Categories
Sudut Joli Jolan Uncategorized

Enam Tahun Joli Jolan: Dari Solidaritas Menuju Masyarakat Lestari

Berawal dari gagasan sederhana untuk menyediakan barang kebutuhan primer yang dapat diambil secara gratis oleh masyarakat yang membutuhkan, Joli Jolan tumbuh menjadi komunitas yang secara perlahan namun konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan. Bukan melalui gerakan penanaman sejuta pohon, bukan pula melalui aksi bersih-bersih sungai. Joli Jolan memilih jalur yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat: menjadi perantara pertukaran barang layak pakai di tengah warga Kota Surakarta. Tujuannya sederhana, yakni membantu warga mendapatkan akses untuk memiliki barang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, Joli Jolan juga berupaya membumikan budaya konsumsi berkesadaran—bagaimana sebuah barang digunakan, dimaknai, dan dilanjutkan penggunaannya ketika barang tersebut sudah tidak lagi dipakai oleh pemilik awalnya. Sebuah upaya untuk memperpanjang usia barang agar tidak berakhir sebagai tumpukan sampah, melainkan menjadi sesuatu bernilai guna bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut tidak hanya berhasil terwujud, tetapi juga mampu bertahan hingga enam tahun, rentang waktu yang tidak singkat bagi sebuah komunitas yang lahir dari hanya bermodalkan mimpi untuk berkontribusi secara sosial. Untungnya ada kehadiran individu-individu yang kompeten, berkomitmen, dan percaya pada visi besar Joli Jolan. Merekalah bahan bakar utama yang berhasil menggerakkan komunitas ini.

Meski saat ini Joli Jolan masih bergerak dalam skala yang relatif kecil, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Bagi Joli Jolan, dampak nyata jauh lebih bernilai dibandingkan popularitas yang tidak terarah. Justru langkah-langkah kecil inilah yang nantinya menjadi fondasi awal terwujudnya dampak positif yang kian masif.

Ruang untuk Tumbuh Bersama

Bagi saya pribadi, Ruang Solidaritas Joli Jolan merupakan komunitas yang memiliki potensi besar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, peran Joli Jolan tidak berhenti hanya sebatas komunitas tukar-menukar barang, melainkan berkembang menjadi gerakan yang mengampanyekan kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.

Kesadaran tersebut dibangun tidak hanya melalui kegiatan tukar-menukar barang yang rutin diselenggarakan setiap hari Sabtu, tetapi juga melalui berbagai aktivitas pendukung, mulai dari diskusi gagasan hingga kegiatan tematik yang diadakan pada momen tertentu. Selain itu, kegiatan-kegiatan Joli Jolan kerap dilakukan secara kolaboratif bersama komunitas lain dari beragam latar belakang. Melalui kolaborasi inilah setiap pihak saling mengisi, berbagi informasi, serta menumbuhkan nilai-nilai konstruktif yang penting dipahami oleh masyarakat.

Para relawan yang menghadapi berbagai dinamika dalam mengelola Joli Jolan pun turut mendapatkan manfaat dalam perjalanannya membersamai Joli Jolan. Setiap problematika yang muncul menuntut mereka beradaptasi dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di titik inilah tercipta ruang dialektika bagi seluruh pihak yang berinteraksi dengan Joli Jolan. Mendorong mereka untuk tidak hanya terlibat, tetapi juga belajar dan berkembang bersama.

Joli Jolan membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang tidak sekadar memahami arti solidaritas, tetapi juga menjadi bagian aktif dari solidaritas itu sendiri. Mewujudkan masyarakat yang mulai menyadari pentingnya berkesadaran dalam mengonsumsi barang. Masyarakat yang tidak serta-merta membuang barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan, melainkan dengan sadar mendonasikannya kepada mereka yang berhak menerima. Masyarakat yang tidak hanya peduli pada kebutuhan antarsesama, tetapi juga peduli dengan kelestarian lingkungan.

