Categories
Gaya Hidup

Kenapa Barang Itu Masih Disimpan?

Hampir semua orang punya satu sudut di rumah yang isinya barang-barang yang entah masih dipakai atau tidak. Ada kotak ponsel dari bertahun-tahun lalu, kabel yang sudah lupa milik perangkat apa, kaus konser yang tak pernah lagi dikenakan, atau hadiah ulang tahun yang hanya berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Saat diminta membereskannya, jawabannya sering sama, “Sayang kalau dibuang. Siapa tahu nanti dipakai”.

Padahal, tidak semua barang yang kita simpan benar-benar masih dibutuhkan. Sebagian bertahan karena menyimpan kenangan, sebagian lagi karena terasa terlalu berharga untuk dilepas, meski sudah lama tidak digunakan. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat lemari semakin penuh, sementara barang yang benar-benar dipakai justru semakin sulit ditemukan.

Fenomena tersebut cukup sering terjadi. Banyak orang memilih menyimpan kardus ponsel dengan harapan suatu hari akan berguna saat dijual kembali, padahal ponselnya sendiri sudah dipakai bertahun-tahun. Ada pula pakaian yang tetap menggantung di lemari karena merasa suatu saat akan muat lagi atau kembali menjadi tren. Bukan berarti semua barang harus disingkirkan, tetapi sesekali kita perlu bertanya, apakah barang ini masih memberi manfaat atau hanya menyimpan rasa sayang untuk melepasnya?

Merapikan rumah tidak selalu berarti membuang barang. Sebagian bisa didonasikan, dijual kembali, ditukar melalui komunitas, atau diberikan kepada orang yang memang membutuhkannya. Cara ini membuat satu barang memiliki umur pakai yang lebih panjang sekaligus mengurangi kebutuhan untuk terus memproduksi barang baru.

Tidak semua barang harus bertahan di rumah selamanya. Tidak semua barang yang kita miliki akan selalu bersama kita selamanya. Ada yang memang selesai menemani salah satu fase kehidupan yang kita lalu, kemudian siap melanjutkan cerita di tempat lain. Mungkin bukan lagi bersama kita, tetapi tetap berguna bagi orang lain yang benar-benar membutuhkannya.

Categories
Gaya Hidup

Barang Paling “Hijau” Sebenarnya Sudah Ada di Rumah

Belakangan ini, menjalani green lifestyle sering kali identik dengan membeli produk baru. Salah satu contohnya adalah tren membeli tumbler premium yang ramai dibicarakan di media sosial. Berbagai merek menawarkan kemampuan menjaga suhu minuman hingga 12 atau 24 jam, lengkap dengan pilihan warna yang terus berganti. Tidak sedikit orang tergoda mengoleksinya, meski di rumah sudah ada tumbler lama yang masih berfungsi dengan baik. Lucunya, niat mengurangi sampah plastik kadang justru berakhir dengan menambah barang baru yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan.

Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu selaras dengan kebiasaan membeli. Yang berubah sering kali bukan kebutuhan kita, melainkan tren yang terus berganti. Jika fungsi utamanya tetap sama, menggunakan barang yang sudah dimiliki justru menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada terus mencari penggantinya. Hal yang sama berlaku untuk jaket, tas belanja, kotak makan, atau stoples kaca yang masih bisa digunakan berulang kali. Tidak jarang orang membeli barang-barang tersebut bukan karena kebutuhannya, tetapi karena terpengaruh oleh tren yang berkembang.

Setiap barang memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan kita. Ada bahan baku yang diambil dari alam, energi yang digunakan selama proses produksi, hingga distribusi yang memerlukan bahan bakar. Karena itu, memperpanjang usia pakai barang menjadi salah satu cara sederhana dalam mengurangi limbah sekaligus menekan dampak dari pola konsumsi yang berlebihan. Berbagai penelitian tentang gaya hidup berkelanjutan juga menunjukkan bahwa penggunaan barang lebih lama merupakan bagian penting dari upaya mengurangi jejak lingkungan.

