Categories
Gagasan

Imajinasi tentang Literasi

“Kenapa kok gratis?” Kalimat itu meluncur dari seorang remaja perempuan saat menyambangi booth Joli Jolan di Solo Literacy Festival 2025 pekan lalu. Pelajar dari sebuah SMA negeri di Solo itu tampak keheranan ketika menyimak buku berlabel gratis yang tertata di meja.

Saat itu kami spontan menjawab singkat, “kenapa kok harus bayar?” Remaja tersebut pun manggut-manggut sambil tersenyum. Dia pun melanjutkan perburuan bukunya di stan kami bareng kawan sebayanya.

Pertanyaan gadis itu mungkin sederhana, tapi menyimpan makna. Selama ini, kita memang cenderung terbiasa dengan pola transaksi jual-beli. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari, termasuk literasi, harus ditebus dengan rupiah. Bahkan meminjam di persewaan buku pun masih melibatkan uang.

Tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun kebiasaan tersebut, sadar atau tidak, mengurangi imajinasi kita untuk penyediaan kebutuhan yang murah, bahkan gratis. Padahal sebelum konsep uang muncul, kita mengenal sistem barter yang memungkinkan orang bertukar barang sesuai kebutuhannya.

Di dunia perbukuan, barter buku bisa menjadi solusi bijak untuk menambah ilmu sekaligus berhemat. Selain itu, konsep berbagi bisa diterapkan untuk pemerataan akses literasi, seperti yang kami lakukan di event kemarin.

Semua buku yang kami bagikan gratis adalah mlik warga. Banyak alasan mereka mendonasikan bacaannya. Ada yang karena sudah selesai membacanya, mengurangi tumpukan buku di rumah, hingga sesimpel ingin berbagi dengan sesama. Terlepas apa pun alasannya, buku yang mereka bagi akhirnya kembali bermanfaat di tangan yang baru.

Lalu bagaimana menggerakkan sebuah kegiatan jika semuanya berlabel gratis? Untuk menjaga konsistensi redistribusi buku, kami menerapkan semacam “subsidi silang” ketika mengikuti event. Ada buku yang dibanderol harga, tapi tetap sangat terjangkau warga. Di Solo Literacy Festival kemarin, beberapa buku pilihan pun bisa diadopsi hanya dengan donasi Rp20.000,00 saja.

Pada akhirnya, banyak alternatif yang sebenarnya bisa dilakukan warga untuk penyediaan literasi di wilayahnya. Mulai dari hal kecil, dan konsisten, kita bisa membuat sebuah perbedaan. Mari bergerak bersama!

Categories
Komunitas

Menyemai Harapan dari Taman Belajar Kedungampel

Di tengah hamparan sawah yang membentang luas dan jalan desa yang teduh oleh pepohonan, Desa Kedungampel, Cawas, Klaten, kini memiliki cerita baru tentang semangat belajar. Cerita ini lahir dari kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 045 UIN RMS Surakarta yang menjalankan program dengan tema Desa Ramah Perempuan dan Anak.

Tema tersebut mendorong para mahasiswa untuk merancang kegiatan yang memberi ruang aman, nyaman, dan bermanfaat bagi perempuan dan anak-anak di desa. Salah satu wujud nyatanya adalah pembentukan Taman Belajar Kedungampel, sebuah sudut sederhana yang diubah menjadi pusat aktivitas edukatif dan kreatif untuk anak-anak.

Tidak perlu gedung megah, cukup tikar yang digelar rapi, rak buku yang tertata, dan koleksi bacaan yang menggoda rasa ingin tahu. Setiap sore, anak-anak datang membawa semangat, duduk bersama, membuka buku, dan membiarkan dunia imajinasi mengalir di benak mereka.

Taman belajar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca. Di sinilah berlangsung berbagai kegiatan yang memadukan pendidikan dan hiburan: belajar menulis dan berhitung, menggambar, mewarnai, bermain permainan edukatif, hingga mendengarkan cerita yang dibacakan mahasiswa.

