Categories
Gaya Hidup

Keseharian di Jerman: Memilah Sampah hingga Hidup Lebih Sehat

Selama tinggal di Jerman beberapa bulan terakhir, saya kembali belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, misalnya dengan sadar mengelola sampah pribadi sampai hidup lebih sehat. Saya tiba di Bonn, Jerman, pada akhir Desember 2023, setelah natal dan tepat sebelum tahun baru. Saya pergi ke Jerman dalam rangka mengerjakan penelitian saya di bawah beasiswa Alexander von Humboldt International Climate Protection fellowship selama satu tahun. Di sini, saya tidak hanya belajar dan mengerjakan riset, tetapi juga belajar tentang budaya dan kehidupan bermasyarakat di Jerman, yang jauh berbeda dari Indonesia.

Saya dulu mengenal Jerman dari klub sepak bolanya dan juga nama besar negaranya sebagai salah satu jujugan pelajar dari Indonesia. Negara yang berada di sisi utara-tengah Eropa dan berbatasan dengan pegunungan Alpen di sisi Selatan ini dari dulu terkenal sebagai salah satu negara dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Saya sebetulnya tidak pernah sekalipun memimpikan untuk bisa menempuh pendidikan di sini, mengingat betapa sulitnya tembus belajar di negeri ini.

Akan tetapi, pada akhirnya, takdir membawa saya sampai ke negeri ini. Sejujurnya, ada rasa khawatir yang berulang kali muncul dan tenggelam dalam diri saya saat saya dalam perjalanan menuju ke Jerman. Apakah saya bisa beradaptasi dengan baik saat berada di sini dan sejauh mana saya akan berubah saat beradaptasi dengan kehidupan bermasyarakat yang baru?

Selama saya berada di sini, saya belajar mengenal Jerman dan hal-hal baru yang menarik dari kehidupan bermasyarakat di sini. Secara umum, masyarakat Jerman menjunjung tinggi nilai keteraturan, kedisiplinan, ketepatan waktu, aktivitas fisik di luar rumah, dan kecintaan terhadap alam. Semua ini direfleksikan oleh kegiatan masyarakat Jerman sehari-hari.

Ada beragam hal, yang pada akhirnya, ikut memengaruhi terbentuknya kebiasaan baru saya sehari-hari. Lalu, apa saja itu? Berikut ini merupakan beberapa poin terpenting yang mengubah kebiasaan saya.

Memilah Sampah

Di sini, sampah yang berasal dari kegiatan konsumsi kita perlu dipilah dari tingkat rumah tangga. Sampah itu dipilah sesuai jenisnya, yaitu sampah kemasan ringan untuk kemasan dari plastik, styrofoam, dan kaleng, sampah kemasan dari kertas atau karton, sampah organik, dan sampah residu. Sampah kemasan ringan biasanya ditandai dengan warna kuning. Sampah dari kertas dan karton ditandai warna biru. Sampah organik ditandai warna cokelat. Sampah residu ditandai warna abu-abu.

Selain sampah tersebut, ada pula sampah lainnya yang lokasi pembuangan khususnya juga telah disediakan, seperti sampah dari gelas, baju bekas, dan barang elektronik. Sampah dari gelas masih dibagi lagi berdasarkan warnanya, yaitu gelas bening, gelas hijau, dan gelas cokelat. Warga perlu membuang sampah sesuai ketentuan dan tiap jenis sampah akan diambil oleh petugas sampah sesuai jadwal pada setiap kota. Sampah-sampah yang masih dapat digunakan kemudian akan digunakan kembali (seperti baju bekas) dan didaur ulang.

Hidup Sehat

Sisi lain yang positif dari tinggal di Jerman adalah hidup dengan lebih sehat. Orang Jerman sangat sehat dan bugar. Mayoritas menyukai berolahraga, seperti jalan pagi, bersepeda, lari, hiking, atau berolahraga di pusat kebugaran. Orang Jerman sangat suka berolahraga dalam cuaca apa pun, baik itu hujan atau suhu dingin saat musim dingin. Mereka memiliki pepatah: “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung (tidak ada yang namanya cuaca buruk, adanya baju yang salah)”.

