Categories
Gagasan

Ziarah: Krisis dan Keterasingan

Indonesia, pada suatu masa sempat mengalami kemurungan: antara ingin segera meninggalkan masa lalu atau dihantui ketidakpastian masa depan. Kemurungan itu diikuti krisis dan keterasingan, di mana masyarakat terseret arus perubahan yang begitu deras tanpa kesadaran akan sejarah dan tujuan.

Pada masa 1960-an, krisis ekonomi melanda Indonesia buntut kebijakan politik mercusuar berbiaya besar di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Kala itu, masyarakat Indonesia baru satu dekade menjalani pemulihan pascaperang kemerdekaan menuju pergolakan mengisi dan membangun.

Suasana krisis dan peralihan di Indonesia saat itu demikian terasa, sebab Indonesia masih muda dan sedang menjadi, tetapi ingin tampil gagah di antara bangsa-bangsa besar di dunia sembari mendayung di antara dua karang besar yang menjadi kiblat politik global. Presiden Soekarno menyebutnya sebagai tahun vivere pericoloso atau tahun penuh bahaya.

Di tahun penuh bahaya itulah, sastrawan angkatan 1966 Iwan Simatupang, menuntaskan pengerjaan novel pertamanya yang fenomenal berjudul Ziarah. Dalam bukunya berjudul Novel Baru Iwan Simatupang (1984) Dami N. Toda menjelaskan, Iwan mempersembahkan Ziarah untuk istri pertamanya, Corrine Imalda de Gaine, yang meninggal karena tifus pada tahun 1955.

Selesai ditulis pada akhir 1960, Ziarah baru terbit sembilan tahun kemudian. Begawan Sastra Indonesia, H.B Jassin pernah mendesak Penerbit Djambatan dalam sebuah surat agar lekas menerbitkan Ziarah. Kata Jassin, “Ceritera ini yang baru sama sekali dalam bahasa, dalam pengungkapan, dalam mendekati hidup dan permasalahan baru dalam kesusastraaan Indonesia.”

‘Kejutan’ di Kotapraja

Berlatar belakang di sebuah kota bernama Kotapraja, novel Ziarah mengisahkan keterasingan seorang protagonis laki-laki bernama Tokoh Kita yang batinnya terpukul karena istrinya meninggal dunia. Sekian lama terbenam dalam keterasingan sekaligus keputusasaan, Tokoh Kita akhirnya menginsyafi kesalahan dan memperbaiki diri.

Mengalami berbagai perenungan batin, Tokoh Kita memutuskan untuk membangun reputasi baru sebagai pengapur tembok yang andal berkat pengalaman dan keterampilannya melukis di masa lalu. Lambat laun, keahliannya menyebar ke seluruh penjuru Kotapraja, membuat seorang opseter pemakaman tertarik menggunakan jasanya.

Singkat cerita, opseter mulai dilanda cemas sejak tiga hari Tokoh Kita bekerja. Semula, opseter berniat mengamati perilaku ganjil Tokoh Kita saat mengapur tembok pemakaman Kotapraja. Perilaku ganjil yang dimaksud semacam gejala guncangan jiwa Tokoh Kita bila mengingat istrinya dimakamkan di tempat itu. Keinginan itu pupus karena Tokoh Kita malah menjalani rutinitas seperti orang pada umumnya. Ketika matahari terbenam, ia menyudahi pekerjaannya lalu pergi berjalan ke kedai arak sambil bersiul-siul santai. Kabar ini segera meluas ke seluruh penjuru Kotapraja, menjadi pemicu histeria warga kota.

“Perobahan tingkah pengapur ini mempengaruhi tingkah seluruh warga kota. Mereka tak dapat memahami perubahan itu. Mereka melihat pada perubahan itu hanya bertanda bakal datangnya satu perubahan tak baik dan menyamankan bagi mereka semuanya,” tulis Iwan.

Keganjilan Tokoh Kita bermula dari suatu hal yang seharusnya berjalan biasa saja. Namun, warga Kotapraja sudah lebih dulu beranggapan Tokoh Kita seharusnya berperilaku ganjil. Mereka seakan bersepakat, ukuran normal seseorang dinilai dari persepsi yang terpatri bersama di balik layar.

Dari sini, absurditas novel Ziarah mulai mendaki kompleksitasnya. Karena kenormalan Tokoh Kita, warga Kotapraja dikisahkan mengalami rentetan keganjilan sampai dengan krisis pemerintahan. Suatu hari, mereka merasa takut, curiga, serta bingung kepada sesama warga kota lainnya. Fenomena ini mengakibatkan histeria massal tak terduga hingga pemerintah Kotapraja hampir tak berdaya menghadapinya.

