Seorang perempuan yang berusaha membuat bumi lebih baik dengan aksi kolaboratif socio-enviromental. Salah satu pendiri Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan.
Tanggal 21 Desember 2024 lalu, Ruang Solidaritas Joli Jolan genap berusia lima tahun. Boleh dikatakan satu siklus hidup komunitas telah dilalui. Mengingat kembali kegelisahan yang dirasakan ketiga pendirinya, kegelisahan mengenai masalah khas perkotaan, yang warganya berjibaku dengan tantangan sosial, ekonomi. dan lingkungan.
Sebagai ruang non-profit yang dimotori masyarakat sipil, bisa merawat gerakan hingga setengah dasawarsa adalah pencapaian sekaligus pembuktian. Bukti bahwa konsistensi, meski dimulai dari hal sederhana, bakal menuntun sebuah gerakan ke tujuannya.
Konsistensi dan daya tahan hari-hari ini semakin menjadi tantangan, mengingat semakin banyaknya warga yang memanfaatkan layanan Joli Jolan. Entah itu berdonasi, barter atau mengambil barang secara gratis. Semakin dikenalnya Joli Jolan tak lepas dari warga, media, maupun influencer yang membantu menyebarluaskan gerakan.
Unggahan Mewalik Jaya, vlogger berkebun yang juga sukarelawan kami, juga beberapa kali viral. Hal ini membuat kami harus menata ulang sistem dan strategi demi keberlangsungan Joli Jolan. Selain pengelolaan donasi, salah satu pemikiran terdekat adalah menyehatkan pendanaan. Hal ini penting agar gerakan tetap lestari, independen dan menjangkau lebih luas.
Belum lama ini, kami me-rebranding Peken Joli Jolan menjadi Toko Joli Jolan sebagai lini usaha mandiri. Di toko yang punya nama lain KoCik (Koko Cicik) ini, kami menjual sejumlah merchandise seperti kaus, pouch, bordiran, stiker, dan beberapa barang upcycle. Donasi barang dari warga yang masih baru, alat elektronik, atau seken berkualitas tinggi, juga beberapa dipajang di Toko KoCik.
Harga yang dibanderol di toko jauh di bawah harga pasar, semata untuk membantu membiayai operasional. Selain itu, Joli Jolan memiliki akun Trakteer yang dapat dimanfaatkan warga untuk urun dana. Sejauh ini, pemasukan dari Trakteer kami gunakan untuk memperpanjang napas website jolijolan.org setiap tahun.
Kami juga masih membahas adanya biaya pengelolaan untuk warga yang berdonasi pakaian dalam jumlah besar (melebihi kilogram tertentu). Hasilnya dikembalikan untuk mengelola dan distribusi barang donasi ke daerah-daerah.
Pengenaan biaya pengelolaan juga penting, mengingat masih saja ada warga yang berdonasi berkarung-karung, sekadar untuk membersihkan rumah, tanpa mempedulikan pengelolaan setelahnya. Sering kali, donasi besar seperti ini justru berkualitas rendah. Kami lebih menghargai warga yang berdonasi secukupnya tapi menjaga kualitas pakaian/barang yang diberikan.
Upaya menghitung dampak gerakan terhadap lingkungan juga mulai kami realisasikan di usia lima tahun Joli Jolan. Setiap Sabtu, donasi pakaian/barang yang masuk kami timbang untuk mengetahui berapa potensi timbulan sampah yang bisa dikurangi.
Pada akhirnya, gerakan solidaritas hanya akan terus menggelinding apabila warga masih solid saling bantu untuk menghidupinya. Bukan pemerintah, parpol, korporasi, atau pemodal besar. Selaras dengan tagline ultahnya, Gangsal (Pegang Solidaritas), semoga Joli Jolan tetap memegang erat solidaritas agar semakin berdampak baik dan meluas. Dirgahayu kelima tahun Joli Jolan.
Bulan Oktober segera berakhir, namun cuaca di Solo masih saja kurang bersahabat. Beberapa hari belakangan ini pun suhu telah mencapai angka 390 Celcius saat siang. Maklum, matahari bersinar sangat terik dan menyengat. Banyak kawan mengeluhkan hal tersebut, demikian pula saya yang sering berkegiatan di luar ruang.
