Selama tinggal di Jerman beberapa bulan terakhir, saya kembali belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, misalnya dengan sadar mengelola sampah pribadi sampai hidup lebih sehat. Saya tiba di Bonn, Jerman, pada akhir Desember 2023, setelah natal dan tepat sebelum tahun baru. Saya pergi ke Jerman dalam rangka mengerjakan penelitian saya di bawah beasiswa Alexander von Humboldt International Climate Protection fellowship selama satu tahun. Di sini, saya tidak hanya belajar dan mengerjakan riset, tetapi juga belajar tentang budaya dan kehidupan bermasyarakat di Jerman, yang jauh berbeda dari Indonesia.
Saya dulu mengenal Jerman dari klub sepak bolanya dan juga nama besar negaranya sebagai salah satu jujugan pelajar dari Indonesia. Negara yang berada di sisi utara-tengah Eropa dan berbatasan dengan pegunungan Alpen di sisi Selatan ini dari dulu terkenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Saya sebetulnya tidak pernah sekalipun memimpikan untuk bisa menempuh pendidikan di sini, mengingat betapa sulitnya tembus belajar di negeri ini.
Akan tetapi, pada akhirnya, takdir membawa saya sampai ke negeri ini. Sejujurnya, ada rasa khawatir yang berulang kali muncul dan tenggelam dalam diri saya saat saya dalam perjalanan menuju ke Jerman. Apakah saya bisa beradaptasi dengan baik saat berada di sini dan sejauh mana saya akan berubah saat beradaptasi dengan kehidupan bermasyarakat yang baru?
Selama saya berada di sini, saya belajar mengenal Jerman dan hal-hal baru yang menarik dari kehidupan bermasyarakat di sini. Secara umum, masyarakat Jerman menjunjung tinggi nilai keteraturan, kedisiplinan, ketepatan waktu, aktivitas fisik di luar rumah, dan kecintaan terhadap alam. Semua ini direfleksikan oleh kegiatan masyarakat Jerman sehari-hari.
Ada beragam hal, yang pada akhirnya, ikut memengaruhi terbentuknya kebiasaan baru saya sehari-hari. Lalu, apa saja itu? Berikut ini merupakan beberapa poin terpenting yang mengubah kebiasaan saya.
Memilah Sampah
Di sini, sampah yang berasal dari kegiatan konsumsi kita perlu dipilah dari tingkat rumah tangga. Sampah itu dipilah sesuai jenisnya, yaitu sampah kemasan ringan untuk kemasan dari plastik, styrofoam, dan kaleng, sampah kemasan dari kertas atau karton, sampah organik, dan sampah residu. Sampah kemasan ringan biasanya ditandai dengan warna kuning. Sampah dari kertas dan karton ditandai warna biru. Sampah organik ditandai warna cokelat. Sampah residu ditandai warna abu-abu.

Selain sampah tersebut, ada pula sampah lainnya yang lokasi pembuangan khususnya juga telah disediakan, seperti sampah dari gelas, baju bekas, dan barang elektronik. Sampah dari gelas masih dibagi lagi berdasarkan warnanya, yaitu gelas bening, gelas hijau, dan gelas cokelat. Warga perlu membuang sampah sesuai ketentuan dan tiap jenis sampah akan diambil oleh petugas sampah sesuai jadwal pada setiap kota. Sampah-sampah yang masih dapat digunakan kemudian akan digunakan kembali (seperti baju bekas) dan didaur ulang.
Hidup Sehat
Sisi lain yang positif dari tinggal di Jerman adalah hidup dengan lebih sehat. Orang Jerman sangat sehat dan bugar. Mayoritas menyukai berolahraga, seperti jalan pagi, bersepeda, lari, hiking, atau berolahraga di pusat kebugaran. Orang Jerman sangat suka berolahraga dalam cuaca apa pun, baik itu hujan atau suhu dingin saat musim dingin. Mereka memiliki pepatah: “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung (tidak ada yang namanya cuaca buruk, adanya baju yang salah)”.
Selain gemar berolahraga, makanan di Jerman juga terbilang lebih sehat (apalagi bila dibandingkan di Indonesia). Sayuran seringkali dimakan dalam kondisi segar baik untuk makanan pembuka atau makanan pendamping. Makanan di Jerman juga tidak berlebihan dalam menggunakan garam dan gula. Walaupun begitu, rasa makanan ini akan terasa hambar untuk lidah orang Indonesia yang sering makan makanan yang kaya rasa dan rempah.
