aku menyadari bahwa anak yang tinggal di rumah bersama orang tua setidaknya aman untuk makan harian. Ya, hari ini aku mendapatkan cerita dari seorang bapak yang pernah merantau saat kuliah. Berlatar belakang keluarga yang pas-pasan, dia nekat untuk tetap kuliah. Pikirnya, proses kuliah akan mudah diusahakan saat berada di tanah rantau. Biaya kuliah, tempat tinggal, dan uang makan. Di sela padatnya jadwal kuliah, dia mengupayakan untuk dapat bekerja paruh waktu. Sayangnya, kesempatan yang baik ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keadaan saat itu, si Bapak memikirkan betul cash flow yang hampir lebih dari separuh pendapatannya digunakan untuk makan, yang lain dia sisihkan untuk uang kuliah dan biaya tempat tinggal. Apalagi si Bapak tidak pernah masak sendiri. Dia membeli nasi dan lauk di warung dua kali sehari, untuk makan siang dan makan malam. Makan tiga kali sehari hanya bisa dihitung jari. Setiap kali mau ke warung untuk makan, ia akan melihat lagi isi dompetnya, masih ada uang apa tidak, uangnya cukup atau tidak, dan bagaimana seandainya uangnya kurang saat beli makanan. Saat pemasukan menipis, dia akan memutar otak untuk bisa makan, bagaimanapun caranya untuk bertahan hidup.

Si Bapak pada saat itu akrab dengan kalimat “makan apa saja gapapa, yang penting orang rumah ga tau”. Si Bapak akan selalu memberi tahu hal baik saat orang rumah menanyakan kabar soal makan.

Seperti misalnya, saat ada kirim pesan WhatsApp, “Nak, masih ngerjain apa? apa sudah makan?”

Seringkali si Bapak akan menjawab, “Sudah.”

“Makan apa tadi nak?”

“Tadi makan telur”

Padahal faktanya si Bapak jarang sekali makan makanan yang mengandung protein. Entah, berapa kali si Bapak berbohong soal itu untuk membangun citra positif keadaannya yang tidak selalu baik. Si Bapak berharap dapat menumbuhkan kepercayaan kepada orang tuanya yang telah mengizinkannya untuk pergi merantau.

Di rumah, orang tua khawatir dengan keadaan anaknya. Orang tua berpikir, tugas orang tua itu mencukupkan kebutuhan anaknya. Namun dengan keadaan yang pas-pasan, mereka tidak bisa berbuat banyak. Di perantauan, anak yang dikhawatirkan itu justru akan berpikir untuk tidak merepotkan orang tua. Dua keadaan yang berbeda, tetapi sama-sama sadar posisi. Si Bapak berpikir alangkah baiknya berusaha semaksimal mungkin agar tidak membebani orang tua. Kesadaran diri si Bapak mulai tumbuh untuk menjadi dewasa.

Pada saat kami mengobrol, si Bapak kembali mengingat, seandainya dia tidak merantau, setiap hari dia akan bisa makan masakan ibunya yang telah dihidangkan di meja. Kebutuhan rumah pun sudah diamankan oleh bapaknya. Tidak perlu “berbohong demi kebaikan”. Terlebih kebutuhan gizi akan lebih baik. Energi yang didapatkan setiap hari, sebagian besar uang saku atau hasil bekerja sambilan dapat dialokasikan untuk fokus pada pengembangan diri maupun dibelanjakan untuk kebutuhan dan keperluan pribadi. Terlebih dia bisa menemani orang tuanya yang semakin menua.

Ya, begitulah. Kiranya si Bapak hanya sekadar ingin bercerita. Tidak ada ruginya jika tinggal di rumah.

Categories
Gagasan

Semua Orang Berhak Makan Bergizi

Makanan merupakan kebutuhan utama manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Namun, masih ada anggapan bahwa makanan sekadar berfungsi untuk mengenyangkan perut. Padahal, kandungan gizi yang seimbang di dalam makanan berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan meningkatkan kualitas kesehatan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Asupan gizi yang baik bahkan dapat menstimulasi perkembangan otak, yang menjadi fondasi penting bagi kemampuan berpikir dan belajar seseorang.

Makanan bergizi itu sendiri merupakan makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh dalam proporsi yang tepat. Tanpa asupan gizi yang memadai, pertumbuhan dapat terhambat dan dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kualitas hidup seseorang.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses makanan bergizi. Sebagian orang terpaksa hanya mengonsumsi makanan yang sekadar mengenyangkan, tetapi minim kandungan gizi. Sementara itu, bagi sebagian lainnya, makanan bergizi telah menjadi menu sehari-hari. Perbedaan kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan akses yang nyata.

Akses terhadap makanan bergizi seharusnya menjadi bagian dari hak dasar manusia untuk hidup sehat dan layak. Karena itu, upaya memperluas akses terhadap makanan bergizi bukan hanya persoalan bantuan semata, melainkan juga bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial.

Distribusi Makanan Bergizi

Selain mendistribusikan barang-barang layak pakai, Joli Jolan juga memandang penting distribusi makanan bergizi sebagai bentuk solidaritas pangan. Upaya ini memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan besar ketimpangan akses, tetapi menjadi langkah konkret untuk membantu masyarakat di sekitar Galeri Joli Jolan memperoleh asupan yang lebih baik.

