Categories
Gagasan

Memanfaatkan Internet sebagai Sarana Berbagi

Internet, terutama media sosial, sering dianggap sebagai penyebab menurunnya produktifitas umat manusia dewasa ini. Bukan pendapat yang keliru apabila mengaitkan internet dan media sosial sebagai penyebab distraksi yang sering menyabotase penggunanya dalam bekerja. Namun, perlu dipahami bahwa internet dan media sosial hanyalah sebuah alat. Penggunalah yang pada dasarnya memiliki kendali untuk mengelola internet yang mereka gunakan. Penggunalah yang berperan dalam memutuskan bagaimana mereka menggunakan internet dan media sosial, termasuk bagaimana memanajemen distraksi dalam kehidupan mereka. Layaknya pisau dapur yang dapat digunakan untuk mengiris sayuran ataupun melukai.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa internet, termasuk media sosial yang ada di dalamnya, memiliki banyak sekali manfaat yang bakal tidak habis kita hitung satu per satu. Adanya tulisan ini pun merupakan salah satu dari manfaat yang bisa didapatkan dari internet. Tanpa bantuan internet siapa yang menjamin bakal ada yang menulis dan membaca tulisan ini? Bahkan secara sosial pun, internet telah memberikan dampak signifikan dalam menunjang kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari komunikasi, akses informasi, pertukaran pengetahuan, dan membangun kesadaran sosial. Internet menjadikan hal-hal tersebut jauh terasa lebih mudah, efisien, dan cepat.

Internet Mendukung Penyebaran Informasi

Joli Jolan menyadari bahwa aksi kecil Joli Jolan tidak hanya dimulai dari semangat relawan dalam membantu dan menyebarkan informasi Joli Jolan dari mulut ke mulut. Namun, ada juga peran internet, baik melalui liputan berita online maupun media sosial, dalam menyebarkan informasi Joli Jolan ke audience yang lebih luas. Joli Jolan pada akhirnya tidak sekadar dikenal oleh masyarakat Kota Solo saja, tetapi sampai ke kota-kota lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Joli Jolan tumbuh sebagai komunitas lokal yang kegiatan-kegiatannya dapat diintip langsung oleh siapa saja melalui media sosial.

Contoh lain dari peran internet adalah banyaknya situs-situs penggalangan dana yang bersliweran di beranda iklan media sosial kita. Penggalangan dana tersebut berhasil menjangkau berbagai penjuru negeri dengan cara yang relatif mudah dan cepat. Pastinya sudah banyak pihak yang terbantukan dengan kehadiran platform penggalangan dana semacam itu.

Inilah peran internet dan media sosial yang berdampak signifikan dalam menebar inspirasi dan kebaikan. Internet dan media sosial tidak hanya berakhir sebagai alat untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan yang bermanfaat. Lebih dari itu, internet dan media sosial mampu dimanfaatkan sebagai sarana berkomunikasi, bersilaturahmi, berbagi informasi dan ilmu, serta menyebarkan gagasan dan semangat yang positif.

Pada akhirnya penggunalah yang memutuskan akan dibawa ke mana internet atau media sosial yang mereka gunakan. Apakah akan digunakan untuk mencari hiburan atau mencari ilmu? Mencari keduanya? Atau malah mencari hal-hal yang kurang bermanfaat? Apa pun keputusan yang mereka ambil, keputusan-keputusan itulah yang nantinya akan menentukan seberapa efektif waktu yang telah mereka habiskan. Inilah nanti yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan mereka.

Categories
Gagasan

Berdonasi Bukan Sekadar Membuang Barang

tidak terasa 3 tahun Joli Jolan hadir menjadi ruang solidaritas bagi masyarakat Kota Solo. Usia yang bisa dibilang masih terlalu awal untuk mendeklarasikan diri sebagai komunitas yang besar. Namun, tiga tahun sangatlah cukup untuk melihat kembali ke belakang, mengevaluasi sekaligus menghargai setiap pencapaian-pencapaiannya. Bagi sebuah komunitas yang dibentuk dan dikelola secara sukarela, tiga tahun menjadi bukti nyata dalam menjawab tantangan klise sebuah komunitas, yakni kontinuitas.