Selain gemar berolahraga, makanan di Jerman juga terbilang lebih sehat (apalagi bila dibandingkan di Indonesia). Sayuran seringkali dimakan dalam kondisi segar baik untuk makanan pembuka atau makanan pendamping. Makanan di Jerman juga tidak berlebihan dalam menggunakan garam dan gula. Walaupun begitu, rasa makanan ini akan terasa hambar untuk lidah orang Indonesia yang sering makan makanan yang kaya rasa dan rempah.

Berjalan Kaki, Bersepeda, dan Naik Angkutan Umum

Di Jerman, orang-orang lebih banyak yang berjalan kaki, bersepeda, dan naik angkutan umum. Kendati negeri ini menjadi salah satu produsen mobil di dunia dan mobil menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan penduduk, aktivitas berjalan kaki, dan naik angkutan umum sudah menjadi bagian sehari-hari di sini. Orang-orang juga semakin banyak yang memilih menggunakan sepeda karena menyadari pentingnya kelestarian alam.

Selama beberapa waktu di sini, saya seringkali berjalan kaki dengan teman-teman yang memilih rute berjalan kaki kendati ada rute naik angkutan umum ke tujuan, baik dengan bus dan tram, apabila jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Waktu 30 menit ini adalah waktu tempuh dengan kecepatan berjalan kaki orang Jerman, bukan orang Indonesia yang jarang berjalan kaki.

Di Jerman, saya biasa mencapai target berjalan kaki 5.000-10.000 langkah per hari hanya dengan berjalan kaki untuk keperluan sehari-hari. Jarak tersebut adalah jarak berjalan kaki harian rata-rata yang dibutuhkan manusia agar tetap sehat. Artinya, selama di Jerman, saya berjalan kaki untuk mobilitas sekaligus olahraga. Hal ini membuat badan saya lebih sehat secara tidak langsung.

Teratur dan Disiplin

Kehidupan di Jerman teratur. Orang-orang secara umum mengikuti aturan yang berlaku dan disepakati bersama, misalnya mengikuti aturan lalu lintas atau datang tepat waktu. Orang yang berjalan kaki akan diberikan prioritas oleh pengendara mobil saat menyeberang. Mereka akan berhenti saat melihat orang yang akan menyeberang jalan berdiri di tepi jalan dan menunggu sampai orang tersebut selesai menyeberang.

Di sini, orang-orang pada umumnya bekerja lima hari kerja, dari Senin hingga Jumat. Pada hari Sabtu, mereka bisa beristirahat atau berekreasi dengan keluarga atau teman. Hari Minggu adalah hari libur di Jerman. Jalanan hari Minggu umumnya sangat sepi. Hari Minggu di Jerman disebut juga sebagai “Ruhetag” atau hari beristirahat atau hari tenang. Pada hari ini, orang-orang diharapkan mengurangi aktivitas dan kebisingan dari aktivitas mereka. Mayoritas supermarket, restaurant, atau pertokoan banyak yang tutup pada hari ini. Jadi, kita harus menyelesaikan seluruh aktivitas belanja kita pada hari Sabtu.

Mencintai Alam

Orang Jerman rata-rata menyukai aktivitas di luar rumah untuk duduk menikmati matahari, jalan kaki, lari, berenang di sungai atau hiking. Seluruh aktivitas ini umumnya dilakukan di taman atau ruang terbuka di alam. Oleh karena itu, di sini kita mudah menemukan lokasi-lokasi di alam yang terawat, tidak dikotori sampah atau berpolusi, yang bisa kita datangi dan kita gunakan sebagai rute untuk aktivitas di luar ruangan.