Salah satu program yang dijalankan adalah Food Not Bomb (FNB), kegiatan berbagi bahan pangan yang dilaksanakan setiap akhir pekan di Galeri Joli Jolan. Relawan dan warga mendonasikan bahan makanan, mulai dari sayuran hingga makanan siap santap, yang kemudian dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang membutuhkan. Siapa pun dapat mengambil dan siapa pun dapat berdonasi.

Program ini tidak hanya disambut hangat oleh warga yang membutuhkan, tetapi juga oleh mereka yang ingin berbagi. Ada kepuasan tersendiri ketika dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ada kepuasan tersendiri bahwa apa yang diberikan dapat menjadi bagian dari kontribusi positif. Food Not Bomb menunjukkan bahwa solidaritas dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara kolektif.

Gerakan Food Not Bomb sendiri bermula pada tahun 1980-an di Amerika Serikat sebagai inisiatif distribusi pangan gratis yang berlandaskan semangat kesukarelaan dan kebersamaan. Dalam praktiknya, tidak ada paksaan untuk berdonasi maupun mengambil makanan. Semua berjalan atas dasar kesadaran untuk saling membantu, untuk saling menjaga satu sama lain.

Pada akhirnya, upaya ini menjadi langkah nyata yang menunjukkan bahwa makanan bergizi dapat diakses oleh siapa saja. Tidak diperlukan birokrasi yang berbelit atau modal besar yang sering kali membuat akses menjadi terbatas. Selama ada kesadaran untuk saling berbagi dan niat tulus untuk berkontribusi, kegiatan berbagi makanan bergizi dapat diwujudkan secara sederhana dan bermakna.

Categories
Gagasan

Apa Kabar Resolusi Akhir Tahun?

Tak terasa, tahun 2026 sudah hampir berjalan satu bulan. Sejauh mana resolusi kalian tahun ini? Sudah ada progres yang berarti? Masih berkomitmen dengan resolusi tersebut? Atau malah ada yang telah berhasil kalian capai? Atau justru mulai kalian lupakan?

Berkomitmen pada perubahan memang butuh upaya yang tidak mudah. Namun, bukan berarti upaya tersebut tidak layak diperjuangkan. Apabila resolusi yang kalian buat terasa sulit dicapai, ada baiknya kalian berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi. Bisa jadi bukan resolusinya yang terlalu berat, melainkan upaya dan persiapan kalian yang belum cukup matang dan pantas untuk mencapainya.

Cobalah mulai mengatur ulang strategi. Tidak ada yang salah dengan menyesuaikan strategi. Mungkin saja strategi baru yang telah kalian sesuaikan justru menjadi bagian penting dari proses menuju resolusi yang sebelumnya terasa sulit. Atau bisa jadi strategi baru tersebut membantu kalian menyadari hal lain yang lebih penting daripada resolusi yang sebelumnya telah kalian buat. Sehingga kalian harus membuat resolusi baru. Tidak apa-apa.

Cobalah mulai lakukan hal-hal kecil, sederhana, dan relatif mudah dilakukan. Yang terpenting, hal-hal tersebut dapat kalian lakukan secara konsisten. Berikut dua hal sederhana yang bisa jadi inspirasi.

Gunakan Kalender untuk Menulis To-Do List

Pasang kalender, lalu tuliskan daftar tugas pada tanggal-tanggal yang telah kalian tentukan. Letakkan kalender tersebut di tempat yang sering kalian lihat, bisa di kamar, pintu keluar, atau ruang keluarga. Tujuannya agar kalian terus mengingat tugas apa saja yang perlu kalian kerjakan dan selesaikan.

Setelah menyelesaikan sebuah tugas, coret tugas tersebut. Aktivitas sederhana ini dapat menciptakan rasa pencapaian dan percaya diri. Ada perasaan bangga yang muncul, menghasilkan sensasi yang memotivasi kalian untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Diharapkan hal ini membentuk momentum bagi kalian untuk menyelesaikan rencana-rencana yang telah kalian buat, bukan meninggalkan rencana-rencana tersebut begitu saja.

Memang, kita semua memiliki aplikasi kalender di gadget yang selalu kita bawa ke mana-mana. Namun, banyaknya notifikasi sering kali malah membuat to-do list yang kita buat terabaikan. Selain itu, sensasi mencoret to-do-list yang telah selesai kita kerjakan dengan pensil atau pulpen di kalendar terasa lebih memuaskan dibandingkan sekadar menekan tombol di layar aplikasi.

Mulai Konsisten Membaca Buku

Membaca buku adalah kebiasaan yang mungkin tidak diminati semua orang. Padahal, membaca dapat melatih kita untuk berpikir, membayangkan, dan mengolah informasi secara lebih mendalam. Aktivitas ini membuat otak bekerja lebih aktif dibandingkan hanya menonton konten di layar.

Memang, saat ini informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui internet dan media sosial. Namun, tidak sedikit informasi di media sosial yang mengandung disinformasi. Buku, di sisi lain, umumnya telah melalui proses penyuntingan yang lebih ketat.

