Categories
Gaya Hidup

Ke Mana Perginya Kebiasaan Merawat Barang?

Ritsleting tas macet, sol sepatu mulai terlepas, atau kipas angin tiba-tiba tidak menyala. Beberapa tahun lalu, kerusakan kecil seperti itu biasanya berakhir di tukang jahit, tukang sol, atau tempat servis elektronik. Kini, tidak sedikit orang yang justru membuka aplikasi belanja. Bukan selalu karena barangnya sudah tidak bisa diperbaiki, tetapi karena membeli baru terasa lebih cepat daripada mencari tempat servis, menunggu beberapa hari, lalu kembali mengambilnya.

Perubahan ini tidak lepas dari ritme hidup yang semakin padat. Bagi banyak orang, terutama mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, memperbaiki barang terasa seperti pekerjaan tambahan. Ketika penghasilan sudah memungkinkan, membeli pengganti sering dianggap sebagai pilihan yang paling praktis. Tanpa disadari, kemudahan itu perlahan membentuk kebiasaan baru: rusak sedikit, ganti.

Bersamaan dengan itu, ada hal lain yang ikut memudar, yaitu keterampilan merawat barang. Dulu, menjahit kancing yang lepas, mengganti ritsleting, menyemir sepatu kulit, atau membersihkan kipas angin agar kembali berfungsi merupakan hal yang cukup akrab di banyak rumah. Kini, tidak sedikit orang yang memilih membeli pengganti karena memang tidak pernah belajar cara merawat atau memperbaiki barang-barang sederhana. Tanpa sadar, kita bukan hanya kehilangan kebiasaan memperbaiki barang, tetapi juga kesempatan untuk belajar bahwa tidak semua yang rusak harus diganti. Kebiasaan kecil yang dulu diwariskan dari rumah ke rumah perlahan-lahan semakin jarang ditemui.

Padahal, tidak semua kerusakan harus berakhir di tempat sampah. Menjahit pakaian yang sobek, memperbaiki tas, melakukan servis pada peralatan rumah tangga sebelum rusak atau mengganti sol sepatu bukan hanya memperpanjang usia pakai barang dan mengurangi limbah, tetapi juga menjaga keterampilan yang mulai ditinggalkan. Pilihan untuk memperbaiki juga ikut mendukung para tukang jahit, tukang servis, dan pengrajin lokal yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari kehidupan banyak komunitas.

Merawat barang mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil. Namun, dari kebiasaan itulah kita belajar bahwa tidak semua hal yang rusak harus diganti. Ada yang cukup diperbaiki, dirawat, lalu kembali digunakan. Dengan begitu, yang bertahan bukan hanya sebuah barang, tetapi juga cara kita menghargai waktu, sumber daya, dan tangan-tangan yang membuatnya tetap layak dipakai.

Categories
Gaya Hidup

Kenapa Barang Itu Masih Disimpan?

Hampir semua orang punya satu sudut di rumah yang isinya barang-barang yang entah masih dipakai atau tidak. Ada kotak ponsel dari bertahun-tahun lalu, kabel yang sudah lupa milik perangkat apa, kaus konser yang tak pernah lagi dikenakan, atau hadiah ulang tahun yang hanya berpindah dari satu rak ke rak lainnya. Saat diminta membereskannya, jawabannya sering sama, “Sayang kalau dibuang. Siapa tahu nanti dipakai”.

Padahal, tidak semua barang yang kita simpan benar-benar masih dibutuhkan. Sebagian bertahan karena menyimpan kenangan, sebagian lagi karena terasa terlalu berharga untuk dilepas, meski sudah lama tidak digunakan. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat lemari semakin penuh, sementara barang yang benar-benar dipakai justru semakin sulit ditemukan.

Fenomena tersebut cukup sering terjadi. Banyak orang memilih menyimpan kardus ponsel dengan harapan suatu hari akan berguna saat dijual kembali, padahal ponselnya sendiri sudah dipakai bertahun-tahun. Ada pula pakaian yang tetap menggantung di lemari karena merasa suatu saat akan muat lagi atau kembali menjadi tren. Bukan berarti semua barang harus disingkirkan, tetapi sesekali kita perlu bertanya, apakah barang ini masih memberi manfaat atau hanya menyimpan rasa sayang untuk melepasnya?

