Categories
Gagasan

Apa Benar Kita Harus Selalu Memberi?

Amanda Palmer, vokalis dan penulis lagu band cabaret punk The Dresden Dolls, mengatakan dalam bukunya, The Art of Asking, “Our first job in life is to recognize the gifts we’ve already got, take the donuts that show up while we cultivate and use those gifts, and then turn around and share those giftssometimes in the form of money, sometimes time, sometimes loveback into the puzzle of the world. Our second job is to accept where we are in the puzzle at each moment. That can be harder.” Seketika kata-kata tersebut menyentak kesadaran saya.

Sebagai seorang yang terdidik dengan peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kutipan Amanda Palmer benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang arti memberi dan menerima. Peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah meyakinkan saya bahwa memberi adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan menerima. Sebaliknya, menerima dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu, apa pun kondisinya, kalau bisa, selalu beri, beri, dan beri.

Keyakinan tersebut secara tidak sadar menuntun tindakan saya untuk selalu memberi tanpa mau menerima. Saya menempatkan perbuatan memberi di kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan tindakan menerima. Namun ternyata, apa yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam saat mentraktir teman untuk kesekian kalinya. Padahal di saat yang sama, dia ingin mentraktir saya. Saya tetap mentraktirnya karena keyakinan saya yang berlebihan akan tindakan memberi. Seketika dia malah menunjukkan raut muka yang masam, tanda bahwa tindakan saya membuatnya kurang berkenan. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada saatnya memberi, ada saatnya pula menerima.

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima. Bisa jadi konstruksi sosial yang ada di masyarakat (lingkungan) menganggap bahwa tindakan menerima sebagai buah dari ketidakmampuan sedangkan tindakan memberi dianggap sebagai buah dari kemampuan. Keyakinan berlebihan dari konstruksi sosial tersebut secara tidak sadar mengekspose secara gamblang status sosial si pemberi dan si penerima. Apalagi jika sesuatu yang diberikan/diterima berhubungan dengan materi, status sosial tersebut akan terasa dan terlihat dengan sangat jelas. Meminjam kata-kata Henry Miller, “It’s only because giving is so much associated with material things that receiving looks bad.” Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan seperti itu.

Padahal tindakan memberi dan menerima tidak harus selalu dikaitkan dengan status sosial. Hal seperti tenaga, waktu, pemikiran, dan bahkan perhatian (#eh) pada dasarnya bersifat netral dan tidak berhubungan sama sekali dengan status sosial dari si pemberi dan si penerima. Jangan sampai karena ‘termakan’ konstruksi sosial, kita menjadi berat sebelah dalam memaknai tindakan memberi dan menerima. Dalam jangka panjang, keyakinan seperti itu akan menyabotase diri kita sendiri dalam bertindak.

Tidak ada yang salah dengan tindakan memberi, pun tidak ada yang salah dengan tindakan menerima, asalkan keduanya dilakukan sesuai porsinya. Tindakan memberi memberikan perasaan lega dan terpenuhi secara sosial, mental, emosional, dan spiritual bagi si pemberi. Di sisi lain, tindakan menerima berarti menyatakan secara sadar dan berani bahwa si penerima butuh pertolongan orang lain. Tindakan tersebut membuka kesempatan bagi si pemberi untuk membantu si penerima. “By receiving from others, by letting them help you, you really aid them to become bigger, more generous, more magnanimous. You do them a service,” kata Henry Miller. Memberikan kesempatan bagi si pemberi untuk merasa lega dan terpenuhi ternyata secara tidak langsung juga mampu memberikan perasaan lega dan terpenuhi kepada si penerima. Hal yang tentunya juga baik. 

