Categories
Gagasan

Dampak MBG di Batam: Bikin Harga Ayam Naik, Susu Langka, Sampah Tidak Terkelola

Oleh Muhammad Ishlahuddin, Project Multatuli
August 11, 2026

Jam dinding menunjukkan pukul 22.27 ketika Marlinda masih bertahan di balik meja kasir toko kelontongnya, Jumat, 10 Juli 2026. Di rak-rak kayu, minyak goreng, gula, dan mi instan tersusun rapi. Namun, malam itu pembeli datang bergantian dalam jeda yang panjang. Sebagian hanya membeli satu atau dua kebutuhan pokok, lalu bergegas pulang.

Perempuan 48 tahun yang akrab disapa Uni Lin itu telah belasan tahun mengelola toko kelontongnya di Kota Batam. Dari balik meja kasir, ia mengaku hafal betul naik-turunnya harga bahan pangan. Sejak ada proyek Makan Bergizi Gratis (MBG), kata Uni Lin, harga sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Harga beras bahkan kenaikannya pernah mencapai Rp20 ribu per karung.

Kondisi itu memukul usahanya. Ketika harga naik, banyak pelanggan mengurangi jumlah belanja atau menunda membeli kebutuhan yang dianggap tidak mendesak. Akibatnya, omzet tokonya ikut menyusut.

“Iya, harga tinggi, orang pun belinya susah,” keluh Uni Lin.

Belakangan, harga beberapa komoditas mulai sedikit turun setelah pelaksanaan MBG dihentikan sementara. Namun, penurunan harga belum mampu mengembalikan keramaian toko. Daya beli masyarakat, menurut Uni Lin, masih lesu.

Ia menilai kondisi itu juga dipengaruhi musim libur sekolah. Pengeluaran rumah tangga bergeser. Banyak orang tua lebih memprioritaskan biaya liburan, pulang kampung, atau menyiapkan kebutuhan anak untuk memasuki tahun ajaran baru.

“Ada juga yang daftar anak masuk sekolah,” kata Uni Lin berbagi keluh kesahnya dalam berjualan.

Baginya, perubahan pola belanja itu terasa jelas. Jika biasanya pelanggan rutin membeli sayur dan kebutuhan dapur dalam jumlah lebih banyak, kini mereka datang dengan daftar belanja yang lebih pendek dan pengeluaran yang lebih hemat.

***

Keluhan Uni Lin bukan suara tunggal. Partinik, seorang pedagang makanan di kawasan Bida Ayu, Mangsang, Sei Beduk, Batam, merasakan hal serupa. Hampir setiap hari ia berbelanja bahan baku di Pasar TPID 3 Sei Beduk. Rutinitas itu membuatnya hafal perubahan harga dari waktu ke waktu.

“Sejak MBG itu, beras, minyak, telur, ayam itu yang paling terasa,” katanya usai berbelanja pagi itu, Rabu, 15 Juli 2026.

Bagi Partinik, ayam menjadi komoditas yang paling sulit kembali ke harga lama. Ia masih mengingat ketika daging ayam pernah dijual di kisaran Rp28 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram. Kini, menurutnya, harga serendah itu nyaris tak pernah ditemui lagi. Harga paling rendah berkisar Rp38 ribu per kilogram dan kerap melonjak hingga Rp42 ribu.

“Memang benar, pengaruh betul harga sama MBG ini,” ujarnya.

Keluhan yang sama juga datang dari Kasiyanto. Pekerja swasta 31 tahun itu rutin berbelanja kebutuhan pokok untuk keluarganya. 

“Aku masih ingat, sebelum program MBG itu harga minyak memang sudah naik, tapi masih mentok di kisaran Rp28 ribu sampai Rp29 ribu per dua liter. Sekarang kami akhirnya pakai Minyakita. Kalau mau bertahan pakai Fortune atau Bimoli, mana tahan,” ujarnya mengeluhkan biaya kebutuhan yang semakin mahal.

Beban paling terasa bagi bapak dua anak itu ketika membeli kebutuhan bulanan, seperti minyak goreng, beras, ayam, dan susu yang rata-rata mengalami kenaikan. Harga bahan pokok yang paling terasa baginya bukan beras, melainkan ayam dan minyak goreng yang melonjak signifikan. 

“Dari harga Rp28 ribu sekilo (harga ayam) ke Rp38 ribu sekilo, menurutku itu signifikan,” katanya.

Kesulitan tidak hanya datang dari kenaikan harga. Untuk susu, ia mengaku lebih sering menemui rak yang kosong. Ketika satu merek yang biasa mereka konsumsi habis, merek alternatif pun ikut sulit ditemukan.

Kasiyanto mencatat tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga beberapa jenis sayuran justru sempat turun. Tomat yang pernah menyentuh Rp25 ribu per kilogram kini lebih murah, begitu pula wortel yang sempat berada di kisaran Rp14 ribu per kilogram lalu turun menjadi sekitar Rp9 ribu.

Namun, harga sayuran yang mulai turun belum banyak membantu. Bahan pangan yang paling sering masuk dapur, seperti ayam, minyak goreng, dan beras, tetap lebih mahal dibanding sebelumnya.

Perubahan itu juga terasa dari suasana di pasar tradisional. Menurutnya, pasar memang tidak sampai sepi, tetapi keramaiannya berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Dulu kalau ke pasar sering desak-desakan. Sekarang masih ada pembeli, tapi terasa lebih longgar, lebih lengang,” katanya.

Bagi Kasiyanto, perubahan itu menjadi gambaran bahwa banyak keluarga mulai lebih berhati-hati mengatur pengeluaran di tengah harga kebutuhan pokok yang belum sepenuhnya kembali normal.

Pedagang juga Rasakan Sepi

Keluhan mengenai mahalnya harga bahan pangan juga terdengar dari lorong-lorong Pasar. Namun, ketika ditanya penyebabnya, jawaban para pedagang tidak selalu sama. Ada yang meyakini kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan untuk program MBG, ada pula yang mengaitkannya dengan pelemahan ekonomi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hampir semua sepakat pada satu hal: daya beli masyarakat sedang melemah.