Suasana yang santai membuat anak-anak merasa belajar adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membebani. Selain itu, taman belajar ini menjadi ruang aman di mana anak-anak dapat berinteraksi, mengekspresikan diri, dan mengembangkan kreativitas tanpa rasa takut.

Donasi Buku sebagai Jembatan Pengetahuan

Koleksi bacaan yang menjadi daya tarik utama taman belajar ini hadir berkat dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Joli Jolan. Melalui donasi buku yang mereka berikan, taman belajar ini memiliki bahan bacaan yang variatif. Mulai dari buku cerita bergambar, majalah anak, hingga buku pengetahuan umum yang sesuai usia.

Selain Joli Jolan, bantuan juga datang dari pihak-pihak lain yang tak kalah peduli. Ada yang menyumbangkan buku tambahan hingga dukungan keuangan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa literasi dapat berkembang melalui gotong royong dan kepedulian bersama.

Sebagai bagian dari program Desa Ramah Perempuan dan Anak, taman belajar ini dirancang untuk terus berlanjut bahkan setelah masa KKN berakhir. Mahasiswa KKN 045 menata penempatan taman belajar yang strategis dan terdapat pengelolanya sendiri. 

Dengan begitu, taman belajar tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan minat baca dan kreativitas anak-anak Kedungampel untuk tahun-tahun mendatang.

Harapan yang Tertanam di Halaman Buku

Kini, Taman Belajar Kedungampel berdiri sebagai simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Dengan dukungan dari Joli Jolan, para donatur, dan semangat gotong royong masyarakat, desa ini membuktikan bahwa akses bacaan yang memadai bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang layak diperjuangkan.

Di setiap buku yang dibuka, tersimpan harapan. Harapan bahwa anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berani bermimpi. Dan di Kedungampel, harapan itu kini sedang mekar satu halaman demi satu halaman.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Dukung Mahasiswa KKN Sediakan Buku dan Pakaian Gratis di Desa Mireng Klaten

Mireng, 19 Juli 2025- Kelompok 218 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Raden Mas Said Surakarta menghadirkan sebuah kegiatan kolaboratif dan inspiratif bertajuk “Bazar Ceria untuk Semua” yang mengusung tema “Berbagi dengan Hati, Tumbuhkan Kepedulian”. Kegiatan ini sukses digelar pada Sabtu pagi, 19 Juli 2025, bertempat di halaman Puskesmas Pembantu Desa Mireng, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat melalui program kerja yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Bazar ini menyajikan pakaian gratis, buku, dan boneka layak pakai hasil donasi yang dikelola bersama komunitas sosial Ruang Solidaritas Joli Jolan, yang menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan ini.

Tak hanya itu, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan bazar sayuran segar gratis yang disediakan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga serta mengedukasi masyarakat pentingnya konsumsi sayur setiap hari.

Sebagai bentuk kontribusi di bidang kesehatan, diselenggarakan pula layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bekerja sama dengan Puskesmas Trucuk 1 dan didukung oleh Puskesmas Pembantu Desa Mireng. Pemeriksaan meliputi cek gula darah, kolesterol, tekanan darah, pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan SADARNIS (pemeriksaan payudara klinis untuk perempuan), THT, serta layanan konsultasi dokter umum.

Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Mireng yang hadir dengan antusias, baik tua maupun muda, serta dukungan penuh dari tenaga medis dan relawan yang terlibat. Warga tidak hanya mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini, tetapi juga diajak untuk menumbuhkan rasa peduli dan semangat berbagi antar sesama.

Ketua KKN Kelompok 218 menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan instansi terkait dalam membangun desa yang lebih peduli, sehat, dan sejahtera.

Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial yang mengakar pada nilai-nilai empati dan kemanusiaan. Berbagi itu sederhana, tetapi dampaknya bisa luar biasa. Mari tumbuhkan kepedulian, mulai dari hal-hal kecil untuk perubahan yang besar.

