Categories
Gaya Hidup

Kebiasaan Sederhana Menghindari Belanja Impulsif

Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal yang sama. Awalnya hanya ingin membuka aplikasi belanja untuk melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian keranjang sudah terisi dan tombol checkout terasa begitu menggoda. Padahal, belum tentu semua barang yang dipilih benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan seperti inilah yang membuat belanja impulsif semakin mudah terjadi di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak.

Ironisnya, rasa puas setelah membeli sering kali tidak bertahan lama. Barang datang, digunakan beberapa kali, lalu perlahan terlupakan di sudut lemari atau rak penyimpanan. Oleh karena itu, membangun kebiasaan berbelanja dengan lebih sadar tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Memberi jeda 24 jam sebelum membeli bisa menjadi langkah sederhana untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena diskon, tren, atau rasa takut ketinggalan.

Ketika keputusan membeli sudah terasa lebih yakin, kebiasaan berikutnya adalah berbelanja dengan tujuan yang jelas. Membuat daftar kebutuhan apa saja yang perlu kita beli membantu kita untuk tetap fokus dan mengurangi pembelian yang tidak direncanakan. Lalu, terapkan prinsip one in, one out: setiap kali ada satu barang baru yang masuk, keluarkan satu barang lama yang sudah tidak digunakan. Barang tersebut bisa dijual, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu pemilik saja.

Cara lain yang mulai banyak diterapkan adalah menyewa daripada membeli. Saat musim pernikahan, misalnya, semakin banyak orang memilih menyewa kebaya atau gaun yang hanya dipakai sekali. Di kota-kota besar, layanan sewa kini juga semakin mudah ditemukan melalui media sosial maupun platform digital untuk berbagai kebutuhan sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa memiliki bukan lagi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan.

Yang tak kalah penting, rawat barang yang sudah dimiliki. Membersihkan sepatu, memperbaiki pakaian yang sobek, atau merawat peralatan rumah tangga dapat memperpanjang usia pakainya. Tidak semua barang yang mulai rusak harus langsung diganti. Sering kali, sedikit waktu untuk merawat atau memperbaikinya justru membuatnya bertahan lebih lama. Barangkali, yang paling perlu dipikirkan sebelum menekan tombol checkout bukan seberapa besar diskonnya, melainkan apakah barang itu benar-benar akan kita gunakan, atau hanya menjadi penghuni baru di sudut lemari.

Categories
Gaya Hidup

Beli? Nanti Dulu, Sewa Aja

Beberapa tahun lalu, memiliki barang sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan. Apalagi membeli barang-barang yang dirasa sedang tren, meskipun harganya tidaklah murah. Inilah yang menjadi salah satu penanda konsumerisme terjadi di dalam masyarakat.

Namun, kini cara pandang tersebut perlahan mulai berubah. Di kalangan anak muda, tren menyewa barang mulai diminati karena dianggap lebih praktis, hemat, dan sesuai dengan kebutuhan. Bagi mereka, yang terpenting bukan lagi memiliki sebuah barang, melainkan dapat menggunakan barang tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Menjelang konser, misalnya, tidak sedikit penggemar yang memilih menyewa smartphone dengan kamera berkualitas tinggi agar dapat mengabadikan penampilan idola mereka dengan hasil yang lebih jernih atau kamera mirrorless untuk liburan. Jadi, jangan buru-buru beranggapan bahwa mereka yang menyewa smartphone mewah ingin tampil sebagai orang yang mampu. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi tidak semua orang memiliki keinginan yang sama. Ada yang memang kebutuhannya terhadap smartphone mewah hanya sementara karena mereka hanya memanfaatkan kameranya untuk acara tertentu.

Selain barang-barang teknologi, ada pula yang menyewa gaun untuk menghadiri pesta akhir tahun, menyewa perlengkapan camping untuk akhir pekan, ataupun menyewa perlengkapan anak untuk keluarga dengan anak kecil. Ayunan, perosotan plastik, bahkan stroller kini bisa disewa secara harian atau bulanan sesuai kebutuhan. Barang-barang tersebut umumnya hanya digunakan dalam periode tertentu, sehingga menyewa sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan membeli.

Perubahan gaya hidup ini tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Beragam layanan penyewaan kini dapat ditemukan melalui aplikasi maupun media sosial. Proses mencari, memesan, hingga mengembalikan barang pun menjadi semakin mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kemudahan tersebut membuat proses menyewa daripada membeli menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran bulanan mereka dengan lebih bijak.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan dalam cara mengonsumsi. Ketika satu barang dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian, kebutuhan untuk membeli barang baru dapat berkurang. Pola seperti ini sejalan dengan konsep sharing economy, yaitu memanfaatkan sumber daya yang sudah ada agar penggunaannya lebih optimal dan tidak berlebihan.

