Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Gaya Hidup

Thrift Store Berbasis Komunitas Di Tampa

Beberapa hari setelah kedatangan saya di Tampa, saya diajak berbelanja perlengkapan esensial untuk kebutuhan sehari-hari saya selama tinggal di sini. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah thrift store, sebuah “department store” yang menjual barang-barang bekas layak pakai atau sering disebut pre-owned dengan harga yang terjangkau. Dua thrift store yang kami kunjungi saat itu adalah Community Thrift Store dan The Salvation Army yang yang berada di Nebraska Ave.

Meskipun menjual barang-barang bekas layak pakai atau pre-owned, thrift store dikonsep dengan matang dan tidak asal-asalan. Barang-barangnya pun ter-display dengan rapi dan terawat, meski tetap terlihat bukan barang baru. Barang yang dijual juga beragam dan terkurasi dengan baik, mulai dari perabotan rumah, pakaian, sepatu, mainan anak, sepeda, perkakas dapur, hingga barang koleksi.

Thrift store pada umumnya dikelola secara profesional oleh komunitas, organisasi keagamaan, maupun organisasi nirlaba. Walau tidak semewah department store atau retailer besar pada umumnya, thrift store tetap memberikan fasilitas kenyamanan, mulai dari AC, kebersihan tempat, musik latar yang terus memainkan hits populer era 90-an, dan juga troli belanja. Pengalaman berbelanja menjadi semakin nyaman, mudah, dan tentu saja terkesan profesional.

Selain itu, thrift store juga memiliki program marketing yang benar-benar dipersiapkan dengan sangat terstruktur, seperti diskon pembelian barang-barang tertentu bagi para membernya pada minggu tertentu. Ini menunjukkan bagaimana thrift store benar-benar dikelola secara matang dan terarah. Kombinasi hal-hal seperti itulah yang pada akhirnya menjadikan thrift store berhasil tumbuh di tengah-tengah masyarakat Amerika. Thrift store tidak hanya memperpanjang usia barang-barang layak pakai yang ada di sana, tetapi turut berkontribusi membuka lapangan kerja baru dan menjaga standar pelayanan komunitas.

Perkembangan thrift store di Tampa, Florida, pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakatnya menerima thrift store itu sendiri. Mulai dari anak muda hingga orang tua, semua datang untuk mencari kebutuhan mereka masing-masing. Lupakan gengsi dan perasaan minder, mereka tidak risih atau ragu berbelanja di sana asalkan barang yang ditawarkan memang murah dan layak pakai. Membeli di thrift store bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak trendi, melainkan kebiasaan yang memang dilakukan karena kebutuhan.

Relevankah Mengadaptasi Konsep Thrift Store?

Pengalaman di thrift store pun mengingatkan saya kembali dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan. Keduanya memiliki kesamaan terkait upaya perpanjangan usia barang layak pakai, meski berbeda metode. Kemudian muncul pertanyaan dalam hati, apakah Joli Jolan nantinya dapat bertransformasi menjadi thrift store? Apakah konsep thrift store dengan pengelolaan profesionalnya relevan untuk komunitas tersebut? Mengingat akan adanya biaya-biaya tambahan serta strategi progresif yang bakal menyertainya.

Asalkan konsep thrift store masih selaras dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Joli Jolan, yakni ruang solidaritas berbagi barang secara gratis, maka mengadopsi konsep thrift store bukanlah hal yang tidak mungkin, tentunya dengan beberapa penyesuaian. Butuh waktu, persiapan, dan strategi yang tepat agar Joli Jolan dapat berkembang menjadi sebuah ruang profesional layaknya thrift store. Ketika hal itu tercapai, semua pihak tentunya perlu untuk beradaptasi kembali dengan langkah yang diambil Joli Jolan. Sebab, Joli Jolan tidak lagi sekadar memberikan manfaat gratis kepada masyarakat, tetapi berorientasi pada profit demi keberlanjutan usahanya.

Categories
Komunitas

Liburan yang Berkesan, Dimulai dari Cerita di Rumah

Manfaatkan waktu libur sekolah untuk menemani Si Kecil belajar hal baru: jadi storyteller kecil! Lewat Story Camp di @dolpinid orang tua dan anak bisa bareng-bareng belajar menyusun cerita, berekspresi, dan membangun kepercayaan diri dari rumah. Sehingga nantinya dapat bercerita denga penuh kesadaran dan percaya diri.

Siapa saja yang boleh mendaftar? Anak usia maksimal 12 tahun dan terbuka untuk keluarga di seluruh Indonesia.