Bagaimana mengatasi hal ini agar semua kegiatan tidak terhenti karena harus berkegiatan di bawah teriknya cuaca? Salah satunya adalah menjaga tubuh supaya selalu terhidrasi atau lembab. Saya selalu membawa botol air minum yang bisa menjaga suhu air awet sesuai yang diinginkan atau insulated bottle, biasanya juga disebut tumbler.
Tumbler saya isi dengan air lemon dingin. Resepnya sederhana, hanya membutuhkan lemon 1 buah dan air mineral dingin 750 ml. Boleh dicampur madu 1 sendok makan atau sesuai selera. Lemonnya dibelah menjadi 2, separuh diiris dan separuhnya diperas untuk semuanya dimasukkan ke dalam tumbler.
Saya menyukai suhu air minum sekitar 100 Celcius, yang saya dapatkan dari menuang air yang sudah didinginkan di kulkas. Jadi ketika tubuh sudah mulai terasa dehidrasi atau haus, maka saya teguk perlahan air lemon dingin dari tumbler untuk menjaga badan tetap lembab dan nyaman.
Viralnya Joli Jolan
Di tengah panasnya Kota Solo, ada hal yang mendadak menjadi penyejuk hati selain segelas lemon. Sungguh tidak menyangka kegiatan sederhana kami di Joli Jolan dilihat jutaan pemirsa melalui berbagai platform media sosial. Sekaligus telah diforward (diteruskan) ribuan kali, baik langsung dari media sosial maupun dari grup Whatsapp (WAG) ke WAG lain.
Ya, hal itu tak lepas dari unggahan Youtuber yang juga sukarelawan Joli Jolan, Mas Daniel, atau yang akrab dikenal dengan Mewalik. Videonya tentang Joli Jolan viral di Instagram dan TikTok yang membuat sukarelawan Joli Jolan harus menggelar “pertemuan darurat” hari Kamis, 17 Oktober 2024 lalu.
Bahagia? Bangga? Atau biasa saja? Entahlah, setiap relawan memaknai viralnya Joli Jolan dengan sikap dan caranya masing-masing. Saya menyerah untuk membaca komentar yang jumlahnya ribuan. Apabila itu doa-doa baik, maka doa tersebut sudah menembus langit.
Apabila itu cacian dan kecurigaan akan menjadi penghapus dosa-dosa relawan dan semua pihak yang membersamai ruang solidaritas Joli Jolan. Bahkan ada yang disangkut-pautkan dengan urusan politik, jauhlah. Kami ada bukan karena kepentingan pragmatis sesaat.
Pesan melalui WA dan telepon berdering dari handai taulan yang lama tak bersua. Antara senang karena diperhatikan dan menjawab segala pertanyaan yang sama. Antara lain, siapa pemilik Joli Jolan? Jawabannya: milik semua orang.
Sedari awal, kami bersepakat bahwa tidak ada kepemilikan aset. Siapa pun yang menaruh manekin, gantungan baju, hanger, lemari, etalase kaca dsb tidak dicatat dalam administrasi Joli Jolan. Setiap saat jika dibutuhkan oleh pemiliknya, boleh diambil kembali.
Juga ada pertanyaan tentang bagaimana gerakan ini menghidupi dirinya padahal komunitas tanpa uang ini akan mencapai usia lima tahun pada Tanggal 21 Desember 2024. Lalu, ada yang berempati untuk berbagi dengan bentuk uang. Saat ini kami menggunakan akun Trakteer sebagai satu-satunya akses jika ada warga yang ingin urun dana di Joli Jolan.
Hanya dengan segelas es lemon tea yang berharga Rp5.000, warga sudah bisa berkontribusi merawat gerakan Joli Jolan. Setiap dana yang terkumpul via Trakteer akan kami gunakan untuk menunjang operasional gerakan serta pengelolaan website. Yuk ikut merasakan segarnya solidaritas dengan segelas es lemon tea!
Riuh rendah suara anak-anak terdengar mendominasi pada hari Selasa pagi, 8 Oktober 2024 di ruang kelas 3 SD Alam Surya Mentari Solo. Suasana belajar yang aman dan nyaman langsung terasa saat memasuki halaman sekolah.
