Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Reportase

Program AI&Me Memberdayakan Anak Muda, Mewujudkan Kota Layak Huni

Kota Surakarta, tanggal 11 Desember 2025, secara resmi meluncurkan komponen Indonesia dari program AI&Me: Memberdayakan Pemuda untuk Kota yang Layak Huni. Peluncuran ini menandai masuknya Indonesia ke dalam kerangka kerja inovatif yang menempatkan anak muda pada garis depan perbaikan keselamatan jalan raya perkotaan.

Urgensi inisiatif ini ditekankan oleh data nasional dan lokal yang mencolok. Pada tahun 2025, menurut BPS Indonesia, lebih dari setengah populasi Indonesia terdiri dari anak-anak dan anak muda berusia 0 hingga 34 tahun. Namun, kelompok usia yang sama ini menyumbang lebih dari setengah korban kecelakaan lalu lintas, seperti dilaporkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Di Surakarta khususnya, menurut BPS Kota Surakarta, ada lebih dari 1.200 kecelakaan lalu lintas pada tahun 2023, yang mengakibatkan 59 korban jiwa dan 1.404 korban dengan luka ringan.

Angka-angka yang mengkhawatirkan ini menjadikan Surakarta sebagai kota yang ideal untuk program AI&Me: Pemberdayaan Anak Muda untuk Kota yang Layak Huni. Inisiatif ini berfungsi sebagai pendekatan strategis dalam advokasi keselamatan jalan dengan memberikan rekomendasi untuk jalan yang lebih berkeselamatan di sekitar sekolah dan berkontribusi pada Rencana Aksi Keselamatan Jalan yang diamanatkan oleh Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2022 tentang Rencana Umum Nasional untuk Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Workshop pemangku kepentingan yang diadakan di Hotel Alila pada Kamis (11/12/25), mempertemukan pejabat pemerintah daerah, pemimpin pendidikan, dan pakar keselamatan jalan raya internasional untuk meluncurkan program yang bertujuan mengubah cara Surakarta menangani tantangan keselamatan jalan raya yang berdampak terhadap populasi anak muda. Acara tersebut ditandai dengan penandatanganan secara simbolis Memorandum of Understanding antara Wali Kota Surakarta dan Transportologi, konsultan utama yang mengimplementasikan inisiatif ini di Indonesia, untuk mengukuhkan kemitraan mereka dalam menciptakan jalan yang lebih aman bagi anak muda kota.

“Tabrakan lalu lintas tetap menjadi penyebab utama kema an bagi anak-anak dan dewasa muda di seluruh dunia, termasuk di kota kita,” kata Sukma Laras , Direktur Transportologi selama workshop. “Program AI&Me memberdayakan pemuda untuk mengiden fikasi masalah keselamatan jalan di komunitas mereka dan memas kan suara mereka secara aktif berkontribusi pada solusi.”

Kerangka kerja AI&Me telah berhasil diimplementasikan di Vietnam dari tahun 2022 hingga 2024 dan kini sedang diperluas ke Indonesia dengan dukungan dari International Road Assessment Programme (iRAP), AIP Foundation, dan Youth for Road Safety (YOURS) sebagai bagian dari
AI&Me: Pemberdayaan Anak Muda untuk Kota yang Layak Huni, yang didanai oleh Fondation Botnar dan FIA Foundation. Inisiatif ini mencakup tiga komponen teknologi utama yang bekerja secara terintegrasi: Penyaringan Mahadata (Big Data Screening) mengidentifikasi sekolah-sekolah berisiko tinggi, Aplikasi Pelibatan Pemuda (Youth Engagement Apps/YEA) memungkinkan siswa melaporkan masalah keamanan, dan Penilaian Pemeringkatan Bintang untuk Sekolah (Star Rating for School/SR4S) memvalidasi temuan dan mengarahkan perbaikan infrastruktur.

Program di Surakarta akan fokus pada setidaknya tiga sekolah berisiko tinggi, melibatkan sekitar 300 murid. Melalui Aplikasi Partisipasi Anak Muda (YEA), murid akan mendokumentasikan masalah keselamatan jalan di sekitar sekolah mereka. Bersama dengan hasil penilaian SR4S, wawasan ini akan menyediakan data berbasis bukti untuk menginformasikan investasi infrastruktur pemerintah. Program ini akan berlangsung hingga 2027 dan mencakup rencana untuk sesi pelatihan utama, kampanye keterlibatan komunitas, advokasi infrastruktur, dan workshop penutupan untuk menjajaki peluang perluasannya.

Dengan memberikan alat dan platform kepada generasi muda untuk membentuk lingkungan mereka sendiri, Surakarta tengah menginisiasi pendekatan yang berpotensi mengubah upaya keselamatan jalan raya di seluruh Indonesia dan lebih luas lagi.

Tentang Transportologi

Transportologi (Center for Sustainable Mobility Studies Transportologi) adalah firma konsultan Indonesia yang berkomitmen untuk mempromosikan mobilitas berkelanjutan sebagai hak asasi manusia yang fundamental. Didirikan sebagai komunitas pada April 2017 dan secara resmi didirikan sebagai PT Pusat Studi Mobilitas Lestari Transportologi pada Oktober 2023, organisasi ini menyediakan keahlian khusus dalam konsultasi mobilitas perkotaan dan transportasi untuk mendukung pengembangan lokal, regional, dan nasional.