Sabar, pedagang sayur di pasar TOS 3000 Jodoh, Batu Ampar, Batam yang setiap hari menerima pasokan dari Medan, mengaku sempat menghadapi situasi yang berat. Harga kulakan naik, sementara pembeli justru berkurang.

“Kemarin modal saya tinggi, tapi daya beli melemah. Setelah dolar turun, baru mulai agak normal lagi,” ujar Sabar saat ditemui di sela-sela menjajakan dagangannya, Senin, 15 Juni 2026.

Pembeli yang semakin jarang datang membuat Sabar tak bisa begitu saja menaikkan harga jual. Jika dipaksakan, dagangannya justru berisiko tak laku.

Tidak semua pedagang melihat persoalannya sama. Sari, yang sudah lebih dari dua dekade berjualan sayur, justru menunjuk MBG sebagai salah satu penyebab harga melonjak.

“Tomat masih Rp25 ribu karena barang enggak masuk. Menurut saya banyak yang masuk ke MBG, jadi yang ke pasar sedikit,” kata perempuan kelahiran Sumatra Utara, 49 tahun silam, 11 Juli 2026.

Ia menduga distributor lebih dahulu memenuhi permintaan dalam jumlah besar untuk MBG sehingga pasokan ke pasar tradisional berkurang. Akibatnya, harga beberapa komoditas naik.

“Yang bagus-bagus mungkin dipilih buat MBG, jadi stok di pasar berkurang. Makanya harga melambung,” ujarnya sembari melayani pembeli.

Bagi Sari, kenaikan harga juga tidak terjadi merata. Wortel relatif stabil dan kini berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp25 ribu. Namun, komoditas lain seperti tomat, sawi putih, kol, dan brokoli lebih sering berfluktuasi.

Harga kol, misalnya, naik dari sekitar Rp8 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. Brokoli bahkan pernah melonjak dari Rp38 ribu menjadi Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

“Kalau brokoli itu jadi bingung, sering naik,” katanya.

Meski demikian, Sari mengakui harga sejumlah komoditas mulai turun selama masa libur sekolah ketika kebutuhan bahan baku untuk MBG berkurang. Baginya, perubahan itu memperkuat keyakinannya bahwa permintaan dalam jumlah besar ikut memengaruhi dinamika pasokan di pasar, meski ia mengaku tidak memiliki data untuk memastikan hal tersebut.

Setiap hari, Sari membuka lapaknya sejak pukul lima pagi hingga dua siang. Selama lebih dari dua dekade berjualan, ia telah melewati berbagai gejolak harga. Namun, menurutnya, kali ini yang paling terasa bukan hanya harga yang naik, melainkan juga pembeli yang semakin berhitung sebelum mengambil sayur dari lapaknya.

Inflasi dan Dinamika Pasar 

Cerita para pedagang dan konsumen itu memiliki irisan dengan data inflasi yang tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam. Kepala BPS Kota Batam, Eko Budi Prasetyo, mengatakan inflasi Batam pada Juni 2026 tercatat sekitar 0,6 persen secara bulanan (month-to-month), sementara inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 4,75 persen.

Menurut Eko, pendorong utama inflasi pada Juni berasal dari kelompok transportasi setelah adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan biaya transportasi kemudian merambat ke biaya distribusi berbagai komoditas, termasuk bahan pangan.

“Efek kenaikan bahan bakar itu akan berpengaruh ke beberapa sektor, terutama transportasi. Transportasi memiliki peran penting dalam distribusi barang. Dengan adanya penyesuaian di sektor transportasi, otomatis biaya distribusi ikut naik, yang pada akhirnya harga kebutuhan masyarakat Kota Batam juga mengalami penyesuaian,” ujar Eko melalui sambungan telepon.

BPS mencatat sejumlah komoditas pangan ikut memberikan andil terhadap inflasi. Meski demikian, Eko mengatakan lembaganya tidak mempublikasikan harga masing-masing komoditas dalam rilis inflasi, melainkan besaran kontribusi setiap komoditas terhadap kenaikan maupun penurunan inflasi.

“Di rilis BPS kami tampilkan sepuluh komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap inflasi maupun deflasi,” katanya.

Eko tidak buru-buru menarik kesimpulan bahwa MBG menjadi penyebab inflasi. Ia menjelaskan bahwa secara ekonomi, harga akan bergerak mengikuti keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

“Kami melihatnya dari sisi supply dan demand. Kalau memang ada tambahan permintaan barang yang melebihi penawaran yang tersedia di pasar, otomatis dengan ketersediaan yang terbatas harga akan meningkat,” jelasnya.

Bagi Eko, mekanisme itu tidak hanya berlaku pada MBG. Setiap kali permintaan melonjak sementara pasokan terbatas, harga cenderung ikut bergerak naik.

“Mau MBG maupun faktor musiman seperti hari raya, kalau permintaannya meningkat sementara pasokannya tidak seimbang, maka akan terjadi penyesuaian harga,” katanya mengakhiri panggilan telepon.

Korelasi SPPG dan Harga Pangan

Dugaan yang berkembang di kalangan pedagang dan konsumen juga muncul dalam kajian Center of Economic and Law Studies (Celios). Dalam Policy Note yang dipublikasi pada 30 Mei 2026, lembaga itu meneliti hubungan antara ekspansi program MBG, pelemahan nilai tukar rupiah, dan dinamika harga pangan, di 418 kabupaten dan kota di Indonesia selama Februari 2025 hingga April 2026.

Menggunakan model statistik panel fixed effect, Celios menemukan adanya korelasi kenaikan harga pangan rata-rata 0,08 persen setiap penambahan 10 unit SPPG. Pada komoditas yang umum digunakan dalam program MBG seperti beras, telur, ayam, ikan, minyak goreng, gula, bawang dan cabai mengalami kenaikan sekitar 0,12 hingga 0,13 persen.