Biasanya masalah terjadi ketika kita terlalu berlebihan dalam memberi maupun menerima dan tidak bersedia melakukan keduanya. Terlalu banyak memberi tanpa mau menerima membuat kita merasa selalu ‘di atas angin’, sedangkan terlalu banyak menerima tanpa keinginan untuk memberi membuat kita menjadi orang yang merepotkan dan menjengkelkan. Solidaritas merupakan tindakan dua arah, bukan tindakan searah. Untuk menciptakan kesinambungan tersebut dibutuhkan dua komponen yang harus saling terjaga: memberi dan menerima. Maria Popova berhasil megungkapkan kesinambungan tersebut dengan bagus, ”The art of giving and the art of receiving are compatriots in the kingdom of creative culture, absolutely vital to each other’s survival.

Joli Jolan, komunitas gerakan solidaritas yang baru berdiri satu tahun ini, menjadi gerakan pengingat akan pentingnya siklus tersebut. Gerakan ini tidak hanya mengetuk hati orang-orang baik untuk mendonasikan barangnya, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial untuk menerima barang tersebut, untuk belajar menjadi si penerima. Semua orang dapat berdonasi, semua orang dapat mengambil barang yang telah didonasikan. It’s not about charity, it’s about solidarity.

Categories
Sudut Joli Jolan

Solusi Donasi Tak Layak Pakai

Bukan satu dua kali Ruang Solidaritas Joli Jolan menerima donasi yang jauh dari kata layak. Pakaian sobek, celana dalam bekas, sepatu “mangap”, tas rusak dan lain sebagainya kerap kami temui saat menyortir barang donasi. Ya mohon maaf, barang-barang itu langsung kami singkirkan karena tidak pantas jika diberikan pada orang lain. Sedih rasanya melihat sejumlah orang masih menganggap Joli Jolan sebagai gudang pembuangan barang bekas semata.

Barang tak layak tersebut tentu berpotensi menjadi masalah baru. Tak hanya memicu timbunan sampah, tapi juga mengundang penyakit. Tulisan ini mungkin dapat sekaligus menjadi pengingat bagi kawan-kawan tentang pentingnya memberikan barang yang terbaik bagi sesama. Di sisi lain, kami pun perlu mencari solusi apabila barang kurang layak ini telanjur sampai di galeri Joli Jolan. Beberapa bulan terakhir kami bekerjasama dengan sebuah pabrik pengolahan dakron/bantal untuk mengatasi sampah pakaian. Sejauh ini cara tersebut paling efektif untuk mengelola sampah pakaian meski kami harus mengantar ke pabrik yang lokasinya cukup jauh yakni di Gatak, Sukoharjo.

Namun yang masih menjadi pemikiran kami, bagaimana mengelola barang seperti tas, sepatu dan memorabilia lain yang tidak layak agar tidak langsung bermuara di tempat sampah. Beberapa hari lalu kami mendapat ide baru saat main ke Bank Sampah Jensan Mugi Berkah yang berlokasi di Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Kami belajar tentang pengelolaan sampah sederhana yang melibatkan warga dalam lingkup terkecil yakni RT/RW. Terbentuknya bank sampah membuat warga setempat mulai disiplin memilah sampah dari rumah. Sebulan sekali, warga rutin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, barang berbahan logam dan kaca serta lain sebagainya ke bank sampah.

Yang menarik, barang-barang khas di Joli Jolan seperti sepatu, tas, dan bahan lain berbahan plastik dan kaca yang kurang layak pun dapat terserap bank sampah. Bersama pengelola Bank Sampah Udadu, rintisan bank sampah yang berlokasi sekompleks dengan Joli Jolan, kami berinisiatif mempraktikkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai pekan ini. Pada Rabu, 10 Februari 2021, tim sukarelawan Joli Jolan bersama Udadu akan mulai memilah donasi tak layak pakai agar dapat bernilai ekonomis dan ekologis melalui bank sampah. Sedikit banyak dana yang terkumpul akan kami gunakan untuk operasional Joli Jolan.

Kami meyakini bank sampah bukanlah solusi paripurna terhadap konsumerisme. Bank sampah hanya sebagai alat untuk mengurangi dampak gaya hidup kita yang kurang bertanggungjawab. Pola konsumsi berkelanjutan dengan membeli barang seperlunya tetap yang utama dalam menjaga kelestarian mother earth.

