Categories
Komunitas Reportase

JJ goes to SMA Ursulin: Kontribusi Peserta Didik dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim

Komunitas Joli Jolan diundang oleh SMA Ursulin pada Hari Selasa, 23 April 2024 untuk mengisi kegiatan Integrated Learning Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (IL P5) yang merupakan bagian dari pembelajaran kurikulum merdeka. Tema IL P5 kali ini adalah gaya hidup berkelanjutan bagi peserta didik kelas X. Adapun tujuan kegiatan mengundang narasumber Komunitas Joli Jolan adalah memantik peserta didik untuk bernalar kritis dan kreatif dalam mengatasi dampak climate change (perubahan iklim).

Climate change menurut definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengacu pada perubahan jangka panjang pada iklim bumi yang menyebabkan pemanasan atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan iklim mempengaruhi keseimbangan ekosistem yang mendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati, serta berdampak pada kesehatan. Oleh karena itu, peserta didik kelas X SMA Ursulin dipantik untuk berkontribusi dalam mengatasi dampak climate change dengan cara kreatif dan mudah dilakukan dalam keseharian.

Komunitas Joli Jolan

Diawali dengan penjelasan singkat oleh Kakak Asa mengenai komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan atau akrab dengan sapaan singkat ijol-ijolan, maka interaksi terjadi dari berbagai arah yang merupakan ciri merdeka belajar.

Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan ruang publik untuk berbagi barang layak pakai. Siapa pun dapat mendonasikan barang di Joli Jolan dan mengambil barang yang tersedia secara gratis. Joli Jolan mengajak untuk hidup bersahaja dengan mengelola barang secukupnya. Joli Jolan mengawali kegiatan pertamanya pada tanggal 19 Desember 2019, sekaligus dijadikan penanda hari lahir komunitas.

Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “Ijol-ijolan” yang berarti tukar menukar. Filosofi sederhana ini sebagai pendorong sejumlah relawan untuk membentuk ruang solidaritas melalui barter dan berbagi barang secara gratis dengan masyarakat.

Lokasi Joli Jolan berada di Kompleks Latar Situ yang terletak di Jalan Siwalan No.1, Kerten, Surakarta. Anggota Komunitas Joli Jolan sangat heterogen, mulai dari aktivis kota, mahasiswa, jurnalis, dosen, editor buku, peneliti, ibu rumah tangga, pegawai terminal, hingga pecinta hewan. Masing-masing pihak berkontribusi sesuai keahlian dan kemampuannya masing-masing untuk mewujudkan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Kegiatan Seru bersama Kelas X SMA Ursulin

Keseruan bertambah lagi saat para peserta didik kelas XA sampai XJ melakukan instruksi yang diberikan oleh Pak Dedi sebagai guru selaku koordinator kegiatan ini. Sehari sebelumnya, para peserta didik diminta untuk mempersiapkan barang-barang yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Kami menyebutnya pre-loved. Bendahara kelas juga diminta menyiapkan umplung atau kotak untuk diisi uang seikhlasnya.

Peserta didik terlihat sangat antusias dalam menata barang-barang preloved di masing-masing kelasnya, demikian pula relawan Joli Jolan membawa barang preloved untuk diberikan di beberapa kelas. Mereka terlihat sangat tidak sabar untuk saling berkunjung ke kelas lainnya untuk melihat barang apa yang dibawa oleh temannya yang dapat mereka tukarkan. Semua gembira dan tertawa bersama para guru pendamping ketika mendapatkan barang yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Hanya dalam hitungan menit, barang preloved menemukan tuannya yang baru untuk diperpanjang masa manfaatnya.

Ada salah satu peserta didik laki-laki yang digandeng oleh Pak Guru berjalan berkeliling dengan mengenakan pakaian perempuan merangkapi baju seragam sekolah. Semua yang dilewati tertawa, bukan untuk merundung. Rupanya peserta didik tadi mengambil barang untuk pacarnya, padahal dalam kegiatan seru ini mengadop filosofi Joli Jolan, yaitu berikan sesuai kemampuanmu, ambil sesuai kebutuhanmu.