Tren menyewa barang menunjukkan bahwa cara pandang terhadap kepemilikan mulai bergeser. Nilai sebuah barang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang memilikinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan saat benar-benar dibutuhkan. Memiliki memang tetap menjadi pilihan, tetapi kini semakin banyak orang menyadari bahwa tidak semua kebutuhan harus berakhir dengan membeli. Ternyata dengan menyewa, guna barang tersebut tetap dapat digunakan.

Categories
Gaya Hidup

Digital Decluttering, Bukan Sekadar Hapus Aplikasi

Hampir sebagian besar pengguna smartphone pernah merasakan situasi seperti ini, membuka ponsel untuk membalas satu pesan, tetapi malah berakhir menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Ternyata situasi seperti itu tidak hanya membuang waktu berharga, tetapi juga membuat pikiran kurang fokus dan cepat lelah. Tanpa disadari, ruang digital yang dipenuhi notifikasi, file, foto, dan aplikasi yang jarang digunakan dapat membuat pikiran terasa semakin sesak. Kondisi inilah yang akhirnya membuat digital decluttering semakin banyak diterapkan sebagai kebiasaan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, termasuk smartphone.

Digital decluttering adalah kebiasaan merapikan ruang digital dengan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, membersihkan file yang menumpuk, mengatur ulang email, serta membatasi notifikasi yang benar-benar penting. Tujuannya bukan menghindari teknologi atau mengalihkan perhatian, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar agar mendukung aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan ini terasa semakin relevan karena ruang digital kita terus dipenuhi oleh berbagai hal yang bersaing merebut perhatian. Notifikasi media sosial, promosi belanja, hingga rekomendasi video yang hadir kapan saja tanpa jeda. Semakin banyak distraksi yang muncul, semakin mudah pula kita kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya sedang kita kerjakan.

Untungnya, merapikan ruang digital tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana seperti menghapus aplikasi yang jarang dibuka, berhenti mengikuti akun yang tidak lagi memberi manfaat, membersihkan screenshot yang sudah tidak relevan, atau meluangkan beberapa menit untuk merapikan galeri foto sudah cukup untuk memulai. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak dipenuhi gangguan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih terkelola berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Temuan tersebut sejalan dengan konsep digital minimalism, yaitu menggunakan teknologi secara sengaja sesuai kebutuhan, bukan sekadar
mengikuti kebiasaan atau takut tertinggal. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kita berada di depan layar, melainkan bagaimana kita memberi ruang bagi perhatian agar tetap tertuju pada hal-hal yang benar-benar penting.

Tidak semua orang perlu menghapus seluruh aplikasi atau berhenti menggunakan media sosial seketika. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ruang digital terasa lebih tertata, perhatian tidak lagi mudah terpecah, dan waktu yang kita miliki pun terasa lebih utuh. Mungkin yang selama ini kita butuhkan bukan lebih banyak waktu di depan layar, melainkan lebih banyak kendali atas cara kita menggunakannya.

Categories
Gaya Hidup

Upaya Sederhana Mengatasi Masalah Sampah

Belakangan ini, masalah sampah kembali bikin sumpek warga. Tepatnya di Kota Solo, TPA Putri Cempo kalang kabut menerima kiriman sampah yang seakan tak pernah surut. Alat beratnya rusak, yang bikin pengambilan sampah warga menjadi semakin tersendat.

Di kampung saya sendiri, Sawahan, Boyolali, problem sampah pun hampir mirip. Ada warga yang protes sampahnya tak kunjung diambil sehingga menumpuk. Usut punya usut, TPS kampung ternyata kembali overload. Sampah yang biasanya diambil sepekan dua kali pun jadi hanya sekali.

Gimana, ya, pemerintah kita memang separah itu dalam mengurusi masalah persampahan. Padahal pengelolaan sampah adalah hal yang esensial jika dibandingkan dengan pembangunan hal-hal fisik tertentu, seperti misalnya membangun masjid baru, koridor wisata, atau pengadaan gapura.

Saking esensialnya, sepekan saja petugas sampah tidak datang ke rumah mengambil sampah, kita sebagai warga sudah menjerit. Namun, sayang tidak banyak yang bersedia untuk berpikir dan mencari alternatif lain dalam menaggulangi masalah persampahan tersebut. Salah satu yang paling sederhana adalah membuat biopori.

Selain mengurangi genangan (yang bisa memicu jentik nyamuk), biopori dapat menjadi wadah mengelola sampah organik menjadi kompos. Sampah sayuran, daun, dan sejenisnya pun dapat terkelola dan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah.