Dapat apa di Story Camp?
✅️ Belajar jadi Storyteller Kecil bareng para ahli
✅️ Buku Petualangan Dovi & Pipin
✅️ Plus paket pembelajaran seru & hadiah menarik

Ssst, ini juga bagian dari road to Storytelling Competition tingkat nasional!

📅 Periode Story Camp: Juni-Juli 2025
🎯 Daftar sekarang di: s.id/dolpinstorycamp

Categories
Komunitas

Sashiko, Seni Terapi untuk Jiwa yang Tenang

Hanya dengan melihat hasil sulam, Deenar Tan bisa menilai apakah seseorang sedang mengalami stres atau memiliki mood yang baik. Pada level ekstrem, seseorang yang emosional bahkan bisa mematahkan jarum sulamnya.

Teknik sulam sashiko memperlihatkan keindahan di dua sisi, yakni sisi luar yang menjadi pola utama dan sisi dalam yang menjadi tapak sulam. Acapkali hasil sulam terlihat indah dari luar, sedangkan di bagian dalamnya terlihat semrawut.

“Dari luar sangat bagus, tetapi begitu dibalik, nah ketahuan. Ibarat pribadi, hasil sulam sashiko harus terlihat indah dari luar maupun dari dalam,” kata Deenar Tan, founder InnerChild, seraya menunjukkan hasil sulamnya pada tote bag berbahan canvas.

Prasyarat menyulam sashiko adalah harus melakukannya dengan tenang karena keindahan teknik ini berorientasi pada detail. Setiap tusukan jarum harus memiliki jarak yang sama dan kekuatan tarikan yang sama pula. “Menarik benangnya pun harus pakai hati. Kalau terlalu kuat bisa putus, kalau terlalu lemah kurang rapat,” sambung dia kepada belasan peserta workshop “Mindful Consumption with Sashiko” bersama Deenar Tan dan Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, di Santee Kopi, Kadipiro, Kota Solo, Kamis (1/5/2025).

Banyak orang memanfaatkan sashiko sebagai seni terapi untuk membangun jiwa yang tenang. Sebab, teknik ini mengajarkan kehadiran diri dan jiwa secara penuh saat menyulam, bukan sekadar mengisi waktu kosong. Proses ini terlihat saat menusukkan jarum, mengatur jarak, dan menarik benang.

Sashiko juga mengajarkan bahwa sumber daya seperti benang adalah berharga. Saat sulaman berujung kusut, seseorang dianjurkan mengurainya dengan sabar alih-alih menggunting begitu saja dan memulai dari nol. “Sashiko membantu mindful consumption dengan mengajarkan kita untuk lebih menghargai barang yang kita miliki. Proses dalam sulam sashiko mengajarkan kita untuk memanfaatkan secara bijak dan memaksimalkan nilai guna barang dengan kesadaran penuh untuk memakai ulang atau mendonasikannya saat tak lagi membutuhkan,” terang Deenar.

Dikutip dari Instagram @innerchild.ink, Sashiko sendiri merupakan teknik sulam tradisional dari Jepang yang popular pada masa Edo (1603-1868). Metode ini kerap dipakai untuk menghias atau memperbaiki pakaian atau kain yang rusak. Sashiko diambil dari kata “sasu” yang berarti menusuk dan “ko” yang berarti lubang. Secara etimologis, sashiko dimaknai sebagai “menusuk dengan jarum.”

Ada beberapa pola khas sashiko yang jamak ditemui, meliputi asanoha dengan pola daun rami yang melambangkan pertumbuhan dan perlindungan; kikko dengan pola kura-kura yang merepresentasikan umur panjang dan perlindungan; serta seigaha atau gelombang laut yang memberi makna kedamaian dan keberuntungan.

Categories
Gaya Hidup

Cara Bijak Mengonsumsi Barang

Setiap individu harus memiliki kesadaran penuh saat mengonsumsi barang atau memutuskan membeli sesuatu. Sebab, di dalamnya termuat tanggung jawab pribadi kepada sosial dan lingkungan. Alih-alih memenuhi kebutuhan dasar hidup, konsumsi yang didorong emosi demi memuaskan ego sesaat hanya akan berujung pada penyesalan.

“Saya suka membeli brand tertentu. Kalau muncul model baru, saya beli lagi. Bahkan, saya mau PO (purchase order) juga dan menunggu beberapa pekan. Bahkan, terkadang saya sampai lupa pernah membeli ini,” ujar seorang peserta menceritakan pengalamannya mengoleksi tas idamannya.

