Categories
Komunitas

Membangun Kesadaran Lingkungan Bersama Gen Z

Salah satu fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan urban di Indonesia, termasuk di Kota Solo, adalah pembakaran sampah rumah tangga. Selain merusak lingkungan, asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut juga dapat mengganggu keharmonisan hidup bertetangga, karena udara bersih yang seharusnya dihirup menjadi terkontaminasi oleh zat berbahaya hasil pembakaran sampah.

Fenomena tersebut hanyalah satu dari sekian banyak permasalahan lingkungan yang perlu menjadi perhatian bersama. Menariknya, saat ini anak-anak muda sudah mulai menunjukkan kepedulian dan kesadarannya terhadap lingkungan. “Gen Z bantu Gen Z” menjadi salah satu wujud solidaritas di kalangan Gen Z untuk saling mengingatkan dan berbagi pengetahuan seputar isu-isu lingkungan, termasuk salah satunya terkait sampah.

Damai Maheswari, salah satu relawan muda Joli Jolan yang telah bergabung sejak 2019, adalah salah satu motor penggerak kepedulian terhadap lingkungan di Kota Solo. Dalam acara bertajuk Edukasi dan Aksi Hari Peduli Sampah Nasional: Spill Gaya Hidup Minim Sampah Ala Pelajar Muda, No Bakar-Bakar!, Damai memaparkan kontribusi sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.

Kesadaran Lingkungan Melalui Joli Jolan

Dalam kegiatan tersebut, Damai menjelaskan tentang komunitas Joli Jolan, komunitas saling berbagi yang tahun ini menginjak usia enam tahun. Joli Jolan hadir di tengah masyarakat dengan membawa gagasan kepedulian terhadap lingkungan melalui upaya sederhana, yaitu memperpanjang usia manfaat barang. Selain itu, Joli Jolan secara konsisten mengampanyekan kesadaran dalam mengonsumsi barang, mengingat dampak negatifnya yang nyata tapi jarang disadari. Terlebih lagi, perilaku konsumtif yang tidak disadari telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Melalui pemaparan berbasis data, Damai menjelaskan bahwa Joli Jolan telah memberikan dampak yang terukur. Salah satunya, sepanjang tahun 2025, Joli Jolan berhasil menyelamatkan 11,6 ton barang dari tempat pemrosesan akhir dengan memperpanjang masa guna barang tersebut agar dapat digunakan kembali oleh orang lain. Secara rinci, jenis barang yang dikelola antara lain:
• Pakaian: 15.893
• Buku: 601
• Tas: 432
• Mainan: 610
• Alat rumah tangga: 234
• Perlengkapan bayi: 33
• Alas kaki: 557
• Barang lainnya: 721

Secara ekonomi, 70% anggota Joli Jolan dapat menghemat pengeluaran sebesar Rp100.000,00–Rp200.000,00 per bulan. Nominal yang cukup dialokasikan kebutuhan sehari-hari yang lebih penting. Komposisi anggota Joli Jolan yang menerima manfaat tersebut pun beragam, yakni 38% buruh formal dan nonformal, 20% pekerja perawatan, 17% pelajar dan mahasiswa, serta 15% wirausaha.

Ke depan, diharapkan Joli Jolan akan terus diterima masyarakat. Sehingga Joli Jolan mampu berkontribusi lebih luas untuk memberikan dampak yang semakin terasa bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan juga akan semakin banyak pihak yang berkolaborasi untuk membangun kesadaran kolektif terhadap kepedulian lingkungan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk generasi Z yang penuh semangat dalam menciptakan perubahan.

Salam solidaritas!

Categories
Gagasan

Semua Orang Berhak Makan Bergizi

Makanan merupakan kebutuhan utama manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Namun, masih ada anggapan bahwa makanan sekadar berfungsi untuk mengenyangkan perut. Padahal, kandungan gizi yang seimbang di dalam makanan berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan meningkatkan kualitas kesehatan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Asupan gizi yang baik bahkan dapat menstimulasi perkembangan otak, yang menjadi fondasi penting bagi kemampuan berpikir dan belajar seseorang.

