Categories
Komunitas

Ikhtiar Merintis Gerakan Literasi

Perempuan berperawakan kecil itu mendadak mengucap syukur saat berkunjung ke galeri Joli Jolan akhir pekan lalu. Raut mukanya seakan tak percaya usai mendapatkan seratusan buku bacaan untuk taman bacanya. “Alhamdulillah, mungkin ini jawaban doa saya,” ujar perempuan berjilbab bernama Dyah itu sambil terus berucap syukur.

Beberapa waktu terakhir, Dyah tengah merintis taman bacaan bernama Rumah Baca Teras Kita. Fasilitas itu berlokasi di Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Dia memanfaatkan teras rumah dan ruang tamu kebunnya untuk menjadi taman baca. Dyah bersemangat membangun taman baca yang dapat diakses secara gratis mengingat minimnya fasilitas sejenis di kampungnya.

Namun upaya menggerakkan literasi secara swakelola ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Dia sudah berkeliling ke perpustakaan daerah di Soloraya untuk mengakses donasi buku bacaan, pun lembaga pendidikan lain yang memiliki fasilitas baca. Namun, dia selalu pulang dengan tangan hampa. “Terlalu banyak persyaratan,” ujar Dyah yang siang itu datang bersama sang anak, Rania dan teman sepermainannya.

Selama ini, dia menyicil koleksi taman baca dengan membeli buku di bazar murah dengan kocek sendiri. Dyah pun kaget saat kami mempersilakannya mengambil koleksi buku di Joli Jolan tanpa syarat berbelit. Dia bahkan sampai memaksa kami melihat proposal taman bacanya, menunjukkan bahwa dia serius membangun Rumah Baca Teras Kita. “Rencananya akan kami buka setiap Sabtu-Minggu,” ujarnya.

Saat itu, kami pun merasa senang karena buku donasi dari kawan-kawan sudah menemukan rumah barunya. Belakangan kami memang fokus cuci gudang koleksi agar donasi buku baru bisa masuk. Usai mengepak buku, Dyah langsung memesan taksi online untuk mengantar koleksi barunya sampai rumah. Sang putri, Rania, dan temannya, tampak kegirangan karena bakal punya banyak bahan bacaan anyar. “Semoga suatu hari saya bisa bikin seperti Joli Jolan di tempat saya,” ujar Dyah sebelum bergegas pulang.

Peran Taman Baca dalam Menumbuhkan Literasi

Minimnya minat literasi memang menjadi masalah klasik di Indonesia. Selain rendahnya minat baca, akses terhadap sumber-sumber literasi pun kurang memadai. Harga buku yang semakin melangit tentu menjadi salah satu alasan tersendiri mengapa tidak semua orang memprioritaskan buku sebagai kebutuhan utama. Oleh karena itu, tumbuhnya taman-taman baca seperti ini menjadi oase yang sudah selayaknya didukung.

Berdasarkan data dari pengurus pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM), ada sebanyak 2.388 TBM dan komunitas yang terdaftar pada tahun 20231. Bisa dibilang jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat Indonesia yang mencapai 278,7 juta pada pertengahan 20232.

Meskipun adanya taman baca tidak seketika membuat minat baca mayoritas masyarakat Indonesia meningkat, setidaknya taman baca menjadi rujukan bagi mereka yang telah memiliki minat baca tetapi kesulitan membeli buku. Taman baca menjadi upaya mengakrabkan literasi kepada mereka-mereka yang telah menemukan manfaat dan kesenangan dalam membaca.

Apabila peran taman baca terus didukung dan diduplikasi, bukan hal yang mustahil dampak positif akan terwujud ke depannya. Bisa jadi generasi yang tumbuh bersama literasi akan menyebarkan semangat literasinya melalui cara mereka masing-masing saat dewasa nanti. Semangat positif seperti inilah yang sedikit demi sedikit akan mewujudkan kebiasaan literasi secara massal.