Class Creative Fundraising and Climate Change

Sesi refleksi tiba, peserta didik kembali ke kelas masing-masing. Bapak ibu guru kembali memandu kegiatan ini dengan merefleksikan apa yang telah dilakukan bersama. Alex dan Maria mengungkapkan bahwa mereka tersadar ternyata perilaku konsumtif sangat lekat dengan keseharian mereka. Acapkali membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan keinginan semata. Saat simulasi kegiatan bertukar barang preloved dilaksanakan, masih banyak murid yang mengambil barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena keinginan untuk memiliki barang yang dianggap masih bagus tanpa berpikir apakah barang tersebut nantinya akan bermanfaat atau tidak.

Kelas XJ kemudian mengajukan pertanyaan, “Apa yang menjadi dorongan utama dalam mendirikan Komunitas Ruang Solidaritas Joli Jolan?”

“Didirikannya Joli Jolan berangkat dari rasa keprihatinan karena konsumerisme menjadi budaya. Apalagi di daerah perkotaan, di mana belanja online sangat mudah dilakukan. Banyak barang yang akhirnya tidak terpakai karena tidak sesuai dengan yang ditawarkan di platform belanja online, baik secara bentuk, fungsi, maupun ukuran. Kebiasaaan untuk memakai dresscode atau membuat baju seragam dalam berbagai kesempatan, yang pada akhirnya hanya dipakai sekali dua kali kemudian disimpan seterusnya di dalam lemari, juga menjadi salah satu ancaman konsumerisme yang jarang disadari.”

Bisa dibilang akar permasalahan pengelolaan sampah, terutama di perkotaan adalah konsumerisme. Muara dari akhir perjalanan sampah setelah melewati tahapan pengelolaan sejak dari sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Tumpukan sampah yang dipadatkan di berbagai TPA di Pulau Jawa yang mencapai puluhan bahkan ratusan meter itulah merupakan penyumbang global warming. Gunungan sampah menghasilkan gas metana yang disebabkan oleh bakteri yang kekurangan oksigen untuk proses penguraian sampah organik.

Saat musim kering, beberapa TPA yang sudah melebihi daya tampung mengalami kebakaran. Hal ini dipantik oleh gas metana yang tersulut karena cuaca panas. Sulitnya pemadaman menimbulkan dampak berat, yaitu dampak kesehatan berupa Infeksi Pernafasan Akut (ISPA) dan dampak lingkungan berupa polutan yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga mencemari udara dan tanah, serta mengancam kehidupan manusia.

Kegiatan interaktif yang dilakukan oleh peserta didik bersama Komunitas Joli Jolan selama 30 menit tersebut mampu mengurangi dampak lingkungan yang akan berkontribusi terhadap kenaikan suhu bumi yang mengakibatkan perubahan iklim. Bagaimana bisa kegiatan tersebut diklaim mengurangi dampak perubahan iklim? Dihitung prorata, bahwa setiap kelas membawa 10 kg barang yang dikalikan 10 kelas. Hasilnya adalah 100 kg barang yang seharusnya sudah berakhir di TPA ternyata mampu diperpanjang usia manfaatnya oleh peserta didik sendiri. Andai kegiatan ini dilakukan secara reguler, niscaya gerakan sederhana ini dapat menjadi kontribusi dalam mereduksi pemanasan global.

Dari pengalaman berkegiatan yang merupakan mini refleksi Joli Jolan, masing-masing kelas berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang didapatkan dari para peserta didik sendiri yang saling barter. Mereka menjadi lebih percaya diri dan tidak ragu dalam mengelola barang preloved yang sebenarnya sudah tidak dimanfaatkan oleh pemilik sebelumnya. Bahkan pengelolaan tersebut pun dapat menghasilkan keuntungan, yakni penambahan uang kas kelas yang siap digunakan dalam berkegiatan di sekolah.