Di tengah budaya konsumerisme yang terus menghadirkan produk dan tren baru, pilihan untuk tetap memakai barang yang masih berfungsi sering kali terasa kurang menarik. Apalagi jika diperparah dengan circle pertemanan, baik offline maupun online, yang terus-menerus memamerkan betapa kerennya produk viral baru. Membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan pun bisa terjadi dengan mudah. Padahal, keputusan-keputusan kecil seperti itulah yang perlahan membentuk kebiasaan. Coba lihat kembali isi lemari atau rak di rumah. Bisa jadi, barang yang paling ramah lingkungan bukan yang baru datang dari paket belanja, melainkan yang sudah lama menemani keseharian kita dan masih menjalankan fungsinya dengan baik.

Categories
Gagasan

Relasi antara Berpakaian, Identitas Diri, dan Penilaian Sosial

Bolehkah kita jujur sebentar? Seberapa sering kita menilai orang lain hanya dari pakaian yang melekat di tubuhnya? Memakai baju bermerek, berarti kaya dan berkelas, yang rapi berarti sopan juga jujur, sementara yang berpakaian sederhana acapkali dianggap acuh tak acuh dan juga tidak tahu tren.

Munculnya fenomena ini bukan tanpa alasan. Dunia modern telah menyiapkan segala macam siasat agar kita mau saja dibelenggu oleh mode, dengan mengaburkan pemaknaan yang bersumber dari dalam diri.

Apakah ungkapan, “don’t judge a book by its cover” ini masih relevan? Dalam kesehariannya, saya rasa masih ada yang sering menyikapi fenomena tersebut secara tidak adil. Ada beberapa hal yang sejatinya masih perlu dipertanyakan ulang. Apakah mengenakan jas dengan aksesori dasi berkelas itu sudah dianggap orang yang bisa dipercaya? Apakah yang mengenakan batik dan kebaya sudah paling menyimbolkan seseorang yang mencintai budaya lokal?

Memakai pakaian berwarna hitam berarti membawa kesan misterius, susah ditebak, dan unik. Jika mengenakan pakaian yang berwarna cerah dan tabrak warna dianggap “nyentrik” dan ceria, sedangkan yang memakai pakaian putih bersih identik kesucian dalam dirinya dengan spiritualitas tinggi. Sudah terlalu lama identitas diri dilekatkan pada bagaimana sesorang menutup tubuhnya.

Seakan-akan pakaian menjadi gerbang paling mudah untuk mengukur siapa seseorang. Tentu, berpakaian bisa menjadi sarana menunjukkan identitas diri. Tetapi tak akan pernah cukup untuk menilai, apalagi berusaha mengenal seseorang secara utuh. Berpakaian hanya irisan kecil dalam ejawantah diri.

Model, warna, hingga detail pakaian memang bisa memberi simbol: apa yang disukai, pesan apa yang ingin dibagikan ke khalayak, bahkan status sosial apa yang ingin ditampilkan. Tetapi, pakaian tetaplah sebatas kain yang menempel pada tubuh. Identitas yang utuh, tidak akan pernah bisa untuk sekedar ditempelkan pada kain. Ia beranak-pinak tumbuh jujur dalam pikiran dan konsistensi dalam bersikap di keseharian.

Dari mulai bagaimana jujur dengan diri sendiri, caranya berkomunikasi dengan orang lain, merespons ketika dilimpahi banyak kenikmatan hidup, melenting ketika sedang terimpit rasa kesusahan, menjaga penuh relasi dengan Tuhannya, sampai bagaimana bersikap jika penguasa menekan rakyat dan berlaku tidak adil. (Aduh, kok malah berat gini lho ehh!)