Para pejabat Kotapraja kesulitan mengurai masalah yang benar-benar baru pertama kali mereka temui. Wali kota akhirnya memutuskan turun tangan sendiri. Ia memutuskan memberhentikan opseter yang mempekerjakan Tokoh Kita. Merasa ganjil sekaligus buntu dengan keputusannya sendiri, wali kota malah bertambah frustasi dan memutuskan bunuh diri.

Kegagapan Menghadapi Perubahan

Histeria imbas perubahan perilaku Tokoh Kita menjadi simbolisme ketidaksiapan masyarakat menerima kecepatan perubahan. Cendekiawan dan mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa Soedjatmoko, dalam esainya yang berjudul Umat Manusia Menghadapi Tantangan Bagi Kelangsungan Hidupnya (1991) berpendapat, kecepatan perubahan di berbagai negara telah memicu gejala stres dan keterasingan.

Penyebab perubahan itu, tulis Soedjatmoko, misalnya kerumitan proses politik, menajamnya perbedaan budaya, serta karakter individu yang makin beragam. Belum lagi, revolusi informasi datang dan melampaui kapasitas ekonomi nasional suatu negara. Maka, Ziarah mencerminkan keadaan demikian: kabar buruk dan histeria menyibak inkompetensi pemerintah.

“Kecepatan perubahan dalam berbagai negara telah menimbulkan salah arah, keterasingan kaum muda, dan kaum miskin, perilaku anomik, serta kekerasan tidak terduga. Ini adalah tanda-tanda suatu masyarakat sedang mengalami stres,” tulis Soedjatmoko.

Pandangan Soedjatmoko itu ditulis puluhan tahun silam, tetapi gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Kita bisa menyaksikan sendiri, bagaimana di Indonesia percepatan informasi dan kebijakan salah kaprah menjurus pada vivere pericoloso. Akibatnya, bermunculan anomali sosial, ketidakpercayaan terhadap elite politik, dan berbagai bentuk aksi massa.

Sementara, seperti paniknya warga Kotapraja menghadapi perubahan perilaku Tokoh Kita, masyarakat Indonesia hari ini bergulat dengan perubahan sosial-politik yang datang bertubi-tubi. Refleksi pergulatan itu tercermin dari rentetan aksi demonstrasi belakangan waktu, serta kegagapan respons pemerintah menanggapi kritik dan aspirasi.

Selain didorong amplifikasi kabar di media sosial, rentetan aksi demonstrasi dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi ekonomi dan politik. Ambil misal, terjadinya PHK massal di banyak tempat, melambungnya harga bahan pokok, kebijakan pemangkasan anggaran kementerian, hingga terseret pusaran perang dagang raksasa-raksasa dunia.

Krisis ekonomi dan politik juga terjadi dalam Ziarah. Pemerintah Kotapraja sampai melibatkan pemerintah pusat untuk mengatasi efek domino dari histeria massal. Pemerintah panik melihat jumlah orang yang menderita penyakit darah tinggi dan urat syaraf terganggu semakin meningkat. Kepala negara, kabinet, dan parlemen sibuk mengatasi potensi kelumpuhan kerja negara akibat penyakit syaraf.

“Dan yang lebih celaka lagi, menjadinya negara satu sanatorium raksasa bagi satu bangsa yang seluruhnya menderita penyakit jiwa dan urat syaraf,” tulis Iwan.

Categories
Gagasan

Kota, Sepak Bola, dan Transportasi

Kota lekat dengan momen-momen olahraga, tak terkecuali sepak bola. Pada sudut pandang tertentu, momen sepakbola dapat menggambarkan berbagai aspek perkotaan, khususnya transportasi. Ada dua sudut pandang yang dapat digunakan untuk membaca kaitan antara kota dan sepak bola. Orhan Pamuk, salah satu sastrawan besar Turki, memberikan penjabaran yang menarik dari dua sudut pandang tersebut melalui esainya yang berjudul Kebakaran dan Reruntuhan.

Sudut pandang pertama adalah mata turis yang melihat sebuah bangunan, monumen, jalan, atau segala hal terkait dengan infrastruktur. Sementara, sudut pandang kedua adalah mata orang dalam, yang merekam segala momen, mulai dari yang kecil hingga yang besar dengan berbekal ingatan.

