Categories
Gaya Hidup

Kebiasaan Sederhana Menghindari Belanja Impulsif

Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal yang sama. Awalnya hanya ingin membuka aplikasi belanja untuk melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian keranjang sudah terisi dan tombol checkout terasa begitu menggoda. Padahal, belum tentu semua barang yang dipilih benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan seperti inilah yang membuat belanja impulsif semakin mudah terjadi di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak.

Ironisnya, rasa puas setelah membeli sering kali tidak bertahan lama. Barang datang, digunakan beberapa kali, lalu perlahan terlupakan di sudut lemari atau rak penyimpanan. Oleh karena itu, membangun kebiasaan berbelanja dengan lebih sadar tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Memberi jeda 24 jam sebelum membeli bisa menjadi langkah sederhana untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena diskon, tren, atau rasa takut ketinggalan.

Ketika keputusan membeli sudah terasa lebih yakin, kebiasaan berikutnya adalah berbelanja dengan tujuan yang jelas. Membuat daftar kebutuhan apa saja yang perlu kita beli membantu kita untuk tetap fokus dan mengurangi pembelian yang tidak direncanakan. Lalu, terapkan prinsip one in, one out: setiap kali ada satu barang baru yang masuk, keluarkan satu barang lama yang sudah tidak digunakan. Barang tersebut bisa dijual, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu pemilik saja.

Cara lain yang mulai banyak diterapkan adalah menyewa daripada membeli. Saat musim pernikahan, misalnya, semakin banyak orang memilih menyewa kebaya atau gaun yang hanya dipakai sekali. Di kota-kota besar, layanan sewa kini juga semakin mudah ditemukan melalui media sosial maupun platform digital untuk berbagai kebutuhan sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa memiliki bukan lagi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan.

Yang tak kalah penting, rawat barang yang sudah dimiliki. Membersihkan sepatu, memperbaiki pakaian yang sobek, atau merawat peralatan rumah tangga dapat memperpanjang usia pakainya. Tidak semua barang yang mulai rusak harus langsung diganti. Sering kali, sedikit waktu untuk merawat atau memperbaikinya justru membuatnya bertahan lebih lama. Barangkali, yang paling perlu dipikirkan sebelum menekan tombol checkout bukan seberapa besar diskonnya, melainkan apakah barang itu benar-benar akan kita gunakan, atau hanya menjadi penghuni baru di sudut lemari.

Categories
Gaya Hidup

Beli? Nanti Dulu, Sewa Aja

Beberapa tahun lalu, memiliki barang sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan. Apalagi membeli barang-barang yang dirasa sedang tren, meskipun harganya tidaklah murah. Inilah yang menjadi salah satu penanda konsumerisme terjadi di dalam masyarakat.

Namun, kini cara pandang tersebut perlahan mulai berubah. Di kalangan anak muda, tren menyewa barang mulai diminati karena dianggap lebih praktis, hemat, dan sesuai dengan kebutuhan. Bagi mereka, yang terpenting bukan lagi memiliki sebuah barang, melainkan dapat menggunakan barang tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Menjelang konser, misalnya, tidak sedikit penggemar yang memilih menyewa smartphone dengan kamera berkualitas tinggi agar dapat mengabadikan penampilan idola mereka dengan hasil yang lebih jernih atau kamera mirrorless untuk liburan. Jadi, jangan buru-buru beranggapan bahwa mereka yang menyewa smartphone mewah ingin tampil sebagai orang yang mampu. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi tidak semua orang memiliki keinginan yang sama. Ada yang memang kebutuhannya terhadap smartphone mewah hanya sementara karena mereka hanya memanfaatkan kameranya untuk acara tertentu.

Selain barang-barang teknologi, ada pula yang menyewa gaun untuk menghadiri pesta akhir tahun, menyewa perlengkapan camping untuk akhir pekan, ataupun menyewa perlengkapan anak untuk keluarga dengan anak kecil. Ayunan, perosotan plastik, bahkan stroller kini bisa disewa secara harian atau bulanan sesuai kebutuhan. Barang-barang tersebut umumnya hanya digunakan dalam periode tertentu, sehingga menyewa sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan membeli.