Tiga tahun tentunya merupakan waktu yang sangat cukup dalam menggoreskan beragam cerita bagi Joli Jolan, para sukarelawan, dan Joliers yang terlibat di dalamnya. Ada cerita yang menarik, ada pula cerita yang kurang menyenangkan. Namun, kita kesampingkan dulu cerita menariknya karena setiap pihak pasti memiliki kisah menyenangkannya saat menjadi bagian dari Joli Jolan. Kita garis bawahi cerita yang kurang menarik saja, karena di titik inilah ada problem yang perlu dievaluasi demi kebaikan bersama.

Satu dari permasalahan yang kadang ditemui sukarelawan selama tiga tahun ini adalah barang donasi berkualitas rendah yang sangat jauh dari kata layak. Tidak sekali dua kali relawan Joli Jolan menemukan pakaian yang sangat tidak pantas pakai, mulai dari baju kotor dan sobek, pakaian dalam yang kusam (pakaian dalam sendiri pun sebenarnya tidak layak untuk didonasikan), hingga sepatu usang yang telah digerogoti tikus.

Inilah yang semestinya perlu dipahami bersama. Donasi merupakan sebuah upaya untuk memberikan barang yang masih layak pakai kepada orang lain secara sukarela. Meskipun ada kata “sukarela”, bukan berarti donasi menjadi kedok untuk membuang barang yang sudah tidak terpakai. Niat berdonasi pun pada akhirnya menjadi kurang lengkap apabila dilakukan dengan cara yang kurang bijaksana.

Memang indikator kelayakan setiap orang dalam memaknai barang donasi itu beragam. Meski indikator setiap orang berbeda, perlu kita pahami bersama bahwa mendonasikan barang berarti memberikan hak kepada pihak lain untuk mengelola barang tersebut. Oleh karena itu perlu adanya rasa tanggung jawab dalam mendonasikan barang agar tidak menganggap kesempatan berdonasi sebagai ajang membuang barang tidak terpakai.

Pertimbangkan Sebelum Berdonasi

Nah, sebelum memutuskan apakah barang tersebut layak didonasikan, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu ke dalam diri sendiri apakah kita merasa nyaman menggunakan barang tersebut di depan umum. Apabila masih, maka barang tersebut relatif layak untuk didonasikan. Namun, apabila kita sendiri pun merasa tidak nyaman menggunakannya, maka perlu kita pertimbangkan ulang untuk mendonasikan barang tersebut. Bisa jadi barang itu memang masih dapat digunakan, tetapi bukan berarti barang tersebut masih layak pakai.

Barang seperti itu tentunya tidak layak pula didonasikan. Mungkin kita bisa mencari alternatif lain melalui komunitas yang dapat mengolah barang usang tersebut menjadi produk yang baru. Siapa tahu barang tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai dari sebelumnya. Namun yang paling penting ke depan, bijaklah dalam membelanjakan uang untuk keperluan fesyen. Dengan demikian kita bisa mengurangi potensi sampah fesyen yang membebani bumi.

Categories
Gagasan

Ruang Adalah Produk Sosial

Terdapat perbedaan sejarah terbentuknya ruang kota antara di Barat dan di Indonesia. Di Barat, kota dibangun sebagai kota benteng. Kota berpusat pada kastil dilengkapi benteng yang dibangun mengelilingi pemukiman warga di dalamnya. Prioritas paling penting dari model kota semacam itu adalah aspek keamanan.

Pada perkembangannya, setelah relasi antar kota menjadi semakin aman, otoritas kota dengan sengaja memikirkan, merancang, menata, dan menyiapkan berbagai kebutuhan ruang kota. Salah satu yang mendapat perhatian adalah ruang publik. Secara tradisional ruang publik kota-kota di Barat dibangun di dekat pasar kota, berupa plaza terbuka tempat aktivitas bersama.

Seiring berjalannya waktu, plaza-plaza dihadirkan sebagai bagian dari perencanaan kota. Plaza bersama taman-taman kota sebagai ruang publik sengaja dihadirkan sebagai sarana rekreatif warga. Oleh sebab itu, ruang publik di Barat secara fisik hadir lebih teratur dan terlihat sebagai sebuah kesatuan dari pola rancangan struktur ruang kota.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa peran otoritas kota/negara sangat besar dalam pembentukan ruang publik di kota-kota Barat. Berbeda dengan di Barat, di Indonesia ruang publik hadir lebih organik sebagai bagian dari aktivitas publik warga. Kerajaan sebagai otoritas yang pada awalnya hadir membangun kota/negara kurang berperan dalam membangun ruang publik untuk warga kota.