Categories
Komunitas

Belajar Mengasah Rasa lewat Joli Jolan Surakarta

Pada hari keempat social distancing akibat pandemi Covid-19 ini, saya ingin berbagi cerita mengenai komunitas baru di kota tetangga yakni Solo yang diberi nama Joli Jolan.

Ya, kata Joli Jolan ini diambil dari Bahasa Jawa jol-ijolan yang artinya adalah tukar-menukar. Tagline Ambil sesuai kebutuhanmu, Sumbangkan sesuai kemampuanmu adalah kalimat sederhana yang membuat saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang gerakan yang berdiri tanggal Desember 2019 ini. Faktor menarik lain adalah karena salah satu pendiri Joli Jolan merupakan seorang dosen komunitas kami di bidang transportasi yakni Mbak Septi.

Dilansir dari akun resmi @Joli_Jolan, barang-barang yang bisa saling ditukar antara lain; pakaian, buku bacaan, perlengkapan rumah tangga, peralatan sekolah, perkakas/ hiasan rumah, makanan, keperluan hewan peliharaan, dan memorabilia/ barang koleksi.

Pada 15 Februari 2020 lalu, setelah event Edukasi #1 Aman Berlalu Lintas di Alun-alun Pancasila, Anelis (Komunitas Ijo Lumut) dan saya mencoba memperkenalkan terminologi Joli Jolan kepada masyarakat Kota Salatiga. Caranya yakni dengan giveaway mainan daur ulang dari galeri Ijo Lumut. Ya, galeri edukasi dan kreasi daur ulang ini memang cukup produktif dalam menghasilkan berbagai mainan anak-anak.

Saya menilai tak ada salahnya membagikan mainan-mainan ini. Ada dua alasan utama;

  1. Cek ombak, apakah mainan anak-anak bisa diterima masyarakat, apakah bisa dimasukkan sebagai komoditas Joli Jolan.
  2. Memberikan edukasi kepada seniman-seniman cilik Ijo Lumut bahwa tangan di atas memang akan selalu lebih baik daripada tangan di bawah. 

Sayangnya pada hari itu hampir semua anak dan orang tua mengambil mainan, tetapi tidak ada satu pun yang ikut menyumbang. Well, ada dua kemungkinan alasan menurut saya.

  1. Gerakan ini memang baru dilakukan sekali sehingga banyak yang masih belum tahu dan tidak prepare mainan untuk ikut disumbangkan.
  2. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kita lebih suka mengambil barang secara gratisan dan lupa bahwa ia pun sebenarnya telah mampu menyumbangkan barang juga.

GKJ Sidomukti Salatiga ikut tertarik mengimplementasikan gerakan Joli Jolan ini di Salatiga. Hal tersebut membuat saya semangat meluangkan waktu untuk datang ke markas Joli Jolan di Jajar, Kerten, Solo, 7 Maret 2020 lalu. Saya mengamati dan belajar dari para pakar di komunitas ini secara langsung.

Sampainya di markas Joli Jolan, saya langsung disuguhi makan siang sambil ngobrol dengan teman-teman. Relawannya berasal dari berbagai kalangan; mulai dari anak sekolah, kuliahan, pekerja formal, dan nonformal. Sambil asyik ngobrol, saya melakukan pengamatan dan observasi terhadap suasana Joli Jolan yang ada di sana.