Pepohonan masih rindang, sungai dan danau sangatlah jernih sehingga dapat digunakan berenang. Bahkan terlihat pula hewan-hewan liar yang beragam, seperti bebek, angsa, elang, kelinci, rakun, rubah, dan sebagainya. Semuanya mudah ditemukan di alam dan bisa dilihat langsung dari dekat.

Kelima hal itu mempengaruhi hidup saya secara pribadi, hidup saya dalam masyarakat, dan juga relasi saya dengan alam. Saya melihat bahwa kehidupan manusia yang modern dan maju tidak berarti mengubah manusia menjadi sangat berkuasa atas manusia lain dan alam.

Belakangan ini saya justru khawatir saat harus memikirkan kembali pulang. Bagaimana saya harus beradaptasi kembali dengan situasi yang semrawut, dengan ketidakjelasan budaya pengelolaan sampah, lemahnya kedisiplinan dan minimnya keteraturan hidup, ketiadaan angkutan umum yang memadai, atau alam yang kehilangan keanekaragamannya karena habis diburu dan lahannya berubah? Saya cuma bisa berharap hal-hal yang baik di sini suatu saat menjadi bagian dalam membentuk Indonesia modern dan lebih maju.

Categories
Komunitas

Webinar Women Eco Talk: Perempuan Pelopor Lingkugan

Halo teman-teman pelajar putri! 🌻

Masalah sampah menjadi isu serius yang sudah seharusnya membutuhkan perhatian kita semua. Pentingnya memberikan edukasi yang benar untuk meminimalisir berkembangnya sampah yang semakin tidak terkendali.

Koordinator Pusat Korps PII Wati mempersembahkan sebuah webinar dengan judul “Perempuan Perempuan Bijak Konsumsi, Menjaga Bumi Menjaga Masa Depan”

Dengan pemateri yang super kece, yakni :
🗣️ Narasumber : Sukma Larastiti
📌 Relawan Komunitas Jolijolan
📍 Domisili Jerman
👤 Moderator: Shafiyah Lu’luah Nadirah
🔗 Kadiv. KPKP Korpus Korps PII Wati

Penasaran? Catat nih jadwalnya, insyaaAllah kita akan agendakan pada :

Hari : Sabtu, 13 Juli 2024
Waktu : 19.30 WIB
Platform : Google Meet
Link : https://meet.google.com/oaq-pdiu-ewm

Contact Person : +62895365200808 (Salwa Fahrizza)

Follow Instagram kami :

  • https://www.instagram.com/pbpii.official
  • https://www.instagram.com/piiwati
  • https://www.instagram.com/joli_jolan
Categories
Komunitas Uncategorized

Yuk, Daftar Workshop Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik

Bingung mau ngabuburit yang berfaedah? Atau mau menambah ilmu dan keahlian mengelola barang bekas? Workshop Joli Jolan kali ini bakal cocok nih buat kalian! Workshop Do It Yourself bertema Sulap Kaus Bekas dan Kantong Plastik Jadi Produk Estetik bakal membuat kawan-kawan semakin kreatif sekaligus eco-friendly.

Kawan akan diajak merangkai kaus bekas serta tas kresek menjadi prakarya seperti coaster (tatakan gelas), wadah alat tulis, dan lain sebagainya. Tertarik bergabung? Berikut informasi kegiatannya.

  • Waktu: Sabtu, 30 Maret 2024 pukul 15.00-17.00 WIB
  • Lokasi: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo (google map Joli Jolan).
  • Mentor: Meilisa (Crafter @lovya.handmade Bandung)
  • Fasilitas: Workshop kit, stiker, souvenir Joli Jolan
  • Kontribusi: 40k (peserta terbatas)

Segera daftarkan diri di bit.ly/workshopjolijolan atau scan barcode di poster. Pendaftaran ditutup apabila kuota sudah terpenuhi. Info lebih lanjut bisa langsung menghubungi nomor berikut ini 085808339523

Categories
Reportase

Beragam Cara Daur Ulang Sampah APK

Melimpahnya alat peraga kampanye (APK) dalam kontestasi Pemilu 2024 belakangan menjadi masalah tersendiri. Apabila tidak terkelola, deretan APK dengan beragam variannya dapat menjadi sampah usai perhelatan pemilihan umum usai.