Merapikan rumah tidak selalu berarti membuang barang. Sebagian bisa didonasikan, dijual kembali, ditukar melalui komunitas, atau diberikan kepada orang yang memang membutuhkannya. Cara ini membuat satu barang memiliki umur pakai yang lebih panjang sekaligus mengurangi kebutuhan untuk terus memproduksi barang baru.

Tidak semua barang harus bertahan di rumah selamanya. Tidak semua barang yang kita miliki akan selalu bersama kita selamanya. Ada yang memang selesai menemani salah satu fase kehidupan yang kita lalu, kemudian siap melanjutkan cerita di tempat lain. Mungkin bukan lagi bersama kita, tetapi tetap berguna bagi orang lain yang benar-benar membutuhkannya.

Categories
Gaya Hidup

Kebiasaan Sederhana Menghindari Belanja Impulsif

Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal yang sama. Awalnya hanya ingin membuka aplikasi belanja untuk melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian keranjang sudah terisi dan tombol checkout terasa begitu menggoda. Padahal, belum tentu semua barang yang dipilih benar-benar dibutuhkan. Kebiasaan seperti inilah yang membuat belanja impulsif semakin mudah terjadi di tengah budaya konsumerisme yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak.

Ironisnya, rasa puas setelah membeli sering kali tidak bertahan lama. Barang datang, digunakan beberapa kali, lalu perlahan terlupakan di sudut lemari atau rak penyimpanan. Oleh karena itu, membangun kebiasaan berbelanja dengan lebih sadar tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Memberi jeda 24 jam sebelum membeli bisa menjadi langkah sederhana untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena diskon, tren, atau rasa takut ketinggalan.

Ketika keputusan membeli sudah terasa lebih yakin, kebiasaan berikutnya adalah berbelanja dengan tujuan yang jelas. Membuat daftar kebutuhan apa saja yang perlu kita beli membantu kita untuk tetap fokus dan mengurangi pembelian yang tidak direncanakan. Lalu, terapkan prinsip one in, one out: setiap kali ada satu barang baru yang masuk, keluarkan satu barang lama yang sudah tidak digunakan. Barang tersebut bisa dijual, didonasikan, atau diberikan kepada orang lain sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu pemilik saja.

Cara lain yang mulai banyak diterapkan adalah menyewa daripada membeli. Saat musim pernikahan, misalnya, semakin banyak orang memilih menyewa kebaya atau gaun yang hanya dipakai sekali. Di kota-kota besar, layanan sewa kini juga semakin mudah ditemukan melalui media sosial maupun platform digital untuk berbagai kebutuhan sementara. Fenomena ini menunjukkan bahwa memiliki bukan lagi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan.

Yang tak kalah penting, rawat barang yang sudah dimiliki. Membersihkan sepatu, memperbaiki pakaian yang sobek, atau merawat peralatan rumah tangga dapat memperpanjang usia pakainya. Tidak semua barang yang mulai rusak harus langsung diganti. Sering kali, sedikit waktu untuk merawat atau memperbaikinya justru membuatnya bertahan lebih lama. Barangkali, yang paling perlu dipikirkan sebelum menekan tombol checkout bukan seberapa besar diskonnya, melainkan apakah barang itu benar-benar akan kita gunakan, atau hanya menjadi penghuni baru di sudut lemari.

Categories
Gaya Hidup

Beli? Nanti Dulu, Sewa Aja

Beberapa tahun lalu, memiliki barang sendiri sering dianggap sebagai simbol keberhasilan. Apalagi membeli barang-barang yang dirasa sedang tren, meskipun harganya tidaklah murah. Inilah yang menjadi salah satu penanda konsumerisme terjadi di dalam masyarakat.

Namun, kini cara pandang tersebut perlahan mulai berubah. Di kalangan anak muda, tren menyewa barang mulai diminati karena dianggap lebih praktis, hemat, dan sesuai dengan kebutuhan. Bagi mereka, yang terpenting bukan lagi memiliki sebuah barang, melainkan dapat menggunakan barang tersebut saat benar-benar dibutuhkan.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Menjelang konser, misalnya, tidak sedikit penggemar yang memilih menyewa smartphone dengan kamera berkualitas tinggi agar dapat mengabadikan penampilan idola mereka dengan hasil yang lebih jernih atau kamera mirrorless untuk liburan. Jadi, jangan buru-buru beranggapan bahwa mereka yang menyewa smartphone mewah ingin tampil sebagai orang yang mampu. Meskipun mungkin ada sebagian orang yang memiliki pemikiran seperti itu, tetapi tidak semua orang memiliki keinginan yang sama. Ada yang memang kebutuhannya terhadap smartphone mewah hanya sementara karena mereka hanya memanfaatkan kameranya untuk acara tertentu.