Organisasi ini didorong oleh keyakinan bahwa transformasi mobilitas yang lestari dimulai dengan memenuhi kebutuhan mobilitas manusia yang aksesibel, adil, sehat, rendah emisi, dan tangguh, sambil memastikan kelestarian planet. Organisasi ini memberikan bantuan teknis untuk perencanaan mobilitas dan transportasi lestari, membantu kota dan wilayah mewujudkan sistem transportasi yang memprioritaskan manusia dan lingkungan. Sebagai konsultan utama program AI&Me di Indonesia, Transportologi membawa komitmen ini untuk pemberdayaan anak muda dan perbaikan keselamatan jalan berbasis bukti di Surakarta dan sekitarnya.

Categories
Sudut Joli Jolan

Tilikan Fest 2024: Joli Jolan Ramaikan Skena Distribusi

Akhir pekan ini Joli Jolan akan ikut berpartisipasi di Festival Literasi Seni Solo, TILIKAN FEST. Acara ini akan digelar selama tiga hari, Jumat-Minggu (20-22/9/2024) di Lokananta Bloc. Ada banyak pertunjukan, diskusi, workshop, dan komunitas-komunitas keren yang bisa kawan temukan di acara ini.

Joli Jolan sendiri bakal berpartisipasi di kegiatan Koleb Konek, wadah yang mempertemukan komunitas independen di Solo dan sekitarnya. Masuk di skena distribusi, Joli Jolan akan membawa beberapa barang yang bisa diakses secara gratis ataupun barter seperti pakaian, bahan bacaan, tas, sepatu, dan aksesoris lain.

Selain itu, kami akan membawa sejumlah merch seperti kaus, pouch stiker, bordir yang bisa kawan beli untuk mendukung gerakan Joli Jolan. Di Tilikan Fest, Joli Jolan juga bakal memperkenalkan produk upcycle terbaru. Belum lama ini, kami bekerja sama dengan sebuah usaha mikro untuk mengolah donasi pakaian tak layak menjadi produk keset.

Jadi jangan sampai terlewatkan acaranya ya! Sila mampir dan memanfaatkan ruang distribusi kami, atau sekadar diskusi untuk membuka peluang-peluang kolaborasi di masa depan. Untuk galeri Kerten, Sabtu pekan ini kami izin tutup dulu. Layanan di Kerten akan kembali seperti biasa mulai Sabtu, 28 September 2024.

Panjang umur solidaritas!

Categories
Komunitas

Sosialisasi Problematika Fast Fashion di SMA Negeri 7 Surakarta

Acap terdengar istilah fast fashion yang identik dengan merek fesyen terkenal dari Jepang, Swedia, dan Spanyol yang digemari oleh anak-anak muda Indonesia masa kini. Gerai produk fast fashion pun dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.

Fast fashion menurut pengamatan dan pengalaman Joli Jolan adalah fesyen yang diproduksi secara cepat dan dalam jumlah banyak mengikuti tren yang berlaku di suatu wilayah atau mengikuti kebutuhan berdasarkan musim. Fast fashion mendorong pelanggan memutuskan untuk membeli dengan cepat karena harganya yang terjangkau dan proses distribusinya yang cepat sehingga mudah diperoleh. Masa pakainya pun juga cepat (pendek) karena kualitas bahannya yang rendah sehingga mendorong pembeli untuk kembali membeli model lainnya atau sesuai musim.

Jumat, 22 September 2023, bertempat di SMAN 7 Surakarta, Joli Jolan diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan YACT (Youth Agriculture) Goes to School yang diselenggarakan oleh IAAS LC UNS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Universitas Sebelas Maret). Peserta YACT Goes to School ini adalah peserta didik yang mewakili kelas masing-masing.

Para peserta didik terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang problematika fast fashion dari narasumber. Bahkan ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta didik yang bisa jadi merupakan kegelisahan semua peserta, “Apakah penggunaan fast fashion harus ditentang?” Menurut Kak Septi yang mewakili Komunitas Joli Jolan sebagai narasumber, yang harus disikapi dalam penggunaan fesyen adalah apabila dalam proses produksinya mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.

Lalu, bagaimana cara menyikapi fast fashion dari sisi masyarakat? Jawabannya adalah dengan membeli fesyen yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti yang sedang dikenakan Kak Septi, yaitu eco-print. Bisa juga seperti yang dilakukan Kak Atikah salah satu relawan Joli Jolan yang memanfaatkan kembali kain batik tulis peninggalan ibu dengan cara upcycle, yakni mengubah bentuk dan manfaat dari selembar kain batik menjadi model dress. Atau bisa juga seperti yang dilakukan oleh Kak Lala dan Kak Damai, relawan Joli Jolan lainnya, dengan memperpanjang manfaat baju dari galeri Joli Jolan untuk dikenakan sesuai kebutuhan.