Perubahan gaya hidup ini tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Beragam layanan penyewaan kini dapat ditemukan melalui aplikasi maupun media sosial. Proses mencari, memesan, hingga mengembalikan barang pun menjadi semakin mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kemudahan tersebut membuat proses menyewa daripada membeli menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran bulanan mereka dengan lebih bijak.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan dalam cara mengonsumsi. Ketika satu barang dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian, kebutuhan untuk membeli barang baru dapat berkurang. Pola seperti ini sejalan dengan konsep sharing economy, yaitu memanfaatkan sumber daya yang sudah ada agar penggunaannya lebih optimal dan tidak berlebihan.

Tren menyewa barang menunjukkan bahwa cara pandang terhadap kepemilikan mulai bergeser. Nilai sebuah barang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang memilikinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan saat benar-benar dibutuhkan. Memiliki memang tetap menjadi pilihan, tetapi kini semakin banyak orang menyadari bahwa tidak semua kebutuhan harus berakhir dengan membeli. Ternyata dengan menyewa, guna barang tersebut tetap dapat digunakan.

Categories
Gaya Hidup

Digital Decluttering, Bukan Sekadar Hapus Aplikasi

Hampir sebagian besar pengguna smartphone pernah merasakan situasi seperti ini, membuka ponsel untuk membalas satu pesan, tetapi malah berakhir menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Ternyata situasi seperti itu tidak hanya membuang waktu berharga, tetapi juga membuat pikiran kurang fokus dan cepat lelah. Tanpa disadari, ruang digital yang dipenuhi notifikasi, file, foto, dan aplikasi yang jarang digunakan dapat membuat pikiran terasa semakin sesak. Kondisi inilah yang akhirnya membuat digital decluttering semakin banyak diterapkan sebagai kebiasaan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, termasuk smartphone.

Digital decluttering adalah kebiasaan merapikan ruang digital dengan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, membersihkan file yang menumpuk, mengatur ulang email, serta membatasi notifikasi yang benar-benar penting. Tujuannya bukan menghindari teknologi atau mengalihkan perhatian, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar agar mendukung aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan ini terasa semakin relevan karena ruang digital kita terus dipenuhi oleh berbagai hal yang bersaing merebut perhatian. Notifikasi media sosial, promosi belanja, hingga rekomendasi video yang hadir kapan saja tanpa jeda. Semakin banyak distraksi yang muncul, semakin mudah pula kita kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya sedang kita kerjakan.

Untungnya, merapikan ruang digital tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana seperti menghapus aplikasi yang jarang dibuka, berhenti mengikuti akun yang tidak lagi memberi manfaat, membersihkan screenshot yang sudah tidak relevan, atau meluangkan beberapa menit untuk merapikan galeri foto sudah cukup untuk memulai. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak dipenuhi gangguan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih terkelola berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Temuan tersebut sejalan dengan konsep digital minimalism, yaitu menggunakan teknologi secara sengaja sesuai kebutuhan, bukan sekadar
mengikuti kebiasaan atau takut tertinggal. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kita berada di depan layar, melainkan bagaimana kita memberi ruang bagi perhatian agar tetap tertuju pada hal-hal yang benar-benar penting.

Tidak semua orang perlu menghapus seluruh aplikasi atau berhenti menggunakan media sosial seketika. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ruang digital terasa lebih tertata, perhatian tidak lagi mudah terpecah, dan waktu yang kita miliki pun terasa lebih utuh. Mungkin yang selama ini kita butuhkan bukan lebih banyak waktu di depan layar, melainkan lebih banyak kendali atas cara kita menggunakannya.

Categories
Reportase

SINDIKASI: UU Ketenagakerjaan Baru Harus Lindungi Freelancer

Rilis Pers Sindikasi

Jakarta, 1 Mei 2026 – Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) agar segera menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru dengan perspektif pelindungan bagi pekerja.

Dalam putusan tentang gugatan Undang-Undang Cipta Kerja, Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan DPR RI dan pemerintah agar menyusun Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru paling lambat 31 Oktober 2026 atau dua tahun setelah putusan tersebut dibacakan.

“Enam bulan menjelang batas akhir, kita masih belum mengetahui kejelasan rumusan Undang-Undang itu dari DPR RI. Kami mendesak agar Undang-Undang ketenagakerjaan yang baru harus mencerminkan keberpihakan dan pelindungan maksimal bagi kelompok pekerja rentan. Jangan sampai hanya mendaur ulang pasal-pasal bermasalah dari Undang-Undang Cipta Kerja,” ungkap Ketua Umum SINDIKASI, Ikhsan Raharjo, dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Jakarta, Jumat (1/5).