Adanya alun-alun kota lebih berfungsi sebagai arena perhelatan ritual-ritual yang berhubungan dengan aktivitas kerajaan. Sementara warga akan dengan swakelola mengelola ruang-ruang kosong di sekitar mereka untuk menjadi tempat kegiatan publik. Di setiap lingkungan kampung lazimnya memiliki ruang lapang yang diperuntukkan sebagai ruang publik multifungsi.

Ruang tersebut bisa menjadi tempat menjemur baju di pagi sampai siang hari, di sore hari menjadi tempat bermain anak-anak, dan di malam hari bisa dipakai sebagai arena bercengkerama para orang tua. Di waktu-waktu tertentu bahkan bisa digunakan sebagai lokasi menggelar pesta pernikahan. Demikianlah ruang publik kota-kota di Indonesia awalnya tumbuh lebih organik sebagai bagian dari peristiwa keseharian warga.

Ruang-ruang tersebut hadir dalam bentuk yang tidak teratur, karena biasanya merupakan pemanfaatan area sisa di lingkup pemukiman. Ruang tersebut merupakan persinggungan antara informalitas, spontanitas, dan temporalitas. Kota di Indonesia mulai memikirkan penataan ruang secara lebih terencana ketika kolonialisme datang. Kota ditata sedemikian rupa (termasuk ruang publiknya) terutama untuk kepentingan bangsa kolonial.

Berbagai praktik penataan kota demi kepentingan kolonialisme, seperti segregasi, prioritas ekonomi kolonial dan keamanan, serta kenyamanan bangsa kolonial terjadi selama kolonialisme menguasai Nusantara. Meski begitu bangsa kolonial juga mengenalkan konsep ruang publik yang terintegrasi dengan perencanaan kawasan kota. Maka mulai muncul konsep plaza dan taman kota yang secara sengaja didesain.

Dari situlah akar mengapa otoritas kota sangat dominan mengatur kebijakan pembangunan kota. Akan tetapi pada kenyataanya ruang adalah produk sosial. Sekuat apa pun otoritas (pemkot dan desainer) mencoba menghasilkan ruang kota yang ideal, pasti akan meninggalkan residu permasalahan. Manusia pengguna ruang akan selalu memproduksi ulang rancangan yang dihasilkan otoritas. Pengguna akan memproduksi tafsir, ide, gagasan akan ruang yang menurut mereka ideal.

Maka merencanakan ruang kota (termasuk ruang publiknya) dengan tanpa melibatkan warga jelas akan sia-sia. Apalagi warga kota-kota di Indonesia hingga hari ini masih memiliki kearifan dalam mengelola ruang publik di lingkunganya. Oleh karena itu, peran untuk menghadirkan, mengelola, dan merawat ruang publik semestinya melibatkan warga kota.

Pengelolaan secara organik akan jauh lebih berkelanjutan daripada menyerahkannya kepada hanya otoritas kota. Selanjutnya yang perlu dipkirkan adalah mekanisme pelibatan warga dalam merencanakan, merawat, mengelola, dan bahkan memperbaiki ruang publik kota. Mestinya warga bisa terlibat di semua aktivitas tersebut, bahkan dalam pengelolaan pendanaan untuk ruang publik.

Sudah saatnya otoritas kota membagi kewenangan (termasuk pengelolaan keuangan) dalam urusan ruang publik kepada warganya. Keikutsertaan warga dalam urusan publik akan lebih memberi jaminan bagi masa depan keberlanjutan ruang publik tersebut. Demikian.

Sala, 22 09 2022

Ilustrasi oleh Andi Setiawan

Categories
Gagasan

Tak Sekadar Berharap Kepada yang Lain untuk Memulai

Sebagian orang terlalu terpaku pada aspek visual dalam melihat kekayaan melimpah atau koleksi mewah milik orang lain. Hal ini ‘didukung’ stereotype medsos sebagai tempat untuk memamerkan apa saja. Selanjutnya, seseorang akan sibuk mencela jika si kaya tersebut terkesan pamer atau dianggap kurang suka berbagi kepada sesama.