SD Alam Surya Mentari memiliki kegiatan rutin yang cukup unik, yakni kelas inspirasi yang dikoordinir oleh komite. Tema kegiatan kelas inspirasi tahun 2024 ini adalah saling berbagi untuk menumbuhkan empati. Kali ini Joli Jolan diundang untuk mengisi kelas inspirasi tersebut.
Kelas inspirasi bersama dengan relawan Joli Jolan diawali dengan melakukan games atau permainan yang melibatkan anak. Sungguh asyik melakukan interaksi dengan anak-anak yang memang cenderung tidak bisa duduk anteng tersebut. Saat relawan memberikan salam dan menanyakan ingin dipanggil dengan sebutan apa, maka dengan jenaka minta dipanggil “mas” atau “mbak”. Wah, luar biasa. Panggilan dengan mas atau mbak artinya menganggap dirinya mampu bersikap dewasa.
Antusiasme dalam bermain games sangat terasa, tidak perlu mendorong-dorong agar anak berani maju untuk melakukan permainan yang sesungguhnya menstimulasi empati. Meskipun games sudah dilakukan sampai 2 putaran, masih saja ada yang minta untuk dilakukan lagi.
Setelah selesai bermain games, kegiatan dilanjutkan dengan memutar liputan CNN yang programnya bertajuk BERBUAT BAIK. Pemutaran liputan ini bertujuan untuk memperkenalkan Ruang Solidaritas Joli Jolan kepada anak-anak dengan visualisasi.
Hebatnya, walaupun hanya tayangan 10 menit, anak-anak mampu menjawab kuis-kuis yang dilemparkan oleh relawan terkait kegiatan Joli Jolan. Mereka terlihat senang sekali karena boleh memilih sendiri hadiah yang dibawakan dari galeri Joli Jolan. Ada yang memilih boneka untuk adiknya, ada yang memilih buku bacaan karena memang hobi membaca, ada yang memilih kerudung untuk ibundanya, dan berbagai macam barang lainnya dengan alasannya sendiri-sendiri.
Sesaat setelah melihat video Joli Jolan, anak-anak berkolaborasi memajang barang yang dibawa dari rumah. Anak-anak antusias melakukan barter atau boleh mengambil barang sesuai dengan kebutuhan. Bahkan ada seorang anak yang mengambil kembali barangnya, sungguh menggemaskan.
Setelah anak-anak praktik bertukar barang atau ijolan, barang-barang sisa yang dipajang saat kelas inspirasi dibawa oleh relawan Joli Jolan untuk dibagi pada hari Sabtu, 12 Oktober 2024 di galeri yang berada di Jalan Siwalan Nomor 1 Kerten, Solo.
Komunitas Joli Jolan diundang oleh SMA Ursulin pada Hari Selasa, 23 April 2024 untuk mengisi kegiatan Integrated Learning Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (IL P5) yang merupakan bagian dari pembelajaran kurikulum merdeka. Tema IL P5 kali ini adalah gaya hidup berkelanjutan bagi peserta didik kelas X. Adapun tujuan kegiatan mengundang narasumber Komunitas Joli Jolan adalah memantik peserta didik untuk bernalar kritis dan kreatif dalam mengatasi dampak climate change (perubahan iklim).
Climate change menurut definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengacu pada perubahan jangka panjang pada iklim bumi yang menyebabkan pemanasan atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan iklim mempengaruhi keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati, serta berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, peserta didik kelas X SMA Ursulin dipantik untuk berkontribusi dalam mengatasi dampak climate change dengan cara kreatif dan mudah dilakukan dalam keseharian.
Komunitas Joli Jolan
Diawali dengan penjelasan singkat oleh Kakak Asa mengenai komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan atau akrab dengan sapaan singkat ijol-ijolan, maka interaksi terjadi dari berbagai arah yang merupakan ciri merdeka belajar.
Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan ruang publik untuk berbagi barang layak pakai. Siapa pun dapat mendonasikan barang di Joli Jolan dan mengambil barang yang tersedia secara gratis. Joli Jolan mengajak untuk hidup bersahaja dengan mengelola barang secukupnya. Joli Jolan mengawali kegiatan pertamanya pada tanggal 19 Desember 2019, sekaligus dijadikan penanda hari lahir komunitas.
Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “Ijol-ijolan” yang berarti tukar menukar. Filosofi sederhana ini sebagai pendorong sejumlah relawan untuk membentuk ruang solidaritas melalui barter dan berbagi barang secara gratis dengan masyarakat.
Lokasi Joli Jolan berada di Kompleks Latar Situ yang terletak di Jalan Siwalan No.1, Kerten, Surakarta. Anggota Komunitas Joli Jolan sangat heterogen, mulai dari aktivis kota, mahasiswa, jurnalis, dosen, editor buku, peneliti, ibu rumah tangga, pegawai terminal, hingga pecinta hewan. Masing-masing pihak berkontribusi sesuai keahlian dan kemampuannya masing-masing untuk mewujudkan Ruang Solidaritas Joli Jolan.
Kegiatan Seru bersama Kelas X SMA Ursulin
Keseruan bertambah lagi saat para peserta didik kelas XA sampai XJ melakukan instruksi yang diberikan oleh Pak Dedi sebagai guru selaku koordinator kegiatan ini. Sehari sebelumnya, para peserta didik diminta untuk mempersiapkan barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Kami menyebutnya pre-loved. Bendahara kelas juga diminta menyiapkan umplung atau kotak untuk diisi uang seikhlasnya.
Peserta didik terlihat sangat antusias dalam menata barang-barang preloved di masing-masing kelasnya, demikian pula relawan Joli Jolan membawa barang preloved untuk diberikan di beberapa kelas. Mereka terlihat sangat tidak sabar untuk saling berkunjung ke kelas lainnya untuk melihat barang apa yang dibawa oleh temannya yang dapat mereka tukarkan. Semua gembira dan tertawa bersama para guru pendamping ketika mendapatkan barang yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Hanya dalam hitungan menit, barang preloved menemukan tuannya yang baru untuk diperpanjang masa manfaatnya.
Ada salah satu peserta didik laki-laki yang digandeng oleh Pak Guru berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian perempuan merangkapi baju seragam sekolah. Semua yang dilewati tertawa, bukan untuk merundung. Rupanya peserta didik tadi mengambil barang untuk pacarnya, padahal dalam kegiatan seru ini mengadop filosofi Joli Jolan, yaitu berikan sesuai kemampuanmu, ambil sesuai kebutuhanmu.
Class Creative Fundraising and Climate Change
Sesi refleksi tiba, peserta didik kembali ke kelas masing-masing. Bapak ibu guru kembali memandu kegiatan ini dengan merefleksikan apa yang telah dilakukan bersama. Alex dan Maria mengungkapkan bahwa mereka tersadar ternyata perilaku konsumtif sangat lekat dengan keseharian mereka. Acapkali membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan keinginan semata. Saat simulasi kegiatan bertukar barang preloved dilaksanakan, masih banyak murid yang mengambil barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan untuk memiliki barang yang dianggap masih bagus tanpa berpikir apakah barang tersebut nantinya akan bermanfaat atau tidak.
Kelas XJ kemudian mengajukan pertanyaan, “Apa yang menjadi dorongan utama dalam mendirikan Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan?”
“Didirikannya Joli Jolan berangkat dari rasa keprihatinan karena konsumerisme menjadi budaya. Apalagi di daerah perkotaan, di mana belanja online sangat mudah dilakukan. Banyak barang yang akhirnya tidak terpakai karena tidak sesuai dengan yang ditawarkan di platform belanja online, baik secara bentuk, fungsi, maupun ukuran. Kebiasaaan untuk memakai dresscode atau membuat baju seragam dalam berbagai kesempatan, yang pada akhirnya hanya dipakai sekali dua kali kemudian disimpan seterusnya di dalam lemari, juga menjadi salah satu ancaman konsumerisme yang jarang disadari.”