Apabila terkendala masalah biaya, kita bisa menggunakan metode botol bekas untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik cair atau ecoenzyme. Tutorialnya banyak tersedia di media sosial maupun YouTube. Tinggal kembali pada kita pribadi, mau sedikit repot melakukannya atau memilih menunggu orang lain saja (dalam hal ini dinas terkait) untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang kita produksi.

Praktik Pembuatan Biopori

Berikut langkah demi langkah untuk membuat biopori secara sederhana yang dikutip dari website zerowaste.id. Terlebih dahulu siapkan alat-alatnya sebagai berikut:

  1. Pipa PVC dan tutupnya (diameter 10 cm panjang 1 meter) yang telah dilubangi kecil-kecil dengan bor.
  2. Bor tanah (diamater bor tanah 10 cm dan dengan kedalaman 100 cm).
  3. Linggis.
  4. Palu untuk tanah yang keras atau berbatu atau berakar.
  5. Ember dengan gayung ketika melunakkan tanah.
  6. Sampah organik (daun kering, sisa sayur buah ikan dan lain-lain).
Gambar: Bor tanah.

Setelah alat siap, lakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Pilih tanah yang tidak berbatu. Jika tanah berbatu atau keras, gunakan palu untuk sedikit menghancurkannya.
  2. Lubangi tanah dengan menggunakan bor tanah yang diputar searah jarum jam, hingga kedalamannya kurang lebih 1 meter. Apabila ada akar atau tanah yang agak keras, bisa disiram dengan air dan ditunggu sebentar agar menjadi lebih lunak.
  3. Masukkan pipa PVC yang telah dilubangi dan masukkan sampah organik dari dapur dan lingkungan sekitar.
  4. Tutup dengan tutup yang telah dilubangi, kemudian tutupi dengan tanah sekitarnya tetapi jangan sampai menutupi tutup pipanya. Biarkan tutup pipa terlihat sehingga kita bisa tahu di mana lubang biopori berada.

Untuk mengetahui lebih lanjut proses biopori dan upaya-upaya serupa, bisa mampir ke zerowaste.id. Ada informasi-informasi menarik seputar zero waste yang dapat dipelajari di sana.

Saya selalu percaya bahwa kepedulian kecil yang kita lakukan dapat membawa manfaat. Bayangkan jika kepedulian kecil ini dilakukan secara serentak dan berkelanjutan. Hasilnya pasti akan jauh lebih terasa. Tidak perlu muluk-muluk demi bumi, setidaknya untuk diri kita sendiri. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!

Categories
Gaya Hidup

Thrift Store Berbasis Komunitas Di Tampa

Beberapa hari setelah kedatangan saya di Tampa, saya diajak berbelanja perlengkapan esensial untuk kebutuhan sehari-hari saya selama tinggal di sini. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah thrift store, sebuah “department store” yang menjual barang-barang bekas layak pakai atau sering disebut pre-owned dengan harga yang terjangkau. Dua thrift store yang kami kunjungi saat itu adalah Community Thrift Store dan The Salvation Army yang yang berada di Nebraska Ave.

Meskipun menjual barang-barang bekas layak pakai atau pre-owned, thrift store dikonsep dengan matang dan tidak asal-asalan. Barang-barangnya pun ter-display dengan rapi dan terawat, meski tetap terlihat bukan barang baru. Barang yang dijual juga beragam dan terkurasi dengan baik, mulai dari perabotan rumah, pakaian, sepatu, mainan anak, sepeda, perkakas dapur, hingga barang koleksi.

Thrift store pada umumnya dikelola secara profesional oleh komunitas, organisasi keagamaan, maupun organisasi nirlaba. Walau tidak semewah department store atau retailer besar pada umumnya, thrift store tetap memberikan fasilitas kenyamanan, mulai dari AC, kebersihan tempat, musik latar yang terus memainkan hits populer era 90-an, dan juga troli belanja. Pengalaman berbelanja menjadi semakin nyaman, mudah, dan tentu saja terkesan profesional.

Selain itu, thrift store juga memiliki program marketing yang benar-benar dipersiapkan dengan sangat terstruktur, seperti diskon pembelian barang-barang tertentu bagi para membernya pada minggu tertentu. Ini menunjukkan bagaimana thrift store benar-benar dikelola secara matang dan terarah. Kombinasi hal-hal seperti itulah yang pada akhirnya menjadikan thrift store berhasil tumbuh di tengah-tengah masyarakat Amerika. Thrift store tidak hanya memperpanjang usia barang-barang layak pakai yang ada di sana, tetapi turut berkontribusi membuka lapangan kerja baru dan menjaga standar pelayanan komunitas.

