Bagaimana sebuah gerakan dapat berkembang dan berkelanjutan? Salah satu hal yang penting adalah jaringan. Dengan berjejaring, langkah gerakan bakal lebih ringan dan berdampak luas. Itulah yang membuat kami intens berkolaborasi dengan komunitas hingga warga akar rumput hingga sekarang.
Beberapa kelompok warga akhirnya terinspirasi membuat gerakan berbagi seperti di Jaten, Karanganyar, Pengging, Boyolali, Grobogan, dan yang terkini warga Rusunawa Putri Cempo Solo. Namun yang mungkin belum banyak diketahui, Joli Jolan juga intens melibatkan tetangga kampung untuk saling bantu.
Beberapa sukarelawan kami adalah tetangga. Ada pula tetangga pengusaha yang rutin memberi teh kesehatan gratis setiap akhir pekan. Dokter yang membuka praktik di dekat Joli Jolan juga memberikan jasa cek kesehatan secara cuma-cuma. Tak kalah seru, kami turut berkolaborasi dengan Masjid Al Huda, Kerten, sebuah masjid yang berlokasi hanya sepelemparan batu dengan Joli Jolan.
Ya, seusai Joli Jolan tutup Sabtu siang, kami langsung memilah sejumlah pakaian dan barang lain untuk diberikan ke pengelola masjid. Barang donasi itu nantinya akan dibagi pada warga masjid seusai salat Subuh setiap hari Minggu. Biasanya, masjid turut menyediakan sayuran yang juga dapat diambil gratis. Kegiatan ini pun secara tak langsung menambah motivasi warga sekitar untuk subuhan berjemaah.
Meski sederhana, Masjid Al Huda telah menjalankan fungsi sebenarnya dari pemberdayaan umat. Bagi kami, sudah sewajarnya tempat ibadah tak hanya menjadi ruang untuk beritual, tetapi juga menjadi ruang yang memberikan manfaat sosial-ekonomi secara langsung bagi jemaahnya. Tidak perlu menunggu siapa-siapa, mari kita inisiasi gerakan serupa bersama tetangga. Berani memulai, kawan?
Kebahagian itu kadang sangat sederhana, sekedar bertemu dan ngobrol sembari minum atau makan dengan sahabat kita. Seperti pertemuan hari ini (3/7), pertemuan saya bersama Robby Tulus (84) dan Daisy Taniredja (88). Saya jemput Robby yang menginap di hotel di daerah Jakarta Pusat dan kami berdua naik kereta komuter ke rumah Daisy di Depok, Jawa Barat.
Robby, tokoh koperasi yang dikenal secara luas di kalangan gerakan koperasi nasional dan internasional ini memang sudah tinggal dan menjadi warga negara Canada dan sedang ke Indonesia dalam rangka memberikan nasihat pengembangan koperasi. Robby adalah guru koperasi saya. Persahabatan kami sudah terjalin lama sejak tahun 2000. Saya mengenal Daisy juga melalui Robby.
Sementara itu, Daisy adalah salah satu perintis awal koran KOMPAS bersama PK Ojong dan Jacoeb Oetama yang berkantor di daerah Harmoni, Jakarta Pusat. Salah satu peninggalanya untuk usaha media adalah model iklan koran kecik atau iklan baris yang memungkinkan orang orang kecil beriklan di koran.
Soal koperasi, memang tidak banyak yang mengetahui peranan Daisy. Orang ini memang tidak banyak bicara tapi banyak mendukung di belakang secara kongkrit usaha pengembangan koperasi.
Daisy dari sejak muda, begitu pulang kantor dari KOMPAS, dia membantu Robby secara volounter mengembangkan Koperasi Kredit (Credit Union) melalui CUCO (Credit Union Conseling Office) yang kantornya kebetulan tidak terlalu jauh dari KOMPAS. CUCO (Credit Union Conseling Office) atau Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) ini dirintis tahun 1970 an oleh Pater Abrecht Kariem Arbie, SJ.
Pater Albrecht memimpin CUCO hanya selama satu tahun, lalu kepemimpinan CUCO diserahkan kepada Robby. Daisy secara partimer mendukungnya. Saat ini gerakan ini telah menghasilkan 900 an koperasi kredit (Credit Union) di tingkat primer dengan anggota 4,6 juta anggota individu dengan asset mandiri hingga 47 trilyun rupiah.
