Categories
Gagasan

Filantropisme Progresif Kelas Menengah

Belakangan, kelas menengah di Indonesia menjadi suatu fenomena sosiopolitik yang menarik untuk dibahas. Antara dicibir tapi dibutuhkan, hendak ditendang tapi sayang. Mungkin begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kelas menengah di Indonesia saat ini.

Dalam kajian kelas sosial, kelas menengah merupakan suatu pengecualian yang unik dalam epos kapitalisme di era industri modern. Salah satu keunikan kelas menengah terletak pada posisi mereka yang menjadi perantara antara kelas borjuis dan kelas proletar.

Karakter kelas menengah dalam struktur industri modern juga terbilang lentur. Jika tidak berdaya lebih, mereka bisa terjerembap menjadi proletar. Namun jika punya kekuatan yang lebih besar, mereka punya peluang untuk berperan sebagai borjuis besar.

Di Indonesia, identifikasi kelas menengah dapat dilihat dari jenis pekerjaan, jumlah pendapatan, ataupun status sosial. Dengan identifikasi kelas menengah yang dilihat dari kategori sosial dan bukan hanya akumulasi modal, mereka kerap dinilai sebagai kelasnya para pekerja kerah putih.

Dahulu, Gus Dur menyebut kelas menengah ini sebagai golongan fungsional. Dalam esainya di Majalah Tempo yang berjudul, Golongan Fungsional dan Perlunya Dialog, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki kesadaran kelas ataupun idealisme dalam berpolitik.

Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan golongan fungsional tidak memiliki keterikatan pada ideologi politik tertentu, ”Salah satu perwatakan yang menonjol dari golongan fungsional adalah pragmatisme. Oleh karena itu sedikit sekali perhatian yang mereka berikan pada ideologi politik,” tulis Gus Dur.

Arif Giyanto dalam bukunya yang berjudul Kelas Menengah Progresif mengatakan hal senada. Menurutnya, kelas menengah memang banyak dinilai sebagai kelas yang tidak memiliki kesadaran kelas yang cukup dalam menanggapi isu-isu politik atau terlibat langsung dalam kegiatan politik.

Akan tetapi, Arif Giyanto menambahkan, zaman yang berubah membuat kelas menengah terkini punya dorongan menyadari kekuatan dan eksistensinya. Konsumsi informasi dan kekuatan ekonomi yang terus meningkat, juga akan mendorong pencarian eksistensial itu.

Kalau berkaca dari sejarah, kelas menengah di Indonesia bisa tumbuh karena pembangunan ekonomi yang menyuburkan keberadaan mereka. Dengan adanya aktivitas pembangunan ekonomi, lapangan pekerjaan dan peluang usaha baru terbuka luas bagi masyarakat.

Ketika kesempatan ekonomi terbuka luas, masyarakat yang terserap ke dalam arus itu mengalami banyak proses sosial yang baru. Termasuk di dalamnya, ada aktivitas perputaran uang yang sejalan dengan kebutuhan sehari-hari, status sosial, dan tolak ukur gengsi di tengah masyarakat.

Terang apabila kolumnis sekaligus komedian Wahyu ”Dono” Sardono menyebut kelas menengah sebagai kelas yang sibuk dengan sendirinya. Sebab, kesungguhan mereka lebih terpacak pada realitas sehari-hari, bukan realitas sosial yang lebih meluas.

Namun, jika kelas menengah terpaksa berkumpul dalam satu wadah untuk membicarakan  politik, mereka punya preferensi yang beragam, plural, dan tidak ideologis. Ketiadaan kancah orientasi yang jelas juga menjadi salah satu penyebab mengapa percakapan mereka terkesan teknis, dan tidak ideologis.

Kekosongan ideologi dalam kelas menengah ini bukannya tidak ada harapan. Justru tergusurnya prioritas idelogis dan politis dalam kelas menengah bisa menjadi tolak ukur penting untuk melibatkan mereka ke dalam proses perubahan sosial yang berdasar pada kesadaran kolektif mereka.

Lain dari itu, keterampilan teknis dan kecermatan melihat realitas sehari-hari adalah salah satu modal awal bagi kesadaran kolektif yang lebih jauh bagi kelas menengah. Memang tidak perlu muluk-muluk menjadi politis, namun setidaknya ada suatu kesungguhan lain di luar masalah ekonomi dan persoalan pragmatisme kerja.