Upaya Joli Jolan dalam Menyikapi Fast Fashion

Berangkat dari kegelisahan para pendiri Joli Jolan atas konsumerisme yang terjadi di masyarakat, terutama di perkotaan, gerakan Joli Jolan menjawab pertanyaan dalam menyikapi fast fashion. Sebenarnya prinsip pengelolaan ruang solidaritas Joli Jolan seperti pengelolaan sampah, yaitu 3R (Reduce, Reuse and Recycle) atau dalam bahasa Jawa disebut 3 Ng, Ngelongi, Nggunakke, Ngolah. Dari ketiga prinsip tersebut, kegiatan utama lebih banyak pada Reuse atau Nggunakke. Dalam Komunitas Joli Jolan biasanya menggunakan istilah redistribusi kepemilikan barang.

Gerakan Joli Jolan bukanlah gerakan charity, hanya sekali berkegiatan pemberian barang kepada yang membutuhkan tanpa keberlanjutan. Sampai dengan saat ini anggota Joli Jolan terus bertambah dengan jumlah keanggotaan mencapai sekitar 2.000 orang. Joli Jolan sendiri adalah ruang pertemuan antara orang yang membutuhkan barang dengan orang yang sudah tidak membutuhkan barangnya lagi, sehingga barang yang ada dalam galeri Joli Jolan dapat diperpanjang masa manfaatnya. Memperpanjang masa manfaat atau meredistribusi kepemilikan berarti barang tidak lekas menjadi sampah karena kehilangan manfaatnya.

Semakin cepat perputaran barang di galeri Joli Jolan maka semakin berkelanjutan gerakan ini karena mencegah barang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk tidak lekas masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Barang-barang yang masuk ke galeri Joli Jolan seharusnya berakhir di tempat sampah oleh pemilik sebelumnya. Namun, Galeri Joli Jolan berupaya untuk memperlambat bahkan mengurangi beban bumi dalam mengurai sampah, seperti sampah fesyen yang sampai dengan saat ini belum bisa dikelola atau dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomis layaknya sampah plastik.

Oleh karena itu, sikap yang paling bijak dalam menghadapi fast fashion adalah mengelola barang pribadi secukupnya. Sebab, siklus fast fashion menurut Kak Septi terbagi dalam 3 tahapan, yaitu:

  1. Saat proses produksi. Untuk mengejar skala ekonomi maka produksinya dibuat massal dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pascaproduksinya pun menyisakan air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Hal inilah yang dinamakan tidak berkelanjutan (unsustainable) karena merusak lingkungan dengan mencemari ekosistem sungai dan tanah.
  2. Saat pemanfaatan produk. Pergantian musim, cara berpakaian para influencer atau public figure, tren fesyen, bahkan rasa ingin bernostalgia mendorong masyarakat untuk membeli produk fast fashion yang harganya terjangkau. Masa pemanfaatan fesyen ini pun biasanya sangat pendek, bisa sekali atau dua kali pakai. Bahkan apabila dipakai terus-menerus, dalam waktu 3 bulan fesyen ini pun sudah tidak lagi layak pakai. Masa pemanfaatan yang pendek ini akan mengakibatkan laju timbulan sampah yang semakin besar. Hal ini tidak berkelanjutan, karena pengelolaan sampah fesyen masih terkendala dalam proses recycle atau ngolah. Agar memiliki nilai ekonomis, diperlukan proses pengolahan kembali yang akan memakan waktu panjang agar layak jual, sehingga ada keengganan untuk mengolah. Hal ini tentunya tidak berkelanjutan jika dilihat dari sudut pandang sirkular ekonomi.
  3. Pasca-pemanfaatan. Saat fesyen sudah tidak digunakan lagi maka tindakan yang biasanya dipilih masyarakat adalah dengan memberikannya kepada orang lain apabila masih layak atau membuangnya. Ternyata sampah fesyen banyak ditemukan di aliran sungai.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah fast fashion sepanjang proses produksi, pemanfaatan, hingga masa pasca-pemanfaatan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap pekerja yang terlibat dalam industri ini. Beberapa peserta didik menyatakan memiliki baju dengan merk internasional yang tergolong fast fashion karena menurut mereka bahannya adem, awet, nyaman dipakai, dan harganya yang terjangkau.

Referensi
Crumbie, A. (2021) What is fast fashion and why is it a problem? | Ethical Consumer. Available at: https://www.ethicalconsumer.org/fashion-clothing/what-fast-fashion-why-it-problem (Accessed: 23 September 2023).

Categories
Komunitas

patjarmerah Solo: Simpul Kolaborasi dan Gotong Royong Literasi

Kabar bertumbangannya satu per satu toko buku besar di Indonesia memunculkan sejumlah asumsi terkait perkembangan literasi di Indonesia. Tuduhan bahwa minat literasi Indonesia rendah kembali dilontarkan, bersamaan dengan persaingan buku cetak dengan buku elektronik, dan juga pembajakan yang tak kunjung berhasil diatasi.

Pada saat kabar itu terdengar dan menjadi pembahasan panas di media sosial, patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara justru mengumumkan mereka akan bergerak menuju Solo. Toko buku mereka pun buka di Pos Bloc Jakarta dan Fabriek Bloc Padang. Mengapa pada saat toko buku-toko buku besar banyak yang gulung tikar, patjarmerah justru tetap bisa berkeliling dan berkembang?

