Categories
Komunitas

Membangun Kesadaran Lingkungan Bersama Gen Z

Salah satu fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan urban di Indonesia, termasuk di Kota Solo, adalah pembakaran sampah rumah tangga. Selain merusak lingkungan, asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut juga dapat mengganggu keharmonisan hidup bertetangga, karena udara bersih yang seharusnya dihirup menjadi terkontaminasi oleh zat berbahaya hasil pembakaran sampah.

Fenomena tersebut hanyalah satu dari sekian banyak permasalahan lingkungan yang perlu menjadi perhatian bersama. Menariknya, saat ini anak-anak muda sudah mulai menunjukkan kepedulian dan kesadarannya terhadap lingkungan. “Gen Z bantu Gen Z” menjadi salah satu wujud solidaritas di kalangan Gen Z untuk saling mengingatkan dan berbagi pengetahuan seputar isu-isu lingkungan, termasuk salah satunya terkait sampah.

Damai Maheswari, salah satu relawan muda Joli Jolan yang telah bergabung sejak 2019, adalah salah satu motor penggerak kepedulian terhadap lingkungan di Kota Solo. Dalam acara bertajuk Edukasi dan Aksi Hari Peduli Sampah Nasional: Spill Gaya Hidup Minim Sampah Ala Pelajar Muda, No Bakar-Bakar!, Damai memaparkan kontribusi sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.

Kesadaran Lingkungan Melalui Joli Jolan

Dalam kegiatan tersebut, Damai menjelaskan tentang komunitas Joli Jolan, komunitas saling berbagi yang tahun ini menginjak usia enam tahun. Joli Jolan hadir di tengah masyarakat dengan membawa gagasan kepedulian terhadap lingkungan melalui upaya sederhana, yaitu memperpanjang usia manfaat barang. Selain itu, Joli Jolan secara konsisten mengampanyekan kesadaran dalam mengonsumsi barang, mengingat dampak negatifnya yang nyata tapi jarang disadari. Terlebih lagi, perilaku konsumtif yang tidak disadari telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Melalui pemaparan berbasis data, Damai menjelaskan bahwa Joli Jolan telah memberikan dampak yang terukur. Salah satunya, sepanjang tahun 2025, Joli Jolan berhasil menyelamatkan 11,6 ton barang dari tempat pemrosesan akhir dengan memperpanjang masa guna barang tersebut agar dapat digunakan kembali oleh orang lain. Secara rinci, jenis barang yang dikelola antara lain:
• Pakaian: 15.893
• Buku: 601
• Tas: 432
• Mainan: 610
• Alat rumah tangga: 234
• Perlengkapan bayi: 33
• Alas kaki: 557
• Barang lainnya: 721

Secara ekonomi, 70% anggota Joli Jolan dapat menghemat pengeluaran sebesar Rp100.000,00–Rp200.000,00 per bulan. Nominal yang cukup dialokasikan kebutuhan sehari-hari yang lebih penting. Komposisi anggota Joli Jolan yang menerima manfaat tersebut pun beragam, yakni 38% buruh formal dan nonformal, 20% pekerja perawatan, 17% pelajar dan mahasiswa, serta 15% wirausaha.

Ke depan, diharapkan Joli Jolan akan terus diterima masyarakat. Sehingga Joli Jolan mampu berkontribusi lebih luas untuk memberikan dampak yang semakin terasa bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan juga akan semakin banyak pihak yang berkolaborasi untuk membangun kesadaran kolektif terhadap kepedulian lingkungan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk generasi Z yang penuh semangat dalam menciptakan perubahan.

Salam solidaritas!

Categories
Komunitas

Menyemai Harapan dari Taman Belajar Kedungampel

Di tengah hamparan sawah yang membentang luas dan jalan desa yang teduh oleh pepohonan, Desa Kedungampel, Cawas, Klaten, kini memiliki cerita baru tentang semangat belajar. Cerita ini lahir dari kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 045 UIN RMS Surakarta yang menjalankan program dengan tema Desa Ramah Perempuan dan Anak.

Tema tersebut mendorong para mahasiswa untuk merancang kegiatan yang memberi ruang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi perempuan dan anak-anak di desa. Salah satu wujud nyatanya adalah pembentukan Taman Belajar Kedungampel, sebuah sudut sederhana yang diubah menjadi pusat aktivitas edukatif dan kreatif untuk anak-anak.

