Categories
Reportase

Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah

Judul asli “Mandiri Pangan di Tengah Kebijakan Nol Sawah: Petani Kota Solo Menanam di Antara Tembok Rumah dan Toko” oleh Ariyanto Mahardika, Project Multatuli
September 22, 2023

Sinar matahari terik menyorot para pekerja bangunan di pinggir Jl. Melon Raya, Karangasem, Solo. Seorang perempuan paruh baya tampak mendorong troli berisi air untuk mengaduk pasir dan semen. Air diambilnya dari selokan yang dibendung dengan batu-batu kecil dan plastik bekas pembungkus makanan. Selokan itu semula adalah saluran irigasi untuk mengairi sawah di kawasan ini.

“Untuk perumahan,” kata perempuan itu, merujuk adonan semen dan pasir.

Pemandangan perempuan pekerja bangunan tak sulit ditemukan di Solo. Mereka kebanyakannya adalah petani dari luar kota. Demi bisa tetap hidup, bila sedang tidak musim panen, mereka akan melakoni profesi lain. Salah satunya pekerja bangunan musiman.

‘Kota Batik’ ini kini semakin ramai dengan kompleks perumahan baru, kafe yang menyajikan aneka makanan, dan tempat indekos. Bangunan-bangunan itu berdiri di bidang-bidang lahan persawahan. Di antara bangunan, sebagian lahan yang tersisa dibiarkan penuh dengan ilalang.

Kondisi nyaris serupa juga dijumpai di Jajar, tetangga Kelurahan Karangasem. Lahan-lahan di antara gedung dan permukiman dibiarkan bera atau tak lagi ditanami, sebagian lain ditumbuhi rumput liar. Bila sudah begitu, maka cepat atau lambat lahan itu bakal berubah jadi kompleks perumahan atau bangunan baru.

***

Di Kampung Nayu, Banjarsari, sekitar enam kilometer arah timur laut Karangasem, sekelompok ibu-ibu sibuk memanfaatkan lahan kosong yang tersisa dengan menanam aneka rupa sayur.

Tanaman sawi, tomat, dan labu terlihat menyembul dari sebidang tanah dan taman bedengan, atau yang kerap dikenal orang kota dengan raised-bed gardening. Tanaman cabai juga ada di petak lainnya.

Sebidang tanah itu berada di antara rumah warga yang berada di belakang Kantor Kelurahan Joglo. Lahan yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam itu hanya sepertiga dari total kebun. Di tengah-tengah sebidang tanah itu berdiri rumah tua berbentuk joglo, rumah khas Jawa. Di bagian pinggir kebun terdapat pohon nangka dan sisa tonggak bambu.

Hampir setiap sore, ibu-ibu berkumpul dan bercocok tanam di lahan yang semula ditumbuhi ilalang dan rumpun bambu. Mereka rutin menyemprot tanaman, mencabuti rumput, atau membersihkan petak untuk persemaian. Tanaman disemprot pestisida alami yang dibuat dari buah dan rempah seperti kunir, sirsak, cengkih, dan serai. Campuran bahan-bahan ini tak hanya bisa membasmi hama tetapi juga menjaga kesuburan tanah.

Di bagian lain, di atas tanah petak berukuran satu kali empat meter, kangkung mulai rimbun. Tumbuhan itu subur pada petak yang ditata rapi dengan batang-batang paving block pada pinggir area tanamnya. Sebentar lagi kangkung bisa dipanen.

“Satu petak itu bisa menghasilkan sekitar Rp200 ribu setiap panen. Kami jual secara online melalui media sosial. Per ikat kami jual Rp7 ribu. Semua kami tanam dengan organik,” begitu kata Margareta Pety Aryani, warga yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur.