“Karena kami dirawat oleh semangat kolaborasi dan gotong royong literasi,” kata Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah. Kesadaran bahwa buku harus dipercakapkan dan harus menciptakan ruang interaksi inklusif adalah salah satu alasan yang mendorong kelahiran patjarmerah. “Kami masih berpegang pada semangat itu. Itu juga masih menjadi DNA kami.” Kolaborasi dan gotong royong membuat apa-apa yang terasa tidak mungkin menjadi mungkin untuk diwujudkan. Membuat pasar buku dan festival secara berkeliling untuk mendekatkan akses literasi membutuhkan banyak pertaruhan. Beruntungnya, di setiap tempat kami selalu mendapati kawan-kawan yang punya semangat sama, di Solo salah satunya.

Literasi Pendorong Revitalisasi Tradisi

Solo memiliki rekam jejak yang panjang, tidak hanya dalam dunia pergerakan, tetapi juga literasi. Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa pondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari literasi.

Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Solo, sehingga mendukung patjarmerah Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, kata Mufti, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

“Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat,” katanya. “Dan itu harus diupayakan bersama-sama, beramai-ramai, bergotong royong.”

Selain keterlibatan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Solo, sejumlah penulis, penerbit, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas-komunitas kreatif di Solo juga turut terlibat. Mereka berkolaborasi dengan penulis, pegiat literasi, pekerja kreatif berbagai bidang, dan komunitas dari luar Solo. Ada satu juta buku terbitan lebih dari 100 penerbit di Indonesia, juga lebih dari 100 pembicara pilihan mengisi festival literasi patjarmerah di Solo.

“Selain ada Ratih Kumala, Joko Pinurbo, Reda Gaudiamo, Yusi Avianto Pareanom, Ivan Lanin, Martin Suryajaya, Felix K. Nessi, para penulis dan kawan-kawan Solo dari berbagai bidang kreatif pun hadir,” kata Ringgana Wandy Wiguna, salah satu relawan patjarmerah Solo yang bertugas di Divisi Komunikasi. Ia menyebut nama Indah Darmastuti, Yudhi Herwibowo, Panji Sukma, Jungkat-Jungkit, Fanny Chotimah, dan lain-lain. Informasi lengkap terkait acara festival ini bisa dilihat di patjarmerah.com/solo.

patjarmerah Solo akan diadakan pada 1-9 Juli 2023 di Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo. Bangunan ini adalah salah satu cagar budaya yang penting bagi Solo karena merupakan bagian dari sejarah perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Kerajaan Masa Mataram Islam.

Categories
Gagasan

Air Minum Aman Adalah Hak Asasi Warga

Air bersih bukanlah komoditas melainkan common goods (barang bersama) yang bisa diakses dan terdistribusikan ke semua kalangan. Namun seringkali dalam praktiknya, hanya beberapa kelompok tertentu yang memiliki akses terhadap air dan sanitasi yang bersih. Masih terdapat beberapa komunitas masyarakat lain yang hidup di tengah kekeringan air dan kualitas air yang tidak aman untuk dikonsumsi.

Keadaan ini tergambarkan dari perjalanan saya pada tanggal 25 Juni 2023, saat mengikuti agenda susur kampung di bantaran anak sungai Bengawan Solo di kota Surakarta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh kolaborasi @joli_jolan dengan @airsanitasi.

Poin penting yang saya catat dari penelusuran tersebut adalah masih adanya ketimpangan akses terhadap air di lokasi tersebut. Walaupun masyarakat memiliki sumber air dari air tanah, tetapi kualitas airnya terindikasi tercemar. Hal ini lantaran lokasi sumur berdekatan dengan anak sungai Bengawan Solo yang dicemari oleh limbah domestik dan industri.

Keadaan ini diperparah dengan sistem sanitasi masyarakat yang langsung dialirkan ke sungai. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sungai tersebut berubah warna menjadi cokelat akibat limbah-limbah yang ada. Bahkan sebagian masyarakat yang memiliki uang lebih lebih memilih membeli air gallon untuk digunakan memasak dibandingkan mengambil dari air sumur tersebut.

Masalah ini berimplikasi pada kualitas kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Saya mendengar cerita dari pak RT setempat bahwa terdapat beberapa anak yang mengalami stunting. Beberapa penelitian membuktikan bahwa air dan sanitasi yang tidak aman menjadi salah satu pemicu terjadinya stunting.

Air Adalah Hak Dasar Manusi

Air adalah hak dasar manusia yang wajib terpenuhi, sehingga hak asasi manusia tidak akan tercapai tanpa hak atas akses air yang bersih. Pada tahun 2002, definisi hak atas air telah dinyatakan secara jelas dalam General Comment No. 15 PBB tentang hak atas air oleh Committee on Economic, Social and Cultural Rights (CESCR).

“Hak asasi manusia atas air memberikan hak kepada setiap orang atas air yang cukup, aman, dapat diakses secara fisik, dan terjangkau untuk penggunaan pribadi dan rumah tangga. Air bersih dalam jumlah yang memadai diperlukan untuk mencegah kematian akibat dehidrasi, mengurangi risiko penyakit yang berhubungan dengan air dan menyediakan kebutuhan konsumsi, memasak, kebersihan pribadi, dan rumah tangga” (Komentar Umum PBB (PBB) No. 15)”.

