Categories
Gaya Hidup

Beli? Nanti Dulu, Sewa Aja

Beberapa tahun lalu, memiliki barang sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan. Apalagi membeli barang-barang yang dirasa sedang tren, meskipun harganya tidaklah murah. Inilah yang menjadi salah satu penanda konsumerisme terjadi di dalam masyarakat.

Namun, kini cara pandang tersebut perlahan mulai berubah. Di kalangan anak muda, tren menyewa barang mulai diminati karena dianggap lebih praktis, hemat, dan sesuai dengan kebutuhan. Bagi mereka, yang terpenting bukan lagi memiliki sebuah barang, melainkan dapat menggunakan barang tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Menjelang konser, misalnya, tidak sedikit penggemar yang memilih menyewa smartphone dengan kamera berkualitas tinggi agar dapat mengabadikan penampilan idola mereka dengan hasil yang lebih jernih atau kamera mirrorless untuk liburan. Jadi, jangan buru-buru beranggapan bahwa mereka yang menyewa smartphone mewah ingin tampil sebagai orang yang mampu. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi tidak semua orang memiliki keinginan yang sama. Ada yang memang kebutuhannya terhadap smartphone mewah hanya sementara karena mereka hanya memanfaatkan kameranya untuk acara tertentu.

Selain barang-barang teknologi, ada pula yang menyewa gaun untuk menghadiri pesta akhir tahun, menyewa perlengkapan camping untuk akhir pekan, ataupun menyewa perlengkapan anak untuk keluarga dengan anak kecil. Ayunan, perosotan plastik, bahkan stroller kini bisa disewa secara harian atau bulanan sesuai kebutuhan. Barang-barang tersebut umumnya hanya digunakan dalam periode tertentu, sehingga menyewa sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan membeli.

Perubahan gaya hidup ini tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Beragam layanan penyewaan kini dapat ditemukan melalui aplikasi maupun media sosial. Proses mencari, memesan, hingga mengembalikan barang pun menjadi semakin mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kemudahan tersebut membuat proses menyewa daripada membeli menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran bulanan mereka dengan lebih bijak.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan dalam cara mengonsumsi. Ketika satu barang dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian, kebutuhan untuk membeli barang baru dapat berkurang. Pola seperti ini sejalan dengan konsep sharing economy, yaitu memanfaatkan sumber daya yang sudah ada agar penggunaannya lebih optimal dan tidak berlebihan.

Tren menyewa barang menunjukkan bahwa cara pandang terhadap kepemilikan mulai bergeser. Nilai sebuah barang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang memilikinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan saat benar-benar dibutuhkan. Memiliki memang tetap menjadi pilihan, tetapi kini semakin banyak orang menyadari bahwa tidak semua kebutuhan harus berakhir dengan membeli. Ternyata dengan menyewa, guna barang tersebut tetap dapat digunakan.

Categories
Gaya Hidup

Digital Decluttering, Bukan Sekadar Hapus Aplikasi

Hampir sebagian besar pengguna smartphone pernah merasakan situasi seperti ini, membuka ponsel untuk membalas satu pesan, tetapi malah berakhir menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Ternyata situasi seperti itu tidak hanya membuang waktu berharga, tetapi juga membuat pikiran kurang fokus dan cepat lelah. Tanpa disadari, ruang digital yang dipenuhi notifikasi, file, foto, dan aplikasi yang jarang digunakan dapat membuat pikiran terasa semakin sesak. Kondisi inilah yang akhirnya membuat digital decluttering semakin banyak diterapkan sebagai kebiasaan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, termasuk smartphone.

Digital decluttering adalah kebiasaan merapikan ruang digital dengan menghapus aplikasi yang sudah tidak digunakan, membersihkan file yang menumpuk, mengatur ulang email, serta membatasi notifikasi yang benar-benar penting. Tujuannya bukan menghindari teknologi atau mengalihkan perhatian, melainkan menggunakan teknologi secara lebih sadar agar mendukung aktivitas sehari-hari.

Kebiasaan ini terasa semakin relevan karena ruang digital kita terus dipenuhi oleh berbagai hal yang bersaing merebut perhatian. Notifikasi media sosial, promosi belanja, hingga rekomendasi video yang hadir kapan saja tanpa jeda. Semakin banyak distraksi yang muncul, semakin mudah pula kita kehilangan fokus pada hal-hal yang sebenarnya sedang kita kerjakan.

Untungnya, merapikan ruang digital tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah sederhana seperti menghapus aplikasi yang jarang dibuka, berhenti mengikuti akun yang tidak lagi memberi manfaat, membersihkan screenshot yang sudah tidak relevan, atau meluangkan beberapa menit untuk merapikan galeri foto sudah cukup untuk memulai. Kebiasaan kecil ini membantu menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak dipenuhi gangguan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang lebih terkelola berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Temuan tersebut sejalan dengan konsep digital minimalism, yaitu menggunakan teknologi secara sengaja sesuai kebutuhan, bukan sekadar
mengikuti kebiasaan atau takut tertinggal. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kita berada di depan layar, melainkan bagaimana kita memberi ruang bagi perhatian agar tetap tertuju pada hal-hal yang benar-benar penting.