Sementara dia lupa bahwa ada potensi ‘kekayaan hati’ sendiri yang belum diolahnya, yaitu semangat berbagi manfaat dari apa yang dimilikinya. Tidak hanya berupa materi, tenaga dan pikiran dapat menjadi modal besar. Dengan kata lain, lebih baik memulai aksi menegakkan solidaritas meski secara sederhana, daripada bermimpi orang lain melakukan sebuah revolusi perbaikan.

Suatu materi yang bagi kita sedikit, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Sepotong kain sisa yang sepintas tak berguna ternyata bisa menjadi bahan baku kerajinan tangan. Bahkan seonggok kotoran ternak pun bisa bermanfaat untuk dijadikan pupuk oleh petani. Pendek kata, apa yang ada di sekitar kita atau milik kita, sebenarnya juga berpotensi daya guna yang luar biasa bagi orang lain. Membuka mata akan kebutuhan diri sendiri dan orang lain akan membangun keharmonisan hidup bersama, yang selanjutnya dapat menjadi ajang saling tukar ilmu pengetahuan.

Pada aspek lain, sumbangan tenaga dan pikiran dapat dikombinasikan dalam berbagai wujud, misalnya saat mengadakan bakti sosial. Penyaluran logistik yang cepat dan tepat merupakan hal vital dalam pendistribusian bantuan. Kecepatan penyaluran akan membuat manfaat bantuan akan segera dirasakan. Ketepatan pendistribusian akan memaksimalkan fungsi bantuan bagi orang yang benar-benar berhak mendapatkannya.

Categories
Gagasan

Berbagi untuk Kesehatan Jiwa

Semakin banyak orang yang gemar mengumpulkan barang yang sesuai dengan minatnya. Tentu barang yang dimaksud bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia. Hasrat mengoleksi ini tidak muncul begitu saja melainkan ada juga pemicunya. Banyaknya item yang dapat diproduksi massal berdampak pada semakin murahnya harga barang tersebut. Dari kalangan menengah ke atas, kemapanan finansial tentu saja sangat mendukung. Dari kalangan menengah ke bawah, munculnya marketplace yang ‘membakar uang’ membuka jalan untuk semakin mudah memiliki benda-benda idaman mereka, meski dalam skala lebih terbatas.

Di sisi lain, masalah perawatan dan pemberdayaan kepemilikan pribadi ini menjadi hal yang vital. Konsekuensi jika seseorang mengoleksi benda, maka dia membutuhkan ruang, waktu, biaya, dan tenaga untuk menjaga kondisinya. Sebagai contoh, ratusan buku membutuhkan banyak rak dan waktu untuk menatanya. Koleksi pakaian mungkin lebih ribet karena harus mengecek kebersihan dan kondisi setiap sisinya. Jika kita dapat me-manage koleksi tersebut, maka akan menjadi sebuah hiburan tersendiri atau bahkan akan mendatangkan keuntungan finansial. Sebagai contoh adalah dengan menciptakan konten video, fotografi, atau daya tarik wisata museum replika.

Hanya saja, tidak semua pengumpul barang ini pandai dalam memberdayakan koleksinya. Justru banyak yang hanya puas dengan sekadar membeli tetapi tidak mau atau tidak mampu meraih manfaat sebenarnya. Parahnya, kalangan ini masih saja terus berambisi menumpuk barang baru yang dianggapnya “siapa tahu besok berguna”. Di sisi lain, dia enggan untuk mengurangi kepemilikan karena juga menganggap “siapa tahu masih berguna” walaupun efeknya akan dijelaskan di paragraf berikut.

Menurut dr. Sara Elise Wijono M.Res yang dilansir di https://www.klikdokter.com/, fenomena yang disebut hoarding merupakan kesulitan untuk berpisah atau membuang barang kepunyaan, tanpa peduli nilai barang tersebut. Hoarding selanjutnya menjadi dapat mengganggu kondisi kejiwaan pelakunya karena dia tidak mau berpisah dengan sesuatu yang bisa jadi hanya akan menjadi sampah, bahkan merasa terganggu bila orang lain mencoba merapikannya. Kualitas lingkungannya pun akan memburuk dengan timbunan barang yang berpotensi mengganggu kenyamanan gerak, mengurangi sirkulasi udara, dan bahkan mengundang bibit penyakit yang bersarang di sana.