Saya percaya bahwa pemenuhan hak masyarakat atas air ini membutuhkan kolaborasi besar antarstakeholders untuk saling bahu-membahu menyelesaikan permasalahan yang kompleks tersebut, mulai dari proses sosialisasi, advokasi, implementasi hingga operasionalnya nanti. Diharapkan upaya ini mampu menjaga ketersediaan, kelestarian, dan akses air bersih hingga ke depan.

Categories
Reportase

Berharap Akses Air dan Sanitasi Layak yang Merata

Air adalah hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Air menjadi sumber kehidupan dan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan sistem penyediaan air minum yang berkualitas dan sehat serta terintegrasi kepada sektor sanitasi. Apabila kebutuhan ini terpenuhi maka manusia dapat hidup sehat dan produktif.

Minggu, tanggal 25 Mei 2023 Ruang Solidaritas Joli Jolan bersama USAID IUWASH Tangguh mengadakan kegiatan susur kampung dan workshop menulis dengan tema “Mengenal akses air minum dan sanitasi warga surakarta”. Kegiatan susur kampung ini dilaksanakan di kampung Gilingan, Banjarsari, sebuah area perkampungan padat penduduk yang berada di bantaran kali Anyar, anak sungai Bengawan Solo.

Menurut informasi yang kami terima dari pemaparan ketua RT dan warga setempat, ternyata kebutuhan air bersih yang layak masih sangat dibutuhkan di kawasan tersebut. Dari sekitar 90 rumah untuk 1 kawasan RT, hanya terdapat 7 rumah yang memiliki sumur dan 2 titik fasilitas MCK umum/bersama. Dari 7 rumah tersebut, tidak semua kebutuhan air minum warga diambil dari air sumur karena kualitas air terindikasi tercemar. Bau air yang kadang tidak sedap dan rasa air yang tidak layak minum menjadi alasan yang kuat untuk tidak mengonsumsi air tersebut. Akhirnya warga pun memilih untuk membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan minum warga.

Kualitas air yang kurang baik di kawasan kampung tersebut berbanding lurus dengan kondisi kesehatan warga, baik dewasa maupun anak-anak. Salah satu yang cukup kentara adalah beberapa kasus stunting di kampung Gilingan. Hal ini tentunya menjadi masalah yang cukup serius, mengingat kawasan ini berada di lingkungan kota Surakarta yang secara administratif memiliki akses kesehatan yang memadai.

Warga sangat berharap adanya akses air dan sanitasi layak yang merata bagi seluruh warga. Apalagi lokasi tersebut tidak jauh dari pusat kota Surakarta. Akan sangat miris apabila masih menemukan ketimpangan-ketimpangan kebutuhan dasar seperti itu.

Bisa jadi hal ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah kota setempat, melainkan menjadi tugas kita bersama sebagai manusia. Minimal dengan terus-menerus memberikan kesadaran tentang pentingnya kebutuhan dan akses air serta sanitasi yang layak. Menyadari bahwa masih ada wilayah-wilayah yang “belum” terlihat oleh para pemangku kepentingan.

Categories
Reportase

Warga Gilingan dan Mimpi Akses Air Minum yang Layak

Salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah ketersediaan akses untuk air minum bersih dan sanitasi yang aman. Namun, bagaimana jadinya bila ada perkampungan di salah sudut kota Solo yang berdekatan dengan Kawasan wisata baru Masjid Al Zayed yang ternyata tidak memiliki jamban untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK)? Cukup miris tentunya.

Pemandangan pemukiman yang berjejal, rumah-rumah yang berderetan di gang sempit, satu rumah yang dihuni lebih dari 3 kepala keluarga merupakan fenomena yang jamak kita lihat saat berada di kelurahan Gilingan. Pak Andri Prasetyo selaku ketua RT 04 RW 15 kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, menuturkan bahwa kebanyakan warga di tempat tinggalnya tidak memiliki sanitasi yang layak. Tercatat hanya ada 7 rumah dari sekitar 60 rumah yang memiliki septic tank. Bu Jamal, salah satu warga yang memiliki septic tank di rumahnya, mengaku bahwa dari awal sejak memiliki rumah tersebut hingga sekarang sudah 23 tahun belum pernah sekalipun melakukan sedot WC. Padahal sedot WC sebaiknya wajib dilakukan setiap 2 sampai 3 tahun sekali.

Kelurahan Gilingan berada di tepi Kali Pepe. Kali Pepe berada di tengah kota Surakarta yang membentang dari Gilingan-Bendung Karet Tirtonadi- Balapan-Pasar Legi-Pasar Gedhe dan berakhir di Demangan. Di Kali Pepe terdapat tujuh sampai sembilan segmen yang bisa dijadikan tempat pengolahan sumber air bagi warga. Namun, apakah akses sanitasi dan air minum yang mereka gunakan sudah termasuk aman?

