Categories
Reportase

Festival Mbok Sri 2026 Dari Tanah hingga Martabat: Membaca Kembali Arti Kedaulatan Petani

Hari Tani Nasional setiap 24 September selalu menjadi momentum untuk kembali melihat persoalan pertanian, bukan semata-mata sebagai urusan produksi pangan dan hasil panen, tetapi sebagai persoalan tentang tanah, kehidupan, pengetahuan, ekonomi, dan masa depan masyarakat agraris.

Awal September lalu, menjelang Hari Tani Nasional 2026, Sanggar Rojolele mengikuti Forum Tani untuk HTN 2026 (FORTANI ’26). Konsolidasi tersebut mencatat berbagai persoalan agraria di tingkat tapak, termasuk krisis regenerasi petani muda di Delanggu. Semakin sedikit anak muda yang melihat bertani sebagai masa depan, sementara penguasaan lahan pertanian semakin terkonsentrasi.

Festival Mbok Sri 2026 Hadir dengan Kegelisahan Tersebut

Berlangsung pada 25-27 September 2026 di Delanggu, Klaten, Festival Mbok Sri (FMS) 2026 mengangkat tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Nyupaya, Jejeg Urip”—teguh dalam berupaya, tegak dalam hidup. Tema ini melanjutkan gagasan FMS sebelumnya yang menempatkan petani bukan sekadar sebagai produsen pangan, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan untuk menentukan masa
depannya sendiri.

Bagi FMS, mempertahankan kehidupan agraris tidak cukup dilakukan dengan mengajak masyarakat kembali ke sawah. Yang perlu dibangun adalah ekosistem yang memungkinkan kehidupan tersebut tetap memiliki makna dan masa depan: pengetahuan yang diwariskan, hubungan antarwarga yang dirawat, ekonomi yang berpihak pada komunitas, serta ruang bagi generasi muda untuk mengenali kembali pertanian sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Karena itu, FMS sejak awal tidak dirancang sebagai festival seni atau perayaan budaya semata. Ia tumbuh sebagai ruang perjumpaan, belajar, dan bekerja bersama untuk membicarakan kembali persoalan kehidupan agraris. Sejak 2017, festival ini berkembang dari inisiatif komunitas menjadi gerakan budaya-agraria yang melibatkan kelompok tani, kelompok perempuan, pemerintah desa, pelaku usaha lokal, komunitas seni, akademisi lintas disiplin, kelas dan generasi. Dalam perjalanannya, berbagai inisiatif tumbuh dari ruang-ruang perjumpaan tersebut dalam bentuk pemberdayaan kolektif, kemandirian ekonomi, dan literasi agraria.

Dengan demikian, kedaulatan petani tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan kebijakan. Ia juga dibagun melalui praktik praktik kecil yang berlangsung setiap hari: ketika warga bekerja bersama, Ketika pengetahuan pertanian dibagikan, Ketika hasil panen diperdagangkan melalui ruang ekonomi lokal, ketika koperasi dirintis, ketika anak muda diajak mengenal kembali kehidupan agraris, dan ketika masyarakat berkumpul untuk merawat ingatan serta identitas desanya. Di sinilah “Menanam Daulat, Memanen Martabat”—visi Sanggar Rojolele melalui FMS—menjadi lebih dari sekadar semboyan.

Pada FMS 2006, gagasan itu diterjemahkan melalui rangkaian ritual dan program yang mempertemukan kehidupan agraris, kebudayaan, dan ekonomi warga. Umbul Donga, Kirab Mbok Sri, dan Wiwitan menjadi bagian dari rangkaian ritual yang menghidupkan kembali hubungan antara manusia, tanah, pangan, dan komunitas. Sementara Jagongan Tani, Pemutaran Film Dokumenter hasil residensi, Pasar Mbok Sri, Loopen de Delanggu, dan Delanggu Fun Dining membuka ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hasil kerja masyarakat. Di Panggung Hiburan Rakyat, sebuah kolaborasi antara seniman janthur, grup karawitan, dan seniman asal Austria menjadi pintu perjumpaan dan kemungkinan baru, tanpa kehilangan akar pada kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat.

“Bagi kami di Delanggu, keberlanjutan pertanian itu bukan hanya soal apakah sawah masih bisa menghasilkan padi. Yang lebih penting adalah apakah masih ada orang yang mau mengolahnya, apakah pengetahuan tentang tanah masih diwariskan, apakah hasil kerja petani bisa untuk hidup layak, dan apakah kami sebagai masyarakat masih punya kemampuan untuk mengurus kehidupan kami bersama-sama,” jelas Eksan Hartanto, Pendiri Sanggar Rojolele sekaligus Direktur FMS.

Di tengah pembicaraan tentang reforma agraria dan kedaulatan pangan pada skala nasional, Festival Mbok Sri memilih bekerja dari ruang yang lebih dekat: desa, sawah, pasar, dapur, ruang belajar, dan komunitas.

Tatag ngupaya, jejeg urip. Tetap berupaya, tetap berdiri. Bukan sekadar untuk mempertahankan masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa kehidupan agraris masih memiliki tempat untuk tumbuh dan masa depan untuk diwariskan.