Sebagaimana diketahui, Pater Albrecht, perintis CUCO ini meninggal tertembak pada saat pergolakkan terjadi Dili, Timor Leste tahun 1999 dan dimakamkan di sana. Untuk mengenang banyak jasa-jasanya dan juga karya sosial Pater Albrecht, Daisy bersama beberapa imam dari Ordo Jesuit dan awam dirikan Yayasan Albrecht Kariem Arbie (YAKA).
Melalui sponsorship YAKA, Robby sebagai penasehat YAKA pada tahun 2010 mengembangkan program kaderisasi kepemimpinan. Tujuanya adalah membentuk jaringan kader yang berkarakter kuat dan juga berkomitmen dalam pengembangan lembaga sosial ekonomi masyarakat. Program tersebut dinamakan Kaderisasi Kolega Sosial Ekonomi Strategis Indonesia (K3SI). Dengan dukungan penuh Daisy, Robby berhasil selenggarakan program kaderisasi awal hingga 8 volume di 5 propinsi di Jawa, Sumatra, NTT, Kalbar, hingga Ambon. Kebetulan saya adalah bagian dari kader pertama.
Dari kegiatan kaderisasi ini lahir dua organisasi penting Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), sebuah lembaga think tank sosial ekonomi dan Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR) yang merupakan federasi nasional dari koperasi sektor riil (KSR) dimana saya saat ini terlibat aktif sebagai ketua AKSES sekaligus CEO INKUR.
AKSES saat ini telah memiliki 376 orang kader aktif yang tersebar di tanah air. INKUR sendiri sudah memiliki 22 koperasi primer yang bergerak di bidang koperasi konsumsi, Agrobisnis, Eco Tourism, jasa perhotelan dan lain lain.
Daisy memang bertangan dingin, melalui dukunganya, mimpi-mimpi sederhana menjadi mudah terwujud. Dia dalam banyak sesi kaderisasi awal juga masih sering ikut. Bahkan sampai di pelosok Tobelo, Maluku Utara.
Daisy pribadi yang sederhana, kalau diminta pidato kalimatnya sangat singkat tapi mendasar. Seperti misalnya pesan yang disampaikan kepada kader AKSES, “kepemimpinan berkarakter itu muncul karena memegang nilai-nilai penting yang diyakini dan dipertahankan. Ini sangat penting, misalnya kejujuran dan keberanian. Dengan kejujuran dan keberanian orang mungkin banyak yang tidak suka, tapi hal tersebut akan datangkan banyak manfaat”.
Dia juga pernah bercerita, ketika dia memimpin usaha periklanan di KOMPAS, dia dengan berani menolak iklan dari keluarga para petinggi pemerintah yang datang memaksa agar iklanya diberikan prioritas segera terbit dan bahkan sampai dengan menancapkan belati di mejanya, tapi dia tetap memegang prinsip tetap harus antri.
Daisy yang sudah tidak bisa pergi terlalu jauh karena fisiknya yang mulai melemah itu terlihat masih sangat jernih pemikiranya. Dia senang mendengarkan cerita tentang perkembangan Koperasi dan itu terlihat dari senyumnya yang sumringah. Tak lupa dia juga menanyakan tokoh tokoh CU seperti Pak Sitanggang, Pak Florus dan lain lain.
Pertemuan kami selain temu kangen, sesungguhnya Daisy sedang mengajak kami untuk selenggarakan kegiatan sederhana untuk memperingati 25 tahun hari meninggalnya dua orang Imam Jesuit penting yang meninggal di Timor Leste ketika masa pergolakkan politik, yaitu alm. Pater Albrecht Kariem Arbie, SJ pendiri Credit Union Indonesia dan Pater Tarcisius Dewanto, SJ.
Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu melekat untuk Daisy. Trimakasih atas dedikasi dan ajaran kesederhanaanmu.
Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)
Internet, terutama media sosial, sering dianggap sebagai penyebab menurunnya produktifitas umat manusia dewasa ini. Bukan pendapat yang keliru apabila mengaitkan internet dan media sosial sebagai penyebab distraksi yang sering menyabotase penggunanya dalam bekerja. Namun, perlu dipahami bahwa internet dan media sosial hanyalah sebuah alat. Penggunalah yang pada dasarnya memiliki kendali untuk mengelola internet yang mereka gunakan. Penggunalah yang berperan dalam memutuskan bagaimana mereka menggunakan internet dan media sosial, termasuk bagaimana memanajemen distraksi dalam kehidupan mereka. Layaknya pisau dapur yang dapat digunakan untuk mengiris sayuran ataupun melukai.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa internet, termasuk media sosial yang ada di dalamnya, memiliki banyak sekali manfaat yang bakal tidak habis kita hitung satu per satu. Adanya tulisan ini pun merupakan salah satu dari manfaat yang bisa didapatkan dari internet. Tanpa bantuan internet siapa yang menjamin bakal ada yang menulis dan membaca tulisan ini? Bahkan secara sosial pun, internet telah memberikan dampak signifikan dalam menunjang kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari komunikasi, akses informasi, pertukaran pengetahuan, dan membangun kesadaran sosial. Internet menjadikan hal-hal tersebut jauh terasa lebih mudah, efisien, dan cepat.
Internet Mendukung Penyebaran Informasi
Joli Jolan menyadari bahwa aksi kecil Joli Jolan tidak hanya dimulai dari semangat relawan dalam membantu dan menyebarkan informasi Joli Jolan dari mulut ke mulut. Namun, ada juga peran internet, baik melalui liputan berita online maupun media sosial, dalam menyebarkan informasi Joli Jolan ke audience yang lebih luas. Joli Jolan pada akhirnya tidak sekadar dikenal oleh masyarakat Kota Solo saja, tetapi sampai ke kota-kota lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Joli Jolan tumbuh sebagai komunitas lokal yang kegiatan-kegiatannya dapat diintip langsung oleh siapa saja melalui media sosial.
Contoh lain dari peran internet adalah banyaknya situs-situs penggalangan dana yang bersliweran di beranda iklan media sosial kita. Penggalangan dana tersebut berhasil menjangkau berbagai penjuru negeri dengan cara yang relatif mudah dan cepat. Pastinya sudah banyak pihak yang terbantukan dengan kehadiran platform penggalangan dana semacam itu.
Inilah peran internet dan media sosial yang berdampak signifikan dalam menebar inspirasi dan kebaikan. Internet dan media sosial tidak hanya berakhir sebagai alat untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat. Lebih dari itu, internet dan media sosial mampu dimanfaatkan sebagai sarana berkomunikasi, bersilaturahmi, berbagi informasi dan ilmu, serta menyebarkan gagasan dan semangat yang positif.
Pada akhirnya penggunalah yang memutuskan akan dibawa ke mana internet atau media sosial yang mereka gunakan. Apakah akan digunakan untuk mencari hiburan atau mencari ilmu? Mencari keduanya? Atau malah mencari hal-hal yang kurang bermanfaat? Apa pun keputusan yang mereka ambil, keputusan-keputusan itulah yang nantinya akan menentukan seberapa efektif waktu yang telah mereka habiskan. Inilah nanti yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan mereka.
Mewarnai menurut KBBI memiliki arti memberi warna, mengecat, dan sebagainya. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak usia dini hingga sekolah dasar. Namun, beberapa tahun belakangan, mewarnai juga menjadi tren di kalangan orang dewasa, lho. Ternyata, kegiatan ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki manfaat. Apa saja sih manfaat mewarnai? Berikut ini manfaat mewarnai untuk orang dewasa:
1. Membawa Ketenangan
Carl Jung, seorang psikolog dan tokoh psikolog analitis (1875-1961), telah menerapkan terapi dengan mewarnai untuk pasien yang memiliki masalah psikologis. Tujuannya untuk ketenangan dan kefokusan pasien.
2. Memberi Ruang Bersosialisasi
Kegiatan mewarnai membawa kita bertemu dengan komunitas atau orang-orang yang memiliki hobi yang sama. Seniman Lisa Congdon berteori tentang aspek sosial mewarnai. “Ini adalah cara lain untuk bersosialisasi dan memiliki aktivitas yang dilakukan bersama orang lain. Kamu tak perlu berkonsentrasi penuh ketika mewarnai, kamu dapat sambil mengobrol, dan minum segelas anggur,” tutur Congdon.
3. Mengurangi Rasa Takut dan Cemas
Psikolog Dr. Ben Michaelis menerangkan bahwa mewarnai bisa mengaktifkan logika pada otak dan menciptakan pola pikir yang lebih kreatif. “Karena merupakan aktivitas yang terpusat, amygdala (bagian otak yang merespon rasa takut) bisa beristirahat sedikit demi sedikit. Semakin lama, efeknya bisa sangat menenangkan,” kata Dr. Ben. Saat mewarnai, orang dewasa akan merasa seperti anak-anak lagi. Sehingga mereka merasa bisa merasakan kehidupan yang bebas dari tekanan dan rasa khawatir untuk beberapa waktu.
