Jurnalis Seni Budaya di media lokal Solo. Bergabung dengan Joli Jolan sejak 2019, aktif pertengahan 2020. Alasan bergabung karena merasa satu frekuensi dengan gerakan solidaritas Joli Jolan. Tertarik dengan sastra, seni, dan gastronomi. Sekarang ini sedang belajar tentang minimalism dan slow living. Yang ingin saling sharing, silakan hubungi Ikayuniatika@gmail.com.
Upaya bersama untuk menjaga dan mencintai alam bisa datang dari berbagai lini. Salah satunya melaui bidang musik. Musik dianggap sebagai medium yang cukup dekat dengan masyarakat sehingga layak digunakan sebagai kampanye berbagai isu penting. Salah satunya adalah isu alam dan lingkungan.
Di Indonesia, ada beberapa grup musik yang concern pada kampanye penyelamatan lingkungan. Melalui rilis kepada media, grup musik asal Solo, Down for Life (DFL), turut mengampanyekan isu lingkungan melalui musik cadas mereka.
DFL merilis video musik menarik pada nomor andalan Prahara Jenggala melalui akun YouTube Prahara Jenggala. Mereka mengusung kisah nyata perjuangan Suku Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat melawan penghancuran hutan adat mereka oleh perusahaan bernama PT Mayawana Persada. Dalam rentang waktu tiga tahun, 33.000 hektare hutan alam (7,5 x luas wilayah Solo Raya) telah dibabat habis oleh perusahaan.
Hutan tersebut merupakan habitat bagi orang utan, rangkong, dan banyak satwa endemik lainnya. Hutan juga menjadi sumber penghidupan masyarakat Dayak Kualan turun-temurun antargenerasi. Masyarakat kini bersatu melawan perenggut hutan mereka.
Meskipun sempat didera intimidasi dan kriminalisasi, api perlawanan tak pernah padam. Mereka percaya mempertahankan hutan adat adalah pertempuran yang melampaui batas ruang dan waktu; sebuah pengorbanan untuk menjaga warisan sejarah dan masa depan kehidupan; sebuah perlawanan untuk memelihara praktik hidup yang luhur, yang menghargai keselarasan antara manusia dan alam.
Perjuangan masyarakat adat Kualan Hilir sejatinya tak hanya untuk kelompok mereka sendiri, juga bagi kelangsungan makhluk hidup secara keseluruhan. Prahara Jenggala bakal menjadi salah satu single terbaru DFL dalam album terbaru Kalatidha yang akan dirilis pada 2025 oleh Blackandje Records.
Kolaborasi dalam musik perlawanan ini didukung penuh Trend Asia, Blackandje Records bersama dengan kelompok musisi yang terhimpun dalam Music Declares Emergency. Tak hanya merilis video klip, mereka juga mengajak semua orang untuk bergabung dalam gerakan #NoMusicOnADeadPlanet.
Seorang anak perempuan memasuki halaman Ruang Solidaritas Joli Jolan di Jalan Siwalan 1, Kerten, Laweyan, Solo, pada Sabtu siang beberapa bulan silam. Ia datang bersama ibu dan neneknya, mengenakan rok tutu warna merah muda, rambut dikuncir kuda.
Senyumnya lepas begitu melihat pojok mainan di Galeri Joli Jolan. Sebuah boneka berukuran sedang dia ambil. Dia memilih-milih lagi, agak lama. Wajahnya tersipu malu saat saya dekati. Kutanya, kenapa masih sibuk mencari boneka yang serupa? Dia bilang harus membawa dua untuk diberikan saudara perempuannya yang kebetulan sedang sakit di rumah. Saya pun tersenyum tipis sambil ikut mencarikan, meski butuh waktu cukup lama untuk dapat jenis yang serupa.
Hari itu, pengunjung kecil Joli Jolan tersebut tak sekadar mengambil boneka, tapi juga mengambil hati kami. Ia mengingatkan agar ruang solidaritas ini terus dirawat, jadi rumah yang nyaman bagi siapa pun yang singgah.
