Seorang anak perempuan memasuki halaman Ruang Solidaritas Joli Jolan di Jalan Siwalan 1, Kerten, Laweyan, Solo, pada Sabtu siang beberapa bulan silam. Ia datang bersama ibu dan neneknya, mengenakan rok tutu warna merah muda, rambut dikuncir kuda.
Senyumnya lepas begitu melihat pojok mainan di Galeri Joli Jolan. Sebuah boneka berukuran sedang dia ambil. Dia memilih-milih lagi, agak lama. Wajahnya tersipu malu saat saya dekati. Kutanya, kenapa masih sibuk mencari boneka yang serupa? Dia bilang harus membawa dua untuk diberikan saudara perempuannya yang kebetulan sedang sakit di rumah. Saya pun tersenyum tipis sambil ikut mencarikan, meski butuh waktu cukup lama untuk dapat jenis yang serupa.
Hari itu, pengunjung kecil Joli Jolan tersebut tak sekadar mengambil boneka, tapi juga mengambil hati kami. Ia mengingatkan agar ruang solidaritas ini terus dirawat, jadi rumah yang nyaman bagi siapa pun yang singgah.
Empati untuk Merawat Solidaritas
Ibarat kendaraan, empati adalah mesin kami. Gerbong Joli Jolan tak akan benar-benar kukuh tanpa adanya kesadaran dan welas asih dari para sukarelawan, donatur, maupun para pengunjung. Sukarelawan hampir tak pernah absen membuka galeri tiap hari Sabtu dan melakukan sortir barang pada hari Rabu. Kami paham betul bahwa ada puluhan orang yang menunggu untuk mengambil dan berbagi barang tiap akhir pekan.

Apalagi di momen-momen besar seperti Lebaran. Rumah kami terbuka bagi mereka yang juga ingin punya baju ganti tapi tak sempat membeli pakaian karena impitan kebutuhan. Gamis dan blus panjang biasanya laris manis. Anak-anak asyik memilih baju, sementara si ibu khusyuk memilah-milah kerudung. Pada saat bersamaan, beberapa orang yang merasa berlebih pakaian juga rajin mengirimkan barang di galeri Joli Jolan. Misinya satu, mengajak semua orang merayakan kebahagiaan pada hari besar tersebut. Mereka meyakini, layaknya emosi sedih dan marah, bahagia tak akan benar-benar abadi. Jadi sudah seharusnya saling dibagi.
Berdiri sejak 21 Desember empat tahun silam, perjalanan kami juga tak pernah lepas dari kolaborasi. Sejumlah kawan dari lintas organisasi maupun secara personal datang silih berganti, saling bergandeng tangan untuk terus memumpuk rasa peduli. Upaya bersama ini yang juga menjadi penyuntik semangat kami.
Layaknya bayi, empat tahun adalah saatnya merangkak, bergerak, dan mengenal lebih banyak warna. Itu pula salah satu harapan kami. Meski riaknya masih kecil, kami ingin menjadi lilin yang terus menyalakan empati dan welas asih. Menjadi penerang di tengah dunia yang serba cepat dan serba menuntut sejumlah orang menjadi oportunis serta mementingkan diri sendiri.
Kami tak bisa menjanjikan terus ada hingga belasan atau puluhan tahun nanti. Namun, budaya saling memberi dan menerima dengan penuh kasih ini semoga selalu tertanam di sanubari. Tanpa itu, tak pernah ada Joli Jolan hingga hari ini. Dirgahayu keempat tahun Joli Jolan!