  1. Hi.Yusuf, H. (2023, September 14). Taman Bacaan Masyarakat dan Gerakan Sosial Baru di Indonesia. ForumTBM. https://forumtbm.or.id/taman-bacaan-masyarakat-dan-gerakan-sosial-baru-di-indonesia/ ↩︎
  2. Badan Pusat Statistik. (2023, November 24). Hingga Pertengahan 2023, Jumlah Penduduk Indonesia Tembus 278 Juta Jiwa. KKIJateng. https://kkijateng.or.id/hingga-pertengahan-2023-jumlah-penduduk-indonesia-tembus-278-juta-jiwa/ ↩︎
Categories
Sudut Joli Jolan

Kangen Joli Jolan

Pertama kali saya mengenal Ruang Solidaritas Joli Jolan hanya melalui postingan Instagram (joli_jolan). Saat itu satu di antara beberapa postingannya muncul di beranda. Sebuah konsep yang menarik, yakni berbagi kebaikan dengan barang layak pakai. Seketika ketertarikan saya muncul untuk berselancar di laman sosial medianya. Setiap postingan saya kunjungi hingga berlanjut menggali informasi tambahan di website yang mereka punya (jolijolan.org). Meskipun gerakan sosial, tetapi media informasi yang merkea garap sangatlah rapi. Hal ini pastinya meyakinkan pengunjung untuk masuk ke ruang perkenalan lebih dalam.

Setelah mendapat informasi detail, termasuk jadwal layanan, pekan berikutnya saya memutuskan untuk berkunjung ke kantor sekaligus lapak mereka yang bertempat di Jl. Siwalan No. 1 Kota Surakarta. Tempatnya strategis dan sangat mudah dikunjungi dengan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Saat itu cukup ramai. Jumlah relawan yang berjaga di hari itu juga banyak. Sehingga, sangat memadai untuk memberikan informasi dan pelayanan kepada pengunjung. Sesampai di sana, saya diarahkan untuk mengisi buku tamu. Rasa penasaran yang memuncak, beberapa hal saya tanyakan satu per satu kepada relawan yang berjaga di stand depan pintu. Berbincang, mencari tahu satu dua hal yang mendasari mereka mendirikan komunitas sosial yang mungkin jarang digagas kebanyakan orang.

Meskipun beberapa sudah tahu dari informasi yang saya baca baca kemarin, tetapi beberapa pertanyaan saya coba kembangkan untuk mengkonfirmasi banyak hal. Setelah cukup mendapat banyak informasi dan yakin, saya disarankan untuk membuat kartu membership. Tentu dengan senang hati, saya mengiyakan tawaran yang disampaikan relawan tersebut.

Setelah dipersilahkan masuk ke dalam galeri, saya pun berkeliaran di setiap sudut ruangan dan memindai barang-barang gratis yang ada di sana. Joli Jolan menerima donasi segala bentuk barang layak pakai untuk bisa dimanfaatkan orang lain. Biasanya, donatur memberikan donasi barangnya karena sudah bosan atau sudah ganti dengan barang yang baru. Mungkin pikir mereka daripada rusak karena tidak dipakai, alangkah baiknya didonasikan ke Joli Jolan, siapa tau ada (pengunjung) yang membutuhkan untuk memanfaatkan barang tersebut.

Tidak heran, di setiap sudut ruangan penuh dengan barang-barang. Mulai dari sepatu, celana, baju, seragam sekolah, tas, topi, buku, bibit tanaman, dan masih banyak lagi. Jolijolan hanya menerima barang layak pakai, mereka punya regulasi untuk memilah dan memilih terlebih dahulu barang dari donatur. Selanjutnya mereka bersihkan dan diperlakukan selayaknya mereka sendiri yang memakainya. Sehingga, barang yang tertata di ruangan sangat layak untuk digunakan atau mungkin jika tidak berlebihan sangat layak pakai tertata rapi di rak dan cantolan.

