Categories
Gaya Hidup

Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Saat ada ajakan donor darah di kantor, penggalangan donasi di media sosial, atau pengumpulan buku bekas untuk taman baca, tidak sedikit orang yang memilih mengabaikannya. Alasannya sederhana: merasa belum punya cukup materi untuk diberikan. Padahal, membantu orang lain tidak selalu harus dimulai dari isi rekening. Mendonorkan darah, meluangkan waktu menjadi relawan, membagikan buku yang sudah selesai dibaca, atau mengajarkan keterampilan yang kita kuasai juga merupakan salah bentuk kontribusi yang dapat dilakukan guna memberikan manfaat bagi orang lain.

Di berbagai kota, semakin banyak komunitas yang lahir dari kebiasaan berbagi seperti ini. Ada yang rutin mengadakan donor darah, membuka kelas belajar gratis, mengumpulkan pakaian layak pakai, hingga mengelola taman baca dari sumbangan buku masyarakat. Apa pun yang diberikan, asalkan itu adalah sesuatu yang positif, maka pemberian tersebut akan memberikan manfaat. Gerakan-gerakan tersebut membuktikan bahwa solidaritas tidak selalu tumbuh dari bantuan yang besar, melainkan dari banyaknya orang yang bersedia menyumbangkan apa yang mereka miliki, sekecil apa pun itu.

Menariknya, sebagian besar keberlangsungan dari sebuah gerakan sosial bergantung pada kontribusi kecil yang dilakukan bersama-sama. Seperti misalnya ada yang menyumbangkan waktu, ada yang berbagi tenaga, sementara yang lain memilih menyumbangkan keahlian atau barang yang sudah tidak digunakan lagi. Ketika semua saling mengambil peran, manfaatnya menjadi jauh lebih besar daripada jika dilakukan sendiri.

Dalam psikologi, ada yang namanya perilaku prososial, yakni sebuah tindakan atau perilaku yang bertujuan untuk menolong atau memberikan manfaat kepada orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Seperti misalnya menjadi relawan dari sebuah gerakan sosial atau terlibat dalam misi penyelamatan. Perilaku seperti ini ternyata tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga memberikan manfaat kepada diri sendiri. Berbagai studi menunjukkan bahwa berbagi dapat memperkuat rasa memiliki, membangun hubungan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Tak heran jika banyak orang tetap aktif di komunitas atau kegiatan sosial meski tidak memperoleh imbalan materi.

Memberi bukan hanya soal apa yang kita keluarkan, tetapi juga tentang apa yang bisa terus bertumbuh setelahnya. Waktu, tenaga, pengalaman, atau barang yang sudah tidak lagi digunakan dapat menjadi manfaat baru ketika sampai ke tangan yang tepat. Mungkin, yang sering menahan kita untuk berbagi bukan karena tidak punya cukup, tetapi karena terlalu lama percaya bahwa memberi selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Categories
Gagasan

Kecil Itu Indah

Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha

Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.

Schumacher lantas melontarkan ide “Small is Beautiful” dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.

Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.

Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!