Sebagai contoh, sampah APK di provinsi kecil seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saja mencapai 160 ton. Angka itu diketahui usai Satpol PP DIY membersihkan APK di sudut-sudut kota pada masa tenang. Padahal sebelumnya Jogja sudah terbelit problem sampah rumah tangga yang hingga kini belum dapat dipecahkan.

Terbatasnya kapasitas TPA hingga ketiadaan teknologi atau sarana-prasarana untuk mengelola sampah APK membuat banyak daerah kesulitan menangani hal tersebut. Setali tiga uang, partai politik sebagai “pihak yang bertanggungjawab” menghasilkan sampah APK pun minim partisipasi dalam memecahkan masalah.

Namun kabar baiknya, ada sejumlah daerah yang mulai berinovasi untuk mengelola sampah APK sehingga berdayaguna. Di Bogor, pemda setempat mendaur ulang sampah APK menjadi bahan konstruksi seperti paving block. Mereka mengelolanya di Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) Mekarwangi, Bogor.

Dalam sehari, TPS3R dapat mengolah 400 kilogram (kg) sampah plastik dan 200 kg sampah APK untuk menghasilkan bahan konstruksi. Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan upaya tersebut lebih baik ketimbang sampah ditimbun begitu saja di TPA.

“Namun kapasitasnya memang terbatas, hanya 200 kg sehari. Yang tidak bisa diolah kami salurkan ke jejaring dan titik-titik lain,” ujar Bima, dikutip dari Antara, Selasa, 13 Februari 2024.

Lalu, bagaimana teknis mengolah APK menjadi bahan konstruksi? Pertama, sampak APK akan disortir terlebih dulu. Sampah yang telah tersortir kemudian dipindahkan secara estafet ke ruang utama pengolahan untuk dicacah menjadi biji atau serpihan plastik.

Beberapa APK berbahan flexi seperti baliho atau banner perlu disobek terlebih dulu secara manual untuk memudahkan dalam proses pencacahan. Setelah dicacah, APK dicampur dengan sampah plastik dan alumunium yang juga sudah melalui proses pencacahan.

Selanjutnya, material masuk ke dalam mesin pencetakan bahan konstruksi jenis balok atau papan dan sebagainya. Bahan konstruksi ini dapat dipakai untuk membuat kerangka atau fondasi sumur resapan. Ke depan, balok dan kayu hasil produksi dari sampah APK diharapkan dapat diolah menjadi paving block.

Diolah Jadi Kompos

Di Jakarta, pemda setempat menjadikan fasilitas pengelolaan sampah di Saringan Sampah TB Simatupang, Jakarta Selatan sebagai lokasi pengolahan sampah APK. Fasilitas tersebut telah dilengkapi beberapa mesin pencacah masing-masing sesuai jenis sampah.

Sampah APK dari bahan kayu atau bambu bakal diolah menjadi kompos. Sedangkan spanduk atau baliho yang berbahan plastik dapat menjadi RDF. Untuk sampah berbahan tekstil, pemda mendorong ke PLTSa Bantargebang dengan pencacahan terlebih dahulu di fasilitas TB Simatupang. Di Bantargebang, sampah berbahan tekstil akan menjadi bahan bakar PLTSa.

Sementara itu, Kota Depok memilih berkolaborasi dengan bank sampah setempat untuk memecahkan problem timbunan sampah APK. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok telah memastikan tidak akan membuang sampah bekas APK ke TPA Cipayung.
Mereka akan bekerjasama dengan Bank Sampah Induk Harum untuk mengolah material itu menjadi barang berdayaguna. DLHK telah memfasilitasi tempat penampungan sementara khusus sampah APK di UPS Cisalak untuk kemudian diolah di bank sampah.