Saya mempelajari ada beberapa poin penting;

  1. Anak-anak yang datang ke Joli Jolan diberi konsumsi susu kotak. Supaya ada effort sedikit untuk mendapatkannya, si anak perlu melewati permainan melewati karpet dengan gambar telapak tangan atau telapak kaki.
  2. Pembiayaan untuk membeli susu itu didapatkan dari kotak kardus bertuliskan Donasi Parkir untuk Membeli Susu Kotak. Kotak tersebut diisi oleh para pengunjung Joli Jolan yang membawa kendaraan. Selain itu, tentu saja Joli Jolan menerima sumbangan susu kotak dari masyarakat
  3. Pengurus Joli Jolan memiliki mindset terbuka terhadap segala sesuatu. Joli Jolan tidak hanya jadi tempat untuk berbagi, tetapi juga telah menjadi ruang publik tempat bertemunya antar komunitas. Mbak Septi pun mengamini bahwa Kota Solo sudah sangat padat sampai tak memiliki ruang publik untuk komunitas bisa berkumpul seperti ini. Salah satu tujuan Joli Jolan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut
  4. Pengunjung Joli Jolan yang datang untuk kali pertama rata-rata hanya melakukan satu mata kegiatannya saja; menyumbangkan barang kemudian pulang, atau mengambil barang kemudian pulang. Orang yang mengambil barang didata oleh tim Joli Jolan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, orang yang menyumbangkan barang rata-rata enggan untuk ikut mengambil.
  5. Mbak Septi mengiyakan bahwa orang yang mengambil tidak harus mengijoli/ membarterkan barang pada hari itu juga dan dengan nilai barang yang sama. Tidak membarterkan barang sampai kapanpun juga tidak masalah, ia tetap boleh mengambil barang lagi.

Mbak Septi menceritakan hal menarik tentang tukang becak yang datang lagi di pekan berikutnya sembari membawa empat butir telur, juga pedagang sayur membawa dua nasi bungkus untuk ditukar. Saya sedikit mbrebes mili mendengar cerita tersebut. Sambil mengamini dalam hati “Ya, rasa seperti inilah yang harus terus dirawat dan ditumbuhkan dalam hati sanubari Bangsa Indonesia. Jangan bermental miskin: Tak mungkin tak ada yang bisa disumbangkan kepada orang lain, karena setidaknya orang yang sehat itu itu pasti punya pikiran, waktu, tenaga, dan kemampuan untuk orang lain.”

Tentang Joli Jolan

Tibalah saat-saat mendebarkan ketika saya berkesempatan ngobrol empat mata dengan Mbak Septi. Saya menanyakan beberapa hal.

“Mbak, apa sih sebenarnya tujuan didirikannya Joli Jolan?”

Mbak Septi menjawab bahwa Joli Jolan adalah gerakan untuk bisa berbagi dengan orang lain. Joli Jolan ingin menjadi ruang publik tempat orang-orang bisa berkumpul, komunitas boleh membagikan ceritanya. Orang-orang bisa menyumbangkan sesuai kemampuannya maupun mengambil barang-barang sesuai kebutuhan.  “Budaya baik ini, apabila sudah mengakar kuat dalam masyarakat, akan berdampak positif apabila suatu saat nanti terjadi bencana/musibah di Surakarta: masyarakat kita sudah terbiasa mengatasi itu semua dengan berbagi dan bekerja sama, mau saling memperhatikan kebutuhan orang yang satu dengan yang lainnya,” terangnya.

Kalau meminjam istilah Bu Risma Walikota Surabaya, barangkali inilah yang disebut gerakan membangun kota yang resilience. Resilience artinya sebuah kota yang masyarakatnya memiliki ketahanan. Kereeen buat Mbak Septi dan teman-teman pendiri Joli Jolan!

Joli Jolan ini adalah gerakan non-profit. Mereka tidak berharap menimbun banyak barang di tempat demi mendapat keuntungan ekonomi. Saya lebih suka berpendapat bahwa Gerakan Joli Jolan adalah sebuah pembelajaran untuk mengasah rasa; apakah saya benar-benar butuh, adakah orang lain yang lebih membutuhkan? Apakah saya memang belum mampu menyumbangkan sesuatu, atau apakah saya sudah mampu tetapi belum mau/ belum merelakannya?