Selain barang-barang teknologi, ada pula yang menyewa gaun untuk menghadiri pesta akhir tahun, menyewa perlengkapan camping untuk akhir pekan, ataupun menyewa perlengkapan anak untuk keluarga dengan anak kecil. Ayunan, perosotan plastik, bahkan stroller kini bisa disewa secara harian atau bulanan sesuai kebutuhan. Barang-barang tersebut umumnya hanya digunakan dalam periode tertentu, sehingga menyewa sering kali menjadi pilihan yang lebih praktis dan efisien dibandingkan dengan membeli.

Perubahan gaya hidup ini tidak lepas dari kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Beragam layanan penyewaan kini dapat ditemukan melalui aplikasi maupun media sosial. Proses mencari, memesan, hingga mengembalikan barang pun menjadi semakin mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kemudahan tersebut membuat proses menyewa daripada membeli menjadi pilihan yang semakin relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengatur pengeluaran bulanan mereka dengan lebih bijak.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan dalam cara mengonsumsi. Ketika satu barang dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian, kebutuhan untuk membeli barang baru dapat berkurang. Pola seperti ini sejalan dengan konsep sharing economy, yaitu memanfaatkan sumber daya yang sudah ada agar penggunaannya lebih optimal dan tidak berlebihan.

Tren menyewa barang menunjukkan bahwa cara pandang terhadap kepemilikan mulai bergeser. Nilai sebuah barang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang memilikinya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan saat benar-benar dibutuhkan. Memiliki memang tetap menjadi pilihan, tetapi kini semakin banyak orang menyadari bahwa tidak semua kebutuhan harus berakhir dengan membeli. Ternyata dengan menyewa, guna barang tersebut tetap dapat digunakan.

Categories
Gagasan

Tiga Nasihat Pepatah Jawa Sebelum Donasi ke Joli Jolan

Joli Jolan merupakan komunitas yang menghimpun dan menyalurkan barang layak pakai dan berbagai barang manfaat lainnya. Keberadaan Joli Jolan sudah dikenal masyarakat yang menerima manfaat (dalam makna luas). Bagi donatur bisa kapan saja dapat menyalurkan barang yang ingin didonasikan. Informasi syarat dan ketentuan barang yang dapat didonasikan oleh donatur tertera jelas di sosial media Joli Jolan. Silahkan menghubungi nomor atau langsung datang ke Lapak Joli Jolan. Bagi donatur yang jauh, kapan saja bisa langsung kirim barang ke lapak Joli Jolan dengan konfirmasi kepada relawan terlebih dahulu.

Bagi calon donatur, perlu ingat sebuah prinsip tentang berbagi kepada masyarakat. Pepatah Jawa memiliki sebuah nasihat yang kemudian menjadi masyhur di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, yakni “urip iku urup” (hidup itu menyala). Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup tidak hanya sekedar mewujudkan eksistensi pribadi saja, tetapi menyadari keberadaan orang lain.

Layaknya cahaya yang menyala untuk menerangi kegelapan. Cahaya tersebut tidak sekadar memberikan penerangan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi siapa saja yang berada di sekitar sumber cahaya. Falsafah yang menganjurkan seseorang untuk menjadi pribadi bermanfaat di tengah masyarakat itu pada dasarnya adalah semangat inti dalam berbagi atau menjadi seorang donatur.

Setelah rasa ingin berbagi tumbuh, kita perlu memikirkan kembali barang atau jasa yang akan diberikan dan apa tujuan dari upaya memberi tersebut, yang mana biasanya adalah berbagi kesenangan. Kemudian teringat dengan salah satu nasehat dalam bahasa Jawa, “nguwongke uwong, gawe legane uwong” (memanusiakan manusia dan membuat orang lain senang).