Seorang peserta lain menceritakan pengalamannya berbelanja bahan makanan untuk stok memasak di rumah selama 3-7 hari ke depan. Begitu sampai di rumah, dia menyimpannya di kulkas. Namun, rencana memasak hanya berujung sekadar rencana.

“Saya suka merasa bersalah setelah membeli. Tapi (merasa) bersalahnya sama suami. Ibu-ibu kadang mau cepat-cepat (mengumpulkan bahan makanan) tetapi lama-lama enggak jadi (memasak),” tutur dia, dalam sebuah Workshop Art Therapy bertajuk “Mindful Consumption with Sashiko” Bersama Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, dan founder InnerChild, Deenar Tan, hasil kolaborasi dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan di Santee Kopi, Kamis (1/5/2025).

Pengalaman-pengalaman di atas jamak dialami semua manusia. Keputusan membeli suatu barang kerap terjadi hanya dengan melihat bentuknya yang lucu, unik, stoknya yang makin sedikit atau sekadar angan-angan suatu hari akan membutuhkan produk tersebut.

Model konsumsi ini seringkali didorong oleh emosi, misalnya saat seseorang stres lalu memutuskan berbelanja sebagai bentuk coping. Selain itu, rasa bosan yang diisi dengan scroll-scroll lokapasar daring seringkali berakhir dengan check out produk-produk karena ketertarikan sesaat. Serangkaian proses itu berdampak pada sebuah penyesalan, penumpukan barang, dan risiko finansial. Tanpa disadari, pola ini membawa seseorang pada perilaku konsumtif.

“Proses pembelian barang ini seringkali didominasi oleh FOMO (fear of missing out) dan pemenuhan ego. Ada tren karena takut ketinggalan, pengaruh influencer, dan media sosial yang mendorong budaya konsumsi. Pemenuhan ego berpengaruh pada tujuan citra diri dan validasi sosial,” kata Adis, panggilan akrabnya.

Berbelanja dengan Penuh Kesadaran

Untuk mencegah praktik konsumerisme, Adis mengajak setiap orang untuk mengajukan beberapa pertanyaan reflektif terlebih dahulu sebelum memutuskan berbelanja: apakah aku membeli karena butuh atau hanya karena ingin? Apakah aku sadar saat membeli atau membeli tanpa keputusan matang? Apakah ada alternatif lain untuk mendapatkan barang yang sama?

Pertanyaan ini penting dan relevan karena aktivitas konsumsi manusia sedikitnya terbagi ke dalam tiga kelompok yakni: kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan hasrat (desires). Needs bersifat memenuhi kebutuhan esensial untuk menjalankan fungsi dasar hidup. Seseorang membutuhkan jaket saat naik ke puncak gunung. Sebab, tanpa jaket dia bisa mati kedinginan.

Sebaliknya, keinginan hanya bersifat tambahan yang membuat seseorang merasa hidup nyaman. Pemenuhan pada kelompok ini sejatinya tidaklah esensial atau utama. Misalnya, seseorang harus memiliki sepatu dengan brand tertentu. Fungsi sepatu tetap sebagai alas kaki, tetapi brand tertentu ini hanyalah keinginan.

“Terakhir, yang paling berbahaya, desires. Karena dorongan emosional, yang membeli jadi puas. Padahal, puas tidak pernah selesai. Dia akan naik terus,” imbuh Adis.

Untuk mengatasi pola konsumsi yang emosioanl ini, Adis menganjurkan agar menyiapkan catatan sebelum bepergian ke suatu tempat. Hal ini untuk mencegah keinginan-keinginan yang mendadak muncul saat tiba di tujuan. Menyiapkan catatan ini penting sebab seringkali orang-orang bepergian tanpa tujuan yang jelas.

Tip sederhana lain untuk membangun kebiasan mengonsumsi dengan kesadaran penuh adalah dengan mempraktikan SMART yang terdiri atas: stop and think, mindful questions, assess alternative, review what you have, dan take your time.

“Saat mau membeli, seseorang harus mempertimbangkan kebutuhan, nilai apakah ini sesuai dengan diri sendiri dan orang lain serta tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan,” imbau Adis.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kejutan dan Kehangatan Usai Lebaran

Sabtu kemarin menjadi hari yang spesial bagi Joli Jolan. Usai libur dua pekan, akhirnya kami bisa bersua kembali dengan kawan-kawan. Seperti yang kami duga, pengunjung tumpah ruah, mulai dari warga yang hendak berburu pakaian/barang, maupun warga yang berdonasi. Beberapa pengunjung bahkan sudah menanti pagar Joli Jolan dibuka sejak pukul 09.30 WIB, setengah jam sebelum operasional dimulai.