Pada akhirnya perlawanan terhadap konsumerisme tidak sekadar memberikan manfaat di bidang ekonomi tanpa menambah beban bumi karena proses produksi yang seringkali mengabaikan lingkungan. Hal kecil yang telah dilakukan bersama SMA Ursulin ini berkontribusi penting dalam mereduksi dampak perubahan iklim.

Categories
Reportase

Galeri Mini di Car Free Day

Joli Jolan membuka “galeri mini” di Car Free Day Colomadu, Minggu, 3 Maret 2024. Kegiatan yang berada tepat di depan pabrik Gula Colomadu ini turut didukung teman-teman dari komunitas ‘Dari Kita’, sebuah komunitas saling berbagi yang diinisiasi oleh mahasiswa UNS Solo. Mereka menemukan visi dan misi yang sama dengan Joli Jolan dalam upaya berbagi dan menyebarkan semangat kebaikan.

Dari pukul 06.00 pagi, relawan Ruang Solidaritas Joli Jolan dan komunitas ‘Dari Kita’ mempersiapkan lapak barang-barang preloved yang dapat diambil secara gratis. Di luar dugaan, lapak tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pejalan kaki yang sedang lewat. Dengan penasaran, mereka mampir dan memilih berbagai macam barang untuk diambil, mulai dari tas, pakaian, hingga sepatu.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan mengkampanyekan secara langsung kepada masyarakat umum aksi memperpanjang usia barang bekas. Para pengunjung yang berinteraksi dengan relawan Joli Jolan pun merasa senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Mereka berharap Joli Jolan senantiasa rutin menggelar kegiatan serupa di Car Free Day selanjutnya.

Categories
Komunitas

Merabai Denyut Literasi Surakarta bersama patjarmerah

Patjarmerah, Pasar Buku dan Festival Kecil Literasi Keliling Nusantara yang dijuluki oleh para pencinta buku dan media sebagai sirkus literasi keliling memutuskan singgah di Solo. Gerbang Ndalem Djojokoesoeman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo yang menjadi arena pasar buku dan festival literasi ini akan dibuka pada 1-9 Juli 2023 mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB.

Kekayaan narasi dan sejarah panjang Surakarta membuat patjamerah memilih untuk mengawali denyutnya pada tahun 2023 di kota ini. “Selain sebelum Pandemi kami memang sempat berencana membuat patjarmerah di Solo. Itu sekitar April 2020,” cerita Windy Ariestanty, pendiri dan penggagas patjarmerah.

Solo adalah tempat yang sangat kental dengan budaya literasi dan sangat banyak merekam sejarah terkait jejak penulisan masa lampau. Karya-karya klasik lahir dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Di antaranya Yosodipuro yang menulis Serat Wulang Reh, Paku Buwono IV dan Serat Wulang Sunu, Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama, Paku Buwono V menulis Serat Centhini, dan ada juga pujangga legendaris dari Kota Solo, yaitu Ki Padmasusastra dan Ronggowarsito. Selain itu, majalah dan surat kabar pertama di Indonesia pun lahir di Solo.

“Solo dengan semua ciri khas dan kedenyutannya menjadi titik tepat untuk mengawali patjarmerah 2023. Dari titik yang menjadi arena pergerakan inilah, patjarmerah akan bergerak,” sambung Windy dalam keterangan persnya. Banyak tokoh penting yang menggencarkan pergerakan datang dari Surakarta. Sebutlah Tjokroaminoto, H. Samanhudi, dan Marco Kartodikromo. Mereka mengandalkan kemampuan tulis-menulisnya di surat kabar dan berbagai macam aksi protes yang digelar dalam rangka ”menuntut persamaan hak bumiputera”. Ada pula Tjipto Mangunkusumo yang mengkritisi sistem feodal. Sarekat Islam dan gerakan Bumi Putera.

Denyut Literasi dan Identitas Tempat

Denyut dipilih menjadi tema patjarmerah selama 2023. Kata ini menyimbolkan hidup dan upaya untuk terus hidup, termasuk di dunia literasi. Ini jugalah yang dilihat oleh Mufti Rahardjo, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dispersipda) Solo. Sebagai salah satu kebutuhan dasar yang kodrati, literasi membuat kita mendapatkan bagian dari pemenuhan jawaban kognitif (cipta), afektif (rasa), dan psikomotoris (karsa). “Seharusnyalah literasi menjadi denyut dari setiap tempat.” Bagi Mufti kehadiran patjarmerah dengan segala portofolio dan beragam aktivitasnya memberi ruang yang segar bagi masyarakat Solo dan sekitarnya.