Lebih lanjut, sebagai serikat pekerja yang menaungi pekerja media dan industri kreatif, SINDIKASI mendorong agar DPR RI dan pemerintah memberi perhatian khusus terhadap pekerja rentan seperti pekerja lepas (freelancer) yang cenderung diabaikan dalam paket regulasi perburuhan Indonesia.

Selain itu, SINDIKASI juga menilai bahwa pembentukan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru harus disertai dengan komitmen negara untuk memastikan ruang demokratis bagi pekerja. Dalam kerangka itu, pemerintah mesti terbuka terhadap kritik masyarakat, termasuk dari aktivis dan pembela hak asasi manusia.

“Kebebasan berserikat dan berekspresi memang dijamin oleh Undang-Undang, namun dalam praktiknya, pekerja masih kerap mengalami intimidasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, tidak jarang kritik yang disampaikan justru direspons dengan tindakan represif, sementara pekerja yang aktif berserikat kerap menghadapi mutasi sebagai bentuk tekanan,” terang Sekretaris Jenderal SINDIKASI, Mia Rosmiati, dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Jakarta, Jumat (1/5).

Sejalan dengan dorongan tersebut, SINDIKASI akan menerbitkan kertas posisi berjudul “Melalui dan Melampaui Regulasi, Lawan Fleksploitasi: Desain Pengakuan dan Perlindungan bagi Pekerja Media dan Kreatif” yang memuat gagasan komprehensif dan demokratis terhadap pelindungan pekerja media dan industri kreatif melalui Undang-Undang Ketenagakerjaan baru.

Pusat Informasi SINDIKASI

Instagram: serikatsindikasi
X: sindikasi_
Email: serikat@sindikasi.org
Mobile: 081-1166-2708
Website: sindikasi.org

Categories
Komunitas

Membangun Kesadaran Lingkungan Bersama Gen Z

Salah satu fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan urban di Indonesia, termasuk di Kota Solo, adalah pembakaran sampah rumah tangga. Selain merusak lingkungan, asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut juga dapat mengganggu keharmonisan hidup bertetangga, karena udara bersih yang seharusnya dihirup menjadi terkontaminasi oleh zat berbahaya hasil pembakaran sampah.

Fenomena tersebut hanyalah satu dari sekian banyak permasalahan lingkungan yang perlu menjadi perhatian bersama. Menariknya, saat ini anak-anak muda sudah mulai menunjukkan kepedulian dan kesadarannya terhadap lingkungan. “Gen Z bantu Gen Z” menjadi salah satu wujud solidaritas di kalangan Gen Z untuk saling mengingatkan dan berbagi pengetahuan seputar isu-isu lingkungan, termasuk salah satunya terkait sampah.

Damai Maheswari, salah satu relawan muda Joli Jolan yang telah bergabung sejak 2019, adalah salah satu motor penggerak kepedulian terhadap lingkungan di Kota Solo. Dalam acara bertajuk Edukasi dan Aksi Hari Peduli Sampah Nasional: Spill Gaya Hidup Minim Sampah Ala Pelajar Muda, No Bakar-Bakar!, Damai memaparkan kontribusi sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.

Kesadaran Lingkungan Melalui Joli Jolan

Dalam kegiatan tersebut, Damai menjelaskan tentang komunitas Joli Jolan, komunitas saling berbagi yang tahun ini menginjak usia enam tahun. Joli Jolan hadir di tengah masyarakat dengan membawa gagasan kepedulian terhadap lingkungan melalui upaya sederhana, yaitu memperpanjang usia manfaat barang. Selain itu, Joli Jolan secara konsisten mengampanyekan kesadaran dalam mengonsumsi barang, mengingat dampak negatifnya yang nyata tapi jarang disadari. Terlebih lagi, perilaku konsumtif yang tidak disadari telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Melalui pemaparan berbasis data, Damai menjelaskan bahwa Joli Jolan telah memberikan dampak yang terukur. Salah satunya, sepanjang tahun 2025, Joli Jolan berhasil menyelamatkan 11,6 ton barang dari tempat pemrosesan akhir dengan memperpanjang masa guna barang tersebut agar dapat digunakan kembali oleh orang lain. Secara rinci, jenis barang yang dikelola antara lain:
• Pakaian: 15.893
• Buku: 601
• Tas: 432
• Mainan: 610
• Alat rumah tangga: 234
• Perlengkapan bayi: 33
• Alas kaki: 557
• Barang lainnya: 721