Categories
Komunitas

Joli Jolan Ikut Serta di Pameran Art Edu Care#15

Akhir bulan ini, Ruang Solidaritas Joli Jolan bakal meramaikan agenda bertajuk Art Edu Care#15 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Jebres, Solo, Jumat-Selasa 23-27 Mei 2025. Art Edu Care merupakan pameran seni yang memiliki sejarah cukup panjang, dengan penyelenggaraan perdana pada tahun 2010. Tahun ini agenda besutan Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS itu mengusung tema “Feel The Same”.

Sebagai gerakan sosial-lingkungan, undangan dari kawan-kawan seni kami apresiasi sebagai kerja bersama membangun peradaban. Oleh karena itu, Joli Jolan sengaja membawa banyak buku bacaan di Art Edu Care#15. Setiap pengunjung stan Joli Jolan dapat mengambil maksimal dua buku dengan gratis.

Setelah itu, cukup unggah foto bareng buku yang diambil ke story Instagram dan tag @joli_jolan dan @arteducare. Kami juga menyediakan pakaian dan aksesoris keren yang juga bisa diambil secara cuma-cuma. Ada pula pameran info grafis tentang Joli Jolan yang bisa kawan simak di stan.

Yang spesial, kali ini kami bekerja sama dengan komunitas Ajeg Social untuk menampilkan deretan seni upcycle. Karya tersebut berupa pakaian, rajutan, topi, aksesoris, dan lain sebagainya. Produk ini sebagian mengambil bahan pakaian bekas di Joli Jolan, menjadi upaya bersama kami untuk mengampanyekan fesyen berkelanjutan.

Tentu kawan-kawan juga dapat menikmati karya seniman-seniman keren yang dipamerkan di Art Edu Care#15. Oh ya, stan kami tepatnya berada di teras Perpustakaan TBJT (berdampingan dengan Galeri Seni). Kami tunggu ya!

Note: Khusus Jumat 23 Mei, stan buka mulai 18.30 WIB.

Categories
Gagasan

Ziarah: Krisis dan Keterasingan

Indonesia, pada suatu masa sempat mengalami kemurungan: antara ingin segera meninggalkan masa lalu atau dihantui ketidakpastian masa depan. Kemurungan itu diikuti krisis dan keterasingan, di mana masyarakat terseret arus perubahan yang begitu deras tanpa kesadaran akan sejarah dan tujuan.

Pada masa 1960-an, krisis ekonomi melanda Indonesia buntut kebijakan politik mercusuar berbiaya besar di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Kala itu, masyarakat Indonesia baru satu dekade menjalani pemulihan pascaperang kemerdekaan menuju pergolakan mengisi dan membangun.

Suasana krisis dan peralihan di Indonesia saat itu demikian terasa, sebab Indonesia masih muda dan sedang menjadi, tetapi ingin tampil gagah di antara bangsa-bangsa besar di dunia sembari mendayung di antara dua karang besar yang menjadi kiblat politik global. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai tahun vivere pericoloso atau tahun penuh bahaya.

Di tahun penuh bahaya itulah, sastrawan angkatan 1966 Iwan Simatupang, menuntaskan pengerjaan novel pertamanya yang fenomenal berjudul Ziarah. Dalam bukunya berjudul Novel Baru Iwan Simatupang (1984) Dami N. Toda menjelaskan, Iwan mempersembahkan Ziarah untuk istri pertamanya, Corrine Imalda de Gaine, yang meninggal karena tifus pada tahun 1955.

Selesai ditulis pada akhir 1960, Ziarah baru terbit sembilan tahun kemudian. Begawan Sastra Indonesia, H.B Jassin pernah mendesak Penerbit Djambatan dalam sebuah surat agar lekas menerbitkan Ziarah. Kata Jassin, “Ceritera ini yang baru sama sekali dalam bahasa, dalam pengungkapan, dalam mendekati hidup dan permasalahan baru dalam kesusastraaan Indonesia.”