Bisa dibilang akar permasalahan pengelolaan sampah, terutama di perkotaan adalah konsumerisme. Muara dari akhir perjalanan sampah setelah melewati tahapan pengelolaan sejak dari sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Tumpukan sampah yang dipadatkan di berbagai TPA di Pulau Jawa yang mencapai puluhan bahkan ratusan meter itulah merupakan penyumbang global warming. Gunungan sampah menghasilkan gas metana yang disebabkan oleh bakteri yang kekurangan oksigen untuk proses penguraian sampah organik.
Saat musim kering, beberapa TPA yang sudah melebihi daya tampung mengalami kebakaran. Hal ini dipantik oleh gas metana yang tersulut karena cuaca panas. Sulitnya pemadaman menimbulkan dampak berat, yaitu dampak kesehatan berupa Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) dan dampak lingkungan berupa polutan yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga mencemari udara dan tanah, serta mengancam kehidupan manusia.
Kegiatan interaktif yang dilakukan oleh peserta didik bersama Komunitas Joli Jolan selama 30 menit tersebut mampu mengurangi dampak lingkungan yang akan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi yang mengakibatkan perubahan iklim. Bagaimana bisa kegiatan tersebut diklaim mengurangi dampak perubahan iklim? Dihitung prorata, bahwa setiap kelas membawa 10 kg barang yang dikalikan 10 kelas. Hasilnya adalah 100 kg barang yang seharusnya sudah berakhir di TPA ternyata mampu diperpanjang usia manfaatnya oleh peserta didik sendiri. Andai kegiatan ini dilakukan secara reguler, niscaya gerakan sederhana ini dapat menjadi kontribusi dalam mereduksi pemanasan global.
Dari pengalaman berkegiatan yang merupakan mini refleksi Joli Jolan, masing-masing kelas berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang didapatkan dari para peserta didik sendiri yang saling barter. Mereka menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu dalam mengelola barang preloved yang sebenarnya sudah tidak dimanfaatkan oleh pemilik sebelumnya. Bahkan pengelolaan tersebut pun dapat menghasilkan keuntungan, yakni penambahan uang kas kelas yang siap digunakan dalam berkegiatan di sekolah.
Pada akhirnya perlawanan terhadap konsumerisme tidak sekadar memberikan manfaat di bidang ekonomi tanpa menambah beban bumi karena proses produksi yang seringkali mengabaikan lingkungan. Hal kecil yang telah dilakukan bersama SMA Ursulin ini berkontribusi penting dalam mereduksi dampak perubahan iklim.
Acap terdengar istilah fast fashion yang identik dengan merek fesyen terkenal dari Jepang, Swedia, dan Spanyol yang digemari oleh anak-anak muda Indonesia masa kini. Gerai produk fast fashion pun dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.
Fast fashion menurut pengamatan dan pengalaman Joli Jolan adalah fesyen yang diproduksi secara cepat dan dalam jumlah banyak mengikuti tren yang berlaku di suatu wilayah atau mengikuti kebutuhan berdasarkan musim. Fast fashion mendorong pelanggan memutuskan untuk membeli dengan cepat karena harganya yang terjangkau dan proses distribusinya yang cepat sehingga mudah diperoleh. Masa pakainya pun juga cepat (pendek) karena kualitas bahannya yang rendah sehingga mendorong pembeli untuk kembali membeli model lainnya atau sesuai musim.
Jumat, 22 September 2023, bertempat di SMAN 7 Surakarta, Joli Jolan diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan YACT (Youth Agriculture) Goes to School yang diselenggarakan oleh IAAS LC UNS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Universitas Sebelas Maret). Peserta YACT Goes to School ini adalah peserta didik yang mewakili kelas masing-masing.
Para peserta didik terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang problematika fast fashion dari narasumber. Bahkan ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta didik yang bisa jadi merupakan kegelisahan semua peserta, “Apakah penggunaan fast fashion harus ditentang?” Menurut Kak Septi yang mewakili Komunitas Joli Jolan sebagai narasumber, yang harus disikapi dalam penggunaan fesyen adalah apabila dalam proses produksinya mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.