Perkembangan thrift store di Tampa, Florida, pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakatnya menerima thrift store itu sendiri. Mulai dari anak muda hingga orang tua, semua datang untuk mencari kebutuhan mereka masing-masing. Lupakan gengsi dan perasaan minder, mereka tidak risih atau ragu berbelanja di sana asalkan barang yang ditawarkan memang murah dan layak pakai. Membeli di thrift store bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak trendi, melainkan kebiasaan yang memang dilakukan karena kebutuhan.

Relevankah Mengadaptasi Konsep Thrift Store?

Pengalaman di thrift store pun mengingatkan saya kembali dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan. Keduanya memiliki kesamaan terkait upaya perpanjangan usia barang layak pakai, meski berbeda metode. Kemudian muncul pertanyaan dalam hati, apakah Joli Jolan nantinya dapat bertransformasi menjadi thrift store? Apakah konsep thrift store dengan pengelolaan profesionalnya relevan untuk komunitas tersebut? Mengingat akan adanya biaya-biaya tambahan serta strategi progresif yang bakal menyertainya.

Asalkan konsep thrift store masih selaras dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Joli Jolan, yakni ruang solidaritas berbagi barang secara gratis, maka mengadopsi konsep thrift store bukanlah hal yang tidak mungkin, tentunya dengan beberapa penyesuaian. Butuh waktu, persiapan, dan strategi yang tepat agar Joli Jolan dapat berkembang menjadi sebuah ruang profesional layaknya thrift store. Ketika hal itu tercapai, semua pihak tentunya perlu untuk beradaptasi kembali dengan langkah yang diambil Joli Jolan. Sebab, Joli Jolan tidak lagi sekadar memberikan manfaat gratis kepada masyarakat, tetapi berorientasi pada profit demi keberlanjutan usahanya.

Categories
Gaya Hidup

Cara Bijak Mengonsumsi Barang

Setiap individu harus memiliki kesadaran penuh saat mengonsumsi barang atau memutuskan membeli sesuatu. Sebab, di dalamnya termuat tanggung jawab pribadi kepada sosial dan lingkungan. Alih-alih memenuhi kebutuhan dasar hidup, konsumsi yang didorong emosi demi memuaskan ego sesaat hanya akan berujung pada penyesalan.

“Saya suka membeli brand tertentu. Kalau muncul model baru, saya beli lagi. Bahkan, saya mau PO (purchase order) juga dan menunggu beberapa pekan. Bahkan, terkadang saya sampai lupa pernah membeli ini,” ujar seorang peserta menceritakan pengalamannya mengoleksi tas idamannya.

Seorang peserta lain menceritakan pengalamannya berbelanja bahan makanan untuk stok memasak di rumah selama 3-7 hari ke depan. Begitu sampai di rumah, dia menyimpannya di kulkas. Namun, rencana memasak hanya berujung sekadar rencana.

“Saya suka merasa bersalah setelah membeli. Tapi (merasa) bersalahnya sama suami. Ibu-ibu kadang mau cepat-cepat (mengumpulkan bahan makanan) tetapi lama-lama enggak jadi (memasak),” tutur dia, dalam sebuah Workshop Art Therapy bertajuk “Mindful Consumption with Sashiko” Bersama Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, dan founder InnerChild, Deenar Tan, hasil kolaborasi dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan di Santee Kopi, Kamis (1/5/2025).

Pengalaman-pengalaman di atas jamak dialami semua manusia. Keputusan membeli suatu barang kerap terjadi hanya dengan melihat bentuknya yang lucu, unik, stoknya yang makin sedikit atau sekadar angan-angan suatu hari akan membutuhkan produk tersebut.

Model konsumsi ini seringkali didorong oleh emosi, misalnya saat seseorang stres lalu memutuskan berbelanja sebagai bentuk coping. Selain itu, rasa bosan yang diisi dengan scroll-scroll lokapasar daring seringkali berakhir dengan check out produk-produk karena ketertarikan sesaat. Serangkaian proses itu berdampak pada sebuah penyesalan, penumpukan barang, dan risiko finansial. Tanpa disadari, pola ini membawa seseorang pada perilaku konsumtif.

“Proses pembelian barang ini seringkali didominasi oleh FOMO (fear of missing out) dan pemenuhan ego. Ada tren karena takut ketinggalan, pengaruh influencer, dan media sosial yang mendorong budaya konsumsi. Pemenuhan ego berpengaruh pada tujuan citra diri dan validasi sosial,” kata Adis, panggilan akrabnya.

Berbelanja dengan Penuh Kesadaran

Untuk mencegah praktik konsumerisme, Adis mengajak setiap orang untuk mengajukan beberapa pertanyaan reflektif terlebih dahulu sebelum memutuskan berbelanja: apakah aku membeli karena butuh atau hanya karena ingin? Apakah aku sadar saat membeli atau membeli tanpa keputusan matang? Apakah ada alternatif lain untuk mendapatkan barang yang sama?