Di mata Akhmad Ramdhon, dosen Universitas Sebelas Maret dan juga pegiat literasi Solo, jejak panjang literasi yang membentuk Solo adalah hasil perpaduan keberadaan tradisi Kasunanan dan Mangkunegaran. Kesadaran akan pentingnya kekuatan literasi ini juga turut membingkai perubahan dan modernisasi kota, salah satunya lewat pers lokal. Patahan kondisi masa lalu dan masa depan ini jugalah yang menjadi kerja-kerja strategis warga kota: pemerintah, pendidikan, dan komunitas.

“Rekam jejak patjarmerah di tiap titiknya menunjukkan mereka punya kemampuan merangkul para tiang sanggah dari ekosistem literasi, mempertemukan mereka dalam satu arena serta berkolaborasi,” kata Ramdhon. Keberadaan patjarmerah di Solo jadi terasa penting karena gerakan yang digawangi anak-anak muda ini bisa jadi pendorong, penggerak, juga pengingat bahwa sebuah tempat tanpa fondasi literasi akan kehilangan identitasnya. Revitalisasi tradisi selalu dimulai dari
literasi.

Patjarmerah Solo di Ndalem Djojokoesoeman

Semangat kolaborasi dan gotong royong literasi pun masih diusung patjarmerah. Di Solo, selain menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Surakarta, patjarmerah juga berkolaborasi dengan para pegiat literasi dan komunitas lintas bidang kreatif, di antaranya Difalitera, Sastra Pawon, Kamar Kata, Kembang Gula, Lokananta, termasuk Persis. Komunitas ini akan berkolaborasi dengan jenama-jenama internasional dan nasional, seperti Netflix, Tik Tok, Bioskop Online, Facebook, dan juga para penerbit. Para penulis dan seniman atau pekerja kreatif berbagai bidang juga turut diajak. Di antaranya Jungkat-Jungkit, Soloensis, Soerakarta Walking Tour, Solo Societeit, dan Titi Laras.

Pada salah satu sesi, Ngudhar Rasa: Meracik Masa Depan Kuliner Indonesia Lewat Tradisi Pangan, Pura Mangkunegaran bersama Lakoat.Kujawas dari Nusa Tenggara Timur, Bhumi Bhuvana dari Jogja, dan Titi Laras dari Solo akan bertukar rasa dan berbagi cerita. Penulis-penulis Solo–Sanie Kuncoro, Indah Darmastuti, Panji Kusuma, Beri Hanna. Peri Sandi Huizche pun hadir mengisi sesi-sesi di festival, berkolaborasi dengan pembicara-pembicara pilihan lainnya, seperti Joko Pinurbo, Ratih Kumala, Felix, K. Nessi, Yusi Avianto Pareanom, Martin Suryajaya, Reda Gaudiamo, Alexander Thian, Adimas Immanuel, Syahid Muhammad, Andina Dwi Fatma, dan lainnya. Tak ketinggalan penampilan istimewa dari Papermoon Puppet Theatre.

Akan ada 1 juta buku dan lebih dari 100 pembicara pilihan hadir di patjarmerah Solo. Ndalem Djojokoesoeman dipilih menjadi arena literasi karena sejarah panjangnya. Bangunan cagar budaya yang berdiri pada 1849 merupakan salah satu ndalem pangeran masih utuh di Solo. Bangunan ini dulunya menjadi kediaman raja pada masa Kesunanan Surakarta, khususnya keturunan Paku Buwono X dan Paku Buwono IX.

Categories
Komunitas

Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Tren penggunaan angkutan umum yang didukung Program Teman Bus sukses membuka 13 koridor di Kota Solo. Meski demikian, hal ini perlu diimbangi ketersediaan halte, ruang jalan yang berkeselamatan hingga trotoar yang memadai.