Setelah puas di ruangan utama, saya pun bergeser ke teras depan. Di sana tertata rapi banyak sekali buku bacaan. Beberapa pengunjung asyik memilih dan membaca buku yang ada di sana. Saya pun mengambil salah satu buku untuk memuaskan rasa penasaran untuk melihat koleksi buka apa saja yang ada di sana. Satu per satu buku saya buka dan baca sejenak. Dipayungi pohon mangga yang rindang, membuat aktivitas membaca buku semakin nyaman.

Setelah puas dengan buku-buku dan melanjutkan langkah untuk berpindah, ada relawan yang mendatangi saya. Saya memperkenalkan diri kepada relawan tersebut hingga berlanjut berbincang tentang banyak hal. Tidak terasa, sudah banyak tema yang kami bicarakan. Obrolan mengalir dengan santai, layaknya pertemuan antara kawan lama yang tidak lama jumpa. Nyaman dan menyenangkan. Bercerita dan mengkonfirmasi banyak hal menjadi tema perbincangan kami yang panjang. Dilanjutkan rencana kegiatan kolaborasi yang berkesinambungan.

Tidak terasa, Joli Jolan sudah berumur empat tahun sejak kelahirannya. Mengusung tema di tahun ke empat, Empati di Relung Sanubari. Kegiatan utama masih jalan, tetapi lebih banyak lagi program inovatif yang tetap mereka jalankan dan penuh kebermanfaatan. Terlebih lagi, bisa dibilang mereka telah teruji dalam melalui badai Covid-19. Berkaca dari kejadian luar biasa itu, rasa-rasanya Joli Jolan perlu hadir dan menemani di tengah masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan.

Saat ini kembali pada fase perkenalan, mengamati tumbuh kembang Joli Jolan dari kejauhan. Melalui setiap postingan media sosial, sembari penuh kegirangan. Semoga Tuhan menjaga mereka yang terus sinergi untuk berlomba-lomba bermanfaat lewat wadah Joli Jolan. Berharap bertemu kembali dalam kegiatan di lain kesempatan.

Jakarta, 7 Januari 2024

Categories
Sudut Joli Jolan

Empati di Relung Sanubari

Seorang anak perempuan memasuki halaman Ruang Solidaritas Joli Jolan di Jalan Siwalan 1, Kerten, Laweyan, Solo, pada Sabtu siang beberapa bulan silam. Ia datang bersama ibu dan neneknya, mengenakan rok tutu warna merah muda, rambut dikuncir kuda.

Senyumnya lepas begitu melihat pojok mainan di Galeri Joli Jolan. Sebuah boneka berukuran sedang dia ambil. Dia memilih-milih lagi, agak lama. Wajahnya tersipu malu saat saya dekati. Kutanya, kenapa masih sibuk mencari boneka yang serupa? Dia bilang harus membawa dua untuk diberikan saudara perempuannya yang kebetulan sedang sakit di rumah. Saya pun tersenyum tipis sambil ikut mencarikan, meski butuh waktu cukup lama untuk dapat jenis yang serupa.

Hari itu, pengunjung kecil Joli Jolan tersebut tak sekadar mengambil boneka, tapi juga mengambil hati kami. Ia mengingatkan agar ruang solidaritas ini terus dirawat, jadi rumah yang nyaman bagi siapa pun yang singgah.

Empati untuk Merawat Solidaritas

Ibarat kendaraan, empati adalah mesin kami. Gerbong Joli Jolan tak akan benar-benar kukuh tanpa adanya kesadaran dan welas asih dari para sukarelawan, donatur, maupun para pengunjung. Sukarelawan hampir tak pernah absen membuka galeri tiap hari Sabtu dan melakukan sortir barang pada hari Rabu. Kami paham betul bahwa ada puluhan orang yang menunggu untuk mengambil dan berbagi barang tiap akhir pekan.