Namun, upaya mendaur ulang sampah APK yang mulai dilakukan di sejumlah kota bukan tanpa kritik. Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menilai mendaur ulang APK bukan solusi komprehensif untuk mengurangi limbah APK. Apalagi jika daur ulang tersebut berujung pembakaran sehingga memicu polusi udara.

ICEL mendesak pemerintah dan pihak terkait mulai memikirkan dampak sampah APK sejak sebelum masa kampanye dimulai. Mereka mendorong regulasi tegas yang mendorong peserta pemilu menggunakan APK yang dapat dipakai ulang. Hal itu dinilai menjadi upaya mendasar agar sampah APK dapat ditanggulangi sejak dini sehingga menekan dampak pada lingkungan.

Categories
Reportase

Daur Ulang Baru Sentuh 9% Sampah Plastik

JAKARTA-Pengelolaan sampah yang berkelanjutan hingga kini masih menjadi pemikiran sejumlah pihak di Indonesia. Penanganan sampah plastik tak cukup hanya dibebankan pada pengelola hilir atau pemerintah, melainkan juga pengelola hulu melalui pengurangan produksi dan lain sebagainya. Tanpa upaya tersebut, problem sampah bisa menjadi bom waktu yang merugikan lingkungan serta masyarakat.

Hal itu mencuat dalam diskusi daring bertema Zero Waste by AZWI (Aliansi Zero Waste Indonesia), akhir Februari 2022 lalu. Dalam data yang dihimpun AZWI, sejauh ini hanya 9% sampah plastik yang dapat didaur ulang, 12% dibakar dan 79% berakhir begitu saja di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan lingkungan. Salah satu penyebab tingginya sampah platik adalah aktivitas industri. Co-coordinator AZWI, Nindhita Proboretno, mengatakan tahun ini AZWI memberi perhatian pada kampanye advokasi kepada produsen. Menurut Nindhita, salah satu jenis sampah yang selalu ditemukan ketika kegiatan pungut sampah adalah saset atau plastik multilayer. “Fokus kampanye tahun ini adalah untuk mendorong produsen berkomitmen secara ambisius untuk membatasi, bahkan tidak lagi menggunakan saset sebagai kemasan produk,” ujar dia.

Pihaknya menyatakan plastik saset tidak bisa didaur ulang secara berkelanjutan sehingga berpotensi menambah beban bumi. Nindhita menyebut produsen perlu lebih kreatif mencari solusi lain yang bisa dipilih sebagai kemasan produk. Konsep guna ulang dan isi ulang yang saat ini sudah menjadi tren dunia, imbuh dia, bisa dicontoh oleh para produsen di Indonesia.

Peneliti Greenpeace Indonesia, Afifah Rahmi, mengatakan hasil riset Greenpeace menunjukkan hampir 70% responden ingin beralih ke produk reuse seperti di bulkstore atau refill store. Afifah menilai hal itu menjadi sinyal penting bagi produsen bahwa semakin banyak masyarakat yang teredukasi ihwal bahaya plastik sekali pakai. “Apalagi dalam riset terbaru kami terkait ancaman mikroplastik di galon sekali pakai, kami menemukan adanya partikel mikroplastik pada seluruh sampel galon sekali pakai sebanyak 85 juta–95 juta partikel per liter,” imbuhnya.