Makanan bergizi itu sendiri merupakan makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh dalam proporsi yang tepat. Tanpa asupan gizi yang memadai, pertumbuhan dapat terhambat dan dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kualitas hidup seseorang.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses makanan bergizi. Sebagian orang terpaksa hanya mengonsumsi makanan yang sekadar mengenyangkan, tetapi minim kandungan gizi. Sementara itu, bagi sebagian lainnya, makanan bergizi telah menjadi menu sehari-hari. Perbedaan kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan akses yang nyata.

Akses terhadap makanan bergizi seharusnya menjadi bagian dari hak dasar manusia untuk hidup sehat dan layak. Karena itu, upaya memperluas akses terhadap makanan bergizi bukan hanya persoalan bantuan semata, melainkan juga bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial.

Distribusi Makanan Bergizi

Selain mendistribusikan barang-barang layak pakai, Joli Jolan juga memandang penting distribusi makanan bergizi sebagai bentuk solidaritas pangan. Upaya ini memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan besar ketimpangan akses, tetapi menjadi langkah konkret untuk membantu masyarakat di sekitar Galeri Joli Jolan memperoleh asupan yang lebih baik.

Salah satu program yang dijalankan adalah Food Not Bomb (FNB), kegiatan berbagi bahan pangan yang dilaksanakan setiap akhir pekan di Galeri Joli Jolan. Relawan dan warga mendonasikan bahan makanan, mulai dari sayuran hingga makanan siap santap, yang kemudian dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang membutuhkan. Siapa pun dapat mengambil dan siapa pun dapat berdonasi.

Program ini tidak hanya disambut hangat oleh warga yang membutuhkan, tetapi juga oleh mereka yang ingin berbagi. Ada kepuasan tersendiri ketika dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ada kepuasan tersendiri bahwa apa yang diberikan dapat menjadi bagian dari kontribusi positif. Food Not Bomb menunjukkan bahwa solidaritas dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara kolektif.

Gerakan Food Not Bomb sendiri bermula pada tahun 1980-an di Amerika Serikat sebagai inisiatif distribusi pangan gratis yang berlandaskan semangat kesukarelaan dan kebersamaan. Dalam praktiknya, tidak ada paksaan untuk berdonasi maupun mengambil makanan. Semua berjalan atas dasar kesadaran untuk saling membantu, untuk saling menjaga satu sama lain.

Pada akhirnya, upaya ini menjadi langkah nyata yang menunjukkan bahwa makanan bergizi dapat diakses oleh siapa saja. Tidak diperlukan birokrasi yang berbelit atau modal besar yang sering kali membuat akses menjadi terbatas. Selama ada kesadaran untuk saling berbagi dan niat tulus untuk berkontribusi, kegiatan berbagi makanan bergizi dapat diwujudkan secara sederhana dan bermakna.

Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Ikut Serta di Pameran Art Edu Care#15

Akhir bulan ini, Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal meramaikan agenda bertajuk Art Edu Care#15 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Jumat-Selasa 23-27 Mei 2025. Art Edu Care merupakan pameran seni yang memiliki sejarah cukup panjang, dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2010. Tahun ini agenda besutan Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS itu mengusung tema “Feel The Same”.

Sebagai gerakan sosial-lingkungan, undangan dari kawan-kawan seni kami apresiasi sebagai kerja bersama membangun peradaban. Oleh karena itu, Joli Jolan sengaja membawa banyak buku bacaan di Art Edu Care#15. Setiap pengunjung stan Joli Jolan dapat mengambil maksimal dua buku dengan gratis.

Setelah itu, cukup unggah foto bareng buku yang diambil ke story Instagram dan tag @joli_jolan dan @arteducare. Kami juga menyediakan pakaian dan aksesoris keren yang juga bisa diambil secara cuma-cuma. Ada pula pameran info grafis tentang Joli Jolan yang bisa kawan simak di stan.

Yang spesial, kali ini kami bekerja sama dengan komunitas Ajeg Social untuk menampilkan deretan seni upcycle. Karya tersebut berupa pakaian, rajutan, topi, aksesoris, dan lain sebagainya. Produk ini sebagian mengambil bahan pakaian bekas di Joli Jolan, menjadi upaya bersama kami untuk mengampanyekan fesyen berkelanjutan.

Tentu kawan-kawan juga dapat menikmati karya seniman-seniman keren yang dipamerkan di Art Edu Care#15. Oh ya, stan kami tepatnya berada di teras Perpustakaan TBJT (berdampingan dengan Galeri Seni). Kami tunggu ya!

