Categories
Gagasan

Pajak untuk Keadilan

Perdebatan soal kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen terus bergulir. Pemerintah sepertinya akan tetap bersikukuh menjalankan kebijakan tersebut di awal tahun. Kenaikan ini dianggap terkait amanah UU Omnibus Law Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Hal penting yang jadi pertanyaan adalah, kenapa pemerintah tetap ngotot untuk menaikkan tarif PPN menjadi 12 persen? Padahal kondisi ekonomi masyarakat pada umumnya sedang dalam masa sulit? Kenapa amanat UU itu dianggap sebagai semacam kitab suci yang harus dan wajib dilaksanakan? Kenapa pemerintah tidak mau mendengarkan aspirasi masyarakat yang masif menolak kenaikan tarif pajak ini? Ada apa sebenarnya?

Pajak memang lembaga yang sudah tua, seusia dengan sistem kekuasaan. Pemerintah memerlukan dana dalam bentuk pajak untuk menunjang kegiatan pemerintahannya. Umumnya hal itu dilaksanakan dengan menggunakan kekuasaan yang setengah “memaksa”. Namun perlu diingat, revolusi di Amerika, misalnya, diawali oleh perlawanan terhadap Pajak Teh (Boston Tea Party), semacam pajak atas PPN termasuk teh. Ketika itu Amerika merupakan salah satu wilayah jajahan Inggris.

Salah satu tujuan penting dari pajak di negara demokrasi adalah untuk keadilan. Jika hal ini dilupakan, maka esensi dari pajak itu telah kehilangan maknanya. Pajak yang adil itu harus memenuhi dua unsur penting, baik adil dalam pemungutanya maupun dalam alokasinya.

Dalam konteks pemungutan yang adil, maka salah satunya berlaku sistem keadilan vertikal. Artinya pemungutan pajak yang adil itu harus mempertimbangkan kemampuan bayar (ability to pay) dari subyek pajak. Semakin besar kemampuan bayar subyek pajak, maka semakin besar mereka musti dikenai pajak. Bukan justru sebaliknya. Bebas pajak (tax holiday) untuk elit kaya dan pajak untuk rakyat biasa.

Kalau pemerintah itu adil, maka orang super kaya yang mustinya dipajaki lebih banyak. Dalam simulasi sederhana saja, target 75 triliun rupiah dari asumsi kenaikan tarif pajak PPN dari 11 persen menjadi 12 persen itu sesungguhnya cukup ditutup dengan memajaki harta bersih 5000-an orang superkaya di Indonesia dengan harta di atas 144 miliar rupiah. Ini selain lebih adil juga lebih jelas dampaknya bagi masyarakat kecil.

Pajak harta (wealth tax) adalah pajak yang dikenakan atas aset pribadi seperti uang tunai, properti, deposito, saham, dan kepemilikan bisnis setelah dikurangi utang. Pajak harta ini lebih mencerminkan prinsip keadilan karena disasarkan kepada mereka yang benar-benar memiliki kemampuan membayar.

Pajak harta ini juga lazim dijalankan di negara lain. Sudah ada 36 negara yang menerapkan sistem pajak harta ini. Sebut saja misalnya Norwegia, Spanyol, Swiss dan lain lain. Tarifnya juga cukup bervariasi dari angka 0,5 persen hingga 3,75 persen. Negara negara ini justru menjadikan kemakmuran merata dan ini dapat dilihat dari rasio gini pendapatan maupun kekayaan mereka yang rendah.

Semestinya, ketika ekonomi rakyat sedang lesu, di mana daya beli rakyat kelas menengah dan bawah sedang terus mengalami penurunan itu maka pemerintah harusnya justru memberikan banyak insentif agar roda ekonomi segera membaik. Bukan justru membebaninya dengan pajak yang semakin tinggi. Kebijakan untuk menaikkan tarif PPN adalah jelas tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat sebagai pemegang kekuasaan negara.

