Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Komunitas Uncategorized

Yuk, Daftar Workshop Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik

Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.

Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.

  • Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
  • Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
  • Mentor: Meilisa (Crafter @lovya.handmade Bandung)
  • Fasilitas: Workshop kit, stiker, souvenir Joli Jolan
  • Kontribusi: 40k (peserta terbatas)

Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523

Categories
Gagasan Uncategorized

Mendamba Segala Sesuatu yang Layak

Layak, kata tersebut merupakan impian dan dambaan bagi setiap orang yang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya. Konotasi layak, sering disandingkan dengan unsur kehidupan seperti penghasilan, pendidikan, dan terkhusus tempat tinggal yang layak.

Kali ini, guratan romantika digital, akan berusaha membuat kita tafakur, atau minimal membuat diri kita bimbang, tentang bagaimanakah pemukiman, atau tempat tinggal yang proposional ramah untuk semua.

Layak merupakan cita-cita bagi setiap orang tua kepada kehidupan anaknya, tetapi sudahkah kita mengenal betul tentang penjabaran dari kata layak itu? Atau masihkah kita membatasi kata layak itu dengan sesuatu yang mewah, glamor, bahkan moderen?

Yaps, sepertinya kita butuh merenung bersama tentang kata “layak”. Menurutmu, apa arti dari kata layak? Jika kita mencari kata “layak” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata “layak”, berarti pantas, patut bahkan sampai kepada mulya. Penjabaran singkat tentang kata “layak” tersebut memberikan kita gambaran sehingga menjadi kebiasaan. Ketika kita mempunyai hunian, atau lingkungan, yang notabene cukup membuat diri kita nyaman, perasaan kita cenderung menganggap hal seperti itu sudah layak.

Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman, pengertian perumahan yang layak adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari perumahan, baik perkotaan maupun perdesaan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai upaya pemerintah dalam memenuhi kriteria rumah layak huni. Rumah yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya serta aset bagi pemiliknya.

Sedangkan perumahan adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan pedesaan (Wijaya, 2015).

Ketahanan Keluarga

Pembangunan dan pengembangan kawasan lingkungan perumahan pada dasarnya memiliki dua fungsi yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Pertama, fungsi pasif dalam artian penyediaan sarana dan prasarana fisik. Kemudian, fungsi aktif yakni penciptaan lingkungan yang sesuai dengan kehidupan penghuni.

Secara mental, memenuhi rasa kenyamanan dan secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga, menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta pendidikan keluarga. Dengan terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni, diharapkan tercapai ketahanan keluarga.

Pada kenyataannya, untuk mewujudkan rumah yang memenuhi persyaratan tersebut bukanlah hal yang mudah. Ketidakberdayaan mereka memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni berbanding lurus dengan pendapatan dan pengetahuan tentang fungsi rumah itu sendiri. Pemberdayaan fakir miskin juga mencakup upaya Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RSTLH).

Demikian juga persoalan sarana prasarana lingkungan yang kurang memadai dapat menghambat tercapainya kesejahteraan suatu komunitas. Lingkungan yang kumuh atau sarana prasarana lingkungan yang minim dapat menyebabkan masalah. Permasalahan rumah tidak layak huni yang dihuni atau dimiliki oleh kelompok fakir miskin memiliki multidimensional permasalahan.

Oleh sebab itu, kepedulian untuk menangani masalah tersebut diharapkan terus ditingkatkan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat (stakeholder) baik pemerintah pusat maupun daerah, dunia usaha, masyarakat, LSM, dan elemen lainnya.

Keterlibatan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat tersebut diwujudkan dengan kontribusi nyata dalam mendesain permukiman yang layak untuk semua. Dimulai dari keruntutan pembuatan kebijakan seperti perizinan, maupun batas kepemilikan tanah dan peraturan baku sistem dalam masyarakat di permukiman. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati hunian, dapat memberikan gambaran tentang kondisi yang menjadi tantangan dan peluang dalam permukiman.

Mereka yang paham harus memberikan rekomendasi dalam tata kelola lingkungan yang aman dari konflik dan penyakit, serta sistem deteksi dini. Jika dikaitkan dengan dunia usaha, permukiman merupakan salah satu lokasi sentra usaha masarakat yang bersifat mikro berkembang.