Ruang Solidaritas Joli Jolan

Di Solo, terbentuk suatu ruang barter barang kolektif bernama Joli Jolan. Sekilas namanya terkesan tradisional. Namun sebenarnya di balik itu ada ide progresif yang menyatukan ikatan kelas menengah lintas profesi di Kota Solo.

Joli Jolan didirikan oleh sekelompok warga yang gelisah dengan perilaku konsumtif masyarakat. Niat awalnya, ruang solidaritas ini berfungsi untuk menyediakan barang yang masih layak pakai dan dapat ditukar dengan barang tepat guna lainnya.

Para pendiri Ruang Solidaritas Joli Jolan juga tidak dibatasi pada profesi tertentu. Ada yang berasal dari profesi wartawan, mahasiswa, dosen, dan juga peneliti. Secara garis besar, mereka adalah pekerja kerah putih yang oleh Gus Dur disebut sebagai golongan fungsional.

Setelah beberapa waktu berselang, Joli Jolan tak cuma sekedar bergerak di ranah tukar barang. Kini relawan Joli Jolan sudah mulai menyentuh ranah solidaritas antar kelas. Para relawan kerap menggerakkan donasi sandang dan pangan bagi masyarakat akar rumput di Kota Solo.

Kesan gerakan ini memang cenderung pada sifat filantropis. Tak ada kesan revolusioner ataupun memuat potensi radikalisme sosial. Namun, gerakan mereka menunjukkan bahwa para relawan yang berangkat dari kelas menengah ini terbuka pada dialog antar-kelas.

Lingkup gerakan ini juga akrab dengan publik. Dalam gerakannya, mereka menjamah banyak ruang publik. Dan sebagai suatu wadah, Joli-Jolan juga menjadikan galerinya sebagai suatu ruang publik tersendiri. Dengan aktivitas serba publik tersebut, dialog niscaya terjadi di dalam gerakan ini.

Lebih lanjut, untuk mewujudkan dialog yang lebih kritis, para relawan kerap menyelanggarakan diskusi publik. Galeri mereka juga tak jarang digunakan untuk membuka diskusi publik bagi pihak-pihak yang membutuhkan ruang khusus untuk diskusi.

Melihat hal itu, sebagian aktivitas gerakan ini cukup menjadi jawaban atas keraguan yang banyak diterima kelas menengah. Sebab, meski tidak menawarkan potensi transaksional dalam politik. Gerakan ini memiliki kekuatan pada solidaritas praksis yang berjalan dalam ranah isu-isu sosial di tengah masyarakat.

Itu berarti, gerakan sosial adalah sebuah bentuk yang sesuai bagi aktualisasi kelas menengah dalam mendorong proses perubahan sosial masyarakat. Sifat gerakan sosial juga telah melampaui motif gerakan politik yang rawan berbenturan dengan pelbagai pihak.

Keutamaan gerakan sosial juga terdapat pada aktualisasi, kreativitas, dan kritisisme yang saling berpadupadan. Dalam gerakan sosial pula, kepedulian sosial dan keterampilan teknis ala kelas menengah dapat menjadi suatu rumusan khusus landasan pergerakan mereka.

Dengan menyerap aspek gerakan sosial dan unsur kelas menegah, organisasi kelompok secara kolektif bisa mewujudkan kelas menengah sebagai kelas progresif sebagaimana yang diungkapkan oleh Arif Giyanto.

Memang, sebagai kategori sosial-politik, kekuatan kelas menengah tidak menjamin banyak hal. Konsep dan sifat gerakan mereka sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, optimisme kecil terkumpul, dan perlahan-lahan mengikat setiap individu dalam suatu solidaritas dan kesadaran bersama.

Categories
Gagasan

Melepas Kemelekatan ala Joli Jolan

Apa yang paling mengkhawatirkan dari bumi yang kian sepuh, populasi manusia yang kian membeludak, perubahan iklim serta kegagapan kita untuk menyesuaikan diri dengan aneka percepatan peradaban? Bagi saya yang terbiasa berpikir dalam frame ilmu ekonomi, jawabannya adalah keterbatasan. Kelangkaan. Bukan hanya keterbatasan sumber pangan, sumber daya dan keterbatasan alat produksi, tapi juga keterbatasan manusia memeroleh penghasilan minimal untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Manusia modern sangat tergantung pada penghasilannya, dalam hal ini berwujud uang. Semua kebutuhan hidup harus dibeli, dan tugas manusia adalah membanting tulang dari hari ke hari, mencari penghasilan, untuk kemudian menggunakannya untuk kebutuhan hidup. Namun ketidakseimbangan di sana-sini, baik ketidakseimbangan penawaran dan permintaan, distribusi faktor-faktor produksi, ekosistem, membuat ekonomi makin megap-megap kian hari. Penghasilan semakin sedikit, bahkan untuk memenuhi konsumsi minimal. Tak ada kemandirian ekonomi.

