Categories
Komunitas

Gerakan Cinta Lingkungan Resik Resik X

Anak muda di wilayah Laweyan Solo menginisiasi gerakan peduli lingkungan dalam tajuk Resik Resik X (dibaca kali atau sungai). Gerakan ini dimulai pada 2019 lalu. Saat itu sang inisiator, Eko Pethel, yang merupakan warga setempat mengaku risih melihat sungai dekat rumahnya yang terlihat kotor dan menghitam. Dia lalu turun ke sungai dan merasakan betapa dangkalnya lokasi tersebut.

Eko kemudian  membuat video tentang kondisi sungai dan diunggah di laman media sosial (medsos). Saat itu banyak yang merespons dan mendorong untuk membuat agenda bersih-bersih sungai. Hingga akhirnya menjadi gerakan besar bernama Resik-Resik X yang melibatkan banyak anak muda pegiat seni dan berbagai bidang lain di sekitar Solo.

Gerakan yang sebenarnya bertujuan mengembalikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peduli lingkungan ini direspons banyak pihak. Warga setempat hingga komunitas-komunitas di sekitar Solo. Eko dan warga beberapa kali membuat kegiatan bersih-bersih sungai, mancing bersama, hingga pembacaan puisi di pinggir kali. “Sungai itu hanya kujadikan sebagai trigger, intinya adalah tentang gerakan kesadaran merawat lingkungan,” terang Eko saat berbincang dengan tim Joli Jolan di markas Joli Jolan bilangan Kerten, Laweyan, Kamis (11/3/2021) lalu.

Pot dan Limbah Fesyen

Saat melakukan bersih-bersih sungai mereka menemukan banyak sampah fesyen yang terbawa arus sungai. Sampah berupa pakaian tersebut kemudian mereka kumpulkan karena bisa mengganggu jalannya air dan berdampak pada banjir. Setelah terkumpul cukup banyak, pakaian tak layak tersebut kemudian mereka olah menjadi bahan kerajinan tangan seperti hiasan rumah dan pot bunga.

Bersama rekannya bernama Cherik, Eko, sempat mempraktikkan pemanfaatan limbah fesyen menjadi pot dan hiasan rumahan dalam acara workshop Sampah Jadi Cuan dan Kerajinan di Joli Jolan. Eko mempraktikkan mudahnya membuat pot sampah atau hiasan rumahan dari kain. Hanya perlu menyiapkan pakaian bekas berbahan kaus, gunting, cetakan, dan semen. Detail praktiknya bisa dilihat di kanal YouTube Joli Jolan.

Eko mengatakan pengembangan program Resik Resik X dengan pot tanaman tersebut cukup menjanjikan. Jika mau diseriusi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Beberapa waktu lalu ketika ada lomba penghijauan di kampungnya, ia mengajak warga sekitar untuk bersama-sama memproduksi pot dengan kain tersebut. Hasilnya cukup lumayan, tanpa modal besar, kampungnya terlihat indah warna-warni.

Cherik dan Eko sepakat tak mau menjadikan Resik Resik X sebagai nama komunitas. Mereka menyebutnya sebagai gerakan bersama. Dengan begitu programnya tak mengikat dan bisa dikerjakan di mana pun. Gerakan peduli lingkungan Resik Resik X bahkan siap berkolaborasi dengan siapa pun asal memiliki misi yang sama. Termasuk dengan Joli Jolan lewat workshop sampah pada Kamis lalu.

Menurutnya gerakan kolaborasi seperti ini sangat penting di masa sekarang. Kita semua akan kesulitan jika bekerja sendiri. Namun, jika dilakukan bersama-sama, gaungnya akan lebih besar. Eko juga mengapresiasi gerakan Bank Sampah yang menjadi konsentrasi diskusi pada workshop Kamis lalu. Bank Sampah merupakan upaya memperpanjang umur barang. Menariknya program tersebut melibatkan para ibu-ibu.

Gerakan Resik-Resik X bahkan menarik perhatian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov). Humas Pemprov Jateng mengapresiasi inovasi anak muda ini dengan mendokumentasikan video feature mereka. Kemudian dipublikasikan di kanal YouTube Humas Jateng bertepatan pada Hari Sampah Nasional, Rabu (24/2/2021). Tujuannya agar gerakan ini menjadi contoh masyarakat tentang semangat menjaga alam dan lingkungan sekitar.