Harga jual sayur-mayur organik KWT Ngudi Makmur memang lebih mahal dari pasar, tetapi masih di bawah harga pasar swalayan. Bu Pety, begitu ia akrab disapa, mengaku selama ini sayur-mayur yang ditanamnya selalu laku, bahkan ia sering menerima pesanan di awal.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur sedang memanen sayuran di kebunnya yang terletak di Joglo, Banjarsari, Solo, beberapa waktu lalu. Sayuran organik tersebut sebagian dimanfaatkan untuk dikonsumsi warga setempat, sebagian dijual untuk kas kelompok. (Chrisna Chanis Cara/Joli Jolan)

Pety memimpin KWT Ngudi Makmur sejak kali pertama kegiatan ini dimulai sekira empat tahun lalu. Tanah yang dipakai milik tetangganya, keluarga Rodiah.

Rodiah (63) merelakan lahan di samping rumahnya untuk kegiatan para tetangga asalkan saat dibutuhkan, kegiatan kelompok perempuan yang peduli pada penghijauan dan ketahanan pangan itu, bersedia dipindahkan ke lokasi lain.

“Ya, ndak ada perjanjian khusus. Ini memang milik keluarga kami. Saudara saya tinggal di Bali. Tapi kalau kami nanti sewaktu-waktu membutuhkan bisa diminta kembali,” kata Rodiah.

Pety berkisah, ia semula tidak bertani di lahan milik Rodiah. Ia bersama beberapa ibu-ibu awalnya menanam di lahan kosong yang juga tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kegiatannya itu mengundang keinginan warga lain untuk ikut berpartisipasi. Alhasil, mereka meminta agar kegiatan bercocok tanam dilakukan di lahan yang lebih luas.

“Kami lalu pindah ke sini. Di sana luasnya sekitar 700 meter persegi. Dulu itu, di sini banyak alang-alang dan pohon-pohon besar,” kata Pety yang juga seorang guru agama Katolik di SMP Negeri 3 Surakarta.

Tidak mudah bagi Pety dan kelompoknya memulai bercocok tanam. Anggota KWT Ngudi Makmur terdiri atas ibu-ibu kampung yang sebagian besarnya ibu rumah tangga. Tak ada dari mereka yang merupakan petani tulen, yang sehari-hari bergelut dengan lumpur dan cuaca terik, serta hafal jenis-jenis penyakit tanaman.

“Awalnya susah. Tanaman banyak yang mati atau terserang penyakit. Tapi kami kemudian mendapat bimbingan penyuluhan dari dinas pertanian,” imbuh Pety, merujuk pada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Pety menerangkan kegiatannya turut mengundang perhatian Pemkot Surakarta. Pada 2021, kelompok tani yang dipimpinnya mendapat dukungan dana sebesar Rp55 juta dalam dua tahap.

“Pada 2021, kami menerima Rp30 juta dan tahun berikutnya Rp25 juta dari DAK [Dana Alokasi Khusus]. Dana itu kami gunakan macam-macam kebutuhan di antaranya untuk membuat saluran air”, kata Pety.

Semula, KWT Ngudi Makmur beranggotakan sekitar 30 orang. Saat ini, yang masih aktif tinggal separuhnya. Penyebabnya karena sebagian anggota bergabung dengan kelompok tani di lahan sebelumnya. Sementara, sebagian lain anggota KWT yang mundur karena merasa tidak memiliki kecocokan dengan kegiatan ini, kata Pety.

Warga sekitar kampung memutuskan untuk tetap mengolah lahan sebelumnya dan membentuk kelompok tani bernama Sumber Berkah. Anggota kelompok tani tak semuanya perempuan tetapi juga laki-laki. Selain bercocok tanam, ibu-ibu ini juga mencoba usaha lain dengan menjual minuman dari daun telang. Produksinya masih terbatas. Saat ini mereka hanya akan membuat minuman apabila ada pesanan. Satu botol minuman telang berukuran seperempat liter dijual dengan harga Rp15 ribu.

