Categories
Komunitas

Sashiko, Seni Terapi untuk Jiwa yang Tenang

Hanya dengan melihat hasil sulam, Deenar Tan bisa menilai apakah seseorang sedang mengalami stres atau memiliki mood yang baik. Pada level ekstrem, seseorang yang emosional bahkan bisa mematahkan jarum sulamnya.

Teknik sulam sashiko memperlihatkan keindahan di dua sisi, yakni sisi luar yang menjadi pola utama dan sisi dalam yang menjadi tapak sulam. Acapkali hasil sulam terlihat indah dari luar, sedangkan di bagian dalamnya terlihat semrawut.

“Dari luar sangat bagus, tetapi begitu dibalik, nah ketahuan. Ibarat pribadi, hasil sulam sashiko harus terlihat indah dari luar maupun dari dalam,” kata Deenar Tan, founder InnerChild, seraya menunjukkan hasil sulamnya pada tote bag berbahan canvas.

Prasyarat menyulam sashiko adalah harus melakukannya dengan tenang karena keindahan teknik ini berorientasi pada detail. Setiap tusukan jarum harus memiliki jarak yang sama dan kekuatan tarikan yang sama pula. “Menarik benangnya pun harus pakai hati. Kalau terlalu kuat bisa putus, kalau terlalu lemah kurang rapat,” sambung dia kepada belasan peserta workshop “Mindful Consumption with Sashiko” bersama Deenar Tan dan Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, di Santee Kopi, Kadipiro, Kota Solo, Kamis (1/5/2025).

Banyak orang memanfaatkan sashiko sebagai seni terapi untuk membangun jiwa yang tenang. Sebab, teknik ini mengajarkan kehadiran diri dan jiwa secara penuh saat menyulam, bukan sekadar mengisi waktu kosong. Proses ini terlihat saat menusukkan jarum, mengatur jarak, dan menarik benang.

Sashiko juga mengajarkan bahwa sumber daya seperti benang adalah berharga. Saat sulaman berujung kusut, seseorang dianjurkan mengurainya dengan sabar alih-alih menggunting begitu saja dan memulai dari nol. “Sashiko membantu mindful consumption dengan mengajarkan kita untuk lebih menghargai barang yang kita miliki. Proses dalam sulam sashiko mengajarkan kita untuk memanfaatkan secara bijak dan memaksimalkan nilai guna barang dengan kesadaran penuh untuk memakai ulang atau mendonasikannya saat tak lagi membutuhkan,” terang Deenar.

Dikutip dari Instagram @innerchild.ink, Sashiko sendiri merupakan teknik sulam tradisional dari Jepang yang popular pada masa Edo (1603-1868). Metode ini kerap dipakai untuk menghias atau memperbaiki pakaian atau kain yang rusak. Sashiko diambil dari kata “sasu” yang berarti menusuk dan “ko” yang berarti lubang. Secara etimologis, sashiko dimaknai sebagai “menusuk dengan jarum.”

Ada beberapa pola khas sashiko yang jamak ditemui, meliputi asanoha dengan pola daun rami yang melambangkan pertumbuhan dan perlindungan; kikko dengan pola kura-kura yang merepresentasikan umur panjang dan perlindungan; serta seigaha atau gelombang laut yang memberi makna kedamaian dan keberuntungan.

Categories
Gaya Hidup

Cara Bijak Mengonsumsi Barang

Setiap individu harus memiliki kesadaran penuh saat mengonsumsi barang atau memutuskan membeli sesuatu. Sebab, di dalamnya termuat tanggung jawab pribadi kepada sosial dan lingkungan. Alih-alih memenuhi kebutuhan dasar hidup, konsumsi yang didorong emosi demi memuaskan ego sesaat hanya akan berujung pada penyesalan.

“Saya suka membeli brand tertentu. Kalau muncul model baru, saya beli lagi. Bahkan, saya mau PO (purchase order) juga dan menunggu beberapa pekan. Bahkan, terkadang saya sampai lupa pernah membeli ini,” ujar seorang peserta menceritakan pengalamannya mengoleksi tas idamannya.

Seorang peserta lain menceritakan pengalamannya berbelanja bahan makanan untuk stok memasak di rumah selama 3-7 hari ke depan. Begitu sampai di rumah, dia menyimpannya di kulkas. Namun, rencana memasak hanya berujung sekadar rencana.

“Saya suka merasa bersalah setelah membeli. Tapi (merasa) bersalahnya sama suami. Ibu-ibu kadang mau cepat-cepat (mengumpulkan bahan makanan) tetapi lama-lama enggak jadi (memasak),” tutur dia, dalam sebuah Workshop Art Therapy bertajuk “Mindful Consumption with Sashiko” Bersama Psikolog Klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, dan founder InnerChild, Deenar Tan, hasil kolaborasi dengan Ruang Solidaritas Joli Jolan di Santee Kopi, Kamis (1/5/2025).

Pengalaman-pengalaman di atas jamak dialami semua manusia. Keputusan membeli suatu barang kerap terjadi hanya dengan melihat bentuknya yang lucu, unik, stoknya yang makin sedikit atau sekadar angan-angan suatu hari akan membutuhkan produk tersebut.