Gerakan semacam ini perlu terus dirawat agar dapat tumbuh subur di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan kebaikan, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, hingga kemudian terakumulasi menjadi kebaikan yang berdampak besar. Semoga komitmen Joli Jolan dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat senantiasa lestari—tidak hanya bagi mereka yang telah membersamai selama enam tahun perjalanan ini, tetapi juga bagi mereka yang belum pernah berinteraksi sama sekali dengan Joli Jolan. Karena Joli Jolan hadir sebagai ruang solidaritas untuk tumbuh bersama, membangun kesadaran kolektif yang mampu memaknai arti kelestarian lingkungan.

Categories
Reportase

Musik Bersuara, Alam Kita Jaga

Upaya bersama untuk menjaga dan mencintai alam bisa datang dari berbagai lini. Salah satunya melaui bidang musik. Musik dianggap sebagai medium yang cukup dekat dengan masyarakat sehingga layak digunakan sebagai kampanye berbagai isu penting. Salah satunya adalah isu alam dan lingkungan.

Di Indonesia, ada beberapa grup musik yang concern pada kampanye penyelamatan lingkungan. Melalui rilis kepada media, grup musik asal Solo, Down for Life (DFL), turut mengampanyekan isu lingkungan melalui musik cadas mereka.

DFL merilis video musik menarik pada nomor andalan Prahara Jenggala melalui akun YouTube Prahara Jenggala. Mereka mengusung kisah nyata perjuangan Suku Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat melawan penghancuran hutan adat mereka oleh perusahaan bernama PT Mayawana Persada. Dalam rentang waktu tiga tahun, 33.000 hektare hutan alam (7,5 x luas wilayah Solo Raya) telah dibabat habis oleh perusahaan.

Hutan tersebut merupakan habitat bagi orang utan, rangkong, dan banyak satwa endemik lainnya. Hutan juga menjadi sumber penghidupan masyarakat Dayak Kualan turun-temurun antargenerasi. Masyarakat kini bersatu melawan perenggut hutan mereka.

Meskipun sempat didera intimidasi dan kriminalisasi, api perlawanan tak pernah padam. Mereka percaya mempertahankan hutan adat adalah pertempuran yang melampaui batas ruang dan waktu; sebuah pengorbanan untuk menjaga warisan sejarah dan masa depan kehidupan; sebuah perlawanan untuk memelihara praktik hidup yang luhur, yang menghargai keselarasan antara manusia dan alam.

Perjuangan masyarakat adat Kualan Hilir sejatinya tak hanya untuk kelompok mereka sendiri, juga bagi kelangsungan makhluk hidup secara keseluruhan. Prahara Jenggala bakal menjadi salah satu single terbaru DFL dalam album terbaru Kalatidha yang akan dirilis pada 2025 oleh Blackandje Records.

Kolaborasi dalam musik perlawanan ini didukung penuh Trend Asia, Blackandje Records bersama dengan kelompok musisi yang terhimpun dalam Music Declares Emergency. Tak hanya merilis video klip, mereka juga mengajak semua orang untuk bergabung dalam gerakan #NoMusicOnADeadPlanet.

Categories
Komunitas

Webinar Women Eco Talk: Perempuan Pelopor Lingkugan

Halo teman-teman pelajar putri! 🌻

Masalah sampah menjadi isu serius yang sudah seharusnya membutuhkan perhatian kita semua. Pentingnya memberikan edukasi yang benar untuk meminimalisir berkembangnya sampah yang semakin tidak terkendali.