Pada hari minggu tanggal 25 Juni 2023 yang lalu, saya dan rombongan peserta yang terdiri dari komunitas, pembuat konten, dan jurnalis mengikuti susur kampung dan workshop menulis yang diadakan oleh USAID IUWASH Tangguh dan Joli Jolan. Dalam kegiatan ini, saya berkesempatan untuk melihat lebih dekat kondisi riil tentang pengelolaan sumber daya air, air minum sanitasi, dan perilaku hygiene masyarakat kelurahan Gilingan.

Menurut penuturan Pak Andri, banyak warganya yang menggunakan 2 sumber air. Air dari sumur digunakan untuk mandi dan mencuci, sedangkan kebutuhan minum dan memasak didapat dengan membeli air isi ulang. Tentu setiap bulan pengeluaran untuk kebutuhan tersebut mencapai ratusan ribu rupiah, tergantung kebutuhan rumah tangganya. Padahal kebanyakan penghasilan mereka tidak seberapa besar, tetapi mereka tetap harus membeli air karena air merupakan kebutuhan vital.

Salah satu rumah warga yang dihuni 6 kepala keluarga dalam satu rumah.

Risiko Stunting Akibat Sanitasi Buruk

Salah satu dampak yang terjadi akibat sanitasi buruk adalah stunting. Sebanyak 1.103 keluarga atau lebih dari 50% dari total 2.085 keluarga di Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, berisiko stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak yang bisa mempengaruhi kondisinya saat dewasa nanti (Sumber: https://soloraya.solopos.com/waduh-50-keluarga-di-gilingan-solo-berisiko-stunting-kenapa-ya-1326800)

Penyebab stunting antara lain kurangnya pengetahuan si ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Hal ini semakin diperburuk dengan terbatasnya akses pelayanan kesehatan termasuk layanan kehamilan, kurangnya akses air bersih dan sanitasi, serta masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.

Puskesmas Gilingan pernah melakukan penelitian terhadap air sumur yang berada di kawasan ini, hasilnya ada yang layak untuk digunakan dan ada yang tidak layak. Padahal sumber air yang diteliti jaraknya berdekatan. Berdasarkan penelitian pada tahun 2016 jumlah penduduk Kota Surakarta sebanyak 514,171 jiwa dan prediksi jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 524,483 jiwa, serta prediksi kebutuhan air pada tahun 2016 sebesar 1,163,428 liter per detik dan pada tahun 2022 sebesar 1.186,763 liter per detik.

Pemerintah Kota Surakarta membutuhkan pasokan air dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan air minum penduduk yang kian bertambah. Penurunan kuantitas air baku menjadi salah satu isu yang dihadapi Perumda Air Minum dalam meningkatkan produksinya. Selain itu, sumber air baku yang digunakan berpotensi terkontaminasi akibat praktik pembuangan air limbah yang tidak aman.

Untuk memperoleh air bersih, kita juga harus memperhatikan sanitasi yang layak. Air bersih dan sanitasi yang layak dapat mencegah terjadinya infeksi berulang, mencegah diare, mencegah penyakit yang disebabkan oleh racun tinja serta dapat mencegah kekurangan nutrisi dan stunting. Perlu kerjasama dengan berbagai pihak untuk terus melakukan perilaku penggunaan air bersih dan sanitasi yang layak.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar membuang air besar dan kecil di toilet/WC, mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah (limbah padat) rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (membangun IPAL Komunal). Penyediaan dan pengelolaan air bersih di rumah tangga dapat dilakukan dengan selalu mengolah air sebelum dikonsumsi. Setelah itu, air minum yang telah diolah kemudian disimpan di dalam wadah yang tertutup serta dibersihkan secara rutin.

Categories
Reportase

Kepadatan Sosial (Belum) Tentu Padat Permasalahan

Tiga puluh enam derajat. Ya, tiga puluh enam derajat celsius waktu kami melakukan kunjungan lapangan sekaligus observasi di Kampung Gilingan, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Surakarta. Suhu yang cukup panas tentunya dan sangat berpotensi membuat kerongkongan kami kering sejadi-jadinya. Namun tenang, kami adalah tim yang haus ilmu, sehingga rasa haus kami cukup terobati dengan informasi yang kami dapatkan melalui pengamatan lapangan. Kegiatan ini merupakan kegiatan kerja sama dari USAID IUWASH dan Joli Jolan dalam rangka memberikan edukasi tentang daerah yang tergolong slum area dan isu-isu di dalamnya. Salah satu isu yang ditekankan pada kegiatan ini adalah sanitasi dan akses air minum aman.

Kegiatan dimulai dari Minggu pagi pada tanggal 25 Juni 2023 dan dihadiri oleh 20 orang yang sangat antusias terhadap ilmu baru. Kegiatan susur kampung dilakukan dengan berjalan kaki di bawah terik matahari yang sedang tinggi-tingginya kala itu. Semangat para peserta saling beradu dengan panasnya matahari yang kadang membuat kami harus istirahat sejenak. Keringat kami mulai menetes bersamaan dengan air pipa paralon di Kampung Gilingan. Bagi kami itu bukanlah suatu masalah, toh air yang menetes juga sama-sama air sekresi dari tubuh manusia kan?