Alangkah baiknya jika sejak dini, kita membiasakan mengerti masa atau kadar manfaat sebuah barang sehingga tidak membuat kita terkungkung benda-benda milik kita sendiri. Pikirkanlah misalnya, tidak semua baju yang kita miliki, benar-benar kita butuhkan. Banyak cara untuk mengatasi surplus tersebut. Yang paling mudah adalah menyerahkannya ke tukang loak. Namun, jika kelebihan tersebut masih dirasa memberi manfaat yang signifikan, alangkah baiknya jika kita berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin kita tidak sadar bahwa orang yang mendapatkan manfaat tersebut akan bisa menabung lebih banyak demi pendidikan anak mereka, membeli makanan bergizi, memperbaiki tempat tinggal, atau memenuhi kebutuhan primer lainnya. Dengan berbagi, kita bisa menata kondisi kesehatan jiwa pribadi sekaligus membantu orang lain meningkatkan kualitas hidup mereka.

Categories
Gagasan

Kecil Itu Indah

Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan yang sama saat mengobrol dengan warga atau komunitas lain tentang Ruang Solidaritas Joli Jolan. Ke depan Joli Jolan mau sebesar apa? Mau buka cabang di mana aja? Pertanyaan ini tidak salah. Bahkan mengandung harapan agar gerakan ini semakin tersebar di daerah-daerah lain. Yang menarik, jawabannya bisa beragam antarsesama sukarelawan. Ya, kami memang belum punya masterplan atau rencana jangka panjang. Jangankan masterplan, bisa rutin buka setiap akhir pekan dengan sukarelawan yang memadai pun sudah pencapaian luar biasa. Hahaha

Namun kami punya satu hal yang hingga kini menyatukan kami di Joli Jolan. Kami punya pemahaman bahwa gerakan yang sukses dan berdampak tak harus dikenal dan berkibar seantero Nusantara. Cendikiawan dan ahli ekonomi, E.F. Schumacher, pernah mengkritik kecenderungan untuk membangun sebuah struktur serba besar dan njelimet dalam tatanan kehidupan. Sistem itu nyatanya seringkali membuat manusia kehilangan pribadinya.

Schumacher lantas melontarkan ide “Small is Beautiful” dalam bukunya. Sebuah hal yang kecil tak selalu minim nilai. Kecil justru bebas, efisien, penuh daya cipta, nikmat, dan lestari. Hal itu kami yakini hingga membawa Joli Jolan ke usia keduanya, 21 Desember 2021. Meski kecil, Joli Jolan telah menginspirasi warga atau komunitas lain membuat gerakan serupa yakni barter dan berbagi barang gratis. Di Salatiga ada Gestimba Karangalit, ada pula Gentosan di Jogja. Kawan dari Anak Kasih Indonesia kabarnya juga akan membuat gerakan serupa di pendoponya.

Namun bukan berarti kami puas dengan gerakan kami sekarang. Seperti desain logo khusus HUT kedua Joli Jolan yang futuristik, kami ingin lebih adaptif dengan teknologi. Digitalisasi pendataan hingga pembuatan aplikasi barter (kooperasi) menjadi impian agar Joli Jolan tetap kekinian. Kami juga punya mimpi membikin bulk store dan bank sampah untuk menunjang swadaya pendanaan. Pengembangan jolijolan.org sebagai kanal jurnalisme publik pun terus kami matangkan.

Terima kasih untuk para Joliers yang sudah mendukung Joli Jolan sejauh ini. Sebagai gerakan #rakyatbanturakyat, kami sangat menanti masukan atau kritik dari kawan-kawan. Kami juga terbuka bagi kawan yang ingin menjadi sukarelawan. Panjang umur solidaritas!

Categories
Gagasan

Perubahan Cuaca dan Serangan Hama

Beberapa hari lalu, World Meteorological Organization (WMO) menerbitkan rilis bahwa bumi kemungkinan mengalami kemunculan kembali kondisi La Niña (40%). Dunia, khususnya Asia Tenggara, perlu bersiap menghadapi potensi curah hujan di atas normal.