Koordinator Pusat Korps PII Wati mempersembahkan sebuah webinar dengan judul “Perempuan Perempuan Bijak Konsumsi, Menjaga Bumi Menjaga Masa Depan”

Dengan pemateri yang super kece, yakni :
🗣️ Narasumber : Sukma Larastiti
📌 Relawan Komunitas Jolijolan
📍 Domisili Jerman
👤 Moderator: Shafiyah Lu’luah Nadirah
🔗 Kadiv. KPKP Korpus Korps PII Wati

Penasaran? Catat nih jadwalnya, insyaaAllah kita akan agendakan pada :

Hari : Sabtu, 13 Juli 2024
Waktu : 19.30 WIB
Platform : Google Meet
Link : https://meet.google.com/oaq-pdiu-ewm

Contact Person : +62895365200808 (Salwa Fahrizza)

Follow Instagram kami :

  • https://www.instagram.com/pbpii.official
  • https://www.instagram.com/piiwati
  • https://www.instagram.com/joli_jolan
Categories
Komunitas

Menjaga Kelestarian Lingkungan dari Kerajinan Sederhana

Sebagai salah satu upaya Ruang Solidaritas Joli Jolan dalam mewujudkan ruang edukasi, Joli Jolan sekali lagi mengadakan workshop kreatif bertema Menyulap Kaus Bekas dan Plastik Menjadi Produk Estetik. Workshop yang diadakan pada hari Sabtu, 30 Maret 2024 ini dimentori langsung oleh pegiat crafting dari Bandung dan pengelola @lovya.handmade, Kak Meilisa. Melalui workshop yang berlangsung dari pukul 16.00-17.30 ini, para peserta diperkenalkan teknik sederhana mengolah plastik dan kain sisa baju untuk menghasilkan produk yang bermanfaat, seperti tatakan ataupun tempat pensil.

Diketahui kaus bekas dan plastik merupakan bahan-bahan yang seringkali menjadi penyumbang terbesar sampah di lingkungan. Dalam workshop ini, peserta diajak untuk melihat nilai manfaat yang bisa didapatkan dari kaus bekas dan plastik yang tidak lagi terpakai. Dengan kreativitas dan ketelatenan, kedua bahan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna.

Pertama-tama, kaus yang telah dipotong panjang dan tipis digunakan untuk melilit kantong plastik yang telah diulir panjang layaknya tali. Plastik yang telah terlilit kain tersebut kemudian diikat menggunakan benang wol dengan teknik pengikatan khusus. Hasil ikatan tersebut menjadi fondasi bertekstur estetik dan menarik yang dapat dibentuk sebagai tatakan meja, tempat pensil, atau produk lain sesuai kreativitas.

Para peserta antusias mempraktikkan langkah demi langkah membuat hasil ikatan yang rapi sembari menanti berbuka puasa. Untuk semakin menyemarakkan suasana, Joli Jolan telah menyediakan beragam sajian buka puasa seperti kolak, pizza, dan nugget bagi para peserta workshop.

Membangun Ekosistem yang Saling Mendukung dan Peduli Lingkungan

Kegiatan kolaboratif Joli Jolan bersama pegiat kreatif dan masyarakat umum seperti ini menjadi pemantik inspirasi bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Ekosistem yang saling mendukung dalam pemberdayaan masyarakat serta kepedulian terhadap lingkungan diharapkan semakin terbentuk. Setiap peserta yang mengikuti kegiatan pun tidak sekadar pulang dengan membawa hasil karya, tetapi juga perasaan positif karena mendapatkan pengetahuan baru dalam berkontribusi menjaga lingkungan dengan cara yang kreatif.

Workshop semacam ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi sarana edukasi dalam menghasilkan ide karya-karya sirkular, tetapi mengajak peserta untuk menyadari dan mengapresiasi kontribusi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pola pikir yang tepat dan praktik kreatif dalam megelola sampah, peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitar mereka masing-masing.

Categories
Gagasan Uncategorized

Mendamba Segala Sesuatu yang Layak

Layak, kata tersebut merupakan impian dan dambaan bagi setiap orang yang menginginkan kesuksesan dalam kehidupannya. Konotasi layak, sering disandingkan dengan unsur kehidupan seperti penghasilan, pendidikan, dan terkhusus tempat tinggal yang layak.

Kali ini, guratan romantika digital, akan berusaha membuat kita tafakur, atau minimal membuat diri kita bimbang, tentang bagaimanakah pemukiman, atau tempat tinggal yang proposional ramah untuk semua.