Secara ekonomi, 70% anggota Joli Jolan dapat menghemat pengeluaran sebesar Rp100.000,00–Rp200.000,00 per bulan. Nominal yang cukup dialokasikan kebutuhan sehari-hari yang lebih penting. Komposisi anggota Joli Jolan yang menerima manfaat tersebut pun beragam, yakni 38% buruh formal dan nonformal, 20% pekerja perawatan, 17% pelajar dan mahasiswa, serta 15% wirausaha.

Ke depan, diharapkan Joli Jolan akan terus diterima masyarakat. Sehingga Joli Jolan mampu berkontribusi lebih luas untuk memberikan dampak yang semakin terasa bagi masyarakat. Selain itu, diharapkan juga akan semakin banyak pihak yang berkolaborasi untuk membangun kesadaran kolektif terhadap kepedulian lingkungan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk generasi Z yang penuh semangat dalam menciptakan perubahan.

Salam solidaritas!

Categories
Sudut Joli Jolan

Yuk, Adopsi Buku di Gen Darling Fest 2026

Tahukah kamu? Untuk memproduksi 1 ton kertas, industri rata-rata membutuhkan sekitar 12–24 batang pohon tergantung jenis kayu dan teknologi pabriknya. Jika buku hanya dibeli lalu terlupakan di rak, itu berarti pohon yang ditebang tidak “bercerita” sebanyak mestinya.

Dengan berbagi atau mengadopsi buku, kita memberi buku kesempatan hidup kedua, dan secara tidak langsung membantu memperpanjang usia pakai kertas serta mengurangi pembabatan hutan. Di acara “Jaga Hutanmu, Yuk Adopsi Buku”, kamu bisa menemukan bacaan tanpa beli baru.

Buku boleh dibawa pulang, boleh juga baca di tempat sambil ngobrol bareng. Buat yang pengin kenal lebih jauh dengan Joli Jolan, kami turut menampilkan profil serta hasil riset terbaru tentang dinamika waste management.

Oh ya, @tokojolijolan ikut meramaikan kegiatan lho! Di pop-up market kali ini, Toko Joli Jolan akan membawa sejumlah pakaian/aksesoris terkurasi yang bisa kamu dapatkan gratis atau berdonasi. Simak info kegiatannya:

📍 Selasar Hall De Tjolomadoe Karanganyar (Eco Zone Festival)
📅 Kamis, 12 Februari 2026
⏰ 10.00–18.00 WIB

Acara ini merupakan bagian dari Gen Darling Fest 2026, Hijau Itu Keren, yang turut menghadirkan Idgitaf dan Pandawara Group. Acaranya free dan terbuka untuk umum. Yuk ramaikan!

Categories
Gagasan

Semua Orang Berhak Makan Bergizi

Makanan merupakan kebutuhan utama manusia yang harus dipenuhi setiap hari. Namun, masih ada anggapan bahwa makanan sekadar berfungsi untuk mengenyangkan perut. Padahal, kandungan gizi yang seimbang di dalam makanan berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan meningkatkan kualitas kesehatan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Asupan gizi yang baik bahkan dapat menstimulasi perkembangan otak, yang menjadi fondasi penting bagi kemampuan berpikir dan belajar seseorang.

Makanan bergizi itu sendiri merupakan makanan yang mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh dalam proporsi yang tepat. Tanpa asupan gizi yang memadai, pertumbuhan dapat terhambat dan dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kualitas hidup seseorang.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses makanan bergizi. Sebagian orang terpaksa hanya mengonsumsi makanan yang sekadar mengenyangkan, tetapi minim kandungan gizi. Sementara itu, bagi sebagian lainnya, makanan bergizi telah menjadi menu sehari-hari. Perbedaan kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan akses yang nyata.

Akses terhadap makanan bergizi seharusnya menjadi bagian dari hak dasar manusia untuk hidup sehat dan layak. Karena itu, upaya memperluas akses terhadap makanan bergizi bukan hanya persoalan bantuan semata, melainkan juga bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial.