Categories
Komunitas

Menyemai Harapan dari Taman Belajar Kedungampel

Di tengah hamparan sawah yang membentang luas dan jalan desa yang teduh oleh pepohonan, Desa Kedungampel, Cawas, Klaten, kini memiliki cerita baru tentang semangat belajar. Cerita ini lahir dari kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 045 UIN RMS Surakarta yang menjalankan program dengan tema Desa Ramah Perempuan dan Anak.

Tema tersebut mendorong para mahasiswa untuk merancang kegiatan yang memberi ruang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi perempuan dan anak-anak di desa. Salah satu wujud nyatanya adalah pembentukan Taman Belajar Kedungampel, sebuah sudut sederhana yang diubah menjadi pusat aktivitas edukatif dan kreatif untuk anak-anak.

Tidak perlu gedung megah, cukup tikar yang digelar rapi, rak buku yang tertata, dan koleksi bacaan yang menggoda rasa ingin tahu. Setiap sore, anak-anak datang membawa semangat, duduk bersama, membuka buku, dan membiarkan dunia imajinasi mengalir di benak mereka.

Taman belajar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Di sinilah berlangsung berbagai kegiatan yang memadukan pendidikan dan hiburan: belajar menulis dan berhitung, menggambar, mewarnai, bermain permainan edukatif, hingga mendengarkan cerita yang dibacakan mahasiswa.

Suasana yang santai membuat anak-anak merasa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membebani. Selain itu, taman belajar ini menjadi ruang aman di mana anak-anak dapat berinteraksi, mengekspresikan diri, dan mengembangkan kreativitas tanpa rasa takut.

Donasi Buku sebagai Jembatan Pengetahuan

Koleksi bacaan yang menjadi daya tarik utama taman belajar ini hadir berkat dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Joli Jolan. Melalui donasi buku yang mereka berikan, taman belajar ini memiliki bahan bacaan yang variatif. Mulai dari buku cerita bergambar, majalah anak, hingga buku pengetahuan umum yang sesuai usia.

Selain Joli Jolan, bantuan juga datang dari pihak-pihak lain yang tak kalah peduli. Ada yang menyumbangkan buku tambahan hingga dukungan keuangan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa literasi dapat berkembang melalui gotong royong dan kepedulian bersama.

Sebagai bagian dari program Desa Ramah Perempuan dan Anak, taman belajar ini dirancang untuk terus berlanjut bahkan setelah masa KKN berakhir. Mahasiswa KKN 045 menata penempatan taman belajar yang strategis dan terdapat pengelolanya sendiri. 

Dengan begitu, taman belajar tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan minat baca dan kreativitas anak-anak Kedungampel untuk tahun-tahun mendatang.

Harapan yang Tertanam di Halaman Buku

Kini, Taman Belajar Kedungampel berdiri sebagai simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Dengan dukungan dari Joli Jolan, para donatur, dan semangat gotong royong masyarakat, desa ini membuktikan bahwa akses bacaan yang memadai bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang layak diperjuangkan.

Di setiap buku yang dibuka, tersimpan harapan. Harapan bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berani bermimpi. Dan di Kedungampel, harapan itu kini sedang mekar satu halaman demi satu halaman.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Dukung Mahasiswa KKN Sediakan Buku dan Pakaian Gratis di Desa Mireng Klaten

Mireng, 19 Juli 2025- Kelompok 218 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Mas Said Surakarta menghadirkan sebuah kegiatan kolaboratif dan inspiratif bertajuk “Bazar Ceria untuk Semua” yang mengusung tema “Berbagi dengan Hati, Tumbuhkan Kepedulian”. Kegiatan ini sukses digelar pada Sabtu pagi, 19 Juli 2025, bertempat di halaman Puskesmas Pembantu Desa Mireng, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat melalui program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Bazar ini menyajikan pakaian gratis, buku, dan boneka layak pakai hasil donasi yang dikelola bersama komunitas sosial Ruang Solidaritas Joli Jolan, yang menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan ini.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan bazar sayuran segar gratis yang disediakan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga serta mengedukasi masyarakat pentingnya konsumsi sayur setiap hari.

Sebagai bentuk kontribusi di bidang kesehatan, diselenggarakan pula layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bekerja sama dengan Puskesmas Trucuk 1 dan didukung oleh Puskesmas Pembantu Desa Mireng. Pemeriksaan meliputi cek gula darah, kolesterol, tekanan darah, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan SADARNIS (pemeriksaan payudara klinis untuk perempuan), THT, serta layanan konsultasi dokter umum.

Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Mireng yang hadir dengan antusias, baik tua maupun muda, serta dukungan penuh dari tenaga medis dan relawan yang terlibat. Warga tidak hanya mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini, tetapi juga diajak untuk menumbuhkan rasa peduli dan semangat berbagi antar sesama.

Ketua KKN Kelompok 218 menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan instansi terkait dalam membangun desa yang lebih peduli, sehat, dan sejahtera.

Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial yang mengakar pada nilai-nilai empati dan kemanusiaan. Berbagi itu sederhana, tetapi dampaknya bisa luar biasa. Mari tumbuhkan kepedulian, mulai dari hal-hal kecil untuk perubahan yang besar.