Sawah Nol Hektare

Area persawahan di Solo bukan sudah habis. Di sisi timur Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Kecamatan Laweyan masih terlihat hamparan tanaman padi di antara kompleks permukiman warga. Begitu juga di wilayah Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Jebres. Bila ditotal, luas lahan persawahan di kedua kecamatan ini bisa mencapai sekitar 40 hektare. Akan tetapi, bisa dikatakan lahan-lahan itu adalah yang terakhir di tengah maraknya pembangunan area bermukim dan berniaga.

Kebanyakan petani yang menggarap sawah yang tersisa di Solo adalah pendatang, bukan pemilik lahannya. Produktivitas sawah anjlok, panen terus merosot akibat dari menurunnya fungsi saluran irigasi. Para petani dan penyewa lahan harus mengebor tanah agar tetap bisa mengairi lahan garapan.

Merespons situasi itu, pada 2017, saat FX Hadi Rudyatmo masih menjabat Wali Kota Surakarta, mengusulkan agar sawah lestari di wilayah yang dipimpinnya dihapus. Usulan sudah disampaikan ke Ganjar Pranowo, yang ketika adalah Gubernur Jawa Tengah. Kala itu, sawah di Solo tercatat mencapai 96 hektare. Luasan itu telah merosot dibandingkan empat tahun sebelumnya yang mencapai 135,03 hektare.

Alih fungsi lahan mulai masif terjadi sejak kehadiran Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surakarta 2011-2031. Perda yang ditandatangani Joko Widodo, selaku Wali Kota Surakarta saat itu, bertujuan mengatur kota yang semakin padat dengan penduduk, selain juga untuk menjadi panduan bagi arah investasi pembangunan.

Kota Solo memiliki luas 46,72 kilometer persegi dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 522.364 jiwa pada 2020, dan terus meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk yang terus meningkat berbanding lurus dengan kebutuhan ruang. Keberadaan lahan non-terbangun di Solo hingga ke wilayah pinggiran kota pada akhirnya menyebabkan perluasan aktivitas perkotaan hingga ke area tersebut.

Studi Nurdiana & Giyarsih (2016) bertajuk, Analisis Fragmentasi Spasial Berbasis Citra Multitemporal Untuk Mengidentifikasi Fenomena Urban Sprawl di Surakarta, menyebutkan dinamika perluasan aktivitas perkotaan itu turut mengakibatkan perubahan penggunaan lahan nonterbangun menjadi lahan terbangun hingga ke wilayah perbatasan seperti di Kecamatan Kartasura.

Melihat kebutuhan ruang terbangun yang terus meningkat, usulan penghapusan area sawah akhirnya benar-benar terealisasi. Pada 2021, Perda No. 4/2021 tentang RTRW Kota Surakarta 2021-2041 lahir. Seiring munculnya regulasi tersebut, lahan pertanian di kota ini menjadi nol hektare.

“Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta Tahun 2011-2031 [Lembaran Daerah Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012] dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” demikian tertulis pada salinan Perda yang diteken Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka pada 9 Juli 2021, atau sekitar lima bulan setelah dirinya dilantik.

Syarat Minimum Lahan Pertanian Kota

Dua tahun lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menerbitkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA) untuk menjelaskan lokasi wilayah rentan pangan di kota tersebut. Dari laporan itu, terdata sebanyak enam dari 54 kelurahan di Solo berada pada status rentan pangan dengan skala tinggi, sedang, dan rendah. Status rentan pangan di antaranya mengacu pada indikator akses ekonomi, kesehatan, dan kepadatan penduduk. Salah satu rekomendasi kebijakan untuk mengatasi hal tersebut adalah mendorong pembangunan pertanian kota atau urban farming, sebuah inisiatif yang sudah lebih dulu dilakukan oleh KWT Ngudi Makmur sebelum peta itu muncul.

Kendati demikian, pertanian kota bukan hal yang mudah dilakukan di Solo. Silvania Dwi Utami, peneliti dari organisasi non-pemerintah yang konsen pada isu perencanaan kota, Yayasan Kota Kita, menerangkan bahwa pertanian kota sejatinya juga membutuhkan syarat minimum lahan. Hal ini yang kemudian menjadi tantangan di Solo yang ketersediaan lahannya terus berpacu dengan laju permukiman.