Jika kalian merasa sulit fokus membaca dalam waktu lama, mulailah dengan durasi singkat, misalnya 15 menit per hari atau dua halaman per hari. Lakukan secara konsisten rutinitas tersebut hingga perlahan kalian merasa lebih nyaman membaca.

Apabila kalian merasa harga buku mahal, ada banyak alternatif yang bisa kalian pertimbangkan. Pada dasarnya, upaya untuk membaca buku tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kalian bisa meminjam buku dari perpustakaan, baik perpustakaan daerah, kampus, maupun sekolah. Jika kalian tetap ingin memiliki sebuah buku, membeli buku bekas dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Selain itu, kalian juga bisa datang ke Galeri Joli Jolan setiap hari Sabtu untuk mengambil buku-buku hasil donasi. Gratis dan tetap berkualitas.

Dua kebiasaan di atas bisa mulai kalian lakukan saat ini juga, terlepas dari kebiasaan hidup kalian yang telah terbentuk sejauh ini. Selain relatif mudah dan menambah wawasan, kebiasaan tersebut dapat menciptakan perasaan yang lebih produktif dan positif. Meskipun kebiasaan ini tidak serta-merta mengubah hidup kalian dalam waktu singkat, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut perlahan akan membentuk pola baru ke depan. Dan mungkin, dari pola baru itulah progres resolusi tahun baru yang telah kalian buat mulai terasa lebih realistis untuk diwujudkan.

Categories
Gagasan

Relasi antara Berpakaian, Identitas Diri, dan Penilaian Sosial

Bolehkah kita jujur sebentar? Seberapa sering kita menilai orang lain hanya dari pakaian yang melekat di tubuhnya? Memakai baju bermerek, berarti kaya dan berkelas, yang rapi berarti sopan juga jujur, sementara yang berpakaian sederhana acapkali dianggap acuh tak acuh dan juga tidak tahu tren.

Munculnya fenomena ini bukan tanpa alasan. Dunia modern telah menyiapkan segala macam siasat agar kita mau saja dibelenggu oleh mode, dengan mengaburkan pemaknaan yang bersumber dari dalam diri.

Apakah ungkapan, “don’t judge a book by its cover” ini masih relevan? Dalam kesehariannya, saya rasa masih ada yang sering menyikapi fenomena tersebut secara tidak adil. Ada beberapa hal yang sejatinya masih perlu dipertanyakan ulang. Apakah mengenakan jas dengan aksesori dasi berkelas itu sudah dianggap orang yang bisa dipercaya? Apakah yang mengenakan batik dan kebaya sudah paling menyimbolkan seseorang yang mencintai budaya lokal?

Memakai pakaian berwarna hitam berarti membawa kesan misterius, susah ditebak, dan unik. Jika mengenakan pakaian yang berwarna cerah dan tabrak warna dianggap “nyentrik” dan ceria, sedangkan yang memakai pakaian putih bersih identik kesucian dalam dirinya dengan spiritualitas tinggi. Sudah terlalu lama identitas diri dilekatkan pada bagaimana sesorang menutup tubuhnya.

Seakan-akan pakaian menjadi gerbang paling mudah untuk mengukur siapa seseorang. Tentu, berpakaian bisa menjadi sarana menunjukkan identitas diri. Tetapi tak akan pernah cukup untuk menilai, apalagi berusaha mengenal seseorang secara utuh. Berpakaian hanya irisan kecil dalam ejawantah diri.

Model, warna, hingga detail pakaian memang bisa memberi simbol: apa yang disukai, pesan apa yang ingin dibagikan ke khalayak, bahkan status sosial apa yang ingin ditampilkan. Tetapi, pakaian tetaplah sebatas kain yang menempel pada tubuh. Identitas yang utuh, tidak akan pernah bisa untuk sekedar ditempelkan pada kain. Ia beranak-pinak tumbuh jujur dalam pikiran dan konsistensi dalam bersikap di keseharian.

Dari mulai bagaimana jujur dengan diri sendiri, caranya berkomunikasi dengan orang lain, merespons ketika dilimpahi banyak kenikmatan hidup, melenting ketika sedang terimpit rasa kesusahan, menjaga penuh relasi dengan Tuhannya, sampai bagaimana bersikap jika penguasa menekan rakyat dan berlaku tidak adil. (Aduh, kok malah berat gini lho ehh!)

Mestinya, identitas diri lahir dari kejujuran dan kemurnian jiwa, tanpa dibuat-buat. Sayangnya, masih ada saja orang yang demi menyenangkan mata orang lain, ia mengejar standar keren yang dibuat oleh pasar yang tiada ujungnya. Akibatnya ia pun rela memaksakan diri untuk berpakaian yang tidak menujukkan siapa dirinya dan berusaha menjadi orang lain. Lalu siapa yang tertipu pertama kali selain dirinya sendiri?

Hidup Secukupnya Saja

Sudah berapa jutaan postingan di TikTok, YouTube, atau Instagram yang dirilis untuk mengacak-acak pola pikir kita? Yang sebenarnya mengarah ke pola pikir barat dengan konsumerismenya. Namun, ada pepatah Jawa, “urip iku sak madyane.” Hidup itu secukupnya saja. Menyederhanakan apa yang disandangnya seolah menjadi angin segar dan opsi untuk tidak berlebih-lebihan.

