Categories
Komunitas

Sosialisasi Problematika Fast Fashion di SMA Negeri 7 Surakarta

Acap terdengar istilah fast fashion yang identik dengan merek fesyen terkenal dari Jepang, Swedia, dan Spanyol yang digemari oleh anak-anak muda Indonesia masa kini. Gerai produk fast fashion pun dapat dengan mudah dijumpai di berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.

Fast fashion menurut pengamatan dan pengalaman Joli Jolan adalah fesyen yang diproduksi secara cepat dan dalam jumlah banyak mengikuti tren yang berlaku di suatu wilayah atau mengikuti kebutuhan berdasarkan musim. Fast fashion mendorong pelanggan memutuskan untuk membeli dengan cepat karena harganya yang terjangkau dan proses distribusinya yang cepat sehingga mudah diperoleh. Masa pakainya pun juga cepat (pendek) karena kualitas bahannya yang rendah sehingga mendorong pembeli untuk kembali membeli model lainnya atau sesuai musim.

Jumat, 22 September 2023, bertempat di SMAN 7 Surakarta, Joli Jolan diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan YACT (Youth Agriculture) Goes to School yang diselenggarakan oleh IAAS LC UNS (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Universitas Sebelas Maret). Peserta YACT Goes to School ini adalah peserta didik yang mewakili kelas masing-masing.

Para peserta didik terlihat sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang problematika fast fashion dari narasumber. Bahkan ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta didik yang bisa jadi merupakan kegelisahan semua peserta, “Apakah penggunaan fast fashion harus ditentang?” Menurut Kak Septi yang mewakili Komunitas Joli Jolan sebagai narasumber, yang harus disikapi dalam penggunaan fesyen adalah apabila dalam proses produksinya mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan.

Lalu, bagaimana cara menyikapi fast fashion dari sisi masyarakat? Jawabannya adalah dengan membeli fesyen yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti yang sedang dikenakan Kak Septi, yaitu eco-print. Bisa juga seperti yang dilakukan Kak Atikah salah satu relawan Joli Jolan yang memanfaatkan kembali kain batik tulis peninggalan ibu dengan cara upcycle, yakni mengubah bentuk dan manfaat dari selembar kain batik menjadi model dress. Atau bisa juga seperti yang dilakukan oleh Kak Lala dan Kak Damai, relawan Joli Jolan lainnya, dengan memperpanjang manfaat baju dari galeri Joli Jolan untuk dikenakan sesuai kebutuhan.

Upaya Joli Jolan dalam Menyikapi Fast Fashion

Berangkat dari kegelisahan para pendiri Joli Jolan atas konsumerisme yang terjadi di masyarakat, terutama di perkotaan, gerakan Joli Jolan menjawab pertanyaan dalam menyikapi fast fashion. Sebenarnya prinsip pengelolaan ruang solidaritas Joli Jolan seperti pengelolaan sampah, yaitu 3R (Reduce, Reuse and Recycle) atau dalam bahasa Jawa disebut 3 Ng, Ngelongi, Nggunakke, Ngolah. Dari ketiga prinsip tersebut, kegiatan utama lebih banyak pada Reuse atau Nggunakke. Dalam Komunitas Joli Jolan biasanya menggunakan istilah redistribusi kepemilikan barang.

Gerakan Joli Jolan bukanlah gerakan charity, hanya sekali berkegiatan pemberian barang kepada yang membutuhkan tanpa keberlanjutan. Sampai dengan saat ini anggota Joli Jolan terus bertambah dengan jumlah keanggotaan mencapai sekitar 2.000 orang. Joli Jolan sendiri adalah ruang pertemuan antara orang yang membutuhkan barang dengan orang yang sudah tidak membutuhkan barangnya lagi, sehingga barang yang ada dalam galeri Joli Jolan dapat diperpanjang masa manfaatnya. Memperpanjang masa manfaat atau meredistribusi kepemilikan berarti barang tidak lekas menjadi sampah karena kehilangan manfaatnya.