Distribusi Makanan Bergizi

Selain mendistribusikan barang-barang layak pakai, Joli Jolan juga memandang penting distribusi makanan bergizi sebagai bentuk solidaritas pangan. Upaya ini memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan besar ketimpangan akses, tetapi menjadi langkah konkret untuk membantu masyarakat di sekitar Galeri Joli Jolan memperoleh asupan yang lebih baik.

Salah satu program yang dijalankan adalah Food Not Bomb (FNB), kegiatan berbagi bahan pangan yang dilaksanakan setiap akhir pekan di Galeri Joli Jolan. Relawan dan warga mendonasikan bahan makanan, mulai dari sayuran hingga makanan siap santap, yang kemudian dibagikan secara gratis kepada siapa pun yang membutuhkan. Siapa pun dapat mengambil dan siapa pun dapat berdonasi.

Program ini tidak hanya disambut hangat oleh warga yang membutuhkan, tetapi juga oleh mereka yang ingin berbagi. Ada kepuasan tersendiri ketika dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ada kepuasan tersendiri bahwa apa yang diberikan dapat menjadi bagian dari kontribusi positif. Food Not Bomb menunjukkan bahwa solidaritas dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara kolektif.

Gerakan Food Not Bomb sendiri bermula pada tahun 1980-an di Amerika Serikat sebagai inisiatif distribusi pangan gratis yang berlandaskan semangat kesukarelaan dan kebersamaan. Dalam praktiknya, tidak ada paksaan untuk berdonasi maupun mengambil makanan. Semua berjalan atas dasar kesadaran untuk saling membantu, untuk saling menjaga satu sama lain.

Pada akhirnya, upaya ini menjadi langkah nyata yang menunjukkan bahwa makanan bergizi dapat diakses oleh siapa saja. Tidak diperlukan birokrasi yang berbelit atau modal besar yang sering kali membuat akses menjadi terbatas. Selama ada kesadaran untuk saling berbagi dan niat tulus untuk berkontribusi, kegiatan berbagi makanan bergizi dapat diwujudkan secara sederhana dan bermakna.

Categories
Gagasan

Apa Kabar Resolusi Akhir Tahun?

Tak terasa, tahun 2026 sudah hampir berjalan satu bulan. Sejauh mana resolusi kalian tahun ini? Sudah ada progres yang berarti? Masih berkomitmen dengan resolusi tersebut? Atau malah ada yang telah berhasil kalian capai? Atau justru mulai kalian lupakan?

Berkomitmen pada perubahan memang butuh upaya yang tidak mudah. Namun, bukan berarti upaya tersebut tidak layak diperjuangkan. Apabila resolusi yang kalian buat terasa sulit dicapai, ada baiknya kalian berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi. Bisa jadi bukan resolusinya yang terlalu berat, melainkan upaya dan persiapan kalian yang belum cukup matang dan pantas untuk mencapainya.

Cobalah mulai mengatur ulang strategi. Tidak ada yang salah dengan menyesuaikan strategi. Mungkin saja strategi baru yang telah kalian sesuaikan justru menjadi bagian penting dari proses menuju resolusi yang sebelumnya terasa sulit. Atau bisa jadi strategi baru tersebut membantu kalian menyadari hal lain yang lebih penting daripada resolusi yang sebelumnya telah kalian buat. Sehingga kalian harus membuat resolusi baru. Tidak apa-apa.

Cobalah mulai lakukan hal-hal kecil, sederhana, dan relatif mudah dilakukan. Yang terpenting, hal-hal tersebut dapat kalian lakukan secara konsisten. Berikut dua hal sederhana yang bisa jadi inspirasi.

Gunakan Kalender untuk Menulis To-Do List

Pasang kalender, lalu tuliskan daftar tugas pada tanggal-tanggal yang telah kalian tentukan. Letakkan kalender tersebut di tempat yang sering kalian lihat, bisa di kamar, pintu keluar, atau ruang keluarga. Tujuannya agar kalian terus mengingat tugas apa saja yang perlu kalian kerjakan dan selesaikan.

Setelah menyelesaikan sebuah tugas, coret tugas tersebut. Aktivitas sederhana ini dapat menciptakan rasa pencapaian dan percaya diri. Ada perasaan bangga yang muncul, menghasilkan sensasi yang memotivasi kalian untuk menyelesaikan tugas berikutnya. Diharapkan hal ini membentuk momentum bagi kalian untuk menyelesaikan rencana-rencana yang telah kalian buat, bukan meninggalkan rencana-rencana tersebut begitu saja.