Lalu, bagaimana cara menyikapi fast fashion dari sisi masyarakat? Jawabannya adalah dengan membeli fesyen yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti yang sedang dikenakan Kak Septi, yaitu eco-print. Bisa juga seperti yang dilakukan Kak Atikah salah satu relawan Joli Jolan yang memanfaatkan kembali kain batik tulis peninggalan ibu dengan cara upcycle, yakni mengubah bentuk dan manfaat dari selembar kain batik menjadi model dress. Atau bisa juga seperti yang dilakukan oleh Kak Lala dan Kak Damai, relawan Joli Jolan lainnya, dengan memperpanjang manfaat baju dari galeri Joli Jolan untuk dikenakan sesuai kebutuhan.
Upaya Joli Jolan dalam Menyikapi Fast Fashion
Berangkat dari kegelisahan para pendiri Joli Jolan atas konsumerisme yang terjadi di masyarakat, terutama di perkotaan, gerakan Joli Jolan menjawab pertanyaan dalam menyikapi fast fashion. Sebenarnya prinsip pengelolaan ruang solidaritas Joli Jolan seperti pengelolaan sampah, yaitu 3R (Reduce, Reuse and Recycle) atau dalam bahasa Jawa disebut 3 Ng, Ngelongi, Nggunakke, Ngolah. Dari ketiga prinsip tersebut, kegiatan utama lebih banyak pada Reuse atau Nggunakke. Dalam Komunitas Joli Jolan biasanya menggunakan istilah redistribusi kepemilikan barang.
Gerakan Joli Jolan bukanlah gerakan charity, hanya sekali berkegiatan pemberian barang kepada yang membutuhkan tanpa keberlanjutan. Sampai dengan saat ini anggota Joli Jolan terus bertambah dengan jumlah keanggotaan mencapai sekitar 2.000 orang. Joli Jolan sendiri adalah ruang pertemuan antara orang yang membutuhkan barang dengan orang yang sudah tidak membutuhkan barangnya lagi, sehingga barang yang ada dalam galeri Joli Jolan dapat diperpanjang masa manfaatnya. Memperpanjang masa manfaat atau meredistribusi kepemilikan berarti barang tidak lekas menjadi sampah karena kehilangan manfaatnya.
Semakin cepat perputaran barang di galeri Joli Jolan maka semakin berkelanjutan gerakan ini karena mencegah barang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk tidak lekas masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Barang-barang yang masuk ke galeri Joli Jolan seharusnya berakhir di tempat sampah oleh pemilik sebelumnya. Namun, Galeri Joli Jolan berupaya untuk memperlambat bahkan mengurangi beban bumi dalam mengurai sampah, seperti sampah fesyen yang sampai dengan saat ini belum bisa dikelola atau dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomis layaknya sampah plastik.
Oleh karena itu, sikap yang paling bijak dalam menghadapi fast fashion adalah mengelola barang pribadi secukupnya. Sebab, siklus fast fashion menurut Kak Septi terbagi dalam 3 tahapan, yaitu:
Saat proses produksi. Untuk mengejar skala ekonomi maka produksinya dibuat massal dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pascaproduksinya pun menyisakan air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Hal inilah yang dinamakan tidak berkelanjutan (unsustainable) karena merusak lingkungan dengan mencemari ekosistem sungai dan tanah.
Saat pemanfaatan produk. Pergantian musim, cara berpakaian para influencer atau public figure, tren fesyen, bahkan rasa ingin bernostalgia mendorong masyarakat untuk membeli produk fast fashion yang harganya terjangkau. Masa pemanfaatan fesyen ini pun biasanya sangat pendek, bisa sekali atau dua kali pakai. Bahkan apabila dipakai terus-menerus, dalam waktu 3 bulan fesyen ini pun sudah tidak lagi layak pakai. Masa pemanfaatan yang pendek ini akan mengakibatkan laju timbulan sampah yang semakin besar. Hal ini tidak berkelanjutan, karena pengelolaan sampah fesyen masih terkendala dalam proses recycle atau ngolah. Agar memiliki nilai ekonomis, diperlukan proses pengolahan kembali yang akan memakan waktu panjang agar layak jual, sehingga ada keengganan untuk mengolah. Hal ini tentunya tidak berkelanjutan jika dilihat dari sudut pandang sirkular ekonomi.