Semakin cepat perputaran barang di galeri Joli Jolan maka semakin berkelanjutan gerakan ini karena mencegah barang yang sudah tidak dimanfaatkan untuk tidak lekas masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Barang-barang yang masuk ke galeri Joli Jolan seharusnya berakhir di tempat sampah oleh pemilik sebelumnya. Namun, Galeri Joli Jolan berupaya untuk memperlambat bahkan mengurangi beban bumi dalam mengurai sampah, seperti sampah fesyen yang sampai dengan saat ini belum bisa dikelola atau dimanfaatkan kembali dengan nilai ekonomis layaknya sampah plastik.

Oleh karena itu, sikap yang paling bijak dalam menghadapi fast fashion adalah mengelola barang pribadi secukupnya. Sebab, siklus fast fashion menurut Kak Septi terbagi dalam 3 tahapan, yaitu:

  1. Saat proses produksi. Untuk mengejar skala ekonomi maka produksinya dibuat massal dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Proses pascaproduksinya pun menyisakan air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. Hal inilah yang dinamakan tidak berkelanjutan (unsustainable) karena merusak lingkungan dengan mencemari ekosistem sungai dan tanah.
  2. Saat pemanfaatan produk. Pergantian musim, cara berpakaian para influencer atau public figure, tren fesyen, bahkan rasa ingin bernostalgia mendorong masyarakat untuk membeli produk fast fashion yang harganya terjangkau. Masa pemanfaatan fesyen ini pun biasanya sangat pendek, bisa sekali atau dua kali pakai. Bahkan apabila dipakai terus-menerus, dalam waktu 3 bulan fesyen ini pun sudah tidak lagi layak pakai. Masa pemanfaatan yang pendek ini akan mengakibatkan laju timbulan sampah yang semakin besar. Hal ini tidak berkelanjutan, karena pengelolaan sampah fesyen masih terkendala dalam proses recycle atau ngolah. Agar memiliki nilai ekonomis, diperlukan proses pengolahan kembali yang akan memakan waktu panjang agar layak jual, sehingga ada keengganan untuk mengolah. Hal ini tentunya tidak berkelanjutan jika dilihat dari sudut pandang sirkular ekonomi.
  3. Pasca-pemanfaatan. Saat fesyen sudah tidak digunakan lagi maka tindakan yang biasanya dipilih masyarakat adalah dengan memberikannya kepada orang lain apabila masih layak atau membuangnya. Ternyata sampah fesyen banyak ditemukan di aliran sungai.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan istilah fast fashion sepanjang proses produksi, pemanfaatan, hingga masa pasca-pemanfaatan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan terhadap pekerja yang terlibat dalam industri ini. Beberapa peserta didik menyatakan memiliki baju dengan merk internasional yang tergolong fast fashion karena menurut mereka bahannya adem, awet, nyaman dipakai, dan harganya yang terjangkau.

Referensi
Crumbie, A. (2021) What is fast fashion and why is it a problem? | Ethical Consumer. Available at: https://www.ethicalconsumer.org/fashion-clothing/what-fast-fashion-why-it-problem (Accessed: 23 September 2023).

Categories
Reportase

Webinar “Di Balik Thrifting”

SOLO – Komunitas Joli Jolan menyelenggarakan webinar bertema “Di Balik Thrifting: Antara Tren Fesyen dan Kesadaran Lingkungan” pada Selasa (15/2) pukul 19.00-21.00 WIB. Webinar tersebut menghadirkan tiga pembicara yang konsen terhadap isu kesadaran lingkungan. Ketiganya yakni, Risa Vibia yang merupakan sustainable fashion enthusiast dan founder Pasar Wiguna, Septina Setyaningrum selaku Provincial Advisor Green Infrastructure Development, dan Chrisna Chanis Cara sebagai salah satu inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Webinar dihadiri puluhan peserta dari berbagai wilayah dengan beragam latar belakang profesi. Melalui Webinar tersebut, para narasumber ingin mengajak agar masyarakat umum semakin sadar terhadap permasalahan sampah fesyen yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Selain itu, mereka juga memberikan tips untuk mengurangi sampah fesyen dan memanfaatkannya melalui gerakan ekonomi sirkular.

