Categories
Gagasan

Perkara Makan di Perantauan

Hari ini aku menyadari bahwa anak yang tinggal di rumah bersama orang tua setidaknya aman untuk makan harian. Ya, hari ini aku mendapatkan cerita dari seorang bapak yang pernah merantau saat kuliah. Berlatar belakang keluarga yang pas-pasan, dia nekat untuk tetap kuliah. Pikirnya, proses kuliah akan mudah diusahakan saat berada di tanah rantau. Biaya kuliah, tempat tinggal, dan uang makan. Di sela padatnya jadwal kuliah, dia mengupayakan untuk dapat bekerja paruh waktu. Sayangnya, kesempatan yang baik ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keadaan saat itu, si Bapak memikirkan betul cash flow yang hampir lebih dari separuh pendapatannya digunakan untuk makan, yang lain dia sisihkan untuk uang kuliah dan biaya tempat tinggal. Apalagi si Bapak tidak pernah masak sendiri. Dia membeli nasi dan lauk di warung dua kali sehari, untuk makan siang dan makan malam. Makan tiga kali sehari hanya bisa dihitung jari. Setiap kali mau ke warung untuk makan, ia akan melihat lagi isi dompetnya, masih ada uang apa tidak, uangnya cukup atau tidak, dan bagaimana seandainya uangnya kurang saat beli makanan. Saat pemasukan menipis, dia akan memutar otak untuk bisa makan, bagaimanapun caranya untuk bertahan hidup.

Si Bapak pada saat itu akrab dengan kalimat “makan apa saja gapapa, yang penting orang rumah ga tau”. Si Bapak akan selalu memberi tahu hal baik saat orang rumah menanyakan kabar soal makan.

Seperti misalnya, saat ada kirim pesan WhatsApp, “Nak, masih ngerjain apa? apa sudah makan?”

Seringkali si Bapak akan menjawab, “Sudah.”

“Makan apa tadi nak?”

“Tadi makan telur”

Padahal faktanya si Bapak jarang sekali makan makanan yang mengandung protein. Entah, berapa kali si Bapak berbohong soal itu untuk membangun citra positif keadaannya yang tidak selalu baik. Si Bapak berharap dapat menumbuhkan kepercayaan kepada orang tuanya yang telah mengizinkannya untuk pergi merantau.

Di rumah, orang tua khawatir dengan keadaan anaknya. Orang tua berpikir, tugas orang tua itu mencukupkan kebutuhan anaknya. Namun dengan keadaan yang pas-pasan, mereka tidak bisa berbuat banyak. Di perantauan, anak yang dikhawatirkan itu justru akan berpikir untuk tidak merepotkan orang tua. Dua keadaan yang berbeda, tetapi sama-sama sadar posisi. Si Bapak berpikir alangkah baiknya berusaha semaksimal mungkin agar tidak membebani orang tua. Kesadaran diri si Bapak mulai tumbuh untuk menjadi dewasa.

Pada saat kami mengobrol, si Bapak kembali mengingat, seandainya dia tidak merantau, setiap hari dia akan bisa makan masakan ibunya yang telah dihidangkan di meja. Kebutuhan rumah pun sudah diamankan oleh bapaknya. Tidak perlu “berbohong demi kebaikan”. Terlebih kebutuhan gizi akan lebih baik. Energi yang didapatkan setiap hari, sebagian besar uang saku atau hasil bekerja sambilan dapat dialokasikan untuk fokus pada pengembangan diri maupun dibelanjakan untuk kebutuhan dan keperluan pribadi. Terlebih dia bisa menemani orang tuanya yang semakin menua.

Ya, begitulah. Kiranya si Bapak hanya sekadar ingin bercerita. Tidak ada ruginya jika tinggal di rumah.

Categories
Gaya Hidup

Dari Rumah, Piringan Hitam Sampai Fesyen Berkelanjutan

Akhir pekan lalu Joli Jolan diajak main ke Hoz, rumah salah satu sukarelawan kami yang juga sineas muda, Zen Al Ansory. Sebuah undangan yang istimewa dan menyenangkan. Kami berkesempatan mengeksplor Hoz yang dibangun dengan pendekatan arsitektur lingkungan yang kental. Sumur lawas dan pohon-pohon besar masih dipertahankan usai pembangunan. Rumah berkonsep industrial itu pun punya banyak bukaan sehingga mengurangi penggunaan energi.

Yang tak kalah istimewa pagi itu adalah pertemuan kami dengan Subo Family. Subo Family adalah keluarga yang punya listening bar di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Pengunjung yang telah reservasi dapat menikmati koleksi piringan hitam plus sajian makanan di basement rumah mereka. Hari itu, mereka menginap di Hoz di sela ekspedisi Jeda Wastra yang mereka jalani sejak awal Januari.

Namun Subo ternyata tak hanya tentang seni dan gastronomi. Keluarga yang terdiri dari Aria Anggadwipa (ayah), Intan Anggita Pratiwie (ibu) dan Irama Lautan Teduh (anak) ini juga pecinta lingkungan. Intan bersama musisi Andien mendirikan Setali Indonesia, yayasan yang bergerak di bidang fesyen berkelanjutan.

Perbincangan pun mengalir ke pengelolaan limbah fesyen yang belakangan banyak jadi perhatian. Kami belajar bagaimana mereka mampu meningkatkan nilai sampah fesyen lewat upcycle. Intan bersama Setali banyak menciptakan barang dengan bahan kain bekas seperti tas, celemek, atasan, vest, dan lain sebagainya. Untuk mengelola komunitas agar berkelanjutan, mereka menerapkan tarif sekian rupiah bagi mereka yang berdonasi pakaian. Mereka menghitungnya dengan satuan kilogram.

Sudah donasi tapi masih diminta membayar pula, apa banyak yang mau? Pikir kami saat itu. Intan dan Aria kompak menyatakan bahwa pengelolaan sampah itu tak mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit. Kami pun merenung sejenak. Selama ini Joli Jolan serba swadaya untuk menyortir, me-laundry, hingga membersihkan gudang penyimpanan. Kami pun masih mengirim pakaian tak layak ke Sukoharjo untuk dikelola menjadi bahan bantal. Meski lokasinya cukup jauh, hal itu kami lakukan agar pakaian tak menjadi beban bumi jika dibuang ke tempat sampah. Ya, kami masih sering menerima donasi pakaian tak layak pakai dari pengunjung. “Soal biaya pengelolaan sampah fesyen itu sebenarnya tinggal edukasi. Banyak kok sekarang yang sudah sadar dan ikut membantu gerakan kami,” ujar Aria.

Hari beranjak siang. Kami giliran dipertemukan dengan pegiat upcycle lain yang tak kalah keren, Ache Andini (Achebong). Kak Ache ini hobi bikin kolase dan mengelola kertas bekas untuk dijadikan notebook atau hiasan cantik. Bekas wadah susu UHT yang tak laku dijual di bank sampah pun bisa dia sulap jadi barang bernilai. Kami pun antusias dan menawarkan beberapa kolaborasi di masa mendatang. Rasanya hari itu ada chemical reaction yang mempertemukan kami dengan para pegiat ekonomi sirkular. Berawal dari obrolan ringan, siapa tahu ada hal besar menunggu di ujung jalan.