Sayangnya pembangunan trotoar selama ini kerap terpinggirkan. Kebijakan transportasi di Tanah Air yang berfokus pada kendaraan bermotor membuat trotoar dibuat ala kadarnya, asal ada. Trotoar didesain dengan lebar yang minim dan tanpa peneduh. Lebih sial lagi, tak sedikit trotoar yang jadi ruang parkir atau tempat mangkal PKL.

Namun wajah apik trotoar Kota Solo masih dapat dilihat di sejumlah lokasi yang selesai direvitalisasi seperti Jl. Slamet Riyadi (sisi selatan), Jl. Kyai Mojo, Jl. Juanda, Jl. Gatot Subroto, dan Jl. Sudirman. Di luar itu, masih banyak trotoar yang belum terjamah pembangunan. Kondisinya gelap pada malam hari, rusak, dan terputus oleh perubahan tata ruang.

Padahal di zaman dulu Solo sempat memiliki jalur yang mengintegrasikan banyak moda transportasi seperti bus, delman, pesepeda hingga kereta api dengan trotoar ideal untuk pejalan kaki. Perkembangan trotoar di Kota Solo bakal dikupas dengan fun dalam Jalan-jalan Solo: Trotoar Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan pada:

  • Waktu: Minggu, 7 Mei 2023 pukul 09.00-12.00 WIB
  • Titik Kumpul: Ruang Solidaritas Joli Jolan, Jalan Siwalan No.1 Kerten, Laweyan, Solo
  • Titik Akhir: Kulonowun Kopi, Koridor Ngarsopuro (sebagian perjalanan via BST, cek grafis rute)
  • Fasilitas: Minuman dari Kulonuwun Kopi, stiker, doorprize buku hingga kaus
  • Kontribusi: 40k (kuota peserta maksimal 20 orang)

Jalan-jalan Solo merupakan bagian dari program Jane’s Walk hasil koalisi Women on The Move dan Women in Transport Leadership. Acara ini terselenggara hasil kerja sama Lingkar Studi Transportasi Transportologi, Ruang Solidaritas Joli Jolan dan Pedestrian Jogja.

Segera daftarkan diri ya kawan. Kami akan menutup pendaftaran apabila kuota peserta sudah terpenuhi.

Registrasi: s.id/jalan2solo
Narahubung: 085725233966

Categories
Reportase

Akhir Pekan Ini, Warga Bahas Tantangan Pengelolaan Ruang Publik di Solo

Kota Solo termasuk wilayah dengan ruang publik yang cukup melimpah. Dengan luas “hanya” 44,02 kilometer persegi, Kota Bengawan punya deretan lokasi berkumpul warga seperti Taman Balekambang, Plaza Manahan, Plaza Sriwedari, Taman Banjarsari, hingga taman-taman kecil yang tersebar di kelurahan. Solo juga baru saja membangun Taman Bendung Tirtonadi yang membuat pilihan ruang publik semakin melimpah.

Itu belum termasuk beberapa halaman kantor kecamatan dan kelurahan yang kini disulap sebagai pusat-pusat kuliner UMKM di malam hari. Hal ini tentu perlu disyukuri. Namun jika ditilik, seluruh ruang publik tersebut adalah fasilitas yang disediakan pemerintah. Warga cenderung hanya ditempatkan sebagai objek pengguna. Padahal, partisipasi warga dalam menciptakan ruang-ruang publik yang inklusif dan sesuai kebutuhan mereka pun tak kalah penting.

Inisiatif tersebut bukannya tak pernah ada. Sempat muncul deretan ruang publik yang dimotori anak muda dan warga sipil seperti Gedung Kesenian Solo, Cangwit Creative Space, Pakem Solo, Muara Market hingga Gudang Sekarpace. Sejumlah seniman muda juga sempat mengelola Gedung Djoeang 45 untuk berkreasi.

