Categories
Gaya Hidup

Digital Decluttering, Bukan Sekadar Hapus Aplikasi

Hampir sebagian besar pengguna smartphone pernah merasakan situasi seperti ini, membuka ponsel untuk membalas satu pesan, tetapi malah berakhir menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Ternyata situasi seperti itu tidak hanya membuang waktu berharga, tetapi juga membuat pikiran kurang fokus dan cepat lelah. Tanpa disadari, ruang digital yang dipenuhi notifikasi, file, foto, dan aplikasi yang jarang digunakan dapat membuat pikiran terasa semakin sesak. Kondisi inilah yang akhirnya membuat digital decluttering semakin banyak diterapkan sebagai kebiasaan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, termasuk smartphone.

Digital decluttering adalah kebiasaan merapikan ruang digital dengan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, membersihkan file yang menumpuk, mengatur ulang email, serta membatasi notifikasi yang benar-benar penting. Tujuannya bukan menghindari teknologi atau mengalihkan perhatian, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar agar mendukung aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan ini terasa semakin relevan karena ruang digital kita terus dipenuhi oleh berbagai hal yang bersaing merebut perhatian. Notifikasi media sosial, promosi belanja, hingga rekomendasi video yang hadir kapan saja tanpa jeda. Semakin banyak distraksi yang muncul, semakin mudah pula kita kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya sedang kita kerjakan.

Untungnya, merapikan ruang digital tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana seperti menghapus aplikasi yang jarang dibuka, berhenti mengikuti akun yang tidak lagi memberi manfaat, membersihkan screenshot yang sudah tidak relevan, atau meluangkan beberapa menit untuk merapikan galeri foto sudah cukup untuk memulai. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak dipenuhi gangguan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih terkelola berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Temuan tersebut sejalan dengan konsep digital minimalism, yaitu menggunakan teknologi secara sengaja sesuai kebutuhan, bukan sekadar
mengikuti kebiasaan atau takut tertinggal. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kita berada di depan layar, melainkan bagaimana kita memberi ruang bagi perhatian agar tetap tertuju pada hal-hal yang benar-benar penting.

Tidak semua orang perlu menghapus seluruh aplikasi atau berhenti menggunakan media sosial seketika. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ruang digital terasa lebih tertata, perhatian tidak lagi mudah terpecah, dan waktu yang kita miliki pun terasa lebih utuh. Mungkin yang selama ini kita butuhkan bukan lebih banyak waktu di depan layar, melainkan lebih banyak kendali atas cara kita menggunakannya.

Categories
Gagasan

Berbagi untuk Kesehatan Jiwa

Semakin banyak orang yang gemar mengumpulkan barang yang sesuai dengan minatnya. Tentu barang yang dimaksud bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hasrat mengoleksi ini tidak muncul begitu saja melainkan ada juga pemicunya. Banyaknya item yang dapat diproduksi massal berdampak pada semakin murahnya harga barang tersebut. Dari kalangan menengah ke atas, kemapanan finansial tentu saja sangat mendukung. Dari kalangan menengah ke bawah, munculnya marketplace yang ‘membakar uang’ membuka jalan untuk semakin mudah memiliki benda-benda idaman mereka, meski dalam skala lebih terbatas.

Di sisi lain, masalah perawatan dan pemberdayaan kepemilikan pribadi ini menjadi hal yang vital. Konsekuensi jika seseorang mengoleksi benda, maka dia membutuhkan ruang, waktu, biaya, dan tenaga untuk menjaga kondisinya. Sebagai contoh, ratusan buku membutuhkan banyak rak dan waktu untuk menatanya. Koleksi pakaian mungkin lebih ribet karena harus mengecek kebersihan dan kondisi setiap sisinya. Jika kita dapat me-manage koleksi tersebut, maka akan menjadi sebuah hiburan tersendiri atau bahkan akan mendatangkan keuntungan finansial. Sebagai contoh adalah dengan menciptakan konten video, fotografi, atau daya tarik wisata museum replika.

Hanya saja, tidak semua pengumpul barang ini pandai dalam memberdayakan koleksinya. Justru banyak yang hanya puas dengan sekadar membeli tetapi tidak mau atau tidak mampu meraih manfaat sebenarnya. Parahnya, kalangan ini masih saja terus berambisi menumpuk barang baru yang dianggapnya “siapa tahu besok berguna”. Di sisi lain, dia enggan untuk mengurangi kepemilikan karena juga menganggap “siapa tahu masih berguna” walaupun efeknya akan dijelaskan di paragraf berikut.

Menurut dr. Sara Elise Wijono M.Res yang dilansir di https://www.klikdokter.com/, fenomena yang disebut hoarding merupakan kesulitan untuk berpisah atau membuang barang kepunyaan, tanpa peduli nilai barang tersebut. Hoarding selanjutnya menjadi dapat mengganggu kondisi kejiwaan pelakunya karena dia tidak mau berpisah dengan sesuatu yang bisa jadi hanya akan menjadi sampah, bahkan merasa terganggu bila orang lain mencoba merapikannya. Kualitas lingkungannya pun akan memburuk dengan timbunan barang yang berpotensi mengganggu kenyamanan gerak, mengurangi sirkulasi udara, dan bahkan mengundang bibit penyakit yang bersarang di sana.

Alangkah baiknya jika sejak dini, kita membiasakan mengerti masa atau kadar manfaat sebuah barang sehingga tidak membuat kita terkungkung benda-benda milik kita sendiri. Pikirkanlah misalnya, tidak semua baju yang kita miliki, benar-benar kita butuhkan. Banyak cara untuk mengatasi surplus tersebut. Yang paling mudah adalah menyerahkannya ke tukang loak. Namun, jika kelebihan tersebut masih dirasa memberi manfaat yang signifikan, alangkah baiknya jika kita berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin kita tidak sadar bahwa orang yang mendapatkan manfaat tersebut akan bisa menabung lebih banyak demi pendidikan anak mereka, membeli makanan bergizi, memperbaiki tempat tinggal, atau memenuhi kebutuhan primer lainnya. Dengan berbagi, kita bisa menata kondisi kesehatan jiwa pribadi sekaligus membantu orang lain meningkatkan kualitas hidup mereka.