Dinamika sepak bola di Kota Solo juga bisa dibaca lewat cara demikian. Sejauh ini, Kota Solo memiliki sejarah sepakbola yang cukup panjang, terutama yang berkaitan dengan eksistensi klub Persis Solo. Klub Persis Solo sudah berdiri sejak tahun 1923 di masa kolonial. Usai melewati berbagai fase perjalanan, kini Persis Solo berkompetisi di kasta teratas liga sepak bola Indonesia.

Perjalanan panjang Persis Solo ini membuat massa sepak bola Solo memiliki banyak momen. Acapkali momen itu terjadi di stadion maupun di jalan. Salah satu momen di jalan terjadi dalam perayaan ulang tahun ke-100 Persis Solo, Rabu (8/11) malam. Saat itu massa tumpah ruah memenuhi Jalan Slamet Riyadi. Setelah acara berakhir, konvoi motor terjadi.

“Suporter mulai berdatangan dari pukul 22.00 WIB dan semakin malam semakin ramai. Jalan Slamet Riyadi pun macet total karena banyaknya suporter yang datang,” demikian yang tertulis dalam berita Detik.com.

Keterkaitan antara momen sepak bola dan massa bermotor itu juga bukannya tanpa alasan. Sebab, sejak lama massa sepakbola di Kota Solo memang identik dengan rombongan bermotor. Misalnya saja untuk menuju Stadion Manahan kandang Persis Solo, transportasi pribadi seperti motor masih jadi andalan utama. Bahkan keberangkatan mereka beramai-ramai terbagi dalam sekian kelompok.

Massa bermotor itu juga tercermin dari fasilitas publik terdekat atau gang sekitar stadion yang menjadi tempat parkir dadakan saat ada pertandingan sepak bola. Terlebih lagi, tampak massa bermotor tidak hanya berasal dari Kota Solo. Banyak yang datang dari kota-kota di sekitar Solo seperti Klaten, Sragen, Sukoharjo, dan Boyolali.

Barangkali kultur bermotor massa sepak bola Tanah Air tidak hanya terjadi di Kota Solo saja, tetapi umum terjadi di kota-kota lainnya. Biasanya antara kota, momen, dan ruang publik masih ditandai dengan kehadiran kendaraan bermotor yang memadati jalan, belum transportasi umum.

Menengok Kultur Nonton Bola di Belanda

Hal berbeda terjadi di luar negeri, yakni Belanda. Wartawan olahraga senior, Sumohadi Marsis pernah menceritakan bagaimana ia mengalami momen sepak bola di negeri kincir angin melalui transportasi umum. Catatan itu terdokumentasi pada 1987 dengan judul Dari Rotterdam ke Kardono. Tulisan tersebut terkompilasi pada buku berjudul Catatan Ringan. Di tulisannya, Sumohadi memantau peristiwa sepak bola di Belanda melalui sudut pandang turis. Sebagai turis tentu ia terfokus pada fasilitas publik maupun bangunan-bangunan di sana.

Sumber: Pixabay.com

Pertama-tama ia menulis kesan kunjungannya terhadap kota yang ia tuju, Rotterdam. Baginya mungkin terasa aneh menyadari sebuah fakta bahwa Rotterdam berarti sepi, kurang menarik, tak punya pesona. Ia pun mulai mencatat tentang fasilitas publik yang ada di sana, salah satunya seperti stasiun kota. Ia juga mengungkapkan rencananya melihat pertandingan sepakbola dengan memanfaatkan konektivitas stasiun kereta api antarkota di Belanda.

“Dengan tubuh menggigil kedinginan, pagi-pagi saya sudah berada di stasiun kereta api-Amsterdam. Tujuan Tunggal: Rotterdam. Maksud menyaksikan pertandingan Sparta vs Groningen,” kata dia.

Tulisan itu mengesankan jarak antarkota tak merintangi alasannya melihat laga sepakbola. Sebab, hal itu bisa ditempuh secara fleksibel melalui fasilitas publik seperti kereta api. Namun sesampainya di lokasi, ia merasa kecewa. Ia urung melihat pertandingan karena pembatalan dengan dalih stadion diselimuti salju. Kendati begitu, ia masih sempat mengutarakan kekagumannya terhadap stasiun di Belanda sembari membandingkannya dengan stasiun di Indonesia.

“Stasiun Rotterdam, yang tentu saja lebih besar dan mewah dibanding stasiun Sudimara (Tangerang), ternyata sepi-sepi saja,” kata Sumohadi.

Tak berhenti sampai di situ, Sumohadi kembali menceritakan pengalamannya menggunakan transportasi umum demi melihat pertandingan sepakbola. Namun bukan lagi kereta api, ia memilih memakai trem dalam kota Amsterdam.