Namun deretan inisiatif warga ini tak bertahan lama lantaran kendala internal maupun eksternal. Hanya beberapa yang masih eksis seperti Rumah Budaya Kratonan, Rumah Banjarsari, Ruang Atas serta sejumlah wadah publik anyar seperti Solo Art Market dan Ruang Solidaritas Joli Jolan.

Lalu, bagaimanakah model pengelolaan ruang publik yang ideal dan berkelanjutan? Apakah keterlibatan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan atau justru melemahkan? Ataukah saat ini inisiatif warga menjadi lebih cair dan tidak terikat satu ruang?

Menanggapi hal ini, Golek Bolo Space mengundang komunitas, mahasiswa, pegiat ruang publik, akademisi, jurnalis dan masyarakat umum untuk mengikuti diskusi bertajuk Warga dan Tantangan Pengelolaan Ruang Publik. Acara akan digelar pada:

Hari, tanggal: Sabtu, 24 September 2022

Pukul: 09.30 – 12.00 WIB

Tempat: Golek Bolo Space, Jl. Ronggowarsito 72, Keprabon, Banjarsari, Solo (sekompleks dengan Hotel Fortuna)

Narasumber:

  1. Zen Zulkarnaen (Direktur Rumah Banjarsari)
  2. Sita Ratih Pratiwi (Manajer Rumah Budaya Kratonan)
  3. Septina Setyaningrum (Inisiator Ruang Solidaritas Joli Jolan)
  4. Andi Setiawan (Inisiator Laboratorium Desain Sosial)
  5. Moderator: Sukma Larasati (General Manager Golek Bolo Space)

Diskusi tidak dipungut biaya alias gratis. Seluruh peserta diskusi akan mendapatkan diskon makan 50% dari Kedai Golek Bolo. Yuk, sumbangkan gagasan atau sekadar unek-unek kalian untuk mewujudkan kota yang dinamis dan berpihak pada kepentingan warga.

Narahubung: 085647198717

Categories
Reportase

Digifun, Upaya Membangun Ekosistem Digital yang Menyenangkan

SOLO—Sejumlah upaya membangun ekosistem digital terus digaungkan di Kota Solo. Tak hanya mendorong munculnya platform-platform bisnis, perlu ada upaya edukasi agar masyarakat memiliki kecakapan digital. Hal tersebut menjadi misi Digifun Festival 2022 yang akan digelar di Grand Atrium Solo Paragon, Jumat-Minggu (26-28/8/2022).

Digifun menjadi ajang bertemunya para pelaku, kreator, dan stakeholder industri digital untuk saling menyampaikan gagasan dan ide. Festival yang diinisiasi Look Creative dan Indonesia Esports Association (IESPA) Jawa Tengah ini mendorong ekosistem digital melalui tiga lini yakni E-sport, Edutaintment, dan Expo. “Kami ingin acara ini dapat mengambil peran untuk membangun ekosistem digital di Kota Solo,” ujar koordinator pelaksana Digifun, Agnya Paramarta, dalam keterangannya, Kamis.

Festival akan diisi beberapa kegiatan yakni turnamen e-sport (Free Fire), pameran karya digital, talkshow, expo hingga pergelaran musik. Pada penyelenggaraan perdana ini, Digifun memilih e-sport sebagai program utama untuk menjembatani minat generasi muda. Penyelenggara Digifun menggandeng IESPA untuk menggelar kompetisi Free Fire selama tiga hari. “Selain kompetisi e-sport, ada beberapa program edukasi mengenai terobosan digital yang akan digeber di festival,” imbuh Agnya.

Di hari pertama, akan ada talkshow yang membahas soal bagaimana mendistribusikan konten ke dalam platform digital. Talkshow tersebut menghadirkan Zen Al Ansory sebagai founder platform Bicaralive.id dan In Magma founder dari Pregnant Pause. Hari kedua, ada talkshow dari Mona Liem seorang kurator dan artpreneur, yang akan mengulik tema aplikasi digital art dalam industri masa kini.