Tidak perlu gedung megah, cukup tikar yang digelar rapi, rak buku yang tertata, dan koleksi bacaan yang menggoda rasa ingin tahu. Setiap sore, anak-anak datang membawa semangat, duduk bersama, membuka buku, dan membiarkan dunia imajinasi mengalir di benak mereka.

Taman belajar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Di sinilah berlangsung berbagai kegiatan yang memadukan pendidikan dan hiburan: belajar menulis dan berhitung, menggambar, mewarnai, bermain permainan edukatif, hingga mendengarkan cerita yang dibacakan mahasiswa.

Suasana yang santai membuat anak-anak merasa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membebani. Selain itu, taman belajar ini menjadi ruang aman di mana anak-anak dapat berinteraksi, mengekspresikan diri, dan mengembangkan kreativitas tanpa rasa takut.

Donasi Buku sebagai Jembatan Pengetahuan

Koleksi bacaan yang menjadi daya tarik utama taman belajar ini hadir berkat dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Joli Jolan. Melalui donasi buku yang mereka berikan, taman belajar ini memiliki bahan bacaan yang variatif. Mulai dari buku cerita bergambar, majalah anak, hingga buku pengetahuan umum yang sesuai usia.

Selain Joli Jolan, bantuan juga datang dari pihak-pihak lain yang tak kalah peduli. Ada yang menyumbangkan buku tambahan hingga dukungan keuangan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa literasi dapat berkembang melalui gotong royong dan kepedulian bersama.

Sebagai bagian dari program Desa Ramah Perempuan dan Anak, taman belajar ini dirancang untuk terus berlanjut bahkan setelah masa KKN berakhir. Mahasiswa KKN 045 menata penempatan taman belajar yang strategis dan terdapat pengelolanya sendiri. 

Dengan begitu, taman belajar tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan minat baca dan kreativitas anak-anak Kedungampel untuk tahun-tahun mendatang.

Harapan yang Tertanam di Halaman Buku

Kini, Taman Belajar Kedungampel berdiri sebagai simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Dengan dukungan dari Joli Jolan, para donatur, dan semangat gotong royong masyarakat, desa ini membuktikan bahwa akses bacaan yang memadai bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang layak diperjuangkan.

Di setiap buku yang dibuka, tersimpan harapan. Harapan bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berani bermimpi. Dan di Kedungampel, harapan itu kini sedang mekar satu halaman demi satu halaman.

Categories
Komunitas

Festival Literasi dan Seni Anak Bolali

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta yang sedang melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Kelompok 285 yang bertempat di Desa Bolali, Wonosari, Klaten telah menyelenggarakan program kerja utama berupa Festival Literasi dan Seni Anak Bolali. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2025 tersebut mengangkat tema Moderasi Beragama. Kegiatan yang diselenggarakan di kantor halaman Desa Bolali ini turut mengundang pihak sponsorship dan media partner untuk mendukung suksesnya acara.

Kegiatan ini ditujukan untuk semua kalangan anak-anak yang ada di Desa Bolali dan dapat diakses secara gratis atau tanpa dipungut biaya. Festival ini bertujuan untuk menumbuhkan nilai toleransi sejak dini pada anak-anak Desa Bolali melalui media edukasi yang kreatif. Festival ini menyajikan beranekaragam kegiatan menarik seperti mewarnai gambar yang mengandung pesan toleransi beragama, membaca buku gratis, mendengarkan dongeng, pembagian makanan, mainan, dan tas gratis yang merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas sosial Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Kegiatan ini sangat didukung dan mendapat sambutan positif oleh pihak masyarakat dan anak-anak Bolali. Hal tersebut dapat dilihat dari antusias mereka yang cukup tinggi. Bahkan sebagian besar anak-anak sudah membawa peralatan sendiri untuk mengikuti kegiatan ini dan berangkat lebih awal dari waktu yang sudah diinformasikan. Ibu Barokah, salah satu warga Desa Bolali, mengatakan, “Saya sangat senang mendapatkan tas yang sangat layak pakai, bisa untuk dipakai ke kondangan, atau main. Apalagi lihat atusias ibu-ibu lain yang menghantarkan anaknya untuk mengikuti kegiatan ini saya turut terharu kalau warga sini kompak semua untuk mendukung kegiatan satu sama lain”.

Categories
Komunitas

Jaringan Baru dari Warga Posyandu

Apa yang menjadi tantangan utama Joli Jolan saat ini? Jika boleh menyebut salah satu, hal itu adalah keberlimpahan donasi. Ya, hampir setiap hari ada kiriman (terutama pakaian) yang datang di drop box kami. Tentu kami mengapresiasi kebaikan hati kawan-kawan yang telah bersolidaritas melalui Joli Jolan.

