Categories
Reportase

Mendamba Bank Pangan yang Berkelanjutan

SOLO—Kota Solo telah dideklarasikan sebagai Kota Cerdas Pangan sejak akhir 2020. Predikat tersebut mendorong Kota Bengawan membenahi sistem produksi, distribusi, dan konsumsi yang adil serta menjamin hak warga atas pangan. Salah satu gagasan pemerataan distribusi makanan salah satunya adalah penyediaan food bank (bank pangan) di penjuru Kota Solo.

Bank pangan adalah wadah penyaluran kelebihan makanan dari warga maupun pelaku usaha kuliner untuk didistribusikan kembali pada warga yang membutuhkan. Aktivis bank pangan juga mengumpulkan makanan berlebih dari restoran, katering, hotel, hingga acara pernikahan, dan donasi individu untuk disalurkan, tentunya dengan sejumlah uji kelayakan.

Sejauh ini inisiatif tersebut sudah muncul dari beberapa komunitas maupun individu. Namun upaya itu masih sebatas mencakup tataran RT, RW, atau kampung. Perlu sinergi dari pemerintah maupun kalangan usaha untuk mewujudkan bank pangan yang berkelanjutan. Yayasan Gita Pertiwi menjadi salah satu elemen yang konsisten mendorong terwujudnya bank pangan di Kota Bengawan. Sejauh ini Gita Pertiwi telah mendirikan bank pangan yang dinamai Etalase Berbagi di sejumlah lokasi di Soloraya, bekerjasama dengan Rikolto dan Carefood.

Bank Pangan Gita Pertiwi. Warga mengambil makanan gratis di bank pangan yang disediakan Gita Pertiwi, Rikolto dan Carefood di Kota Solo beberapa waktu lalu.

Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan bank pangan menjadi solusi alternatif untuk mengatasi problem kelebihan dan kekurangan makanan di masyarakat. Solo dinilai punya potensi besar untuk menginisiasi bank pangan karena memiliki banyak usaha kuliner yang beragam. Menurut Titik, toko atau restoran biasanya memiliki makanan layak konsumsi tapi tidak lolos uji untuk dijual atau makanan yang mendekati kedaluwarsa. “Daripada dibuang, makanan itu bisa didistribusikan ke food bank,” ujar Titik dalam diskusi Refleksi 30 Tahun Gita Pertiwi, Satu Tahun Surakarta Cerdas Pangan di Sala View belum lama ini.

Gerakan Global

Bank pangan adalah gerakan global. Inisiatif tersebut berawal di Amerika Serikat medio tahun 1967. Saat itu lahir St. Mary’s Food Bank yang beroperasi di Phoenix, Arizona. Di Negeri Paman Sam, bank pangan biasa berbagi makanan gratis menjelang liburan Thanksgiving. Makanan merupakan hasil donasi toko serba ada maupun masyarakat. Lambat laun gerakan pemerataan pangan itu tumbuh di banyak negara, termasuk Indonesia. Tahun 2015, Indonesia memiliki Foodbank of Indonesia (FoI) yang mencakup 39 daerah di Jawa dan luar Jawa. Selain FoI, ada food bank yang telah berkembang besar bernama Garda Pangan. Hingga Januari 2022, bank pangan yang beralamat di Surabaya itu telah menyalurkan 347.290 porsi makanan untuk 136.068 penerima manfaat, dilansir gardapangan.org.

Di Solo, Gita Pertiwi menyebut cukup banyak pelaku usaha yang telah memiliki kesadaran untuk berbagi makanan. Ada sebuah toko roti yang sanggup menyediakan 150 roti per hari untuk dibagi gratis ke masyarakat. Beberapa usaha hotel dan katering juga mulai mengelola makanan sisa kegiatan yang masih layak untuk dibagikan. “Sebenarnya banyak perusahaan atau donatur yang mau membantu. Namun kami punya keterbatasan sumber daya,” imbuh Titik. Gita Pertiwi terus mendorong Pemkot untuk turut membantu mewujudkan bank pangan di wilayah kota. Menurut Titik, Pemkot memiliki akses dan kewenangan lebih untuk mengenalkan model bank pangan di masyarakat. “Keberadaan food bank juga mendukung Solo Kota Cerdas Pangan karena mengurangi food waste [limbah makanan],” kata dia.

Ribuan bank pangan di penjuru dunia tidak menggunakan model serupa dalam gerakannya. Sejumlah model food bank yang populer adalah model “garis depan” dan “gudang”. Bank pangan dengan model garis depan menyalurkan langsung makanan mereka ke orang-orang yang membutuhkan. Sementara bank makanan dengan model gudang menyuplai makanan melalui perantara, seperti komunitas maupun organisasi nirlaba. Model lain yang cukup populer adalah model amal dan serikat pekerja. Bank makanan dengan model amal menyumbangkan makanan dengan maksud menyelamatkan makanan sisa agar tidak menjadi limbah. Sementara itu, bank pangan serikat pekerja turut memberikan edukasi seputar hak asasi manusia dan pekerjaan.

Ruang Solidaritas Joli Jolan menjadi komunitas yang memiliki bank pangan model garis depan. Mereka mengelola donasi makanan maupun sembako untuk disalurkan langsung di halaman Joli Jolan setiap hari Sabtu. Kadang bank pangan Joli Jolan (Food not Bombs) juga mendistribusikan makanan di hari lain, tergantung kiriman donasi dari masyarakat. Saat awal pandemi tahun 2020 lalu, bank pangan Joli Jolan intens menyalurkan makanan siap santap dan sembako bagi warga terdampak. Mereka menamai gerakan itu Lumbung Pangan. Sebuah ruang kosong di kompleks Joli Jolan saat itu disulap menjadi etalase sembako dan dapur umum yang mengepul setiap hari.

Joli Jolan. Bank pangan di Ruang Solidaritas Joli Jolan membagikan paket nasi, mie instan, sayur, hingga buah-buahan gratis belum lama ini.

Vice President Programs at The Global FoodBanking Network, Douglas L. O’Brien, mengatakan pandemi Covid-19 membuka fakta betapa rapuhnya sistem ketahanan pangan di dunia. Douglas menyebut bahan makanan yang tersedia sebenarnya cukup. Namun problem distribusi dan pemerataan pangan tetap saja muncul. Bank pangan pun menjadi krusial di saat jutaan orang kesulitan mengakses bantuan. “Di Indonesia dan seluruh dunia, kami berkomitmen menjaga gudang food bank terjaga, truk tetap berjalan, dan makanan bernutrisi tersedia untuk populasi paling terdampak di dunia,” ujar Douglas dalam Webinar “Foodcycle World Food Day”, 9 Oktober 2020.