Note: Khusus Jumat 23 Mei, stan buka mulai 18.30 WIB.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kejutan dan Kehangatan Usai Lebaran

Sabtu kemarin menjadi hari yang spesial bagi Joli Jolan. Usai libur dua pekan, akhirnya kami bisa bersua kembali dengan kawan-kawan. Seperti yang kami duga, pengunjung tumpah ruah, mulai dari warga yang hendak berburu pakaian/barang, maupun warga yang berdonasi. Beberapa pengunjung bahkan sudah menanti pagar Joli Jolan dibuka sejak pukul 09.30 WIB, setengah jam sebelum operasional dimulai.

Antusiasme yang semakin meningkat inilah yang kami lihat di ruang ini dari waktu ke waktu. Untuk menjaga kenyamanan semua yang berkunjung, kami perlu membikin sejumlah terobosan atau pembenahan. Bagi yang hadir kemarin mungkin kaget ketika kami memberlakukan nomor antrean untuk masuk ke Joli Jolan.

Ya, sistem ini mulai kami ujicoba untuk mengurai padatnya pengunjung, terutama di jam 10 pagi. Belakangan kami melihat warga cenderung berdesakan/tidak mau kalah untuk masuk duluan ke Joli Jolan. Istilah kata, sudah mirip start lomba lari. Hal ini tentu membahayakan pengunjung rentan seperti anak, lansia, atau ibu hamil.

Tak hanya itu, kenyamanan memilih pakaian juga berkurang karena semua langsung tumplek blek di awal. Adanya nomor antrean membuat pengunjung masuk bertahap, sehingga diharapkan menjaga kenyamanan semua pihak. Kami akui masih banyak kekurangan di awal penerapannya. Sejumlah masukan sudah kami catat dan evaluasi. Tentu kami juga berharap masukan dari pengunjung.

Kegembiraan Sabtu kemarin semakin lengkap karena sukarelawan berkumpul untuk makan bareng dan halalbihalal. Salah satu sukarelawan awal kami yang kini tinggal di Bandung, Zen Al Ansory, juga mampir ke Kerten untuk melepas kangen. Terima kasih untuk video pendek ini ya!

Ada pula sejumlah tamu mulai dari komunitas Innerchild, psikolog Xavera Adis hingga mahasiswa FISIP UNS. Mereka menawarkan kolaborasi keren bareng Joli Jolan, yang pastinya segera akan kami kabarkan. Kami ucapkan terima kasih pada semuanya yang tak lelah saling bantu. Panjang umur solidaritas.

Categories
Sudut Joli Jolan

Bakdan di Joli Jolan, Berhemat Uang

Belakangan ini berita buruk seperti tak ada habisnya menghampiri masyarakat. Mulai dari BBM oplosan, PHK ribuan pekerja pabrik, pengangkatan CPNS yang mundur hingga kisruh minyak yang tak sesuai takaran. Jika dicermati, semua masalah itu berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.

Belum soal harga bahan pokok yang cenderung melejit pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini tentu membuat sebagian orang berpikir ulang dalam membeli keperluan Lebaran seperti baju baru. Inisiatif saling bantu pada akhirnya bisa menjadi salah satu alternatif agar warga mendapatkan kebutuhannya tersebut secara terjangkau, bahkan gratis.

Tahun ini Joli Jolan kembali mendistribusikan pakaian preloved berkualitas untuk berhari raya secara cuma-cuma. Kalau beruntung, kawan bisa mendapatkan sandang berkondisi baru. Pokoknya koleksi terbaik Joli Jolan akan dibagikan menyambut Lebaran.

Semua boleh mengakses tanpa kecuali karena tujuannya untuk mengurangi konsumerisme, bukan charity. Kami menyediakan kotak atau umplung bagi kawan yang ingin berdonasi guna mendukung gerakan Joli Jolan sehingga gerakan ini dapat terus berlanjut dan berkembang.

Toko Joli Jolan juga akan hadir dengan merchandise dan koleksi terbaiknya. Tentu saja, harganya akan jauh lebih murah ketimbang barang-barang yang dijual di mal atau pusat perbelanjaan. Donasi nantinya akan kami gunakan untuk kebutuhan operasional ruang (kebersihan, listrik, peralatan galeri), distribusi pakaian ke daerah, hingga program berbagi makanan.