Antusiasme yang semakin meningkat inilah yang kami lihat di ruang ini dari waktu ke waktu. Untuk menjaga kenyamanan semua yang berkunjung, kami perlu membikin sejumlah terobosan atau pembenahan. Bagi yang hadir kemarin mungkin kaget ketika kami memberlakukan nomor antrean untuk masuk ke Joli Jolan.

Ya, sistem ini mulai kami ujicoba untuk mengurai padatnya pengunjung, terutama di jam 10 pagi. Belakangan kami melihat warga cenderung berdesakan/tidak mau kalah untuk masuk duluan ke Joli Jolan. Istilah kata, sudah mirip start lomba lari. Hal ini tentu membahayakan pengunjung rentan seperti anak, lansia, atau ibu hamil.

Tak hanya itu, kenyamanan memilih pakaian juga berkurang karena semua langsung tumplek blek di awal. Adanya nomor antrean membuat pengunjung masuk bertahap, sehingga diharapkan menjaga kenyamanan semua pihak. Kami akui masih banyak kekurangan di awal penerapannya. Sejumlah masukan sudah kami catat dan evaluasi. Tentu kami juga berharap masukan dari pengunjung.

Kegembiraan Sabtu kemarin semakin lengkap karena sukarelawan berkumpul untuk makan bareng dan halalbihalal. Salah satu sukarelawan awal kami yang kini tinggal di Bandung, Zen Al Ansory, juga mampir ke Kerten untuk melepas kangen. Terima kasih untuk video pendek ini ya!

Ada pula sejumlah tamu mulai dari komunitas Innerchild, psikolog Xavera Adis hingga mahasiswa FISIP UNS. Mereka menawarkan kolaborasi keren bareng Joli Jolan, yang pastinya segera akan kami kabarkan. Kami ucapkan terima kasih pada semuanya yang tak lelah saling bantu. Panjang umur solidaritas.

Categories
Sudut Joli Jolan

Bakdan di Joli Jolan, Berhemat Uang

Belakangan ini berita buruk seperti tak ada habisnya menghampiri masyarakat. Mulai dari BBM oplosan, PHK ribuan pekerja pabrik, pengangkatan CPNS yang mundur hingga kisruh minyak yang tak sesuai takaran. Jika dicermati, semua masalah itu berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

Belum soal harga bahan pokok yang cenderung melejit pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini tentu membuat sebagian orang berpikir ulang dalam membeli keperluan Lebaran seperti baju baru. Inisiatif saling bantu pada akhirnya bisa menjadi salah satu alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya tersebut secara terjangkau, bahkan gratis.

Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian preloved berkualitas untuk berhari raya secara cuma-cuma. Kalau beruntung, kawan bisa mendapatkan sandang berkondisi baru. Pokoknya koleksi terbaik Joli Jolan akan dibagikan menyambut Lebaran.

Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi guna mendukung gerakan Joli Jolan sehingga gerakan ini dapat terus berlanjut dan berkembang.

Toko Joli Jolan juga akan hadir dengan merchandise dan koleksi terbaiknya. Tentu saja, harganya akan jauh lebih murah ketimbang barang-barang yang dijual di mal atau pusat perbelanjaan. Donasi nantinya akan kami gunakan untuk kebutuhan operasional ruang (kebersihan, listrik, peralatan galeri), distribusi pakaian ke daerah, hingga program berbagi makanan.

Layanan ini kami buka pada tanggal 15 Maret dan 22 Maret 2025 pukul 10.00-12.00 WIB di Jalan Siwalan No. 1 Kerten, Laweyan, Solo (Google Map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek lebih dalam dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, tidak ada salahnya mencari pakaian di @joli_jolan. Uang belanja pakaian pun bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan!

Categories
Komunitas

Open Donation Formadgata

Hal teman-teman semua. Kami FORMADGATA ingin mengajak kalian untuk berpartisipasi dalam program kerja Formadgata Charity! Program kerja ini bertujuan untuk membantu teman-teman yang membutuhkan. Donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada mereka yang benar benar memerlukannya.

Kami percaya bahwa dengan dukungan kalian, kita dapat membantu banyak orang. Kami juga sangat menghargai setiap donasi, baik besar maupun kecil, karena setiap bantuan memiliki arti yang besar.