Mengingat Maret adalah bulannya Dewa Perang Aries, saya ingin mendefinisikan Joli Jolan sebagai gerakan perang melawan gaya hidup konsumtif. Gerakan ini merupakan sebuah ajakan kemanusiaan. Melalui berbagi dan bekerja sama, idealnya tidak perlu ada lagi orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan. Mari kita bersama-sama menciptakan ruang-ruang publik yang semua orang bisa datang untuk belajar lebih peduli dengan nasib sesama.

Nah, siapa di antara Teman-Teman Pembaca yang juga mau ikut terlibat dalam mengimplementasikan gerakan positif ini di Salatiga? Ditunggu kabarnya, ya.

Salatiga, 19 Maret 2020


Sumber tulisan:

http://kristantoirawanputra.blogspot.com/

Categories
Gagasan

Filantropisme Progresif Kelas Menengah

Belakangan, kelas menengah di Indonesia menjadi suatu fenomena sosiopolitik yang menarik untuk dibahas. Antara dicibir tapi dibutuhkan, hendak ditendang tapi sayang. Mungkin begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kelas menengah di Indonesia saat ini.

Dalam kajian kelas sosial, kelas menengah merupakan suatu pengecualian yang unik dalam epos kapitalisme di era industri modern. Salah satu keunikan kelas menengah terletak pada posisi mereka yang menjadi perantara antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Karakter kelas menengah dalam struktur industri modern juga terbilang lentur. Jika tidak berdaya lebih, mereka bisa terjerembap menjadi proletar. Namun jika punya kekuatan yang lebih besar, mereka punya peluang untuk berperan sebagai borjuis besar.

Di Indonesia, identifikasi kelas menengah dapat dilihat dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, ataupun status sosial. Dengan identifikasi kelas menengah yang dilihat dari kategori sosial dan bukan hanya akumulasi modal, mereka kerap dinilai sebagai kelasnya para pekerja kerah putih.

Dahulu, Gus Dur menyebut kelas menengah ini sebagai golongan fungsional. Dalam esainya di Majalah Tempo yang berjudul, Golongan Fungsional dan Perlunya Dialog, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki kesadaran kelas ataupun idealisme dalam berpolitik.

Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki keterikatan pada ideologi politik tertentu, ”Salah satu perwatakan yang menonjol dari golongan fungsional adalah pragmatisme. Oleh karena itu sedikit sekali perhatian yang mereka berikan pada ideologi politik,” tulis Gus Dur.

Arif Giyanto dalam bukunya yang berjudul Kelas Menengah Progresif mengatakan hal senada. Menurutnya, kelas menengah memang banyak dinilai sebagai kelas yang tidak memiliki kesadaran kelas yang cukup dalam menanggapi isu-isu politik atau terlibat langsung dalam kegiatan politik.

Akan tetapi, Arif Giyanto menambahkan, zaman yang berubah membuat kelas menengah terkini punya dorongan menyadari kekuatan dan eksistensinya. Konsumsi informasi dan kekuatan ekonomi yang terus meningkat, juga akan mendorong pencarian eksistensial itu.

Kalau berkaca dari sejarah, kelas menengah di Indonesia bisa tumbuh karena pembangunan ekonomi yang menyuburkan keberadaan mereka. Dengan adanya aktivitas pembangunan ekonomi, lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru terbuka luas bagi masyarakat.

Ketika kesempatan ekonomi terbuka luas, masyarakat yang terserap ke dalam arus itu mengalami banyak proses sosial yang baru. Termasuk di dalamnya, ada aktivitas perputaran uang yang sejalan dengan kebutuhan sehari-hari, status sosial, dan tolak ukur gengsi di tengah masyarakat.

Terang apabila kolumnis sekaligus komedian Wahyu ”Dono” Sardono menyebut kelas menengah sebagai kelas yang sibuk dengan sendirinya. Sebab, kesungguhan mereka lebih terpacak pada realitas sehari-hari, bukan realitas sosial yang lebih meluas.

