Tempe, tahu, telur, dan ikan bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Namun, selain harga dan kandungan gizi, cara masyarakat memandang makanan juga menentukan apa yang tersaji di meja makan.
Bagi sebagian orang Indonesia, tempe adalah lauk sederhana yang mudah ditemukan di pasar atau warung. Harganya relatif terjangkau dan cara mengolahnya pun beragam. Namun, ketika makanan yang sama disajikan di luar negeri, nilainya bisa berubah, bahkan dianggap sebagai pangan premium.
Kontras itulah yang disoroti Akhmed Forest Khan, akademisi sekaligus peneliti gizi, dalam acara Rasa Nusantara, Mengupas Gizi Lewat Rasa dan Cerita di Ruang Patha, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Senin (26/10/2026).
“Saya terkadang merasa gemas dengan kebiasaan sebagian orang Jawa yang malu ketika makan tempe,” ujar jebolan S2 Ilmu Gizi Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.
Menurut dia, tempe memiliki potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama sebagai sumber protein nabati. Persoalannya bukan hanya kandungan gizi, melainkan juga persepsi masyarakat yang terkadang menempatkan makanan lokal di bawah produk pangan yang dianggap lebih modern atau bergengsi.
“Pola pikir kita juga perlu diperbaiki. Kita tidak harus selalu mengandalkan ayam atau daging untuk memenuhi kebutuhan protein. Tempe juga merupakan bahan pangan yang sangat baik,” kata Babah Afo, sapaan akrabnya.
Pernyataan itu relevan dengan kehidupan rumah tangga yang harus menyeimbangkan kebutuhan gizi dan kemampuan belanja. Memenuhi kebutuhan protein tidak selalu berarti membeli bahan pangan termahal.
Namun, memilih makanan juga tidak cukup hanya dengan melihat harga murah atau label sehat. Kandungan gizi, variasi menu, cara pengolahan, dan kondisi setiap keluarga tetap perlu dipertimbangkan.
Potensi Tempe yang Kerap Diremehkan
Tempe merupakan produk fermentasi kedelai yang telah lama menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia. Bahan pangan ini dapat diolah menjadi beragam hidangan, mulai dari tempe goreng, tumisan, pepes, bacem, hingga campuran sayuran.
Kementerian Kesehatan mencantumkan bahwa 50 gram tempe atau sekitar dua potong ukuran sedang mengandung sekitar 75 kilokalori dan 5 gram protein. Jumlah tersebut dapat menyumbang kebutuhan protein harian, meskipun pemenuhan kebutuhan gizi tetap bergantung pada keseluruhan makanan yang dikonsumsi.
Babah Afo menyoroti pula proses fermentasi yang membuat tempe memiliki karakteristik berbeda dari kedelai yang belum difermentasi. Proses tersebut dapat memengaruhi kecernaan protein dan karakteristik zat gizi dalam bahan pangan.
“Karena mengalami fermentasi, tempe memiliki karakteristik yang disebut partially hydrolyzed atau terhidrolisis sebagian. Dengan demikian, ketika masuk ke dalam tubuh, tempe relatif lebih mudah dicerna,” ujarnya.
Meski demikian, kualitas protein tidak ditentukan oleh daya cerna semata. Komposisi asam amino, jumlah protein yang dikonsumsi, dan kebutuhan tubuh juga berperan. Karena itu, pernyataan bahwa kualitas protein tempe dapat mendekati protein daging perlu dipahami sesuai konteks penelitian dan tidak berarti keduanya identik dari sisi kandungan gizi.
Babah Afo sendiri mengingatkan agar perbandingan tersebut tidak ditarik terlalu jauh. “Jangan sampai kesimpulannya menjadi bahwa tempe sama persis dengan daging. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda,” katanya.

Tempe Mendoan dan Cara Kita Memandang Makanan
Babah Afo juga menyinggung perbedaan persepsi terhadap tempe di Indonesia dan luar negeri. Ia menyebut bahwa di sejumlah tempat di Eropa, satu potong tempe mendoan dapat dihargai sekitar Rp24.000 jika dikonversikan ke rupiah. Sementara itu, harga paket makanan cepat saji di negara Eropa bisa lebih murah dari harga sebuah tempe mendoan
Bagi Akhmed, perbandingan itu menarik karena menunjukkan bahwa nilai suatu makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya. Tempat penjualan, proses pengolahan, ketersediaan produk, dan citra yang melekat pada makanan dapat ikut membentuk harga serta persepsi konsumen.
Ia juga menyinggung orang-orang dari luar negeri yang tertarik mempelajari pembuatan tempe. Di sisi lain, menurut pengamatannya, sebagian masyarakat Indonesia justru menganggap tempe sebagai makanan yang terlalu biasa. “Orang di luar negeri justru tertarik pada makanan yang biasa kita konsumsi di sini,” ujar dia.
Tempe bukan satu-satunya sumber protein yang bisa diandalkan. Tahu, telur, ikan, dan kacang-kacangan juga dapat menjadi bagian dari menu keluarga. Ikan kembung, tongkol, dan bandeng, misalnya, merupakan pilihan sumber protein hewani yang dikenal dalam konsumsi masyarakat Indonesia. Sementara itu, tahu dan kacang-kacangan dapat melengkapi pilihan protein nabati.
Panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pola makan beragam yang memadukan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah. Artinya, pemenuhan protein tetap perlu berjalan bersama upaya menjaga keseimbangan asupan gizi.
Menghargai Pangan Lokal Tanpa Mengabaikan Kebutuhan Gizi
Persoalan makanan bergizi tidak berhenti pada pengetahuan mengenai kandungan gizi. Ada pula pertanyaan tentang waktu, tenaga, fasilitas penyimpanan, dan kemampuan rumah tangga untuk menyiapkan makanan setiap hari.
Peneliti pangan Maria Stephanie, yang juga hadir dalam acara Rasa Nusantara, menyoroti bahwa pilihan makanan praktis tidak bisa langsung dinilai sebagai sesuatu yang buruk. Menurut pandangannya, konteks kehidupan setiap orang perlu diperhitungkan.
Steffi, sapaan akrabnya, menceritakan bahwa ia memanfaatkan halaman belakang rumah kontrakannya yang berukuran sekitar 3 x 10 meter untuk menanam sayuran dan tanaman bumbu. Bahan tersebut dapat dipetik ketika dibutuhkan, termasuk untuk menemani kegiatan memasak sehari-hari.
Namun, peraih gelar Master of Philosophy di bidang Ilmu Pangan dari The University of Queensland itu juga menyadari tidak semua orang memiliki lahan seperti itu. Begitu pula dengan fasilitas lemari pendingin atau freezer yang cukup besar untuk menyimpan bahan makanan dalam jumlah banyak.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa strategi makan lebih baik tidak bisa diterapkan dengan satu cara yang sama kepada semua orang. Menanam sayuran sendiri mungkin membantu sebagian keluarga, tetapi tidak selalu realistis bagi mereka yang tinggal di ruang terbatas atau memiliki waktu yang sempit.
Mengubah cara pandang terhadap pangan lokal bukan berarti harus menolak daging, ayam, atau makanan praktis. Persoalannya adalah membuka lebih banyak pilihan dan memahami bahwa sumber protein memiliki karakteristik masing-masing.
Tempe dapat menjadi sumber protein nabati yang berguna, sementara telur dan ikan menawarkan pilihan protein hewani. Tahu dan kacang-kacangan juga dapat melengkapi menu. Pilihan akhirnya tetap bergantung pada kebutuhan tubuh, ketersediaan bahan, kondisi kesehatan, serta kemampuan rumah tangga.