Mestinya, identitas diri lahir dari kejujuran dan kemurnian jiwa, tanpa dibuat-buat. Sayangnya, masih ada saja orang yang demi menyenangkan mata orang lain, ia mengejar standar keren yang dibuat oleh pasar yang tiada ujungnya. Akibatnya ia pun rela memaksakan diri untuk berpakaian yang tidak menujukkan siapa dirinya dan berusaha menjadi orang lain. Lalu siapa yang tertipu pertama kali selain dirinya sendiri?

Hidup Secukupnya Saja

Sudah berapa jutaan postingan di TikTok, YouTube, atau Instagram yang dirilis untuk mengacak-acak pola pikir kita? Yang sebenarnya mengarah ke pola pikir barat dengan konsumerismenya. Namun, ada pepatah Jawa, “urip iku sak madyane.” Hidup itu secukupnya saja. Menyederhanakan apa yang disandangnya seolah menjadi angin segar dan opsi untuk tidak berlebih-lebihan.

Dunia modern makin sibuk, alih-alih kita upgrade skill yang dipunya atau aware dengan kondisi kanan-kiri, kita malah fokus mempertebal topeng-topeng tubuh. Toh sebulan lagi, tren di pasaran sudah akan berubah, kan? Influencer yang kita puja juga sudah melupakan pakaian apa yang dipromosikan saat itu. Nah, mau sampai kapan akan terus mengikutinya lagi dan lagi? Diskon-diskon di keranjang online siap menanti, tetapi semoga jari masih tetap ada sepenuhnya dalam kuasa diri.

Pakaian bisa menipu, kadang datang dengan cara super halus, taktis, tetapi bisa juga sangat masif. Sebab, seseorang bisa memakai pakaian apa saja, tetapi tidak merepresentasikan dirinya secara utuh. Identitas diri amat kompleks, sangatlah kecil dan remeh apabila diukur dari pakaian. Ia hadir tanpa label harga dan tanpa merek branded kekinian.

Kita bisa mengenal identitas seseorang dari nilai-nilai kehidupan yang sedang dipegang, karakter yang terus dibangunnya, serta pengalaman hidup yang sudah membentuknya. Bukankah itu lebih mencerminkan dari identitas diri seseorang? Semoga kita tidak luput terus-menerus ya, agar tidak saling menipu diri sendiri maupun orang lain.

Categories
Gaya Hidup

Thrift Store Berbasis Komunitas Di Tampa

Beberapa hari setelah kedatangan saya di Tampa, saya diajak berbelanja perlengkapan esensial untuk kebutuhan sehari-hari saya selama tinggal di sini. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah thrift store, sebuah “department store” yang menjual barang-barang bekas layak pakai atau sering disebut pre-owned dengan harga yang terjangkau. Dua thrift store yang kami kunjungi saat itu adalah Community Thrift Store dan The Salvation Army yang yang berada di Nebraska Ave.

Meskipun menjual barang-barang bekas layak pakai atau pre-owned, thrift store dikonsep dengan matang dan tidak asal-asalan. Barang-barangnya pun ter-display dengan rapi dan terawat, meski tetap terlihat bukan barang baru. Barang yang dijual juga beragam dan terkurasi dengan baik, mulai dari perabotan rumah, pakaian, sepatu, mainan anak, sepeda, perkakas dapur, hingga barang koleksi.

Thrift store pada umumnya dikelola secara profesional oleh komunitas, organisasi keagamaan, maupun organisasi nirlaba. Walau tidak semewah department store atau retailer besar pada umumnya, thrift store tetap memberikan fasilitas kenyamanan, mulai dari AC, kebersihan tempat, musik latar yang terus memainkan hits populer era 90-an, dan juga troli belanja. Pengalaman berbelanja menjadi semakin nyaman, mudah, dan tentu saja terkesan profesional.