“Untuk mencapai hasil optimal produksi dibutuhkan lahan 50 meter persegi,” kata Silvania, seraya menambahkan bahwa jumlah minimum itu juga belum berarti dapat secara penuh menyediakan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, menurut Silvania, para pemangku kepentingan di Solo perlu memastikan terlebih dahulu jumlah produksi yang konsisten. Setelahnya, baru dikembangkan model bisnis secara profesional.

Saat ini, terdapat sekitar 86 kelompok tani dan tujuh KWT, termasuk Ngudi Makmur di Solo. Silvania secara umum mendorong agar kegiatan ini lebih dimaksimalkan untuk mendukung kebutuhan pangan warga secara mandiri.

“[Inisiatif] Pertanian perkotaan [seperti KWT Ngudi Makmur] membantu memenuhi kebutuhan pangan di saat krisis pandemi dan secara lebih khusus memiliki manfaat pemberdayaan bagi wanita, bagi komunitas. Mampu memperkuat kohesi sosial,” katanya.

“Di sisi lain, praktik-praktik pangan lokal, jika dipraktikkan secara luas mampu memangkas rantai pasok pangan dan mendorong upaya pengurangan emisi dari sektor pangan.”

Pandemi dan Masalah Pangan yang Bergizi

Pemberdayaan masyarakat dalam kemandirian pangan menjadi semakin bernilai manakala bencana seperti pandemi Covid-19 terjadi. Selama pandemi, pasokan makanan terganggu pembatasan pergerakan, penutupan bisnis, hingga perubahan pola konsumsi.

Penelitian Smeru Institute menemukan rumah tangga di Indonesia menerapkan coping mechanism dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari dengan menjual barang atau mengurangi pengeluaran selama pandemi. Bagi keluarga dari kelompok masyarakat miskin, mekanisme ini hanya semakin mencekik kehidupan.

Angka kemiskinan Indonesia meningkat dari 9,22 persen pada September 2019 menjadi 10,19 persen pada 2020. Kondisi tak berbeda terjadi di Solo. Pada 2019, persentase kemiskinan di Solo mencapai 8,70 persen, angka itu kemudian naik pada 2020 menjadi 9,03 persen, dan 9,40 pada 2021.

Sebagai kota yang dirancang sebagai wilayah bisnis dan perniagaan, pasokan pangan di Solo dipasok dari luar daerah. Semisalnya jagung dari Boyolali dan beras dari Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Klaten, dan sayur seperti cabai dari Blora.

Maka, kehadiran inisiatif pertanian kota seperti yang dilakukan KWT Ngudi Makmur sejatinya dapat meminimalisir dampak memburuknya kemiskinan yang dapat memicu masalah gizi seperti stunting.

Di tengah persoalan alih fungsi lahan dan kepadatan penduduk, Pemkot Surakarta juga tengah menargetkan daerahnya mengejar target nol kasus stunting pada 2024. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pemkot Surakarta pada Februari 2023, terdapat 1.050 anak balita atau tiga persen kasus stunting.

Wali Kota Gibran pada Maret 2023, mengakui bahwa kasus stunting di kotanya masih banyak dan mengatakan akan menindaklanjuti melalui penanganan rumah tidak layak huni dan kemiskinan.

Penelitian Yayasan Kota Kita tentang peran sektor informal dalam mendorong sistem pangan berkelanjutan pada Maret-Mei 2023, menemukan masyarakat miskin memenuhi kebutuhan pangan mereka utamanya dengan sumber karbohidrat seperti nasi dan sayur. Kondisi ini mencerminkan kurangnya asupan protein hewani sebagai zat gizi penting yang dapat mencegah masalah stunting pada anak.