Dunia modern makin sibuk, alih-alih kita upgrade skill yang dipunya atau aware dengan kondisi kanan-kiri, kita malah fokus mempertebal topeng-topeng tubuh. Toh sebulan lagi, tren di pasaran sudah akan berubah, kan? Influencer yang kita puja juga sudah melupakan pakaian apa yang dipromosikan saat itu. Nah, mau sampai kapan akan terus mengikutinya lagi dan lagi? Diskon-diskon di keranjang online siap menanti, tetapi semoga jari masih tetap ada sepenuhnya dalam kuasa diri.

Pakaian bisa menipu, kadang datang dengan cara super halus, taktis, tetapi bisa juga sangat masif. Sebab, seseorang bisa memakai pakaian apa saja, tetapi tidak merepresentasikan dirinya secara utuh. Identitas diri amat kompleks, sangatlah kecil dan remeh apabila diukur dari pakaian. Ia hadir tanpa label harga dan tanpa merek branded kekinian.

Kita bisa mengenal identitas seseorang dari nilai-nilai kehidupan yang sedang dipegang, karakter yang terus dibangunnya, serta pengalaman hidup yang sudah membentuknya. Bukankah itu lebih mencerminkan dari identitas diri seseorang? Semoga kita tidak luput terus-menerus ya, agar tidak saling menipu diri sendiri maupun orang lain.

Categories
Gagasan

Imajinasi tentang Literasi

“Kenapa kok gratis?” Kalimat itu meluncur dari seorang remaja perempuan saat menyambangi booth Joli Jolan di Solo Literacy Festival 2025 pekan lalu. Pelajar dari sebuah SMA negeri di Solo itu tampak keheranan ketika menyimak buku berlabel gratis yang tertata di meja.

Saat itu kami spontan menjawab singkat, “kenapa kok harus bayar?” Remaja tersebut pun manggut-manggut sambil tersenyum. Dia pun melanjutkan perburuan bukunya di stan kami bareng kawan sebayanya.

Pertanyaan gadis itu mungkin sederhana, tapi menyimpan makna. Selama ini, kita memang cenderung terbiasa dengan pola transaksi jual-beli. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari, termasuk literasi, harus ditebus dengan rupiah. Bahkan meminjam di persewaan buku pun masih melibatkan uang.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun kebiasaan tersebut, sadar atau tidak, mengurangi imajinasi kita untuk penyediaan kebutuhan yang murah, bahkan gratis. Padahal sebelum konsep uang muncul, kita mengenal sistem barter yang memungkinkan orang bertukar barang sesuai kebutuhannya.

Di dunia perbukuan, barter buku bisa menjadi solusi bijak untuk menambah ilmu sekaligus berhemat. Selain itu, konsep berbagi bisa diterapkan untuk pemerataan akses literasi, seperti yang kami lakukan di event kemarin.

Semua buku yang kami bagikan gratis adalah mlik warga. Banyak alasan mereka mendonasikan bacaannya. Ada yang karena sudah selesai membacanya, mengurangi tumpukan buku di rumah, hingga sesimpel ingin berbagi dengan sesama. Terlepas apa pun alasannya, buku yang mereka bagi akhirnya kembali bermanfaat di tangan yang baru.

Lalu bagaimana menggerakkan sebuah kegiatan jika semuanya berlabel gratis? Untuk menjaga konsistensi redistribusi buku, kami menerapkan semacam “subsidi silang” ketika mengikuti event. Ada buku yang dibanderol harga, tapi tetap sangat terjangkau warga. Di Solo Literacy Festival kemarin, beberapa buku pilihan pun bisa diadopsi hanya dengan donasi Rp20.000,00 saja.

Pada akhirnya, banyak alternatif yang sebenarnya bisa dilakukan warga untuk penyediaan literasi di wilayahnya. Mulai dari hal kecil, dan konsisten, kita bisa membuat sebuah perbedaan. Mari bergerak bersama!

Categories
Gagasan

Saatnya Membangun Ulang Kesadaran Kolektif

Saat menghadiri acara komunitas Indonesia di Amerika Serikat, saya sempat tergelitik melihat bagaimana “kekhasan” masyarakat kita tampak begitu nyata dalam menyelenggarakan acara tersebut. Kekhasan tersebut sangat kontras dengan budaya Amerika yang menjunjung tinggi ketepatan waktu (punctuality). Meskipun hal itu bukan persoalan hidup dan mati, kita sebenarnya tahu bahwa kebiasaan tersebut bukanlah kebiasaan yang baik. Namun, tanpa sadar kita sudah terbiasa memakluminya, sehingga kebiasaan tersebut berubah menjadi kesadaran kolektif yang dianggap wajar. Itu baru satu contoh kebiasaan, tentu masih banyak kebiasaan lain yang tidak sehat tetapi sudah terlanjur kita anggap lumrah, sehingga mengakar menjadi sebuah kesadaran kolektif.