Tidak semua orang perlu menghapus seluruh aplikasi atau berhenti menggunakan media sosial seketika. Hubungan yang lebih sehat dengan teknologi justru dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Saat ruang digital terasa lebih tertata, perhatian tidak lagi mudah terpecah, dan waktu yang kita miliki pun terasa lebih utuh. Mungkin yang selama ini kita butuhkan bukan lebih banyak waktu di depan layar, melainkan lebih banyak kendali atas cara kita menggunakannya.

Categories
Gagasan

Lingkungan Layak dan Inklusif

Lanjutan dari tulisan Mendamba Segala Sesuatu yang Layak

Ketika akan membahas tentang kriteria hunian yang layak, pasti pembahasan tersebut akan sangat panjang dan butuh pemikiran banyak pihak. Oleh karena itu, artikel ini akan lebih mengedepankan pembahasan tentang bagaimana lingkungan yang layak ditinjau dari aksesibilitas kelompok berisiko.

Mungkin kita sudah sangat sering mendengar kata-kata aksesibilitas dalam bermacam sektor di kehidupan bermasyarakat, terutama dalam pembangunan fasilitas umum. Namun, kata aksesibilitas sering diidentikkan dengan salah satu ragam dari kelompok berisiko yaitu penyandang disabilitas atau difabel. Dalam kebermanfaatannya, apakah fasilitas tersebut hanya dirasakan oleh difabel saja? Mari kita tafakur bersama.

Ketika kita berbicara lebih gamblang lagi tentang aksesibilitas, maka pengertian yang baku adalah kemampuan atau keadaan di mana suatu produk, layanan, fasilitas, atau lingkungan dapat diakses, digunakan, atau dimanfaatkan oleh semua orang. Semua orang yang saya maksud termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, sensorik, atau kognitif.

Konsep aksesibilitas bertujuan untuk memastikan tidak ada individu yang dikesampingkan atau dihalangi dalam mengakses informasi, tempat, atau layanan yang mereka butuhkan. Definisi singkat dan pemberian gambaran tentang lingkungan yang aksesibel untuk semua akan memberikan kita selentingan pertanyaan kecil semisal, apakah hanya kursi roda yang membutuhkan akses ram, apakah hanya lansia yang akan menggunakan alat bantu seperti kursi roda?

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebermanfaatan aksesibilitas tersebut akan dimanfaatkan oleh pengguna yang berkepentingan saja? Ternyata tidak teman-teman. Apabila dalam satu kondisi kita dihadapkan dalam dua pilihan, antara melewati jalan berundak, dengan jalan yang landai, manakah lintasan yang akan kita pilih untuk berjalan? Pastinya lintasan yang nyaman dan terasa aman di kaki kita yang akan kita gunakan.

Aksesibilitas tersebut harusnya ada dalam semua lini kehidupan kita, termasuk lingkungan permukiman. Misalnya dimulai dari memberikan tanda seperti tulisan atau gambar sebagai tanda dan edukasi terhadap pengguna fasilitas lingkungan. Tanda tersebut bisa soal kesehatan maupun imbauan soal keamanan lingkungan. Dengan memanfaatkan momen tersebut, dalam hal sosial akan terjalin sosialisasi interaktif antarmasyarakat di lingkungan tempat tinggal.

Selanjutnya adalah tentang aksesibilitas sarana dan prasarana seperti jalan akses lingkungan, pemberian marka, dan penyediaan fasilitas sanitasi. Soal sanitasi tersebut di antarannya ketersediaan area cuci tangan, area air minum untuk masyarakat, dan pembuangan limbah rumah tangga.

Akses Informasi yang Ramah

Aksesibilitas mencakup berbagai aspek, seperti aksesibilitas fisik, aksesibilitas informasi, aksesibilitas komunikasi, dan aksesibilitas teknologi. Aksesibilitas fisik berfokus pada keberlanjutan dan kemudahan penggunaan bagi individu dengan keterbatasan fisik, seperti aksesibilitas bagi kursi roda, ramah lansia, atau jalur pejalan kaki yang aman.

Aksesibilitas informasi mencakup penyediaan informasi yang mudah dipahami dan diakses oleh individu dengan keterbatasan sensorik atau kognitif. Aksesibilitas komunikasi melibatkan penyediaan saluran komunikasi yang efektif untuk individu dengan keterbatasan pendengaran atau penglihatan.

Sementara aksesibilitas teknologi berfokus pada memastikan produk dan layanan teknologi dapat digunakan oleh semua orang, termasuk mereka dengan keterbatasan dalam penggunaan teknologi.

Aksesibilitas penting dalam membangun masyarakat inklusif dan menghormati hak asasi manusia. Dengan memastikan aksesibilitas yang baik, kita dapat menciptakan lingkungan yang setara dan adil bagi semua individu, tanpa memandang perbedaan mereka. Ini melibatkan perencanaan yang bijaksana, desain yang inklusif, dan kesadaran akan kebutuhan dan hak individu yang beragam.