4. Menjadi Diri Sendiri
Mewarnai membawamu menjadi diri sendiri. Tidak ada aturan gambar tersebut harus diberi warna-warna tertentu. Kamu bebas berekspresi.
5. Melatih Keterampilan Motorik Halus dan Penglihatan
“Aktivitas ini melibatkan dua logika, yakni pola warna dan kreativitas ketika mencampur dan mencocokkan warna. Sehingga pada gilirannya aktivitas mewarnai menggabungkan bagian celebral cortex yang melibatkan kemampuan penglihatan dan motorik halus,” ujar Gloria Martínez Ayala, seorang psikolog.
Wah … Ternyata, manfaat mewarnai beragam, ya. Jangan takut dianggap seperti anak kecil! Yuk, mewarnai dan temukan kesenanganmu!
Belakangan, kelas menengah di Indonesia menjadi suatu fenomena sosiopolitik yang menarik untuk dibahas. Antara dicibir tapi dibutuhkan, hendak ditendang tapi sayang. Mungkin begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kelas menengah di Indonesia saat ini.
Dalam kajian kelas sosial, kelas menengah merupakan suatu pengecualian yang unik dalam epos kapitalisme di era industri modern. Salah satu keunikan kelas menengah terletak pada posisi mereka yang menjadi perantara antara kelas borjuis dan kelas proletar.
Karakter kelas menengah dalam struktur industri modern juga terbilang lentur. Jika tidak berdaya lebih, mereka bisa terjerembap menjadi proletar. Namun jika punya kekuatan yang lebih besar, mereka punya peluang untuk berperan sebagai borjuis besar.
Di Indonesia, identifikasi kelas menengah dapat dilihat dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, ataupun status sosial. Dengan identifikasi kelas menengah yang dilihat dari kategori sosial dan bukan hanya akumulasi modal, mereka kerap dinilai sebagai kelasnya para pekerja kerah putih.
Dahulu, Gus Dur menyebut kelas menengah ini sebagai golongan fungsional. Dalam esainya di Majalah Tempo yang berjudul, Golongan Fungsional dan Perlunya Dialog, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki kesadaran kelas ataupun idealisme dalam berpolitik.
Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki keterikatan pada ideologi politik tertentu, ”Salah satu perwatakan yang menonjol dari golongan fungsional adalah pragmatisme. Oleh karena itu sedikit sekali perhatian yang mereka berikan pada ideologi politik,” tulis Gus Dur.
Arif Giyanto dalam bukunya yang berjudul Kelas Menengah Progresif mengatakan hal senada. Menurutnya, kelas menengah memang banyak dinilai sebagai kelas yang tidak memiliki kesadaran kelas yang cukup dalam menanggapi isu-isu politik atau terlibat langsung dalam kegiatan politik.
Akan tetapi, Arif Giyanto menambahkan, zaman yang berubah membuat kelas menengah terkini punya dorongan menyadari kekuatan dan eksistensinya. Konsumsi informasi dan kekuatan ekonomi yang terus meningkat, juga akan mendorong pencarian eksistensial itu.
Kalau berkaca dari sejarah, kelas menengah di Indonesia bisa tumbuh karena pembangunan ekonomi yang menyuburkan keberadaan mereka. Dengan adanya aktivitas pembangunan ekonomi, lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru terbuka luas bagi masyarakat.
Ketika kesempatan ekonomi terbuka luas, masyarakat yang terserap ke dalam arus itu mengalami banyak proses sosial yang baru. Termasuk di dalamnya, ada aktivitas perputaran uang yang sejalan dengan kebutuhan sehari-hari, status sosial, dan tolak ukur gengsi di tengah masyarakat.
Terang apabila kolumnis sekaligus komedian Wahyu ”Dono” Sardono menyebut kelas menengah sebagai kelas yang sibuk dengan sendirinya. Sebab, kesungguhan mereka lebih terpacak pada realitas sehari-hari, bukan realitas sosial yang lebih meluas.
Namun, jika kelas menengah terpaksa berkumpul dalam satu wadah untuk membicarakan politik, mereka punya preferensi yang beragam, plural, dan tidak ideologis. Ketiadaan kancah orientasi yang jelas juga menjadi salah satu penyebab mengapa percakapan mereka terkesan teknis, dan tidak ideologis.
