Categories
Gagasan

Relasi antara Berpakaian, Identitas Diri, dan Penilaian Sosial

Bolehkah kita jujur sebentar? Seberapa sering kita menilai orang lain hanya dari pakaian yang melekat di tubuhnya? Memakai baju bermerek, berarti kaya dan berkelas, yang rapi berarti sopan juga jujur, sementara yang berpakaian sederhana acapkali dianggap acuh tak acuh dan juga tidak tahu tren.

Munculnya fenomena ini bukan tanpa alasan. Dunia modern telah menyiapkan segala macam siasat agar kita mau saja dibelenggu oleh mode, dengan mengaburkan pemaknaan yang bersumber dari dalam diri.

Apakah ungkapan, “don’t judge a book by its cover” ini masih relevan? Dalam kesehariannya, saya rasa masih ada yang sering menyikapi fenomena tersebut secara tidak adil. Ada beberapa hal yang sejatinya masih perlu dipertanyakan ulang. Apakah mengenakan jas dengan aksesori dasi berkelas itu sudah dianggap orang yang bisa dipercaya? Apakah yang mengenakan batik dan kebaya sudah paling menyimbolkan seseorang yang mencintai budaya lokal?

Memakai pakaian berwarna hitam berarti membawa kesan misterius, susah ditebak, dan unik. Jika mengenakan pakaian yang berwarna cerah dan tabrak warna dianggap “nyentrik” dan ceria, sedangkan yang memakai pakaian putih bersih identik kesucian dalam dirinya dengan spiritualitas tinggi. Sudah terlalu lama identitas diri dilekatkan pada bagaimana sesorang menutup tubuhnya.

Seakan-akan pakaian menjadi gerbang paling mudah untuk mengukur siapa seseorang. Tentu, berpakaian bisa menjadi sarana menunjukkan identitas diri. Tetapi tak akan pernah cukup untuk menilai, apalagi berusaha mengenal seseorang secara utuh. Berpakaian hanya irisan kecil dalam ejawantah diri.

Model, warna, hingga detail pakaian memang bisa memberi simbol: apa yang disukai, pesan apa yang ingin dibagikan ke khalayak, bahkan status sosial apa yang ingin ditampilkan. Tetapi, pakaian tetaplah sebatas kain yang menempel pada tubuh. Identitas yang utuh, tidak akan pernah bisa untuk sekedar ditempelkan pada kain. Ia beranak-pinak tumbuh jujur dalam pikiran dan konsistensi dalam bersikap di keseharian.

Dari mulai bagaimana jujur dengan diri sendiri, caranya berkomunikasi dengan orang lain, merespons ketika dilimpahi banyak kenikmatan hidup, melenting ketika sedang terimpit rasa kesusahan, menjaga penuh relasi dengan Tuhannya, sampai bagaimana bersikap jika penguasa menekan rakyat dan berlaku tidak adil. (Aduh, kok malah berat gini lho ehh!)

Mestinya, identitas diri lahir dari kejujuran dan kemurnian jiwa, tanpa dibuat-buat. Sayangnya, masih ada saja orang yang demi menyenangkan mata orang lain, ia mengejar standar keren yang dibuat oleh pasar yang tiada ujungnya. Akibatnya ia pun rela memaksakan diri untuk berpakaian yang tidak menujukkan siapa dirinya dan berusaha menjadi orang lain. Lalu siapa yang tertipu pertama kali selain dirinya sendiri?

Hidup Secukupnya Saja

Sudah berapa jutaan postingan di TikTok, YouTube, atau Instagram yang dirilis untuk mengacak-acak pola pikir kita? Yang sebenarnya mengarah ke pola pikir barat dengan konsumerismenya. Namun, ada pepatah Jawa, “urip iku sak madyane.” Hidup itu secukupnya saja. Menyederhanakan apa yang disandangnya seolah menjadi angin segar dan opsi untuk tidak berlebih-lebihan.

