WhatsApp Image 2024-11-30 at 10.55.15 AM
Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp

Gara-gara Si Informan, Natasha Kenal Joli Jolan

Kegiatan yang berlangsung di lapak Joli Jolan menjadi pemandangan yang berharga bagi Natasha, menyentil rasa syukurnya dan mempertanyakan peran serta keberadaannya selama ini di tengah-tengah masyarakat.

Mengenal lapak Joli Jolan menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang yang merasakan kebermanfaatannya. Manusia sebagai makhluk sosial dibantu dengan media sosial, berlomba-lomba menyampaikan informasi kebermanfaatan itu kepada sesamanya yang berjalan begitu masif. Sehingga, berdampak dengan lebih banyaknya masyarakat yang turut berkontribusi. Informasi dari media sosial menggelinding sampai obrolan darat, dijadikannya bahan diskusi di tongkrongan.

Beberapa waktu lalu, informasi kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan dibawa dan diperdengarkan di tongkrongan yang berisi lima orang, termasuk si Informan. Si Informan adalah salah satu orang yang merasakan kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan tersebut. Dia menemukan sisi humanis di tengah kerasnya perkotaan yang mana sifat individualnya begitu kentara. Dia merasakan segarnya air di tengah dahaga. Orang-orang gotong-royong saling berbagi dan membantu kepada sesamanya yang membutuhkan. Si Informan merasa berkewajiban mendiskusikan lapak Joli Jolan ke mereka. Menurut penilaiannya, empat temannya ini memiliki karakter jarang bergaul dan rutinitas monoton. Hidupnya berjalan normal dan berkecukupan, tetapi sering kali mengeluhkan banyak hal, seperti kurangnya rasa syukur.

Semua peserta diskusi antusias mendengarkan. Tak lama berselang, keluh kesah di antara mereka pun satu per satu saling bersautan, tidak jauh dari perasaan bosan dengan rutinitas yang dijalankan dan perasaan selalu ada yang kurang dalam hidup. Sehingga, informasi yang didengar dan didiskusikan menjadi menarik dan panjang. Mereka pun penasaran untuk berkunjung ke lapak Joli Jolan.

Malam hari, sepekan sebelum lapak Joli Jolan digelar pada setiap hari Sabtu, si Informan bersama teman-temannya berkumpul, mengkonfirmasi kembali keinginan mereka. Salah satu di antara mereka mengusulkan iuran untuk membawa bingkisan makanan berupa nasi bungkus. Teman-teman yang lain menyepakati usulan tersebut dan bersepakat untuk iuran. Selanjutnya, muncul pertanyaan, siapa saja yang ikut ke lapak Joli Jolan? Mereka saling bertatapan, menyampaikan ada agenda lain. Hanya ada satu orang yang bisa ke lapak Joli Jolan, yakni Natasha. Teman-teman yang berhalangan bersedia hanya menerima laporan. Nantinya, Natasha ditemani si Informan.

Tiba di hari Sabtu, hari yang ditentukan, lapak Joli Jolan buka dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang. Natasha sudah bersiap sejak pukul 8 pagi untuk mengingatkan teman-temannya kembali. Barangkali ada yang berubah pikiran untuk ikut. Namun, tetap saja, Natasha dan si Informan yang akan ke lapak.

Natasha sangat bersemangat, antusias dan tidak sabar untuk sampai di lokasi. Semalam, dia hanya tidur 2-3 jam saja. Seringkali terbangun, takut melewatkan kesempatan berharga ini. Sekitar jam 9 pagi, Natasha sudah di depan rumah si Informan dengan membawa nasi bungkus yang terbungkus rapi. Senyumnya nyengir kegirangan saat si Informan keluar dari rumah menemuinya. Setelah bersiap, menggunakan motor sendiri-sendiri, mereka berdua berangkat ke Jl. Siwalan No. 1, Kerten, Kota Surakarta, alamat lokasi lapak Joli Jolan.

Di lapak Joli Jolan, Natasha dan si Informan menyapa dan berkenalan dengan founder Joli Jolan dan teman-teman relawan, berbincang sebentar sembari bergegas bersiap-siap menyiapkan lapak. Mereka turut serta membantu mengangkat barang-barang yang perlu disiapkan bersama relawan. Menerima dan memindahkan barang dari donatur yang baru datang. Di sudut yang lain, orang-orang yang ingin mendapatkan manfaat dari Joli Jolan, beberapa sudah menunggu, beberapa yang lain baru datang, sekitar lapak sudah mulai ramai.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10, sudah saatnya lapak Joli Jolan dibuka. Koordinator relawan menyambut hangat melalui mikrofon sekaligus memberikan arahan. Penerima manfaat pun dengan saksama mendengarkan. Setelah selesai memberi arahan, penerima manfaat dipersilahkan masuk. Mereka berduyun-duyun dengan tertib menuju display barang-barang yang telah dipajang dengan rapi.

Pada pekan itu, penerima manfaat disambut dengan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan Fisipol. Mereka membagikan susu kotak dan alat tulis di pintu masuk lapak untuk anak-anak. Ada wartawan dan beberapa mahasiswa jurusan yang sama berkeliling mendokumentasikan, termasuk teman si Informan, Natasha.

Setelah berkeliling, Dia mengambil tempat duduk di sudut lapak di samping si Informan, merasakan aura yang berbeda dengan kebiasaan yang dijalaninya. Apa yang dilihatnya menjadi pemandangan yang berharga. Mempertanyakan mengapa dulu saat menjadi mahasiswa dia tidak seperti mahasiswa yang dilihatnya di lapak. Mereka dengan sesamanya melakukan kegiatan berbagi. Meskipun dengan barang yang terlihat “murah” atau barang yang tidak baru namun masih bisa bermanfaat.

Mengapa dia tidak mendapatkan ekosistem yang sebaik mereka. Dia pada saat itu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Atau jika berkumpul dengan temannya, hanya menguntungkan kebahagiaan dirinya dan teman-temannya saja yang tidak berimbas pada kemanfaatan orang banyak. Tak heran jika, di rumahnya tergeletak banyak sekai barang hasil healing bersama teman-temannya yang sudah tidak terpakai.

Matanya menyapu sekitar, terhenti saat melihat bapak-bapak memilah-milah mainan anak, yang mungkin akan diberikan kepada anak laki-lakinya. Ibu-ibu memilih baju anak, dari gantungan baju satu ke satunya, memilih dengan saksama. Sepertinya Ibu itu ingin memberikan baju yang terbaik untuk anak perempuannya. Dia pun tiba-tiba teringat saat dirinya masih kecil dulu. Seringkali dia menangis dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya, mengurung diri di kamar sembari memaki orang tuanya jahat dan tidak sayang kepada dirinya apabila apa yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan oleh orang tuanya.

Tubuhnya duduk di kursi, tetapi pikirannya melayang jauh. Hatinya dikoyak dengan pemandangan yang ada di lapak. Mulutnya bercerita menguraikan “dosa dan penyesalan” kepada si Informan. Si Informan mendengarkan dengan saksama, hanya sesekali menimpali. Sebelum akhirnya berpamitan pulang, Natasha mengucapkan sumpah pada dirinya untuk datang lagi dan menjadi si Informan selanjutnya untuk memperluas kebermanfaatan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Cherik Ayyash Ghanusyi