Pertanyaan ini penting dan relevan karena aktivitas konsumsi manusia sedikitnya terbagi ke dalam tiga kelompok yakni: kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan hasrat (desires). Needs bersifat memenuhi kebutuhan esensial untuk menjalankan fungsi dasar hidup. Seseorang membutuhkan jaket saat naik ke puncak gunung. Sebab, tanpa jaket dia bisa mati kedinginan.

Sebaliknya, keinginan hanya bersifat tambahan yang membuat seseorang merasa hidup nyaman. Pemenuhan pada kelompok ini sejatinya tidaklah esensial atau utama. Misalnya, seseorang harus memiliki sepatu dengan brand tertentu. Fungsi sepatu tetap sebagai alas kaki, tetapi brand tertentu ini hanyalah keinginan.

“Terakhir, yang paling berbahaya, desires. Karena dorongan emosional, yang membeli jadi puas. Padahal, puas tidak pernah selesai. Dia akan naik terus,” imbuh Adis.

Untuk mengatasi pola konsumsi yang emosioanl ini, Adis menganjurkan agar menyiapkan catatan sebelum bepergian ke suatu tempat. Hal ini untuk mencegah keinginan-keinginan yang mendadak muncul saat tiba di tujuan. Menyiapkan catatan ini penting sebab seringkali orang-orang bepergian tanpa tujuan yang jelas.

Tip sederhana lain untuk membangun kebiasan mengonsumsi dengan kesadaran penuh adalah dengan mempraktikan SMART yang terdiri atas: stop and think, mindful questions, assess alternative, review what you have, dan take your time.

“Saat mau membeli, seseorang harus mempertimbangkan kebutuhan, nilai apakah ini sesuai dengan diri sendiri dan orang lain serta tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan,” imbau Adis.

Categories
Gaya Hidup

Keseharian di Jerman: Memilah Sampah hingga Hidup Lebih Sehat

Selama tinggal di Jerman beberapa bulan terakhir, saya kembali belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, misalnya dengan sadar mengelola sampah pribadi sampai hidup lebih sehat. Saya tiba di Bonn, Jerman, pada akhir Desember 2023, setelah natal dan tepat sebelum tahun baru. Saya pergi ke Jerman dalam rangka mengerjakan penelitian saya di bawah beasiswa Alexander von Humboldt International Climate Protection fellowship selama satu tahun. Di sini, saya tidak hanya belajar dan mengerjakan riset, tetapi juga belajar tentang budaya dan kehidupan bermasyarakat di Jerman, yang jauh berbeda dari Indonesia.

Saya dulu mengenal Jerman dari klub sepak bolanya dan juga nama besar negaranya sebagai salah satu jujugan pelajar dari Indonesia. Negara yang berada di sisi utara-tengah Eropa dan berbatasan dengan pegunungan Alpen di sisi Selatan ini dari dulu terkenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Saya sebetulnya tidak pernah sekalipun memimpikan untuk bisa menempuh pendidikan di sini, mengingat betapa sulitnya tembus belajar di negeri ini.

Akan tetapi, pada akhirnya, takdir membawa saya sampai ke negeri ini. Sejujurnya, ada rasa khawatir yang berulang kali muncul dan tenggelam dalam diri saya saat saya dalam perjalanan menuju ke Jerman. Apakah saya bisa beradaptasi dengan baik saat berada di sini dan sejauh mana saya akan berubah saat beradaptasi dengan kehidupan bermasyarakat yang baru?

Selama saya berada di sini, saya belajar mengenal Jerman dan hal-hal baru yang menarik dari kehidupan bermasyarakat di sini. Secara umum, masyarakat Jerman menjunjung tinggi nilai keteraturan, kedisiplinan, ketepatan waktu, aktivitas fisik di luar rumah, dan kecintaan terhadap alam. Semua ini direfleksikan oleh kegiatan masyarakat Jerman sehari-hari.

Ada beragam hal, yang pada akhirnya, ikut memengaruhi terbentuknya kebiasaan baru saya sehari-hari. Lalu, apa saja itu? Berikut ini merupakan beberapa poin terpenting yang mengubah kebiasaan saya.

Memilah Sampah

Di sini, sampah yang berasal dari kegiatan konsumsi kita perlu dipilah dari tingkat rumah tangga. Sampah itu dipilah sesuai jenisnya, yaitu sampah kemasan ringan untuk kemasan dari plastik, styrofoam, dan kaleng, sampah kemasan dari kertas atau karton, sampah organik, dan sampah residu. Sampah kemasan ringan biasanya ditandai dengan warna kuning. Sampah dari kertas dan karton ditandai warna biru. Sampah organik ditandai warna cokelat. Sampah residu ditandai warna abu-abu.