Memanusiakan manusia berarti menghormati orang lain karena kita adalah sesama manusia. Bukan sekadar menghormati seorang pejabat yang memiliki kekayaan dan pangkat tetapi tidak menghormati orang yang melarat dan tidak berpangkat. Melainkan, kita saling menghormati sesama ciptaan Tuhan.

Apabila kita sudah mengerti dan memahami hakikat kita sebagai manusia, sudah selayaknya kita lebih bijak dalam mendonasikan barang. Kita perlu mulai menyadari bahwa barang yang akan kita donasikan adalah barang yang nantinya akan dipakai oleh orang lain, sehingga barang tersebut harus pantas dan layak untuk difungsikan lagi. Tolok ukur barang masih layak dan pantas sangatlah sederhana, apabila barang tersebut diberikan kepada orang lain maka orang yang menerima barang tersebut mau menggunakannya.

Terakhir, ajaran suku, ras, atau agama mana pun akan sepakat dengan nasihat dalam bahasa Jawa yang satu ini, “ngundhuh wohing pakarti” (apa pun yang kita lakukan akan mendapatkan yang sepadan). Siapa yang menanam akan menuai.

Seringkali kita pernah mengalami atau mendengar kisah di masa sulit dan terimpit dalam menjalani hidup. Ada saja orang-orang yang entah datang dari mana, tanpa kita rencanakan dan di luar kuasa kita, datang untuk membantu kesulitan kita. Bisa jadi hal tersebut dapat diartikan sebagai bentuk lain dari balasan kebaikan yang pernah kita lakukan dalam membantu kesulitan orang lain. Jika tidak demikian, bisa jadi balasan tersebut diwujudkan dalam bentuk kesehatan, dilancarkan segala urusan, dilapangan rezekinya, dan masih banyak lagi.

Berdonasi Tidak Sama dengan Membuang Barang

Joli Jolan masih mendapati ada beberapa barang yang tidak layak didonasikan yang entah secara sengaja atau tidak dikirimkan ke Joli Jolan. Biasanya donatur yang seperti ini langsung mengirimkan barang (yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan) ke alamat Joli Jolan melalui jasa ojek online tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada relawan. Hal ini bermaksud agar barang tersebut tidak diketahui siapa pengirimnya.

Barang yang dikirimkan tidak main-main jumlahnya, bahkan terkadang ada yang sampai satu karung besar ukuran 90 cm x 125 cm. Jumlah kecil sudah sering, bukan kepalang ampun banyaknya. Relawan mungkin juga tidak mengerti apa motifnya. Padahal setiap kali ada donatur yang demikian, relawan akan menginformasikan di media sosial agar hal tersebut tidak terulang. Namun, sayangnya fenomena itu masih saja sering terulang di tahun 2024 kemarin.

Tidak menyalahkan siapa pun, niat baik donatur perlu diapresiasi. Namun, alangkah baiknya juga cerdas untuk tidak melakukan hal demikian. Jika barang yang akan didonasikan tidak layak, alangkah baiknya di konsultasikan terlebih dahulu ke Joli Jolan. Barangkali ada alternatif lain yang direkomendasikan oleh Joli Jolan dalam menampung barang tidak layak pakai tersebut.

Kalaupun tidak ada solusi, setidaknya jangan sampai nekat mengirimkan barang tersebut ke lapak Joli Jolan. Pasalnya apabila barang tersebut terlanjur sampai di lapak Joli Jolan dan tidak masuk sortir, maka barang tersebut akan memakan ruang di ruang penyimpanan sehingga menjadikan relawan mengalokasikan waktu yang lebih banyak. Relawan tidak akan sampai hati memaksakan barang yang tidak layak pakai untuk disalurkan.

Tahun 2025, semoga menjadi awal yang baik bagi calon donatur untuk lebih memahami tiga nasihat pepatah Jawa sebelum berbagi. Tentu donatur tidak mau menerima barang yang tidak dapat difungsikan dan tidak layak kan? Jadi jangan menjadikan kegiatan berdonasi sebagai kesempatan untuk ‘membuang barang’ tidak layak pakai.

Selamat tahun baru, banyak harap yang sering terucap, semoga satu per satu datang menghadap. Tetap jaga asa untuk tetap manfaat. Sehat selalu Relawan dan donatur Joli Jolan.