Permasalahan Sampah Impor

Di samping itu, kasus sampah impor juga menambah permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia. Berdasarkan investigasi, ekspor limbah kertas bekas dari Amerika Serikat ke pabrik kertas di Jawa Timur sejak tahun 2019 menurun secara signifikan. Namun sebagian besar
ekspor sampah kertas tersebut justru sampai di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta (83%). Toxic Program Officer Nexus 3 Foundation, M. Adi Septiono, mengatakan pemerintah perlu memperkuat pemantauan dan pengendalian pembuangan sampah plastik di Jabodetabek dan Jawa Timur secara teratur. “Ini untuk memastikan proses daur ulang dilakukan dengan prosedur yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, penegakan regulasi menjadi hal penting dalam transformasi kebijakan pengelolaan sampah. Salah satu upayanya yakni regulasi dalam menekan perusahaan untuk berubah dan beradaptasi di mana sampah adalah tanggung jawab produsen. Adapun produksi plastik virgin untuk plastik sekali pakai dilarang, dan reuse atau refill adalah norma baru. “Kami menyusun panduan penyusunan Peraturan Pembatasan Plastik Sekali Pakai. Ini untuk memberi arahan kepada pemerintah daerah tentang cara menyusun peraturan pelarangan plastik sekali pakai yang baik, dimulai dari perencanaan, perumusan, pengawasan hingga evaluasi,” ujar Adi.

Categories
Gaya Hidup

Dari Rumah, Piringan Hitam Sampai Fesyen Berkelanjutan

Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.

Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listening bar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.

Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.

Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.

Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.

Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.

Categories
Komunitas

Gerakan Cinta Lingkungan Resik Resik X

Anak muda di wilayah Laweyan Solo menginisiasi gerakan peduli lingkungan dalam tajuk Resik Resik X (dibaca kali atau sungai). Gerakan ini dimulai pada 2019 lalu. Saat itu sang inisiator, Eko Pethel, yang merupakan warga setempat mengaku risih melihat sungai dekat rumahnya yang terlihat kotor dan menghitam. Dia lalu turun ke sungai dan merasakan betapa dangkalnya lokasi tersebut.

Eko kemudian  membuat video tentang kondisi sungai dan diunggah di laman media sosial (medsos). Saat itu banyak yang merespons dan mendorong untuk membuat agenda bersih-bersih sungai. Hingga akhirnya menjadi gerakan besar bernama Resik-Resik X yang melibatkan banyak anak muda pegiat seni dan berbagai bidang lain di sekitar Solo.

Gerakan yang sebenarnya bertujuan mengembalikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peduli lingkungan ini direspons banyak pihak. Warga setempat hingga komunitas-komunitas di sekitar Solo. Eko dan warga beberapa kali membuat kegiatan bersih-bersih sungai, mancing bersama, hingga pembacaan puisi di pinggir kali. “Sungai itu hanya kujadikan sebagai trigger, intinya adalah tentang gerakan kesadaran merawat lingkungan,” terang Eko saat berbincang dengan tim Joli Jolan di markas Joli Jolan bilangan Kerten, Laweyan, Kamis (11/3/2021) lalu.

Pot dan Limbah Fesyen

Saat melakukan bersih-bersih sungai mereka menemukan banyak sampah fesyen yang terbawa arus sungai. Sampah berupa pakaian tersebut kemudian mereka kumpulkan karena bisa mengganggu jalannya air dan berdampak pada banjir. Setelah terkumpul cukup banyak, pakaian tak layak tersebut kemudian mereka olah menjadi bahan kerajinan tangan seperti hiasan rumah dan pot bunga.

Bersama rekannya bernama Cherik, Eko, sempat mempraktikkan pemanfaatan limbah fesyen menjadi pot dan hiasan rumahan dalam acara workshop Sampah Jadi Cuan dan Kerajinan di Joli Jolan. Eko mempraktikkan mudahnya membuat pot sampah atau hiasan rumahan dari kain. Hanya perlu menyiapkan pakaian bekas berbahan kaus, gunting, cetakan, dan semen. Detail praktiknya bisa dilihat di kanal YouTube Joli Jolan.

Eko mengatakan pengembangan program Resik Resik X dengan pot tanaman tersebut cukup menjanjikan. Jika mau diseriusi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Beberapa waktu lalu ketika ada lomba penghijauan di kampungnya, ia mengajak warga sekitar untuk bersama-sama memproduksi pot dengan kain tersebut. Hasilnya cukup lumayan, tanpa modal besar, kampungnya terlihat indah warna-warni.

