Belakangan ini, masalah sampah kembali bikin sumpek warga. Tepatnya di Kota Solo, TPA Putri Cempo kalang kabut menerima kiriman sampah yang seakan tak pernah surut. Alat beratnya rusak, yang bikin pengambilan sampah warga menjadi semakin tersendat.
Di kampung saya sendiri, Sawahan, Boyolali, problem sampah pun hampir mirip. Ada warga yang protes sampahnya tak kunjung diambil sehingga menumpuk. Usut punya usut, TPS kampung ternyata kembali overload. Sampah yang biasanya diambil sepekan dua kali pun jadi hanya sekali.
Gimana, ya, pemerintah kita memang separah itu dalam mengurusi masalah persampahan. Padahal pengelolaan sampah adalah hal yang esensial jika dibandingkan dengan pembangunan hal-hal fisik tertentu, seperti misalnya membangun masjid baru, koridor wisata, atau pengadaan gapura.
Saking esensialnya, sepekan saja petugas sampah tidak datang ke rumah mengambil sampah, kita sebagai warga sudah menjerit. Namun, sayang tidak banyak yang bersedia untuk berpikir dan mencari alternatif lain dalam menaggulangi masalah persampahan tersebut. Salah satu yang paling sederhana adalah membuat biopori.
Selain mengurangi genangan (yang bisa memicu jentik nyamuk), biopori dapat menjadi wadah mengelola sampah organik menjadi kompos. Sampah sayuran, daun, dan sejenisnya pun dapat terkelola dan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah.



Apabila terkendala masalah biaya, kita bisa menggunakan metode botol bekas untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik cair atau ecoenzyme. Tutorialnya banyak tersedia di media sosial maupun YouTube. Tinggal kembali pada kita pribadi, mau sedikit repot melakukannya atau memilih menunggu orang lain saja (dalam hal ini dinas terkait) untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang kita produksi.
Praktik Pembuatan Biopori
Berikut langkah demi langkah untuk membuat biopori secara sederhana yang dikutip dari website zerowaste.id. Terlebih dahulu siapkan alat-alatnya sebagai berikut:
- Pipa PVC dan tutupnya (diameter 10 cm panjang 1 meter) yang telah dilubangi kecil-kecil dengan bor.
- Bor tanah (diamater bor tanah 10 cm dan dengan kedalaman 100 cm).
- Linggis.
- Palu untuk tanah yang keras atau berbatu atau berakar.
- Ember dengan gayung ketika melunakkan tanah.
- Sampah organik (daun kering, sisa sayur buah ikan dan lain-lain).

Setelah alat siap, lakukan langkah-langkah berikut ini:
- Pilih tanah yang tidak berbatu. Jika tanah berbatu atau keras, gunakan palu untuk sedikit menghancurkannya.
- Lubangi tanah dengan menggunakan bor tanah yang diputar searah jarum jam, hingga kedalamannya kurang lebih 1 meter. Apabila ada akar atau tanah yang agak keras, bisa disiram dengan air dan ditunggu sebentar agar menjadi lebih lunak.
- Masukkan pipa PVC yang telah dilubangi dan masukkan sampah organik dari dapur dan lingkungan sekitar.
- Tutup dengan tutup yang telah dilubangi, kemudian tutupi dengan tanah sekitarnya tetapi jangan sampai menutupi tutup pipanya. Biarkan tutup pipa terlihat sehingga kita bisa tahu di mana lubang biopori berada.
Untuk mengetahui lebih lanjut proses biopori dan upaya-upaya serupa, bisa mampir ke zerowaste.id. Ada informasi-informasi menarik seputar zero waste yang dapat dipelajari di sana.
Saya selalu percaya bahwa kepedulian kecil yang kita lakukan dapat membawa manfaat. Bayangkan jika kepedulian kecil ini dilakukan secara serentak dan berkelanjutan. Hasilnya pasti akan jauh lebih terasa. Tidak perlu muluk-muluk demi bumi, setidaknya untuk diri kita sendiri. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!