Memang, kita semua memiliki aplikasi kalender di gadget yang selalu kita bawa ke mana-mana. Namun, banyaknya notifikasi sering kali malah membuat to-do list yang kita buat terabaikan. Selain itu, sensasi mencoret to-do-list yang telah selesai kita kerjakan dengan pensil atau pulpen di kalendar terasa lebih memuaskan dibandingkan sekadar menekan tombol di layar aplikasi.

Mulai Konsisten Membaca Buku

Membaca buku adalah kebiasaan yang mungkin tidak diminati semua orang. Padahal, membaca dapat melatih kita untuk berpikir, membayangkan, dan mengolah informasi secara lebih mendalam. Aktivitas ini membuat otak bekerja lebih aktif dibandingkan hanya menonton konten di layar.

Memang, saat ini informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui internet dan media sosial. Namun, tidak sedikit informasi di media sosial yang mengandung disinformasi. Buku, di sisi lain, umumnya telah melalui proses penyuntingan yang lebih ketat.

Jika kalian merasa sulit fokus membaca dalam waktu lama, mulailah dengan durasi singkat, misalnya 15 menit per hari atau dua halaman per hari. Lakukan secara konsisten rutinitas tersebut hingga perlahan kalian merasa lebih nyaman membaca.

Apabila kalian merasa harga buku mahal, ada banyak alternatif yang bisa kalian pertimbangkan. Pada dasarnya, upaya untuk membaca buku tidak selalu membutuhkan biaya besar. Kalian bisa meminjam buku dari perpustakaan, baik perpustakaan daerah, kampus, maupun sekolah. Jika kalian tetap ingin memiliki sebuah buku, membeli buku bekas dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Selain itu, kalian juga bisa datang ke Galeri Joli Jolan setiap hari Sabtu untuk mengambil buku-buku hasil donasi. Gratis dan tetap berkualitas.

Dua kebiasaan di atas bisa mulai kalian lakukan saat ini juga, terlepas dari kebiasaan hidup kalian yang telah terbentuk sejauh ini. Selain relatif mudah dan menambah wawasan, kebiasaan tersebut dapat menciptakan perasaan yang lebih produktif dan positif. Meskipun kebiasaan ini tidak serta-merta mengubah hidup kalian dalam waktu singkat, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut perlahan akan membentuk pola baru ke depan. Dan mungkin, dari pola baru itulah progres resolusi tahun baru yang telah kalian buat mulai terasa lebih realistis untuk diwujudkan.

Categories
Reportase

Program AI&Me Memberdayakan Anak Muda, Mewujudkan Kota Layak Huni

Kota Surakarta, tanggal 11 Desember 2025, secara resmi meluncurkan komponen Indonesia dari program AI&Me: Memberdayakan Pemuda untuk Kota yang Layak Huni. Peluncuran ini menandai masuknya Indonesia ke dalam kerangka kerja inovatif yang menempatkan anak muda pada garis depan perbaikan keselamatan jalan raya perkotaan.

Urgensi inisiatif ini ditekankan oleh data nasional dan lokal yang mencolok. Pada tahun 2025, menurut BPS Indonesia, lebih dari setengah populasi Indonesia terdiri dari anak-anak dan anak muda berusia 0 hingga 34 tahun. Namun, kelompok usia yang sama ini menyumbang lebih dari setengah korban kecelakaan lalu lintas, seperti dilaporkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Di Surakarta khususnya, menurut BPS Kota Surakarta, ada lebih dari 1.200 kecelakaan lalu lintas pada tahun 2023, yang mengakibatkan 59 korban jiwa dan 1.404 korban dengan luka ringan.