Selama beberapa hari terakhir, Solo dan Boyolali mengalami mendung dan hujan. Cuaca berubah cepat, dari yang tadinya stabil panas, lalu dingin dan lembab.

Selama berkebun, kami mengamati bahwa perubahan cuaca dan perubahan musim akan mengundang perubahan pola kembang biak hama. Yang tadinya stabil, tiba-tiba menyeruak dan muncul dengan cepat. Saat cuaca stabil, hama juga stabil. Kami masih mampu mengatasinya tanpa harus memikirkan semprotan pesnab massal.

Laporan IPCC Climate Change and Land memberikan catatan kemungkinan peningkatan ledakan hama akibat perubahan iklim (high confidence). Wilayah tropis juga diberi catatan khusus bahwa ada potensi dampak perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Beberapa hari ini rombongan ulat bisa dibilang ada pada setiap tanaman pokchoy. Padahal biasanya serangan ulat hanya terjadi pada 3-4 tanaman. Kami tidak tahu, apakah ini masih dalam kondisi yang “wajar” atau tidak.

Berkebun membuat kami memikirkan banyak hal berulang kali. Berkebun mengubah segalanya karena kini kami melihat dan merasakan langsung bagaimana kebun bekerja bersama kekuatan semesta. Iklim ikut menentukan ketangguhan kebun.

Ketika petang menjelang, kami sering berpikir, apakah kami akan masih tetap sanggup kuat menghadapi perubahan iklim yang mulai mengubah segalanya? Seberapa tangguh sebetulnya kebun dan pertanian kita? Seiring berjalannya waktulah kami akan menemukan jawabannya.

Categories
Gagasan

Jajan sebagai Upaya Redistribusi Kekayaan

Saya termasuk orang yang gemar sekali jajan makanan, baik langsung dari pelapak atau layanan online. Alasannya karena makanan yang dijual di luar rumah jauh lebih beragam. Apalagi racikan bumbunya biasanya lebih banyak dan berani. Rasa yang dihasilkan pun menjadi jauh lebih terasa dibandingkan makanan rumahan. Itu menurut pendapat saya pribadi.

Karena kebiasaan jajan tersebut, saya terkesan menjadi orang yang boros dan ‘ceroboh’ dalam membelanjakan uang, meskipun tidak sampai level overspender kronis. Saya menyadari hal tersebut, bahkan sesekali ada perasaan menyesal saat mengetahui bahwa uang yang saya dapatkan hanya habis untuk jajan.

Jika dilihat dari sudut pandang penghematan uang, kebiasaan saya bisa dikatakan boros. Namun, lain halnya ketika sudut pandang yang dipakai untuk mengukur kebiasaan saya adalah kesempatan dalam mendistribusikan kekayaan. Jajan bisa jadi upaya dalam membagikan kekayaan yang dimiliki untuk orang lain. Pembagiannya tidak dilakukan secara cuma-cuma, tetapi dengan membayar barang dagangan atau jasanya. Dengan kata lain, melarisi dagangan orang lain berarti memberikan sedikit kekayaan yang kita miliki untuk orang lain.

Ada dua hal yang berubah setelah saya memilih menggunakan sudut pandang kedua dalam melihat kegemaran jajan saya. Yang pertama, niat saya yang semula hanya terfokus pada memenuhi hasrat pribadi bergeser pada keinginan untuk membantu orang lain. Pola pikir tersebut membuat saya tidak terbebani saat hendak membelanjakan uang. Saya melihatnya sebagai upaya dalam membantu perekonomian orang lain. Kedua, saya pun merasa ada saja rezeki yang tak terduga yang saya dapatkan. Mungkin itulah cara Sang Pemberi rezeki menitipkan rezeki orang lain melalui saya sebagai perantaranya.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, saya merasa bahwa jajan adalah hal yang bermanfaat. Saat perekonomian rontok dan banyak usaha yang kritis, sebuah keistimewaan untuk masih memiliki penghasilan. Kesempatan tersebut tentu dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain, kesempatan untuk menggerakan perputaran roda ekonomi.