Dalam hal tata kelola permukiman yang layak, tentunya harus tersedia bimbingan dan arahan supaya sentra kerajinan mikro yang dikelola oleh masyarakat tidak menimbulkan permasalahan baru dalam lingkungan. Sentra kerajinan yang layak harus bisa menjadi sumber penghidupan mulai keamanan bahan baku yang digunakan, produk yang dihasilkan mempermudah akses perekonomian masyarakat sekitar, dan pengelolaan limbah yang aman.

Categories
Uncategorized

Redistribusi Donasi Jadi Solusi

Mengelola pakaian dan barang yang terus mengalir adalah salah satu kegiatan utama dan rutin dilakukan oleh Joli Jolan. Selama ini, seluruh barang donasi memang disortir ulang oleh sukarelawan untuk memastikan kelayakannya ketika didistribusikan. Namun, saking banyaknya donasi yang datang (terutama pakaian), terkadang kami kewalahan dalam mengelolanya. Tak hanya kewalahan terkait masalah waktu dan sumber daya relawan, melainkan juga kapasitas ruang penyimpanan yang terbatas. Seringkali kami harus menolak donasi pakaian, terutama pakaian perempuan, karena stok di galeri yang masih sangat melimpah.

Keseimbangan keluar-masuk barang donasi memang sangat kami perhatikan agar operasional galeri berjalan lancar setiap pekan. Kami tak ingin donasi kawan-kawan terlalu lama menumpuk hingga akhirnya menjadi rusak atau kurang terawat. Seringkali penumpukan donasi pakaian memang tak terhindarkan, terutama setelah kami membuka galeri kami sehabis tutup atau libur panjang. Kami tidak bisa hanya mengandalkan operasional setiap Sabtu untuk dapat menyalurkan donasi yang dikirim dari penjuru Indonesia.

Kami menyadari bahwa problem ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Program kolaborasi pun menjadi solusi yang lagi-lagi mujarab. Beberapa hari lalu, kami mendistribusikan kelebihan donasi yang ada di galeri ke “kampung becak” di Clolo, Kadipiro. Ada beragam pakaian hingga aksesoris seperti jilbab yang disalurkan ke sana. Redistribusi donasi ini ternyata memang cukup berhasil membuat “lega” ruang penyimpanan kami.

Sebelumnya kami juga cukup sering menyalurkan donasi ke sejumlah kawasan marjinal maupun daerah yang tak terjangkau layanan Joli Jolan. Oleh karena itu, kami pun sangat terbuka bagi kawan yang ingin membantu menyalurkan pakaian untuk warga yang membutuhkan di daerah sekitarnya. Tak harus menunggu bencana, pakaian layak dan piranti lain seperti tas hingga buku faktanya masih sangat dibutuhkan sejumlah saudara kita.

Apabila komunitas kawan ingin mengadakan gerakan baksos atau inisiatif kolektif lain, jangan ragu untuk menghubungi kami. Sebisa mungkin akan kami dukung kegiatan tersebut sesuai stok barang yang ada di galeri.

Categories
Uncategorized

Libur Lebaran 2023

Halo, Kawan-kawan! Menyambut Lebaran, kami izin libur sejenak ya untuk berkumpul bersama keluarga. Layanan Joli Jolan kami tutup sementara mulai 22 April sampai 12 Mei. Kami akan menyapa kawan-kawan lagi pada 13 Mei.

Kami tidak menerima donasi pakaian maupun barang selama libur operasional. Namun kami masih menerima donasi berupa sembako atau makanan kemasan dengan kontak/janjian terlebih dulu.

Di sela rehat yang cukup panjang ini, kami akan menggelar sarasehan bagi calon sukarelawan baru Joli Jolan. Kami juga berencana menggelar sebuah program kolaboratif bersama komunitas lain di awal Mei. Jangan sampai kelewatan infonya.

Bagi kawan yang hendak mudik, hati-hati di jalan, ya. Selamat berkumpul bersama keluarga!


Joli Jolan adalah gerakan kolektif berbasis warga sipil yang berfokus pada redistribusi kepemilikan. Kami terbuka bagi kawan yang ingin berkolaborasi. Kami juga mengundang kawan untuk terlibat menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas 🏡✨

👕Info lebih lanjut: jolijolan.org
✊Jadi relawan: linktr.ee/Jolijolan
🌻Dukung kami: trakteer.id/jolijolan/tip