‘Kejutan’ di Kotapraja

Berlatar belakang di sebuah kota bernama Kotapraja, novel Ziarah mengisahkan keterasingan seorang protagonis laki-laki bernama Tokoh Kita yang batinnya terpukul karena istrinya meninggal dunia. Sekian lama terbenam dalam keterasingan sekaligus keputusasaan, Tokoh Kita akhirnya menginsyafi kesalahan dan memperbaiki diri.

Mengalami berbagai perenungan batin, Tokoh Kita memutuskan untuk membangun reputasi baru sebagai pengapur tembok yang andal berkat pengalaman dan keterampilannya melukis di masa lalu. Lambat laun, keahliannya menyebar ke seluruh penjuru Kotapraja, membuat seorang opseter pemakaman tertarik menggunakan jasanya.

Singkat cerita, opseter mulai dilanda cemas sejak tiga hari Tokoh Kita bekerja. Semula, opseter berniat mengamati perilaku ganjil Tokoh Kita saat mengapur tembok pemakaman Kotapraja. Perilaku ganjil yang dimaksud semacam gejala guncangan jiwa Tokoh Kita bila mengingat istrinya dimakamkan di tempat itu. Keinginan itu pupus karena Tokoh Kita malah menjalani rutinitas seperti orang pada umumnya. Ketika matahari terbenam, ia menyudahi pekerjaannya lalu pergi berjalan ke kedai arak sambil bersiul-siul santai. Kabar ini segera meluas ke seluruh penjuru Kotapraja, menjadi pemicu histeria warga kota.

“Perobahan tingkah pengapur ini mempengaruhi tingkah seluruh warga kota. Mereka tak dapat memahami perubahan itu. Mereka melihat pada perubahan itu hanya bertanda bakal datangnya satu perubahan tak baik dan menyamankan bagi mereka semuanya,” tulis Iwan.

Keganjilan Tokoh Kita bermula dari suatu hal yang seharusnya berjalan biasa saja. Namun, warga Kotapraja sudah lebih dulu beranggapan Tokoh Kita seharusnya berperilaku ganjil. Mereka seakan bersepakat, ukuran normal seseorang dinilai dari persepsi yang terpatri bersama di balik layar.

Dari sini, absurditas novel Ziarah mulai mendaki kompleksitasnya. Karena kenormalan Tokoh Kita, warga Kotapraja dikisahkan mengalami rentetan keganjilan sampai dengan krisis pemerintahan. Suatu hari, mereka merasa takut, curiga, serta bingung kepada sesama warga kota lainnya. Fenomena ini mengakibatkan histeria massal tak terduga hingga pemerintah Kotapraja hampir tak berdaya menghadapinya.

Para pejabat Kotapraja kesulitan mengurai masalah yang benar-benar baru pertama kali mereka temui. Wali kota akhirnya memutuskan turun tangan sendiri. Ia memutuskan memberhentikan opseter yang mempekerjakan Tokoh Kita. Merasa ganjil sekaligus buntu dengan keputusannya sendiri, wali kota malah bertambah frustasi dan memutuskan bunuh diri.

Kegagapan Menghadapi Perubahan

Histeria imbas perubahan perilaku Tokoh Kita menjadi simbolisme ketidaksiapan masyarakat menerima kecepatan perubahan. Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa Soedjatmoko, dalam esainya yang berjudul Umat Manusia Menghadapi Tantangan Bagi Kelangsungan Hidupnya (1991) berpendapat, kecepatan perubahan di berbagai negara telah memicu gejala stres dan keterasingan.

Penyebab perubahan itu, tulis Soedjatmoko, misalnya kerumitan proses politik, menajamnya perbedaan budaya, serta karakter individu yang makin beragam. Belum lagi, revolusi informasi datang dan melampaui kapasitas ekonomi nasional suatu negara. Maka, Ziarah mencerminkan keadaan demikian: kabar buruk dan histeria menyibak inkompetensi pemerintah.

“Kecepatan perubahan dalam berbagai negara telah menimbulkan salah arah, keterasingan kaum muda, dan kaum miskin, perilaku anomik, serta kekerasan tidak terduga. Ini adalah tanda-tanda suatu masyarakat sedang mengalami stres,” tulis Soedjatmoko.