Empati untuk Merawat Solidaritas
Ibarat kendaraan, empati adalah mesin kami. Gerbong Joli Jolan tak akan benar-benar kukuh tanpa adanya kesadaran dan welas asih dari para sukarelawan, donatur, maupun para pengunjung. Sukarelawan hampir tak pernah absen membuka galeri tiap hari Sabtu dan melakukan sortir barang pada hari Rabu. Kami paham betul bahwa ada puluhan orang yang menunggu untuk mengambil dan berbagi barang tiap akhir pekan.
Apalagi di momen-momen besar seperti Lebaran. Rumah kami terbuka bagi mereka yang juga ingin punya baju ganti tapi tak sempat membeli pakaian karena impitan kebutuhan. Gamis dan blus panjang biasanya laris manis. Anak-anak asyik memilih baju, sementara si ibu khusyuk memilah-milah kerudung. Pada saat bersamaan, beberapa orang yang merasa berlebih pakaian juga rajin mengirimkan barang di galeri Joli Jolan. Misinya satu, mengajak semua orang merayakan kebahagiaan pada hari besar tersebut. Mereka meyakini, layaknya emosi sedih dan marah, bahagia tak akan benar-benar abadi. Jadi sudah seharusnya saling dibagi.
Berdiri sejak 21 Desember empat tahun silam, perjalanan kami juga tak pernah lepas dari kolaborasi. Sejumlah kawan dari lintas organisasi maupun secara personal datang silih berganti, saling bergandeng tangan untuk terus memumpuk rasa peduli. Upaya bersama ini yang juga menjadi penyuntik semangat kami.
Layaknya bayi, empat tahun adalah saatnya merangkak, bergerak, dan mengenal lebih banyak warna. Itu pula salah satu harapan kami. Meski riaknya masih kecil, kami ingin menjadi lilin yang terus menyalakan empati dan welas asih. Menjadi penerang di tengah dunia yang serba cepat dan serba menuntut sejumlah orang menjadi oportunis serta mementingkan diri sendiri.
Kami tak bisa menjanjikan terus ada hingga belasan atau puluhan tahun nanti. Namun, budaya saling memberi dan menerima dengan penuh kasih ini semoga selalu tertanam di sanubari. Tanpa itu, tak pernah ada Joli Jolan hingga hari ini. Dirgahayu keempat tahun Joli Jolan!
Pada zaman kiwari, kita diajak membaca sejarah dengan cara yang cukup mudah. Salah satunya disampaikan lewat ingar bingar panggung musik. Begitu kiranya misi utama festival musik andalan Prambanan Jazz Festival (PJF) hingga mampu melewati sewindu perjalanan.
Momen yang paling mengena pada perayaan sewindu Prambanan Jazz Festival akhir pekan lalu yakni penampilan solois asal Yogyakarta, Kunto Aji. Pernah gagal kompetisi ajang pencarian bakat, ia justru bertemu dengan dirinya sendiri. Berkarier sebagai penyanyi tunggal hingga mencipta album Mantra Mantra yang mengajak pendengarnya kontemplasi setidaknya tiga tahun terakhir ini.
Gebukan drum dimulai, suara sang penyanyi terdengar hangat di telinga. Saatnya menikmati lirik lagu sembari glorifikasi masa lalu. Disusul romansa Bandung Bandawasa dan Roro Jonggrang yang terekam kuat dari latar panggung siluet Candi Prambanan.
Deretan lagu ciptaan Kunto Aji yang dinyanyikan saat PJF hari kedua, Sabtu (2/7/2022), membawa Joani Twelvia, 32, pada ruang nostalgia tiga tahun silam. Nomor andalan berjudul Sulung yang dirilis bersama album Mantra Mantra akhir 2018 dan booming 2019 jadi obat penawar rindu baginya.