Mungkin apa yang saya lakukan tidak berdampak signifikan pada perputaran ekonomi negara, tetapi setidaknya berdampak pada perputaran ekonomi keluarga yang barang dagangannya saya beli. Pada akhirnya jajan tidak hanya sekadar memuaskan hasrat pribadi, tetapi menjadi sarana untuk saling berbagi. Selagi masih ada waktu untuk berbuat baik, kenapa tidak?

Categories
Gagasan

Manusia dan Peran Kebermanfaatan

Manusia sejatinya hidup atas perannya di dunia ini. Entah apa pun itu. Biasanya dalam bentuk pekerjaan atau kegiatan. Ia akan memilih jalannya sendiri untuk mengarungi kehidupan. Banyak faktor manusia akan mengambil peran tersebut, salah satunya adalah berkeinginan untuk memberikan kebermanfaatan bagi makhluk ciptaan Tuhan. Dalam konteks yang lebih jauh, agar saat Tuhan menagih pertanggungjawaban atas kehidupan yang diberikan kepada manusia, manusia bisa selamat dalam proses peradilan di mahkamah akhirat. Menjabarkan peranan kebermanfaatan tersebut dihadapan Tuhan yang menjadi hakimnya sendiri.

Hal ini mengingat manusia juga memerlukan rasa aman dan damai, baik secara fisik maupun psikis. Sebab, ia akan bersinggungan dengan makhluk yang lain. Manusia memiliki sifat dasar yaitu peduli. Sifat inilah yang menunjang untuk memberikan kedamaian secara psikis. Artinya apabila manusia bisa membantu mempermudah urusan makhluk lain maka hatinya akan damai. Dengan kesadaran itu, banyak sekali manusia berlomba-lomba melakukan kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, baik dalam wadah organisasi, komunitas, maupun perseorangan. Romansa hal baik senantiasa digaungkan, di jalanan, tempat tongkrongan, rumah ke rumah, dan media sosial. Bak suara guntur, ia menggema luar biasa.

Di Solo sendiri banyak sekali organisasi, komunitas, maupun perseorangan yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan. Kepedulian mereka tidak hanya untuk manusia saja, melainkan mereka curahkan juga untuk hewan, tumbuhan, dan alam. Misalnya ada komunitas yang memberikan makan kucing liar, menanam dan membagikan bibit pohon, bersih-bersih sungai, dan masih banyak lagi varian serta inovasi yang dilakukan.

Kegigihan dan konsistensi mereka tentu akan berbalas kepada yang melakukan untuk menjunjung tinggi kepedulian. Terutama kedamaian dan rasa aman. Manusia dengan makhluk Tuhan yang lain layaknya satu tubuh. Apabila merasakan sakit di salah satu tubuh maka akan berpengaruh pada tubuh yang lain. Dengan demikian manusia yang memiliki rasa peduli, ia masih di-”cap” sebagai manusia. Sebab, manusia akan merasa terusik apabila ada ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi. Itulah sifat dasar manusia.

Categories
Gagasan

Apa Benar Kita Harus Selalu Memberi?

Amanda Palmer, vokalis dan penulis lagu band cabaret punk The Dresden Dolls, mengatakan dalam bukunya, The Art of Asking, “Our first job in life is to recognize the gifts we’ve already got, take the donuts that show up while we cultivate and use those gifts, and then turn around and share those giftssometimes in the form of money, sometimes time, sometimes loveback into the puzzle of the world. Our second job is to accept where we are in the puzzle at each moment. That can be harder.” Seketika kata-kata tersebut menyentak kesadaran saya.

Sebagai seorang yang terdidik dengan peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, kutipan Amanda Palmer benar-benar membuat saya berpikir ulang tentang arti memberi dan menerima. Peribahasa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah meyakinkan saya bahwa memberi adalah sesuatu yang lebih baik dibandingkan menerima. Sebaliknya, menerima dianggap sebagai sesuatu yang kurang baik. Oleh karena itu, apa pun kondisinya, kalau bisa, selalu beri, beri, dan beri.