Makin hari, makin banyak warga yang telah berbagi dengan berkesadaran, memberikan barang dengan kondisi baik untuk digunakan kembali oleh sesama. Namun di saat yang sama, hal ini menjadi tanggung jawab kami untuk mengelola donasi dengan sebaik-baiknya.

Salah satu solusi untuk mengatasi keberlimpahan adalah redistribusi dan membuka jaringan. Akhir pekan ini kami menambah jaringan warga baru, bekerja sama dengan Posyandu Lansia dan Balita di RW XI Manahan, Solo.

Sejumlah pakaian dewasa, anak, dan jilbab kami salurkan untuk warga setempat yang membutuhkan, tentu saja dengan bantuan pengurus posyandu setempat. Pola-pola redistribusi dengan melibatkan warga sejatinya sudah cukup lama kami inisiasi.

Beberapa bahkan mulai melaksanakan kegiatan berbagi secara rutin. Kegiatan itu tersebar di Masjid Al Huda, Kerten; Wirosari, Grobogan; Totosari, Laweyan; Jaten, Karanganyar; Pucangan, Kartasura; hingga Cepu. Jaringan dan kolektivisme ini menjadi modal berharga untuk mendorong pemerataan penerima donasi pakaian/barang.

Apa yang menjadi prioritas kami sejujurnya bukan mendapatkan donasi sebanyak-banyaknya. Donasi secukupnya dengan kualitas terjaga dan sesuai kebutuhan lebih kami utamakan. Oleh karena itu, kami pasti selalu menanyakan terlebih dulu apa yang hendak kawan berikan.

Bukan kami menolak kebaikan kawan-kawan, tapi agar donasi itu nantinya benar-benar tepat guna dan tidak menumpuk di ruang penyimpanan. Karena, tak setiap waktu jaringan yang kami miliki dapat menyerap barang dari Joli Jolan. Sama dengan kami, mereka juga memiliki keterbatasan di sana-sini. Panjang umur hal-hal baik.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Dukung Mahasiswa KKN Sediakan Buku dan Pakaian Gratis di Desa Mireng Klaten

Mireng, 19 Juli 2025- Kelompok 218 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Mas Said Surakarta menghadirkan sebuah kegiatan kolaboratif dan inspiratif bertajuk “Bazar Ceria untuk Semua” yang mengusung tema “Berbagi dengan Hati, Tumbuhkan Kepedulian”. Kegiatan ini sukses digelar pada Sabtu pagi, 19 Juli 2025, bertempat di halaman Puskesmas Pembantu Desa Mireng, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat melalui program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Bazar ini menyajikan pakaian gratis, buku, dan boneka layak pakai hasil donasi yang dikelola bersama komunitas sosial Ruang Solidaritas Joli Jolan, yang menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan ini.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan bazar sayuran segar gratis yang disediakan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga serta mengedukasi masyarakat pentingnya konsumsi sayur setiap hari.

Sebagai bentuk kontribusi di bidang kesehatan, diselenggarakan pula layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bekerja sama dengan Puskesmas Trucuk 1 dan didukung oleh Puskesmas Pembantu Desa Mireng. Pemeriksaan meliputi cek gula darah, kolesterol, tekanan darah, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan SADARNIS (pemeriksaan payudara klinis untuk perempuan), THT, serta layanan konsultasi dokter umum.

Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Mireng yang hadir dengan antusias, baik tua maupun muda, serta dukungan penuh dari tenaga medis dan relawan yang terlibat. Warga tidak hanya mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini, tetapi juga diajak untuk menumbuhkan rasa peduli dan semangat berbagi antar sesama.

Ketua KKN Kelompok 218 menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan instansi terkait dalam membangun desa yang lebih peduli, sehat, dan sejahtera.

Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial yang mengakar pada nilai-nilai empati dan kemanusiaan. Berbagi itu sederhana, tetapi dampaknya bisa luar biasa. Mari tumbuhkan kepedulian, mulai dari hal-hal kecil untuk perubahan yang besar.

Categories
Komunitas

Liburan yang Berkesan, Dimulai dari Cerita di Rumah

Manfaatkan waktu libur sekolah untuk menemani Si Kecil belajar hal baru: jadi storyteller kecil! Lewat Story Camp di @dolpinid orang tua dan anak bisa bareng-bareng belajar menyusun cerita, berekspresi, dan membangun kepercayaan diri dari rumah. Sehingga nantinya dapat bercerita denga penuh kesadaran dan percaya diri.

