Semakin banyak orang yang gemar mengumpulkan barang yang sesuai dengan minatnya. Tentu barang yang dimaksud bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hasrat mengoleksi ini tidak muncul begitu saja melainkan ada juga pemicunya. Banyaknya item yang dapat diproduksi massal berdampak pada semakin murahnya harga barang tersebut. Dari kalangan menengah ke atas, kemapanan finansial tentu saja sangat mendukung. Dari kalangan menengah ke bawah, munculnya marketplace yang ‘membakar uang’ membuka jalan untuk semakin mudah memiliki benda-benda idaman mereka, meski dalam skala lebih terbatas.
Di sisi lain, masalah perawatan dan pemberdayaan kepemilikan pribadi ini menjadi hal yang vital. Konsekuensi jika seseorang mengoleksi benda, maka dia membutuhkan ruang, waktu, biaya, dan tenaga untuk menjaga kondisinya. Sebagai contoh, ratusan buku membutuhkan banyak rak dan waktu untuk menatanya. Koleksi pakaian mungkin lebih ribet karena harus mengecek kebersihan dan kondisi setiap sisinya. Jika kita dapat me-manage koleksi tersebut, maka akan menjadi sebuah hiburan tersendiri atau bahkan akan mendatangkan keuntungan finansial. Sebagai contoh adalah dengan menciptakan konten video, fotografi, atau daya tarik wisata museum replika.
Hanya saja, tidak semua pengumpul barang ini pandai dalam memberdayakan koleksinya. Justru banyak yang hanya puas dengan sekadar membeli tetapi tidak mau atau tidak mampu meraih manfaat sebenarnya. Parahnya, kalangan ini masih saja terus berambisi menumpuk barang baru yang dianggapnya “siapa tahu besok berguna”. Di sisi lain, dia enggan untuk mengurangi kepemilikan karena juga menganggap “siapa tahu masih berguna” walaupun efeknya akan dijelaskan di paragraf berikut.
Menurut dr. Sara Elise Wijono M.Res yang dilansir di https://www.klikdokter.com/, fenomena yang disebut hoarding merupakan kesulitan untuk berpisah atau membuang barang kepunyaan, tanpa peduli nilai barang tersebut. Hoarding selanjutnya menjadi dapat mengganggu kondisi kejiwaan pelakunya karena dia tidak mau berpisah dengan sesuatu yang bisa jadi hanya akan menjadi sampah, bahkan merasa terganggu bila orang lain mencoba merapikannya. Kualitas lingkungannya pun akan memburuk dengan timbunan barang yang berpotensi mengganggu kenyamanan gerak, mengurangi sirkulasi udara, dan bahkan mengundang bibit penyakit yang bersarang di sana.
Alangkah baiknya jika sejak dini, kita membiasakan mengerti masa atau kadar manfaat sebuah barang sehingga tidak membuat kita terkungkung benda-benda milik kita sendiri. Pikirkanlah misalnya, tidak semua baju yang kita miliki, benar-benar kita butuhkan. Banyak cara untuk mengatasi surplus tersebut. Yang paling mudah adalah menyerahkannya ke tukang loak. Namun, jika kelebihan tersebut masih dirasa memberi manfaat yang signifikan, alangkah baiknya jika kita berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin kita tidak sadar bahwa orang yang mendapatkan manfaat tersebut akan bisa menabung lebih banyak demi pendidikan anak mereka, membeli makanan bergizi, memperbaiki tempat tinggal, atau memenuhi kebutuhan primer lainnya. Dengan berbagi, kita bisa menata kondisi kesehatan jiwa pribadi sekaligus membantu orang lain meningkatkan kualitas hidup mereka.