Pada hari ketiga, Digifun giliran membahas pentingnya berinvestasi yang aman dengan pilihan instrumen investasi digital ataupun konvensional (selengkapnya lihat jadwal acara). Ketua acara Digifun, Zen Al Ansory, mengatakan Digifun ingin memberika stimulus bagi generasi muda dan masyarakat secara umum agar memiliki kecapakan digital. “Kami juga ingin memperkenalkan dan menghubungkan  ekosistem digital lokal, nasional, dan internasional. Sebagai embrio festival digital, kami berharap Digifun 2022 dapat mewujudkan ekosistem digital city festival yang kolaboratif, integratif, dan inovatif,” ujar Zen.

Jadwal Acara

Jum’at, 26 Agustus 2022

14.00 : Opening MC

14.15 : Speech from Chairman of IESPA Irman Jaya Wardana

14.30 : Speech from Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka

15.00 : Opening Ceremony (Oleh Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka)

15.15 : Offline Qualification sesi I

16.15 : Music Performance : Bugy and Friend

16.30 : Talkshow: BicaraLive.id (Zen Al Ansory) Pregnant Pause (InMagma) “Distribusi Konten melalui Digital Platform”.

17.15 : Break Maghrib

18.30 : Offline Qualification sesi II

19.30 : Music Performance: TEORI

20.00 : Announcement Winner to Semi Final

Sabtu, 27 Agustus 2022

13.00 : Opening Day II preparation

14.15 : Opening MC

14.30 : Semi-Final Qualification sesi I

16.30 : Talkshow: Mona Liem (Media Art Globale & Connected Art Platform) “Aplikasi Digital Art kedalam kebutuhan industri multimediahari ini”.

17.00 : Dance Performance: Carbon Kru

17.30 : Break Maghrib

18.30 : Semi Final Qualification sesi II

19.30 : Talkshow: BRM Suryo Adhityo Nuswantoro (Ketua Umum IESPA Jawa Tengah) “Sharing Knowledge tentang Kompetisi E-sport di Ajang Kejuaraan Dunia”.

20.00 : Music Performance: Malinoa

20.30 : Announcement Winner to Final

Minggu, 28 Agustus 2022

13.00 : Opening Day III preparation

14.15 : Opening Game

14.30 : Hammer Drum Performance

15.30 : Stand Up Comedy Arum Mudub

16.30 : Talkshow: Erose Perwita (The Investor) & Tokocrypto “Pentingnya Memulai Investasi yang Aman untuk Generasi Z”.

17.00 : Final Qualification

17.30 : Break Maghrib

19.00 : Music Performance: Disco Ringroad

19.30 : Announcement Awarding FF

20.00 : Closing Digifun

Categories
Reportase

Tak Sekadar Euforia, APG Ajarkan Karakter dan Empati Siswa

SOLO—Ramainya perhelatan cabang paraangkat berat ASEAN Para Games (APG) 2022 di Hotel Paragon Solo tak lepas dari aksi para suporter. Kelompok pelajar di Kota Solo menjadi salah satu kalangan yang setia mendukung perjuangan Indonesia di ajang multievent internasional tersebut. Tak hanya euforia, mereka mendapatkan pesan empati dan pembangunan karakter lewat perjuangan para atlet.

Pada hari Selasa (2/8/2022), sekitar 30 siswa SMPN 27 Solo turut memadati venue paraangkat berat di Hotel Solo Paragon. Mereka memberikan dukungan pada Abdul Hadi yang akan bertarung di kelas 49 kg pada pukul 15.00 WIB. Saking antusiasnya, para siswa didampingi sejumlah guru sudah hadir di venue sejak pukul 14.00 WIB.

Mereka membawa bendera Merah Putih kecil untuk memberi semangat atlet Indonesia. “Kami sengaja datang lebih awal agar kebagian kursi. Senin (1/8/2022) kemarin kami sempat mau nonton juga, tapi akhirnya pulang karena venue penuh,” ujar koordinator siswa yang juga guru Informatika di SMPN 27, Istiqomah Nugraheni, saat ditemui di sela kejuaraan, Selasa.