Model konsumsi ini seringkali didorong oleh emosi, misalnya saat seseorang stres lalu memutuskan berbelanja sebagai bentuk coping. Selain itu, rasa bosan yang diisi dengan scroll-scroll lokapasar daring seringkali berakhir dengan check out produk-produk karena ketertarikan sesaat. Serangkaian proses itu berdampak pada sebuah penyesalan, penumpukan barang, dan risiko finansial. Tanpa disadari, pola ini membawa seseorang pada perilaku konsumtif.

“Proses pembelian barang ini seringkali didominasi oleh FOMO (fear of missing out) dan pemenuhan ego. Ada tren karena takut ketinggalan, pengaruh influencer, dan media sosial yang mendorong budaya konsumsi. Pemenuhan ego berpengaruh pada tujuan citra diri dan validasi sosial,” kata Adis, panggilan akrabnya.

Berbelanja dengan Penuh Kesadaran

Untuk mencegah praktik konsumerisme, Adis mengajak setiap orang untuk mengajukan beberapa pertanyaan reflektif terlebih dahulu sebelum memutuskan berbelanja: apakah aku membeli karena butuh atau hanya karena ingin? Apakah aku sadar saat membeli atau membeli tanpa keputusan matang? Apakah ada alternatif lain untuk mendapatkan barang yang sama?

Pertanyaan ini penting dan relevan karena aktivitas konsumsi manusia sedikitnya terbagi ke dalam tiga kelompok yakni: kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan hasrat (desires). Needs bersifat memenuhi kebutuhan esensial untuk menjalankan fungsi dasar hidup. Seseorang membutuhkan jaket saat naik ke puncak gunung. Sebab, tanpa jaket dia bisa mati kedinginan.

Sebaliknya, keinginan hanya bersifat tambahan yang membuat seseorang merasa hidup nyaman. Pemenuhan pada kelompok ini sejatinya tidaklah esensial atau utama. Misalnya, seseorang harus memiliki sepatu dengan brand tertentu. Fungsi sepatu tetap sebagai alas kaki, tetapi brand tertentu ini hanyalah keinginan.

“Terakhir, yang paling berbahaya, desires. Karena dorongan emosional, yang membeli jadi puas. Padahal, puas tidak pernah selesai. Dia akan naik terus,” imbuh Adis.

Untuk mengatasi pola konsumsi yang emosioanl ini, Adis menganjurkan agar menyiapkan catatan sebelum bepergian ke suatu tempat. Hal ini untuk mencegah keinginan-keinginan yang mendadak muncul saat tiba di tujuan. Menyiapkan catatan ini penting sebab seringkali orang-orang bepergian tanpa tujuan yang jelas.

Tip sederhana lain untuk membangun kebiasan mengonsumsi dengan kesadaran penuh adalah dengan mempraktikan SMART yang terdiri atas: stop and think, mindful questions, assess alternative, review what you have, dan take your time.

“Saat mau membeli, seseorang harus mempertimbangkan kebutuhan, nilai apakah ini sesuai dengan diri sendiri dan orang lain serta tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan,” imbau Adis.

Categories
Komunitas

Berkesadaran dengan Sashiko

Konsumsi berlebihan sudah menjadi pola hidup sebagian masyarakat, yang tentunya berdampak terhadap lingkungan. Efeknya turut mempengaruhi kesehatan mental, bisa berupa kecemasan, stres, hingga kepuasan hidup yang palsu.

Menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan hari-hari ini tampaknya semakin penting. Tak hanya untuk mengenali diri, tetapi juga untuk membantu meringankan beban bumi. Art therapy melalui metode sashiko pun hadir menjadi alternatif menuju konsumsi berkesadaran, mengurangi stres, sekaligus menghasilkan karya estetik.

Sashiko adalah teknik menjahit tradisional Jepang yang awalnya dibuat untuk memperbaiki kain sobek. Namun sashiko bukan hanya tentang kain dan menyulam. Ada filosofi mendalam bahwa sesuatu yang pernah rusak bisa jadi lebih indah saat dirajut kembali dengan cinta dan kesabaran.

Dalam workshop kali ini, InnerChild bakal mengajak bereksperimen sashiko dengan media celana jin denim yang disediakan oleh Joli Jolan. Setiap prosesnya akan kita maknai bersama sebagai upaya membangun diri yang pernah retak, tentang menerima masa lalu, dan memulainya kembali dengan lebih kuat.

Sebelum menyelami diri bersama sashiko, psikolog klinis RS Indriati Boyolali, Xavera Adis, akan menyampaikan insight tentang mindful consumption. Praktik konsumsi secukupnya dan manfaatnya terhadap kesehatan mental juga akan dieksplorasi secara mendalam.

Segera daftarkan diri kalian ya kawan-kawan, kuota terbatas. Sampai jumpa 1 Mei!

Pendaftaran: bit.ly/MindfulwithSashiko
Informasi: Damai (088232117938)