Apalagi di momen-momen besar seperti Lebaran. Rumah kami terbuka bagi mereka yang juga ingin punya baju ganti tapi tak sempat membeli pakaian karena impitan kebutuhan. Gamis dan blus panjang biasanya laris manis. Anak-anak asyik memilih baju, sementara si ibu khusyuk memilah-milah kerudung. Pada saat bersamaan, beberapa orang yang merasa berlebih pakaian juga rajin mengirimkan barang di galeri Joli Jolan. Misinya satu, mengajak semua orang merayakan kebahagiaan pada hari besar tersebut. Mereka meyakini, layaknya emosi sedih dan marah, bahagia tak akan benar-benar abadi. Jadi sudah seharusnya saling dibagi.

Berdiri sejak 21 Desember empat tahun silam, perjalanan kami juga tak pernah lepas dari kolaborasi. Sejumlah kawan dari lintas organisasi maupun secara personal datang silih berganti, saling bergandeng tangan untuk terus memumpuk rasa peduli. Upaya bersama ini yang juga menjadi penyuntik semangat kami.

Layaknya bayi, empat tahun adalah saatnya merangkak, bergerak, dan mengenal lebih banyak warna. Itu pula salah satu harapan kami. Meski riaknya masih kecil, kami ingin menjadi lilin yang terus menyalakan empati dan welas asih. Menjadi penerang di tengah dunia yang serba cepat dan serba menuntut sejumlah orang menjadi oportunis serta mementingkan diri sendiri.

Kami tak bisa menjanjikan terus ada hingga belasan atau puluhan tahun nanti. Namun, budaya saling memberi dan menerima dengan penuh kasih ini semoga selalu tertanam di sanubari. Tanpa itu, tak pernah ada Joli Jolan hingga hari ini. Dirgahayu keempat tahun Joli Jolan!

Categories
Reportase

Workshop Growth Mindset bagi Guru dan Siswa SMKS Bhinneka Karya 5 Teras Boyolali

SMKS Bhinneka Karya 5 Teras, Boyolali disiapkan sebagai SMK Pusat Keunggulan (PK). Upaya ini salah satunya didorong oleh sejumlah akademisi dari Sekolah Vokasi IPB University melalui program Dosen Mengabdi Inovasi 2023.

Program Dosen Mengabdi Inovasi 2023 digelar melalui serangkatan kegiatan salah satunya Workshop Motivasi dan Growth Mindset bagi guru dan tenaga kependidikan dan para siswa sekolah serempat, Selasa (7/11/2023). Dalam workshop itu hadir sejumlah narasumber dari Prodi Manajemen Agribisnis dan Prodi Teknologi Rekayasa Komputer di antaranya Dr. Ir. Wien Kuntari, M.Si, Uding Sastrawan, S.P., M.Si, dan Bayu Widodo, ST., MT.

Workshop itu membahas peran penting pendidikan pada era digital agar para guru dan tenaga kependidikan bisa berkontribusi positif pada perkembangan siswa. Fokusnya meliputi strategi untuk meningkatkan motivasi, merumuskan tujuan yang jelas, dan membangun keyakinan diri, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan dukungan kepada siswa.

Ketua tim Dosen Mengabdi Inovasi IPB 2023, Bayu Widodo, ST., MT, , menyampaikan kegiatan ini juga mendukung sertifikasi kompetensi, mempersiapkan SMK Bhinneka Karya 5 Teras sebagai SMK Pusat Keunggulan (PK).

Sertifikasi kompetensi bukan hanya meningkatkan daya saing di dunia kerja, tetapi juga merupakan pengakuan atas capaian kemampuan individu. “Diharapkan, kegiatan ini dapat memotivasi pelajar untuk meningkatkan kompetensi dan mendorong semangat guru di SMK Bhinneka Karya 5 Teras,” sambung Uding Sastrawan, SP, MSi.

Kepala SMKS Bhineka Karya 5 Teras Boyolali, Deny Prihasanti, ST, , menyambut baik program kerja sama antara sekolah yang dipimpinnya dengan SV IPB University. Dia berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan untuk mendukung semangat para guru dan meningkatkan persiapan lulusan SMK. Muaranya adalah peningkatan mutu pendidikan dan lulusan SMK.