Boleh jadi para pejabat adalah miniatur masyarakat Indonesia saat ditempatkan di pucuk kekuasaan, dengan privilege dan beragam kenyamanannya. Dengan kesadaran kolektif yang telah mengakar, mereka pun saling berinteraksi dan secara otomatis membentuk sistem yang saling mendukung kenyamanan satu sama lain. Sialnya kesadaran kolektif yang negatif pun turut mereka bawa dan pelihara. Sehingga sistem pemerintahan pun menjadi cerminan dari akumulasi kesadaran kolektif yang negatif tersebut. Meskipun mereka menyadari keburukannya, mereka tetap membiarkan keburukan tersebut terjadi karena tidak ingin kenyamanan yang telah terbentuk secara komunal terusik. Tidak heran meskipun rezim telah berganti berkali-kali, masalah yang dihadapi bangsa ini tetap saja sama.

Pejabat yang tidak kompeten memang sepantasnya diberhentikan, karena merekalah yang bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Merekalah yang bertanggung jawab memantik amarah rakyat, berujung demonstrasi besar-besaran yang menyebabkan tragedi memilukan. Rakyat marah, rakyat menuntut keadilan.

Sayangnya, persoalan tersebut tidak seketika berhenti ketika para penyeleweng jabatan akhirnya lengser. Setelah mereka lengser, siapa yang kemudian akan menggantikan? Jika penggantinya masih membawa kesadaran kolektif yang sama dengan mereka, besar kemungkinan sistem yang sudah ada ini hanya akan menghilang sekejap kemudian kembali seperti semula.

Pengganti yang ideal harus memiliki kompetensi sekaligus idealisme untuk mereformasi kesadaran kolektif yang negatif tersebut. Memang, upaya ini akan memicu resistensi dari pihak-pihak yang tidak mau kenyamanannya terusik dan bertahan dengan kesadaran lama. Namun, perubahan sejati hanya mungkin terjadi bila kesadaran baru yang lebih konstruktif mampu tumbuh dominan dan mengikis kesadaran lama, hingga kemudian menggantinya.

Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri

Layaknya pohon yang menjulang tinggi, akarnya pun tentu harus kuat agar dapat menopang pohon tersebut. Sama halnya dengan kekuatan perubahan, perubahan yang kuat dan bertahan lama ditentukan oleh akarnya. Apabila kita sungguh-sungguh menginginkan transformasi berkelanjutan, maka kita perlu berbenah bersama: mengevaluasi diri, memperbaiki kebiasaan, dan membentuk kesadaran baru, dimulai dari diri kita sendiri sebagai akar rumput. Memang masalah di Indonesia tidak seketika menghilang begitu saja, tetapi setidaknya akan mengarah ke arah yang lebih konstruktif.

Di sinilah pendidikan kembali memainkan peran kunci. Bukan sekadar pendidikan berbasis hafalan, melainkan pendidikan yang menumbuhkan pemahaman konteks, kemampuan analisis, berpikir kritis, dan sikap humanis. Menjadi pembelajar seumur hidup memang tidak mudah, apalagi di tengah problematika kehidupan sehari-hari. Namun, justru di situlah tantangannya. Jika kita gagal melewatinya, bukan tidak mungkin sejarah yang sama akan terus berulang.

Saya pun melihat inisiatif-inisiatif seperti yang dilakukan oleh Ferry Irwandi melalui Malaka Project atau Fahruddin Faiz dengan Ngaji Filsafat menjadi sangat relevan dan penting di era sekarang. Langkah-langkah gerilya semacam ini mampu memantik kesadaran masyarakat akar rumput, terutama anak-anak muda. Kesadaran itulah yang nantinya menjadi fondasi bagaimana mereka berpikir secara benar, sehingga jalan menuju kesadaran kolektif yang lebih konstruktif pun terbuka lebar.

Kejadian kesewenangan hukum dan kebrutalan aparat yang terjadi pada penghujung bulan Agustus 2025 memang menorehkan luka mendalam bagi masyarakat. Sebuah peristiwa yang bakal tertulis abadi dalam sejarah kelam bangsa Indonesia dalam menghadapi kesenjangan sosial dan melawan ketidakadilan.

Namun, sebagai makhluk yang diberi kemampuan belajar bahkan dari pengalaman pahit sekalipun, peristiwa ini menjadi pemantik kesadaran kita bersama. Tidak hanya sekadar milestone gegap gempita melengserkan (dan membalas dendam) para pejabat yang tidak kompeten di zaman digital, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berefleksi. Kesempatan untuk mempersiapkan diri dan mendidik generasi selanjutnya agar memiliki kesadaran kolektif yang lebih konstruktif. Dengan demikian, kesadaran kolektif dapat diterapkan secara massal hingga mampu merombak sistem yang selama ini telah rusak.

Categories
Gagasan

Ziarah: Krisis dan Keterasingan

Indonesia, pada suatu masa sempat mengalami kemurungan: antara ingin segera meninggalkan masa lalu atau dihantui ketidakpastian masa depan. Kemurungan itu diikuti krisis dan keterasingan, di mana masyarakat terseret arus perubahan yang begitu deras tanpa kesadaran akan sejarah dan tujuan.

Pada masa 1960-an, krisis ekonomi melanda Indonesia buntut kebijakan politik mercusuar berbiaya besar di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Kala itu, masyarakat Indonesia baru satu dekade menjalani pemulihan pascaperang kemerdekaan menuju pergolakan mengisi dan membangun.