“Lanjutan cerita berikut ini bisa lebih menjelaskan. Tak lama setelah tiba kembali di Amsterdam, saya berangkat lagi. Kali ini naik trem, karena tujuan perjalanan hanya di dalam kota. Yakni ke kandang Ajax, menyaksikan pertandingan klub kenamaan itu melawan Den Bosch,” ujarnya.

Sekian amatan Sumohadi Marsis dalam catatan itu memperlihatkan konektivitas antarkota, bahkan antarfasilitas publik. Ada kereta api, ada trem. Mungkin juga terdapat bis, kendati belum tertulis dalam catatan itu. Dengan konektivitas itu, mobilitas warga untuk menyaksikan laga sepak bola jadi kian mudah. Maka di kalangan suporter Eropa muncul kultur berjalan kaki yang disebut corteo. Mereka inilah yang datang ke stadion memanfaatkan moda transportasi umum dan disambung berjalan kaki.

Konektivitas publik jadi krusial. Melalui itu sepak bola menjadi cerminan kota seutuhnya, bukan hanya direpresentasikan oleh pendukungnya saja. Kota dan sepak bola pun melebur dan menyatu, mulai dari fasilitas hingga mentalitas.

Categories
Gagasan

Filantropisme Progresif Kelas Menengah

Belakangan, kelas menengah di Indonesia menjadi suatu fenomena sosiopolitik yang menarik untuk dibahas. Antara dicibir tapi dibutuhkan, hendak ditendang tapi sayang. Mungkin begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kelas menengah di Indonesia saat ini.

Dalam kajian kelas sosial, kelas menengah merupakan suatu pengecualian yang unik dalam epos kapitalisme di era industri modern. Salah satu keunikan kelas menengah terletak pada posisi mereka yang menjadi perantara antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Karakter kelas menengah dalam struktur industri modern juga terbilang lentur. Jika tidak berdaya lebih, mereka bisa terjerembap menjadi proletar. Namun jika punya kekuatan yang lebih besar, mereka punya peluang untuk berperan sebagai borjuis besar.

Di Indonesia, identifikasi kelas menengah dapat dilihat dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, ataupun status sosial. Dengan identifikasi kelas menengah yang dilihat dari kategori sosial dan bukan hanya akumulasi modal, mereka kerap dinilai sebagai kelasnya para pekerja kerah putih.

Dahulu, Gus Dur menyebut kelas menengah ini sebagai golongan fungsional. Dalam esainya di Majalah Tempo yang berjudul, Golongan Fungsional dan Perlunya Dialog, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki kesadaran kelas ataupun idealisme dalam berpolitik.

Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki keterikatan pada ideologi politik tertentu, ”Salah satu perwatakan yang menonjol dari golongan fungsional adalah pragmatisme. Oleh karena itu sedikit sekali perhatian yang mereka berikan pada ideologi politik,” tulis Gus Dur.

Arif Giyanto dalam bukunya yang berjudul Kelas Menengah Progresif mengatakan hal senada. Menurutnya, kelas menengah memang banyak dinilai sebagai kelas yang tidak memiliki kesadaran kelas yang cukup dalam menanggapi isu-isu politik atau terlibat langsung dalam kegiatan politik.

Akan tetapi, Arif Giyanto menambahkan, zaman yang berubah membuat kelas menengah terkini punya dorongan menyadari kekuatan dan eksistensinya. Konsumsi informasi dan kekuatan ekonomi yang terus meningkat, juga akan mendorong pencarian eksistensial itu.

Kalau berkaca dari sejarah, kelas menengah di Indonesia bisa tumbuh karena pembangunan ekonomi yang menyuburkan keberadaan mereka. Dengan adanya aktivitas pembangunan ekonomi, lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru terbuka luas bagi masyarakat.

Ketika kesempatan ekonomi terbuka luas, masyarakat yang terserap ke dalam arus itu mengalami banyak proses sosial yang baru. Termasuk di dalamnya, ada aktivitas perputaran uang yang sejalan dengan kebutuhan sehari-hari, status sosial, dan tolak ukur gengsi di tengah masyarakat.

Terang apabila kolumnis sekaligus komedian Wahyu ”Dono” Sardono menyebut kelas menengah sebagai kelas yang sibuk dengan sendirinya. Sebab, kesungguhan mereka lebih terpacak pada realitas sehari-hari, bukan realitas sosial yang lebih meluas.