Kita paham bahwa beban fiskal pemerintah saat ini sudah dalam kondisi berdarah-darah. Di mana untuk menutup defisit fiskal itu kondisinya sudah bukan lagi gali lobang tutup lobang, tetapi sudah dalam posisi gali lobang membuat jurang. Hal ini dapat dilihat dari angsuran dan bunga dari utang yang ada itu dalam tahun fiskal harus ditutup dengan utang bari sehingga utang negara tiap tahun terus meningkat.

Melihat kondisi ekonomi rakyat yang sedang menburuk justru harusnya pemerintah itu menjadi semakin rasional. Selain perlu kebijakan pengeluaran ketat juga semestinya dicari alternatif untuk mencari solusi jangka pendek yang mungkin, seperti misalnya mencegah kebocoran anggaran pemerintah yang selama ini dijadikan kampanye Presiden, selain menggenjot program hilirisasi yang sudah dijadikan janji politik pemerintah. Jangan sampai hal ini juga menguap jadi janji manis belaka.

Dalam urusan pajak ini berlaku hukum yang sifatnya aksiomatik, jangan kuliti kulit dan daging dombanya jika ingin mendapatkan bulunya. Lebih penting lagi, jangan buat penderitaan rakyat kalau hanya untuk tujuan memberikan kenikmatan bagi segelintir elit politik dan elit kaya. Ini adalah negara demokrasi, di mana pemerintah adalah mereka yang dipilih rakyat untuk diperintah bukan memaksa dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

Tujuan pembangunan yang terpenting adalah bukan untuk mempertinggi pendapatan negara, tetapi bagaimana menciptakan kue ekonomi yang semakin besar dan dinikmati secara adil oleh rakyat. Agar pembangunan berjalan secara berkelanjutan serta mampu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakatnya. Dorong rakyat untuk memiliki kemampuan mengkreasi pendapatan bukan justru memampatkanya dengan pajak.

Categories
Reportase

Musik Bersuara, Alam Kita Jaga

Upaya bersama untuk menjaga dan mencintai alam bisa datang dari berbagai lini. Salah satunya melaui bidang musik. Musik dianggap sebagai medium yang cukup dekat dengan masyarakat sehingga layak digunakan sebagai kampanye berbagai isu penting. Salah satunya adalah isu alam dan lingkungan.

Di Indonesia, ada beberapa grup musik yang concern pada kampanye penyelamatan lingkungan. Melalui rilis kepada media, grup musik asal Solo, Down for Life (DFL), turut mengampanyekan isu lingkungan melalui musik cadas mereka.

DFL merilis video musik menarik pada nomor andalan Prahara Jenggala melalui akun YouTube Prahara Jenggala. Mereka mengusung kisah nyata perjuangan Suku Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat melawan penghancuran hutan adat mereka oleh perusahaan bernama PT Mayawana Persada. Dalam rentang waktu tiga tahun, 33.000 hektare hutan alam (7,5 x luas wilayah Solo Raya) telah dibabat habis oleh perusahaan.

Hutan tersebut merupakan habitat bagi orang utan, rangkong, dan banyak satwa endemik lainnya. Hutan juga menjadi sumber penghidupan masyarakat Dayak Kualan turun-temurun antargenerasi. Masyarakat kini bersatu melawan perenggut hutan mereka.

Meskipun sempat didera intimidasi dan kriminalisasi, api perlawanan tak pernah padam. Mereka percaya mempertahankan hutan adat adalah pertempuran yang melampaui batas ruang dan waktu; sebuah pengorbanan untuk menjaga warisan sejarah dan masa depan kehidupan; sebuah perlawanan untuk memelihara praktik hidup yang luhur, yang menghargai keselarasan antara manusia dan alam.