Cherik dan Eko sepakat tak mau menjadikan Resik Resik X sebagai nama komunitas. Mereka menyebutnya sebagai gerakan bersama. Dengan begitu programnya tak mengikat dan bisa dikerjakan di mana pun. Gerakan peduli lingkungan Resik Resik X bahkan siap berkolaborasi dengan siapa pun asal memiliki misi yang sama. Termasuk dengan Joli Jolan lewat workshop sampah pada Kamis lalu.

Menurutnya gerakan kolaborasi seperti ini sangat penting di masa sekarang. Kita semua akan kesulitan jika bekerja sendiri. Namun, jika dilakukan bersama-sama, gaungnya akan lebih besar. Eko juga mengapresiasi gerakan Bank Sampah yang menjadi konsentrasi diskusi pada workshop Kamis lalu. Bank Sampah merupakan upaya memperpanjang umur barang. Menariknya program tersebut melibatkan para ibu-ibu.

Gerakan Resik-Resik X bahkan menarik perhatian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov). Humas Pemprov Jateng mengapresiasi inovasi anak muda ini dengan mendokumentasikan video feature mereka. Kemudian dipublikasikan di kanal YouTube Humas Jateng bertepatan pada Hari Sampah Nasional, Rabu (24/2/2021). Tujuannya agar gerakan ini menjadi contoh masyarakat tentang semangat menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Categories
Sudut Joli Jolan

Solusi Donasi Tak Layak Pakai

Bukan satu dua kali Ruang Solidaritas Joli Jolan menerima donasi yang jauh dari kata layak. Pakaian sobek, celana dalam bekas, sepatu “mangap”, tas rusak dan lain sebagainya kerap kami temui saat menyortir barang donasi. Ya mohon maaf, barang-barang itu langsung kami singkirkan karena tidak pantas jika diberikan pada orang lain. Sedih rasanya melihat sejumlah orang masih menganggap Joli Jolan sebagai gudang pembuangan barang bekas semata.

Barang tak layak tersebut tentu berpotensi menjadi masalah baru. Tak hanya memicu timbunan sampah, tapi juga mengundang penyakit. Tulisan ini mungkin dapat sekaligus menjadi pengingat bagi kawan-kawan tentang pentingnya memberikan barang yang terbaik bagi sesama. Di sisi lain, kami pun perlu mencari solusi apabila barang kurang layak ini telanjur sampai di galeri Joli Jolan. Beberapa bulan terakhir kami bekerjasama dengan sebuah pabrik pengolahan dakron/bantal untuk mengatasi sampah pakaian. Sejauh ini cara tersebut paling efektif untuk mengelola sampah pakaian meski kami harus mengantar ke pabrik yang lokasinya cukup jauh yakni di Gatak, Sukoharjo.

Namun yang masih menjadi pemikiran kami, bagaimana mengelola barang seperti tas, sepatu dan memorabilia lain yang tidak layak agar tidak langsung bermuara di tempat sampah. Beberapa hari lalu kami mendapat ide baru saat main ke Bank Sampah Jensan Mugi Berkah yang berlokasi di Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Kami belajar tentang pengelolaan sampah sederhana yang melibatkan warga dalam lingkup terkecil yakni RT/RW. Terbentuknya bank sampah membuat warga setempat mulai disiplin memilah sampah dari rumah. Sebulan sekali, warga rutin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, barang berbahan logam dan kaca serta lain sebagainya ke bank sampah.

Yang menarik, barang-barang khas di Joli Jolan seperti sepatu, tas, dan bahan lain berbahan plastik dan kaca yang kurang layak pun dapat terserap bank sampah. Bersama pengelola Bank Sampah Udadu, rintisan bank sampah yang berlokasi sekompleks dengan Joli Jolan, kami berinisiatif mempraktikkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai pekan ini. Pada Rabu, 10 Februari 2021, tim sukarelawan Joli Jolan bersama Udadu akan mulai memilah donasi tak layak pakai agar dapat bernilai ekonomis dan ekologis melalui bank sampah. Sedikit banyak dana yang terkumpul akan kami gunakan untuk operasional Joli Jolan.