Siapa saja yang boleh mendaftar? Anak usia maksimal 12 tahun dan terbuka untuk keluarga di seluruh Indonesia.

Dapat apa di Story Camp?
✅️ Belajar jadi Storyteller Kecil bareng para ahli
✅️ Buku Petualangan Dovi & Pipin
✅️ Plus paket pembelajaran seru & hadiah menarik

Ssst, ini juga bagian dari road to Storytelling Competition tingkat nasional!

📅 Periode Story Camp: Juni-Juli 2025
🎯 Daftar sekarang di: s.id/dolpinstorycamp

Categories
Komunitas

Joli Jolan Ikut Serta di Pameran Art Edu Care#15

Akhir bulan ini, Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal meramaikan agenda bertajuk Art Edu Care#15 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Jumat-Selasa 23-27 Mei 2025. Art Edu Care merupakan pameran seni yang memiliki sejarah cukup panjang, dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2010. Tahun ini agenda besutan Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS itu mengusung tema “Feel The Same”.

Sebagai gerakan sosial-lingkungan, undangan dari kawan-kawan seni kami apresiasi sebagai kerja bersama membangun peradaban. Oleh karena itu, Joli Jolan sengaja membawa banyak buku bacaan di Art Edu Care#15. Setiap pengunjung stan Joli Jolan dapat mengambil maksimal dua buku dengan gratis.

Setelah itu, cukup unggah foto bareng buku yang diambil ke story Instagram dan tag @joli_jolan dan @arteducare. Kami juga menyediakan pakaian dan aksesoris keren yang juga bisa diambil secara cuma-cuma. Ada pula pameran info grafis tentang Joli Jolan yang bisa kawan simak di stan.

Yang spesial, kali ini kami bekerja sama dengan komunitas Ajeg Social untuk menampilkan deretan seni upcycle. Karya tersebut berupa pakaian, rajutan, topi, aksesoris, dan lain sebagainya. Produk ini sebagian mengambil bahan pakaian bekas di Joli Jolan, menjadi upaya bersama kami untuk mengampanyekan fesyen berkelanjutan.

Tentu kawan-kawan juga dapat menikmati karya seniman-seniman keren yang dipamerkan di Art Edu Care#15. Oh ya, stan kami tepatnya berada di teras Perpustakaan TBJT (berdampingan dengan Galeri Seni). Kami tunggu ya!

Note: Khusus Jumat 23 Mei, stan buka mulai 18.30 WIB.

Categories
Komunitas

Sashiko, Seni Terapi untuk Jiwa yang Tenang

Hanya dengan melihat hasil sulam, Deenar Tan bisa menilai apakah seseorang sedang mengalami stres atau memiliki mood yang baik. Pada level ekstrem, seseorang yang emosional bahkan bisa mematahkan jarum sulamnya.

Teknik sulam sashiko memperlihatkan keindahan di dua sisi, yakni sisi luar yang menjadi pola utama dan sisi dalam yang menjadi tapak sulam. Acapkali hasil sulam terlihat indah dari luar, sedangkan di bagian dalamnya terlihat semrawut.

“Dari luar sangat bagus, tetapi begitu dibalik, nah ketahuan. Ibarat pribadi, hasil sulam sashiko harus terlihat indah dari luar maupun dari dalam,” kata Deenar Tan, founder InnerChild, seraya menunjukkan hasil sulamnya pada tote bag berbahan canvas.

Prasyarat menyulam sashiko adalah harus melakukannya dengan tenang karena keindahan teknik ini berorientasi pada detail. Setiap tusukan jarum harus memiliki jarak yang sama dan kekuatan tarikan yang sama pula. “Menarik benangnya pun harus pakai hati. Kalau terlalu kuat bisa putus, kalau terlalu lemah kurang rapat,” sambung dia kepada belasan peserta workshop “Mindful Consumption with Sashiko” bersama Deenar Tan dan Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, di Santee Kopi, Kadipiro, Kota Solo, Kamis (1/5/2025).

Banyak orang memanfaatkan sashiko sebagai seni terapi untuk membangun jiwa yang tenang. Sebab, teknik ini mengajarkan kehadiran diri dan jiwa secara penuh saat menyulam, bukan sekadar mengisi waktu kosong. Proses ini terlihat saat menusukkan jarum, mengatur jarak, dan menarik benang.