Berjalan Kaki, Bersepeda, dan Naik Angkutan Umum
Di Jerman, orang-orang lebih banyak yang berjalan kaki, bersepeda, dan naik angkutan umum. Kendati negeri ini menjadi salah satu produsen mobil di dunia dan mobil menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan penduduk, aktivitas berjalan kaki, dan naik angkutan umum sudah menjadi bagian sehari-hari di sini. Orang-orang juga semakin banyak yang memilih menggunakan sepeda karena menyadari pentingnya kelestarian alam.
Selama beberapa waktu di sini, saya seringkali berjalan kaki dengan teman-teman yang memilih rute berjalan kaki kendati ada rute naik angkutan umum ke tujuan, baik dengan bus dan tram, apabila jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Waktu 30 menit ini adalah waktu tempuh dengan kecepatan berjalan kaki orang Jerman, bukan orang Indonesia yang jarang berjalan kaki.
Di Jerman, saya biasa mencapai target berjalan kaki 5.000-10.000 langkah per hari hanya dengan berjalan kaki untuk keperluan sehari-hari. Jarak tersebut adalah jarak berjalan kaki harian rata-rata yang dibutuhkan manusia agar tetap sehat. Artinya, selama di Jerman, saya berjalan kaki untuk mobilitas sekaligus olahraga. Hal ini membuat badan saya lebih sehat secara tidak langsung.
Teratur dan Disiplin
Kehidupan di Jerman teratur. Orang-orang secara umum mengikuti aturan yang berlaku dan disepakati bersama, misalnya mengikuti aturan lalu lintas atau datang tepat waktu. Orang yang berjalan kaki akan diberikan prioritas oleh pengendara mobil saat menyeberang. Mereka akan berhenti saat melihat orang yang akan menyeberang jalan berdiri di tepi jalan dan menunggu sampai orang tersebut selesai menyeberang.
Di sini, orang-orang pada umumnya bekerja lima hari kerja, dari Senin hingga Jumat. Pada hari Sabtu, mereka bisa beristirahat atau berekreasi dengan keluarga atau teman. Hari Minggu adalah hari libur di Jerman. Jalanan hari Minggu umumnya sangat sepi. Hari Minggu di Jerman disebut juga sebagai “Ruhetag” atau hari beristirahat atau hari tenang. Pada hari ini, orang-orang diharapkan mengurangi aktivitas dan kebisingan dari aktivitas mereka. Mayoritas supermarket, restaurant, atau pertokoan banyak yang tutup pada hari ini. Jadi, kita harus menyelesaikan seluruh aktivitas belanja kita pada hari Sabtu.
Mencintai Alam
Orang Jerman rata-rata menyukai aktivitas di luar rumah untuk duduk menikmati matahari, jalan kaki, lari, berenang di sungai atau hiking. Seluruh aktivitas ini umumnya dilakukan di taman atau ruang terbuka di alam. Oleh karena itu, di sini kita mudah menemukan lokasi-lokasi di alam yang terawat, tidak dikotori sampah atau berpolusi, yang bisa kita datangi dan kita gunakan sebagai rute untuk aktivitas di luar ruangan.
Pepohonan masih rindang, sungai dan danau sangatlah jernih sehingga dapat digunakan berenang. Bahkan terlihat pula hewan-hewan liar yang beragam, seperti bebek, angsa, elang, kelinci, rakun, rubah, dan sebagainya. Semuanya mudah ditemukan di alam dan bisa dilihat langsung dari dekat.


Kelima hal itu mempengaruhi hidup saya secara pribadi, hidup saya dalam masyarakat, dan juga relasi saya dengan alam. Saya melihat bahwa kehidupan manusia yang modern dan maju tidak berarti mengubah manusia menjadi sangat berkuasa atas manusia lain dan alam.
Belakangan ini saya justru khawatir saat harus memikirkan kembali pulang. Bagaimana saya harus beradaptasi kembali dengan situasi yang semrawut, dengan ketidakjelasan budaya pengelolaan sampah, lemahnya kedisiplinan dan minimnya keteraturan hidup, ketiadaan angkutan umum yang memadai, atau alam yang kehilangan keanekaragamannya karena habis diburu dan lahannya berubah? Saya cuma bisa berharap hal-hal yang baik di sini suatu saat menjadi bagian dalam membentuk Indonesia modern dan lebih maju.