Kami meyakini bank sampah bukanlah solusi paripurna terhadap konsumerisme. Bank sampah hanya sebagai alat untuk mengurangi dampak gaya hidup kita yang kurang bertanggungjawab. Pola konsumsi berkelanjutan dengan membeli barang seperlunya tetap yang utama dalam menjaga kelestarian mother earth.

Categories
Gagasan

Joli Jolan & Sampah Fashion

Beberapa dekade lalu generasi Y memperlakukan kebutuhan dasar berupa sandang sebagai kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Kamera polaroid menjadi sarana untuk mengabadikan kebanggaan bersandang. Zaman ini, generasi milenial dilahirkan di dunia serba digital. Mereka telah bersentuhan langsung dengan berbagai perangkat teknologi. Bahkan mulai dari bayi dalam kandungan hingga dilahirkan, manusia kecil ini sudah eksis di jejaring media sosial yang bisa diakses siapa saja.

Hal ini berbanding lurus dengan dorongan konsumerisme luar biasa karena kebutuhan penampilan. Di satu sisi, ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, muncul permasalahan sampah yang semakin kompleks. Permasalahan tersebut adalah sampah fashion. Sampah fashion tidak hanya identik dengan baju, tapi termasuk segala pernak-pernik dan barang penunjang penampilan. Biasanya pengguna media sosial pada setiap unggahannya menyadari bahwa penunjang penampilan harus diperhatikan. Hal inilah yang mendorong konsumerisme produk fashion dan turunannya.

Tanpa sadar, lemari sudah tidak muat dan kamar terasa bertambah sesak dengan berbagai koleksi model baju, tas, sepatu, aksesoris dan kosmetik. Berbagai barang tersebut tentu memiliki masa pakai. Ketika hanya ditimbun atau disimpan tentu akan rusak. Hasilnya, timbulan sampah baru semakin tidak terkendali. Timbulan sampah bukan hanya sekadar sampah rumah tangga yang identik dengan proses konsumsi makanan. Apabila tidak segera ada aturan dari hulu ke hilir yang mengikuti perkembangan zaman, kompleksitas sampah merupakan keniscayaan.

Berangkat dari keprihatinan terhadap konsumerisme dan dampak sampah, Ruang Solidaritas Joli Jolan terbentuk pada 21 Desember 2019. Gerakan ini dimulai dari sebuah bangunan kecil dengan halaman lapang di Jalan Siwalan 1 Kerten Laweyan Solo. Beberapa orang telah memulai upaya menekan konsumerisme dan laju sampah di Joli Jolan.Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “ijol ijolan”yang artinya saling bertukar. Filosofi sederhana ini mendorong pembentukan ruang saling berbagi agar memperpanjang umur barang.

Siapapun bisa menjadi anggota Joli Jolan. Setiap anggota dapat mengambil barang yang dibutuhkan tanpa membayar dengan menukarkan barang miliknya yang masih bisa dimanfaatkan. Meski masih seumur jagung, antusiasme warga terhadap Joli Jolan cukup besar. Sebelum pandemi Covid-19, Joli Jolan pernah disambangi 200 pengunjung pada akhir pekan. Padahal Joli Jolan kala itu hanya buka tujuh jam.  

Kami berharap Ruang Solidaritas Joli Jolan menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama sebagai gerakan perlawanan masyarakat terhadap konsumerisme. Peran masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan harus dijalankan. Tidak hanya sekadar wacana belaka. Dukungan pemerintah juga tak kalah penting untuk menciptakan regulasi yang pro zero waste atau menekan residu sampah hingga nol. Tak lupa peran swasta selaku produsen yang wajib mendesain produknya agar ramah lingkungan. Mencegah lebih baik daripada mengobati bumi yang sakit.

Septina Setyaningrum, salah satu pendiri Joli Jolan