Suasana krisis dan peralihan di Indonesia saat itu demikian terasa, sebab Indonesia masih muda dan sedang menjadi, tetapi ingin tampil gagah di antara bangsa-bangsa besar di dunia sembari mendayung di antara dua karang besar yang menjadi kiblat politik global. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai tahun vivere pericoloso atau tahun penuh bahaya.

Di tahun penuh bahaya itulah, sastrawan angkatan 1966 Iwan Simatupang, menuntaskan pengerjaan novel pertamanya yang fenomenal berjudul Ziarah. Dalam bukunya berjudul Novel Baru Iwan Simatupang (1984) Dami N. Toda menjelaskan, Iwan mempersembahkan Ziarah untuk istri pertamanya, Corrine Imalda de Gaine, yang meninggal karena tifus pada tahun 1955.

Selesai ditulis pada akhir 1960, Ziarah baru terbit sembilan tahun kemudian. Begawan Sastra Indonesia, H.B Jassin pernah mendesak Penerbit Djambatan dalam sebuah surat agar lekas menerbitkan Ziarah. Kata Jassin, “Ceritera ini yang baru sama sekali dalam bahasa, dalam pengungkapan, dalam mendekati hidup dan permasalahan baru dalam kesusastraaan Indonesia.”

‘Kejutan’ di Kotapraja

Berlatar belakang di sebuah kota bernama Kotapraja, novel Ziarah mengisahkan keterasingan seorang protagonis laki-laki bernama Tokoh Kita yang batinnya terpukul karena istrinya meninggal dunia. Sekian lama terbenam dalam keterasingan sekaligus keputusasaan, Tokoh Kita akhirnya menginsyafi kesalahan dan memperbaiki diri.

Mengalami berbagai perenungan batin, Tokoh Kita memutuskan untuk membangun reputasi baru sebagai pengapur tembok yang andal berkat pengalaman dan keterampilannya melukis di masa lalu. Lambat laun, keahliannya menyebar ke seluruh penjuru Kotapraja, membuat seorang opseter pemakaman tertarik menggunakan jasanya.

Singkat cerita, opseter mulai dilanda cemas sejak tiga hari Tokoh Kita bekerja. Semula, opseter berniat mengamati perilaku ganjil Tokoh Kita saat mengapur tembok pemakaman Kotapraja. Perilaku ganjil yang dimaksud semacam gejala guncangan jiwa Tokoh Kita bila mengingat istrinya dimakamkan di tempat itu. Keinginan itu pupus karena Tokoh Kita malah menjalani rutinitas seperti orang pada umumnya. Ketika matahari terbenam, ia menyudahi pekerjaannya lalu pergi berjalan ke kedai arak sambil bersiul-siul santai. Kabar ini segera meluas ke seluruh penjuru Kotapraja, menjadi pemicu histeria warga kota.

“Perobahan tingkah pengapur ini mempengaruhi tingkah seluruh warga kota. Mereka tak dapat memahami perubahan itu. Mereka melihat pada perubahan itu hanya bertanda bakal datangnya satu perubahan tak baik dan menyamankan bagi mereka semuanya,” tulis Iwan.

Keganjilan Tokoh Kita bermula dari suatu hal yang seharusnya berjalan biasa saja. Namun, warga Kotapraja sudah lebih dulu beranggapan Tokoh Kita seharusnya berperilaku ganjil. Mereka seakan bersepakat, ukuran normal seseorang dinilai dari persepsi yang terpatri bersama di balik layar.

Dari sini, absurditas novel Ziarah mulai mendaki kompleksitasnya. Karena kenormalan Tokoh Kita, warga Kotapraja dikisahkan mengalami rentetan keganjilan sampai dengan krisis pemerintahan. Suatu hari, mereka merasa takut, curiga, serta bingung kepada sesama warga kota lainnya. Fenomena ini mengakibatkan histeria massal tak terduga hingga pemerintah Kotapraja hampir tak berdaya menghadapinya.

Para pejabat Kotapraja kesulitan mengurai masalah yang benar-benar baru pertama kali mereka temui. Wali kota akhirnya memutuskan turun tangan sendiri. Ia memutuskan memberhentikan opseter yang mempekerjakan Tokoh Kita. Merasa ganjil sekaligus buntu dengan keputusannya sendiri, wali kota malah bertambah frustasi dan memutuskan bunuh diri.

Kegagapan Menghadapi Perubahan

Histeria imbas perubahan perilaku Tokoh Kita menjadi simbolisme ketidaksiapan masyarakat menerima kecepatan perubahan. Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa Soedjatmoko, dalam esainya yang berjudul Umat Manusia Menghadapi Tantangan Bagi Kelangsungan Hidupnya (1991) berpendapat, kecepatan perubahan di berbagai negara telah memicu gejala stres dan keterasingan.

Penyebab perubahan itu, tulis Soedjatmoko, misalnya kerumitan proses politik, menajamnya perbedaan budaya, serta karakter individu yang makin beragam. Belum lagi, revolusi informasi datang dan melampaui kapasitas ekonomi nasional suatu negara. Maka, Ziarah mencerminkan keadaan demikian: kabar buruk dan histeria menyibak inkompetensi pemerintah.