Selain itu, thrift store juga memiliki program marketing yang benar-benar dipersiapkan dengan sangat terstruktur, seperti diskon pembelian barang-barang tertentu bagi para membernya pada minggu tertentu. Ini menunjukkan bagaimana thrift store benar-benar dikelola secara matang dan terarah. Kombinasi hal-hal seperti itulah yang pada akhirnya menjadikan thrift store berhasil tumbuh di tengah-tengah masyarakat Amerika. Thrift store tidak hanya memperpanjang usia barang-barang layak pakai yang ada di sana, tetapi turut berkontribusi membuka lapangan kerja baru dan menjaga standar pelayanan komunitas.

Perkembangan thrift store di Tampa, Florida, pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari bagaimana masyarakatnya menerima thrift store itu sendiri. Mulai dari anak muda hingga orang tua, semua datang untuk mencari kebutuhan mereka masing-masing. Lupakan gengsi dan perasaan minder, mereka tidak risih atau ragu berbelanja di sana asalkan barang yang ditawarkan memang murah dan layak pakai. Membeli di thrift store bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak trendi, melainkan kebiasaan yang memang dilakukan karena kebutuhan.

Relevankah Mengadaptasi Konsep Thrift Store?

Pengalaman di thrift store pun mengingatkan saya kembali dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan. Keduanya memiliki kesamaan terkait upaya perpanjangan usia barang layak pakai, meski berbeda metode. Kemudian muncul pertanyaan dalam hati, apakah Joli Jolan nantinya dapat bertransformasi menjadi thrift store? Apakah konsep thrift store dengan pengelolaan profesionalnya relevan untuk komunitas tersebut? Mengingat akan adanya biaya-biaya tambahan serta strategi progresif yang bakal menyertainya.

Asalkan konsep thrift store masih selaras dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh Joli Jolan, yakni ruang solidaritas berbagi barang secara gratis, maka mengadopsi konsep thrift store bukanlah hal yang tidak mungkin, tentunya dengan beberapa penyesuaian. Butuh waktu, persiapan, dan strategi yang tepat agar Joli Jolan dapat berkembang menjadi sebuah ruang profesional layaknya thrift store. Ketika hal itu tercapai, semua pihak tentunya perlu untuk beradaptasi kembali dengan langkah yang diambil Joli Jolan. Sebab, Joli Jolan tidak lagi sekadar memberikan manfaat gratis kepada masyarakat, tetapi berorientasi pada profit demi keberlanjutan usahanya.

Categories
Komunitas

Jaringan Baru dari Warga Posyandu

Apa yang menjadi tantangan utama Joli Jolan saat ini? Jika boleh menyebut salah satu, hal itu adalah keberlimpahan donasi. Ya, hampir setiap hari ada kiriman (terutama pakaian) yang datang di drop box kami. Tentu kami mengapresiasi kebaikan hati kawan-kawan yang telah bersolidaritas melalui Joli Jolan.

Makin hari, makin banyak warga yang telah berbagi dengan berkesadaran, memberikan barang dengan kondisi baik untuk digunakan kembali oleh sesama. Namun di saat yang sama, hal ini menjadi tanggung jawab kami untuk mengelola donasi dengan sebaik-baiknya.

Salah satu solusi untuk mengatasi keberlimpahan adalah redistribusi dan membuka jaringan. Akhir pekan ini kami menambah jaringan warga baru, bekerja sama dengan Posyandu Lansia dan Balita di RW XI Manahan, Solo.

Sejumlah pakaian dewasa, anak, dan jilbab kami salurkan untuk warga setempat yang membutuhkan, tentu saja dengan bantuan pengurus posyandu setempat. Pola-pola redistribusi dengan melibatkan warga sejatinya sudah cukup lama kami inisiasi.

Beberapa bahkan mulai melaksanakan kegiatan berbagi secara rutin. Kegiatan itu tersebar di Masjid Al Huda, Kerten; Wirosari, Grobogan; Totosari, Laweyan; Jaten, Karanganyar; Pucangan, Kartasura; hingga Cepu. Jaringan dan kolektivisme ini menjadi modal berharga untuk mendorong pemerataan penerima donasi pakaian/barang.