Sashiko juga mengajarkan bahwa sumber daya seperti benang adalah berharga. Saat sulaman berujung kusut, seseorang dianjurkan mengurainya dengan sabar alih-alih menggunting begitu saja dan memulai dari nol. “Sashiko membantu mindful consumption dengan mengajarkan kita untuk lebih menghargai barang yang kita miliki. Proses dalam sulam sashiko mengajarkan kita untuk memanfaatkan secara bijak dan memaksimalkan nilai guna barang dengan kesadaran penuh untuk memakai ulang atau mendonasikannya saat tak lagi membutuhkan,” terang Deenar.

Dikutip dari Instagram @innerchild.ink, Sashiko sendiri merupakan teknik sulam tradisional dari Jepang yang popular pada masa Edo (1603-1868). Metode ini kerap dipakai untuk menghias atau memperbaiki pakaian atau kain yang rusak. Sashiko diambil dari kata “sasu” yang berarti menusuk dan “ko” yang berarti lubang. Secara etimologis, sashiko dimaknai sebagai “menusuk dengan jarum.”

Ada beberapa pola khas sashiko yang jamak ditemui, meliputi asanoha dengan pola daun rami yang melambangkan pertumbuhan dan perlindungan; kikko dengan pola kura-kura yang merepresentasikan umur panjang dan perlindungan; serta seigaha atau gelombang laut yang memberi makna kedamaian dan keberuntungan.

Categories
Komunitas

Berkesadaran dengan Sashiko

Konsumsi berlebihan sudah menjadi pola hidup sebagian masyarakat, yang tentunya berdampak terhadap lingkungan. Efeknya turut mempengaruhi kesehatan mental, bisa berupa kecemasan, stres, hingga kepuasan hidup yang palsu.

Menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan hari-hari ini tampaknya semakin penting. Tak hanya untuk mengenali diri, tetapi juga untuk membantu meringankan beban bumi. Art therapy melalui metode sashiko pun hadir menjadi alternatif menuju konsumsi berkesadaran, mengurangi stres, sekaligus menghasilkan karya estetik.

Sashiko adalah teknik menjahit tradisional Jepang yang awalnya dibuat untuk memperbaiki kain sobek. Namun sashiko bukan hanya tentang kain dan menyulam. Ada filosofi mendalam bahwa sesuatu yang pernah rusak bisa jadi lebih indah saat dirajut kembali dengan cinta dan kesabaran.

Dalam workshop kali ini, InnerChild bakal mengajak bereksperimen sashiko dengan media celana jin denim yang disediakan oleh Joli Jolan. Setiap prosesnya akan kita maknai bersama sebagai upaya membangun diri yang pernah retak, tentang menerima masa lalu, dan memulainya kembali dengan lebih kuat.

Sebelum menyelami diri bersama sashiko, psikolog klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, akan menyampaikan insight tentang mindful consumption. Praktik konsumsi secukupnya dan manfaatnya terhadap kesehatan mental juga akan dieksplorasi secara mendalam.

Segera daftarkan diri kalian ya kawan-kawan, kuota terbatas. Sampai jumpa 1 Mei!

Pendaftaran: bit.ly/MindfulwithSashiko
Informasi: Damai (088232117938)

Categories
Komunitas

Open Donation Formadgata

Hal teman-teman semua. Kami FORMADGATA ingin mengajak kalian untuk berpartisipasi dalam program kerja Formadgata Charity! Program kerja ini bertujuan untuk membantu teman-teman yang membutuhkan. Donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada mereka yang benar benar memerlukannya.

Kami percaya bahwa dengan dukungan kalian, kita dapat membantu banyak orang. Kami juga sangat menghargai setiap donasi, baik besar maupun kecil, karena setiap bantuan memiliki arti yang besar.

Donasi dapat disalurkan melalui:
Bank BRI 695701053887535 a.n. Nesa Herlina
Bank Jateng 3011037852 an. Najwa Nafisah Aulia Wardhani
Bank Mandiri 1380022730035 a.n Muhammad Bintang Asyrofa

Contact Person:
☎️ +6285641704300 (Briyan Agam)
☎️ +6281326864548 (Aurora Chandra)

Terima kasih atas dukungan kalian! Mari kita saling membantu pada saudara kita yang membutuhkan.

———————————————————
DIVISI SOSIAL MASYARAKAT
KABINET BARGAWA ABHIPRAYA
FORMADGATA 2025