Selain sampah tersebut, ada pula sampah lainnya yang lokasi pembuangan khususnya juga telah disediakan, seperti sampah dari gelas, baju bekas, dan barang elektronik. Sampah dari gelas masih dibagi lagi berdasarkan warnanya, yaitu gelas bening, gelas hijau, dan gelas cokelat. Warga perlu membuang sampah sesuai ketentuan dan tiap jenis sampah akan diambil oleh petugas sampah sesuai jadwal pada setiap kota. Sampah-sampah yang masih dapat digunakan kemudian akan digunakan kembali (seperti baju bekas) dan didaur ulang.

Hidup Sehat

Sisi lain yang positif dari tinggal di Jerman adalah hidup dengan lebih sehat. Orang Jerman sangat sehat dan bugar. Mayoritas menyukai berolahraga, seperti jalan pagi, bersepeda, lari, hiking, atau berolahraga di pusat kebugaran. Orang Jerman sangat suka berolahraga dalam cuaca apa pun, baik itu hujan atau suhu dingin saat musim dingin. Mereka memiliki pepatah: “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung (tidak ada yang namanya cuaca buruk, adanya baju yang salah)”.

Selain gemar berolahraga, makanan di Jerman juga terbilang lebih sehat (apalagi bila dibandingkan di Indonesia). Sayuran seringkali dimakan dalam kondisi segar baik untuk makanan pembuka atau makanan pendamping. Makanan di Jerman juga tidak berlebihan dalam menggunakan garam dan gula. Walaupun begitu, rasa makanan ini akan terasa hambar untuk lidah orang Indonesia yang sering makan makanan yang kaya rasa dan rempah.

Berjalan Kaki, Bersepeda, dan Naik Angkutan Umum

Di Jerman, orang-orang lebih banyak yang berjalan kaki, bersepeda, dan naik angkutan umum. Kendati negeri ini menjadi salah satu produsen mobil di dunia dan mobil menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan penduduk, aktivitas berjalan kaki, dan naik angkutan umum sudah menjadi bagian sehari-hari di sini. Orang-orang juga semakin banyak yang memilih menggunakan sepeda karena menyadari pentingnya kelestarian alam.

Selama beberapa waktu di sini, saya seringkali berjalan kaki dengan teman-teman yang memilih rute berjalan kaki kendati ada rute naik angkutan umum ke tujuan, baik dengan bus dan tram, apabila jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Waktu 30 menit ini adalah waktu tempuh dengan kecepatan berjalan kaki orang Jerman, bukan orang Indonesia yang jarang berjalan kaki.

Di Jerman, saya biasa mencapai target berjalan kaki 5.000-10.000 langkah per hari hanya dengan berjalan kaki untuk keperluan sehari-hari. Jarak tersebut adalah jarak berjalan kaki harian rata-rata yang dibutuhkan manusia agar tetap sehat. Artinya, selama di Jerman, saya berjalan kaki untuk mobilitas sekaligus olahraga. Hal ini membuat badan saya lebih sehat secara tidak langsung.

Teratur dan Disiplin

Kehidupan di Jerman teratur. Orang-orang secara umum mengikuti aturan yang berlaku dan disepakati bersama, misalnya mengikuti aturan lalu lintas atau datang tepat waktu. Orang yang berjalan kaki akan diberikan prioritas oleh pengendara mobil saat menyeberang. Mereka akan berhenti saat melihat orang yang akan menyeberang jalan berdiri di tepi jalan dan menunggu sampai orang tersebut selesai menyeberang.

Di sini, orang-orang pada umumnya bekerja lima hari kerja, dari Senin hingga Jumat. Pada hari Sabtu, mereka bisa beristirahat atau berekreasi dengan keluarga atau teman. Hari Minggu adalah hari libur di Jerman. Jalanan hari Minggu umumnya sangat sepi. Hari Minggu di Jerman disebut juga sebagai “Ruhetag” atau hari beristirahat atau hari tenang. Pada hari ini, orang-orang diharapkan mengurangi aktivitas dan kebisingan dari aktivitas mereka. Mayoritas supermarket, restaurant, atau pertokoan banyak yang tutup pada hari ini. Jadi, kita harus menyelesaikan seluruh aktivitas belanja kita pada hari Sabtu.

Mencintai Alam

Orang Jerman rata-rata menyukai aktivitas di luar rumah untuk duduk menikmati matahari, jalan kaki, lari, berenang di sungai atau hiking. Seluruh aktivitas ini umumnya dilakukan di taman atau ruang terbuka di alam. Oleh karena itu, di sini kita mudah menemukan lokasi-lokasi di alam yang terawat, tidak dikotori sampah atau berpolusi, yang bisa kita datangi dan kita gunakan sebagai rute untuk aktivitas di luar ruangan.