Layak merupakan cita-cita bagi setiap orang tua kepada kehidupan anaknya, tetapi sudahkah kita mengenal betul tentang penjabaran dari kata layak itu? Atau masihkah kita membatasi kata layak itu dengan sesuatu yang mewah, glamor, bahkan moderen?

Yaps, sepertinya kita butuh merenung bersama tentang kata “layak”. Menurutmu, apa arti dari kata layak? Jika kita mencari kata “layak” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata “layak”, berarti pantas, patut bahkan sampai kepada mulya. Penjabaran singkat tentang kata “layak” tersebut memberikan kita gambaran sehingga menjadi kebiasaan. Ketika kita mempunyai hunian, atau lingkungan, yang notabene cukup membuat diri kita nyaman, perasaan kita cenderung menganggap hal seperti itu sudah layak.

Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman, pengertian perumahan yang layak adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari perumahan, baik perkotaan maupun perdesaan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai upaya pemerintah dalam memenuhi kriteria rumah layak huni. Rumah yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya serta aset bagi pemiliknya.

Sedangkan perumahan adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan pedesaan (Wijaya, 2015).

Ketahanan Keluarga

Pembangunan dan pengembangan kawasan lingkungan perumahan pada dasarnya memiliki dua fungsi yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Pertama, fungsi pasif dalam artian penyediaan sarana dan prasarana fisik. Kemudian, fungsi aktif yakni penciptaan lingkungan yang sesuai dengan kehidupan penghuni.

Secara mental, memenuhi rasa kenyamanan dan secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga, menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta pendidikan keluarga. Dengan terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni, diharapkan tercapai ketahanan keluarga.

Pada kenyataannya, untuk mewujudkan rumah yang memenuhi persyaratan tersebut bukanlah hal yang mudah. Ketidakberdayaan mereka memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni berbanding lurus dengan pendapatan dan pengetahuan tentang fungsi rumah itu sendiri. Pemberdayaan fakir miskin juga mencakup upaya Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RSTLH).

Demikian juga persoalan sarana prasarana lingkungan yang kurang memadai dapat menghambat tercapainya kesejahteraan suatu komunitas. Lingkungan yang kumuh atau sarana prasarana lingkungan yang minim dapat menyebabkan masalah. Permasalahan rumah tidak layak huni yang dihuni atau dimiliki oleh kelompok fakir miskin memiliki multidimensional permasalahan.

Oleh sebab itu, kepedulian untuk menangani masalah tersebut diharapkan terus ditingkatkan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat (stakeholder) baik pemerintah pusat maupun daerah, dunia usaha, masyarakat, LSM, dan elemen lainnya.

Keterlibatan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat tersebut diwujudkan dengan kontribusi nyata dalam mendesain permukiman yang layak untuk semua. Dimulai dari keruntutan pembuatan kebijakan seperti perizinan, maupun batas kepemilikan tanah dan peraturan baku sistem dalam masyarakat di permukiman. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati hunian, dapat memberikan gambaran tentang kondisi yang menjadi tantangan dan peluang dalam permukiman.

Mereka yang paham harus memberikan rekomendasi dalam tata kelola lingkungan yang aman dari konflik dan penyakit, serta sistem deteksi dini. Jika dikaitkan dengan dunia usaha, permukiman merupakan salah satu lokasi sentra usaha masarakat yang bersifat mikro berkembang.

Dalam hal tata kelola permukiman yang layak, tentunya harus tersedia bimbingan dan arahan supaya sentra kerajinan mikro yang dikelola oleh masyarakat tidak menimbulkan permasalahan baru dalam lingkungan. Sentra kerajinan yang layak harus bisa menjadi sumber penghidupan mulai keamanan bahan baku yang digunakan, produk yang dihasilkan mempermudah akses perekonomian masyarakat sekitar, dan pengelolaan limbah yang aman.