Saat memaparkan materinya tentang sustainable fashion, Risa Vibia menyebut, serat kain limbah tekstil bisa mencemari laut. Hal itu melatarbelakangi lahirnya Fashion Siput untuk mengkritisi fast fashion di mal-mal yang selalu berganti setiap musim. Berdasarkan data The Sustainable Fashion Forum, konsumsi pakaian jadi diperkirakan akan meningkat 63 persen dari 62 juta ton hari ini menjadi 102 juta ton pada tahun 2030. Rata-rata perempuan hanya memakai pakaian sampai tujuh kali, bahkan ada yang sama sekali belum dipakai sejak pertama dibeli.

“Ketika mau membeli barang, harus dipikirkan masak-masak apakah mau merawat, hobi atau koleksi, atau benar-benar butuh, atau barang yang hanya sebagai pemuas visual sehingga berakhir di pajangan,” kata Risa.

Oleh sebab itu, dia mengajak agar masyarakat menjadi konsumen yang sadar dan lebih bijak, serta tidak terlalu latah terhadap fashion season hari raya. Agar pakaian tidak menumpuk di lemari, Risa membagikan tips ketika membeli satu pakaian, maka satu pakaian dikeluarkan. Sehingga, jumlah pakaian yang ada di lemari tetap sama.

Tips lainnya berupa sanding-sandang, yakni repair atau perbaiki pakaian yang masih bisa diperbaiki, tukar pakaian, serta dijual, atau membeli pakaian bekas (thrifting).

Risa juga menerapkan hidup secukupnya, dengan hanya memelihara barang yang membuat senang. Ketika sebuah barang sudah tidak berarti atau sudah tidak dibutuhkan, maka waktunya untuk melepas.

Terkait thrifting, Risa menilai fenomena thrifting di anak muda sudah berubah menjadi bisnis. Dulu, thrifting hanya lifestyle untuk orang-orang yang ingin memperpanjang usia barang dan sadar lingkungan.

Sampah Pakaian

Di Indonesia bisnis thrifting menerima sampah pakaian dari negara luar. “Yang jadi masalah, ambil bal-balan dari impor, ada yang tidak lolos quality control mereka buang tidak tahu di mana. Makin banyak bisnis thrifting tidak jadi solusi. Akhirnya kita terus menangkap sampah-sampah dari negara lain,” ungkapnya.

Padahal, tidak semua bahan pakaian bisa didaur ulang. Kebanyakan pakaian impor berbahan polyester, nylon, atau bahan lainnya dari plastik.

Masalah lainnya, ketika thrifting justru menjadikan konsumen atau reseller impulsive buying lantaran harga murah yang ditawarkan. Setelah itu, barang belum tentu dipakai, sehingga hanya jadi penimbun.

“Tantangan thrifting, bagaimana kita tidak cuma jadi seller tapi producer. Akan menjahit ulang, mendesain ulang jadi barang baru. Baju-baju yang sobek masih bisa dimanfaatkan untuk tas, dan sebagainya. Sehingga akan lebih bernilai dan membuat berpikir kreatif,” tandasnya.

Selanjutnya, Septina Setyaningrum membahas mengenai ekonomi sirkular. Tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen, tapi untuk industri tekstil tumbuh sekitar 15 persen.

Dia menyebut, perusahaan-perusahaan tekstil itu dari awal sudah mencemari dari limbah cair, meskipun sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah. Sehingga, satu lembar pakaian yang kita kenakan memiliki jejak karbon dari limbah yang dikeluarkan pabrik tekstil. Selain itu, limbah yang dihasilkan setiap kali mencuci pakaian di rumah juga mencemari lingkungan.

Melalui ekonomi sirkular, barang yang kita miliki tetap bernilai tambah meskipun sudah berubah bentuk. Misalnya, pakaian yang sudah tidak dipakai dikreasikan menjadi dompet atau tas.

“Ekonomi sirkular dari awal mula bahan material dibentuk kemudian sampai proses penjualan, kita pakai kemudian using, kita kelola lagi, akhirnya bisa berubah wujud menjadi apa pun itu tetap memiliki nilai ekonomi. Barang yang kita anggap sampah itu masih memiliki nilai ekonomi,” jelas Septina.

