Categories
Sudut Joli Jolan

Kangen Joli Jolan

Pertama kali saya mengenal Ruang Solidaritas Joli Jolan hanya melalui postingan Instagram (joli_jolan). Saat itu satu di antara beberapa postingannya muncul di beranda. Sebuah konsep yang menarik, yakni berbagi kebaikan dengan barang layak pakai. Seketika ketertarikan saya muncul untuk berselancar di laman sosial medianya. Setiap postingan saya kunjungi hingga berlanjut menggali informasi tambahan di website yang mereka punya (jolijolan.org). Meskipun gerakan sosial, tetapi media informasi yang merkea garap sangatlah rapi. Hal ini pastinya meyakinkan pengunjung untuk masuk ke ruang perkenalan lebih dalam.

Setelah mendapat informasi detail, termasuk jadwal layanan, pekan berikutnya saya memutuskan untuk berkunjung ke kantor sekaligus lapak mereka yang bertempat di Jl. Siwalan No. 1 Kota Surakarta. Tempatnya strategis dan sangat mudah dikunjungi dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Saat itu cukup ramai. Jumlah relawan yang berjaga di hari itu juga banyak. Sehingga, sangat memadai untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada pengunjung. Sesampai di sana, saya diarahkan untuk mengisi buku tamu. Rasa penasaran yang memuncak, beberapa hal saya tanyakan satu per satu kepada relawan yang berjaga di stand depan pintu. Berbincang, mencari tahu satu dua hal yang mendasari mereka mendirikan komunitas sosial yang mungkin jarang digagas kebanyakan orang.

Meskipun beberapa sudah tahu dari informasi yang saya baca baca kemarin, tetapi beberapa pertanyaan saya coba kembangkan untuk mengkonfirmasi banyak hal. Setelah cukup mendapat banyak informasi dan yakin, saya disarankan untuk membuat kartu membership. Tentu dengan senang hati, saya mengiyakan tawaran yang disampaikan relawan tersebut.

Setelah dipersilahkan masuk ke dalam galeri, saya pun berkeliaran di setiap sudut ruangan dan memindai barang-barang gratis yang ada di sana. Joli Jolan menerima donasi segala bentuk barang layak pakai untuk bisa dimanfaatkan orang lain. Biasanya, donatur memberikan donasi barangnya karena sudah bosan atau sudah ganti dengan barang yang baru. Mungkin pikir mereka daripada rusak karena tidak dipakai, alangkah baiknya didonasikan ke Joli Jolan, siapa tau ada (pengunjung) yang membutuhkan untuk memanfaatkan barang tersebut.

Tidak heran, di setiap sudut ruangan penuh dengan barang-barang. Mulai dari sepatu, celana, baju, seragam sekolah, tas, topi, buku, bibit tanaman, dan masih banyak lagi. Jolijolan hanya menerima barang layak pakai, mereka punya regulasi untuk memilah dan memilih terlebih dahulu barang dari donatur. Selanjutnya mereka bersihkan dan diperlakukan selayaknya mereka sendiri yang memakainya. Sehingga, barang yang tertata di ruangan sangat layak untuk digunakan atau mungkin jika tidak berlebihan sangat layak pakai tertata rapi di rak dan cantolan.

Setelah puas di ruangan utama, saya pun bergeser ke teras depan. Di sana tertata rapi banyak sekali buku bacaan. Beberapa pengunjung asyik memilih dan membaca buku yang ada di sana. Saya pun mengambil salah satu buku untuk memuaskan rasa penasaran untuk melihat koleksi buka apa saja yang ada di sana. Satu per satu buku saya buka dan baca sejenak. Dipayungi pohon mangga yang rindang, membuat aktivitas membaca buku semakin nyaman.

Setelah puas dengan buku-buku dan melanjutkan langkah untuk berpindah, ada relawan yang mendatangi saya. Saya memperkenalkan diri kepada relawan tersebut hingga berlanjut berbincang tentang banyak hal. Tidak terasa, sudah banyak tema yang kami bicarakan. Obrolan mengalir dengan santai, layaknya pertemuan antara kawan lama yang tidak lama jumpa. Nyaman dan menyenangkan. Bercerita dan mengkonfirmasi banyak hal menjadi tema perbincangan kami yang panjang. Dilanjutkan rencana kegiatan kolaborasi yang berkesinambungan.