Categories
Gaya Hidup

Manfaat Capung untuk Keseimbangan Lingkungan

Capung adalah salah satu serangga yang bermanfaat bagi keseimbangan lingkungan. Namun belakangan populasi hewan yang masuk dalam ordo ordonata ini makin sulit ditemui karena tergerusnya habitat mereka.

Dilansir Bbc.com, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menemukan bahwa setidaknya 16 persen dari sekitar 6.000 capung yang diidentifikasi rentan, terancam punah, bahkan sangat terancam punah.

Para peneliti menyebut hilangnya rawa dan lahan basah lainnya yang disebabkan oleh urbanisasi dan pertanian yang tidak berkelanjutan menjadi faktor pendorong penurunan capung global secara cepat. Keberadaan rawa dan lahan basah menyimpan karbon, memberikan air bersih dan makanan, melindungi banjir, dan menawarkan habitat bagi satu dari spesies yang ada di dunia.

Namun menurut temuan terbaru, ekosistem ini menghilang tiga kali lebih cepat daripada hutan. Habitat hidup capung yang lain seperti persawahan, kawasan mangrove hingga perkebunan juga semakin berkurang karena pembangunan.

Keberadaan capung makin terancam karena hewan ini biasanya jadi buruan warga. Anak-anak biasanya hobi menangkap capung sebagai hiburan. Sementara orang dewasa di sejumlah wilayah menjadikan capung sebagai lauk makanan. Padahal hewan ini menyimpan sejumlah manfaat untuk lingkungan hidup. Berikut manfaat capung bagi kehidupan manusia, diolah dari berbagai sumber:

1. Indikator Kebersihan Air

Kemunculan telur dan nimfa capung di perairan dapat menjadi indikator untuk mengetahui kebersihan air perairan tersebut. Hal ini karena telur dan nimfa capung hanya dapat hidup dan berkembang di lingkungan air yang bersih dan minim polusi.

Sehingga jika didapati banyak telur atau nimfa capung di suatu perairan, maka dapat dikatakan perairan tersebut memiliki kualitas air yang bersih dan bebas polusi.

2. Mengontrol Jentik Nyamuk

Capung dalam bentuk nimfa dikenal sebagi karnivora yang cukup ganas yang memakan berbagai hewan kecil invertebrata lain di dalam air, termasuk jentik nyamuk. Dengan adanya nimfa, lingkungan akan terbebas dari pertumbuhan nyamuk yang berlebihan.

Bahkan nimfa yang berukuran cukup besar juga memangsa anak ikan dan berudu. Selain itu jentik nyamuk juga bisa dibasmi dengan menggunakan bunga alamanda, ikan cere, serta kulit jengkol.

3. Pengendali Hama Wereng

Selain mengontrol jentik nyamuk dan indikator kebersihan air, capung punya manfaat lain yakni sebagai pengendali hama wereng. Tak heran jika capung menjadi salah satu sahabat petani karena mampu membantu membasmi wereng yang mengganggu pertumbuhan padi di persawahan.

Namun sayangnya kini populasi capung sudah jauh berkurang. Sehingga sebagian petani saat ini terpaksa mengendalikan hama wereng dengan pestisida yang sarat bahan kimia. Hal ini tentu berpotensi merusak lingkungan.

Dapat dilihat bahwa ada banyak manfaat capung dalam kehidupan, terutama bagi kelestarian lingkungan sehingga kelestarian capung patut dijaga. Salah satu caranya adalah dengan merawat kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke perairan. Sehingga, capung dapat hidup dan berkembang biak dengan baik.

Categories
Komunitas

Gerakan Cinta Lingkungan Resik Resik X

Anak muda di wilayah Laweyan Solo menginisiasi gerakan peduli lingkungan dalam tajuk Resik Resik X (dibaca kali atau sungai). Gerakan ini dimulai pada 2019 lalu. Saat itu sang inisiator, Eko Pethel, yang merupakan warga setempat mengaku risih melihat sungai dekat rumahnya yang terlihat kotor dan menghitam. Dia lalu turun ke sungai dan merasakan betapa dangkalnya lokasi tersebut.