Donasi dapat disalurkan melalui:
Bank BRI 695701053887535 a.n. Nesa Herlina
Bank Jateng 3011037852 an. Najwa Nafisah Aulia Wardhani
Bank Mandiri 1380022730035 a.n Muhammad Bintang Asyrofa

Contact Person:
☎️ +6285641704300 (Briyan Agam)
☎️ +6281326864548 (Aurora Chandra)

Terima kasih atas dukungan kalian! Mari kita saling membantu pada saudara kita yang membutuhkan.

———————————————————
DIVISI SOSIAL MASYARAKAT
KABINET BARGAWA ABHIPRAYA
FORMADGATA 2025

Categories
Komunitas

Melukis Pot Galon Bersama Panti Asuhan Ihsan Sakeena

Minggu, 2 Maret 2025, bertepatan dengan hari kedua bulan Ramadan komunitas Involuntir Surakarta mengadakan acara bersama anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena di Latar Situ Joli Jolan, Kerten. Kegiatan yang dilaksanakan sembari menunggu waktu berbuka puasa ini tidak hanya menjadi momen silaturahmi bagi relawan Involuntir Surakarta dengan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena, tetapi juga dengan relawan Joli Jolan.

Kegiatan dimulai setelah peserta yang terdiri dari relawan Involuntir, anak-anak panti asuhan, dan relawan Joli Jolan berkumpul membentuk lingkaran di pendapa. Satu per satu, anak-anak dari Panti Asuhan Ihsan Sakeena memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama mereka masing-masing. Setiap nama yang disebutkan pun disambut dengan sapaan akrab oleh peserta lain sehingga mengawali suasana dengan akrab.

Setelah selesai perkenalan, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking. Setiap perserta diminta untuk saling mengoper boneka koala ke orang yang berada di samping mereka sambil diiringi musik. Ketika musik berhenti, peserta yang memegang boneka harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pembaca acara. Permainan ini berhasil mencairkan suasana dan membuat semua peserta tertawa riang, siap untuk mengikuti inti acara.

Menuangkan Kreativitas dengan Menghias Pot Galon

Para peserta dibagi menjadi tujuh kelompok melalui permainan “Kapal Pecah.” Pembawa acara menyebutkan jumlah kapal yang pecah kemudian peserta diharuskan membentuk kelompok sesuai jumlah kapal tersebut. Proses mencari pasangan kelompok pun dipenuhi canda tawa, karena para peserta yang belum saling mengenal mau tidak mau harus berani untuk berkenalan.

Setelah kelompok terbentuk, para peserta diarahkan untuk menuju ke area Latar Situ. Setiap kelompok kemudian mendapatkan satu galon bekas, alat lukis, dan cat air. Tugas mereka adalah mengubah galon bekas tersebut menjadi pot tanaman yang kreatif dan penuh warna. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga meningkatkan keakraban antarpeserta. Setiap anggota kelompok pun saling berdiskusi dan menuangkan ide mereka ke dalam lukisan. Hasilnya, berbagai gambar indah seperti taman bunga dan komposisi warna menghiasi galon-galon bekas tersebut.

Pot-pot tersebut kemudian diisi dengan media tanam dan bibit tanaman yang telah disiapkan. Proses ini dipandu langsung oleh relawan dan influencer berkebun, Mewalik. Melalui proses menanam ini, para peserta diajarkan bagaimana cara menanam dan merawat tanaman hingga tumbuh besar. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap alam, terutama terhadap tanaman.

Menjelang waktu berbuka puasa, para peserta kembali ke pendapa untuk mengikuti sesi terakhir, yakni menulis surat untuk kakak-kakak relawan Involuntir. Dengan penuh antusias, mereka pun menuliskan ungkapan terima kasih dan rasa syukur mereka atas kebersamaan pada sore hari itu. Salah satu perwakilan relawan kemudian membacakan surat tersebut, yang berhasil menyentuh hati semua orang dan menciptakan momen haru.

Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa bersama dan menjalankan ibadah salat Maghrib berjamaah. Sebagai hadiah terakhir, para peserta dipersilakan memilih barang-barang dari galeri Joli Jolan yang disediakan secara gratis. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman berharga tentang kebersamaan dan kepedulian, tetapi juga menjadi stimulus inspirasi bagi peserta dalam memanfaatkan barang bekas secara kreatif. Sebuah penutup yang berkesan bagi relawan Involuntir Surakarta dan anak-anak Panti Asuhan Ihsan Sakeena.

Categories
Sudut Joli Jolan

Refleksi 5 Tahun Joli Jolan: Pegang Solidaritas untuk Jangkauan Meluas

Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.

Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.

Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.

Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.

Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.

Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.

Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.

Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.

Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.

Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.