Celios juga menemukan keterkaitan antara pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga pangan. Namun, pengaruh tersebut melemah setelah faktor-faktor lain seperti musim panen, inflasi, distribusi pangan dan kondisi pasar nasional ikut diperhitungkan dalam analisis. Di tingkat rumah tangga, terutama di pedesaan, pelemahan rupiah tetap dirasakan melalui meningkatnya biaya produksi, harga pupuk, pakan ternak, hingga biaya dalam rantai pasok pangan.

Direktur Eksekutif sekaligus pendiri Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, wilayah yang bergantung pada pasokan pangan dari luar lebih rentan mengalami tekanan harga ketika permintaan meningkat.

“Karena dia bukan basis pangan. Sehingga hadirnya MBG akan jadi kompetitor bagi ritel, rumah tangga. Harga-harga pangan jadi naik,” kata Bhima lewat sambungan telepon, Kamis, 16 Juli 2026.

Bhima menilai kenaikan harga pangan yang dipicu peningkatan permintaan tidak serta-merta akan kembali normal ketika kebutuhan MBG berkurang.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama ketika pelemahan rupiah dan daya beli masyarakat juga sedang tertekan. Ia berpendapat pemerintah perlu mengevaluasi keberlanjutan program MBG apabila dampaknya terhadap inflasi pangan dinilai lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan.

“Pemerintah akan berada pada pilihan, apakah menjaga inflasi pangan tetap stabil di tengah pelemahan rupiah dan daya beli yang sedang melemah, atau tetap memaksakan MBG yang akhirnya memicu tekanan terhadap harga pangan,” ujarnya.

Bhima mengingatkan, kenaikan inflasi pangan berisiko memperbesar jumlah penduduk miskin maupun mendorong sebagian kelas menengah turun kelas. Karena itu, Bhima berpendapat penghentian MBG menjadi solusi menjaga stabilitas harga pangan.

“Solusi terbaiknya memang hentikan MBG,” katanya mengakhir pembicaraan.

Sisa Makanan yang Berakhir ke Peternak

Kenaikan harga pangan hanya satu bab dari perjalanan MBG di Batam. Dalam pelaksanaannya, program ini juga menghadapi berbagai persoalan lain, mulai dari dugaan keracunan massal, temuan beling pada makanan siswa, hingga pengelolaan limbah makanan oleh SPPG yang memunculkan pertanyaan baru. 

Wawancara dengan Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi, Kepala SPPG di kawasan Sei Beduk, Fandi, serta seorang pemilik SPPG di Batam menunjukkan praktik yang serupa dalam menangani sisa makanan. Ketiganya menyampaikan keterangan yang sama. Sisa makanan dari program MBG dikumpulkan, lalu dijual kepada peternak sebagai pakan ternak babi atau entok. 

Fandi menyebut sisa makanan dalam program MBG tidak bisa dihindari. Dari ribuan porsi yang disiapkan setiap hari, rata-rata sekitar 50 kilogram sisa makanan terkumpul dalam sehari.

“Tidak ada kami olah. Kami hanya memilah di plastik,” ujar Fandi saat ditemui di SPPG Kawasan Sei Beduk.

Sisa makanan itu kemudian diambil oleh peternak. Menurut Fandi, tidak ada tarif khusus yang ditetapkan. Peternak hanya memberikan uang secara sukarela. Meski demikian, setiap makanan yang keluar dari dapur tetap dicatat sebagai bagian dari administrasi SPPG.

Praktik serupa juga ditemukan di SPPG lain. Seorang pemilik dapur MBG di Batam yang enggan disebutkan namanya mengatakan sisa makanan dari dapurnya rutin diambil oleh peternak babi.

“Ditimbang, terus diangkut. Sampah-sampah kami juga mereka yang angkut,” ujarnya.

Ia tidak menjelaskan apakah ada nilai transaksi dalam penyerahan sisa makanan tersebut, termasuk biaya yang berkaitan dengan pengangkutan limbah makanan.

***

Koordinator Wilayah SPPG Batam, Defri Frenaldi membenarkan pengelolaan sisa makanan di setiap SPPG di Batam. Menurutnya, seluruh SPPG diwajibkan memisahkan food waste atau sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi dengan food loss, yakni bahan pangan yang rusak selama proses produksi.

Kedua jenis limbah tersebut kemudian ditimbang dan dicatat berdasarkan jenisnya, mulai dari karbohidrat, protein hewani, hingga sayuran. Pada SPPG yang melayani sekitar 3.000 penerima manfaat, total food waste dan food loss dapat mencapai 50 hingga 100 kilogram per hari, atau sekitar 7–10 persen dari total makanan yang diproduksi.

Batam kini memiliki 147 SPPG. Jika menggunakan angka 50 kilogram sebagai asumsi rata-rata food waste dan food lossyang dihasilkan setiap SPPG per hari, totalnya diperkirakan mencapai sekitar 7,35 ton per hari.

“Sebagian besar SPPG di Batam bekerja sama dengan peternak untuk memanfaatkan sisa makanan tersebut sebagai pakan ternak,” kata Defri melalui sambungan telepon.

Peternak babi menjadi pihak yang paling banyak mengambil sisa makanan, disusul peternak bebek dan ayam dalam jumlah lebih kecil. Adapun limbah yang tidak dapat dimanfaatkan, seperti plastik dan kardus, diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Defri mengatakan, mekanisme kerja sama antara SPPG dan peternak berbeda-beda. Ada yang memberikan nilai ekonomis atas sisa makanan, ada pula yang hanya membantu mengangkut sampah dan menjaga kebersihan area SPPG. 

Hingga kini, lanjut Defri, belum ada SPPG di Batam yang mengolah sisa makanan menjadi kompos atau produk lain. Pengelolaan limbah makanan masih terbatas pada pemilahan, penimbangan, dan penyerahan kepada peternak atau pembuangan ke TPS.

Potensi Korupsi Jual Beli Limbah Makanan

Persoalan limbah makanan ternyata tidak berhenti pada urusan sampah. Presidium Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), Herdiansyah Hamzah, menilai terdapat persoalan tata kelola yang perlu dikaji lebih jauh ketika limbah makanan dari program yang dibiayai APBN memiliki nilai ekonomi dan berpindah ke pihak lain.