Perjuangan masyarakat adat Kualan Hilir sejatinya tak hanya untuk kelompok mereka sendiri, juga bagi kelangsungan makhluk hidup secara keseluruhan. Prahara Jenggala bakal menjadi salah satu single terbaru DFL dalam album terbaru Kalatidha yang akan dirilis pada 2025 oleh Blackandje Records.

Kolaborasi dalam musik perlawanan ini didukung penuh Trend Asia, Blackandje Records bersama dengan kelompok musisi yang terhimpun dalam Music Declares Emergency. Tak hanya merilis video klip, mereka juga mengajak semua orang untuk bergabung dalam gerakan #NoMusicOnADeadPlanet.

Categories
Sudut Joli Jolan

Gara-gara Si Informan, Natasha Kenal Joli Jolan

Mengenal lapak Joli Jolan menjadi anugerah tersendiri bagi beberapa orang yang merasakan kebermanfaatannya. Manusia sebagai makhluk sosial dibantu dengan media sosial, berlomba-lomba menyampaikan informasi kebermanfaatan itu kepada sesamanya yang berjalan begitu masif. Sehingga, berdampak dengan lebih banyaknya masyarakat yang turut berkontribusi. Informasi dari media sosial menggelinding sampai obrolan darat, dijadikannya bahan diskusi di tongkrongan.

Beberapa waktu lalu, informasi kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan dibawa dan diperdengarkan di tongkrongan yang berisi lima orang, termasuk si Informan. Si Informan adalah salah satu orang yang merasakan kebermanfaatan dari lapak Joli Jolan tersebut. Dia menemukan sisi humanis di tengah kerasnya perkotaan yang mana sifat individualnya begitu kentara. Dia merasakan segarnya air di tengah dahaga. Orang-orang gotong-royong saling berbagi dan membantu kepada sesamanya yang membutuhkan. Si Informan merasa berkewajiban mendiskusikan lapak Joli Jolan ke mereka. Menurut penilaiannya, empat temannya ini memiliki karakter jarang bergaul dan rutinitas monoton. Hidupnya berjalan normal dan berkecukupan, tetapi sering kali mengeluhkan banyak hal, seperti kurangnya rasa syukur.

Semua peserta diskusi antusias mendengarkan. Tak lama berselang, keluh kesah di antara mereka pun satu per satu saling bersautan, tidak jauh dari perasaan bosan dengan rutinitas yang dijalankan dan perasaan selalu ada yang kurang dalam hidup. Sehingga, informasi yang didengar dan didiskusikan menjadi menarik dan panjang. Mereka pun penasaran untuk berkunjung ke lapak Joli Jolan.

Malam hari, sepekan sebelum lapak Joli Jolan digelar pada setiap hari Sabtu, si Informan bersama teman-temannya berkumpul, mengkonfirmasi kembali keinginan mereka. Salah satu di antara mereka mengusulkan iuran untuk membawa bingkisan makanan berupa nasi bungkus. Teman-teman yang lain menyepakati usulan tersebut dan bersepakat untuk iuran. Selanjutnya, muncul pertanyaan, siapa saja yang ikut ke lapak Joli Jolan? Mereka saling bertatapan, menyampaikan ada agenda lain. Hanya ada satu orang yang bisa ke lapak Joli Jolan, yakni Natasha. Teman-teman yang berhalangan bersedia hanya menerima laporan. Nantinya, Natasha ditemani si Informan.

Tiba di hari Sabtu, hari yang ditentukan, lapak Joli Jolan buka dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang. Natasha sudah bersiap sejak pukul 8 pagi untuk mengingatkan teman-temannya kembali. Barangkali ada yang berubah pikiran untuk ikut. Namun, tetap saja, Natasha dan si Informan yang akan ke lapak.