Keyakinan tersebut secara tidak sadar menuntun tindakan saya untuk selalu memberi tanpa mau menerima. Saya menempatkan perbuatan memberi di kasta yang jauh lebih tinggi dibandingkan tindakan menerima. Namun ternyata, apa yang saya yakini tidak sepenuhnya benar. Saya teringat pengalaman saya beberapa tahun silam saat mentraktir teman untuk kesekian kalinya. Padahal di saat yang sama, dia ingin mentraktir saya. Saya tetap mentraktirnya karena keyakinan saya yang berlebihan akan tindakan memberi. Seketika dia malah menunjukkan raut muka yang masam, tanda bahwa tindakan saya membuatnya kurang berkenan. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ada saatnya memberi, ada saatnya pula menerima.

Bagi sebagian orang, tindakan menerima jauh lebih sulit dibandingkan tindakan memberi. Sebab, secara tidak sadar ada perasaan inferior dari sebuah tindakan menerima. Bisa jadi konstruksi sosial yang ada di masyarakat (lingkungan) menganggap bahwa tindakan menerima sebagai buah dari ketidakmampuan sedangkan tindakan memberi dianggap sebagai buah dari kemampuan. Keyakinan berlebihan dari konstruksi sosial tersebut secara tidak sadar mengekspose secara gamblang status sosial si pemberi dan si penerima. Apalagi jika sesuatu yang diberikan/diterima berhubungan dengan materi, status sosial tersebut akan terasa dan terlihat dengan sangat jelas. Meminjam kata-kata Henry Miller, “It’s only because giving is so much associated with material things that receiving looks bad.” Tidak semua orang siap menghadapi kenyataan seperti itu.

Padahal tindakan memberi dan menerima tidak harus selalu dikaitkan dengan status sosial. Hal seperti tenaga, waktu, pemikiran, dan bahkan perhatian (#eh) pada dasarnya bersifat netral dan tidak berhubungan sama sekali dengan status sosial dari si pemberi dan si penerima. Jangan sampai karena ‘termakan’ konstruksi sosial, kita menjadi berat sebelah dalam memaknai tindakan memberi dan menerima. Dalam jangka panjang, keyakinan seperti itu akan menyabotase diri kita sendiri dalam bertindak.

Tidak ada yang salah dengan tindakan memberi, pun tidak ada yang salah dengan tindakan menerima, asalkan keduanya dilakukan sesuai porsinya. Tindakan memberi memberikan perasaan lega dan terpenuhi secara sosial, mental, emosional, dan spiritual bagi si pemberi. Di sisi lain, tindakan menerima berarti menyatakan secara sadar dan berani bahwa si penerima butuh pertolongan orang lain. Tindakan tersebut membuka kesempatan bagi si pemberi untuk membantu si penerima. “By receiving from others, by letting them help you, you really aid them to become bigger, more generous, more magnanimous. You do them a service,” kata Henry Miller. Memberikan kesempatan bagi si pemberi untuk merasa lega dan terpenuhi ternyata secara tidak langsung juga mampu memberikan perasaan lega dan terpenuhi kepada si penerima. Hal yang tentunya juga baik. 

Biasanya masalah terjadi ketika kita terlalu berlebihan dalam memberi maupun menerima dan tidak bersedia melakukan keduanya. Terlalu banyak memberi tanpa mau menerima membuat kita merasa selalu ‘di atas angin’, sedangkan terlalu banyak menerima tanpa keinginan untuk memberi membuat kita menjadi orang yang merepotkan dan menjengkelkan. Solidaritas merupakan tindakan dua arah, bukan tindakan searah. Untuk menciptakan kesinambungan tersebut dibutuhkan dua komponen yang harus saling terjaga: memberi dan menerima. Maria Popova berhasil megungkapkan kesinambungan tersebut dengan bagus, ”The art of giving and the art of receiving are compatriots in the kingdom of creative culture, absolutely vital to each other’s survival.

Joli Jolan, komunitas gerakan solidaritas yang baru berdiri satu tahun ini, menjadi gerakan pengingat akan pentingnya siklus tersebut. Gerakan ini tidak hanya mengetuk hati orang-orang baik untuk mendonasikan barangnya, tetapi juga menjadi media bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial untuk menerima barang tersebut, untuk belajar menjadi si penerima. Semua orang dapat berdonasi, semua orang dapat mengambil barang yang telah didonasikan. It’s not about charity, it’s about solidarity.