Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Sudut Joli Jolan

Refleksi 5 Tahun Joli Jolan: Pegang Solidaritas untuk Jangkauan Meluas

Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.

Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.

Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.

Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.

Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.

Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.

Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.

Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.

Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.

Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.

Categories
Sudut Joli Jolan

Kangen Joli Jolan

Pertama kali saya mengenal Ruang Solidaritas Joli Jolan hanya melalui postingan Instagram (joli_jolan). Saat itu satu di antara beberapa postingannya muncul di beranda. Sebuah konsep yang menarik, yakni berbagi kebaikan dengan barang layak pakai. Seketika ketertarikan saya muncul untuk berselancar di laman sosial medianya. Setiap postingan saya kunjungi hingga berlanjut menggali informasi tambahan di website yang mereka punya (jolijolan.org). Meskipun gerakan sosial, tetapi media informasi yang merkea garap sangatlah rapi. Hal ini pastinya meyakinkan pengunjung untuk masuk ke ruang perkenalan lebih dalam.

Setelah mendapat informasi detail, termasuk jadwal layanan, pekan berikutnya saya memutuskan untuk berkunjung ke kantor sekaligus lapak mereka yang bertempat di Jl. Siwalan No. 1 Kota Surakarta. Tempatnya strategis dan sangat mudah dikunjungi dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Saat itu cukup ramai. Jumlah relawan yang berjaga di hari itu juga banyak. Sehingga, sangat memadai untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada pengunjung. Sesampai di sana, saya diarahkan untuk mengisi buku tamu. Rasa penasaran yang memuncak, beberapa hal saya tanyakan satu per satu kepada relawan yang berjaga di stand depan pintu. Berbincang, mencari tahu satu dua hal yang mendasari mereka mendirikan komunitas sosial yang mungkin jarang digagas kebanyakan orang.

Meskipun beberapa sudah tahu dari informasi yang saya baca baca kemarin, tetapi beberapa pertanyaan saya coba kembangkan untuk mengkonfirmasi banyak hal. Setelah cukup mendapat banyak informasi dan yakin, saya disarankan untuk membuat kartu membership. Tentu dengan senang hati, saya mengiyakan tawaran yang disampaikan relawan tersebut.

Setelah dipersilahkan masuk ke dalam galeri, saya pun berkeliaran di setiap sudut ruangan dan memindai barang-barang gratis yang ada di sana. Joli Jolan menerima donasi segala bentuk barang layak pakai untuk bisa dimanfaatkan orang lain. Biasanya, donatur memberikan donasi barangnya karena sudah bosan atau sudah ganti dengan barang yang baru. Mungkin pikir mereka daripada rusak karena tidak dipakai, alangkah baiknya didonasikan ke Joli Jolan, siapa tau ada (pengunjung) yang membutuhkan untuk memanfaatkan barang tersebut.

Tidak heran, di setiap sudut ruangan penuh dengan barang-barang. Mulai dari sepatu, celana, baju, seragam sekolah, tas, topi, buku, bibit tanaman, dan masih banyak lagi. Jolijolan hanya menerima barang layak pakai, mereka punya regulasi untuk memilah dan memilih terlebih dahulu barang dari donatur. Selanjutnya mereka bersihkan dan diperlakukan selayaknya mereka sendiri yang memakainya. Sehingga, barang yang tertata di ruangan sangat layak untuk digunakan atau mungkin jika tidak berlebihan sangat layak pakai tertata rapi di rak dan cantolan.

Setelah puas di ruangan utama, saya pun bergeser ke teras depan. Di sana tertata rapi banyak sekali buku bacaan. Beberapa pengunjung asyik memilih dan membaca buku yang ada di sana. Saya pun mengambil salah satu buku untuk memuaskan rasa penasaran untuk melihat koleksi buka apa saja yang ada di sana. Satu per satu buku saya buka dan baca sejenak. Dipayungi pohon mangga yang rindang, membuat aktivitas membaca buku semakin nyaman.

Setelah puas dengan buku-buku dan melanjutkan langkah untuk berpindah, ada relawan yang mendatangi saya. Saya memperkenalkan diri kepada relawan tersebut hingga berlanjut berbincang tentang banyak hal. Tidak terasa, sudah banyak tema yang kami bicarakan. Obrolan mengalir dengan santai, layaknya pertemuan antara kawan lama yang tidak lama jumpa. Nyaman dan menyenangkan. Bercerita dan mengkonfirmasi banyak hal menjadi tema perbincangan kami yang panjang. Dilanjutkan rencana kegiatan kolaborasi yang berkesinambungan.