Namun, jika kelas menengah terpaksa berkumpul dalam satu wadah untuk membicarakan  politik, mereka punya preferensi yang beragam, plural, dan tidak ideologis. Ketiadaan kancah orientasi yang jelas juga menjadi salah satu penyebab mengapa percakapan mereka terkesan teknis, dan tidak ideologis.

Kekosongan ideologi dalam kelas menengah ini bukannya tidak ada harapan. Justru tergusurnya prioritas idelogis dan politis dalam kelas menengah bisa menjadi tolak ukur penting untuk melibatkan mereka ke dalam proses perubahan sosial yang berdasar pada kesadaran kolektif mereka.

Lain dari itu, keterampilan teknis dan kecermatan melihat realitas sehari-hari adalah salah satu modal awal bagi kesadaran kolektif yang lebih jauh bagi kelas menengah. Memang tidak perlu muluk-muluk menjadi politis, namun setidaknya ada suatu kesungguhan lain di luar masalah ekonomi dan persoalan pragmatisme kerja.

Ruang Solidaritas Joli Jolan

Di Solo, terbentuk suatu ruang barter barang kolektif bernama Joli Jolan. Sekilas namanya terkesan tradisional. Namun sebenarnya di balik itu ada ide progresif yang menyatukan ikatan kelas menengah lintas profesi di Kota Solo.

Joli Jolan didirikan oleh sekelompok warga yang gelisah dengan perilaku konsumtif masyarakat. Niat awalnya, ruang solidaritas ini berfungsi untuk menyediakan barang yang masih layak pakai dan dapat ditukar dengan barang tepat guna lainnya.

Para pendiri Ruang Solidaritas Joli Jolan juga tidak dibatasi pada profesi tertentu. Ada yang berasal dari profesi wartawan, mahasiswa, dosen, dan juga peneliti. Secara garis besar, mereka adalah pekerja kerah putih yang oleh Gus Dur disebut sebagai golongan fungsional.

Setelah beberapa waktu berselang, Joli Jolan tak cuma sekedar bergerak di ranah tukar barang. Kini relawan Joli Jolan sudah mulai menyentuh ranah solidaritas antar kelas. Para relawan kerap menggerakkan donasi sandang dan pangan bagi masyarakat akar rumput di Kota Solo.

Kesan gerakan ini memang cenderung pada sifat filantropis. Tak ada kesan revolusioner ataupun memuat potensi radikalisme sosial. Namun, gerakan mereka menunjukkan bahwa para relawan yang berangkat dari kelas menengah ini terbuka pada dialog antar-kelas.

Lingkup gerakan ini juga akrab dengan publik. Dalam gerakannya, mereka menjamah banyak ruang publik. Dan sebagai suatu wadah, Joli-Jolan juga menjadikan galerinya sebagai suatu ruang publik tersendiri. Dengan aktivitas serba publik tersebut, dialog niscaya terjadi di dalam gerakan ini.

Lebih lanjut, untuk mewujudkan dialog yang lebih kritis, para relawan kerap menyelanggarakan diskusi publik. Galeri mereka juga tak jarang digunakan untuk membuka diskusi publik bagi pihak-pihak yang membutuhkan ruang khusus untuk diskusi.

Melihat hal itu, sebagian aktivitas gerakan ini cukup menjadi jawaban atas keraguan yang banyak diterima kelas menengah. Sebab, meski tidak menawarkan potensi transaksional dalam politik. Gerakan ini memiliki kekuatan pada solidaritas praksis yang berjalan dalam ranah isu-isu sosial di tengah masyarakat.

Itu berarti, gerakan sosial adalah sebuah bentuk yang sesuai bagi aktualisasi kelas menengah dalam mendorong proses perubahan sosial masyarakat. Sifat gerakan sosial juga telah melampaui motif gerakan politik yang rawan berbenturan dengan pelbagai pihak.