“Kecepatan perubahan dalam berbagai negara telah menimbulkan salah arah, keterasingan kaum muda, dan kaum miskin, perilaku anomik, serta kekerasan tidak terduga. Ini adalah tanda-tanda suatu masyarakat sedang mengalami stres,” tulis Soedjatmoko.

Pandangan Soedjatmoko itu ditulis puluhan tahun silam, tetapi gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Kita bisa menyaksikan sendiri, bagaimana di Indonesia percepatan informasi dan kebijakan salah kaprah menjurus pada vivere pericoloso. Akibatnya, bermunculan anomali sosial, ketidakpercayaan terhadap elite politik, dan berbagai bentuk aksi massa.

Sementara, seperti paniknya warga Kotapraja menghadapi perubahan perilaku Tokoh Kita, masyarakat Indonesia hari ini bergulat dengan perubahan sosial-politik yang datang bertubi-tubi. Refleksi pergulatan itu tercermin dari rentetan aksi demonstrasi belakangan waktu, serta kegagapan respons pemerintah menanggapi kritik dan aspirasi.

Selain didorong amplifikasi kabar di media sosial, rentetan aksi demonstrasi dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi ekonomi dan politik. Ambil misal, terjadinya PHK massal di banyak tempat, melambungnya harga bahan pokok, kebijakan pemangkasan anggaran kementerian, hingga terseret pusaran perang dagang raksasa-raksasa dunia.

Krisis ekonomi dan politik juga terjadi dalam Ziarah. Pemerintah Kotapraja sampai melibatkan pemerintah pusat untuk mengatasi efek domino dari histeria massal. Pemerintah panik melihat jumlah orang yang menderita penyakit darah tinggi dan urat syaraf terganggu semakin meningkat. Kepala negara, kabinet, dan parlemen sibuk mengatasi potensi kelumpuhan kerja negara akibat penyakit syaraf.

“Dan yang lebih celaka lagi, menjadinya negara satu sanatorium raksasa bagi satu bangsa yang seluruhnya menderita penyakit jiwa dan urat syaraf,” tulis Iwan.

Categories
Gagasan

Merawat Solidaritas Mulai dari Tetangga

Bagaimana sebuah gerakan dapat berkembang dan berkelanjutan? Salah satu hal yang penting adalah jaringan. Dengan berjejaring, langkah gerakan bakal lebih ringan dan berdampak luas. Itulah yang membuat kami intens berkolaborasi dengan komunitas hingga warga akar rumput hingga sekarang.

Beberapa kelompok warga akhirnya terinspirasi membuat gerakan berbagi seperti di Jaten, Karanganyar, Pengging, Boyolali, Grobogan, dan yang terkini warga Rusunawa Putri Cempo Solo. Namun yang mungkin belum banyak diketahui, Joli Jolan juga intens melibatkan tetangga kampung untuk saling bantu.

Beberapa sukarelawan kami adalah tetangga. Ada pula tetangga pengusaha yang rutin memberi teh kesehatan gratis setiap akhir pekan. Dokter yang membuka praktik di dekat Joli Jolan juga memberikan jasa cek kesehatan secara cuma-cuma. Tak kalah seru, kami turut berkolaborasi dengan Masjid Al Huda, Kerten, sebuah masjid yang berlokasi hanya sepelemparan batu dengan Joli Jolan.

Ya, seusai Joli Jolan tutup Sabtu siang, kami langsung memilah sejumlah pakaian dan barang lain untuk diberikan ke pengelola masjid. Barang donasi itu nantinya akan dibagi pada warga masjid seusai salat Subuh setiap hari Minggu. Biasanya, masjid turut menyediakan sayuran yang juga dapat diambil gratis. Kegiatan ini pun secara tak langsung menambah motivasi warga sekitar untuk subuhan berjemaah.

Meski sederhana, Masjid Al Huda telah menjalankan fungsi sebenarnya dari pemberdayaan umat. Bagi kami, sudah sewajarnya tempat ibadah tak hanya menjadi ruang untuk beritual, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan manfaat sosial-ekonomi secara langsung bagi jemaahnya. Tidak perlu menunggu siapa-siapa, mari kita inisiasi gerakan serupa bersama tetangga. Berani memulai, kawan?

Categories
Gagasan

Tiga Nasihat Pepatah Jawa Sebelum Donasi ke Joli Jolan

Joli Jolan merupakan komunitas yang menghimpun dan menyalurkan barang layak pakai dan berbagai barang manfaat lainnya. Keberadaan Joli Jolan sudah dikenal masyarakat yang menerima manfaat (dalam makna luas). Bagi donatur bisa kapan saja dapat menyalurkan barang yang ingin didonasikan. Informasi syarat dan ketentuan barang yang dapat didonasikan oleh donatur tertera jelas di sosial media Joli Jolan. Silahkan menghubungi nomor atau langsung datang ke Lapak Joli Jolan. Bagi donatur yang jauh, kapan saja bisa langsung kirim barang ke lapak Joli Jolan dengan konfirmasi kepada relawan terlebih dahulu.

Bagi calon donatur, perlu ingat sebuah prinsip tentang berbagi kepada masyarakat. Pepatah Jawa memiliki sebuah nasihat yang kemudian menjadi masyhur di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, yakni “urip iku urup” (hidup itu menyala). Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup tidak hanya sekedar mewujudkan eksistensi pribadi saja, tetapi menyadari keberadaan orang lain.