Kebutuhan protein utamanya didapatkan dari telur, dengan lebih dari 80% responden mengkonsumsi telur paling tidak 3-6 kali seminggu. Namun demikian, diversifikasi asupan protein dari sumber lain seperti ayam dan daging tergolong sangat rendah karena faktor keterjangkauan harga. Sebanyak 26% responden menyebutkan hampir tidak pernah mengkonsumsi daging. Mereka hanya mengkonsumsi daging sapi saat perayaan seperti Iduladha.

Namun, memenuhi kebutuhan pangan harian dengan protein hewani sulit dilakukan. Hasil penelitian yang sama menemukan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangannya, masyarakat miskin telah menghabiskan 62 persen dari pendapatannya.

Di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari misalnya, tercatat terdapat 25 anak balita yang tengah dipantau kelurahan setempat karena rawan terkena stunting.

“Di sekitar anak itu tinggal ada masalah sanitasi karena penduduknya sangat padat. Di RW 05 masih banyak yang menggunakan sumur dan kamar mandi umum yang lokasinya berdekatan,” kata Prita Ratnaningtyas, penyuluh KB Kelurahan Setabelan, awal Agustus lalu.

Kepadatan penduduk Kecamatan Banjarsari, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta pada 2022, mencapai 11.074 orang per kilometer persegi. Luas total Kecamatan Banjarsari adalah 15,26 kilometer persegi.

Beruntung solidaritas komunitas lokal masih cukup tinggi di wilayah ini. Sewaktu pandemi, warga sekitar berinisiatif meminta para pedagang sayur di Pasar Legi menyisihkan sebagian dagangan mereka untuk disalurkan ke Kelurahan Setabelan.

Aksi yang bermula dari sumbangan para pedagang pasar itu lantas menjadi gerakan berkelanjutan dan mengundang sejumlah pendonor baik perorangan atau kelompok usaha yang ikut membantu inisiatif tersebut. Gerakan yang dilakukan setiap Jumat pekan pertama dan ketiga tersebut kemudian diberi nama Lurginting alias Sedulur Pasar Legi Peduli Stunting.

Wahyuningsih A. Nugraheni, koordinator Lurginting, mengatakan saat ini bentuk bantuan yang diterimanya semakin variatif, seperti susu baik untuk anak-anak maupun ibu hamil. Sejumlah penjual daging ayam juga mulai mau menyumbangkan sedikit dari dagangannya.

“Kegiatan sempat terhenti tetapi kemudian berlanjut dan pedagang juga makin antusias. Ini kan untuk ‘Berkah Jumat’ juga,” kata Wahyu.

Akan tetapi, upaya itu masih sangat kecil dibandingkan kemiskinan dan akses terhadap makanan bergizi yang masih menjadi tantangan di Solo yang memerlukan penanganan lebih serius dari para pejabat pembuat kewenangan.

“Meskipun inisiatif skala kecil yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT Ngudi Makmur dan Lurginting ini masih memiliki banyak keterbatasan dan bukan menjadi satu-satunya solusi dalam mendorong kemandirian pangan, inisiatif berbasis warga ini mampu memberikan sumbangan secara nyata pada situasi krisis, utamanya dalam memberikan alternatif akses pangan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan di kota,” kata Silvania, menutup percakapan.

Artikel ini adalah kolaborasi bersama Yayasan Kota Kita untuk memotret inisiatif kemandirian pangan di kawasan urban. 

Yayasan Kota Kita menerbitkan riset terkait pangan perkotaan yang bisa kamu baca pada tautan ini: Pangan Perkotaan di Tiga Wilayah Urban di Indonesia

Artikel ini pertama terbit di Project Multatuli dan direpublikasi di sini menggunakan lisensi Creative Commons.

Categories
Reportase

Dibahas, Peran Media Dalam Isu Krisis Iklim & Ketahanan Pangan

Solo—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo bersama Google News Initiative menggelar Webinar bertajuk “Media, Ketahanan Pangan dan Krisis Iklim” lewat platform Zoom pada Selasa (24/5/2022) pukul 14.00-16.00 WIB. Kegiatan ini akan mengupas sejauh mana dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di Soloraya.