Layanan ini kami buka pada tanggal 15 Maret dan 22 Maret 2025 pukul 10.00-12.00 WIB di Jalan Siwalan No. 1 Kerten, Laweyan, Solo (Google Map Joli Jolan).

Daripada mengeluarkan kocek lebih dalam dan berdesak-desakan di pusat perbelanjaan, tidak ada salahnya mencari pakaian di @joli_jolan. Uang belanja pakaian pun bisa disimpan untuk berbagi di kampung halaman. Yuk, ikutan Berburu Baju Lebaran di Joli Jolan!

Categories
Sudut Joli Jolan

Refleksi 5 Tahun Joli Jolan: Pegang Solidaritas untuk Jangkauan Meluas

Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.

Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.

Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.

Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.

Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.

Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.

Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.

Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.

Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.

Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.

Categories
Sudut Joli Jolan

Belajar Kepedulian di Pojok Anak Joli Jolan

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kasih sayang merupakan salah satu wujud kebutuhan sosial. Sabtu, 18 Januari 2025, Ruang Solidaritas Joli Jolan terasa semakin hangat dengan kehadiran anak-anak balita hingga seusia SD. Mereka adalah anak-anak yang diasuh di Panti Asuhan Mizan Amanah, Solo.

Setiap Sabtu, anak-anak panti memang rutin refreshing dengan jalan-jalan di sekitar kota. Kami gembira ketika mereka berkenan mampir ke Joli Jolan untuk berakhir pekan. Ketika diajak masuk ke Pendapa Latar Situ Kerten, lokasi di mana Joli Jolan berada, senyum mereka langsung merekah.

Anak-anak antusias melihat banyak mainan, boneka, komik, alat tulis dan gambar hingga jajanan yang ditata di pendapa. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memilih barang apa yang mereka suka. Barang-barang ini merupakan donasi kawan-kawan Joliers, yang telah kami kurasi sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi para anak panti.

Kegiatan ini menjadi salah satu penanda Joli Jolan membuka pojok anak di awal tahun 2025. Setiap Sabtu, kami menyediakan sudut khusus bagi anak-anak untuk memilih mainan yang disukainya. Di sana, orangtua diminta tidak “cawe-cawe” memilihkan mainan untuk anaknya. Ini dilakukan agar anak memiliki inisiatif untuk memutuskan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang dirasa baik buat mereka.

Selain itu, anak diajak saling berinteraksi dengan anak lain, saling berbagi mainan. Hal sederhana itu diharapkan memupuk kepedulian dan rasa solidaritas sejak dini. Orangtua dapat memberi arahan jika sang anak justru mengambil lebih banyak, enggan berbagi dengan sesama.

Kawan-kawan juga dapat berpartisipasi melestarikan pojok anak dengan donasi mainan yang bersih dan menarik. Kami juga menerima donasi buku anak, susu, atau snack sehat untuk mendukung perkembangan mereka. Yuk, bareng-bareng manfaatkan pojok anak Joli Jolan!

Categories
Gagasan

Tiga Nasihat Pepatah Jawa Sebelum Donasi ke Joli Jolan

Joli Jolan merupakan komunitas yang menghimpun dan menyalurkan barang layak pakai dan berbagai barang manfaat lainnya. Keberadaan Joli Jolan sudah dikenal masyarakat yang menerima manfaat (dalam makna luas). Bagi donatur bisa kapan saja dapat menyalurkan barang yang ingin didonasikan. Informasi syarat dan ketentuan barang yang dapat didonasikan oleh donatur tertera jelas di sosial media Joli Jolan. Silahkan menghubungi nomor atau langsung datang ke Lapak Joli Jolan. Bagi donatur yang jauh, kapan saja bisa langsung kirim barang ke lapak Joli Jolan dengan konfirmasi kepada relawan terlebih dahulu.

Bagi calon donatur, perlu ingat sebuah prinsip tentang berbagi kepada masyarakat. Pepatah Jawa memiliki sebuah nasihat yang kemudian menjadi masyhur di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, yakni “urip iku urup” (hidup itu menyala). Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup tidak hanya sekedar mewujudkan eksistensi pribadi saja, tetapi menyadari keberadaan orang lain.