Pasca-pemanfaatan. Saat fesyen sudah tidak digunakan lagi maka tindakan yang biasanya dipilih masyarakat adalah dengan memberikannya kepada orang lain apabila masih layak atau membuangnya. Ternyata sampah fesyen banyak ditemukan di aliran sungai.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah fast fashion sepanjang proses produksi, pemanfaatan, hingga masa pasca-pemanfaatan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap pekerja yang terlibat dalam industri ini. Beberapa peserta didik menyatakan memiliki baju dengan merk internasional yang tergolong fast fashion karena menurut mereka bahannya adem, awet, nyaman dipakai, dan harganya yang terjangkau.
Referensi Crumbie, A. (2021) What is fast fashion and why is it a problem? | Ethical Consumer. Available at: https://www.ethicalconsumer.org/fashion-clothing/what-fast-fashion-why-it-problem (Accessed: 23 September 2023).
Beberapa dekade lalu generasi Y memperlakukan kebutuhan dasar berupa sandang sebagai kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Kamera polaroid menjadi sarana untuk mengabadikan kebanggaan bersandang. Zaman ini, generasi milenial dilahirkan di dunia serba digital. Mereka telah bersentuhan langsung dengan berbagai perangkat teknologi. Bahkan mulai dari bayi dalam kandungan hingga dilahirkan, manusia kecil ini sudah eksis di jejaring media sosial yang bisa diakses siapa saja.
Hal ini berbanding lurus dengan dorongan konsumerisme luar biasa karena kebutuhan penampilan. Di satu sisi, ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, muncul permasalahan sampah yang semakin kompleks. Permasalahan tersebut adalah sampah fashion. Sampah fashion tidak hanya identik dengan baju, tapi termasuk segala pernak-pernik dan barang penunjang penampilan. Biasanya pengguna media sosial pada setiap unggahannya menyadari bahwa penunjang penampilan harus diperhatikan. Hal inilah yang mendorong konsumerisme produk fashion dan turunannya.
Tanpa sadar, lemari sudah tidak muat dan kamar terasa bertambah sesak dengan berbagai koleksi model baju, tas, sepatu, aksesoris dan kosmetik. Berbagai barang tersebut tentu memiliki masa pakai. Ketika hanya ditimbun atau disimpan tentu akan rusak. Hasilnya, timbulan sampah baru semakin tidak terkendali. Timbulan sampah bukan hanya sekadar sampah rumah tangga yang identik dengan proses konsumsi makanan. Apabila tidak segera ada aturan dari hulu ke hilir yang mengikuti perkembangan zaman, kompleksitas sampah merupakan keniscayaan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap konsumerisme dan dampak sampah, Ruang Solidaritas Joli Jolan terbentuk pada 21 Desember 2019. Gerakan ini dimulai dari sebuah bangunan kecil dengan halaman lapang di Jalan Siwalan 1 Kerten Laweyan Solo. Beberapa orang telah memulai upaya menekan konsumerisme dan laju sampah di Joli Jolan.Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “ijol ijolan”yang artinya saling bertukar. Filosofi sederhana ini mendorong pembentukan ruang saling berbagi agar memperpanjang umur barang.
Siapapun bisa menjadi anggota Joli Jolan. Setiap anggota dapat mengambil barang yang dibutuhkan tanpa membayar dengan menukarkan barang miliknya yang masih bisa dimanfaatkan. Meski masih seumur jagung, antusiasme warga terhadap Joli Jolan cukup besar. Sebelum pandemi Covid-19, Joli Jolan pernah disambangi 200 pengunjung pada akhir pekan. Padahal Joli Jolan kala itu hanya buka tujuh jam.
Kami berharap Ruang Solidaritas Joli Jolan menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama sebagai gerakan perlawanan masyarakat terhadap konsumerisme. Peran masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan harus dijalankan. Tidak hanya sekadar wacana belaka. Dukungan pemerintah juga tak kalah penting untuk menciptakan regulasi yang pro zero waste atau menekan residu sampah hingga nol. Tak lupa peran swasta selaku produsen yang wajib mendesain produknya agar ramah lingkungan. Mencegah lebih baik daripada mengobati bumi yang sakit.
Septina Setyaningrum, salah satu pendiri Joli Jolan