Peran media dalam mengangkat problem iklim dan ketahanan pangan juga bakal dibahas. Sejumlah narasumber yang dihadirkan yakni Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, Sukasno, Manajer Program Kota Cerdas Pangan Yayasan Gita Pertiwi, Khoirunnisa, dan Redaktur Harian Umum Solopos, Ichwan Prasetyo. Webinar bakal dipandu jurnalis Tirto.id, Irfan Amin.

Ketua AJI Solo, Cahyadi Kurniawan, mengatakan problem kekeringan, banjir, dan kemunculan organisme pengganggu tanaman (OPT) selama ini membuat sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura dalam ancaman. Merujuk publikasi ilmiah Efriyani Sumastuti dan Nuswantoro Setyadi Pradono, hal itu tak lepas dari perubahan iklim. “Tanaman seperti padi mengalami penurunan produksi bahkan gagal panen karena tiga faktor tersebut. Hal ini juga terjadi pada petani di Soloraya beberapa waktu terakhir,” ujar Cahyadi dalam rilis yang diterima jolijolan.org, Senin (23/5/2022).

Cahyadi mengatakan kerawanan pangan bukan tak mungkin terjadi apabila kondisi tersebut terus berulang. Di sisi lain, media sejauh ini dinilai belum memainkan peran secara maksimal untuk membawa perubahan iklim sebagai isu arus utama. “Masih sedikit pemberitaan media di Soloraya yang mengaitkan ketahanan pangan dengan perubahan iklim. Dalam webinar nanti, akan dibahas bagaimana jurnalis dan media lokal mendudukkan isu tersebut di daerah,” ujarnya.

Sebagai informasi, webinar terbuka untuk jurnalis dan masyarakat umum. Registrasi peserta dapat melalui https://bit.ly/WebinarIklimAJISolo.

Narahubung:
Cahyadi (085725233966)
Chrisna (085647198717)

Categories
Komunitas

Menyemai Kedaulatan Pangan dari Kebun Balkon

Dari kebun kecil 8 meter persegi di balkon, kami menemukan persilangan budaya dan peradaban manusia. Di sini pula, kami belajar untuk jadi lebih tangguh dan berdaulat pangan. Pengalaman kecil merawat kebun di balkon ini, pada akhirnya, meneguhkan hati kami kenapa perlu merawat bumi kita.

Kami mulai berkebun ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia tahun lalu. Ada banyak faktor yang saling berkelindan dan kebetulan yang membuat kami menanam. Tahun lalu, kami mendadak merasa hampa berada di rumah yang baru kami tinggali lagi setelah bertahun-tahun dibiarkan kosong. Balkon dan teras rumah yang menghadap arah barat sangat gersang, minim tanaman yang menyegarkan mata.

Pindahan dari kota kecil ke desa juga menimbulkan culture shock kepada kami. Ada berbagai sayur dan kudapan yang umum di kota kini tak bisa kami akses begitu saja dari desa, seperti sayur selada beraneka ragam, pizza, dan lainnya. Sulit bagi kami mengubah kebiasaan. Satu-satunya cara untuk tetap memeroleh produk yang kami sukai hanya satu: menanam bahan bakunya.

Kebetulan, pada saat yang sama, Ruang Solidaritas Joli Jolan kala itu sedang menggiatkan kegiatan yang berhubungan dengan berkebun di ruang urban. Saat itu, kami merasa tertarik menanam. Namun, kami masih ragu-ragu. Kami khawatir gagal.

Lalu, pandemi yang memburuk memaksa kami mengurangi perjalanan. Kami jadi memiliki banyak waktu di rumah dan memutuskan untuk mulai menanam.

Kami belajar menanam dari nol. Saya dan suami tak punya banyak pengalaman mengurus kebun. Saya sendiri nol pengalaman. Sementara, terakhir kali suami memegang ladang belasan tahun lalu, saat ia hidup di kampung halamannya. Ia pernah berkebun sebentar dan membantu panen di sawah ketika masa senggang menunggu ujian universitas.