Dunia modern makin sibuk, alih-alih kita upgrade skill yang dipunya atau aware dengan kondisi kanan-kiri, kita malah fokus mempertebal topeng-topeng tubuh. Toh sebulan lagi, tren di pasaran sudah akan berubah, kan? Influencer yang kita puja juga sudah melupakan pakaian apa yang dipromosikan saat itu. Nah, mau sampai kapan akan terus mengikutinya lagi dan lagi? Diskon-diskon di keranjang online siap menanti, tetapi semoga jari masih tetap ada sepenuhnya dalam kuasa diri.

Pakaian bisa menipu, kadang datang dengan cara super halus, taktis, tetapi bisa juga sangat masif. Sebab, seseorang bisa memakai pakaian apa saja, tetapi tidak merepresentasikan dirinya secara utuh. Identitas diri amat kompleks, sangatlah kecil dan remeh apabila diukur dari pakaian. Ia hadir tanpa label harga dan tanpa merek branded kekinian.

Kita bisa mengenal identitas seseorang dari nilai-nilai kehidupan yang sedang dipegang, karakter yang terus dibangunnya, serta pengalaman hidup yang sudah membentuknya. Bukankah itu lebih mencerminkan dari identitas diri seseorang? Semoga kita tidak luput terus-menerus ya, agar tidak saling menipu diri sendiri maupun orang lain.

Categories
Gagasan

Imajinasi tentang Literasi

“Kenapa kok gratis?” Kalimat itu meluncur dari seorang remaja perempuan saat menyambangi booth Joli Jolan di Solo Literacy Festival 2025 pekan lalu. Pelajar dari sebuah SMA negeri di Solo itu tampak keheranan ketika menyimak buku berlabel gratis yang tertata di meja.

Saat itu kami spontan menjawab singkat, “kenapa kok harus bayar?” Remaja tersebut pun manggut-manggut sambil tersenyum. Dia pun melanjutkan perburuan bukunya di stan kami bareng kawan sebayanya.

Pertanyaan gadis itu mungkin sederhana, tapi menyimpan makna. Selama ini, kita memang cenderung terbiasa dengan pola transaksi jual-beli. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari, termasuk literasi, harus ditebus dengan rupiah. Bahkan meminjam di persewaan buku pun masih melibatkan uang.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun kebiasaan tersebut, sadar atau tidak, mengurangi imajinasi kita untuk penyediaan kebutuhan yang murah, bahkan gratis. Padahal sebelum konsep uang muncul, kita mengenal sistem barter yang memungkinkan orang bertukar barang sesuai kebutuhannya.

Di dunia perbukuan, barter buku bisa menjadi solusi bijak untuk menambah ilmu sekaligus berhemat. Selain itu, konsep berbagi bisa diterapkan untuk pemerataan akses literasi, seperti yang kami lakukan di event kemarin.

Semua buku yang kami bagikan gratis adalah mlik warga. Banyak alasan mereka mendonasikan bacaannya. Ada yang karena sudah selesai membacanya, mengurangi tumpukan buku di rumah, hingga sesimpel ingin berbagi dengan sesama. Terlepas apa pun alasannya, buku yang mereka bagi akhirnya kembali bermanfaat di tangan yang baru.

Lalu bagaimana menggerakkan sebuah kegiatan jika semuanya berlabel gratis? Untuk menjaga konsistensi redistribusi buku, kami menerapkan semacam “subsidi silang” ketika mengikuti event. Ada buku yang dibanderol harga, tapi tetap sangat terjangkau warga. Di Solo Literacy Festival kemarin, beberapa buku pilihan pun bisa diadopsi hanya dengan donasi Rp20.000,00 saja.

Pada akhirnya, banyak alternatif yang sebenarnya bisa dilakukan warga untuk penyediaan literasi di wilayahnya. Mulai dari hal kecil, dan konsisten, kita bisa membuat sebuah perbedaan. Mari bergerak bersama!