Menurut pria yang akrab disapa Bung Castro tersebut, tanggung jawab SPPG tidak berhenti setelah makanan dibagikan kepada penerima manfaat. SPPG juga bertanggung jawab mengelola limbah dan sampah yang dihasilkan selama proses penyelenggaraan program.

“Menjual atau membisniskan sisa makanan itu bertentangan dengan aturan yang dibuat BGN sendiri. Dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, SPPG bukan hanya ditugaskan mengelola makanan, tetapi juga mengelola limbah dan sampah,” kata Castro melalui pesan singkat.

Bagi dosen hukum Universitas Mulawarman itu, pengelolaan limbah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan MBG. Ketika limbah justru menjadi objek transaksi, menurutnya, persoalan tersebut bergeser dari sekadar pengelolaan sampah menjadi persoalan kepatuhan terhadap tata kelola program.

“Ini sebenarnya aset negara. Kalau aset negara itu dijual dan keuntungannya masuk ke kantong pribadi, itu bisa dikualifikasikan sebagai kerugian negara dan tindak pidana korupsi,” katanya.

Meski demikian, Herdiansyah membedakan antara pemanfaatan limbah dengan transaksi atas limbah. Menurutnya, pelibatan pihak ketiga tetap dimungkinkan sepanjang bertujuan mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti kompos atau bentuk pengolahan lainnya, bukan untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Baginya, alasan bahwa peternak hanya memberikan uang “seikhlasnya” tidak mengubah substansi praktik tersebut apabila tetap terdapat imbalan yang diberikan kepada pengelola.

“Kalau dibilang cuma-cuma tetapi kemudian diberi uang seikhlasnya, menurut saya itu tetap menunjukkan adanya transaksi. Itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.

Ia menilai persoalan tersebut memperlihatkan lemahnya perencanaan program sejak awal. Menurutnya, sebelum SPPG mulai beroperasi, pemerintah semestinya memastikan seluruh rantai penyelenggaraan telah siap, mulai dari pengadaan bahan pangan, distribusi, hingga pengelolaan limbah.

“Dalam hukum administrasi, urusan SPPG itu harus disiapkan dari hulu sampai hilir. Bukan hanya bagaimana makanan diproduksi dan dibagikan, tetapi juga bagaimana limbahnya dikelola. Itu seharusnya sudah dipastikan sebelum SPPG beroperasi,” katanya.

Bhima melihat persoalan itu dari sudut yang hampir sama. Ia menilai praktik pemanfaatan sisa makanan tersebut perlu dievaluasi. Menurutnya, jika pengelolaan limbah tidak diatur dalam skema penyelenggaraan SPPG, tetapi kemudian menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pihak tertentu, persoalan yang muncul bukan hanya menyangkut tata kelola program.

“Kalau itu memang tidak ada dalam kontrak SPPG, berarti ada persoalan. Ada potensi kerugian negara, kerugian perekonomian, bahkan bisa mengarah pada korupsi,” katanya.

Bhima melihat persoalan itu berawal dari banyaknya makanan yang tidak dikonsumsi penerima manfaat. Ketika makanan yang dibiayai APBN berakhir sebagai limbah, kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, menurutnya pemerintah perlu mengevaluasi efektivitas program secara menyeluruh.

“Kalau lingkaran setan itu enggak diputus, MBG akhirnya sama saja menjadi subsidi pakan ternak yang sebenarnya boros,” ujarnya.

Kritik atas Fondasi Program 

“MBG itu produk gagal yang sudah salah sejak dalam pikirannya. Itu lahir sebagai janji politik,” kata Akademisi Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah. 

Persoalan muncul ketika sebuah janji politik dijalankan tanpa diiringi perencanaan teknokratis yang memadai. Akibatnya, berbagai aspek pelaksanaan, mulai dari tata kelola, pengawasan, hingga pengelolaan anggaran, berjalan tanpa fondasi yang cukup kuat.

“Kalau yang dikedepankan hanya nafsu politik, program seperti ini tidak akan berjalan baik,” ujarnya.

Ia membandingkan MBG dengan program makan sekolah di sejumlah negara lain. Menurutnya, negara-negara tersebut tetap menjadikan kompetensi kelembagaan, kapasitas pelaksana, dan sistem pengawasan sebagai fondasi utama, meski programnya juga lahir dari keputusan politik.

“Di negara lain, program seperti ini tetap mengombinasikan keputusan politik dengan pendekatan teknokratis. Basisnya kompetensi. Di kita, menurut saya, itu yang belum terlihat sehingga akhirnya muncul banyak persoalan,” katanya.

Herdiansyah menilai pemerintah seharusnya lebih dahulu memastikan kesiapan kelembagaan, sumber daya manusia, rantai pasok pangan, hingga mekanisme pengawasan sebelum memperluas implementasi MBG secara nasional.

***

Alih-alih melihat MBG sebagai sekadar program makan gratis, Uni Lin justru lebih sering mendengar cerita tentang makanan yang tidak habis dimakan. Keluhan itu datang dari pelanggan hingga orang tua murid yang singgah ke tokonya. 

“Kadang anak itu makanannya enggak disentuh. Kalau enggak dimakan kan mubazir, buang-buang duit saja,” katanya malam itu sambil menjaga tokonya.

Ia memahami pemerintah memiliki tujuan baik meningkatkan gizi anak. Namun, menurutnya, kebutuhan setiap anak tidak bisa diseragamkan. Ada anak yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, ada pula yang tidak menyukai menu yang disajikan. Dalam kondisi seperti itu, Uni Lin menilai orang tua jauh lebih memahami kebutuhan makan anak mereka dibandingkan pemerintah.

“Masalah makan anak itu macam-macam. Ada yang alergi, ada yang enggak bisa makan sosis atau makanan tertentu. Orang tua lebih tahu makanan anaknya,” ujarnya.

