Bulan Oktober segera berakhir, namun cuaca di Solo masih saja kurang bersahabat. Beberapa hari belakangan ini pun suhu telah mencapai angka 390 Celcius saat siang. Maklum, matahari bersinar sangat terik dan menyengat. Banyak kawan mengeluhkan hal tersebut, demikian pula saya yang sering berkegiatan di luar ruang.
Bagaimana mengatasi hal ini agar semua kegiatan tidak terhenti karena harus berkegiatan di bawah teriknya cuaca? Salah satunya adalah menjaga tubuh supaya selalu terhidrasi atau lembab. Saya selalu membawa botol air minum yang bisa menjaga suhu air awet sesuai yang diinginkan atau insulated bottle, biasanya juga disebut tumbler.
Tumbler saya isi dengan air lemon dingin. Resepnya sederhana, hanya membutuhkan lemon 1 buah dan air mineral dingin 750 ml. Boleh dicampur madu 1 sendok makan atau sesuai selera. Lemonnya dibelah menjadi 2, separuh diiris dan separuhnya diperas untuk semuanya dimasukkan ke dalam tumbler.
Saya menyukai suhu air minum sekitar 100 Celcius, yang saya dapatkan dari menuang air yang sudah didinginkan di kulkas. Jadi ketika tubuh sudah mulai terasa dehidrasi atau haus, maka saya teguk perlahan air lemon dingin dari tumbler untuk menjaga badan tetap lembab dan nyaman.
Viralnya Joli Jolan
Di tengah panasnya Kota Solo, ada hal yang mendadak menjadi penyejuk hati selain segelas lemon. Sungguh tidak menyangka kegiatan sederhana kami di Joli Jolan dilihat jutaan pemirsa melalui berbagai platform media sosial. Sekaligus telah diforward (diteruskan) ribuan kali, baik langsung dari media sosial maupun dari grup Whatsapp (WAG) ke WAG lain.

Ya, hal itu tak lepas dari unggahan Youtuber yang juga sukarelawan Joli Jolan, Mas Daniel, atau yang akrab dikenal dengan Mewalik. Videonya tentang Joli Jolan viral di Instagram dan TikTok yang membuat sukarelawan Joli Jolan harus menggelar “pertemuan darurat” hari Kamis, 17 Oktober 2024 lalu.
Bahagia? Bangga? Atau biasa saja? Entahlah, setiap relawan memaknai viralnya Joli Jolan dengan sikap dan caranya masing-masing. Saya menyerah untuk membaca komentar yang jumlahnya ribuan. Apabila itu doa-doa baik, maka doa tersebut sudah menembus langit.
Apabila itu cacian dan kecurigaan akan menjadi penghapus dosa-dosa relawan dan semua pihak yang membersamai ruang solidaritas Joli Jolan. Bahkan ada yang disangkut-pautkan dengan urusan politik, jauhlah. Kami ada bukan karena kepentingan pragmatis sesaat.
Pesan melalui WA dan telepon berdering dari handai taulan yang lama tak bersua. Antara senang karena diperhatikan dan menjawab segala pertanyaan yang sama. Antara lain, siapa pemilik Joli Jolan? Jawabannya: milik semua orang.
Sedari awal, kami bersepakat bahwa tidak ada kepemilikan aset. Siapa pun yang menaruh manekin, gantungan baju, hanger, lemari, etalase kaca dsb tidak dicatat dalam administrasi Joli Jolan. Setiap saat jika dibutuhkan oleh pemiliknya, boleh diambil kembali.
Juga ada pertanyaan tentang bagaimana gerakan ini menghidupi dirinya padahal komunitas tanpa uang ini akan mencapai usia lima tahun pada Tanggal 21 Desember 2024. Lalu, ada yang berempati untuk berbagi dengan bentuk uang. Saat ini kami menggunakan akun Trakteer sebagai satu-satunya akses jika ada warga yang ingin urun dana di Joli Jolan.
Hanya dengan segelas es lemon tea yang berharga Rp5.000, warga sudah bisa berkontribusi merawat gerakan Joli Jolan. Setiap dana yang terkumpul via Trakteer akan kami gunakan untuk menunjang operasional gerakan serta pengelolaan website. Yuk ikut merasakan segarnya solidaritas dengan segelas es lemon tea!