Natasha sangat bersemangat, antusias dan tidak sabar untuk sampai di lokasi. Semalam, dia hanya tidur 2-3 jam saja. Seringkali terbangun, takut melewatkan kesempatan berharga ini. Sekitar jam 9 pagi, Natasha sudah di depan rumah si Informan dengan membawa nasi bungkus yang terbungkus rapi. Senyumnya nyengir kegirangan saat si Informan keluar dari rumah menemuinya. Setelah bersiap, menggunakan motor sendiri-sendiri, mereka berdua berangkat ke Jl. Siwalan No. 1, Kerten, Kota Surakarta, alamat lokasi lapak Joli Jolan.

Di lapak Joli Jolan, Natasha dan si Informan menyapa dan berkenalan dengan founder Joli Jolan dan teman-teman relawan, berbincang sebentar sembari bergegas bersiap-siap menyiapkan lapak. Mereka turut serta membantu mengangkat barang-barang yang perlu disiapkan bersama relawan. Menerima dan memindahkan barang dari donatur yang baru datang. Di sudut yang lain, orang-orang yang ingin mendapatkan manfaat dari Joli Jolan, beberapa sudah menunggu, beberapa yang lain baru datang, sekitar lapak sudah mulai ramai.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10, sudah saatnya lapak Joli Jolan dibuka. Koordinator relawan menyambut hangat melalui mikrofon sekaligus memberikan arahan. Penerima manfaat pun dengan saksama mendengarkan. Setelah selesai memberi arahan, penerima manfaat dipersilahkan masuk. Mereka berduyun-duyun dengan tertib menuju display barang-barang yang telah dipajang dengan rapi.

Pada pekan itu, penerima manfaat disambut dengan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret (UNS) jurusan Fisipol. Mereka membagikan susu kotak dan alat tulis di pintu masuk lapak untuk anak-anak. Ada wartawan dan beberapa mahasiswa jurusan yang sama berkeliling mendokumentasikan, termasuk teman si Informan, Natasha.

Setelah berkeliling, Dia mengambil tempat duduk di sudut lapak di samping si Informan, merasakan aura yang berbeda dengan kebiasaan yang dijalaninya. Apa yang dilihatnya menjadi pemandangan yang berharga. Mempertanyakan mengapa dulu saat menjadi mahasiswa dia tidak seperti mahasiswa yang dilihatnya di lapak. Mereka dengan sesamanya melakukan kegiatan berbagi. Meskipun dengan barang yang terlihat “murah” atau barang yang tidak baru namun masih bisa bermanfaat.

Mengapa dia tidak mendapatkan ekosistem yang sebaik mereka. Dia pada saat itu mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Atau jika berkumpul dengan temannya, hanya menguntungkan kebahagiaan dirinya dan teman-temannya saja yang tidak berimbas pada kemanfaatan orang banyak. Tak heran jika, di rumahnya tergeletak banyak sekai barang hasil healing bersama teman-temannya yang sudah tidak terpakai.

Matanya menyapu sekitar, terhenti saat melihat bapak-bapak memilah-milah mainan anak, yang mungkin akan diberikan kepada anak laki-lakinya. Ibu-ibu memilih baju anak, dari gantungan baju satu ke satunya, memilih dengan saksama. Sepertinya Ibu itu ingin memberikan baju yang terbaik untuk anak perempuannya. Dia pun tiba-tiba teringat saat dirinya masih kecil dulu. Seringkali dia menangis dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya, mengurung diri di kamar sembari memaki orang tuanya jahat dan tidak sayang kepada dirinya apabila apa yang diinginkannya tidak kunjung dibelikan oleh orang tuanya.

Tubuhnya duduk di kursi, tetapi pikirannya melayang jauh. Hatinya dikoyak dengan pemandangan yang ada di lapak. Mulutnya bercerita menguraikan “dosa dan penyesalan” kepada si Informan. Si Informan mendengarkan dengan saksama, hanya sesekali menimpali. Sebelum akhirnya berpamitan pulang, Natasha mengucapkan sumpah pada dirinya untuk datang lagi dan menjadi si Informan selanjutnya untuk memperluas kebermanfaatan Ruang Solidaritas Joli Jolan.