Karena itu, Uni Lin berharap pemerintah mempertimbangkan kembali prioritas penggunaan anggaran. Menurutnya, jika diminta memilih, ia lebih setuju dana MBG dialihkan untuk membantu biaya pendidikan anak atau kebutuhan lain yang langsung dirasakan masyarakat.

“Kalau menurut saya, lebih baik uangnya dipakai untuk sekolah digratiskan. Kalau takut dipakai orang tua, langsung kasih saja ke sekolah. Pemerintah harus bijak. Kalau keuangan negara lagi enggak bagus, manfaatkan untuk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Artikel ini diterbitkan oleh Project Multatuli.

Categories
Gaya Hidup Uncategorized

Saat Kata “Gratis” Sulit Ditolak

Berjalan menyusuri pameran, festival, atau bazar sering kali berakhir dengan tas yang semakin penuh. Satu booth menawarkan tote bag, booth lain membagikan pulpen, stiker, tumbler, atau notebook. Rasanya sayang jika dilewatkan karena semuanya gratis. Padahal, beberapa minggu kemudian, tidak sedikit barang tersebut hanya tersimpan di laci atau sudut lemari tanpa pernah benar-benar digunakan. Bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena sejak awal kita memang tidak membutuhkannya.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan. Penelitian di bidang behavioral economics menunjukkan bahwa manusia cenderung memberi nilai lebih pada sesuatu ketika harganya menjadi nol atau gratis. Akibatnya, keputusan untuk mengambil barang sering kali didorong oleh rasa sayang jika kesempatan itu dilewatkan, bukan karena manfaatnya benar-benar diperlukan. Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini ikut menambah barang yang akhirnya hanya menjadi koleksi di rumah.

Padahal, setiap barang gratis tetap membutuhkan bahan baku, energi, proses produksi, hingga distribusi sebelum sampai ke tangan kita. Ketika akhirnya tidak digunakan, sumber daya yang telah dikeluarkan menjadi kurang optimal atau malah sia-sia. Bayangkan seandainya barang tersebut diambil oleh mereka yang memang benar-benar membutuhkan barang tersebut dan memanfaatkannya. Bisa jadi nilai guna barang tersebut akan terpenuhi.

Di sinilah green lifestyle tidak hanya berbicara tentang memilah sampah atau mendaur ulang, tetapi juga tentang membuat keputusan yang lebih sadar sejak awal. Mengurangi konsumerisme bukan selalu berarti menolak barang baru, melainkan memilih mana barang yang benar-benar akan digunakan dalam keseharian dan mana yang perlu ditinggalkan.

Menariknya, keputusan paling ramah lingkungan sering kali bukan terjadi saat kita membuang atau mendaur ulang barang, melainkan beberapa detik sebelum menerimanya. Sebelum mengambil sebuah barang, berhenti sejenak untuk bertanya ke dalam diri sendiri, “Apakah aku benar-benar akan memakai ini?” Pertanyaan reflektif tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika barang yang memang tidak kita butuhkan tetap tersedia untuk orang lain yang akan memanfaatkannya, upaya kecil tersebut bisa memberi manfaat yang lebih besar daripada sekadar memenuhi rak di rumah.

Tidak semua kesempatan harus diakhiri dengan membawa sesuatu. Kadang, pulang dengan pengalaman, pengetahuan, atau relasi baru justru memberi manfaat yang jauh lebih lama daripada barang yang akhirnya hanya menjadi penghuni tetap di dalam lemari.

Categories
Gaya Hidup

Ke Mana Perginya Kebiasaan Merawat Barang?

Ritsleting tas macet, sol sepatu mulai terlepas, atau kipas angin tiba-tiba tidak menyala. Beberapa tahun lalu, kerusakan kecil seperti itu biasanya berakhir di tukang jahit, tukang sol, atau tempat servis elektronik. Kini, tidak sedikit orang yang justru membuka aplikasi belanja. Bukan selalu karena barangnya sudah tidak bisa diperbaiki, tetapi karena membeli baru terasa lebih cepat daripada mencari tempat servis, menunggu beberapa hari, lalu kembali mengambilnya.

Perubahan ini tidak lepas dari ritme hidup yang semakin padat. Bagi banyak orang, terutama mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, memperbaiki barang terasa seperti pekerjaan tambahan. Ketika penghasilan sudah memungkinkan, membeli pengganti sering dianggap sebagai pilihan yang paling praktis. Tanpa disadari, kemudahan itu perlahan membentuk kebiasaan baru: rusak sedikit, ganti.

Bersamaan dengan itu, ada hal lain yang ikut memudar, yaitu keterampilan merawat barang. Dulu, menjahit kancing yang lepas, mengganti ritsleting, menyemir sepatu kulit, atau membersihkan kipas angin agar kembali berfungsi merupakan hal yang cukup akrab di banyak rumah. Kini, tidak sedikit orang yang memilih membeli pengganti karena memang tidak pernah belajar cara merawat atau memperbaiki barang-barang sederhana. Tanpa sadar, kita bukan hanya kehilangan kebiasaan memperbaiki barang, tetapi juga kesempatan untuk belajar bahwa tidak semua yang rusak harus diganti. Kebiasaan kecil yang dulu diwariskan dari rumah ke rumah perlahan-lahan semakin jarang ditemui.

Padahal, tidak semua kerusakan harus berakhir di tempat sampah. Menjahit pakaian yang sobek, memperbaiki tas, melakukan servis pada peralatan rumah tangga sebelum rusak atau mengganti sol sepatu bukan hanya memperpanjang usia pakai barang dan mengurangi limbah, tetapi juga menjaga keterampilan yang mulai ditinggalkan. Pilihan untuk memperbaiki juga ikut mendukung para tukang jahit, tukang servis, dan pengrajin lokal yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari kehidupan banyak komunitas.

Merawat barang mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil. Namun, dari kebiasaan itulah kita belajar bahwa tidak semua hal yang rusak harus diganti. Ada yang cukup diperbaiki, dirawat, lalu kembali digunakan. Dengan begitu, yang bertahan bukan hanya sebuah barang, tetapi juga cara kita menghargai waktu, sumber daya, dan tangan-tangan yang membuatnya tetap layak dipakai.

