Categories
Reportase

Kembalikan Fungsi Trotoar City Walk

SOLO–Polemik penggunaan City Walk di Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo, belakangan ini perlu mendudukkan kembali fungsi dasar trotoar sebagai ruang dan fasilitas publik bagi warga yang beragam. Akar masalahnya adalah di Indonesia tidak ada hierarki pembagian ruang yang jelas dalam tata kelola trotoar.

Akibatnya, konflik atas penggunaan trotoar selalu muncul seiring lahirnya pengguna trotoar baru. Contoh peristiwa terbaru adalah kemunculan meja dan kursi bagi pelanggan kafe dan restoran di sepanjang City Walk.

Founder Transportologi, Sukma Larastiti, mengatakan secara prinsip tata kelola trotoar dibagi menjadi beberapa zona meliputi zona muka bangunan (zona 1), zona berjalan kaki (zona 2), zona perlengkapan jalan (zona 3), dan zona penyangga (zona 4).

Gambar 1. Ilustrasi desain trotoar (Sumber: NACTO, 2016)

Zona muka bangunan berfungsi memfasilitasi ruang bukaan pintu sekaligus ekstensi ruang kegiatan yang ada. Bagian ini lazim dimanfaatkan untuk memasang pajangan toko, meja, dan kursi kafe atau restoran.

Penggunaan ruang muka bangunan untuk meletakkan meja dan kursi sebagai perpanjangan kafe atau restoran bukanlah hal yang tabu dalam tata kelola trotoar.

“Kondisi ini justru meningkatkan kenyamanan, semarak kehidupan sosial, dan daya tarik jalan untuk dikunjungi serta meningkatkan persepsi keselamatan dan keamanan pejalan kaki, khususnya perempuan,” kata Sukma, dalam siaran pers yang diterbitkan Transportologi, Rabu (15/10/2025).

Hasil riset sederhana Transportologi di City Walk (seksi simpang Pasar Pon-simpang Teuku Umar) menunjukkan perempuan menilai keamanan dan keselamatan trotoar City Walk rendah, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Berikutnya, zona pejalan kaki yang harus steril dari segala aktivitas ekonomi dan perlengkapan jalan. Lalu, zona perlengkapan jalan terdiri atas pepohonan, kursi taman, dan lainnya. Terakhir, zona penyangga digunakan sebagai kereb, ruang drainase atau dikombinasikan dengan jalur sepeda.

“Di City Walk, pembagian zona ini tidak ada. Penataan trotoar City Walk sekitar 2019 justru berfokus pada penyediaan parkir kendaraan bermotor di trotoar, tanpa mempertimbangkan perubahan aktivitas sosial dan ekonomi yang akan terjadi di kemudian hari,” sambung Sukma.

Gambar 2. Penggunaan ruang trotoar City Walk (Sumber: dokumentasi Transportologi)

Konflik Perebutan Ruang

Trotoar sendiri sebetulnya bukan untuk sirkulasi dan parkir kendaraan bermotor. Akibatnya, muncul konflik perebutan atas ruang trotoar yang memang lebarnya terbatas.

Masalah lainnya adalah pemasangan blind tactile di sekitar zona muka bangunan (kurang lebih 1,5 meter dari dinding bangunan), bukan di zona berjalan kaki. Hal ini memicu tumpang-tindih klaim dan konflik penggunaan ruang berjalan kaki dan aktivitas sosial-ekonomi yang akan muncul di depan muka bangunan.

Sebagai resolusi atas polemik yang terjadi, Transportologi merekomendasikan pemerintah kota untuk mengkaji kembali tata kelola City Walk dan penggunaan parkir di trotoar. Selain itu, perlu menyusun panduan tata kelola trotoar yang inklusif, berkeselamatan, aman, dan berkeadilan bagi seluruh penggunanya.

“Berikutnya perlu menyusun strategi optimalisasi penggunaan angkutan umum dan mobilitas aktif di kawasan Jl. Slamet Riyadi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menata parkir di sepanjang koridor tersebut,” ujar Sukma.

Gambar 3. Penilaian trotoar City Walk (sumber: Transportologi, 2023)

Narahubung:
Founder Transportologi, Sukma Larastiti (+6285640641246)

Categories
Komunitas

Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Tren penggunaan angkutan umum yang didukung Program Teman Bus sukses membuka 13 koridor di Kota Solo. Meski demikian, hal ini perlu diimbangi ketersediaan halte, ruang jalan yang berkeselamatan hingga trotoar yang memadai.

Sayangnya pembangunan trotoar selama ini kerap terpinggirkan. Kebijakan transportasi di Tanah Air yang berfokus pada kendaraan bermotor membuat trotoar dibuat ala kadarnya, asal ada. Trotoar didesain dengan lebar yang minim dan tanpa peneduh. Lebih sial lagi, tak sedikit trotoar yang jadi ruang parkir atau tempat mangkal PKL.

Namun wajah apik trotoar Kota Solo masih dapat dilihat di sejumlah lokasi yang selesai direvitalisasi seperti Jl. Slamet Riyadi (sisi selatan), Jl. Kyai Mojo, Jl. Juanda, Jl. Gatot Subroto, dan Jl. Sudirman. Di luar itu, masih banyak trotoar yang belum terjamah pembangunan. Kondisinya gelap pada malam hari, rusak, dan terputus oleh perubahan tata ruang.

Padahal di zaman dulu Solo sempat memiliki jalur yang mengintegrasikan banyak moda transportasi seperti bus, delman, pesepeda hingga kereta api dengan trotoar ideal untuk pejalan kaki. Perkembangan trotoar di Kota Solo bakal dikupas dengan fun dalam Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan pada:

  • Waktu: Minggu, 7 Mei 2023 pukul 09.00-12.00 WIB
  • Titik Kumpul: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo
  • Titik Akhir: Kulonowun Kopi, Koridor Ngarsopuro (sebagian perjalanan via BST, cek grafis rute)
  • Fasilitas: Minuman dari Kulonuwun Kopi, stiker, doorprize buku hingga kaus
  • Kontribusi: 40k (kuota peserta maksimal 20 orang)

Jalan-jalan Solo merupakan bagian dari program Jane’s Walk hasil koalisi Women on The Move dan Women in Transport Leadership. Acara ini terselenggara hasil kerja sama Lingkar Studi Transportasi Transportologi, Ruang Solidaritas Joli Jolan dan Pedestrian Jogja.

Segera daftarkan diri ya kawan. Kami akan menutup pendaftaran apabila kuota peserta sudah terpenuhi.

Registrasi: s.id/jalan2solo
Narahubung: 085725233966