Kampung Gilingan memiliki struktur tata letak permukiman yang cukup klise. Dapat dibayangkan sebuah kampung yang terletak di bantaran sungai di pinggiran kota. Namun hal tersebut justru membuat Kampung Gilingan sangat humanis, baik dari segi sosial maupun strukturnya yang tidak dapat dipisahkan. Rumah-rumah terlihat berdampingan erat dan saling terkoneksi, bahkan saking dekatnya sepertinya masyarakat tidak memiliki privasi tersendiri. Namun keguyuban tersebut malah membuat kedekatan sosial warga sekitar menjadi sangat kukuh. Bagaimana tidak, terdapat 90 rumah dengan lebih dari 100 KK yang saling tumpang-tindih yang membuat tembok-tembok mereka saling berbicara. Tidak heran kalau menurut BPS Surakarta (2018), Kelurahan Gilingan merupakan kelurahan terpadat di Banjarsari dengan kepadatan 15.880 penduduk/ha.

Hal pertama yang membuat saya takjub ketika pertama kali memasuki kampung tersebut adalah sistem perpipaan untuk akses sanitasi yang sempat membuat saya terdiam sejenak. Menurut apa yang saya pelajari semasa kuliah di teknik lingkungan, ini merupakan anomali besar! Sanitasi aman selayaknya harus memisahkan limbah domestik dengan lumpur tinja, karena pengelolaannya pun juga berbeda. Namun hal serupa tidak berlaku untuk Kampung Gilingan. Entah direncanakan atau tidak, sistem perpipaan di Kampung Gilingan memiliki sistem unik mereka sendiri, yaitu integrasi dari semua limbah, baik domestik maupun lumpur tinja menjadi satu pipa output yang sama. Sungguh ide yang sangat efektif untuk mengombinasikan dua saluran yang berbeda mazhabnya menjadi satu jalur eksklusif. Entah ada insinyur di balik ide brilian ini atau faktor lain yang membuat masyarakat beradaptasi dengan impitan Kota Surakarta yang megah itu. Menurut saya, hal ini bukanlah hal yang bisa dinormalkan, meskipun tampaknya DPUPR Kota Surakarta telah menormalkannya. New normal, noted!

Adaptasi di Tengah Keterbatasan

Tidak jauh dari Kampung Gilingan, kami dapat melihat salah satu anak sungai dari Bengawan Solo, yaitu Kali Pepe. Sungai ini adalah sungai yang peruntukannya sangat konsisten bahkan dari tahun 1500-an. Dari sejarahnya yang digunakan sebagai sarana transportasi semenjak abad 16, kini Kali Pepe masih dimanfaatkan sebagai sarana transportasi limbah padat dan limbah domestik. Namun, jangan harap untuk menemukan kapal atau sampan pengangkut limbah di badan sungai. Masyarakat sudah berpikir lebih maju daripada transportasi via wahana. Alih-alih menggunakan sampan dari DLHK Surakarta, masyarakat mencampurkan limbah padat dan domestik mereka dan mengarungkannya di Kali Pepe. Mungkin mereka berpikir bahwa tugas menangani sampah di sungai adalah milik BBWS Bengawan Solo semata. Entahlah, tidak ada yang tahu itu tugas siapa. Yang jelas fungsi Kali Pepe sebagai media transportasi masih dilestarikan hingga kini.

Tapi tenang, toh sungai di dekat kampung pasti tidak akan mencemari air tanah kan? Di tengah desakan ekonomi, masyakarat Kampung Gilingan telah menemukan solusi untuk mendapatkan akses air minum yang tergolong murah. Mayoritas masyarakat tidak menggunakan air dari PDAM, melainkan air tanah yang hanya memiliki kedalaman belasan meter (tidak jauh berbeda dengan jarak topografi permukiman dengan kedalaman sungai). Untuk apa bayar air kalau di bawah rumah kita masih ada air yang bisa kita manfaatkan kan? Lagipula Perumda Toya Wening Surakarta juga tidak mau repot-repot memberikan saluran air ke kampung pinggiran. Tidak mungkin pula apabila air tanah yang setiap hari diseruput warga Kampung Gilingan telah terkontaminasi dari air sungai yang digunakan untuk menghanyutkan seluruh limbah manusia itu kan? Air tanah pasti bersih, murah pula. Tinggal pakai jasa sumur bor lalu pasang pompa air, beres.

Sejauh ini masyarakat juga masih terlihat sehat kok. Bahkan menurut Saputro, 2017, bantaran sungai Kali Pepe ini mulai dihuni masyarakat semenjak 1998 dikarenakan faktor ekonomi dan lemahnya penegakan aturan dari Pemerintah Kota Surakarta. Sudah sekitar seperempat abad kampung itu dihuni dan itu menandakan bahwa masyakarat betah tinggal di sana. Meskipun menurut wawancara kami dengan seorang warga, terdapat keluhan berupa bau apabila terjadi kebocoran saluran pembuangan limbah. Namun, namanya juga limbah, kalau tidak dikelola dengan benar pasti akan berdampak. Tapi namanya juga sudah nyaman, meskipun banyaknya anomali yang membuat kawasan ini menjadi tidak layak huni, masyarakat masih dengan ikhlas menghuni warisan permukiman tersebut kok.