Categories
Gaya Hidup

Kenapa Barang Itu Masih Disimpan?

Hampir semua orang punya satu sudut di rumah yang isinya barang-barang yang entah masih dipakai atau tidak. Ada kotak ponsel dari bertahun-tahun lalu, kabel yang sudah lupa milik perangkat apa, kaus konser yang tak pernah lagi dikenakan, atau hadiah ulang tahun yang hanya berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Saat diminta membereskannya, jawabannya sering sama, “Sayang kalau dibuang. Siapa tahu nanti dipakai”.

Padahal, tidak semua barang yang kita simpan benar-benar masih dibutuhkan. Sebagian bertahan karena menyimpan kenangan, sebagian lagi karena terasa terlalu berharga untuk dilepas, meski sudah lama tidak digunakan. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat lemari semakin penuh, sementara barang yang benar-benar dipakai justru semakin sulit ditemukan.

Fenomena tersebut cukup sering terjadi. Banyak orang memilih menyimpan kardus ponsel dengan harapan suatu hari akan berguna saat dijual kembali, padahal ponselnya sendiri sudah dipakai bertahun-tahun. Ada pula pakaian yang tetap menggantung di lemari karena merasa suatu saat akan muat lagi atau kembali menjadi tren. Bukan berarti semua barang harus disingkirkan, tetapi sesekali kita perlu bertanya, apakah barang ini masih memberi manfaat atau hanya menyimpan rasa sayang untuk melepasnya?

Merapikan rumah tidak selalu berarti membuang barang. Sebagian bisa didonasikan, dijual kembali, ditukar melalui komunitas, atau diberikan kepada orang yang memang membutuhkannya. Cara ini membuat satu barang memiliki umur pakai yang lebih panjang sekaligus mengurangi kebutuhan untuk terus memproduksi barang baru.

Tidak semua barang harus bertahan di rumah selamanya. Tidak semua barang yang kita miliki akan selalu bersama kita selamanya. Ada yang memang selesai menemani salah satu fase kehidupan yang kita lalu, kemudian siap melanjutkan cerita di tempat lain. Mungkin bukan lagi bersama kita, tetapi tetap berguna bagi orang lain yang benar-benar membutuhkannya.

Categories
Gaya Hidup

Barang Paling “Hijau” Sebenarnya Sudah Ada di Rumah

Belakangan ini, menjalani green lifestyle sering kali identik dengan membeli produk baru. Salah satu contohnya adalah tren membeli tumbler premium yang ramai dibicarakan di media sosial. Berbagai merek menawarkan kemampuan menjaga suhu minuman hingga 12 atau 24 jam, lengkap dengan pilihan warna yang terus berganti. Tidak sedikit orang tergoda mengoleksinya, meski di rumah sudah ada tumbler lama yang masih berfungsi dengan baik. Lucunya, niat mengurangi sampah plastik kadang justru berakhir dengan menambah barang baru yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.

Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu selaras dengan kebiasaan membeli. Yang berubah sering kali bukan kebutuhan kita, melainkan tren yang terus berganti. Jika fungsi utamanya tetap sama, menggunakan barang yang sudah dimiliki justru menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada terus mencari penggantinya. Hal yang sama berlaku untuk jaket, tas belanja, kotak makan, atau stoples kaca yang masih bisa digunakan berulang kali. Tidak jarang orang membeli barang-barang tersebut bukan karena kebutuhannya, tetapi karena terpengaruh oleh tren yang berkembang.

Setiap barang memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan kita. Ada bahan baku yang diambil dari alam, energi yang digunakan selama proses produksi, hingga distribusi yang memerlukan bahan bakar. Karena itu, memperpanjang usia pakai barang menjadi salah satu cara sederhana dalam mengurangi limbah sekaligus menekan dampak dari pola konsumsi yang berlebihan. Berbagai penelitian tentang gaya hidup berkelanjutan juga menunjukkan bahwa penggunaan barang lebih lama merupakan bagian penting dari upaya mengurangi jejak lingkungan.

Di tengah budaya konsumerisme yang terus menghadirkan produk dan tren baru, pilihan untuk tetap memakai barang yang masih berfungsi sering kali terasa kurang menarik. Apalagi jika diperparah dengan circle pertemanan, baik offline maupun online, yang terus-menerus memamerkan betapa kerennya produk viral baru. Membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan pun bisa terjadi dengan mudah. Padahal, keputusan-keputusan kecil seperti itulah yang perlahan membentuk kebiasaan. Coba lihat kembali isi lemari atau rak di rumah. Bisa jadi, barang yang paling ramah lingkungan bukan yang baru datang dari paket belanja, melainkan yang sudah lama menemani keseharian kita dan masih menjalankan fungsinya dengan baik.

Categories
Gaya Hidup

Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Saat ada ajakan donor darah di kantor, penggalangan donasi di media sosial, atau pengumpulan buku bekas untuk taman baca, tidak sedikit orang yang memilih mengabaikannya. Alasannya sederhana: merasa belum punya cukup materi untuk diberikan. Padahal, membantu orang lain tidak selalu harus dimulai dari isi rekening. Mendonorkan darah, meluangkan waktu menjadi relawan, membagikan buku yang sudah selesai dibaca, atau mengajarkan keterampilan yang kita kuasai juga merupakan salah bentuk kontribusi yang dapat dilakukan guna memberikan manfaat bagi orang lain.

Di berbagai kota, semakin banyak komunitas yang lahir dari kebiasaan berbagi seperti ini. Ada yang rutin mengadakan donor darah, membuka kelas belajar gratis, mengumpulkan pakaian layak pakai, hingga mengelola taman baca dari sumbangan buku masyarakat. Apa pun yang diberikan, asalkan itu adalah sesuatu yang positif, maka pemberian tersebut akan memberikan manfaat. Gerakan-gerakan tersebut membuktikan bahwa solidaritas tidak selalu tumbuh dari bantuan yang besar, melainkan dari banyaknya orang yang bersedia menyumbangkan apa yang mereka miliki, sekecil apa pun itu.