Apa yang menjadi prioritas kami sejujurnya bukan mendapatkan donasi sebanyak-banyaknya. Donasi secukupnya dengan kualitas terjaga dan sesuai kebutuhan lebih kami utamakan. Oleh karena itu, kami pasti selalu menanyakan terlebih dulu apa yang hendak kawan berikan.

Bukan kami menolak kebaikan kawan-kawan, tapi agar donasi itu nantinya benar-benar tepat guna dan tidak menumpuk di ruang penyimpanan. Karena, tak setiap waktu jaringan yang kami miliki dapat menyerap barang dari Joli Jolan. Sama dengan kami, mereka juga memiliki keterbatasan di sana-sini. Panjang umur hal-hal baik.

Categories
Sudut Joli Jolan

Solusi Donasi Tak Layak Pakai

Bukan satu dua kali Ruang Solidaritas Joli Jolan menerima donasi yang jauh dari kata layak. Pakaian sobek, celana dalam bekas, sepatu “mangap”, tas rusak dan lain sebagainya kerap kami temui saat menyortir barang donasi. Ya mohon maaf, barang-barang itu langsung kami singkirkan karena tidak pantas jika diberikan pada orang lain. Sedih rasanya melihat sejumlah orang masih menganggap Joli Jolan sebagai gudang pembuangan barang bekas semata.

Barang tak layak tersebut tentu berpotensi menjadi masalah baru. Tak hanya memicu timbunan sampah, tapi juga mengundang penyakit. Tulisan ini mungkin dapat sekaligus menjadi pengingat bagi kawan-kawan tentang pentingnya memberikan barang yang terbaik bagi sesama. Di sisi lain, kami pun perlu mencari solusi apabila barang kurang layak ini telanjur sampai di galeri Joli Jolan. Beberapa bulan terakhir kami bekerjasama dengan sebuah pabrik pengolahan dakron/bantal untuk mengatasi sampah pakaian. Sejauh ini cara tersebut paling efektif untuk mengelola sampah pakaian meski kami harus mengantar ke pabrik yang lokasinya cukup jauh yakni di Gatak, Sukoharjo.

Namun yang masih menjadi pemikiran kami, bagaimana mengelola barang seperti tas, sepatu dan memorabilia lain yang tidak layak agar tidak langsung bermuara di tempat sampah. Beberapa hari lalu kami mendapat ide baru saat main ke Bank Sampah Jensan Mugi Berkah yang berlokasi di Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Kami belajar tentang pengelolaan sampah sederhana yang melibatkan warga dalam lingkup terkecil yakni RT/RW. Terbentuknya bank sampah membuat warga setempat mulai disiplin memilah sampah dari rumah. Sebulan sekali, warga rutin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kertas, barang berbahan logam dan kaca serta lain sebagainya ke bank sampah.

Yang menarik, barang-barang khas di Joli Jolan seperti sepatu, tas, dan bahan lain berbahan plastik dan kaca yang kurang layak pun dapat terserap bank sampah. Bersama pengelola Bank Sampah Udadu, rintisan bank sampah yang berlokasi sekompleks dengan Joli Jolan, kami berinisiatif mempraktikkan pengelolaan sampah secara terpadu mulai pekan ini. Pada Rabu, 10 Februari 2021, tim sukarelawan Joli Jolan bersama Udadu akan mulai memilah donasi tak layak pakai agar dapat bernilai ekonomis dan ekologis melalui bank sampah. Sedikit banyak dana yang terkumpul akan kami gunakan untuk operasional Joli Jolan.

Kami meyakini bank sampah bukanlah solusi paripurna terhadap konsumerisme. Bank sampah hanya sebagai alat untuk mengurangi dampak gaya hidup kita yang kurang bertanggungjawab. Pola konsumsi berkelanjutan dengan membeli barang seperlunya tetap yang utama dalam menjaga kelestarian mother earth.