Angka-angka yang mengkhawatirkan ini menjadikan Surakarta sebagai kota yang ideal untuk program AI&Me: Pemberdayaan Anak Muda untuk Kota yang Layak Huni. Inisiatif ini berfungsi sebagai pendekatan strategis dalam advokasi keselamatan jalan dengan memberikan rekomendasi untuk jalan yang lebih berkeselamatan di sekitar sekolah dan berkontribusi pada Rencana Aksi Keselamatan Jalan yang diamanatkan oleh Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2022 tentang Rencana Umum Nasional untuk Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Workshop pemangku kepentingan yang diadakan di Hotel Alila pada Kamis (11/12/25), mempertemukan pejabat pemerintah daerah, pemimpin pendidikan, dan pakar keselamatan jalan raya internasional untuk meluncurkan program yang bertujuan mengubah cara Surakarta menangani tantangan keselamatan jalan raya yang berdampak terhadap populasi anak muda. Acara tersebut ditandai dengan penandatanganan secara simbolis Memorandum of Understanding antara Wali Kota Surakarta dan Transportologi, konsultan utama yang mengimplementasikan inisiatif ini di Indonesia, untuk mengukuhkan kemitraan mereka dalam menciptakan jalan yang lebih aman bagi anak muda kota.

“Tabrakan lalu lintas tetap menjadi penyebab utama kema an bagi anak-anak dan dewasa muda di seluruh dunia, termasuk di kota kita,” kata Sukma Laras , Direktur Transportologi selama workshop. “Program AI&Me memberdayakan pemuda untuk mengiden fikasi masalah keselamatan jalan di komunitas mereka dan memas kan suara mereka secara aktif berkontribusi pada solusi.”

Kerangka kerja AI&Me telah berhasil diimplementasikan di Vietnam dari tahun 2022 hingga 2024 dan kini sedang diperluas ke Indonesia dengan dukungan dari International Road Assessment Programme (iRAP), AIP Foundation, dan Youth for Road Safety (YOURS) sebagai bagian dari
AI&Me: Pemberdayaan Anak Muda untuk Kota yang Layak Huni, yang didanai oleh Fondation Botnar dan FIA Foundation. Inisiatif ini mencakup tiga komponen teknologi utama yang bekerja secara terintegrasi: Penyaringan Mahadata (Big Data Screening) mengidentifikasi sekolah-sekolah berisiko tinggi, Aplikasi Pelibatan Pemuda (Youth Engagement Apps/YEA) memungkinkan siswa melaporkan masalah keamanan, dan Penilaian Pemeringkatan Bintang untuk Sekolah (Star Rating for School/SR4S) memvalidasi temuan dan mengarahkan perbaikan infrastruktur.

Program di Surakarta akan fokus pada setidaknya tiga sekolah berisiko tinggi, melibatkan sekitar 300 murid. Melalui Aplikasi Partisipasi Anak Muda (YEA), murid akan mendokumentasikan masalah keselamatan jalan di sekitar sekolah mereka. Bersama dengan hasil penilaian SR4S, wawasan ini akan menyediakan data berbasis bukti untuk menginformasikan investasi infrastruktur pemerintah. Program ini akan berlangsung hingga 2027 dan mencakup rencana untuk sesi pelatihan utama, kampanye keterlibatan komunitas, advokasi infrastruktur, dan workshop penutupan untuk menjajaki peluang perluasannya.

Dengan memberikan alat dan platform kepada generasi muda untuk membentuk lingkungan mereka sendiri, Surakarta tengah menginisiasi pendekatan yang berpotensi mengubah upaya keselamatan jalan raya di seluruh Indonesia dan lebih luas lagi.

Tentang Transportologi

Transportologi (Center for Sustainable Mobility Studies Transportologi) adalah firma konsultan Indonesia yang berkomitmen untuk mempromosikan mobilitas berkelanjutan sebagai hak asasi manusia yang fundamental. Didirikan sebagai komunitas pada April 2017 dan secara resmi didirikan sebagai PT Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi pada Oktober 2023, organisasi ini menyediakan keahlian khusus dalam konsultasi mobilitas perkotaan dan transportasi untuk mendukung pengembangan lokal, regional, dan nasional.

Organisasi ini didorong oleh keyakinan bahwa transformasi mobilitas yang lestari dimulai dengan memenuhi kebutuhan mobilitas manusia yang aksesibel, adil, sehat, rendah emisi, dan tangguh, sambil memastikan kelestarian planet. Organisasi ini memberikan bantuan teknis untuk perencanaan mobilitas dan transportasi lestari, membantu kota dan wilayah mewujudkan sistem transportasi yang memprioritaskan manusia dan lingkungan. Sebagai konsultan utama program AI&Me di Indonesia, Transportologi membawa komitmen ini untuk pemberdayaan anak muda dan perbaikan keselamatan jalan berbasis bukti di Surakarta dan sekitarnya.

