foto ilustrasi kekerasan seksual di stadion
Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp

Tak Ada Ruang Bagi Kekerasan Seksual di Stadion

Korban mengaku ada pesan langsung atau direct message ke akun Instagram saudara korban. Kini korban khawatir pelaku berlindung di balik nama besar kelompok suporternya.

Kasus kekerasan seksual belakangan terus berulang di penjuru Nusantara. Pelaku dan lokasinya pun beragam. Terakhir, kasus pelecehan seksual turut menyeret suporter sepak bola. Seorang jurnalis perempuan Liputan6.com, menjadi korban kekerasan seksual oleh suporter saat laga PSS Sleman melawan Borneo FC di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jogja, Kamis, 7 Juli 2022.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dan AJI Surakarta mengecam keras karena perilaku tersebut termasuk menghalangi kerja jurnalistik. Intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis dilarang sesuai UU Pers. Selain itu, perbuatan pelaku mengarah pada dugaan tindak pidana kekerasan seksual seperti diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. AJI Yogyakarta dan AJI Surakarta meminta pelaku dihukum seberat-beratnya.

Informasi yang dihimpun Jolijolan.org, kejadian itu berlangsung ketika ia hendak masuk ke tribun stadion. Tribun nyaris penuh saat korban tiba. Ketika korban berupaya masuk tribun, pelecehan itu terjadi. Pelaku memegang dada korban secara cepat. Dalam keadaan panik, korban berpikir bahwa kejadian itu tak disengaja. Setelah itu, korban dan pelaku sempat bertatap muka. “Dia cuma liatin mukaku sambil tangannya gerak-gerak. Kejadiannya cepat banget,” kata korban dalam keterangan tertulis yang diterima Jolijolan.org, Selasa, 12 Juli 2022.

Setelah kejadian itu, korban langsung menuju tribun stadion. Ia sempat membuka laptop dan menyaksikan pertandingan sembari berupaya menenangkan diri. Namun, korban belum bisa menutupi kepanikannya. “Aku mendekat ke wartawan Goal dan Jenius. Lalu cerita kepada mereka sambil gemetaran karena baru saja dapat pelecehan,” ujar dia.

Mendengar hal itu, kawan-kawan sesama jurnalis di lokasi mencoba menenangkannya. Mereka memberi saran kepada korban untuk melapor kepada panitia pelaksana dan mengawasi pelaku dari jauh untuk memastikan wajah pelaku. Steward (petugas penjaga stadion) pintu lalu memastikan wajah pelaku tersebut dengan bertanya kepada korban.

Ketika babak kedua pertandingan berlangsung, korban didampingi manajemen PSS Sleman dan kawan sesama jurnalis menuju ruang media agar lebih tenang. Usai pertandingan, pelaku dibawa ke ruangan. “Ada polisi, manajemen, dan teman-teman media,” katanya. Semula pelaku tidak mengaku. Setelah didesak, barulah pelaku berdalih dia dalam pengaruh minuman beralkohol. Pelaku juga membawa obat penenang.

Setelah lebih dari dua jam, pelaku akhirnya kooperatif. “Kondisi saya saat itu capek dan larut banget,” kata korban. Dalam situasi panik, korban meminta agar pelaku meminta maaf dan memenuhi beberapa persyaratan dari korban agar dia jera dan tidak mengulangi perbuatan itu. Pelaku kemudian membuat pernyataan maaf disertai tanda tangan pelaku, korban, dan dua orang saksi. Surat pernyataan itu disampaikan di depan anggota Kepolisian Polsek Depok Timur, Sleman.

Khawatir Teror

Namun, usai kejadian malam itu pelaku justru menggiring opini bersama kawan-kawannya. Korban mengaku ada pesan langsung atau direct message ke akun Instagram saudara korban. Kini korban khawatir pelaku berlindung di balik nama besar kelompok suporternya. “Saya beberapa hari seperti ketakutan setiap mau ke stadion atau berhadapan dengan orang banyak,” kata korban.

AJI Yogyakarta dan AJI Solo, organisasi profesi jurnalis yang fokus pada kebebasan pers menentang berbagai bentuk kekerasan terhadap jurnalis. AJI berpandangan perbuatan pelaku termasuk menghalangi kerja jurnalistik. Intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis dilarang sesuai Undang-Undang Pers.

UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 4 ayat 3 menjamin kemerdekaan pers. Aturan itu menyebutkan pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Siapa saja yang sengaja melawan hukum, menghambat, atau menghalangi ketentuan Pasal 4 ayat 3, maka dapat dipenjara maksimal 2 tahun, dan denda paling banyak Rp500 juta.

Ketentuan sanksi sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ada pada bab VII yang mengatur ketentuan pidana. Pasal 18 ayat 1 menyebutkan setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Selain itu, AJI berpandangan perbuatan pelaku mengarah pada dugaan tindak pidana kekerasan seksual seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. AJI meminta kepada seluruh pihak bahu-membahu melawan berbagai bentuk pelecehan seksual dan melindungi kerja-kerja jurnalis. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya sesuai aturan agar peristiwa tersebut tidak berulang.

AJI juga mendorong kepada seluruh suporter sepak bola untuk menghentikan budaya kekerasan. Seluruh penyelenggara acara-acara olahraga juga perlu lebih awas terhadap serangan atau pelecehan seksual terhadap jurnalis perempuan. Selain itu, penyelenggara perlu membuat aturan dan peringatan tegas yang menyatakan tak boleh ada kekerasan dalam bentuk apa pun oleh suporter bola atau siapa pun di lokasi acara.

AJI Yogya dan AJI Surakarta juga meminta kantor redaksi jurnalis tersebut untuk memberikan dukungan penuh terhadap jurnalis tersebut. Perusahaan media massa perlu membuat standar perlindungan untuk mencegah dan menangani berbagai bentuk pelecehan seksual terhadap jurnalis perempuan yang lebih rentan. Perusahaan media bertanggung jawab atas keselamatan pekerja medianya, termasuk mendampingi jurnalisnya yang menjadi korban kekerasan.

Pemimpin redaksi Liputan6.com, Irna Gustiawati, mengatakan Liputan6.com menjamin keselamatan dan keamanan tim dalam bertugas. Liputan6.com, imbuhnya, juga berkomitmen mengawal isu pelecehan seksual. Pihaknya berharap ini adalah kasus pelecehan yang terakhir bagi para jurnalis dan bagi siapa pun. “Kami harap semua pihak bisa melindungi jurnalis perempuan atau perempuan umumnya dari aksi pelecehan seksual atau seksisme di mana pun berada,” kata dia.

PSS Sleman juga menyayangkan dan mengecam aksi kekerasan seksual yang terjadi saat pertandingan tim. Pihak klub turut mendampingi korban hingga ke polsek untuk penyelesaian kasus.