Pandangan Soedjatmoko itu ditulis puluhan tahun silam, tetapi gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Kita bisa menyaksikan sendiri, bagaimana di Indonesia percepatan informasi dan kebijakan salah kaprah menjurus pada vivere pericoloso. Akibatnya, bermunculan anomali sosial, ketidakpercayaan terhadap elite politik, dan berbagai bentuk aksi massa.

Sementara, seperti paniknya warga Kotapraja menghadapi perubahan perilaku Tokoh Kita, masyarakat Indonesia hari ini bergulat dengan perubahan sosial-politik yang datang bertubi-tubi. Refleksi pergulatan itu tercermin dari rentetan aksi demonstrasi belakangan waktu, serta kegagapan respons pemerintah menanggapi kritik dan aspirasi.

Selain didorong amplifikasi kabar di media sosial, rentetan aksi demonstrasi dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi ekonomi dan politik. Ambil misal, terjadinya PHK massal di banyak tempat, melambungnya harga bahan pokok, kebijakan pemangkasan anggaran kementerian, hingga terseret pusaran perang dagang raksasa-raksasa dunia.

Krisis ekonomi dan politik juga terjadi dalam Ziarah. Pemerintah Kotapraja sampai melibatkan pemerintah pusat untuk mengatasi efek domino dari histeria massal. Pemerintah panik melihat jumlah orang yang menderita penyakit darah tinggi dan urat syaraf terganggu semakin meningkat. Kepala negara, kabinet, dan parlemen sibuk mengatasi potensi kelumpuhan kerja negara akibat penyakit syaraf.

“Dan yang lebih celaka lagi, menjadinya negara satu sanatorium raksasa bagi satu bangsa yang seluruhnya menderita penyakit jiwa dan urat syaraf,” tulis Iwan.

Categories
Reportase

Menyelami Kebahagiaan Publik di Tilikan Fest

“Terima kasih, sangat bermanfaat.” “Terima kasih sudah berbagi.” “Semoga ada terus”. Deretan kalimat itu tertulis dalam kolom pesan di daftar pengunjung Joli Jolan di Tilikan Fest 2024. Ya, silih berganti pengunjung, mayoritas anak muda, menyambangi stan Joli Jolan dalam acara yang digelar di Lokananta Bloc, akhir pekan lalu.

Seperti perkiraan, pengunjung stan Joli Jolan lebih antusias dengan deretan buku gratis ketimbang pakaian. Hal ini seperti saat kami berpartisipasi di acara Urban Social Forum di Lokananta beberapa waktu lalu. Joli Jolan tentu tak hendak menyaingi bazar buku yang juga menjadi acara di Tilikan Fest. Kami hanya menjadi alternatif bagi pengunjung kegiatan yang ingin menambah literasi, tetapi kantong sedang tak bersahabat.

Beberapa kali pengunjung tak percaya ketika kami memberikan barang secara cuma-cuma. “Serius ini gratis?,” tanya seorang perempuan muda seraya menutup mulutnya. Saat itu dia tertarik dengan sebuah tas jinjing yang masih berplastik. Karena sungkan mengambilnya secara gratis, dia pun memasukkan sejumlah uang ke kotak donasi.

Donasi seikhlasnya itu nantinya dipakai untuk menunjang operasional Joli Jolan. Sebuncah kebahagiaan pun muncul dari praktik berbagi sederhana. Pengalaman yang kami dapatkan di Tilikan Fest tampaknya membuktikan hasil riset World Happiness Report pada 2022. Dalam penelitian itu, bukan perilaku hedon, konsumerisme atau pamer barang mewah yang menentukan kebahagiaan sejati seseorang.

Justru perilaku prososial, mendermakan harta untuk amal, berbagi pada orang asing, dan kerelawanan yang lebih dominan membentuk tingkat kebahagiaan. Hal lain yang melegakan kami saat join di Tilikan Fest adalah bisa bertemu kawan lama sekaligus kawan baru. Beberapa pengunjung, panitia, maupun awak komunitas di acara ini sudah kami kenal baik.