Namun, jika kelas menengah terpaksa berkumpul dalam satu wadah untuk membicarakan  politik, mereka punya preferensi yang beragam, plural, dan tidak ideologis. Ketiadaan kancah orientasi yang jelas juga menjadi salah satu penyebab mengapa percakapan mereka terkesan teknis, dan tidak ideologis.

Kekosongan ideologi dalam kelas menengah ini bukannya tidak ada harapan. Justru tergusurnya prioritas idelogis dan politis dalam kelas menengah bisa menjadi tolak ukur penting untuk melibatkan mereka ke dalam proses perubahan sosial yang berdasar pada kesadaran kolektif mereka.

Lain dari itu, keterampilan teknis dan kecermatan melihat realitas sehari-hari adalah salah satu modal awal bagi kesadaran kolektif yang lebih jauh bagi kelas menengah. Memang tidak perlu muluk-muluk menjadi politis, namun setidaknya ada suatu kesungguhan lain di luar masalah ekonomi dan persoalan pragmatisme kerja.

Ruang Solidaritas Joli Jolan

Di Solo, terbentuk suatu ruang barter barang kolektif bernama Joli Jolan. Sekilas namanya terkesan tradisional. Namun sebenarnya di balik itu ada ide progresif yang menyatukan ikatan kelas menengah lintas profesi di Kota Solo.

Joli Jolan didirikan oleh sekelompok warga yang gelisah dengan perilaku konsumtif masyarakat. Niat awalnya, ruang solidaritas ini berfungsi untuk menyediakan barang yang masih layak pakai dan dapat ditukar dengan barang tepat guna lainnya.

Para pendiri Ruang Solidaritas Joli Jolan juga tidak dibatasi pada profesi tertentu. Ada yang berasal dari profesi wartawan, mahasiswa, dosen, dan juga peneliti. Secara garis besar, mereka adalah pekerja kerah putih yang oleh Gus Dur disebut sebagai golongan fungsional.

Setelah beberapa waktu berselang, Joli Jolan tak cuma sekedar bergerak di ranah tukar barang. Kini relawan Joli Jolan sudah mulai menyentuh ranah solidaritas antar kelas. Para relawan kerap menggerakkan donasi sandang dan pangan bagi masyarakat akar rumput di Kota Solo.

Kesan gerakan ini memang cenderung pada sifat filantropis. Tak ada kesan revolusioner ataupun memuat potensi radikalisme sosial. Namun, gerakan mereka menunjukkan bahwa para relawan yang berangkat dari kelas menengah ini terbuka pada dialog antar-kelas.

Lingkup gerakan ini juga akrab dengan publik. Dalam gerakannya, mereka menjamah banyak ruang publik. Dan sebagai suatu wadah, Joli-Jolan juga menjadikan galerinya sebagai suatu ruang publik tersendiri. Dengan aktivitas serba publik tersebut, dialog niscaya terjadi di dalam gerakan ini.

Lebih lanjut, untuk mewujudkan dialog yang lebih kritis, para relawan kerap menyelanggarakan diskusi publik. Galeri mereka juga tak jarang digunakan untuk membuka diskusi publik bagi pihak-pihak yang membutuhkan ruang khusus untuk diskusi.

Melihat hal itu, sebagian aktivitas gerakan ini cukup menjadi jawaban atas keraguan yang banyak diterima kelas menengah. Sebab, meski tidak menawarkan potensi transaksional dalam politik. Gerakan ini memiliki kekuatan pada solidaritas praksis yang berjalan dalam ranah isu-isu sosial di tengah masyarakat.

Itu berarti, gerakan sosial adalah sebuah bentuk yang sesuai bagi aktualisasi kelas menengah dalam mendorong proses perubahan sosial masyarakat. Sifat gerakan sosial juga telah melampaui motif gerakan politik yang rawan berbenturan dengan pelbagai pihak.

Keutamaan gerakan sosial juga terdapat pada aktualisasi, kreativitas, dan kritisisme yang saling berpadupadan. Dalam gerakan sosial pula, kepedulian sosial dan keterampilan teknis ala kelas menengah dapat menjadi suatu rumusan khusus landasan pergerakan mereka.

Dengan menyerap aspek gerakan sosial dan unsur kelas menegah, organisasi kelompok secara kolektif bisa mewujudkan kelas menengah sebagai kelas progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Arif Giyanto.

Memang, sebagai kategori sosial-politik, kekuatan kelas menengah tidak menjamin banyak hal. Konsep dan sifat gerakan mereka sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, optimisme kecil terkumpul, dan perlahan-lahan mengikat setiap individu dalam suatu solidaritas dan kesadaran bersama.