Kangkung, Bayam, dan Sawi

Kami belajar menanam dengan metode hidroponik. Metode ini kami pilih karena rumah kami minim lahan. Lokasi yang dapat ditanami adalah balkon mungil dengan lantai keramik dan teras bawah yang sempit. Sebagai awalan, kami menanam kangkung, bayam, dan sawi. Tiga jenis sayuran yang direkomendasikan untuk ditanam oleh pemula. Kami mulai menanam dengan memanfaatkan styrofoam bekas di toko buah.

Kangkung, bayam, dan sawi mudah ditanam, cepat dipanen, dan jarang diganggu hama. Sungguh jenis sayur yang tepat bagi pemula karena tingkat keberhasilannya yang tinggi mampu memacu keinginan menanam lagi setelah penanaman pertama. Dari kangkung, bayam, dan sawi, kami beranjak belajar menanam tanaman yang lain yang lebih menantang karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Kami mencoba menanam tanaman yang menghasilkan buah, seperti tomat, terong, pare belut, dan timun. Tidak semuanya mulus bisa panen dengan baik. Sekali belum berhasil, kami mencoba lagi. Tanaman buah lebih menantang dibandingkan tanaman sayur hijau karena tanaman yang berbuah membutuhkan asupan nutrisi yang lebih dan sinar matahari yang lebih banyak.

Selain tanaman buah, kami juga mencoba menanam bunga dan tanaman herbal. Beberapa bunga dan herbal bisa tumbuh di balkon kami yang minim cahaya, tapi ada pula yang kesulitan menyesuaikan diri. Kami masih memelajari cara merawat pada situasi ekstrem di balkon kami.

Saya dan suami tak selalu satu kata dalam merawat tanaman. Awalnya, ia hanya ingin menanam hidroponik. Tapi, saya bersikukuh menambah tanaman dengan cara tanam konvensional. Saya ingin tanaman kebun lebih beragam. Keragaman tanaman sangat penting untuk ekosistem tanaman dan daya tahannya terhadap hama. Saya ingin sekali mengurangi penggunaan pestisida maupun jebakan hama dalam pengelolaan kebun.

Butuh waktu tidak sebentar untuk meyakinkan suami bahwa cara itu bisa mengurangi beban hama yang muncul di tanaman. Akhirnya, kami membagi peran kami. Perawatan hidroponik dilakukan oleh suami, sementara saya merawat tanaman dengan cara tanam konvensional. Terkadang, saat ia senggang, ia membantu juga mengaduk media tanam karena pekerjaan itu memang tidak mudah. Apalagi ruang balkon kami sempit untuk mengaduk media tanam dalam jumlah besar.

Berdaulat Pangan

Sejak menanam, kami mengurangi ketergantungan konsumsi rumah tangga kami terhadap pasokan pasar. Tanaman di rumah juga mulai beragam, dari tanaman annual, biennial, hingga parenial. Kami memilih sendiri apa yang ingin kami konsumsi. Kami berdaulat atas pangan kami. Dengan menanam sendiri, kami juga tahu segala macam bentuk perawatan tanaman yang menjamin kualitas pangan kami.

Manfaat tak kalah luar biasa dari menanam yaitu keuangan rumah tangga kami tidak terpengaruh dengan inflasi harga pangan. Kebutuhan sayur sudah terpenuhi dari kebun sendiri. Kebun pangan di rumah kami membuat kami memiliki ketangguhan pangan. Kebun kami banyak menyelamatkan keuangan rumah tangga ketika pandemi menghempaskan sebagian besar pendapatan keluarga kami.

Selain mendapatkan banyak manfaat dari menanam, kami banyak belajar tentang bumi ini. Krisis iklim yang sering dibicarakan lebih terasa dampaknya ketika berkebun dengan melihat respon tanaman menghadapi perubahan cuaca dan musim.

Situasi masa kini sudah banyak berubah dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Boyolali, kota kecil yang kami tinggali sekarang, dulu jauh lebih dingin. Pada masa lalu, hujan es berukuran kecil biasa terjadi. Kini, panasnya menyengat untuk ukuran kota di kaki gunung.