Pepohonan masih rindang, sungai dan danau sangatlah jernih sehingga dapat digunakan berenang. Bahkan terlihat pula hewan-hewan liar yang beragam, seperti bebek, angsa, elang, kelinci, rakun, rubah, dan sebagainya. Semuanya mudah ditemukan di alam dan bisa dilihat langsung dari dekat.

Kelima hal itu mempengaruhi hidup saya secara pribadi, hidup saya dalam masyarakat, dan juga relasi saya dengan alam. Saya melihat bahwa kehidupan manusia yang modern dan maju tidak berarti mengubah manusia menjadi sangat berkuasa atas manusia lain dan alam.

Belakangan ini saya justru khawatir saat harus memikirkan kembali pulang. Bagaimana saya harus beradaptasi kembali dengan situasi yang semrawut, dengan ketidakjelasan budaya pengelolaan sampah, lemahnya kedisiplinan dan minimnya keteraturan hidup, ketiadaan angkutan umum yang memadai, atau alam yang kehilangan keanekaragamannya karena habis diburu dan lahannya berubah? Saya cuma bisa berharap hal-hal yang baik di sini suatu saat menjadi bagian dalam membentuk Indonesia modern dan lebih maju.

Categories
Gaya Hidup

Rungkad

Rungkad

Aku bertemu dengan manusia sederhana
Ia tak pernah memilih-milih makanan
Bisa tenang dalam gaduh
Dan tak asing dengan keheningan

Aku bertemu dengan manusia sederhana
Hidupnya terlihat tak berwarna
Tak suka teka-teki
Namun matanya berbinar kepada bunga-bunga

Aku bertemu dengan manusia sederhana
Bicaranya dingin
Suaranya berat
Namun matanya teduh

Aku bertemu dengan manusia sederhana
Ia pasti penyuka bandrek
Lalu menikmatinya dengan gethuk
Bahagia saat perutnya hangat dan terisi

Aku bertemu dengan manusia sederhana
Kami bertemu
Bertamu
Dan tidak ada yang benar-benar sederhana.

Categories
Gaya Hidup

Manfaat Capung untuk Keseimbangan Lingkungan

Capung adalah salah satu serangga yang bermanfaat bagi keseimbangan lingkungan. Namun belakangan populasi hewan yang masuk dalam ordo ordonata ini makin sulit ditemui karena tergerusnya habitat mereka.

Dilansir Bbc.com, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menemukan bahwa setidaknya 16 persen dari sekitar 6.000 capung yang diidentifikasi rentan, terancam punah, bahkan sangat terancam punah.

Para peneliti menyebut hilangnya rawa dan lahan basah lainnya yang disebabkan oleh urbanisasi dan pertanian yang tidak berkelanjutan menjadi faktor pendorong penurunan capung global secara cepat. Keberadaan rawa dan lahan basah menyimpan karbon, memberikan air bersih dan makanan, melindungi banjir, dan menawarkan habitat bagi satu dari spesies yang ada di dunia.

Namun menurut temuan terbaru, ekosistem ini menghilang tiga kali lebih cepat daripada hutan. Habitat hidup capung yang lain seperti persawahan, kawasan mangrove hingga perkebunan juga semakin berkurang karena pembangunan.

Keberadaan capung makin terancam karena hewan ini biasanya jadi buruan warga. Anak-anak biasanya hobi menangkap capung sebagai hiburan. Sementara orang dewasa di sejumlah wilayah menjadikan capung sebagai lauk makanan. Padahal hewan ini menyimpan sejumlah manfaat untuk lingkungan hidup. Berikut manfaat capung bagi kehidupan manusia, diolah dari berbagai sumber:

1. Indikator Kebersihan Air

Kemunculan telur dan nimfa capung di perairan dapat menjadi indikator untuk mengetahui kebersihan air perairan tersebut. Hal ini karena telur dan nimfa capung hanya dapat hidup dan berkembang di lingkungan air yang bersih dan minim polusi.

Sehingga jika didapati banyak telur atau nimfa capung di suatu perairan, maka dapat dikatakan perairan tersebut memiliki kualitas air yang bersih dan bebas polusi.

2. Mengontrol Jentik Nyamuk

Capung dalam bentuk nimfa dikenal sebagi karnivora yang cukup ganas yang memakan berbagai hewan kecil invertebrata lain di dalam air, termasuk jentik nyamuk. Dengan adanya nimfa, lingkungan akan terbebas dari pertumbuhan nyamuk yang berlebihan.