Keutamaan gerakan sosial juga terdapat pada aktualisasi, kreativitas, dan kritisisme yang saling berpadupadan. Dalam gerakan sosial pula, kepedulian sosial dan keterampilan teknis ala kelas menengah dapat menjadi suatu rumusan khusus landasan pergerakan mereka.

Dengan menyerap aspek gerakan sosial dan unsur kelas menegah, organisasi kelompok secara kolektif bisa mewujudkan kelas menengah sebagai kelas progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Arif Giyanto.

Memang, sebagai kategori sosial-politik, kekuatan kelas menengah tidak menjamin banyak hal. Konsep dan sifat gerakan mereka sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, optimisme kecil terkumpul, dan perlahan-lahan mengikat setiap individu dalam suatu solidaritas dan kesadaran bersama.

Categories
Komunitas

Menggambar Bersama Pak Tino

Terletak sekitar 200 meter dari jalan raya, siapa sangka rumah nan asri di Jl Tino Sidin 297, Bantul, Yogyakarta, ini adalah kediaman Pak Tino Sidin. Sekarang difungsikan sebagai museum Taman Tino Sidin. Bagi anak-anak generasi ’70-’90 an awal, nama Pak Tino tentu cukup familiar. Namun bagi saya sendiri yang lahir di penghujung 90an, sempat dibuat bertanya-tanya.

Pak Tino adalah seorang pelukis. Awal karirnya dimulai dari sanggar lukis anak Seni Sono Yogyakarta yang didirikan  Ny. Larasati Suliantoro Sulaiman dan Ny. Boldwin.

Pada tahun 1969, TVRI Yogyakarta mengundang Pak Tino sebagai pengisi acara berjudul Gemar Menggambar. Acara tersebut mendapat sambutan positif hingga bertahan sembilan tahun. Acara Gemar Menggambar kemudian berpindah ke TVRI pusat mulai tahun 1979-1989.

Selain seorang pelukis dan guru gambar, Pak Tino adalah pejuang kemerdekaan, art director beberapa film, penulis, komikus, serta guru kebatinan. Dia memiliki hubungan yang dekat dengan presiden pertama dan kedua Indonesia, Pak Karno dan Pak Harto.

Saya mengetahuinya dari album foto yang terletak di  lantai 1 museum. Di dalamnya tersimpan rapi berbagai album foto Pak Tino dan keluarga disertai barang-barang memorabilia dan lukisan Pak Tino.

Salah satu barang memorabilia tersebut adalah sebuah crayon Fujita dan crayon Pentel yang cukup populer di era 90an. Perusahaan crayon tersebut sampai memilih Pak Tino Sidin sebagai Brand Ambassador produknya.

Menuju lantai 2, terhampar sketsa-sketsa karya Pak Tino. Pak Tino sering membuat sketsa dari pemandangan atau benda yang beliau lihat. Juga tersimpan rapi komik dewasa dan anak karyannya. 

Menuju lantai 3, tersusun banyak buku berbagai genre milik perpustakaan Museum ini. Pada akhir tur museum, kami belajar menggambar bersama Pak Tino melalui TV yang menyiarkan ulang siaran program Gemar Menggambar.  Sebelum pandemi Covid-19 Museum Taman Tino Sidin sering mengadakan acara menggambar untuk anak-anak maupun acara kesenian.

Gemar Menggambar memang mendapat respon yang positif, namun ada juga yang menuduh Pak Tino mendikte anak-anak saat melukis. Alasannya karena Pak Tino mengedepankan garis lurus dan garis lengkung dalam mengajar. Pak Tino menyangkal pernyataan tersebut. “Saya memang tidak mengajar melukis, melainkan hanya merangsang anak-anak untuk menggambar,” kata Pak Tino berdasarkan keterangan guide museum.


Museum Taman Tino Sidin

Jl. Tino Sidin 297 Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182

Harga Tiket Masuk Rp 10.000

Buka Senin-Sabtu 09.00-13.00 (selama pandemi)

#ayokemuseum