Menariknya, sebagian besar keberlangsungan dari sebuah gerakan sosial bergantung pada kontribusi kecil yang dilakukan bersama-sama. Seperti misalnya ada yang menyumbangkan waktu, ada yang berbagi tenaga, sementara yang lain memilih menyumbangkan keahlian atau barang yang sudah tidak digunakan lagi. Ketika semua saling mengambil peran, manfaatnya menjadi jauh lebih besar daripada jika dilakukan sendiri.

Dalam psikologi, ada yang namanya perilaku prososial, yakni sebuah tindakan atau perilaku yang bertujuan untuk menolong atau memberikan manfaat kepada orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Seperti misalnya menjadi relawan dari sebuah gerakan sosial atau terlibat dalam misi penyelamatan. Perilaku seperti ini ternyata tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga memberikan manfaat kepada diri sendiri. Berbagai studi menunjukkan bahwa berbagi dapat memperkuat rasa memiliki, membangun hubungan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Tak heran jika banyak orang tetap aktif di komunitas atau kegiatan sosial meski tidak memperoleh imbalan materi.

Memberi bukan hanya soal apa yang kita keluarkan, tetapi juga tentang apa yang bisa terus bertumbuh setelahnya. Waktu, tenaga, pengalaman, atau barang yang sudah tidak lagi digunakan dapat menjadi manfaat baru ketika sampai ke tangan yang tepat. Mungkin, yang sering menahan kita untuk berbagi bukan karena tidak punya cukup, tetapi karena terlalu lama percaya bahwa memberi selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Categories
Gaya Hidup

Kebiasaan Sederhana Menghindari Belanja Impulsif

Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal yang sama. Awalnya hanya ingin membuka aplikasi belanja untuk melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian keranjang sudah terisi dan tombol checkout terasa begitu menggoda. Padahal, belum tentu semua barang yang dipilih benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan seperti inilah yang membuat belanja impulsif semakin mudah terjadi di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak.

Ironisnya, rasa puas setelah membeli sering kali tidak bertahan lama. Barang datang, digunakan beberapa kali, lalu perlahan terlupakan di sudut lemari atau rak penyimpanan. Oleh karena itu, membangun kebiasaan berbelanja dengan lebih sadar tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Memberi jeda 24 jam sebelum membeli bisa menjadi langkah sederhana untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena diskon, tren, atau rasa takut ketinggalan.

Ketika keputusan membeli sudah terasa lebih yakin, kebiasaan berikutnya adalah berbelanja dengan tujuan yang jelas. Membuat daftar kebutuhan apa saja yang perlu kita beli membantu kita untuk tetap fokus dan mengurangi pembelian yang tidak direncanakan. Lalu, terapkan prinsip one in, one out: setiap kali ada satu barang baru yang masuk, keluarkan satu barang lama yang sudah tidak digunakan. Barang tersebut bisa dijual, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu pemilik saja.

Cara lain yang mulai banyak diterapkan adalah menyewa daripada membeli. Saat musim pernikahan, misalnya, semakin banyak orang memilih menyewa kebaya atau gaun yang hanya dipakai sekali. Di kota-kota besar, layanan sewa kini juga semakin mudah ditemukan melalui media sosial maupun platform digital untuk berbagai kebutuhan sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa memiliki bukan lagi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan.

Yang tak kalah penting, rawat barang yang sudah dimiliki. Membersihkan sepatu, memperbaiki pakaian yang sobek, atau merawat peralatan rumah tangga dapat memperpanjang usia pakainya. Tidak semua barang yang mulai rusak harus langsung diganti. Sering kali, sedikit waktu untuk merawat atau memperbaikinya justru membuatnya bertahan lebih lama. Barangkali, yang paling perlu dipikirkan sebelum menekan tombol checkout bukan seberapa besar diskonnya, melainkan apakah barang itu benar-benar akan kita gunakan, atau hanya menjadi penghuni baru di sudut lemari.

Categories
Gaya Hidup

Beli? Nanti Dulu, Sewa Aja

Beberapa tahun lalu, memiliki barang sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan. Apalagi membeli barang-barang yang dirasa sedang tren, meskipun harganya tidaklah murah. Inilah yang menjadi salah satu penanda konsumerisme terjadi di dalam masyarakat.

Namun, kini cara pandang tersebut perlahan mulai berubah. Di kalangan anak muda, tren menyewa barang mulai diminati karena dianggap lebih praktis, hemat, dan sesuai dengan kebutuhan. Bagi mereka, yang terpenting bukan lagi memiliki sebuah barang, melainkan dapat menggunakan barang tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Menjelang konser, misalnya, tidak sedikit penggemar yang memilih menyewa smartphone dengan kamera berkualitas tinggi agar dapat mengabadikan penampilan idola mereka dengan hasil yang lebih jernih atau kamera mirrorless untuk liburan. Jadi, jangan buru-buru beranggapan bahwa mereka yang menyewa smartphone mewah ingin tampil sebagai orang yang mampu. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi tidak semua orang memiliki keinginan yang sama. Ada yang memang kebutuhannya terhadap smartphone mewah hanya sementara karena mereka hanya memanfaatkan kameranya untuk acara tertentu.

Selain barang-barang teknologi, ada pula yang menyewa gaun untuk menghadiri pesta akhir tahun, menyewa perlengkapan camping untuk akhir pekan, ataupun menyewa perlengkapan anak untuk keluarga dengan anak kecil. Ayunan, perosotan plastik, bahkan stroller kini bisa disewa secara harian atau bulanan sesuai kebutuhan. Barang-barang tersebut umumnya hanya digunakan dalam periode tertentu, sehingga menyewa sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan membeli.

Perubahan gaya hidup ini tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Beragam layanan penyewaan kini dapat ditemukan melalui aplikasi maupun media sosial. Proses mencari, memesan, hingga mengembalikan barang pun menjadi semakin mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kemudahan tersebut membuat proses menyewa daripada membeli menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran bulanan mereka dengan lebih bijak.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan dalam cara mengonsumsi. Ketika satu barang dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian, kebutuhan untuk membeli barang baru dapat berkurang. Pola seperti ini sejalan dengan konsep sharing economy, yaitu memanfaatkan sumber daya yang sudah ada agar penggunaannya lebih optimal dan tidak berlebihan.