Acara kemarin menjadi wadah kami bertukar cerita tentang apa pun. Kami juga jadi bisa berkenalan dengan komunitas dan kawan baru, lantas menjajaki peluang berkegiatan bareng ke depan. Modal sosial ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Joli Jolan, yang sejak awal bergerak kolektif bersama warga.

Kami jadi ingat ujaran seorang ilmuwan politik bernama Robert Lane. Dia bilang kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam hal-hal yang mendahului uang. Hal itu seperti keluarga, teman, atau komunitas yang secara alamiah menjadi sumber makna dan tujuan hidup. Sekali lagi, terima kasih Tilikan Fest. Semoga bisa berjumpa kembali di kesempatan berikutnya. Panjang umur solidaritas.

Categories
Komunitas

Ketika Pustaka Jadi Primadona (Sebuah Catatan dari Urban Social Forum 10)

Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan, menggambarkan betapa pentingnya buku sebagai asupan, melebihi sandang dan pangan. Ya, buku memang tak sekadar sumber ilmu, tapi juga sumber inspirasi dan gagasan. Kedua hal ini menjadi menjadi benang merah dalam Urban Social Forum (USF) 10 yang digelar di SMPN 10 Solo dan Lokananta akhir pekan lalu. Joli Jolan sendiri terlibat dalam USF di Lokananta pada hari Minggu, 10 Desember 2023.

Sebagai salah satu mitra di Gerai Komunitas, Joli Jolan membawa cukup banyak buku untuk dibagikan gratis di stan kami. Hal itu tak lepas dari segmen USF yang bakal menyedot animo banyak anak muda. Kami yakin generasi muda yang hadir di USF lebih tertarik dengan buku bacaan yang bagus ketimbang pakaian preloved bermerek.

Benar saja, sekitar 80% pengunjung stan Joli Jolan lebih memilih mengambil buku ketimbang pakaian. Ini berkebalikan 180 derajat dengan operasional di galeri Kerten, di mana mayoritas warga mencari pakaian dan asesorisnya. Jenis buku yang diambil pun beragam mulai novel, buku sosial, hingga bacaan ilmiah yang menunjang perkuliahan.

Sebagian merasa kaget ketika kami memberikan buku ini secara cuma-cuma. Masing-masing pengunjung bisa mengambil maksimal dua buku saat itu. “Beneran gratis? Ini buku terjemahan lho,” ujar seorang pengunjung perempuan sambil menimang sebuah novel yang cukup tebal.

Saking tingginya antusiasme, kami sempat mengambil stok buku tambahan dari galeri Kerten. Ketika anak muda saat ini banyak diasosiasikan sebagai tuna literasi, bukankah hal ini menjadi sebuah kabar baik? Melihat fenomena ini, kami pun berpikir. Jangan-jangan bukannya anak muda malas membaca, tetapi akses terhadap buku berkualitas yang belum memadai, terutama dari segi harga.

Kalau sudah begitu, apakah anak muda harus mengamini anjuran Tan Malaka untuk mengurangi duit untuk makanan dan baju? Mungkin tak perlu seekstrem itu. Dengan saling berbagi, kita bisa mengakses buku berkualitas dengan terjangkau, bahkan gratis. Yuk bikin inisiatif berbagi atau bertukar buku di lingkunganmu!

Categories
Komunitas

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi

Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.

Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?

“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.

Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi

Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.

Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”

Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.

“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.

patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.

Categories
Komunitas

Merabai Denyut Literasi Surakarta bersama patjarmerah

Patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara yang dijuluki oleh para pencinta buku dan media sebagai sirkus literasi keliling memutuskan singgah di Solo. Gerbang Ndalem Djojokoesoeman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo yang menjadi arena pasar buku dan festival literasi ini akan dibuka pada 1-9 Juli 2023 mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.