Bahkan nimfa yang berukuran cukup besar juga memangsa anak ikan dan berudu. Selain itu jentik nyamuk juga bisa dibasmi dengan menggunakan bunga alamanda, ikan cere, serta kulit jengkol.

3. Pengendali Hama Wereng

Selain mengontrol jentik nyamuk dan indikator kebersihan air, capung punya manfaat lain yakni sebagai pengendali hama wereng. Tak heran jika capung menjadi salah satu sahabat petani karena mampu membantu membasmi wereng yang mengganggu pertumbuhan padi di persawahan.

Namun sayangnya kini populasi capung sudah jauh berkurang. Sehingga sebagian petani saat ini terpaksa mengendalikan hama wereng dengan pestisida yang sarat bahan kimia. Hal ini tentu berpotensi merusak lingkungan.

Dapat dilihat bahwa ada banyak manfaat capung dalam kehidupan, terutama bagi kelestarian lingkungan sehingga kelestarian capung patut dijaga. Salah satu caranya adalah dengan merawat kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke perairan. Sehingga, capung dapat hidup dan berkembang biak dengan baik.

Categories
Gaya Hidup

Mewarnai, Kegiatan Asyik yang Memiliki Banyak Manfaat

Mewarnai menurut KBBI memiliki arti memberi warna, mengecat, dan sebagainya. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak usia dini hingga sekolah dasar. Namun, beberapa tahun belakangan, mewarnai juga menjadi tren di kalangan orang dewasa, lho. Ternyata, kegiatan ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki manfaat. Apa saja sih manfaat mewarnai? Berikut ini manfaat mewarnai untuk orang dewasa:

1. Membawa Ketenangan

Carl Jung, seorang psikolog dan tokoh psikolog analitis (1875-1961), telah menerapkan terapi dengan mewarnai untuk pasien yang memiliki masalah psikologis. Tujuannya untuk ketenangan dan kefokusan pasien.

2. Memberi Ruang Bersosialisasi

Kegiatan mewarnai membawa kita bertemu dengan komunitas atau orang-orang yang memiliki hobi yang sama. Seniman Lisa Congdon berteori tentang aspek sosial mewarnai. “Ini adalah cara lain untuk bersosialisasi dan memiliki aktivitas yang dilakukan bersama orang lain. Kamu tak perlu berkonsentrasi penuh ketika mewarnai, kamu dapat sambil mengobrol, dan minum segelas anggur,” tutur Congdon.

3. Mengurangi Rasa Takut dan Cemas

Psikolog Dr. Ben Michaelis menerangkan bahwa mewarnai bisa mengaktifkan logika pada otak dan menciptakan pola pikir yang lebih kreatif. “Karena merupakan aktivitas yang terpusat, amygdala (bagian otak yang merespon rasa takut) bisa beristirahat sedikit demi sedikit. Semakin lama, efeknya bisa sangat menenangkan,” kata Dr. Ben. Saat mewarnai, orang dewasa akan merasa seperti anak-anak lagi. Sehingga mereka merasa bisa merasakan kehidupan yang bebas dari tekanan dan rasa khawatir untuk beberapa waktu.

4. Menjadi Diri Sendiri

Mewarnai membawamu menjadi diri sendiri. Tidak ada aturan gambar tersebut harus diberi warna-warna tertentu. Kamu bebas berekspresi.


5. Melatih Keterampilan Motorik Halus dan Penglihatan

“Aktivitas ini melibatkan dua logika, yakni pola warna dan kreativitas ketika mencampur dan mencocokkan warna. Sehingga pada gilirannya aktivitas mewarnai menggabungkan bagian celebral cortex yang melibatkan kemampuan penglihatan dan motorik halus,” ujar Gloria Martínez Ayala, seorang psikolog.

Wah … Ternyata, manfaat mewarnai beragam, ya. Jangan takut dianggap seperti anak kecil! Yuk, mewarnai dan temukan kesenanganmu!

Daftar Pustaka
  1. Wahyuningsih, Agustin. 2015. Mewarnai Tidak Hanya Dunia Anak-Anak Saja. Mewarnai Juga Bisa Memberikan Manfaat bagi Orang Dewasa. https://www.brilio.net/life/ini-manfaat-mewarnai-bagi-orang-dewasa-kamu-wajib-coba-sekarang-juga-151207y.html (Diakses tanggal 9 Maret 2022)
  2. Hestianingsih. 2015. Tak Sekadar Usir Bosan, Ini Manfaat Mewarnai untuk Orang Dewasa. https://wolipop.detik.com/health-and-diet/d-3031017/tak-sekadar-usir-bosan-ini-manfaat-mewarnai-untuk-orang-dewasa (Diakses tanggal 9 Maret 2022)