Banyak perspektif baru yang kami dapatkan dari kegiatan susur kampung ini. Salah satunya adalah inovasi-inovasi masyarakat Kampung Gilingan yang mungkin dapat mengubah pandangan kita mengenai lingkungan permukiman yang sehat. Di samping glamornya Kota Surakarta, ternyata masih banyak masyarakat yang hidup dengan keterbatasannya. Namun dengan lingkungan yang dinilai jauh dari layak tersebut, masyarakat masih dapat hidup berdampingan dengan senyumnya. Mungkin menurut sudut pandang Pemerintah Kota Surakarta, kebahagiaan warga sudah cukup dinilai sebagai standar kelayakan daripada lingkungan hidup yang aman dan berkelanjutan.

Tulisan ini hanya ditujukan untuk berbagi pengalaman saja. Tidak ada pihak yang disinggung untuk bertanggungjawab atas anomali yang telah terjadi sekian lamanya, meskipun itu berhubungan dengan Pemerintah Kota Surakarta itu sendiri. Toh permasalahan akses air minum dan sanitasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia dan tercantum dalam SDGs nomor 6. Semoga pengalaman saya dalam kegiatan susur kampung ini dapat menambah wawasan pembaca dalam sisi lain Kota Surakarta yang megah.

Source:
Badan Pusat Statistik Kota Surakarta. (2018). Kecamatan Banjarsari Dalam Angka 2018. Surakarta: BPS Kota Surakarta

Primasasti, Agnia. (2023). Cerita Tentang Kali Pepe. Dulu Jadi Jalur Transportasi Perdagangan, Kini Jadi Simbol Event-event Keberagaman dan Kerukunan – Pemerintah Kota Surakarta. Diakses pada 29 Juni 2023 dari website Pemerintah Kota Surakarta

Saputro, TD. (2017). Dinamika Sosial Ekonomi Pemukiman Liar di Surakarta. Skripsi: Program. Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret

Categories
Reportase

Akhir Pekan Ini, Warga Bahas Tantangan Pengelolaan Ruang Publik di Solo

Kota Solo termasuk wilayah dengan ruang publik yang cukup melimpah. Dengan luas “hanya” 44,02 kilometer persegi, Kota Bengawan punya deretan lokasi berkumpul warga seperti Taman Balekambang, Plaza Manahan, Plaza Sriwedari, Taman Banjarsari, hingga taman-taman kecil yang tersebar di kelurahan. Solo juga baru saja membangun Taman Bendung Tirtonadi yang membuat pilihan ruang publik semakin melimpah.

Itu belum termasuk beberapa halaman kantor kecamatan dan kelurahan yang kini disulap sebagai pusat-pusat kuliner UMKM di malam hari. Hal ini tentu perlu disyukuri. Namun jika ditilik, seluruh ruang publik tersebut adalah fasilitas yang disediakan pemerintah. Warga cenderung hanya ditempatkan sebagai objek pengguna. Padahal, partisipasi warga dalam menciptakan ruang-ruang publik yang inklusif dan sesuai kebutuhan mereka pun tak kalah penting.

Inisiatif tersebut bukannya tak pernah ada. Sempat muncul deretan ruang publik yang dimotori anak muda dan warga sipil seperti Gedung Kesenian Solo, Cangwit Creative Space, Pakem Solo, Muara Market hingga Gudang Sekarpace. Sejumlah seniman muda juga sempat mengelola Gedung Djoeang 45 untuk berkreasi.

Namun deretan inisiatif warga ini tak bertahan lama lantaran kendala internal maupun eksternal. Hanya beberapa yang masih eksis seperti Rumah Budaya Kratonan, Rumah Banjarsari, Ruang Atas serta sejumlah wadah publik anyar seperti Solo Art Market dan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Lalu, bagaimanakah model pengelolaan ruang publik yang ideal dan berkelanjutan? Apakah keterlibatan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan atau justru melemahkan? Ataukah saat ini inisiatif warga menjadi lebih cair dan tidak terikat satu ruang?

Menanggapi hal ini, Golek Bolo Space mengundang komunitas, mahasiswa, pegiat ruang publik, akademisi, jurnalis dan masyarakat umum untuk mengikuti diskusi bertajuk Warga dan Tantangan Pengelolaan Ruang Publik. Acara akan digelar pada:

Hari, tanggal: Sabtu, 24 September 2022

Pukul: 09.30 – 12.00 WIB

Tempat: Golek Bolo Space, Jl. Ronggowarsito 72, Keprabon, Banjarsari, Solo (sekompleks dengan Hotel Fortuna)

Narasumber:

  1. Zen Zulkarnaen (Direktur Rumah Banjarsari)
  2. Sita Ratih Pratiwi (Manajer Rumah Budaya Kratonan)
  3. Septina Setyaningrum (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)
  4. Andi Setiawan (Inisiator Laboratorium Desain Sosial)
  5. Moderator: Sukma Larasati (General Manager Golek Bolo Space)

Diskusi tidak dipungut biaya alias gratis. Seluruh peserta diskusi akan mendapatkan diskon makan 50% dari Kedai Golek Bolo. Yuk, sumbangkan gagasan atau sekadar unek-unek kalian untuk mewujudkan kota yang dinamis dan berpihak pada kepentingan warga.

Narahubung: 085647198717