Lirik “cukupkanlah, ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu” yang dibawakan dengan lampu temaram membuat Joani semakin terharu. Cerita soal kerelaan melepaskan sesuatu itu jadi judul paling sentimental bagi Joani atau biasa dipanggil Jojo sepanjang PJF 2022. “Rasanya adem banget. Seneng akhirnya bisa merasakan konser langsung setelah dua tahun absen karena pandemi,” ucap penggemar Kunto Aji asal Solo ini, Sabtu.
Jojo mengamini latar Candi Prambanan yang menjadi venue langganan PJF tak pernah gagal dalam mengiringi konser musikus Tanah Air. Bersama ribuan penikmat musik lainnya, Jojo, sing along hampir sepanjang pentas.
Sebelum Kunto Aji, Jojo dan para penggemar PJF lain juga diajak kontemplasi lewat lagu-lagu dengan beat pelan oleh solois Tulus. Sejumlah judul hit di album terbarunya Manusia, dinyanyikan selama satu jam tanpa jeda. Hati-Hati di Jalan, Diri, dan Jatuh Suka langsung direspons penonton dengan sing along bersama.
Saking tingginya antusias penggemar, Tulus, diundang kembali pada PJF 2022 hari ketiga, Minggu (3/7/2022). Langganan jawara Anugerah Music Indonesia di sejumlah kategori ini menutup PJF 2022 hari terakhir dengan apik. Euforia merayakan kembali panggung jaz bersama Tulus pada Minggu malam tak terasa membosankan meski ia kembali membawa song list sama seperti sebelumnya.
Meriah
PJF 2022 merupakan gelaran musik tahunan berskala internasional. Panitia mengklaim setiap tahunnya selalu menyuguhkan proses kolaborasi antara dua mahakarya, yakni musik dan narasi sejarah Candi Prambanan.
Founder Rajawali Indonesia sekaligus CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, melalui rilis yang dikirimkan kepada wartawan, Senin (4/7/2022) mengatakan penyelenggaraan PJF 2022 berlangsung meriah. “Alhamdulillah penyelenggaraan Prambanan Jazz selama tiga hari berjalan dengan lancar, bahkan melebihi dari ekspektasi kami sebelumnya. Kami semua benar-benar merayakan rindu bersama. Sama seperti tema yang kami usung pada tahun ini,” kata Anas.
Mengusung tema Sewindu Merayakan Rindu, PJF 2022 menjadi momen perayaan dua tahun pertemuan setelah pandemi sekaligus delapan tahun perjalanan PJF sejak 2014 silam. Perayaan tahun ini diadakan selama tiga hari mulai Jumat-Minggu (1-3/7/2022).
Sejumlah musikus Tanah Air mengawal pentas pertemuan PJF 2022 dengan para penggemarnya. Mereka di antaranya Andien, Pamungkas, Ardhito Pramono, Maliq & D’Essentials, Kukuh Kudamai feat Ndarboy Genk, Diskoria feat Fariz RM, Melancholic Bitch, Dere, Tulus, Kunto Aji, Padi Reborn, Sore, Mus Mujiono, Deddy Dhukun, Nania Yusuf, Everyday, dan Trio Lestari.
Sama halnya dengan penonton, vokalis Kahitna, Mario Ginanjar, ikut antusias dengan PJF 2022 yang diselenggarakan secara offline tahun ini. Ia mengibaratkan kedekatan Prambanan Jazz dan Kahitna seperti lagunya berjudul Soulmate. “Prambanan Jazz dan Kahitna itu sudah seperti Soulmate. Ngerasa bangga bisa tampil di Prambanan Jazz tahun ini. Kami bangga sekali bisa manggung di sini. Karena Candi Prambanan adalah warisan budaya asli Indonesia, dan kami adalah musisi yang berasal dari Indonesia. Prambanan Jazz adalah event yang selalu kami tunggu,” puji Mario.
Anak muda di wilayah Laweyan Solo menginisiasi gerakan peduli lingkungan dalam tajuk Resik Resik X (dibaca kali atau sungai). Gerakan ini dimulai pada 2019 lalu. Saat itu sang inisiator, Eko Pethel, yang merupakan warga setempat mengaku risih melihat sungai dekat rumahnya yang terlihat kotor dan menghitam. Dia lalu turun ke sungai dan merasakan betapa dangkalnya lokasi tersebut.