Kekosongan ideologi dalam kelas menengah ini bukannya tidak ada harapan. Justru tergusurnya prioritas idelogis dan politis dalam kelas menengah bisa menjadi tolak ukur penting untuk melibatkan mereka ke dalam proses perubahan sosial yang berdasar pada kesadaran kolektif mereka.
Lain dari itu, keterampilan teknis dan kecermatan melihat realitas sehari-hari adalah salah satu modal awal bagi kesadaran kolektif yang lebih jauh bagi kelas menengah. Memang tidak perlu muluk-muluk menjadi politis, namun setidaknya ada suatu kesungguhan lain di luar masalah ekonomi dan persoalan pragmatisme kerja.
Ruang Solidaritas Joli Jolan
Di Solo, terbentuk suatu ruang barter barang kolektif bernama Joli Jolan. Sekilas namanya terkesan tradisional. Namun sebenarnya di balik itu ada ide progresif yang menyatukan ikatan kelas menengah lintas profesi di Kota Solo.
Joli Jolan didirikan oleh sekelompok warga yang gelisah dengan perilaku konsumtif masyarakat. Niat awalnya, ruang solidaritas ini berfungsi untuk menyediakan barang yang masih layak pakai dan dapat ditukar dengan barang tepat guna lainnya.
Para pendiri Ruang Solidaritas Joli Jolan juga tidak dibatasi pada profesi tertentu. Ada yang berasal dari profesi wartawan, mahasiswa, dosen, dan juga peneliti. Secara garis besar, mereka adalah pekerja kerah putih yang oleh Gus Dur disebut sebagai golongan fungsional.
Setelah beberapa waktu berselang, Joli Jolan tak cuma sekedar bergerak di ranah tukar barang. Kini relawan Joli Jolan sudah mulai menyentuh ranah solidaritas antar kelas. Para relawan kerap menggerakkan donasi sandang dan pangan bagi masyarakat akar rumput di Kota Solo.
Kesan gerakan ini memang cenderung pada sifat filantropis. Tak ada kesan revolusioner ataupun memuat potensi radikalisme sosial. Namun, gerakan mereka menunjukkan bahwa para relawan yang berangkat dari kelas menengah ini terbuka pada dialog antar-kelas.
Lingkup gerakan ini juga akrab dengan publik. Dalam gerakannya, mereka menjamah banyak ruang publik. Dan sebagai suatu wadah, Joli-Jolan juga menjadikan galerinya sebagai suatu ruang publik tersendiri. Dengan aktivitas serba publik tersebut, dialog niscaya terjadi di dalam gerakan ini.
Lebih lanjut, untuk mewujudkan dialog yang lebih kritis, para relawan kerap menyelanggarakan diskusi publik. Galeri mereka juga tak jarang digunakan untuk membuka diskusi publik bagi pihak-pihak yang membutuhkan ruang khusus untuk diskusi.
Melihat hal itu, sebagian aktivitas gerakan ini cukup menjadi jawaban atas keraguan yang banyak diterima kelas menengah. Sebab, meski tidak menawarkan potensi transaksional dalam politik. Gerakan ini memiliki kekuatan pada solidaritas praksis yang berjalan dalam ranah isu-isu sosial di tengah masyarakat.
Itu berarti, gerakan sosial adalah sebuah bentuk yang sesuai bagi aktualisasi kelas menengah dalam mendorong proses perubahan sosial masyarakat. Sifat gerakan sosial juga telah melampaui motif gerakan politik yang rawan berbenturan dengan pelbagai pihak.
Keutamaan gerakan sosial juga terdapat pada aktualisasi, kreativitas, dan kritisisme yang saling berpadupadan. Dalam gerakan sosial pula, kepedulian sosial dan keterampilan teknis ala kelas menengah dapat menjadi suatu rumusan khusus landasan pergerakan mereka.
Dengan menyerap aspek gerakan sosial dan unsur kelas menegah, organisasi kelompok secara kolektif bisa mewujudkan kelas menengah sebagai kelas progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Arif Giyanto.
Memang, sebagai kategori sosial-politik, kekuatan kelas menengah tidak menjamin banyak hal. Konsep dan sifat gerakan mereka sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, optimisme kecil terkumpul, dan perlahan-lahan mengikat setiap individu dalam suatu solidaritas dan kesadaran bersama.