Saya pun teringat penjelasan Bapak. Saat remaja, ayah saya berulang kali menjelaskan tentang marhaen, meski saya tak benar-benar paham. “Marhaen itu,” demikian penjelasan Bapak. “Bukanlah orang miskin yang tak punya alat produksi sehingga harus menjadi buruh. Bukan proletar. Beda dengan marxis. Marhaen itu orang yang mampu mencukupi kebutuhannya tanpa harus tergantung orang lain. Dia mungkin hanya petani dengan lahan kecil, menyediakan sendiri kebutuhannya. Merdeka atas waktu dan tenaganya. Atau tukang becak mandiri, sopir oplet, para wirausaha. Tidak kaya, bukan pemilik modal, namun juga bukan buruh. Tidak bekerja pada orang lain.”

“Kita bukan marhaen,” kata Bapak lagi.” Orang tuamu ini buruh, semua kehidupan kita tergantung perusahaan. Keluarga Si Doel di sinetron  justru seorang marhaen. Mungkin merekalah marhaen terakhir…”. Seperti yang saya katakan, saat itu saya tak paham penjelasan Bapak. Namun pertambahan usia, melihat beberapa kali resesi ekonomi, kerentanan masa depan suatu keluarga karena kehilangan pekerjaan, membuat saya makin memikirkan tentang menjadi marhaen itu. Menjadi mandiri secara ekonomi.

Mungkin salah satu cara yang saya pikir membuat kita lebih mandiri secara ekonomi tidak hanya dengan mulai berswadaya, tetapi juga mulai meningkatkan cara-cara distribusi yang tak melulu berbasis uang. Barter misalnya. Meski sulit dilakukan, ternyata ajaib sekali saya dipertemukan dengan komunitas yang menyalurkan aneka produk dan barang dengan mekanisme barter.

Ruang Solidaritas Joli Jolan adalah kumpulan sukarelawan yang mengkoordinir barang-barang yang tak lagi dibutuhkan pemilik lama, agar dapat diadopsi orang lain yang lebih membutuhkan (demikian istilah mereka). Sudah lama saya ingin mampir ke sini, namun pandemi membuat saya baru hari ini bisa memenuhi janji saya pada Mbak Septina sebagai  salah satu relawan. Di sini saya langsung terpukau. Bukan hanya karena saya mendapat tiga kalung cantik bergaya etnik, tetapi melihat betapa karya sosial dapat dilakukan dengan cara sederhana tetapi bermakna luar biasa.

Joli Jolan menerima donasi aneka barang. Bukan hanya barang yang tak lagi dibutuhkan, tapi juga tanaman, benih, sayur hidroponik dan juga makanan. Dari sana, barang akan disalurkan pada yang memerlukan. Bukan hanya melalui workshop Joli Jolan di Kerten, tapi juga disalurkan melalui aneka komunitas serupa di daerah lain. Bahkan menurut Mbak Septi, di luar Solo banyak daerah-daerah yang masih sangat memerlukan barang-barang donasi. Dan semua itu dilakukan tanpa berbayar.

Ini yang membuat saya terharu. Selama ini, kita di Indonesia terpaku pada kegiatan amal, charity, selalu berupa pengumpulan dana. Masyarakat pun terlanjur menganggap ‘orang baik’ adalah orang yang memberi dana. Akibatnya kita terjebak pada sesuatu yang berbiaya tinggi. Kebijakan publik berbiaya tinggi untuk kegiatan-kegiatan charity. Ataupun politisi yang terjebak pada kegiatan charity yang lagi-lagi berbiaya tinggi untuk memenangkan konstituen. Menyebabkan politisi tak berdana, hanya bermodal tekad dan semangat, terpaksa cuma bisa pasang niat.