Eko kemudian membuat video tentang kondisi sungai dan diunggah di laman media sosial (medsos). Saat itu banyak yang merespons dan mendorong untuk membuat agenda bersih-bersih sungai. Hingga akhirnya menjadi gerakan besar bernama Resik-Resik X yang melibatkan banyak anak muda pegiat seni dan berbagai bidang lain di sekitar Solo.
Gerakan yang sebenarnya bertujuan mengembalikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peduli lingkungan ini direspons banyak pihak. Warga setempat hingga komunitas-komunitas di sekitar Solo. Eko dan warga beberapa kali membuat kegiatan bersih-bersih sungai, mancing bersama, hingga pembacaan puisi di pinggir kali. “Sungai itu hanya kujadikan sebagai trigger, intinya adalah tentang gerakan kesadaran merawat lingkungan,” terang Eko saat berbincang dengan tim Joli Jolan di markas Joli Jolan bilangan Kerten, Laweyan, Kamis (11/3/2021) lalu.
Pot dan Limbah Fesyen
Saat melakukan bersih-bersih sungai mereka menemukan banyak sampah fesyen yang terbawa arus sungai. Sampah berupa pakaian tersebut kemudian mereka kumpulkan karena bisa mengganggu jalannya air dan berdampak pada banjir. Setelah terkumpul cukup banyak, pakaian tak layak tersebut kemudian mereka olah menjadi bahan kerajinan tangan seperti hiasan rumah dan pot bunga.
Bersama rekannya bernama Cherik, Eko, sempat mempraktikkan pemanfaatan limbah fesyen menjadi pot dan hiasan rumahan dalam acara workshop Sampah Jadi Cuan dan Kerajinan di Joli Jolan. Eko mempraktikkan mudahnya membuat pot sampah atau hiasan rumahan dari kain. Hanya perlu menyiapkan pakaian bekas berbahan kaus, gunting, cetakan, dan semen. Detail praktiknya bisa dilihat di kanal YouTube Joli Jolan.
Eko mengatakan pengembangan program Resik Resik X dengan pot tanaman tersebut cukup menjanjikan. Jika mau diseriusi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Beberapa waktu lalu ketika ada lomba penghijauan di kampungnya, ia mengajak warga sekitar untuk bersama-sama memproduksi pot dengan kain tersebut. Hasilnya cukup lumayan, tanpa modal besar, kampungnya terlihat indah warna-warni.
Cherik dan Eko sepakat tak mau menjadikan Resik Resik X sebagai nama komunitas. Mereka menyebutnya sebagai gerakan bersama. Dengan begitu programnya tak mengikat dan bisa dikerjakan di mana pun. Gerakan peduli lingkungan Resik Resik X bahkan siap berkolaborasi dengan siapa pun asal memiliki misi yang sama. Termasuk dengan Joli Jolan lewat workshop sampah pada Kamis lalu.
Menurutnya gerakan kolaborasi seperti ini sangat penting di masa sekarang. Kita semua akan kesulitan jika bekerja sendiri. Namun, jika dilakukan bersama-sama, gaungnya akan lebih besar. Eko juga mengapresiasi gerakan Bank Sampah yang menjadi konsentrasi diskusi pada workshop Kamis lalu. Bank Sampah merupakan upaya memperpanjang umur barang. Menariknya program tersebut melibatkan para ibu-ibu.
Gerakan Resik-Resik X bahkan menarik perhatian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov). Humas Pemprov Jateng mengapresiasi inovasi anak muda ini dengan mendokumentasikan video feature mereka. Kemudian dipublikasikan di kanal YouTube Humas Jateng bertepatan pada Hari Sampah Nasional, Rabu (24/2/2021). Tujuannya agar gerakan ini menjadi contoh masyarakat tentang semangat menjaga alam dan lingkungan sekitar.