Cuaca panas jadi tantangan berat untuk tanaman karena mereka bisa dehidrasi pada siang hari yang terik. Pada cara tanam hidroponik, air jadi cepat panas. Jadi, tanaman tak hanya layu karena cuaca panas, tapi juga layu karena airnya menghangat-panas. Selada, misalnya, adalah tanaman yang bisa berubah cita rasanya apabila cuaca dan airnya terlampau panas.

Pelajaran itu menyadarkan kami bahwa hasil kebun yang berkualitas dan berkelanjutan mensyaratkan bumi yang sehat untuk ditinggali. Kedaulatan dan ketangguhan pangan tidak akan ada apabila lingkungan dan bumi kita rusak.

Categories
Sudut Joli Jolan

Pandemi dan Ketahanan Pangan

“Sudah Krisis, Saatnya Makan Gratis.” Ungkapan itu didengungkan para pegiat Food Not Bombs (FnB), gerakan berbagi bahan pangan secara cuma-cuma, ketika pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia sejak Maret lalu. Ruang Solidaritas Joli Jolan menjadi salah satu yang rutin mengampanyekan gerakan itu lewat kegiatan FnB yang digelar setiap akhir pekan.

Solidaritas berbagi makanan menjadi penting ketika pandemi meruntuhkan sendi ekonomi sebagian masyarakat. Turunnya penghasilan membuat masyarakat bahkan kesulitan mengakses bahan pangan yang pokok. Di titik tertentu, mereka sampai harus bergantung pada bantuan pemerintah untuk menyambung hidup.

Tentu kita tak bisa berdiam diri melihat ketahanan pangan digerogoti sedikit demi sedikit oleh pandemi. Inisiatif saling bantu antar warga perlu terus dijalin alih-alih hanya mengandalkan kucuran bantuan pemerintah. Belum lama ini kami sangat antusias dengan munculnya inisiatif-inisiatif kolaborasi dari komunitas pertanian urban di Solo dan sekitarnya.

Komunitas Hidroponik Soloraya beberapa kali menyalurkan sayuran untuk dibagi setiap Sabtu di Joli Jolan. Mereka bahkan sempat membawa tiga keranjang besar berisi seratusan sawi segar. Sekelompok aktivis dari @hopekidssalatiga sebelumnya juga membawa banyak sayuran dari lereng Gunung Merbabu.

Sayuran-sayuran fresh ini mendampingi nasi liwet dan ayam geprek hasil sumbangan warga yang ditaruh di booth FnB. Meski beberapa daunnya bolong dimakan belalang, sawi-sawi dari Komunitas Hidroponik memiliki nutrisi yang sama dengan yang dijual di pasaran. Hanya sawi seperti itu memang kurang layak apabila dilego di supermarket, pasar atau sejenisnya. Daripada dijual murah dan menjadi limbah apabila tak terserap, kawan dari komunitas hidroponik memilih mendistribusikannya secara gratis dan rutin di Joli Jolan. Keren ya!

Secara tidak langsung, berbagi sayuran gratis ini membantu menjaga keseimbangan sistem permintaan dan suplai bahan pangan. Masyarakat pun bisa menghemat uang belanjanya untuk dialokasikan ke kebutuhan lain. Hari ini kami giliran kedatangan Komunitas Anggur Soloraya. Mereka membawa beberapa bibit anggur sekaligus berbagi ilmu soal menanam tanaman buah itu. Rencananya, beberapa bibit akan kami tanam di pekarangan Joli Jolan untuk penghijauan. Kalau sudah tumbuh besar, tentu buahnya bisa diambil gratis oleh pengunjung dan warga sekitar.

Pada akhirnya, kerja sama di setiap tingkatan sosial untuk menjaga sistem ketahanan pangan adalah kunci untuk menghadapi Covid-19. Mari, siapa mau ikut berbagi?