Sejumlah pelajar di kota Solo membawa bendera merah menyaksikan jalannya pertandingan Para Angkat Berat 11 th ASEAN Paragames 2022 di Hotel Paragon, Solo, Selasa 2 Agustus 2022. Kedatangan mereka untuk memberikan dukungan pada lifter Indonesia yang bertanding. INASPOC/Tandur Rimoro

Sambil mengibarkan bendera mini, para pelajar antusias memekikkan kata “Indonesia” ketika Abdul Hadi bersiap melakukan angkatan. Mereka juga memberi tepuk tangan pada kontingen negara lain yang tampil. Isti mengatakan pengalaman menonton APG menjadi pelajaran karakter tersendiri. Dia menyebut semangat pantang menyerah para atlet di tengah keterbatasan patut dicontoh para siswa. “Aksi para atlet bisa menjadi sumber inspirasi siswa agar tekun dan tidak cepat menyerah,” kata dia.

Rasa empati juga diharapkan menular pada siswa lewat gelaran APG. Saat bertanding, kontingen dari sejumlah negara tak jarang saling mendukung apabila atlet rival gagal melakukan angkatan. Mereka bersama penonton memberikan tepuk tangan untuk menguatkan para atlet. “Empati dan tolong menolong juga menjadi ilmu yang berharga,” imbuh Isti.

Seorang siswa SMPN 27, Sofi Retno, mengaku antusias menonton APG 2022 Solo. Itu menjadi pengalaman pertamanya melihat event olahraga internasional secara langsung. “Senang bisa lihat dan mendukung langsung atlet Indonesia,” ujar siswa kelas VIII tersebut. Dia takjub dengan para atlet disabilitas yang mampu mengangkat beban hingga seratusan kg. “Awal lihatnya ngeri sih. Tapi mereka keren,” ujar Sofi.

Kredit foto: INASPOC

Categories
Reportase

Dibahas, Peran Media Dalam Isu Krisis Iklim & Ketahanan Pangan

Solo—Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo bersama Google News Initiative menggelar Webinar bertajuk “Media, Ketahanan Pangan dan Krisis Iklim” lewat platform Zoom pada Selasa (24/5/2022) pukul 14.00-16.00 WIB. Kegiatan ini akan mengupas sejauh mana dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan di Soloraya.

Peran media dalam mengangkat problem iklim dan ketahanan pangan juga bakal dibahas. Sejumlah narasumber yang dihadirkan yakni Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Semarang, Sukasno, Manajer Program Kota Cerdas Pangan Yayasan Gita Pertiwi, Khoirunnisa, dan Redaktur Harian Umum Solopos, Ichwan Prasetyo. Webinar bakal dipandu jurnalis Tirto.id, Irfan Amin.

Ketua AJI Solo, Cahyadi Kurniawan, mengatakan problem kekeringan, banjir, dan kemunculan organisme pengganggu tanaman (OPT) selama ini membuat sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura dalam ancaman. Merujuk publikasi ilmiah Efriyani Sumastuti dan Nuswantoro Setyadi Pradono, hal itu tak lepas dari perubahan iklim. “Tanaman seperti padi mengalami penurunan produksi bahkan gagal panen karena tiga faktor tersebut. Hal ini juga terjadi pada petani di Soloraya beberapa waktu terakhir,” ujar Cahyadi dalam rilis yang diterima jolijolan.org, Senin (23/5/2022).

Cahyadi mengatakan kerawanan pangan bukan tak mungkin terjadi apabila kondisi tersebut terus berulang. Di sisi lain, media sejauh ini dinilai belum memainkan peran secara maksimal untuk membawa perubahan iklim sebagai isu arus utama. “Masih sedikit pemberitaan media di Soloraya yang mengaitkan ketahanan pangan dengan perubahan iklim. Dalam webinar nanti, akan dibahas bagaimana jurnalis dan media lokal mendudukkan isu tersebut di daerah,” ujarnya.

Sebagai informasi, webinar terbuka untuk jurnalis dan masyarakat umum. Registrasi peserta dapat melalui https://bit.ly/WebinarIklimAJISolo.

Narahubung:
Cahyadi (085725233966)
Chrisna (085647198717)