Dari kebun kecil 8 meter persegi di balkon, kami menemukan persilangan budaya dan peradaban manusia. Di sini pula, kami belajar untuk jadi lebih tangguh dan berdaulat pangan. Pengalaman kecil merawat kebun di balkon ini, pada akhirnya, meneguhkan hati kami kenapa perlu merawat bumi kita.
Kami mulai berkebun ketika pandemi Covid-19 menyerang dunia tahun lalu. Ada banyak faktor yang saling berkelindan dan kebetulan yang membuat kami menanam. Tahun lalu, kami mendadak merasa hampa berada di rumah yang baru kami tinggali lagi setelah bertahun-tahun dibiarkan kosong. Balkon dan teras rumah yang menghadap arah barat sangat gersang, minim tanaman yang menyegarkan mata.
Pindahan dari kota kecil ke desa juga menimbulkan culture shock kepada kami. Ada berbagai sayur dan kudapan yang umum di kota kini tak bisa kami akses begitu saja dari desa, seperti sayur selada beraneka ragam, pizza, dan lainnya. Sulit bagi kami mengubah kebiasaan. Satu-satunya cara untuk tetap memeroleh produk yang kami sukai hanya satu: menanam bahan bakunya.
Kebetulan, pada saat yang sama, Ruang Solidaritas Joli Jolan kala itu sedang menggiatkan kegiatan yang berhubungan dengan berkebun di ruang urban. Saat itu, kami merasa tertarik menanam. Namun, kami masih ragu-ragu. Kami khawatir gagal.
Lalu, pandemi yang memburuk memaksa kami mengurangi perjalanan. Kami jadi memiliki banyak waktu di rumah dan memutuskan untuk mulai menanam.
Kami belajar menanam dari nol. Saya dan suami tak punya banyak pengalaman mengurus kebun. Saya sendiri nol pengalaman. Sementara, terakhir kali suami memegang ladang belasan tahun lalu, saat ia hidup di kampung halamannya. Ia pernah berkebun sebentar dan membantu panen di sawah ketika masa senggang menunggu ujian universitas.
Kangkung, Bayam, dan Sawi
Kami belajar menanam dengan metode hidroponik. Metode ini kami pilih karena rumah kami minim lahan. Lokasi yang dapat ditanami adalah balkon mungil dengan lantai keramik dan teras bawah yang sempit. Sebagai awalan, kami menanam kangkung, bayam, dan sawi. Tiga jenis sayuran yang direkomendasikan untuk ditanam oleh pemula. Kami mulai menanam dengan memanfaatkan styrofoam bekas di toko buah.
Kangkung, bayam, dan sawi mudah ditanam, cepat dipanen, dan jarang diganggu hama. Sungguh jenis sayur yang tepat bagi pemula karena tingkat keberhasilannya yang tinggi mampu memacu keinginan menanam lagi setelah penanaman pertama. Dari kangkung, bayam, dan sawi, kami beranjak belajar menanam tanaman yang lain yang lebih menantang karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Kami mencoba menanam tanaman yang menghasilkan buah, seperti tomat, terong, pare belut, dan timun. Tidak semuanya mulus bisa panen dengan baik. Sekali belum berhasil, kami mencoba lagi. Tanaman buah lebih menantang dibandingkan tanaman sayur hijau karena tanaman yang berbuah membutuhkan asupan nutrisi yang lebih dan sinar matahari yang lebih banyak.
Selain tanaman buah, kami juga mencoba menanam bunga dan tanaman herbal. Beberapa bunga dan herbal bisa tumbuh di balkon kami yang minim cahaya, tapi ada pula yang kesulitan menyesuaikan diri. Kami masih memelajari cara merawat pada situasi ekstrem di balkon kami.
Saya dan suami tak selalu satu kata dalam merawat tanaman. Awalnya, ia hanya ingin menanam hidroponik. Tapi, saya bersikukuh menambah tanaman dengan cara tanam konvensional. Saya ingin tanaman kebun lebih beragam. Keragaman tanaman sangat penting untuk ekosistem tanaman dan daya tahannya terhadap hama. Saya ingin sekali mengurangi penggunaan pestisida maupun jebakan hama dalam pengelolaan kebun.
Butuh waktu tidak sebentar untuk meyakinkan suami bahwa cara itu bisa mengurangi beban hama yang muncul di tanaman. Akhirnya, kami membagi peran kami. Perawatan hidroponik dilakukan oleh suami, sementara saya merawat tanaman dengan cara tanam konvensional. Terkadang, saat ia senggang, ia membantu juga mengaduk media tanam karena pekerjaan itu memang tidak mudah. Apalagi ruang balkon kami sempit untuk mengaduk media tanam dalam jumlah besar.
Berdaulat Pangan
Sejak menanam, kami mengurangi ketergantungan konsumsi rumah tangga kami terhadap pasokan pasar. Tanaman di rumah juga mulai beragam, dari tanaman annual, biennial, hingga parenial. Kami memilih sendiri apa yang ingin kami konsumsi. Kami berdaulat atas pangan kami. Dengan menanam sendiri, kami juga tahu segala macam bentuk perawatan tanaman yang menjamin kualitas pangan kami.
Manfaat tak kalah luar biasa dari menanam yaitu keuangan rumah tangga kami tidak terpengaruh dengan inflasi harga pangan. Kebutuhan sayur sudah terpenuhi dari kebun sendiri. Kebun pangan di rumah kami membuat kami memiliki ketangguhan pangan. Kebun kami banyak menyelamatkan keuangan rumah tangga ketika pandemi menghempaskan sebagian besar pendapatan keluarga kami.
Selain mendapatkan banyak manfaat dari menanam, kami banyak belajar tentang bumi ini. Krisis iklim yang sering dibicarakan lebih terasa dampaknya ketika berkebun dengan melihat respon tanaman menghadapi perubahan cuaca dan musim.
Situasi masa kini sudah banyak berubah dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Boyolali, kota kecil yang kami tinggali sekarang, dulu jauh lebih dingin. Pada masa lalu, hujan es berukuran kecil biasa terjadi. Kini, panasnya menyengat untuk ukuran kota di kaki gunung.
Cuaca panas jadi tantangan berat untuk tanaman karena mereka bisa dehidrasi pada siang hari yang terik. Pada cara tanam hidroponik, air jadi cepat panas. Jadi, tanaman tak hanya layu karena cuaca panas, tapi juga layu karena airnya menghangat-panas. Selada, misalnya, adalah tanaman yang bisa berubah cita rasanya apabila cuaca dan airnya terlampau panas.
Pelajaran itu menyadarkan kami bahwa hasil kebun yang berkualitas dan berkelanjutan mensyaratkan bumi yang sehat untuk ditinggali. Kedaulatan dan ketangguhan pangan tidak akan ada apabila lingkungan dan bumi kita rusak.