Layaknya cahaya yang menyala untuk menerangi kegelapan. Cahaya tersebut tidak sekadar memberikan penerangan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi siapa saja yang berada di sekitar sumber cahaya. Falsafah yang menganjurkan seseorang untuk menjadi pribadi bermanfaat di tengah masyarakat itu pada dasarnya adalah semangat inti dalam berbagi atau menjadi seorang donatur.

Setelah rasa ingin berbagi tumbuh, kita perlu memikirkan kembali barang atau jasa yang akan diberikan dan apa tujuan dari upaya memberi tersebut, yang mana biasanya adalah berbagi kesenangan. Kemudian teringat dengan salah satu nasehat dalam bahasa Jawa, “nguwongke uwong, gawe legane uwong” (memanusiakan manusia dan membuat orang lain senang).

Memanusiakan manusia berarti menghormati orang lain karena kita adalah sesama manusia. Bukan sekadar menghormati seorang pejabat yang memiliki kekayaan dan pangkat tetapi tidak menghormati orang yang melarat dan tidak berpangkat. Melainkan, kita saling menghormati sesama ciptaan Tuhan.

Apabila kita sudah mengerti dan memahami hakikat kita sebagai manusia, sudah selayaknya kita lebih bijak dalam mendonasikan barang. Kita perlu mulai menyadari bahwa barang yang akan kita donasikan adalah barang yang nantinya akan dipakai oleh orang lain, sehingga barang tersebut harus pantas dan layak untuk difungsikan lagi. Tolok ukur barang masih layak dan pantas sangatlah sederhana, apabila barang tersebut diberikan kepada orang lain maka orang yang menerima barang tersebut mau menggunakannya.

Terakhir, ajaran suku, ras, atau agama mana pun akan sepakat dengan nasihat dalam bahasa Jawa yang satu ini, “ngundhuh wohing pakarti” (apa pun yang kita lakukan akan mendapatkan yang sepadan). Siapa yang menanam akan menuai.

Seringkali kita pernah mengalami atau mendengar kisah di masa sulit dan terimpit dalam menjalani hidup. Ada saja orang-orang yang entah datang dari mana, tanpa kita rencanakan dan di luar kuasa kita, datang untuk membantu kesulitan kita. Bisa jadi hal tersebut dapat diartikan sebagai bentuk lain dari balasan kebaikan yang pernah kita lakukan dalam membantu kesulitan orang lain. Jika tidak demikian, bisa jadi balasan tersebut diwujudkan dalam bentuk kesehatan, dilancarkan segala urusan, dilapangan rezekinya, dan masih banyak lagi.

Berdonasi Tidak Sama dengan Membuang Barang

Joli Jolan masih mendapati ada beberapa barang yang tidak layak didonasikan yang entah secara sengaja atau tidak dikirimkan ke Joli Jolan. Biasanya donatur yang seperti ini langsung mengirimkan barang (yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan) ke alamat Joli Jolan melalui jasa ojek online tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada relawan. Hal ini bermaksud agar barang tersebut tidak diketahui siapa pengirimnya.

Barang yang dikirimkan tidak main-main jumlahnya, bahkan terkadang ada yang sampai satu karung besar ukuran 90 cm x 125 cm. Jumlah kecil sudah sering, bukan kepalang ampun banyaknya. Relawan mungkin juga tidak mengerti apa motifnya. Padahal setiap kali ada donatur yang demikian, relawan akan menginformasikan di media sosial agar hal tersebut tidak terulang. Namun, sayangnya fenomena itu masih saja sering terulang di tahun 2024 kemarin.

Tidak menyalahkan siapa pun, niat baik donatur perlu diapresiasi. Namun, alangkah baiknya juga cerdas untuk tidak melakukan hal demikian. Jika barang yang akan didonasikan tidak layak, alangkah baiknya di konsultasikan terlebih dahulu ke Joli Jolan. Barangkali ada alternatif lain yang direkomendasikan oleh Joli Jolan dalam menampung barang tidak layak pakai tersebut.

Kalaupun tidak ada solusi, setidaknya jangan sampai nekat mengirimkan barang tersebut ke lapak Joli Jolan. Pasalnya apabila barang tersebut terlanjur sampai di lapak Joli Jolan dan tidak masuk sortir, maka barang tersebut akan memakan ruang di ruang penyimpanan sehingga menjadikan relawan mengalokasikan waktu yang lebih banyak. Relawan tidak akan sampai hati memaksakan barang yang tidak layak pakai untuk disalurkan.