Eko kemudian  membuat video tentang kondisi sungai dan diunggah di laman media sosial (medsos). Saat itu banyak yang merespons dan mendorong untuk membuat agenda bersih-bersih sungai. Hingga akhirnya menjadi gerakan besar bernama Resik-Resik X yang melibatkan banyak anak muda pegiat seni dan berbagai bidang lain di sekitar Solo.

Gerakan yang sebenarnya bertujuan mengembalikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peduli lingkungan ini direspons banyak pihak. Warga setempat hingga komunitas-komunitas di sekitar Solo. Eko dan warga beberapa kali membuat kegiatan bersih-bersih sungai, mancing bersama, hingga pembacaan puisi di pinggir kali. “Sungai itu hanya kujadikan sebagai trigger, intinya adalah tentang gerakan kesadaran merawat lingkungan,” terang Eko saat berbincang dengan tim Joli Jolan di markas Joli Jolan bilangan Kerten, Laweyan, Kamis (11/3/2021) lalu.

Pot dan Limbah Fesyen

Saat melakukan bersih-bersih sungai mereka menemukan banyak sampah fesyen yang terbawa arus sungai. Sampah berupa pakaian tersebut kemudian mereka kumpulkan karena bisa mengganggu jalannya air dan berdampak pada banjir. Setelah terkumpul cukup banyak, pakaian tak layak tersebut kemudian mereka olah menjadi bahan kerajinan tangan seperti hiasan rumah dan pot bunga.

Bersama rekannya bernama Cherik, Eko, sempat mempraktikkan pemanfaatan limbah fesyen menjadi pot dan hiasan rumahan dalam acara workshop Sampah Jadi Cuan dan Kerajinan di Joli Jolan. Eko mempraktikkan mudahnya membuat pot sampah atau hiasan rumahan dari kain. Hanya perlu menyiapkan pakaian bekas berbahan kaus, gunting, cetakan, dan semen. Detail praktiknya bisa dilihat di kanal YouTube Joli Jolan.

Eko mengatakan pengembangan program Resik Resik X dengan pot tanaman tersebut cukup menjanjikan. Jika mau diseriusi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Beberapa waktu lalu ketika ada lomba penghijauan di kampungnya, ia mengajak warga sekitar untuk bersama-sama memproduksi pot dengan kain tersebut. Hasilnya cukup lumayan, tanpa modal besar, kampungnya terlihat indah warna-warni.

Cherik dan Eko sepakat tak mau menjadikan Resik Resik X sebagai nama komunitas. Mereka menyebutnya sebagai gerakan bersama. Dengan begitu programnya tak mengikat dan bisa dikerjakan di mana pun. Gerakan peduli lingkungan Resik Resik X bahkan siap berkolaborasi dengan siapa pun asal memiliki misi yang sama. Termasuk dengan Joli Jolan lewat workshop sampah pada Kamis lalu.

Menurutnya gerakan kolaborasi seperti ini sangat penting di masa sekarang. Kita semua akan kesulitan jika bekerja sendiri. Namun, jika dilakukan bersama-sama, gaungnya akan lebih besar. Eko juga mengapresiasi gerakan Bank Sampah yang menjadi konsentrasi diskusi pada workshop Kamis lalu. Bank Sampah merupakan upaya memperpanjang umur barang. Menariknya program tersebut melibatkan para ibu-ibu.

Gerakan Resik-Resik X bahkan menarik perhatian Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov). Humas Pemprov Jateng mengapresiasi inovasi anak muda ini dengan mendokumentasikan video feature mereka. Kemudian dipublikasikan di kanal YouTube Humas Jateng bertepatan pada Hari Sampah Nasional, Rabu (24/2/2021). Tujuannya agar gerakan ini menjadi contoh masyarakat tentang semangat menjaga alam dan lingkungan sekitar.