Sebagian orang terlalu terpaku pada aspek visual dalam melihat kekayaan melimpah atau koleksi mewah milik orang lain. Hal ini ‘didukung’ stereotype medsos sebagai tempat untuk memamerkan apa saja. Selanjutnya, seseorang akan sibuk mencela jika si kaya tersebut terkesan pamer atau dianggap kurang suka berbagi kepada sesama.
Sementara dia lupa bahwa ada potensi ‘kekayaan hati’ sendiri yang belum diolahnya, yaitu semangat berbagi manfaat dari apa yang dimilikinya. Tidak hanya berupa materi, tenaga dan pikiran dapat menjadi modal besar. Dengan kata lain, lebih baik memulai aksi menegakkan solidaritas meski secara sederhana, daripada bermimpi orang lain melakukan sebuah revolusi perbaikan.
Suatu materi yang bagi kita sedikit, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Sepotong kain sisa yang sepintas tak berguna ternyata bisa menjadi bahan baku kerajinan tangan. Bahkan seonggok kotoran ternak pun bisa bermanfaat untuk dijadikan pupuk oleh petani. Pendek kata, apa yang ada di sekitar kita atau milik kita, sebenarnya juga berpotensi daya guna yang luar biasa bagi orang lain. Membuka mata akan kebutuhan diri sendiri dan orang lain akan membangun keharmonisan hidup bersama, yang selanjutnya dapat menjadi ajang saling tukar ilmu pengetahuan.
Pada aspek lain, sumbangan tenaga dan pikiran dapat dikombinasikan dalam berbagai wujud, misalnya saat mengadakan bakti sosial. Penyaluran logistik yang cepat dan tepat merupakan hal vital dalam pendistribusian bantuan. Kecepatan penyaluran akan membuat manfaat bantuan akan segera dirasakan. Ketepatan pendistribusian akan memaksimalkan fungsi bantuan bagi orang yang benar-benar berhak mendapatkannya.