Layaknya cahaya yang menyala untuk menerangi kegelapan. Cahaya tersebut tidak sekadar memberikan penerangan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi siapa saja yang berada di sekitar sumber cahaya. Falsafah yang menganjurkan seseorang untuk menjadi pribadi bermanfaat di tengah masyarakat itu pada dasarnya adalah semangat inti dalam berbagi atau menjadi seorang donatur.

Setelah rasa ingin berbagi tumbuh, kita perlu memikirkan kembali barang atau jasa yang akan diberikan dan apa tujuan dari upaya memberi tersebut, yang mana biasanya adalah berbagi kesenangan. Kemudian teringat dengan salah satu nasehat dalam bahasa Jawa, “nguwongke uwong, gawe legane uwong” (memanusiakan manusia dan membuat orang lain senang).

Memanusiakan manusia berarti menghormati orang lain karena kita adalah sesama manusia. Bukan sekadar menghormati seorang pejabat yang memiliki kekayaan dan pangkat tetapi tidak menghormati orang yang melarat dan tidak berpangkat. Melainkan, kita saling menghormati sesama ciptaan Tuhan.

Apabila kita sudah mengerti dan memahami hakikat kita sebagai manusia, sudah selayaknya kita lebih bijak dalam mendonasikan barang. Kita perlu mulai menyadari bahwa barang yang akan kita donasikan adalah barang yang nantinya akan dipakai oleh orang lain, sehingga barang tersebut harus pantas dan layak untuk difungsikan lagi. Tolok ukur barang masih layak dan pantas sangatlah sederhana, apabila barang tersebut diberikan kepada orang lain maka orang yang menerima barang tersebut mau menggunakannya.

Terakhir, ajaran suku, ras, atau agama mana pun akan sepakat dengan nasihat dalam bahasa Jawa yang satu ini, “ngundhuh wohing pakarti” (apa pun yang kita lakukan akan mendapatkan yang sepadan). Siapa yang menanam akan menuai.

Seringkali kita pernah mengalami atau mendengar kisah di masa sulit dan terimpit dalam menjalani hidup. Ada saja orang-orang yang entah datang dari mana, tanpa kita rencanakan dan di luar kuasa kita, datang untuk membantu kesulitan kita. Bisa jadi hal tersebut dapat diartikan sebagai bentuk lain dari balasan kebaikan yang pernah kita lakukan dalam membantu kesulitan orang lain. Jika tidak demikian, bisa jadi balasan tersebut diwujudkan dalam bentuk kesehatan, dilancarkan segala urusan, dilapangan rezekinya, dan masih banyak lagi.

Berdonasi Tidak Sama dengan Membuang Barang

Joli Jolan masih mendapati ada beberapa barang yang tidak layak didonasikan yang entah secara sengaja atau tidak dikirimkan ke Joli Jolan. Biasanya donatur yang seperti ini langsung mengirimkan barang (yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan) ke alamat Joli Jolan melalui jasa ojek online tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada relawan. Hal ini bermaksud agar barang tersebut tidak diketahui siapa pengirimnya.

Barang yang dikirimkan tidak main-main jumlahnya, bahkan terkadang ada yang sampai satu karung besar ukuran 90 cm x 125 cm. Jumlah kecil sudah sering, bukan kepalang ampun banyaknya. Relawan mungkin juga tidak mengerti apa motifnya. Padahal setiap kali ada donatur yang demikian, relawan akan menginformasikan di media sosial agar hal tersebut tidak terulang. Namun, sayangnya fenomena itu masih saja sering terulang di tahun 2024 kemarin.

Tidak menyalahkan siapa pun, niat baik donatur perlu diapresiasi. Namun, alangkah baiknya juga cerdas untuk tidak melakukan hal demikian. Jika barang yang akan didonasikan tidak layak, alangkah baiknya di konsultasikan terlebih dahulu ke Joli Jolan. Barangkali ada alternatif lain yang direkomendasikan oleh Joli Jolan dalam menampung barang tidak layak pakai tersebut.

Kalaupun tidak ada solusi, setidaknya jangan sampai nekat mengirimkan barang tersebut ke lapak Joli Jolan. Pasalnya apabila barang tersebut terlanjur sampai di lapak Joli Jolan dan tidak masuk sortir, maka barang tersebut akan memakan ruang di ruang penyimpanan sehingga menjadikan relawan mengalokasikan waktu yang lebih banyak. Relawan tidak akan sampai hati memaksakan barang yang tidak layak pakai untuk disalurkan.

Tahun 2025, semoga menjadi awal yang baik bagi calon donatur untuk lebih memahami tiga nasihat pepatah Jawa sebelum berbagi. Tentu donatur tidak mau menerima barang yang tidak dapat difungsikan dan tidak layak kan? Jadi jangan menjadikan kegiatan berdonasi sebagai kesempatan untuk ‘membuang barang’ tidak layak pakai.

Selamat tahun baru, banyak harap yang sering terucap, semoga satu per satu datang menghadap. Tetap jaga asa untuk tetap manfaat. Sehat selalu Relawan dan donatur Joli Jolan.