Tidak terasa, Joli Jolan sudah berumur empat tahun sejak kelahirannya. Mengusung tema di tahun ke empat, Empati di Relung Sanubari. Kegiatan utama masih jalan, tetapi lebih banyak lagi program inovatif yang tetap mereka jalankan dan penuh kebermanfaatan. Terlebih lagi, bisa dibilang mereka telah teruji dalam melalui badai Covid-19. Berkaca dari kejadian luar biasa itu, rasa-rasanya Joli Jolan perlu hadir dan menemani di tengah masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.

Saat ini kembali pada fase perkenalan, mengamati tumbuh kembang Joli Jolan dari kejauhan. Melalui setiap postingan media sosial, sembari penuh kegirangan. Semoga Tuhan menjaga mereka yang terus sinergi untuk berlomba-lomba bermanfaat lewat wadah Joli Jolan. Berharap bertemu kembali dalam kegiatan di lain kesempatan.

Jakarta, 7 Januari 2024

Categories
Sudut Joli Jolan

Empati di Relung Sanubari

Seorang anak perempuan memasuki halaman Ruang Solidaritas Joli Jolan di Jalan Siwalan 1, Kerten, Laweyan, Solo, pada Sabtu siang beberapa bulan silam. Ia datang bersama ibu dan neneknya, mengenakan rok tutu warna merah muda, rambut dikuncir kuda.

Senyumnya lepas begitu melihat pojok mainan di Galeri Joli Jolan. Sebuah boneka berukuran sedang dia ambil. Dia memilih-milih lagi, agak lama. Wajahnya tersipu malu saat saya dekati. Kutanya, kenapa masih sibuk mencari boneka yang serupa? Dia bilang harus membawa dua untuk diberikan saudara perempuannya yang kebetulan sedang sakit di rumah. Saya pun tersenyum tipis sambil ikut mencarikan, meski butuh waktu cukup lama untuk dapat jenis yang serupa.

Hari itu, pengunjung kecil Joli Jolan tersebut tak sekadar mengambil boneka, tapi juga mengambil hati kami. Ia mengingatkan agar ruang solidaritas ini terus dirawat, jadi rumah yang nyaman bagi siapa pun yang singgah.

Empati untuk Merawat Solidaritas

Ibarat kendaraan, empati adalah mesin kami. Gerbong Joli Jolan tak akan benar-benar kukuh tanpa adanya kesadaran dan welas asih dari para sukarelawan, donatur, maupun para pengunjung. Sukarelawan hampir tak pernah absen membuka galeri tiap hari Sabtu dan melakukan sortir barang pada hari Rabu. Kami paham betul bahwa ada puluhan orang yang menunggu untuk mengambil dan berbagi barang tiap akhir pekan.

Apalagi di momen-momen besar seperti Lebaran. Rumah kami terbuka bagi mereka yang juga ingin punya baju ganti tapi tak sempat membeli pakaian karena impitan kebutuhan. Gamis dan blus panjang biasanya laris manis. Anak-anak asyik memilih baju, sementara si ibu khusyuk memilah-milah kerudung. Pada saat bersamaan, beberapa orang yang merasa berlebih pakaian juga rajin mengirimkan barang di galeri Joli Jolan. Misinya satu, mengajak semua orang merayakan kebahagiaan pada hari besar tersebut. Mereka meyakini, layaknya emosi sedih dan marah, bahagia tak akan benar-benar abadi. Jadi sudah seharusnya saling dibagi.

Berdiri sejak 21 Desember empat tahun silam, perjalanan kami juga tak pernah lepas dari kolaborasi. Sejumlah kawan dari lintas organisasi maupun secara personal datang silih berganti, saling bergandeng tangan untuk terus memumpuk rasa peduli. Upaya bersama ini yang juga menjadi penyuntik semangat kami.

Layaknya bayi, empat tahun adalah saatnya merangkak, bergerak, dan mengenal lebih banyak warna. Itu pula salah satu harapan kami. Meski riaknya masih kecil, kami ingin menjadi lilin yang terus menyalakan empati dan welas asih. Menjadi penerang di tengah dunia yang serba cepat dan serba menuntut sejumlah orang menjadi oportunis serta mementingkan diri sendiri.

Kami tak bisa menjanjikan terus ada hingga belasan atau puluhan tahun nanti. Namun, budaya saling memberi dan menerima dengan penuh kasih ini semoga selalu tertanam di sanubari. Tanpa itu, tak pernah ada Joli Jolan hingga hari ini. Dirgahayu keempat tahun Joli Jolan!

Categories
Sudut Joli Jolan

Platform Tetulung: 3 Tahun Joli Jolan

Banyak kawan, kolega, saudara acap bertanya, apa itu Joli Jolan? Apakah menerima sumbangan baju dan celana pantas pakai? Apakah pakaian ini diberikan gratis? Apakah harus menukarkan sesuatu untuk memeroleh barang dari sana?

