Apa yang paling mengkhawatirkan dari bumi yang kian sepuh, populasi manusia yang kian membeludak, perubahan iklim serta kegagapan kita untuk menyesuaikan diri dengan aneka percepatan peradaban? Bagi saya yang terbiasa berpikir dalam frame ilmu ekonomi, jawabannya adalah keterbatasan. Kelangkaan. Bukan hanya keterbatasan sumber pangan, sumber daya dan keterbatasan alat produksi, tapi juga keterbatasan manusia memeroleh penghasilan minimal untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Manusia modern sangat tergantung pada penghasilannya, dalam hal ini berwujud uang. Semua kebutuhan hidup harus dibeli, dan tugas manusia adalah membanting tulang dari hari ke hari, mencari penghasilan, untuk kemudian menggunakannya untuk kebutuhan hidup. Namun ketidakseimbangan di sana-sini, baik ketidakseimbangan penawaran dan permintaan, distribusi faktor-faktor produksi, ekosistem, membuat ekonomi makin megap-megap kian hari. Penghasilan semakin sedikit, bahkan untuk memenuhi konsumsi minimal. Tak ada kemandirian ekonomi.
Saya pun teringat penjelasan Bapak. Saat remaja, ayah saya berulang kali menjelaskan tentang marhaen, meski saya tak benar-benar paham. “Marhaen itu,” demikian penjelasan Bapak. “Bukanlah orang miskin yang tak punya alat produksi sehingga harus menjadi buruh. Bukan proletar. Beda dengan marxis. Marhaen itu orang yang mampu mencukupi kebutuhannya tanpa harus tergantung orang lain. Dia mungkin hanya petani dengan lahan kecil, menyediakan sendiri kebutuhannya. Merdeka atas waktu dan tenaganya. Atau tukang becak mandiri, sopir oplet, para wirausaha. Tidak kaya, bukan pemilik modal, namun juga bukan buruh. Tidak bekerja pada orang lain.”
“Kita bukan marhaen,” kata Bapak lagi.” Orang tuamu ini buruh, semua kehidupan kita tergantung perusahaan. Keluarga Si Doel di sinetron justru seorang marhaen. Mungkin merekalah marhaen terakhir…”. Seperti yang saya katakan, saat itu saya tak paham penjelasan Bapak. Namun pertambahan usia, melihat beberapa kali resesi ekonomi, kerentanan masa depan suatu keluarga karena kehilangan pekerjaan, membuat saya makin memikirkan tentang menjadi marhaen itu. Menjadi mandiri secara ekonomi.
Mungkin salah satu cara yang saya pikir membuat kita lebih mandiri secara ekonomi tidak hanya dengan mulai berswadaya, tetapi juga mulai meningkatkan cara-cara distribusi yang tak melulu berbasis uang. Barter misalnya. Meski sulit dilakukan, ternyata ajaib sekali saya dipertemukan dengan komunitas yang menyalurkan aneka produk dan barang dengan mekanisme barter.
Ruang Solidaritas Joli Jolan adalah kumpulan sukarelawan yang mengkoordinir barang-barang yang tak lagi dibutuhkan pemilik lama, agar dapat diadopsi orang lain yang lebih membutuhkan (demikian istilah mereka). Sudah lama saya ingin mampir ke sini, namun pandemi membuat saya baru hari ini bisa memenuhi janji saya pada Mbak Septina sebagai salah satu relawan. Di sini saya langsung terpukau. Bukan hanya karena saya mendapat tiga kalung cantik bergaya etnik, tetapi melihat betapa karya sosial dapat dilakukan dengan cara sederhana tetapi bermakna luar biasa.
Joli Jolan menerima donasi aneka barang. Bukan hanya barang yang tak lagi dibutuhkan, tapi juga tanaman, benih, sayur hidroponik dan juga makanan. Dari sana, barang akan disalurkan pada yang memerlukan. Bukan hanya melalui workshop Joli Jolan di Kerten, tapi juga disalurkan melalui aneka komunitas serupa di daerah lain. Bahkan menurut Mbak Septi, di luar Solo banyak daerah-daerah yang masih sangat memerlukan barang-barang donasi. Dan semua itu dilakukan tanpa berbayar.
Ini yang membuat saya terharu. Selama ini, kita di Indonesia terpaku pada kegiatan amal, charity, selalu berupa pengumpulan dana. Masyarakat pun terlanjur menganggap ‘orang baik’ adalah orang yang memberi dana. Akibatnya kita terjebak pada sesuatu yang berbiaya tinggi. Kebijakan publik berbiaya tinggi untuk kegiatan-kegiatan charity. Ataupun politisi yang terjebak pada kegiatan charity yang lagi-lagi berbiaya tinggi untuk memenangkan konstituen. Menyebabkan politisi tak berdana, hanya bermodal tekad dan semangat, terpaksa cuma bisa pasang niat.
Komunitas seperti Joli Jolan telah membuat konsep beramal menjadi mudah, sederhana dan bermakna. Bisa dilakukan siapa saja tanpa menunggu kaya. Berdampak secara sosial, maupun secara lingkungan. Mengurangi sampah, bahkan pada akhirnya bermakna secara spiritual. Kita akan belajar untuk tak lagi memiliki sesuatu secara berlebihan. Ketika tak lagi membutuhkan, kita dapat belajar berbagi pada yang lebih memerlukan. Filosofi Cina mempercayai bila kita mengurangi barang tak berguna berarti memberi tempat untuk datangnya rezeki baru. Dalam Buddhism, berbagi juga berarti melepaskan kemelekatan. Karena kemelekatan adalah sumber derita baru. Sedang saya pribadi percaya berbagi adalah menebar kasih, sesuatu yang membuat hati bahagia.
Saat saya pergi ke Joli Jolan tadi pagi, saya tetaplah Vika si pecandu rindu, berharap bertemu setiap waktu. Di Joli Jolan saya memang tak bertemu dia yang saya rindu. Tapi saya merasakan hati yang menghangat karena cinta seperti saat saya bertemu dia.
Uhuk …
Vika Klaretha, pengunjung Joli Jolan