Kekayaan narasi dan sejarah panjang Surakarta membuat patjamerah memilih untuk mengawali denyutnya pada tahun 2023 di kota ini. “Selain sebelum Pandemi kami memang sempat berencana membuat patjarmerah di Solo. Itu sekitar April 2020,” cerita Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah.

Solo adalah tempat yang sangat kental dengan budaya literasi dan sangat banyak merekam sejarah terkait jejak penulisan masa lampau. Karya-karya klasik lahir dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Di antaranya Yosodipuro yang menulis Serat Wulang Reh, Paku Buwono IV dan Serat Wulang Sunu, Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama, Paku Buwono V menulis Serat Centhini, dan ada juga pujangga legendaris dari Kota Solo, yaitu Ki Padmasusastra dan Ronggowarsito. Selain itu, majalah dan surat kabar pertama di Indonesia pun lahir di Solo.

“Solo dengan semua ciri khas dan kedenyutannya menjadi titik tepat untuk mengawali patjarmerah 2023. Dari titik yang menjadi arena pergerakan inilah, patjarmerah akan bergerak,” sambung Windy dalam keterangan persnya. Banyak tokoh penting yang menggencarkan pergerakan datang dari Surakarta. Sebutlah Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan Marco Kartodikromo. Mereka mengandalkan kemampuan tulis-menulisnya di surat kabar dan berbagai macam aksi protes yang digelar dalam rangka ”menuntut persamaan hak bumiputera”. Ada pula Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi sistem feodal. Sarekat Islam dan gerakan Bumi Putera.

Denyut Literasi dan Identitas Tempat

Denyut dipilih menjadi tema patjarmerah selama 2023. Kata ini menyimbolkan hidup dan upaya untuk terus hidup, termasuk di dunia literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat.” Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa fondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari
literasi.

Patjarmerah Solo di Ndalem Djojokoesoeman

Semangat kolaborasi dan gotong royong literasi pun masih diusung patjarmerah. Di Solo, selain menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, patjarmerah juga berkolaborasi dengan para pegiat literasi dan komunitas lintas bidang kreatif, di antaranya Difalitera, Sastra Pawon, Kamar Kata, Kembang Gula, Lokananta, termasuk Persis. Komunitas ini akan berkolaborasi dengan jenama-jenama internasional dan nasional, seperti Netflix, Tik Tok, Bioskop Online, Facebook, dan juga para penerbit. Para penulis dan seniman atau pekerja kreatif berbagai bidang juga turut diajak. Di antaranya Jungkat-Jungkit, Soloensis, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, dan Titi Laras.

Pada salah satu sesi, Ngudhar Rasa: Meracik Masa Depan Kuliner Indonesia Lewat Tradisi Pangan, Pura Mangkunegaran bersama Lakoat.Kujawas dari Nusa Tenggara Timur, Bhumi Bhuvana dari Jogja, dan Titi Laras dari Solo akan bertukar rasa dan berbagi cerita. Penulis-penulis Solo–Sanie Kuncoro, Indah Darmastuti, Panji Kusuma, Beri Hanna. Peri Sandi Huizche pun hadir mengisi sesi-sesi di festival, berkolaborasi dengan pembicara-pembicara pilihan lainnya, seperti Joko Pinurbo, Ratih Kumala, Felix, K. Nessi, Yusi Avianto Pareanom, Martin Suryajaya, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Adimas Immanuel, Syahid Muhammad, Andina Dwi Fatma, dan lainnya. Tak ketinggalan penampilan istimewa dari Papermoon Puppet Theatre.

Akan ada 1 juta buku dan lebih dari 100 pembicara pilihan hadir di patjarmerah Solo. Ndalem Djojokoesoeman dipilih menjadi arena literasi karena sejarah panjangnya. Bangunan cagar budaya yang berdiri pada 1849 merupakan salah satu ndalem pangeran masih utuh di Solo. Bangunan ini dulunya menjadi kediaman raja pada masa Kesunanan Surakarta, khususnya keturunan Paku Buwono X dan Paku Buwono IX.