Tren menyewa barang menunjukkan bahwa cara pandang terhadap kepemilikan mulai bergeser. Nilai sebuah barang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang memilikinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan saat benar-benar dibutuhkan. Memiliki memang tetap menjadi pilihan, tetapi kini semakin banyak orang menyadari bahwa tidak semua kebutuhan harus berakhir dengan membeli. Ternyata dengan menyewa, guna barang tersebut tetap dapat digunakan.

Categories
Gaya Hidup

Digital Decluttering, Bukan Sekadar Hapus Aplikasi

Hampir sebagian besar pengguna smartphone pernah merasakan situasi seperti ini, membuka ponsel untuk membalas satu pesan, tetapi malah berakhir menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Ternyata situasi seperti itu tidak hanya membuang waktu berharga, tetapi juga membuat pikiran kurang fokus dan cepat lelah. Tanpa disadari, ruang digital yang dipenuhi notifikasi, file, foto, dan aplikasi yang jarang digunakan dapat membuat pikiran terasa semakin sesak. Kondisi inilah yang akhirnya membuat digital decluttering semakin banyak diterapkan sebagai kebiasaan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, termasuk smartphone.

Digital decluttering adalah kebiasaan merapikan ruang digital dengan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, membersihkan file yang menumpuk, mengatur ulang email, serta membatasi notifikasi yang benar-benar penting. Tujuannya bukan menghindari teknologi atau mengalihkan perhatian, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar agar mendukung aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan ini terasa semakin relevan karena ruang digital kita terus dipenuhi oleh berbagai hal yang bersaing merebut perhatian. Notifikasi media sosial, promosi belanja, hingga rekomendasi video yang hadir kapan saja tanpa jeda. Semakin banyak distraksi yang muncul, semakin mudah pula kita kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya sedang kita kerjakan.

Untungnya, merapikan ruang digital tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana seperti menghapus aplikasi yang jarang dibuka, berhenti mengikuti akun yang tidak lagi memberi manfaat, membersihkan screenshot yang sudah tidak relevan, atau meluangkan beberapa menit untuk merapikan galeri foto sudah cukup untuk memulai. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak dipenuhi gangguan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih terkelola berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Temuan tersebut sejalan dengan konsep digital minimalism, yaitu menggunakan teknologi secara sengaja sesuai kebutuhan, bukan sekadar
mengikuti kebiasaan atau takut tertinggal. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kita berada di depan layar, melainkan bagaimana kita memberi ruang bagi perhatian agar tetap tertuju pada hal-hal yang benar-benar penting.

Tidak semua orang perlu menghapus seluruh aplikasi atau berhenti menggunakan media sosial seketika. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ruang digital terasa lebih tertata, perhatian tidak lagi mudah terpecah, dan waktu yang kita miliki pun terasa lebih utuh. Mungkin yang selama ini kita butuhkan bukan lebih banyak waktu di depan layar, melainkan lebih banyak kendali atas cara kita menggunakannya.

Categories
Reportase

SINDIKASI: UU Ketenagakerjaan Baru Harus Lindungi Freelancer

Rilis Pers Sindikasi

Jakarta, 1 Mei 2026 – Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) agar segera menyelesaikan penyusunan Rancangan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru dengan perspektif pelindungan bagi pekerja.

Dalam putusan tentang gugatan Undang-Undang Cipta Kerja, Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan DPR RI dan pemerintah agar menyusun Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru paling lambat 31 Oktober 2026 atau dua tahun setelah putusan tersebut dibacakan.

“Enam bulan menjelang batas akhir, kita masih belum mengetahui kejelasan rumusan Undang-Undang itu dari DPR RI. Kami mendesak agar Undang-Undang ketenagakerjaan yang baru harus mencerminkan keberpihakan dan pelindungan maksimal bagi kelompok pekerja rentan. Jangan sampai hanya mendaur ulang pasal-pasal bermasalah dari Undang-Undang Cipta Kerja,” ungkap Ketua Umum SINDIKASI, Ikhsan Raharjo, dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Jakarta, Jumat (1/5).

Lebih lanjut, sebagai serikat pekerja yang menaungi pekerja media dan industri kreatif, SINDIKASI mendorong agar DPR RI dan pemerintah memberi perhatian khusus terhadap pekerja rentan seperti pekerja lepas (freelancer) yang cenderung diabaikan dalam paket regulasi perburuhan Indonesia.

Selain itu, SINDIKASI juga menilai bahwa pembentukan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru harus disertai dengan komitmen negara untuk memastikan ruang demokratis bagi pekerja. Dalam kerangka itu, pemerintah mesti terbuka terhadap kritik masyarakat, termasuk dari aktivis dan pembela hak asasi manusia.

“Kebebasan berserikat dan berekspresi memang dijamin oleh Undang-Undang, namun dalam praktiknya, pekerja masih kerap mengalami intimidasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan, tidak jarang kritik yang disampaikan justru direspons dengan tindakan represif, sementara pekerja yang aktif berserikat kerap menghadapi mutasi sebagai bentuk tekanan,” terang Sekretaris Jenderal SINDIKASI, Mia Rosmiati, dalam aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Jakarta, Jumat (1/5).

Sejalan dengan dorongan tersebut, SINDIKASI akan menerbitkan kertas posisi berjudul “Melalui dan Melampaui Regulasi, Lawan Fleksploitasi: Desain Pengakuan dan Perlindungan bagi Pekerja Media dan Kreatif” yang memuat gagasan komprehensif dan demokratis terhadap pelindungan pekerja media dan industri kreatif melalui Undang-Undang Ketenagakerjaan baru.

Pusat Informasi SINDIKASI

Instagram: serikatsindikasi
X: sindikasi_
Email: serikat@sindikasi.org
Mobile: 081-1166-2708
Website: sindikasi.org