Categories
Reportase

Kembalikan Fungsi Trotoar City Walk

SOLO–Polemik penggunaan City Walk di Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo, belakangan ini perlu mendudukkan kembali fungsi dasar trotoar sebagai ruang dan fasilitas publik bagi warga yang beragam. Akar masalahnya adalah di Indonesia tidak ada hierarki pembagian ruang yang jelas dalam tata kelola trotoar.

Akibatnya, konflik atas penggunaan trotoar selalu muncul seiring lahirnya pengguna trotoar baru. Contoh peristiwa terbaru adalah kemunculan meja dan kursi bagi pelanggan kafe dan restoran di sepanjang City Walk.

Founder Transportologi, Sukma Larastiti, mengatakan secara prinsip tata kelola trotoar dibagi menjadi beberapa zona meliputi zona muka bangunan (zona 1), zona berjalan kaki (zona 2), zona perlengkapan jalan (zona 3), dan zona penyangga (zona 4).

Gambar 1. Ilustrasi desain trotoar (Sumber: NACTO, 2016)

Zona muka bangunan berfungsi memfasilitasi ruang bukaan pintu sekaligus ekstensi ruang kegiatan yang ada. Bagian ini lazim dimanfaatkan untuk memasang pajangan toko, meja, dan kursi kafe atau restoran.

Penggunaan ruang muka bangunan untuk meletakkan meja dan kursi sebagai perpanjangan kafe atau restoran bukanlah hal yang tabu dalam tata kelola trotoar.

“Kondisi ini justru meningkatkan kenyamanan, semarak kehidupan sosial, dan daya tarik jalan untuk dikunjungi serta meningkatkan persepsi keselamatan dan keamanan pejalan kaki, khususnya perempuan,” kata Sukma, dalam siaran pers yang diterbitkan Transportologi, Rabu (15/10/2025).

Hasil riset sederhana Transportologi di City Walk (seksi simpang Pasar Pon-simpang Teuku Umar) menunjukkan perempuan menilai keamanan dan keselamatan trotoar City Walk rendah, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Berikutnya, zona pejalan kaki yang harus steril dari segala aktivitas ekonomi dan perlengkapan jalan. Lalu, zona perlengkapan jalan terdiri atas pepohonan, kursi taman, dan lainnya. Terakhir, zona penyangga digunakan sebagai kereb, ruang drainase atau dikombinasikan dengan jalur sepeda.

“Di City Walk, pembagian zona ini tidak ada. Penataan trotoar City Walk sekitar 2019 justru berfokus pada penyediaan parkir kendaraan bermotor di trotoar, tanpa mempertimbangkan perubahan aktivitas sosial dan ekonomi yang akan terjadi di kemudian hari,” sambung Sukma.

Gambar 2. Penggunaan ruang trotoar City Walk (Sumber: dokumentasi Transportologi)

Konflik Perebutan Ruang

Trotoar sendiri sebetulnya bukan untuk sirkulasi dan parkir kendaraan bermotor. Akibatnya, muncul konflik perebutan atas ruang trotoar yang memang lebarnya terbatas.

Masalah lainnya adalah pemasangan blind tactile di sekitar zona muka bangunan (kurang lebih 1,5 meter dari dinding bangunan), bukan di zona berjalan kaki. Hal ini memicu tumpang-tindih klaim dan konflik penggunaan ruang berjalan kaki dan aktivitas sosial-ekonomi yang akan muncul di depan muka bangunan.

Sebagai resolusi atas polemik yang terjadi, Transportologi merekomendasikan pemerintah kota untuk mengkaji kembali tata kelola City Walk dan penggunaan parkir di trotoar. Selain itu, perlu menyusun panduan tata kelola trotoar yang inklusif, berkeselamatan, aman, dan berkeadilan bagi seluruh penggunanya.

“Berikutnya perlu menyusun strategi optimalisasi penggunaan angkutan umum dan mobilitas aktif di kawasan Jl. Slamet Riyadi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menata parkir di sepanjang koridor tersebut,” ujar Sukma.

Gambar 3. Penilaian trotoar City Walk (sumber: Transportologi, 2023)

Narahubung:
Founder Transportologi, Sukma Larastiti (+6285640641246)