Tahun 2025, semoga menjadi awal yang baik bagi calon donatur untuk lebih memahami tiga nasihat pepatah Jawa sebelum berbagi. Tentu donatur tidak mau menerima barang yang tidak dapat difungsikan dan tidak layak kan? Jadi jangan menjadikan kegiatan berdonasi sebagai kesempatan untuk ‘membuang barang’ tidak layak pakai.

Selamat tahun baru, banyak harap yang sering terucap, semoga satu per satu datang menghadap. Tetap jaga asa untuk tetap manfaat. Sehat selalu Relawan dan donatur Joli Jolan.

Categories
Sudut Joli Jolan

7 Panduan Mengakses Layanan di Joli Jolan

Joli Jolan adalah ruang yang egaliter bagi semua kalangan. Semua bisa memanfaatkan Joli Jolan untuk memenuhi kebutuhan, entah itu dengan cara mengambil barang gratis, barter, atau berdonasi.

Namun ada ketentuan yang perlu diperhatikan saat berkunjung. Hal ini untuk memastikan semua pengunjung nyaman berinteraksi di Joli Jolan. Apa saja itu? Yuk simak panduan singkatnya!

Masuk Galeri dengan Tertib

Berdesak-desakan, apalagi “lomba lari” saat masuk galeri tidak disarankan. Hal itu bisa membahayakan pengunjung anak, lansia maupun kalangan rentan lain saat berkunjung ke galeri. Tenang saja, barang gratis di Joli Jolan tidak akan habis dalam satu jam. Jadi tidak perlu buru-buru ya!

Dilarang Merokok

Joli Jolan adalah ruang publik ramah anak sehingga bebas asap rokok. Jadi untuk mas-mas, bapak-bapak atau siapapun, silakan merokok di luar galeri. Sukarelawan kami tidak akan segan mengingatkan pengunjung yang ngeyel merokok saat kegiatan.

Mengambil Pakaian/Barang Diam-diam

Menyediakan pakaian/barang secara gratis yang bisa rutin diakses ternyata tak menjamin barang di galeri bebas dari tangan jahil. Ya, masih saja ada orang yang mengambil pakaian secara diam-diam meski dapat mengambil maksimal tiga item barang gratis di setiap kunjungan.

Hal ini tidak sesuai dengan nilai Joli Jolan yang ingin mendorong warga mengonsumsi barang secukupnya atau sesuai kebutuhan. Jika menuruti keinginan tentu tidak ada batasnya. Perilaku ini juga secara tidak langsung mengambil hak orang lain, jauh dari makna solidaritas.

Memakai Kartu Orang Lain

Setiap pengunjung Joli Jolan wajib memakai kartu anggotanya sendiri untuk mengakses layanan. Kenapa demikian? Ini karena Joli Jolan punya aturan main bahwa pengunjung baru bisa mengambil pakaian/barang gratis paling cepat dua pekan setelah pengambilan sebelumnya.

Jadi, memakai kartu orang lain agar bisa mengambil setiap pekan adalah sebuah kecurangan. Memiliki kartu ganda dengan tujuan serupa juga adalah pelanggaran. Tidak ada ruang di Joli Jolan bagi pengunjung yang hendak memanfaatkan gerakan untuk kepentingannya sendiri.

Rebutan Barang

Joli Jolan bukanlah ajang bansos atau pasar murah yang warga harus berebut mendapatkannya. Semua mendapatkan akses yang sama. Jadi tak perlu berebut, apalagi antarsesama warga. Mendahulukan pengunjung lain yang benar-benar membutuhkan pakaian/barang tertentu akan lebih baik.

Mengambil Pakaian/Barang di Luar Ketentuan

Tidak semua item donasi di Joli Jolan berjumlah melimpah. Ada pula yang jumlahnya terbatas seperti sepatu, tas, boneka, mainan, celana jins, jaket dan sejenisnya. Untuk item-item ini, pengunjung hanya boleh mengambil maksimal satu buah untuk pemerataan.

Contoh, tidak bisa mengambil tiga item semuanya sepatu. Yang boleh yakni satu sepatu dan dua pakaian/buku/item lain yang jumlahnya banyak di galeri.

Buang Sampah Sembarangan

Galeri Joli Jolan bukan tempat pembuangan sampah yaa. Jadi mari tertib untuk buang sampah di tempat yang disediakan.