Ekonomi sirkular akan membantu mengurangi sampai fashion yang diperkirakan mencapai jutaan ton pada 2030. Septina menerangkan, aplikasi ekonomi sirkular untuk fashion bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahapannya mulai dari reduce, hemat bahan dengan menjahit kain yang polanya memungkinkan kain lebih sedikit terbuang. Kemudian repair, permak pakaian lalu dipakai atau dijual sebagai pakaian bekas layak pakai dengan tidak mengubah fungsi sehingga tidak berakhir menjadi sampah.

Selanjutnya, reuse atau alih fungsi. Ketika pakaian sudah sulit diperbaiki, kainnya dipakai lagi untuk lap tanpa mengubah bentuk. Serta recovery atau upcycle, yakni diolah kembali menjadi barang lain yang bernilai ekonomis seperti tas, bantal, atau kerajinan tangan.

“Ekonomi sirkular akan menjadi tren dan kebutuhan ke depannya. Bagaimana kita mengolah atau mendayagunakan bahan-bahan supaya terus bernilai ekonomi, sampai di titik terakhir ke tempat pemrosesan akhir (TPA),” imbuhnya.

Septina juga memberikan tips apa saja yang bisa kita perbuat sebagai kontribusi untuk ekonomi sirkular. Pertama, selalu menghabiskan makanan, karena sisa makanan akan membahayakan lingkungan. Kedua, berbagi kepada sesama, tidak hanya hari tertentu. Kemudian, berbagi kepada binatang, dan membuat kompos di rumah. Dengan beberapa langkah itu, maka akan mengurangi sampah yang dibuang ke TPA.

“Mari mulai sirkular ekonomi, mulai dari kita, pilah sampah dari rumah. Sirkular ekonomi punya potensi Rp600 triliun setahun. Bisa dengan thrifting, tapi jangan asal thrifting,” pungkas Septina.

Bukan Gudang Pembuangan Barang

Sementara itu, Chrisna Chanis Cara memaparkan mengenai gerakan solidaritas Joli Jolan yang mulai beroperasi pada 21 Desember 2019. Gerakan ini terinspirasi dari aksi serupa di Yunani yang bernama Scoros. Selama ini, banyak sekali pakaian masih layak pakai yang didonasikan, di sisi lain masih banyak orang yang tidak punya pakaian untuk dikenakan. Keduanya saling memberikan manfaat melalui Joli Jolan.

Selain pakaian, Joli Jolan menerima donasi buku, peralatan rumah tangga, sepatu, dan lainnya yang masih bias digunakan dan layak pakai.

“Saat ini, barang yang didonasikan 80 persen pakaian dan mayoritas pakaian perempuan. Kami kekurangan pakaian laki-laki,” ucap Chrisna.

Barang yang didonasikan tersebut semuanya melalui tahapan sortir. Sebagian barang masuk kategori tidak layak, sekitar 20 persen dari total yang didonasikan selama ini.

“Sebenarnya sudah kami tekankan kepada pendonasi, sortir dilakukan pendonasi. Jangan sampai barang-barang yang sudah tidak layak pakai didonasikan ke Joli Jolan, kami bukan gudang pembuangan barang,” ujarnya.

Dari tahapan sortir itu, pakaian yang tidak layak kemudian disalurkan ke pabrik pembuatan bantal di Sukoharjo. Namun, lokasinya cukup jauh, sehingga butuh biaya dan tenaga untuk menyalurkannya. Sedangkan pakaian layak pakai dengan model lama didonasikan ke wilayah pedesaan yang membutuhkan.

Chrisna menambahkan, selama ini pengelolaan barang donasi membutuhkan biaya, di mana pendonasi belum dibebankan biaya. Ke depannya Joli Jolan punya wacana membuka donasi sukarela untuk pengelolaan barang donasi. Sehingga, warga turut berperan aktif untuk pengelolaan Joli Jolan. Gagasan lainnya, Joli Jolan ingin mendorong sukarelawan di kota lain membuat gerakan serupa dan siap membantu memberikan donasi barang untuk mengawalinya. Saat ini, sudah ada kota yang menginisiasi gerakan serupa seperti Salatiga dan Yogyakarta.