Tidak terasa, Joli Jolan sudah berumur empat tahun sejak kelahirannya. Mengusung tema di tahun ke empat, Empati di Relung Sanubari. Kegiatan utama masih jalan, tetapi lebih banyak lagi program inovatif yang tetap mereka jalankan dan penuh kebermanfaatan. Terlebih lagi, bisa dibilang mereka telah teruji dalam melalui badai Covid-19. Berkaca dari kejadian luar biasa itu, rasa-rasanya Joli Jolan perlu hadir dan menemani di tengah masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.

Saat ini kembali pada fase perkenalan, mengamati tumbuh kembang Joli Jolan dari kejauhan. Melalui setiap postingan media sosial, sembari penuh kegirangan. Semoga Tuhan menjaga mereka yang terus sinergi untuk berlomba-lomba bermanfaat lewat wadah Joli Jolan. Berharap bertemu kembali dalam kegiatan di lain kesempatan.

Jakarta, 7 Januari 2024

Categories
Sudut Joli Jolan

Empati di Relung Sanubari

Seorang anak perempuan memasuki halaman Ruang Solidaritas Joli Jolan di Jalan Siwalan 1, Kerten, Laweyan, Solo, pada Sabtu siang beberapa bulan silam. Ia datang bersama ibu dan neneknya, mengenakan rok tutu warna merah muda, rambut dikuncir kuda.

Senyumnya lepas begitu melihat pojok mainan di Galeri Joli Jolan. Sebuah boneka berukuran sedang dia ambil. Dia memilih-milih lagi, agak lama. Wajahnya tersipu malu saat saya dekati. Kutanya, kenapa masih sibuk mencari boneka yang serupa? Dia bilang harus membawa dua untuk diberikan saudara perempuannya yang kebetulan sedang sakit di rumah. Saya pun tersenyum tipis sambil ikut mencarikan, meski butuh waktu cukup lama untuk dapat jenis yang serupa.

Hari itu, pengunjung kecil Joli Jolan tersebut tak sekadar mengambil boneka, tapi juga mengambil hati kami. Ia mengingatkan agar ruang solidaritas ini terus dirawat, jadi rumah yang nyaman bagi siapa pun yang singgah.

Empati untuk Merawat Solidaritas

Ibarat kendaraan, empati adalah mesin kami. Gerbong Joli Jolan tak akan benar-benar kukuh tanpa adanya kesadaran dan welas asih dari para sukarelawan, donatur, maupun para pengunjung. Sukarelawan hampir tak pernah absen membuka galeri tiap hari Sabtu dan melakukan sortir barang pada hari Rabu. Kami paham betul bahwa ada puluhan orang yang menunggu untuk mengambil dan berbagi barang tiap akhir pekan.

Apalagi di momen-momen besar seperti Lebaran. Rumah kami terbuka bagi mereka yang juga ingin punya baju ganti tapi tak sempat membeli pakaian karena impitan kebutuhan. Gamis dan blus panjang biasanya laris manis. Anak-anak asyik memilih baju, sementara si ibu khusyuk memilah-milah kerudung. Pada saat bersamaan, beberapa orang yang merasa berlebih pakaian juga rajin mengirimkan barang di galeri Joli Jolan. Misinya satu, mengajak semua orang merayakan kebahagiaan pada hari besar tersebut. Mereka meyakini, layaknya emosi sedih dan marah, bahagia tak akan benar-benar abadi. Jadi sudah seharusnya saling dibagi.

Berdiri sejak 21 Desember empat tahun silam, perjalanan kami juga tak pernah lepas dari kolaborasi. Sejumlah kawan dari lintas organisasi maupun secara personal datang silih berganti, saling bergandeng tangan untuk terus memumpuk rasa peduli. Upaya bersama ini yang juga menjadi penyuntik semangat kami.

Layaknya bayi, empat tahun adalah saatnya merangkak, bergerak, dan mengenal lebih banyak warna. Itu pula salah satu harapan kami. Meski riaknya masih kecil, kami ingin menjadi lilin yang terus menyalakan empati dan welas asih. Menjadi penerang di tengah dunia yang serba cepat dan serba menuntut sejumlah orang menjadi oportunis serta mementingkan diri sendiri.

Kami tak bisa menjanjikan terus ada hingga belasan atau puluhan tahun nanti. Namun, budaya saling memberi dan menerima dengan penuh kasih ini semoga selalu tertanam di sanubari. Tanpa itu, tak pernah ada Joli Jolan hingga hari ini. Dirgahayu keempat tahun Joli Jolan!