Komunitas seperti Joli Jolan telah membuat konsep beramal menjadi mudah, sederhana dan bermakna. Bisa dilakukan siapa saja tanpa menunggu kaya. Berdampak secara sosial, maupun secara lingkungan. Mengurangi sampah, bahkan pada akhirnya bermakna secara spiritual. Kita akan belajar untuk tak lagi memiliki sesuatu secara berlebihan. Ketika tak lagi membutuhkan, kita dapat belajar berbagi pada yang lebih memerlukan. Filosofi Cina mempercayai bila kita mengurangi barang tak berguna berarti memberi tempat untuk datangnya rezeki baru. Dalam Buddhism, berbagi juga berarti melepaskan kemelekatan. Karena kemelekatan adalah sumber derita baru. Sedang saya pribadi percaya berbagi adalah menebar kasih, sesuatu yang membuat hati bahagia.

Saat saya pergi ke Joli Jolan tadi pagi, saya tetaplah Vika si pecandu rindu, berharap bertemu setiap waktu. Di Joli Jolan saya memang tak bertemu dia yang saya rindu. Tapi saya merasakan hati yang menghangat karena cinta seperti saat saya bertemu dia.

Uhuk …

Vika Klaretha, pengunjung Joli Jolan

Categories
Gagasan

Joli Jolan & Sampah Fashion

Beberapa dekade lalu generasi Y memperlakukan kebutuhan dasar berupa sandang sebagai kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Kamera polaroid menjadi sarana untuk mengabadikan kebanggaan bersandang. Zaman ini, generasi milenial dilahirkan di dunia serba digital. Mereka telah bersentuhan langsung dengan berbagai perangkat teknologi. Bahkan mulai dari bayi dalam kandungan hingga dilahirkan, manusia kecil ini sudah eksis di jejaring media sosial yang bisa diakses siapa saja.

Hal ini berbanding lurus dengan dorongan konsumerisme luar biasa karena kebutuhan penampilan. Di satu sisi, ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, muncul permasalahan sampah yang semakin kompleks. Permasalahan tersebut adalah sampah fashion. Sampah fashion tidak hanya identik dengan baju, tapi termasuk segala pernak-pernik dan barang penunjang penampilan. Biasanya pengguna media sosial pada setiap unggahannya menyadari bahwa penunjang penampilan harus diperhatikan. Hal inilah yang mendorong konsumerisme produk fashion dan turunannya.

Tanpa sadar, lemari sudah tidak muat dan kamar terasa bertambah sesak dengan berbagai koleksi model baju, tas, sepatu, aksesoris dan kosmetik. Berbagai barang tersebut tentu memiliki masa pakai. Ketika hanya ditimbun atau disimpan tentu akan rusak. Hasilnya, timbulan sampah baru semakin tidak terkendali. Timbulan sampah bukan hanya sekadar sampah rumah tangga yang identik dengan proses konsumsi makanan. Apabila tidak segera ada aturan dari hulu ke hilir yang mengikuti perkembangan zaman, kompleksitas sampah merupakan keniscayaan.

Berangkat dari keprihatinan terhadap konsumerisme dan dampak sampah, Ruang Solidaritas Joli Jolan terbentuk pada 21 Desember 2019. Gerakan ini dimulai dari sebuah bangunan kecil dengan halaman lapang di Jalan Siwalan 1 Kerten Laweyan Solo. Beberapa orang telah memulai upaya menekan konsumerisme dan laju sampah di Joli Jolan.Nama Joli Jolan terinspirasi dari istilah Jawa “ijol ijolan”yang artinya saling bertukar. Filosofi sederhana ini mendorong pembentukan ruang saling berbagi agar memperpanjang umur barang.

Siapapun bisa menjadi anggota Joli Jolan. Setiap anggota dapat mengambil barang yang dibutuhkan tanpa membayar dengan menukarkan barang miliknya yang masih bisa dimanfaatkan. Meski masih seumur jagung, antusiasme warga terhadap Joli Jolan cukup besar. Sebelum pandemi Covid-19, Joli Jolan pernah disambangi 200 pengunjung pada akhir pekan. Padahal Joli Jolan kala itu hanya buka tujuh jam.  

Kami berharap Ruang Solidaritas Joli Jolan menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk melakukan hal yang sama sebagai gerakan perlawanan masyarakat terhadap konsumerisme. Peran masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan harus dijalankan. Tidak hanya sekadar wacana belaka. Dukungan pemerintah juga tak kalah penting untuk menciptakan regulasi yang pro zero waste atau menekan residu sampah hingga nol. Tak lupa peran swasta selaku produsen yang wajib mendesain produknya agar ramah lingkungan. Mencegah lebih baik daripada mengobati bumi yang sakit.

Septina Setyaningrum, salah satu pendiri Joli Jolan