Sederet pertanyaan ini akan terus ada seiring bertambahnya Joliers (sebutan bagi anggota Joli Jolan). Poin pentingnya bukanlah jawaban ya atau tidak. Sebab, hal ini sangat dinamis mengikuti konteks dan kebutuhan. Joli Jolan berulang kali menunda donasi baju perempuan karena memang stok berlebih, misalnya.

Jawaban alternatif yang bisa diberikan adalah Joli Jolan merupakan rintisan platform “tetulung”. Dalam Bahasa Jawa, “tetulung” dimaknai sebagai pertolongan, saling bantu. Platform ini mempertemukan yang butuh bantuan dengan yang memberi bantuan.

Bantuannya beragam mulai dari pakaian, buku, tas, sepatu, perlengkapan bayi, sembako, makanan, mainan anak, apa pun itu. Bahkan, jika merasakan kesepian, main-mainlah ke Jalan Siwalan 1, Kerten. Kau akan mendapatkan kawan dan cerita yang banyak!

Kini, platform ini sudah berusia tiga tahun. Ada sekitar 1.500-an orang tercatat sebagai anggota. Sebagian dari mereka datang saban dua pekan sekali untuk mengambil baju, menikmati makanan gratis, atau sekadar melihat-lihat.

Hemat saya, semangat tetulung ini bakal jadi core of the core-nya Joli Jolan. Orang butuh baju ya dikasih baju. Orang butuh tas ya dikasih tas. Begitu kira-kira.

Hla terus tetulung buat sukarelawannya apa? Gampang! Kalau donasi mbok jangan kasih pakaian dalam bekas. Sebab, ini wadah tetulung bukan tempat penampungan sampah sementara.

Tetulung ini pun tak mandek hanya di hubungan antarmanusia saja. Memperpanjang usia pakai barang sama artinya memberikan napas lebih panjang bagi lingkungan yang kita tempati hari ini.

Sebagai penutup, saya nderek bingah ruang solidaritas ini masih eksis hingga kini. Selamat ulang tahun yang ketiga. Dirgahayu Joli Jolan!

Categories
Gagasan

Kecil Itu Indah

Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha

Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.

Schumacher lantas melontarkan ide “Small is Beautiful” dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.

Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.

Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!

Categories
Sudut Joli Jolan

Sukarelawan dan Setahun Joli Jolan

Setahun lalu, sekitar bulan November 2019, Mas Chrisna membagikan video Skoros dan mengajak kawan-kawan membuat gerakan serupa di Solo. Diskusi berkembang dari facebook hingga tatap muka pagi hari di Café Libraire. Lokasi Joli Jolan yang sekarang dipilih dari tiga lokasi yang sempat ditawarkan para relawan. Pertimbangannya, lokasi di Jalan Siwalan 1 Kerten punya luas cukup, aksesnya mudah, tidak berdekatan dengan pasar pakaian bekas, dan meminimalisasi gangguan terhadap lingkungan.

Joli Jolan beroperasi dengan sistem sederhana. Pendataan masih manual. Pendataan ini memang masih perlu diperbaiki untuk kemudahan akses data dan meminimalisasi kecurangan. Dari operasional setahun, ada temuan tidak semua pengunjung mengambil barang di Joli Jolan karena butuh. Ada yang sering mengakali untuk mengambil barang lebih banyak. Padahal, pembatasan diterapkan untuk pemerataan akses barang untuk pengunjung lain. Ini pekerjaan rumah yang masih belum selesai.

Pekerjaan rumah yang tak kalah penting adalah membuat Joli Jolan menjadi komunitas yang lestari. Ada atau tidak ada inisiatornya, dia harus jalan. Joli Jolan harus punya sumber pendanaan mandiri. Joli Jolan, selain membantu sesama, harus bisa membantu dirinya sendiri. Dengan begitu, ia tidak akan mandeg. Ada banyak pekerjaan rumah, ada banyak rencana yang terlambat untuk direalisasikan hingga Joli Jolan berusia setahun. Aku sendiri juga urun banyak untuk keterlambatan itu. Maafkan aku, kawan-kawan.

Aku merasa kawan-kawan Joli Jolan sangat hebat. Tidak mudah menyediakan waktu luang untuk menerima kiriman, menyortir baju, memajangnya setiap hari buka, mendata barang masuk-keluar dan anggota yang bergabung. Belum lagi perlu manajemen sosial media, membuat pamflet dan banner, membuat kaos, mengurus food not bombs, mendistribusikan sembako, mengirimkan logistik, dan lainnya. Ada banyak orang yang bekerja di balik Joli Jolan.

Selama setahun ini, tepat 21 Desember 2020, Joli Jolan memberiku kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, memberi pelajaran hidup, dan akses baru ke dunia yang menarik. Satu hal terpenting yang aku dapatkan darinya: membantu tak melulu harus dengan uang. Selamat ulang tahun Joli Jolan!


Sukma Larastiti, salah satu pendiri Joli Jolan